<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; waste treatment</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/waste-treatment/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 04:50:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Food For Fuel</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 03:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biogas]]></category>
		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2117</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan semakin populernya pengembangan energi alternatif, semakin banyak pula peneliti yang mencari sejumlah besar limbah organik dari komunitasnya untuk ditransformasi menjadi biofuel, bahan bakar yang lebih bersahabat dengan lingkungan.Para peneliti Institut Teknologi Nigata di Kashiwazaki, Jepang memberikan sebuah bentuk baru bagi susu yang sudah basi. Sedangkan di Universitas Birmingham, Inggris, para peneliti telah mengubah permen, karamel, dan limbah makanan manis lainnya yang berasal dari pabrik Cadbury Schweppes setempat menjadi bahan bakar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2118" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2118" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/09/cadbury-chocolate-300x223.jpg" alt="Coklat juga bisa jadi bahan baku sumber energi alternatif" width="300" height="223" /><p class="wp-caption-text">Coklat juga bisa jadi bahan baku sumber energi alternatif</p></div>
<p>Seiring dengan semakin populernya pengembangan energi alternatif, semakin banyak pula peneliti yang mencari sejumlah besar limbah organik dari komunitasnya untuk ditransformasi menjadi<em> biofuel</em>, bahan bakar yang lebih bersahabat dengan lingkungan. Produk pertanian seperti jagung dan tebu telah dikenal sebagai sumber produksi energi terbesar di dunia, terutama untuk etanol hasil distilasi. Di tengah kekhawatiran akan potensi terjadinya kompetisi antara makanan dan bahan bakar, sejumlah perusahaan merekayasa minyak yang dibuat dari <em>flowering plant</em> dan <em>algae. </em>Sebagian lainnya berusaha mengeksploitasi rerumputan yang jumlahnya hampir tak terbatas dan dapat tumbuh dengan cepat untuk membuat <em>biofuel</em>.</p>
<p>Setiap saat, ada bergunung-gunung limbah makanan yang memenuhi tempat pembuangan akhir atau incinerator. Para peneliti menemukan bahwa sedikit kecerdasan dapat mengubah kerajaan sampah menjadi sejumlah besar energi. Seperti yang ditunjukkan para peneliti Institut Teknologi Nigata di Kashiwazaki, Jepang. Mereka memberikan sebuah bentuk baru bagi susu yang sudah basi. Di Universitas California, Davis, Amerika Serikat, para insinyur telah memberikan fungsi lain pada sampah meja-meja kayu dari restoran-resturan megah di Bay Area. Sedangkan di Universitas Birmingham, Inggris, para peneliti telah mengubah permen, karamel, dan limbah makanan manis lainnya yang berasal dari pabrik Cadbury Schweppes setempat.</p>
<p><strong>Pengolahan susu di Jepang</strong></p>
<p>Jepang pada tahun-tahun belakangan kebanjiran sampah susu. Penyebabnya masih belum jelas, salah satu kemungkinannya adalah anak sekolah sekarang lebih memilih mengkonsumsi soda. Melihat keadaan ini, Masayuki Onodera, profesor kimia terapan dan bioteknologi Institut Teknologi Nigata, mendapat ide untuk mengolah susu menjadi <em>biofuel</em>.</p>
<p>Onodera dan kolega-koleganya memulai proses konversi dua tahap dengan memanaskan larutan gula untuk menciptakan lingkungan ramah-bakteri pada limbah cairan. Bioreaktor tersebut bergantung pada mikroba penyuka-panas untuk mencerna endapan pada lingkungan bebas oksigen dengan temperatur 131 derajat Fahrenheit. Kondisi ini dihampirkan pada kondisi dalam sejumlah tempat pembuangan akhir dan menghasilkan metan dan karbondioksida. Para peneliti menganggap pembebasan karbondioksida ini sebagai &#8216;karbon netral&#8217; karena gas yang dibebaskan ke atmosfer jumlahnya sama dengan yang dibutuhkan rumput pada saat fotosintesis, yang kemudian dimakan sapi perah.</p>
<p>Tim Onodera mencampur susu yang telah dicerna bakteri tersebut dengan kontainer kedua yang berisi susu tengik. Saat oksigen dalam campuran tersebut rendah dan pH-nya dijaga netral, biogas yang dihasilkan mencapai 8 kali volume asalnya dalam periode 1 minggu. Setengah dari biogas yang diperoleh adalah hidrogen dan setengahnya lagi karbondioksida. Dengan mengganti sebagian endapan yang mengandung bakteri secara periodik dengan susu dan memastikan larutan tetap pada pH yang tepat, sistem ini akan memproduksi biogas secara kontinyu sampai 100 hari kemudian. Sampai saat itu, campuran tersebut menghasilkan biogas lebih dari 5 kali volumenya setiap 2 hari.</p>
