<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Opini</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/topics/opini/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 17:19:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Pertambangan Batubara: Pro dan Kontra</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 11:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Asthary</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Kini Pemerintah mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/coal_fired_plant.jpg" alt="" title="coal_fired_plant" width="200" height="210" align="left" />Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia (setelah Australia, 2006). Batubara yang banyak diekspor adalah batubara jenis sub-bituminus yang dapat merepresentasikan produksi batubara Indonesia. Produksi batubara Indonesia meningkat sebesar 11.1% pada tahun 2003 dan jumlah ekspor meningkat sebesar 18.3% di tahun yang sama. Sebagian besar cadangan batubara Indonesia terdapat di Sumatra bagian selatan. Kualitasnya beragam antara batubara kualitas rendah seperti lignit (59%) dan sub-bituminus (27%) serta batubara kualitas tinggi seperti bituminus dan antrasit (14%).</p>
<p>Sekitar 74% dari batubara Indonesia merupakan hasil penambangan perusahaan swasta. Satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Tambang Bukit Asam, menghasilkan sekitar 10 Mt (hanya 9% dari total produksi batubara Indonesia pada tahun 2003) dari penambangan terbuka. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti PT Adaro, PT Kaltim Prima Coal, serta PT Arutmin yang dapat memproduksi batubara hingga di atas 10 Mt pada tahun yang sama. Terlihat ironis bukan? Perusahaan penambangan batubara milik negara kalah produksi oleh perusahaan swasta.</p>
<p>Operasi penambangan batubara seringkali dituduh menyebabkan kerusakan lingkungan. Penambangan batubara diperkirakan menyebabkan kerusakan pada kurang lebih 70 ribu hektar tanah. Pada beberapa area, limbah cair dibuang pada sungai terdekat yang pada akhirnya mencemari sumber air warga sekitar. Dampak lingkungan serta permintaan akan kontribusi perusahaan pertambangan yang lebih besar kepada perkembangan masyarakat telah menyebabkan munculnya permintaan akan ditutupnya operasi penambangan batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengrusakan lingkungan oleh operasi penambangan batubara adalah dengan lebih memperketat regulasi yang berkaitan dengan penambangan batubara, disinilah peran besar pemerintah. Pemerintah merespon permasalahan ini dengan memberikan komitmen bahwa operasi penambangan batubara akan merujuk pada peraturan pemerintah mengenai keselamatan lingkungan. Sebagai contoh, pada tahun 1999 diterbitkan PP no 18 yang mengatur mengenai tata cara pemrosesan limbah berbahaya dan beracun. Peraturan ini mengharuskan perusahaan pertambangan untuk memproses limbah yang dihasilkan hingga mencapai derajat kebersihan yang sangat tinggi dengan standar kemurnian air yang 5 kali lebih ketat dibandingkan Amerika Serikat maupun Kanada. Akan tetapi, penerapan regulasi ini pada akhirnya ditunda karena pemerintah mengevaluasi ulang kemampuan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan pertambangan di Indonesia dan ternyata dibutuhkan penyesuaian. Belum lagi adanya penambangan batubara ilegal. Para penambang ilegal mengabaikan ketentuan yang berkaitan dengan lingkungan dan keselamatan serta menjual batubara dengan harga yang lebih rendah. Pemerintah diharapkan dapat mengambil sikap dan menuntut para penambang ilegal ini.</p>
<p>Pemerintah sendiri memiliki ketertarikan yang besar dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan batubara untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh batubara. Usaha untuk mengembangkan <em>Clean Coal Technology (CCT) </em>telah memasukkan kerjasama dengan pihak asing untuk mempelajari efek-efek yang mungkin muncul dari penggunaan batubara dan untuk mencari cara baru agar pembangkit listrik yang berbasis pembakaran batubara dapat memenuhi ketentuan lingkungandari segi emisi. Ini suatu itikad baik yang ditunjukkan oleh pemerintah mengingat permasalahan yang menyangkut emisi yang dihasilkan oleh batubara dapat mengurangi visibilitas digunakannya batubara sebagai sumber energi.</p>
<p>Masalah sumber energi pun sedang menjadi fokus utama pemerintah berkaitan dengan naiknya harga minyak bumi. Pada dasarnya, cadangan batubara Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan dengan cadangan minyak bumi maupun gas alam sehingga pemerintah kini mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Batubara selama ini telah digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen dan pabrik baja, apa salahnya jika batubara digunakan untuk membangkitkan listrik? Apabila hal ini dapat dilakukan, subsidi pemerintah untuk BBM dapat berkurang (saat ini subsidi memang tidak mencukupi akibat kenaikan harga minyak bumi dan peningkatan konsumsi BBM). Dalam 3 tahun mendatang diharapkan telah berdiri PLTU Batubara dengan kapasitas daya listrik yang dapat dihasilkan sebesar 10000 MW.</p>
<p>Tampaknya untuk mewujudkan hal itu, pemerintah dan industri pertambangan batubara harus bekerja lebih keras. Dengan perkiraan heating value batubara Indonesia yang berada pada kisaran 5000 sampai 7000 kal/kg, berapa banyak batubara yang harus diproduksi untuk menghasilkan listrik 10000 MW? Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?</p>
<p>Tampaknya jawaban pertanyaan di atas adalah TIDAK. Atau mungkin BELUM. Tanah yang dikeruk, polusi yang disebabkannya, serta bekas yang ditinggalkannya masih akan menjadi masalah lingkungan di kemudian hari. Mungkin saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kinerja unit-unit penanganan limbah sekaligus melakukan transfer teknologi terkait dengan keterbatasan yang kita miliki dalam teknologi penambangan, mengurangi penambang-penambang ilegal, dan secara bertahap melakukan rehabilitasi lahan pertambangan yang telah ditinggalkan. MENGAPA? Karena lebih tidak mungkin menghentikan penambangan batubara yang saat ini diharapkan bisa menjadi penyelamat bagi krisis energi yang melanda Indonesia.</p>
<p>COAL for ENERGY!!</p>
<blockquote><p>Referensi: <a href="http://www.australiancoal.com">www.australiancoal.com</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Engineer versus Kompor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/05/engineer-versus-kompor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/05/engineer-versus-kompor/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 May 2008 03:31:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Efrat Sadeli</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[food]]></category>

		<category><![CDATA[life]]></category>

		<category><![CDATA[students]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=335</guid>
		<description><![CDATA[Apakah yang akan Anda lakukan apabila saat duduk menunggu mie goreng di pinggir jalan, Anda melihat kompor si tukang mi rusak. Anda engineer? Sebenarnya, apa sih hal yang seharusnya dilakukan oleh seorang "engineer"?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/05/kompor.jpg" alt="" title="kompor" width="200" height="210" class="left" /><em>Nggak</em> tahu ada angin apa, tiba-tiba saat lagi makan siang di pinggir jalan, saya memikirkan sebuah hal ini:<br />
<em>&#8220;Apakah yang orang pikirkan saat pertama kali mendengar kata engineer atau insinyur?&#8221;</em><br />
Hal yang pasti terbayang dalam benak kita adalah orang yang pandai merancang-bangun sebuah rumah atau gedung, yang kerap kita sebut sebagai insinyur sipil, atau mungkin sosok yang jago mengutak-atik mesin, yang biasa kita sebut sebagai insinyur mesin. Masih banyak ins­­­­inyur-insinyur lainnya &#8212; kalau mau disebut, insinyur listrik, insinyur kimia, insinyur perminyakan, dan <em>ahh </em>banyak <em>lah</em>.</p>
<p>Kita kembali ke acara makan siang saya tadi. Saat tukang mie lagi memasak, ternyata dia mengalami masalah dengan kompornya sehingga saya yang seharusnya bisa menikmati makanan dalam 10 menit terpaksa harus menunggu hingga 20 menit.<br />
<em>&#8220;I wonder kalau saja ada salah satu mahasiswa insinyur dipanggil untuk membetulkan kompor itu saat itu. Apakah dia bisa memperbaikinya?&#8221;</em> </p>
<p>Di bayangan saya, kemungkinan besar si mahasiwa insinyur itu akan berkata, <em>&#8220;Mas, makanannya lain kali saja,&#8221;</em> sambil pergi berlalu meninggalkan si tukang mie yang kebingungan dengan masalah kompornya. Wajar bukan? Sang mahasiswa insinyur datang untuk makan dan bukan untuk memperbaiki kompor.</p>
<p>Berbicara tentang insinyur (<em>engineer</em>), apabila kita merujuk pada kamus <em>Concise Oxford English Dictionary</em>, definisi kata &#8220;<em>engineer</em>&#8221; ialah:<br />
1) <em>a person qualified in engineering,</em><br />
2) <em>a person who maintains or controls an engine or machine,</em><br />
3) <em>a skillful contriver.</em> </p>
<p>Sedangkan definisi kata &#8220;<em>engineering</em>&#8221; ialah:<br />
1) <em>the branch of science and technology concerned with the design, building, and use of engines, machines, and structures; <strong>the practical application of scientific ideas and principles. </strong></em><br />
2) <em>a field of study or activity concerned with modification or development in a particular area. eg. software engineering.</em></p>
<p>Saya sengaja mencetak tebal kata-kata di atas untuk menekankan masalah &#8220;pengetahuan praktis&#8221; yang dimiliki oleh sang <em>engineer</em>. Dulu, jauh sebelum saya kuliah di institut teknologi terkemuka di Bandung, saya begitu terkagum-kagum dengan sebuah film yang berjudul <em>Macgyver</em>. Di film itu diceritakan bahwa ada seseorang yang bernama Macgyver, yang notebene bukan seorang <em>engineer, </em>namun mampu mengakali situasi dengan pengetahuan praktis yang dimilikinya. Sejak menonton film itu, muncul keingingan di benak saya untuk menjadi seorang insinyur karena kesannya yang sangat keren dan cerdik. Bayangkan saja apabila kita di setiap kesulitan selalu mendapati cara untuk menyiasati masalah dengan &#8220;pengetahuan-pengetahuan praktis&#8221;. Sangat hebat, bukan? Dan ada film lain yang cukup berpengaruh terhadap pandangan saya: &#8220;Si Doel Anak Sekolahan 1&#8243;. Walaupun lebih banyak bercerita tentang si Doel dan Zaenab versus Sarah, di film inilah saya pertama kali mengenal istilah &#8220;insinyur&#8221;.</p>
<p>Kalau dipikir-pikir, saya sering bertanya kepada diri saya sendiri apakah pengetahuan yang saya terima di insitut tersebut masih kurang cukup memadai untuk menangani sekedar masalah &#8220;kompor&#8221;. Salah satu dosen saya pernah berkata bahwa <em>know-how</em> jauh lebih berharga ketimbang <em>knowledge </em>. Bahkan ada pepatah yang mengatakan: <em>knowledge is not power, applied knowledge is real power.</em> Terkadang saya berpikir apakah yang saya saya terima di bangku kuliah cenderung kurang menekankan hal-hal yang bersifat praktis dan terlalu <em>njelimet </em>&#8212; <em>too much theory but less action</em>.</p>
<p>Apakah kuliah 4 tahun kita bisa dikatakan tidak bermanfaat? Ya <em>nggak </em>juga <em>sih</em>.. Kuliah 4 tahun tidak bisa dibilang <em>nggak </em>ada manfaatnya. Hal yang justru harus diperhatikan ialah pentingnya dibangun rasa kepedulian terhadap hal-hal yang terlihat sepele; dan hal itu dipupuk dari masa kuliah. Saya percaya apabila kepedulian semacam ini sudah dibangun dalam setiap diri mahasiswa, maka kedepannya akan benar-benar ada <em>practical engineer</em> yang bisa memberi solusi bagi masalah rakyat. Bukan tidak mungkin bila di masa depan ada jurusan <em>stove engineering</em>, insinyur yang tahu cara membuat kompor menjadi efisien dan mudah dibetulkan, atau mungkin juga <em>juice engineering</em>, insinyur pangan yang ahli dalam membuat jus menjadi makanan yang sehat dan bergizi dan bukan untuk skala pabrik saja tapi juga untuk skala rumah tangga. </p>
<p>Kita sebagai <em>engineer </em>dan calon <em>engineer </em>harus bersikap rendah hati dan mau terus belajar. Jangan sampai kita tahu cara membuat pesawat tapi bingung kalang kabut ketika kompor di rumah sendiri rusak.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/05/engineer-versus-kompor/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pertamina versus Petronas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Dec 2007 16:16:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sesep Bimiwa Sianturi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[business]]></category>

		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/</guid>
		<description><![CDATA[Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/pertapetro.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Banyak di antara kita yang berpikir bahwa bekerja di perusahaan migas asing ialah suatu hal yang amat membanggakan tanpa menyadari bahwa perusahaan asing tersebut pada dasarnya sedang mengambil keuntungan lebih untuk negaranya sendiri. Dan sekalipun begitu, kita tetap saja mengikuti proses seleksi kerja di salah satu perusahaan migas asing yang beroperasi di Indonesia. Termasuk saya, seorang mahasiswa yang baru saja lulus dan tergiur akan gaji dan fasilitas sebuah perusahan minyak dan gas.</p>