<p><strong>Fungsi lain restoran Amerika</strong></p>
<p>Untuk memuluskan rencana mengganti bahan bakar dengan tingkat polusi tinggi, bioreaktor pengkonversi limbah perlu mendemostrasikan efisiensinya dalam skala yang jauh lebih besar. Tantangan inilah yang dilakukan para peneliti di Universitas California, Davis.</p>
<p>Sejak Oktober 2006, Biogas Energy Project telah mengkonversi meja-meja bekas dari sejumlah restoran mewah, limbah sayuran, potongan rumput, dan limbah sapi menjadi metan dan hidrogen. Reaktor memproses 3-8 ton limbah organik per harinya. Dengan kondisi itu, <em>output</em> reaktor per hatinya bisa menyediakan energi untuk 80 rumah seharian.</p>
<p>Teknologi ini tidak memerlukan bahan bakar <em>starter </em>untuk memproses kira-kira 5 juta ton limbah makanan yang dibuang di tempat pembuangan akhir California tiap tahunnya. Ketika limbah sudah selesai dimasukkan, reaktor <em>multi-tank </em>Davis bergantung pada proses anaerobik dua tahap di mana mikroba mengubah limbah makanan tersebut menjadi campuran asam dan air. Pada fasa kedua, digunakan campuran bakteria lainnya untuk mengkonversi asam-asam tersebut menjadi biogas.</p>
<p>Sama dengan Onedera, proses yang dikembangkan Ruihong Zhang, profesor teknik biologi dan pertanian, dan koleganya ini juga menghasilkan hidrogen dan karbondioksida. Menurut Zhang, secara teknis proses anaerobik dapat digunakan untuk mengkonversi apapun yang <em>biodegradable</em>. Meskipun kondisi untuk pengolahannya berbeda-beda tergantung materialnya.</p>
<p>Metode tersebut dilisensikan oleh Onsite Power Systems, Inc. yang berbasis di California. Dengan <em>prototype</em> reaktor yang telah tersedia, perusahaan ini membangun sebuah sistem komersial yang dapat menangani limbah sampai dengan 250 ton per hari. Reaktor ini tidak hanya dapat mengkonversi sisa-sisa makanan, tetapi juga rerumputan dan limbah pembuatan keju. <em>Biofuel </em>yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar bagi truk-truk sampah, menghemat biaya dan energi yang dibutuhkan untuk mentransportasikan bahan mentah bagi reaktor.</p>
<p>Menurut Zhang, teknologi yang dikembangkannya tidak hanya menawarkan biogas, tetapi juga cara pengolahan limbah padat yang ramah lingkungan. Endapan yang dihasilkan dapat diproses kembali menjadi kompos dan <em>organic fertilizer</em>. Serat yang tidak tercerna dalam endapan tersebut juga dapat menjadi bahan baku <em>particle board</em> kualitas tinggi.</p>
<p><strong>Bahan bakar Cadbury</strong></p>
<p>Dalam penelitian untuk mengolah limbah dalam skala industri, para peneliti dari University of Birmingham, Inggris menggaet Cadbury Schweppes sebagai partner. Anak perusahaan yang dinamakan Biowaste2energy atau BW2E berencana untuk membuat unit demonstrasi bagi sistem tiga tahapnya.</p>
<p>Seperti halnya proyek di California, metode BW2E dimulai denga tahap fermentasi yang memecah makanan menjadi asam organik, mengkonversikan sekitar 40 persen limbah dalam prosesnya. Proses purifikasi mengkonversi 40 persen lainnya dan sebuah <em>photobioreactor</em> yang menggunakan cahaya dan bakteria mengkonversi sebagian besar sisa endapan menjadi hidrogen, karbondioksida, dan air. Menurut CEO BW2E, David Anthony, proses tiga tahap dipilih karena dapat mengurangi volume limbah lebih banyak daripada dengan proses satu tahap.</p>
<p>Selain menyelamatkan Cadbury dalam lautan karamelnya sendiri, BW2E juga terbuka bagi perusahaan-perusahaan yang mencari cara pengolahan yang lebih baik bagi limbah minuman buah-buahan dan buah-buahan busuk.</p>
<p>Anda punya sisa makanan? Konversikan jadi biogas!</p>