<p>Mengapa kondisi seperti itu bisa terjadi? Ada apa sebenarnya dengan industri minyak dan gas nasional kita? Sebagian dari kita menyalahkan perusahaan migas nasional kita yang kurang kredibel dan bonafit dan sebagian lain beralasan ingin meniti karir dengan standar internasional. Namun, bukan itu yang hendak saya bahas dalam artikel ini karena saya ingin mencoba menggali permasalahan tersebut dari sisi yang lain.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu saya sedang mengisi waktu luang saya dengan melihat berbagai informasi yang tersebar di internet dan saya menemukan potongan artikel yang sangat menarik. <i>Please enjoy reading this while listening to music and having a cup of coffee in the morning..</i> =p</p>
<blockquote><p><strong>Someone asked:</strong><br />
&#8220;Semua orang pasti sudah tahu bahwa Pertamina mempunyai sumber minyak yang banyaknya <i>gak ketulungan</i>. (halaah.. bahasanya..) Bila kita lihat Petronas, mereka tidak mempunyai sumber minyak di negaranya dan kalaupun ada, jumlahnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan Indonesia. <i>Dear all.. Do you know why Petronas grow faster and bigger than Pertamina??</i>&#8220;</p></blockquote>
<blockquote><p>
<strong>And the answer was:</strong><br />
&#8220;Yang mempunyai sumber minyak banyak adalah Indonesia, bukan Pertamina. Dalam hal ini, pemerintah memberi wewenang pada BP MIGAS untuk mengurusi pengelolaan kontrak perusahaan terhadap ladang minyak dan gas.&#8221;</p></blockquote>
<p>Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing diluar Pertamina untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia. Banyak alasan yang dilontarkan BP MIGAS dalam keputusan tersebut, katakanlah dengan alasan Pertamina korupsi, atau strukturnya yang masih payah, dikatakan tidak mampu secara teknologi, atau dibilang minim pendanaan. Alasan terakhir ialah alasan yang dikemukakan Pemerintah kita saat pengelolaan di Blok Cepu diserahkan kepada ExxonMobil dan bukan sepenuhnya kepada Pertamina. </p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/pertamina.jpg' alt='Pertamina Station' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Pertamina Station</div>
</div>
</div>
<p>Alasan-alasan tersebut bisa dikatakan logis namun juga agak dibuat-buat. Mari kita coba untuk meninjau alasan-alasan tersebut satu per satu. Alasan pertama: katakanlah Pertamina korupsi. Bukankah seharusnya Pemerintah bertanggungjawab memberantas korupsi yang terjadi di Pertamina? Atau mungkin Pemerintah tidak mampu memberantas korupsi di Pertamina karena Pemerintah dan DPR juga sedang sibuk korupsi? Atau mungkin karena adanya solidaritas sesama koruptor?? Entahlah.. hanya mereka yang tahu.</p>
<p>Alasan kedua ialah struktur dan sistem manajemen Pertamina yang belum benar. Bukankah seharusnya Pemerintah mempunyai tanggungjawab moral untuk mendorong Pertamina melakukan pembenahan internal? Apabila pengelolaan minyak dan gas malah diserahkan ke pihak asing, bukankah itu sama saja semakin mematikan Pertamina? Dan untuk alasan teknologi, Pertamina sudah memiliki teknologi yang udah diakui oleh Inggris. Sedangkan untuk alasan pendanaan, seharusnya keuntungan tahunan Pertamina jangan disedot besar-besaran untuk menutupi defisit anggaran atau malah dimasukkan ke kantong pejabat. Pertamina untung? Ya, sekalipun dengan adanya subsidi BBM atau apapun itu namanya, Pertamina masih menghasilkan untung yang sangat besar.</p>
<p>Pada poin pertama tadi, saya bermaksud memberi tahu bahwa Pemerintah kita kurang mendukung Pertamina sebagai perusahaan migas nasional. Apabila hal itu terus berlangsung, kapan Pertamina bisa maju? Keadaan benar-benar berbeda apabila melihat Petronas. Perusahaan minyak dan gas milik Malaysia itu menjalankan operasi yang  didukung penuh oleh Pemerintah Malaysia dengan cara memberikan sebagian besar hak konsesi khusus ke Petronas dan bahkan mendorong Petronas untuk melakukan ekspansi ke luar negeri.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/petronas.jpg' alt='Petronas Station' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Petronas Station</div>
</div>
</div>
<p>Pada poin kedua, saya ingin meninjau aspek bisnis industri minyak dan gas itu sendiri. Menurut saya, penyebab kekalahan Pertamina ialah inefisiensi pengeluaran. Banyak pengeluaran yang seharusnya tidak perlu dilakukan apalagi ditambah dengan pengeluaran yang kurang jelas juntrungannya. Sebagai contoh yang dapat kita lihat ialah biaya sewa kapal tanker. Biaya sewa tersebut sangatlah mahal dan dapat mencapai US$60.000 per HARI untuk SATU kapalnya. Nah, Pertamina menyewa kapal dengan jumlah lebih dari 140 padahal kapal Pertamina tidak lebih dari 30 buah. Apabila mau berpikir panjang, seharusnya Pertamina memutuskan untuk memiliki kapal sendiri sebagai investasi. Beberapa tahun yang lalu Pertamina sempat memiliki kapal tanker VLCC namun kapal tanker tersebut dijual oleh Menneg BUMN (Laks. Sukardi) saat Megawati menjabat sebagai Presiden. Dan apa yang terjadi sekarang? Ternyata penjualan tersebut dipermasalahkan karena adanya dugaan praktek korupsi dalam penjualannya.</p>
<blockquote class="pullquote"><p>Apabila diangkat dari aspek ekonomi politik, permasalahannya adalah karena BP MIGAS seringkali memberikan hak konsesi kepada pihak asing untuk mengelola suatu ladang minyak yang ada di Indonesia.</p></blockquote>
<p><i>Bottomline</i>, apabila ditinjau dari segi ekonomi politik dan bisnis, Pertamina akan sulit berkembang di masa depan bila kondisinya terus seperti itu. Sayangnya, kita sebagai warganegara Indonesia tidak bisa mengubah keadaan itu karena itu semua ialah keputusan petinggi-petinggi negara kita. Tapi setidaknya, kita dapat membantu Pertamina dengan membeli produk buatan Pertamina. <i>Beli Produk Pertamina, Kita Untung Bangsa Untung.</i></p>
<p>Patut teman-teman ketahui bahwa di negara kita Indonesia yang kaya akan minyak ini, Pertamina hanya memegang 8 persen dari pangsa pasar migas di Indonesia dan sisanya dipegang Chevron, Total, Exxon, CNOOC, dan perusahaan migas asing lainnya. Walaupun hanya memiliki 8 persen pasar, Pertamina dapat menghasilkan keuntungan Rp35 triliun di tahun 2006. Coba bayangkan apabila 100 persen ladang minyak yang ada di Indonesia dipegang oleh Pertamina.</p>