<p>Sumber: http://www.msnbc.msn.com/id/23638979//</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2117&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Parameter Pengolahan Air Limbah Industri</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/parameter-pengolahan-air-limbah-industri/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/parameter-pengolahan-air-limbah-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 19 Jun 2009 15:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Adi Kurnia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[parameter]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1737</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pengolahan air limbah industri dikenal 3 parameter utama yaitu: (1) Oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO), (2) Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan (3) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) atau Chemical Oxygen Demand (COD).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pengolahan air limbah industri dikenal 3 parameter utama yaitu: (1) Oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO), (2) Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) atau Biologycal Oxygen Demand (BOD) dan (3) Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) atau Chemical Oxygen Demand (COD).</p>
<h3>Oksigen terlarut (OT) atau Dissolved Oxygen (DO)</h3>
<p>Oksigen merupakan parameter yang sangat penting dalam air. Sebagian besar makhluk hidup dalam air membutuhkan oksigen untuk mempertahankan hidupnya, baik tanaman maupun hewan air, bergantung kepada oksigen yang terlarut. Ikan merupakan makhluk air dengan kebutuhan oksigen tertinggi, kemudian invertebrata, dan yang terkecil kebutuhan oksigennya adalah bakteri.</p>
<p>Keseimbangan oksigen terlarut (OT) dalam air secara alamiah terjadi secara bekesinambungan. Mikoorganisme sebagai makhluk terkecil dalam air, untuk pertumbuhannya membutuhkan sumber energi yaitu unsur karbon (C) yang dapat diperoleh dari bahan organik yang berasal dari tanaman, ganggang yang mati, maupun oksigen dari udara.</p>
<p>Bahan organik tersebut oleh mikroorganisme akan duraikan menadi karbon dioksida (CO2) dan air (H2O). CO2 selanjutnya dimanfaatkan oleh tanaman dalam air untuk proses fotosintesis membentuk oksigen, dan seterusnya.</p>
<p>Oksigen yang dimanfaatkan untuk proses penguraian bahan organik tersebut akan diganti oleh oksigen yang masuk dari udara maupun dari sumber lainnya secepat habisnya oksigen terlarut yang digunakan oleh bakteri atau dengan kata lain oksigen yang diambil oleh biota air selalu setimbang dengan oksigen yang masuk dari udara maupun dari hasil fotosintesa tanaman air.</p>
<p>Apabila pada suatu saat bahan organik dalam air menjadi berlebih sebagai akibat masuknya limbah aktivitas manusia (seperti limbah organik dari industri), yang berarti suplai karbon (C) melimpah, menyebabkan kecepatan pertumbuhan mikroorganisme akan berlipat ganda, yang berati juga meningkatnya kebutuhan oksigen, sementara suplai oksigen dari udara jumlahnya tetap. Pada kondisi seperti ini, kesetimbangan antara oksigen yang masuk ke air dengan yang dimanfaatkan oleh biota air tidak setimbang, akibatnya terjadi defisit oksigen terlarut dalam air. Bila penurunan oksigen terlarut tetap berlanjut hingga nol, biota air yang membutuhkan oksigen (aerobik) akan mati, dan digantikan dengan tumbuhnya mikroba yang tidak membutuhkan oksigen atau mikroba anerobik. Sama halnya dengan mikroba aerobik, mikroba anaerobik juga akan memanfatkan karbon dari bahan organik. Dari respirasi anaerobik ini terbentuk gas metana (CH4) disamping terbentuk gas asam sulfida (H2S) yang berbau busuk.</p>
<div id="attachment_1746" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1746" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/channel_catfish_mortality_due_to_low_dissolved_oxygen2-300x201.jpg" alt="Masuknya zat terlarut lain dalam air mengganggu kelarutan oksigen dalam air" width="300" height="201" /><p class="wp-caption-text">Masuknya zat terlarut lain dalam air mengganggu kelarutan oksigen dalam air</p></div>
<h3>BOD dan COD</h3>
<p>Untuk menentukan tingkat penurunan kualitas air dapat dilihat dari penurunan kadar oksigen terlatut (OT) sebagai akibat masuknya bahan organik dari luar, umumnya digunakan uji BOD dan atau COD.</p>
<p>Biological Oxygen Demand (BOD) atau kebutuhan oksigen biologis (KOB) menunjukkan jumlah oksigen terlarut yang dibutuhkan oleh mikroorganisme hidup untuk memecah atau mengoksidasi bahan organik dalam air.</p>
<p>Oleh karena itu, nilai BOD<strong> <span style="text-decoration: underline;">bukanlah</span></strong> merupakan nilai yang menujukkan jumlah atau kadar bahan organik dalam air, tetapi mengukur secara relative jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi atau menguraikan bahan-bahan organik tersebut. BOD tinggi menunjukkan bahwa jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk mengoksidasi bahan organik dalam air tersebut tinggi, berarti dalam air sudah terjadi defisit oksigen. Banyaknya mikroorganisme yang tumbuh dalam air disebabkan banyaknya makanan yang tersedia (bahan organik), oleh karena itu secara tidak langsung BOD selalu dikaitkan dengan kadar bahan organik dalam air.</p>