<p>Di samping itu, 90% keuntungan Pertamina wajib diberikan kepada Pemerintah dan hanya 10% sisanya yang dapat digunakan Pertamina. Bagaimana dengan Petronas? Keadaan Petronas berkebalikan dengan Pertamina karena hanya 10% keuntungan Petronas yang diberikan untuk Pemerintah Malaysia. Itulah penyebab mengapa Petronas dapat melakukan ekspansi besar-besaran. Mengapa Pertamina sulit melakukan ekspansi? Keuntungan rata-rata tahunan Pertamina ialah Rp27 triliun dan hanya Rp2.7 triliun yang tersisa di Pertamina padahal untuk membangun sebuah kilang baru dibutuhkan dana sekitar Rp 13 triliun.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong> KOMPAS, Yahoo! Answers</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/12/petronas-versus-pertamina/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia dan Global Warming</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Dec 2007 16:59:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[global warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman tahu global warming? Sebagai mahasiswa Teknik Kimia, isu global warming pasti sudah berkali-kali Anda dengar. Entah dari media massa, teman, atau kuliah lingkungan tentunya. Bagaimanakah posisi Indonesia dalam isu global warming ini?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Teman-teman tahu <em>global warming</em>? Sebagai mahasiswa Teknik Kimia, isu <em>global warming</em> pasti sudah berkali-kali Anda dengar. Entah dari media massa, teman, atau kuliah lingkungan tentunya. Bagaimanakah posisi Indonesia dalam isu <em>global warming</em> ini?</p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:282px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/280px-global_warming_map.jpg' alt='Global Warming Map' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Anomali temperatur permukaan rata-rata selama periode 1995 sampai 2004 dengan dibandingkan pada temperatur rata-rata dari 1940 sampai 1980</div>
</div>
</div>
<p>Sebelum melangkah lebih jauh, teman-teman pasti sudah tau apa itu <em>global warming</em> kan? Secara kasar, <em>global warming</em> dapat didefinisikan sebagai peningkatan temperatur rata-rata atmosfer, laut, dan daratan Bumi. Nah, apa yang menyebabkan temperatur bumi meningkat? Salah satu penyebabnya ialah peningkatan efek rumah kaca yang terjadi di bumi. </p>
<p>Pada dasarnya, efek rumah kaca menyebabkan atmosfir bumi menjadi hangat dan membuat bumi dapat ditinggali oleh makhluk hidup. Tanpa efek rumah kaca, bumi akan menjadi planet yang amat dingin. Sayangnya, efek rumah kaca tersebut mengalami peningkatan beberapa dekade belakangan ini. Itulah inti permasalahan <em>global warming </em>yang sedang digembar-gemborkan akhir-akhir ini. Adapun contoh gas-gas yang dapat menyebabkan efek rumah kaca ialah <strong>CO2, CH4, NOx, SOx, SF6, H2O, dan PFC.</strong></p>
<h3>Statistik Dunia</h3>
<p>Peneliti lingkungan dan sains berpendapat bahwa manusia ialah penyebab utama <em>global warming </em>. Emisi gas rumah kaca mengalami kenaikan 70 persen antara 1970 hingga 2004. Konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer jauh lebih tinggi dari kandungan alaminya dalam 650 ribu tahun terakhir. Rata-rata temperatur global telah naik 1,3 derajat Fahrenheit (setara 0,72 derat Celcius) dalam 100 tahun terakhir. Muka air laut mengalami kenaikan rata-rata 0,175 centimeter setiap tahun sejak 1961. Sekitar 20 hingga 30 persen spesies tumbuh-tumbuhan dan hewan berisiko punah jika temperatur naik 2,7 derajat Fahrenheit (setara 1,5 derajat Celcius). Jika kenaikan temperatur mencapai 3 derajat Celcius, 40 hingga 70 persen spesies mungkin musnah.  </p>
<p>Meski negara-negara miskin yang akan merasakan dampak sangat buruk, perubahan iklim juga melanda negara maju. Pada 2020, 75 juta hingga 250 juta penduduk Afrika akan kekurangan sumber air, penduduk kota-kota besar di Asia akan berisiko terlanda <strong>banjir</strong>. Di Eropa, <strong>kepunahan spesies</strong> akan ekstensif. Sementara di Amerika Utara, gelombang panas makin lama dan menyengat sehingga <strong>perebutan sumber air</strong> akan semakin tinggi. Kondisi cuaca ektrim akan menjadi peristiwa rutin. <strong>Badai tropis</strong> akan lebih sering terjadi dan semakin besar intensitasnya. Gelombang panas dan hujan lebat akan melanda area yang lebih luas. Resiko terjadinya <strong>kebakaran hutan</strong> dan penyebaran penyakit meningkat. Sementara itu, <strong>kekeringan </strong>akan menurunkan produktivitas lahan dan kualitas air. Kenaikan muka air laut akan memicu banjir lebih luas, mengasinkan air tawar, dan menggerus kawasan pesisir.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:282px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/280px-instrumental_temperature_record.png' alt='Temperature Record' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Meningkat. </strong>Temperatur rata-rata global 1850 sampai 2006 relatif terhadap 1961–1990</div>
</div>
</div>
<h3>Indonesia dan Global Warming</h3>
<p>Indonesia menyumbang <strong>tujuh persen</strong> pencemaran dengan kadar karbon atau sebanyak 2,5 miliar ton CO yang berdampak pada terjadinya <em>global warming </em>. Hal ini terjadi karena laju dan tingkat <strong>penggundulan hutan</strong> di Indonesia mencapai satu juta hektar per tahun.</p>
<p>Rachmat Witoelar mengatakan bahwa <em>global warming </em> sedang menjadi isu sentral di berbagai belahan dunia. Salah satu penyebab global warming ini terkait<strong> kegiatan penebangan pohon di kawasan hutan yang tidak diimbangi dengan penanaman pohon pengganti atau disebut deforestasi</strong>. Sektor kehutanan di seluruh dunia menyumbang sebanyak 20 persen atau sekitar 7,5 miliar ton kandungan CO, yang memicu terjadinya <em>global warming </em>. Dari angka tersebut, Indonesia menyumbang sepertiganya, atau sebanyak tujuh persen dengan total kontribusi sekitar 2,5 miliar ton CO.</p>
<blockquote><p>
&#8220;Untuk menekan pemanasan global yang berasal dari deforestasi, Indonesia perlu menekan laju penggundulan hutan yang sudah mencapai satu juta hektar per tahun. Jika berhasil, maka emisi akan berkurang 1,2 miliar ton CO.&#8221;</p></blockquote>
<p>Saat ini, negara-negara di dunia yang tergabung dalam PBB sedang gencar membahas ancaman dan dampak <em>global warming </em>. Sebagai tindak lanjut dari <a href="http://majarimagazine.com/2007/12/flexible-mechanisms-to-lower-emission/">pertemuan Kyoto</a> tahun 1997 silam, pada <strong>3-14 Desember 2007</strong> akan digelar <a href="http://majarimagazine.com/2007/12/unccc2007-bali-roadmap/">Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim bertempat di Bali</a>. Di sisi lain, masih ada sejumlah negara yang menolak untuk mengakui fenomena global warming, salah satunya Amerika Serikat dan Australia. Sampai sekarang, kedua negara tersebut masih belum bersedia untuk melaksanakan hasil pertemuan Kyoto Protocol. AS belum mau mengurangi pemakaian emisi gas buang dari bahan bakar minyak karena itu merugikan industri perminyakan yang setiap tahunnya menghasilkan 450 miliar dollar AS per tahunnya. Salah satu hasil dari <em>Kyoto Protocol</em> itu ialah <em><a href="http://majarimagazine.com/2007/12/flexible-mechanisms-to-lower-emission/">Flexible Mechanism</a></em>, sebuah metode yang dapat diterapkan oleh negara-negara di dunia untuk mengurangi emisi industri.</p>