<p>BOD5 merupakan penentuan kadar BOD baku yaitu pengukuran jumlah oksigen yang dihabiskan dalam waktu lima hari oleh mikroorganisme pengurai secara aerobic dalam suatu volume air pada suhu 20 derajat Celcius.</p>
<p>BOD5 500mg/liter (atau ppm) berarti 500 mgram oksigen akan dihabiskan oleh mikroorganisme dalam satu liter contoh air selama waktu lima hari pada suhu 20 derajat Celcius.</p>
<p>Beberapa dasar yang sering digunakan untuk menentukan kualitas air dilihat dari kadar BOD adalah:</p>
<p>Erat kaitannya dengan BOD adalah COD. Dalam bahan buangan, tidak semua bahan kimia organik dapat diuraikan oleh mikroorganisme secara cepat.</p>
<p>Bahan organik dalam air bersifat:</p>
<ul>
<li> Dapat diuraikan oleh bakteri (biodegradasi) dalam waktu lima hari</li>
<li> Bahan organik yang tidak teruraikan oleh bakteri dalam waktu lima hari</li>
<li> Bahan organik yang tidak mengalami biodegradasi</li>
</ul>
<p>Uji COD ini meliputi semua bahan organik di atas, baik yang dapat diuraikan oleh mikroorganisme maupun yang tidak dapat diuraikan. Oleh karena itu hasil uji COD akan lebih tinggi dari hasil uji BOD.</p>
<blockquote><p>Referensi:<br />
Henze,Mogenz.1995.Waste Water Treatment Biological and Chemical Process.Germany:Springer-verlagheidelberg<br />
Effeni, Farid. Diktat Kuliah Pengolahan Limbah Industri.Surabaya:Teknik Kimia ITS</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1737&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/parameter-pengolahan-air-limbah-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanganan Limbah dengan Microchannel Reactor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 04:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[cleaning technology]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1679</guid>
		<description><![CDATA[Dunia sedang memasuki era baru, di mana konsep the more the merrier sudah lama ditinggalkan dan digantikan dengan the lesser the better. Demikian pula dengan reaktor; teknologi microchannel reactor kini mulai dikembangkan untuk berbagai kegunaan, di antaranya adalah untuk pengolahan limbah in situ.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1681" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1681" title="Microchannel reactor" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/microchannel-reactor-300x206.jpg" alt="Microchannel reactor untuk memproses limbah in situ" width="300" height="206" /><p class="wp-caption-text">Microchannel reactor untuk memproses limbah in situ</p></div>
<p>Dunia sedang memasuki era baru, di mana konsep <em>the more the merrier </em>sudah lama ditinggalkan dan digantikan dengan <em>the lesser the better</em>. Demikian pula dengan perkembangan reaktor. Teknologi <em>microchannel reactor </em>kini mulai dikembangkan untuk berbagai kegunaan, di antaranya adalah untuk pengolahan limbah nuklir <em>in situ</em>.</p>
<p>Ada perbedaan mendasar dari <em>microreactor </em>dan <em>microchannel reactor. </em>Teknologi <em>microreactor </em>berarti menggunakan reaktor berukuran kecil yang seringkali dipakai dalam tes laboratorium. Sementara teknologi <em>microchannel </em>tetaplah dimaksudkan untuk produksi komersial, misalnya reaktor, <em>mixer, heat exchanger</em>, yang memanfaatkan saluran mikro untuk menampung proses aliran dan meningkatkan kinerja. Dimensi diameter saluran bervariasi dari puluhan hingga seratusan mikrometer dengan panjang bisa mencapai beberapa meter. Perbedaan mendasar adalah komponen <em>microchannel</em> tersebut terintegrasi ke dalam sistem yang mengandung puluhan hingga ribuan saluran. Ukuran <em>channel</em> bervariasi antara 0,1 sampai 10 mm.</p>
<p>Dalam pengolahan limbah nuklir in situ, Pacific Northwest National Laboratory mengembangkan reaktor yang berdimensi  sekitar 24x24x6 inch. Menurut Ed Baker, direktur divisi energi dan efisiensi PPNL, dibandingkan dengan memindahkan limbah ke fasilitas tersentralisasi, PPNL mengembangkan mesin skala kecil yang dapat ditempatkan dalam tangki untuk memproses limbah di tempat asalnya. Kalkulasi awal yang disandingkan dengan penelitian yang dibiayai oleh Departemen Energi Amerika Serikat menghasilkan suatu kesimpulan bahwa gagasan untuk memproses limbah dengan cara ini adalah suatu ide yang bagus. Pengerjaan yang dikerjakan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Eropa untuk mengembangkan cara untuk merancang microchannel menjadi chip-chip silikon menjanjikan masa depan yang menjanjikan: kemungkinan microchannel reactor untuk menghasilkan perkembangan besar dalam proses kimia.</p>