<p>Nah.. sebagai seorang mahasiswa Teknik Kimia, apakah yang harus kita lakukan? Sebenernya <em>simple </em>saja, yaitu mulai menanamkan kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari kita dan dalam pemikiran dan keilmuan Teknik Kimia kita. Bila teman-teman ingin merancang pabrik, jangan lupakan aspek pengolahan limbah dan lingkungannya. Walaupun kontribusi terbesar Indonesia dalam <em>global warming </em> ialah melalui deforestasi, di negara luar, emisi CO2 dari pabrik kimia memiliki kontribusi besar dalam peningkatan konsentrasi gas rumah kaca. Nahh.. siapa tahu kita nanti bekerja di luar negeri.. Hehe.. Mari sadar sebelum terlambat.</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://www.kompas.com">Kompas Cyber Media</a>, <a href="http://www.wikipedia.com">Wikipedia</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/12/indonesia-dan-global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Biofuels Affecting Global Warming?</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/biofuels-may-worsen-the-global-warming-really/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/biofuels-may-worsen-the-global-warming-really/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Nov 2007 16:32:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<category><![CDATA[global warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/biofuels-may-worsen-the-global-warming-really/</guid>
		<description><![CDATA[Have you read the newspaper? Scientist have discovered that biofuels may worsen global warming as they produce more greenhouse gases respectively than fossil fuels. But don't get misled!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/biodiesel.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Biofuel, also called agrofuel, can be broadly defined as solid, liquid, or gas fuel consisting of, or derived from biomass. Research and discoveries has found that biofuel may substitute fossil-fuel in the future. It will bring many advantages compared to the fossil-based fuel such as cleaner production, low emission, and of course the main concept of being sustainable and renewable. A renewable energy source designed to reduce greenhouse gas emissions is contributing more to global warming than fossil fuels, a study suggests. But have you read the newspaper? Scientist have discovered that biofuels may worsen global warming as they produce more greenhouse gases respectively than fossil fuels. However, In October 2007, Nobel Laureate Paul Crutzen published findings that the release of nitrous oxide (N2O) among the commonly used biofuels, such as biodiesel from rapeseed (canola) and bioethanol from corn (maize), can contribute as much or more to global warming than cooling by fossil fuel fuels.</p>
<blockquote><p>Measurements of emissions from the burning of biofuels derived from rapeseed and maize have been found to produce more greenhouse gas emissions than they save. Rapeseed and maize biodiesels were calculated to produce up to 70 per cent and 50 per cent more greenhouse gases respectively than fossil fuels. The concerns were raised over the levels of emissions of nitrous oxide, which is 296 times more powerful as a greenhouse gas than carbon dioxide. Scientists found that the use of biofuels released twice as much as nitrous oxide as previously realised. <strong>From: The Times Online UK and Harian Umum Kompas.</strong></p></blockquote>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/biofield.jpg' alt='Rapeseed Biofield'  class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Rapeseed biofield</strong>: One of rapeseed biofield in Southern Europe.</div>
</div>
</div>
<p>I bet that you all fellow readers must now be in a total confusion. Where does the nitrous oxide come from? Doesn&#8217;t biodiesel and bioethanol have no nitrogen in it? How come the combustion process produce nitrous oxide as byproduct?? For us chemical engineers, it is necessary to understand what those scientist are actually talking about. It has nothing to do with the combustion process. It&#8217;s not that biofuels are not the right solution, but it is something that we&#8217;ve got to figure out first before choosing the right biofuels sources for fossil-fuel alternatives. </p>
<p><strong>As it turns out, microorganisms turn 3-5% of the nitrates in fertilizer used in growing rapeseed and maize into small amounts of nitrous oxide</strong>, N2O, which should not be confused with nitrogen dioxides (NO2) released by industry or other nitrogen oxides (NOx) from similar sources. Unfortunately, N2O has a global warming potential (GWP) 296 times that of CO2 (US Dept of Energy), meaning 1kg of N2O has the same global warming impact as 296kg of CO2. Taking this into consideration, for a biofuel to be sustainable, the CO2 saved by using it instead of fossil fuel has to be greater than the N2O GWP generated. For example, why would we save 200L of CO2 per unit of biofuel when the N2O emitted in small quantities might do the damage of 300kg of CO2? We might as well use fossil fuels and not grow the extra crop for biofuels that would do extra damage equivalent to 100kg of CO2 to the atmosphere. We are contributing more to global warming than using fossil fuels rather than preventing it. It’s not a complete argument, of course, for using biofuels or not, but we can’t be going around picking biofuels that cause more damage in one of the key areas for which we want to use them.</p>
<blockquote><p>80% of Europe’s biodiesel comes from rapeseed, which’s nitrous oxide (N2O) emissions required in fertilizers for growing does global warming damage 1 to 1.7 times the CO2 saved from using fossil fuels; corn bioethanol’s factor is 0.9 to 1.5; but sugar cane bioethanol is sustainable at 0.5 to 0.9. I can’t say for sure if the current first generation biofuel movement is still gaining momentum but it still is going strong. I’ve always maintained corn and rapeseed wasn’t sustainable, just on resources required alone, never mind this. However, now that the credible science is out that is overwhelming the debate, it’s time to start reconsidering, at least for rapeseed and corn. Keep the sugar cane, but start looking into jatropha and other alternatives. <strong>From: EnviroStats</strong></p></blockquote>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/jatrophaseeds.jpg' alt='Jatropha Seed'  class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Jatropha seeds</strong>: One of the most potential biodiesel crop in Indonesia.</div>
</div>
</div>