<p>&#8220;Sayangnya,&#8221; kata Baker, seperti dikutip oleh <em>Innovation: America&#8217;s Journal of Technology Commersialization </em>&#8220;gagasan mengembangkan <em>microchannel reactor </em>untuk memproses limbah nuklir tidak pernah mencapai suatu daya tarik yang nyata. Malahan, suatu fasilitas sentral bernilai milyaran dolar untuk memproses limbah dalam tangki sedang dalam proses.&#8221;</p>
<p>Bangunan dasar dari <em>microchannel reactor </em>terdiri dari komponen-komponen dengan <em>microchannel-microchannel </em>paralel. Menurut Terry Mazanec, kepala ilmuwan Velocys, ukuran kecil berarti biaya kapital yang berkaitan dengan <em>microchannel reactor </em>relatif murah jika dibandingkan dengan peralatan konvensional. Keuntungan lainnya, semakin kecil <em>footprint</em> dari sebuah <em>microchannel reactor </em>memungkinkan reaktor dapat ditempatkan di tempat-tempat premium, pada platform pengilangan minyak bumi <em>offshore</em>, atau pada <em>refiner-refiner </em>yang ramai. Konstruksi modular reaktor memberikan fleksibilitas yang tinggi pada saat mendesain sebuah <em>plant</em>.</p>
<p>Perawatan dan pengisian katalis dapat dilakukan dengan mengganti <em>module-module</em> individual, tidak membutuhkan proses <em>shutdown</em> seluruh sistem. Suatu <em>plant</em> yang didasarkan pada <em>microchannel reactor </em>dapat dibangun pada luas area yang lebih kecil namun tetap memiliki kapasitas yang diperlukan. Hal ini tidak hanya akan memperlancar siklus bisnis dan menghemat biaya transportasi. Cara ini juga lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat dalam membuat kapasitas tambahan sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p>Oleh karena setiap blok reaktor memiliki ribuan channel proses yang diisi dengan katalis yang terjalin dengan panas input atau <em>channel </em>dingin, maka <em>microchannel reactor </em>lebih mampu untuk melampaui <em>barrier </em>perpindahan panas dan massa. Dengan melampaui <em>barrier</em> perpindahan massa secara esensial memungkinkan produksi yang lebih cepat, sedangkan kapabilitas perpindahan panas berarti reaktor dapat mengatasi masalah panas secara lebih efisien daripada sistem konvensional. <em>Microchannel reactor</em> cocok digunakan untuk mengeluarkan baik reaksi katalitik eksotermik tinggi (atau generator panas) dimana panas dari reaktor harus dihilangkan, begitu juga reaksi endotermik tinggi atau reaksi yang membutuhkan panas tinggi.</p>
<p>Aplikasi-aplikasi yang potensial lainnya bagi microchannel reactor bervariasi dari produksi bahan komuditi kimia seperti <em>vinyl acetate, ethylene oxide, acrylic acid, </em>dan <em>acrylonitrite </em>dengan reaksi oksidasi parsial selektif untuk menguapkan metan <em>reforming</em> untuk memproduksi hidrogen untuk digunakan dalam bahan bakar. Namun demikian, aplikasi yang paling memungkinkan adalah produksi terdistribusi <em>second generation biofuel from waste </em>(BTL) dengan reaksi FT menggunakan <em>microchannel reactor</em> pada <em>plant </em>skala kecil dekat sumber limbah. Menurut Tonkovich, wakil presiden pengembangan teknologi dan manufaktur Velocys, dengan optimasi katalis yang baik, <em>microchannel reactor </em>FT kecil dapat beroperasi dengan efisien dan ekonomis saat reaktor hanya memproduksi 500 sampai 2000 ton limbah per hari.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Innovation: America&#8217;s Journal of Technology Commersialization.  				April/May 2009. <em>Processing Waste with Microchannel Reactors </em>oleh Laura Silva.<br />
<a href="http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/teknologi_tepat_guna/reaktor-microchannel-reaktor-apa-ini/">http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/teknologi_tepat_guna/reaktor-microchannel-reaktor-apa-ini/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1679&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 06:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[plastic]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan itu memang perlu dan ada baiknya perubahan dimulai dari diri kita masing-masing karena pengelolaan sampah tidak lepas dari 'pengelolaan' gaya hidup masyarakat. Apalagi kita sebagai insan akademis sudah seharusnya peduli pada isu lingkungan yang satu ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1297" class="wp-caption alignleft" style="width: 328px"><img class="size-full wp-image-1297" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/recycleplastic.jpg" alt="Tempat sampah plastik daur ulang (recycle bin for plastic waste)" width="318" height="212" /><p class="wp-caption-text">Tempat sampah plastik daur ulang (recycle bin for plastic waste)</p></div>