<p>For fellow readers the mighty chemical engineering students, there are some misleading points in the article published in Harian Umum Kompas that we all here have to know. The first fact is that Europe&#8217;s biodiesel is not the same as ours. Indonesian scientists do not produce biodiesel from rapeseed and maize but palm oil (CPO, <em>Elais guineensis</em>), jarak pagar (<em>Jatropha curcas</em>), malapari (<em>Pongamia pinnata/glabra, Deris indica</em>), and kapok (<em>Ceiba pentandra</em>). Each plant has their own characteristics and different specifications in life-cycle, planting and seeding techniques, production rate, and fertilizer needs. Therefore, it is somewhat inappropriate to generalize the conclusion that biofuels may worsen the Global Warming. The second one is that the article did not clearly mention where does the nitrous oxide come from. And unfortunately, most readers will assume that biofuels will produce nitrous oxide as the combustion process byproduct.</p>
<p>Never get misled. We are all chemical engineers-to-be.</p>
<blockquote><p><strong>Reference(s):</strong> <a href="http://envirostats.info">EnviroStats</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Biodiesel">Wikipedia</a>, <a href="http://www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/science/article2507851.ece">The Times Online UK</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/biofuels-may-worsen-the-global-warming-really/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Katalis dan Produksinya di Indonesia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 20:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[catalyst]]></category>

		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Katalis hampir selalu ada di dalam reaktor industri. Bagaimana produksi katalis di Indonesia? Dari sekian banyak pabrik kimia yang ada, berapa yang menggunakan katalis produksi nasional?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Katalis? Mungkin istilah yang satu ini sudah tidak asing lagi di telinga teman-teman. Bahkan sejak di bangku SMA dulu, bapak dan ibu guru kimia kita telah memperkenalkan istilah ini kepada kita. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi teman-teman untuk tidak kenal sama yang namanya katalis, terutama mahasiswa Teknik Kimia!! Hehehe&#8230;</p>
<p>Katalis hampir selalu ada di dalam reaktor industri.. Senyawa tambahan yang berjumlah amat sedikit bila dibandingkan laju alir reaktan dan produk, namun membawa dampak sedemikian besar terhadap karakteristik produk baik secara kualitas dan kuantitas.. Bagaimana ya produksi katalis di Indonesia? Dari sekian banyak pabrik kimia yang ada, berapa persen ya kira-kira pabrik yang menggunakan katalis produksi nasional?? Tapi sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita menyegarkan pikiran kita tentang apa katalis itu sebenarnya.. Untuk teman-teman yang sudah expert, harap bersabar.. banyak pembaca kita yang bahkan baru memulai semester pertamanya di jurusan Teknik Kimia.. Hehehe..</p>
<h3>Definisi</h3>
<p>Hmmm&#8230; teman-teman ingat tidak? Dulu waktu SMA guru kita pernah menerangkan definisi katalis: <em>zat yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi</em>. Nahh berhubung kita sekarang sudah mahasiswa, ada baiknya definisi tersebut kita perbaiki karena pada dasarnya definisi tersebut kurang tepat. Definisi yang lebih tepat ialah <em>zat yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut terkonsumsi oleh keseluruhan reaksi.</em> Mengapa demikian? Karena pada dasarnya katalis justru HARUS ikut bereaksi dengan reaktan untuk membentuk suatu zat antara yang aktif. Zat antara ini kemudian bereaksi dengan molekul reaktan yang lain menghasilkan produk. Pada akhirnya, produk kemudian terlepas dari permukaan katalis. Untuk lebih jelasnya, lihat contoh berikut :</p>
<p>Reaksi A + B -&gt; D hendak dilakukan dengan menggunakan C sebagai katalis. Mekanisme reaksi yang terjadi ialah:<br />
<center></p>
<table>
<tr>
<td>A + C</td>
<td>-&gt;</td>
<td>AC</td>
<td>(1)</td>
</tr>
<tr>
<td>B + AC</td>
<td>-&gt;</td>
<td>ABC</td>
<td>(2)</td>
</tr>
<tr>
<td>ABC</td>
<td>-&gt;</td>
<td>CD</td>
<td>(3)</td>
</tr>
<tr>
<td>CD</td>
<td>-&gt;</td>
<td>C + D</td>
<td>(4)</td>
</tr>
<tr>
<td>A + B</td>
<td>-&gt;</td>
<td>D</td>
<td>(total)</td>
</tr>
</table>
<p></center></p>
<h3>Penggolongan dan Struktur Katalis</h3>
<p>Berdasarkan fasanya, katalis bisa digolongkan menjadi 2 yaitu katalis <strong>heterogen</strong> (fasa katalis tidak sama dengan campuran reaksi) dan <strong>homogen</strong> (fasa katalis sama dengan campuran reaksi). Namun, katalis heterogen lebih disukai karena proses pemisahan katalis dan hasil-hasil reaksi lebih mudah untuk dilakukan. Suatu katalis padat terdiri dari 3 komponen utama, yaitu <strong>(1) fasa aktif, (2) penyangga, dan (3) promotor.</strong> Fasa aktif berfungsi untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi, peyangga berfungsi untuk memberikan luas permukaan yang lebih besar bagi fasa aktif, dan promotor berfungsi untuk meningkatkan kinerja katalis. Fasa aktif dari katalis bisa menjadi tidak aktif (terdeaktivasi) karena beberapa sebab seperti kehadiran CO, CO<sub>2</sub>, dan senyawa-senyawa sulfur serta temperatur operasi yang terlalu tinggi.</p>
<h3>Cara Kerja dan Sifat-sifat Katalis</h3>
<p>Sebelum membahas bagaimana cara kerja dari katalis, ada baiknya kita mengetahui syarat-syarat yang diperlukan agar reaksi dapat berlangsung. Syarat berlangsungnya reaksi ialah <strong>(1) Terjadi kontak (tumbukan) dengan orientasi yang tepat, dan (2) disertai dengan energi yang cukup (melebihi energi aktivasi reaksi)</strong>. Dengan adanya katalis, kedua syarat di atas dapat terkomodasi dengan baik. Katalis dapat “mengantarkan” reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan dengan orientasi yang tepat. Hal itu disebabkan molekul-molekul reaktan akan teradsorp pada permukaan aktif katalis sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan antar molekul-molekul reaktan akan semakin besar. Selain itu, ketepatan orientasi tumbukan pun akan semakin meningkat.Katalis memiliki beberapa sifat-sifat tertentu, yang pertama ialah katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. Oleh karena itu, sebagus apa pun katalis yang digunakan, konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. Selain itu, katalis juga bersifat spesifik, satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. Dan bagaimana efek penggunaan katalis terhadap keseluruhan reaksi? Sebagai gambaran, <em>pada sintesis amonia, dibutuhkan sekitar 100 meter kubik katalis untuk menghasilkan 1500 ton amonia/hari dengan masa kerja 10 tahun.</em></p>
<h3>Katalis di Indonesia</h3>
<p>Nah.. dari definisi dan cara kerja di atas, teman-teman semua pasti sudah memiliki gambaran yang cukup tentang bagaimana pentingnya penggunaan katalis dalam sebuah reaktor industri. Bayangkan saja, tanpa katalis suatu reaksi dapat menjadi 1.000.000 kali lebih lambat dalam menghasilkan produk. Salah satu pabrik katalis yang ada di Indonesia ialah pabrik di Kawasan Industri Kujang Cikampek dengan kapasitas produksi 1.100 ton/tahun. Pengelola pabrik ini adalah P.T. Kujang Süd-Chemie Catalysts, yaitu sebuah perusahaan patungan PT. Pupuk Kujang dengan Süd-Chemie Jepang dan Jerman. Namun untuk memberi gambaran tentang bagaimana keadaan industri katalis di Indonesia, berikut ini sedikit kutipan dari Harian Umum Kompas:</p>