<p>Potensi limbah plastik sebagai bahan komoditas mulai disadari para perlaku bisnis di Indonesia. Terbukti dengan munculnya industri-industri daur ulang plastik di Jakarta bahkan di Kalimantan. Tidak hanya membawa dampak positif bagi lingkungan, daur ulang plastik juga dapat membuka lapangan kerja baru, seperti tenaga sortir plastik, tenaga giling, tenaga pengepakan sampai staf administrasi dan keuangan.</p>
<p>Hanya saja industri ini sering terbentur kendala bahan baku akibat belum adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengikut sertakan masyarakat sebagai konsumen untuk ikut berperan dalam daur ulang sampah. Pembuangan sampah yang tercampur seperti yang berlaku di Indonesia saat ini dapat merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi bahan-bahan yang mungkin masih bisa didaur ulang.</p>
<p>Sudah saatnya kita mulai mengikuti jejak negara-negara maju dalam hal pengelolaan  sampah. Sebut saja Jepang. Daur ulang di Jepang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh masyarakat, lengkap dengan undang-undang. Para konsumen bertanggung jawab untuk memilah-milah sampah masing-masing (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas, sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab mengorganisir sampah-sampah  itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang.</p>
<p>Perubahan itu memang perlu dan ada baiknya perubahan dimulai dari diri kita masing-masing karena pengelolaan sampah tidak lepas dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Apalagi kita sebagai insan akademis sudah seharusnya peduli pada isu lingkungan yang satu ini. Tips-tips berikut ini dapat diterapkan untuk meningkatkan jumlah sampah plastik yang di daur ulang dan juga mengurangi jumlah sampah plastik perumahan.</p>
<ol>
<li><strong>Cari tahu jenis-jenis plastik yang dapat didaur ulang</strong>. Sebagian besar industri daur ulang plastik hanya menerima botol plastik yang terbuat dari PET (#1) dan HDPE (#2) dan memang sebagian besar kemasan plastik (terutama botol plastik) termasuk dalam golongan-golongan tersebut. Pengelompokan kemasan plastik berdasarkan komponen penyusunnya dapat dilihat <a href="http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/" target="_self">disini</a>.</li>
<li><strong>Kosongkan dan bilas botol plastik</strong>. Lepas tutup dan label botol karena keduanya bersifat kontaminan. Remuk botol agar lebih menghemat tempat.</li>
<li><strong>Gunakan tas plastik lebih dari sekali sebelum membuangnya</strong>. Masing-masing jenis tas plastik dapat digunakan kembali untuk hal yang berbeda-beda. Contohnya adalah sebagai pelapis tempat sampah yang sering dipraktekkan oleh ibu rumah tangga.</li>
<li> <strong>Pastikan tas plastik kosong dan bersih</strong>. Hal ini penting karena struk belanja dan bahan lain dapat mengkontaminasi plastik saat di daur ulang. Semua tas plastik bersih berlabel #2 (HDPE) atau #4 (LLDPE) dapat didaur ulang. Tas plastik yang terkena kontak langsung dengan makanan sebaiknya dipisahkan dari plastik yang akan di daur ulang.</li>
<li><strong>Kembalikan kemasan plastik untuk di daur ulang</strong>. Beberapa toko dan retailer mengadakan program yang menyarankan <em>customer</em>-nya untuk mengembalikan kemasan plastiknya untuk didaur ulang dengan imbalan tertentu.</li>
<li><strong>Biasakan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan dan pastikan kemasannya dapat didaur ulang</strong>. Apabila membeli keperluan sehari-hari dan rumah tangga, belilah dalam kemasan yang lebih besar untuk meminimalisir jumlah kemasan.</li>
<li><strong>Bawalah tas belanja sendiri saat berbelanja ke supermarket</strong>. Gunakan saja tas-tas plastik yang didapat dari belanja sebelumnya.</li>