<blockquote><p>Meski peneliti di perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia berhasil mengembangkan teknologi katalis yang bernilai ekonomi, belum ada industri yang berminat memproduksi hasil inovasi itu. Hal ini, antara lain, disebabkan <strong>produksi katalis tidak menjanjikan skala produksi dan keuntungan yang tinggi.</strong> Akibatnya, hampir seluruh kebutuhan tersebut <strong>diimpor dan sebagian kecil diproduksi di Indonesia dengan lisensi dari luar negeri.</strong> Sejauh ini, pengembangan katalis belum menjadi perhatian secara terpadu dari pemerintah, industri, dan lembaga penelitian.</p></blockquote>
<p>Hal tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Katalis Indonesia (MKI) <strong>Dr. Subagjo</strong> dalam Simposium dan Kongres I Teknologi Katalis Indonesia 2005 di Serpong, Banten. Kongres terakhir MKI diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada tahun 2006 lalu dan kongres ketiga akan diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada tahun ini.</p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:303px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/cuznal-impregnasi.jpg' alt='Cu/Zn/Al Impregnasi'  class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Cu/Zn/Al2O3</strong>: Katalis yang digunakan untuk reaksi reformasi metanol penyedia hidrogen untuk fuel cell. Dibuat dengan metode impregnasi kering gamma-alumina (Al2O3) dengan larutan Cu(NO3)2 dan Zn(NO3)2. Penelitian dari Makertihartha, Janitra, dan Sianturi ini mengemukakan bahwa katalis ini menghasilkan konversi metanol sebesar 90% pada suhu 225 C.</div>
</div>
</div>
<p>Bagaimana pendapat teman-teman mendengar keadaan tersebut? Cukup disayangkan bukan? Seluruh kebutuhan katalis diimpor dan hanya sebagian kecil yang diproduksi di Indonesia.. Itupun dengan lisensi dari luar negeri.. Yang artinya katalis tersebut diproduksi oleh pabrik tertentu dengan komposisi, kondisi operasi, dan resep-resep lainnya yang sudah dipatenkan dan kita harus membayar sekian rupiah kepada negara luar untuk setiap katalis yang dihasilkan. Padahal, pada dasarnya Indonesia memiliki sumber daya dan teknologi yang cukup untuk memproduksi katalis sendiri. Dan apa kira-kira penyebab industri Indonesia tidak bisa menjanjikan kebutuhan katalis dalam skala yang besar? Bukankah setiap industri di Indonesia membutuhkan katalis dalam tiap reaktornya? Apakah kualitas katalis Indonesia masih kurang baik dibandingkan kualitas buatan luar negeri? Ataukah memang pada dasarnya industri Indonesia lebih yakin akan kualitas katalis buatan luar negeri dibandingkan dengan katalis buatan Indonesia??</p>
<p>Tapi untungnya, masyarakat katalis Indonesia cukup peka terhadap keadaan tersebut dan beberapa gerakan telah dilakukan untuk menginisiasi pengembangan katalis mandiri yang berkualitas buatan Indonesia.<br />
Berikut ini kutipan lain dari Harian Kompas:</p>
<blockquote><p>Lebih dari itu, beberapa institusi anggota MKI, ujar peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Hery Haerudin, telah melaksanakan pengembangan katalis dan teknologi pemprosesnya. Di antaranya <strong>hydrotreating minyak mentah untuk menghilangkan pengotor; katalis asam padat dengan memanfaatkan tanah liat untuk memproduksi bio-diesel atau bahkan biogasoline, pengembangan katalis proses produksi hidrogen untuk fuel cell, serta pengembangan katalis perengkahan minyak berat.</strong></p></blockquote>
<p>Semoga teman-teman sedikit tersadarkan akan pentingnya suatu senyawa (atau campuran senyawa) bernama katalis yang secara kuantitas amatlah kecil bila dibandingkan dengan volume produksi pabrik, namun memegang peranan yang sedemikian pentingnya dalam industri. Bahkan minyak bumi sekalipun, yang diheboh-hebohkan dan diperebutkan oleh negara-negara di dunia, tetap membutuhkan katalis-katalis dalam rangkaian pemrosesannya sebelum akhirnya dapat kita nikmati sebagai bahan bakar untuk rumah tangga dan kendaraan pribadi kita. Dan bukan salah industri Indonesia apabila mereka lebih mempercayai kualitas katalis luar negeri ketimbang katalis buatan sendiri. Mungkin memang pada dasarnya mereka jauh lebih baik dari kita. Atau mungkin mahasiswa dan peneliti Indonesia yang masih kurang sadar akan pentingnya katalis berkualitas buatan negeri sendiri. Dan sepertinya, sudah menjadi tugas kita sebagai mahasiswa untuk memajukan kualitas katalis buatan Indonesia agar terpercaya dan terjamin performa dan <em>reliability</em>-nya.</p>
<p>Ayo majukan produksi katalis Indonesia!</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0502/25/humaniora/1581253.htm">Harian Umum Kompas</a>, <a href="http://www.katalisis.org/">Situs Masyarakat Katalis Indonesia</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Harga Minyak Naik??!</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/10/harga-minyak-naik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/10/harga-minyak-naik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Oct 2007 19:22:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Asthary</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/10/harga-minyak-naik/</guid>
		<description><![CDATA[Sekedar untuk info, selama bertahun-tahun harga BBM di Indonesia murah, gara-gara apa? Subsidi dari pemerintah lho!! Kalaupun APBN tahun 2007 ini aman, tahun depan bakal jadi apa Indonesia?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/minyaknaik.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />KOMPAS beberapa hari yang lalu menjadikan topik ini sebagai HEADLINE. Judulnya cukup bikin hati yang baca jadi miris, &#8220;<strong>APBN 2007 Aman, 2008 Kritis</strong>&#8220;. Kalaupun APBN tahun 2007 ini aman, tahun depan bakal jadi apa Indonesia? Sekedar untuk info, selama bertahun-tahun harga BBM di Indonesia murah, gara-gara apa? Subsidi dari pemerintah lho!! Harga BBM di luar negeri berkisar antara Rp6.000 sampai Rp7.000 rupiah, sementara di Indonesia? Duluuu banget, zamannya BBM dunia harganya masih Rp4.000, bensin di Indonesia cuma Rp2.000!! Sekarang, yaa nggak jauh bedalah.. Pemerintah masih subsidi kira-kira Rp2.000 rupiah per liter BBM. Jadi jangan heran kalau selama resesi ekonomi, APBN Indonesia nggak pernah lagi &#8216;berimbang dan dinamis&#8217; ala Pak Harto. Kalau harga BBM naik untuk mengurangi beban pemerintah, apa salah?</p>
<p>Berikut secuplik ulasan dari <strong>KOMPAS</strong>:</p>
<blockquote><p><strong>Pengusaha Cemas Pertamina Naikkan Harga Minyak</strong></p>
<p>Jakarta, Kompas - Meski harga minyak mentah 100 dollar AS per barrel hingga akhir tahun, pemerintah diperkirakan masih dapat menanggung beban itu selama produksi minyak tidak turun di bawah satu juta barrel per hari. Tetapi, tanpa upaya peningkatan produksi dan harga tetap tinggi, kerepotan bakal muncul tahun 2008.</p>
<p>Kalau harga minyak mentah bertahan rata-rata 85 dollar AS per barrel sampai akhir tahun, dengan asumsi produksi (lifting) minyak mentah pada kisaran 1,025 juta barrel per hari, APBN 2007 diperkirakan tekor bersih hanya Rp 5 triliun.&#8217;</p></blockquote>
<p>Dari secuplik berita di atas, bisa dilihat kan betapa harga minyak mentah yang tinggi banget itu menimbulkan rugi yang cukup besar untuk Indonesia. Menurut temen-temen, kira-kira cara untuk mengurangi kerugiannya gimana?</p>
<ol>
<li>Meningkatkan produksi (walah.. ini super duper susah nih, melihat peralatan dan teknologi :p)</li>
<li>Meningkatkan harga BBM (dimana semua orang pasti tambah teriak..)</li>
</ol>
<p>Kalau pemerintah nggak melakukan salah satu dari 2 hal di atas, mau gimana lagi?</p>
<blockquote><p>Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM diingatkan untuk berupaya keras mencapai <strong>produksi minyak sesuai APBN Perubahan 2007 sebesar 0,950 juta barrel per hari.</strong></p>
<p>Setiap penurunan produksi minyak 50.000 barrel per hari hingga akhir 2007 akan menambah beban berupa pembengkakan <strong>defisit APBN Rp 10 triliun.</strong></p>
<p>Seiring melonjaknya harga minyak mentah, <strong>harga bahan bakar minyak (BBM) untuk industri pada November 2007 dipastikan naik</strong>. Kondisi itu bakal memberatkan dunia usaha.</p>
<p>Tahun depan pengusaha harus mengeluarkan dana untuk membayar UMR (Upah Minimum Regional). Berdasar laporan sementara dari berbagai daerah di Indonesia, <strong>UMR tahun 2008 diperkirakan naik hingga di atas 15 persen</strong> dari tahun lalu.</p></blockquote>
<p>Hmm. Yang bakal heboh berarti bukan cuma masyarakat aja kan? Pengusaha juga. Nah, kira-kira sebagai orang Teknik Kimia yang bisa dibilang berhubungan erat dengan masalah ini, <strong>apa yang bisa kita buat untuk Indonesia?</strong></p>
<p>Sedikit masalah untuk membuka wawasan.. khususnya bagi mereka yang ingin <a href="http://majarimagazine.com/2007/10/berapa-gaji-bekerja-di-oil-and-gas/">bekerja di Oil and Gas Industry</a>..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/10/harga-minyak-naik/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>10 Easy Tips for an Eco-Friendly Lifestyle</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/10/10-easy-tips-for-an-eco-friendly-lifestyle/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/10/10-easy-tips-for-an-eco-friendly-lifestyle/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 13 Oct 2007 18:37:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Opini]]></category>

		<category><![CDATA[green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/10/10-easy-tips-for-an-eco-friendly-lifestyle/</guid>
		<description><![CDATA[Ever heard the saying “small changes make a big difference”? Well, we have – in fact, we believe there is a lot of truth to that maxim! Consider this: turning off the water faucet while you brush your teeth or shave can save up to 3 gallons of water each day!]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/eco2.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Ever heard the saying “small changes make a big difference”? Well, we have – in fact, we believe there is a lot of truth to that maxim! Consider this: turning off the water faucet while you brush your teeth or shave can save up to 3 gallons of water each day! That’s 90 gallons of water you save a month, just imagine the cost savings to your household energy bill (not to mention the impact this could have on the rapidly declining freshwater sources).</p>
<p>We’ve compiled a list of 10 basic tips which we believe serve as a great starting point for anyone concerned about reducing waste and leading a more earth-friendly lifestyle. It’s worth emphasizing that these tips, although very helpful, are quite basic. There is much more to be done if we are to reduce our harmful effects on this earth.</p>
<ol>
<li>Close the curtains in your home in the summer when it’s sunny and when it’s cold in the rain season. This creates additional insulation and could reduce your energy consumption by up to 25 percent.</li>
<li>Stop delivery of phone books to your home and use online directories instead. If you must receive paper telephone directories, be sure to recycle them when you no longer need them.</li>
<li>Reuse paper or <a href="http://majarimagazine.com/2007/11/welcome-to-modbury-don%e2%80%99t-ask-for-a-plastic-bag/">plastic shopping bags</a> as trash can liners. You’ll not only save money on those expensive trash-liners, you’ll save some energy and a few trees along the way!</li>
<li>Use a clothesline to dry your laundry whenever it’s possible. You won’t be paying for the sunlight you’ll use, which is always a bonus!</li>
<li>Take a shorter shower. Spending even two minutes less in the shower could save more than 10 gallons of water.</li>
<li>Even better, install low-flow water-saving shower heads. This could save as much as 800 gallons of water per month!</li>
<li>Use solar chargers instead of the traditional electric chargers to power your electronic devices. Solar chargers on the market today can be bought for under Rp900k and can usually be used interchangeably with different cell phone brands as well as to power mp3 players. Solar energy is not only less harmful to the environment than electricity, it’s also much cheaper!</li>
<li>Recycle your old electronics. Electronics are well known to harbor toxic materials like lead and mercury. Dumping old computers, televisions, and/or cell phones can lead to serious health and environmental risks since the toxic materials in these electronics tend to leach into the ground and neighboring water sources.</li>
<li>Reduce your in-home energy consumption by using less electricity. You can use less electricity by investing in compact fluorescent light bulbs or LED lights. These are much more energy efficient than the traditional incandescent bulbs and are proven to reduce carbon emissions!</li>
<li>Do you use an automatic sprinkler system to water your lawn? You might want to consider installing a rain sensor which will override your sprinkler cycle during and after rain, preventing your yard from being watered unnecessarily.</li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/10/10-easy-tips-for-an-eco-friendly-lifestyle/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