<li><strong>Belilah produk-produk yang lebih tahan lama</strong> untuk mengurangi frekuensi membuang kemasan. Misalnya membeli shampo atau deterjen dengan konsentrasi yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p>Memang hal-hal diatas tampak remeh dan merepotkan. Tetapi bayangkan jika kita semua melakukannya pasti akan menimbulkan dampak yang besar. Karena itu ajaklah kerabat dan teman-teman dekat Anda untuk ikut berperan aktif dalam melindungi lingkungan hidup kita.</p>
<p>Gambar: <a href="www.uppergwynedd.org/images/RecyclePlastic.jpg" target="_blank">www.uppergwynedd.org/images/RecyclePlastic.jpg</a></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1296&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (2)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 05:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[recycling]]></category>
		<category><![CDATA[tetrapack]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1307</guid>
		<description><![CDATA[Sampah kemasan aseptik memang unik; komposisi kertas (karton) yang mencapai 80% menyebabkan sampah ini sering dianggap sebagai organik. Namun, 20% sisanya merupakan bahan non-organik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Lantas bagaimana sebaiknya sampah kemasan aseptik ini diolah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>« Sambungan dari <a href="http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-1/">Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (1) </a></p>
<h3><strong>Bagaimana pengolahan sampah kemasan aseptik yang sebaiknya dilakukan?</strong></h3>
<p>Sampah kemasan aseptik memang unik karena tidak dapat dikelompokkan menjadi sampah organik ataupun sampah non-organik. Komposisi kertas (karton) yang mencapai 80% menyebabkan sampah ini sering dianggap sebagai organik. Namun, 20% sisanya merupakan bahan non-organik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus untuk sampah kemasan aseptik tersebut.</p>
<div id="attachment_1306" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1306" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/kertas-300x225.jpg" alt="kertas daur ulang dari sampah kemasan aseptik" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Kertas daur ulang dari sampah kemasan aseptik.</p></div>
<h3><strong>Proses Pemisahan Komponen Organik dan Non-Organik</strong></h3>
<p>Penanganan khusus tersebut dimulai dengan proses pemisahan antara sampah organik (kertas/karton) dengan sampah anorganik (alumunium dan polietilen). Lapisan-lapisan ini dapat dipisahkan secara sederhana menggunakan tangki yang didesain khusus agar pada keluaran tangki dihasilkan bubur kertas dan lapisan aluminium-polietilen. Proses fisik yang digunakan pada tangki adalah pengadukan sederhana, dengan memanfaatkan bafel-bafel yang dipasang di bagian dalam tangki dan air panas yang digunakan sebagai pelarut. Proses ini digunakan agar tidak diperlukan pemisahan komponen sampah kemasan aseptik secara manual.<br />
Setelah terpisah, bubur kertas yang dihasilkan diolah menjadi kertas daur ulang yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kertas seni. Kemudian Alumunium dan Polietilen dapat diolah secara terpadu (campuran Al-PE) maupun diolah secara terpisah.</p>
<div id="attachment_1308" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1308" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/11072008122-300x225.jpg" alt="Komposit Al-PE" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Komposit Al-PE</p></div>
<h3><strong>Metode Hot Pressing</strong></h3>
<p>Dalam bentuk terpadu, campuran Al-PE dapat diolah menjadi komposit dengan metode hot pressing. Tiga langkah penting dalam metode ini adalah pencacahan, pemanasan, dan pencetakan. Pencacahan lapisan aluminium-polietilen dilakukan untuk membuat bahan komposit menjadi homogen. Selain itu, pencacahan memudahkan dalam pemanasan, pelelehan polietilen lebih mudah dan cepat terjadi jika pencacahan lapisan tersebut dilakukan terlebih dahulu. Pemanasan aluminium-polietilen akan mempermudah proses pencetakan produk. Setelah proses pemanasan, aluminium-polietilen yang telah tercacah hancur dan panas secara bersamaan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang diberi tekanan hidraulik, yang dioperasikan secara mekanik. Besar tekanan harus maksimal agar menghasilkan produk dengan karakteristik yang terbaik.</p>
<h3><strong>Alat Pemroses Terintegrasi</strong></h3>
<div id="attachment_1310" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1310" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/alat-300x200.jpg" alt="alat pemroses terintegrasi" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Alat Pemroses Terintegrasi</p></div>
<p>Pada tahun 2008 kemarin, sekelompok mahasiswa S1 Teknik Kimia ITB, berhasil merepresentasikan ketiga langkah pengolahan tersebut menjadi sebuah alat terintegrasi. Alat terintegrasi ini masih dibuat untuk skala laboratorium. Alat terintegrasi ini terdiri dari:</p>
<ol>
<li> <strong>Extruder</strong>. Komponen ini digunakan untuk memasukkan bahan baku berupa lapisan aluminium-polietilen dari sampah kemasan aseptik dan sekaligus untuk mencacahnya. Sebenarnya alat ini adalah alat pencacah daging, tetapi mereka melihat suatu potensi bahwa alat ini dapat menjadi alat pencacah sampah sekaligus menjadi alat pendorong sampah yang masuk dari extruder hingga ke pencetakan. Sehingga, extruder ini menjadi suatu alat yang sangat berguna jika kita ingin melangsungkan proses secara berkelanjutan.</li>
<li><strong>Elemen pemanas (Termokopel).</strong> Komponen ini digunakan untuk memanaskan sampah, sebagai bahan baku, yang akan dicetak. Elemen pemanas dipasang secara melingkar di bagian tengah hingga ujung extruder (dekat alat pencetak).</li>
<li><strong>Termo control.</strong> Komponen ini digunakan untuk mengatur dan memantau suhu pemanasan bahan baku yang akan dicetak. Termo control ini menggunakan termokopel sebagai sensor panasnya. Termo control diletakkan di ujung extruder yang sangat dekat dengan alat pencetak. Hal ini dimaksudkan agar bahan baku yang masuk ke pencetakan dipastikan telah memiliki suhu sesuai dengan yang dikehendaki.</li>
<li><strong>Pencetak.</strong> Komponen ini digunakan untuk mencetak bahan baku, yang telah melalui proses pemanasan, sehingga memiliki bentuk yang dikehendaki untuk kepentingan uji kekuatannya. Pencetak dipasang di bagian ujung extruder sehingga bahan baku yang telah dipanaskan tercetak di luar extruder.</li>
</ol>
<blockquote><p>Referensi:<br />
1. <em>Makalah Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional 2008</em>, Nazrul Munir, dkk.<br />
2. Zuben, F. dan Neves, F.L. (2004), <em>Recycling Of Aluminum And Polyethylene Present In Tetra Pak Packages</em>.<br />
3. <a href="http://www.wikipedia.com">http://www.wikipedia.com</a><br />
4. <a href="http://www.freepatentsonline.com">http://www.freepatentsonline.com</a><br />
5. <a href="http://www.tetrapak.com">http://www.tetrapak.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1307&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simbol Daur Ulang pada Botol dan Kemasan Plastik</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 02:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[polymer]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Instansi penyedia jasa daur ulang memiliki standar yang bervariasi. Sistem kode identifikasi resin diperkenalkan pada tahun 1988 oleh The Society of the Plastics Industry, Inc. (SPI). Sistem ini mengelompokkan plastik yang biasa ditemukan pada limbah rumah tangga berdasarkan kandungan resinnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1198" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1198" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/7280217_119ca49ad7.jpg" alt="Simbol daur ulang yang tertera di dasar botol plastik air mineral" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Simbol daur ulang yang tertera di dasar botol plastik air mineral</p></div>
<p>Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak pernah jauh dari kemasan plastik, baik berupa botol maupun tas. Selain itu limbah plastic tidak dapat tergradasi dengan mudah. Sangatlah wajar jika suatu saat bumi kita ini tidak mampu lagi untuk menampung limbah plastik yang hari demi hari jumlahnya semakin bertambah. Salah satu jalan keluar yang telah banyak diimplementasikan oleh sejumlah besar komunitas di dunia adalah daur ulang (<em>recycle</em>).</p>
<p>Jika diperhatikan pada permukaan dasar botol plastik, Anda akan menyadari bahwa hampir di setiap kemasan plastik tersebut terdapat sebuah simbol tiga panah yang membentuk segitiga. Terlepas dari ada atau tidaknya simbol tersebut, pada kenyataanya sebagian besar plastik dapat didaur ulang. Jadi simbol itu sebenarnya untuk apa?</p>
<p>Bagian yang terpenting justru bukan tiga buah panah itu tetapi justru angka kecil yang ada ditengah-tengah ketiga panah tersebut. Angka-angka tersebut lebih dikenal sebagai sistem kode identifikasi resin dan diperkenalkan pada tahun 1988 oleh <em>The Society of the Plastics Industry, Inc. (SPI)</em>. Sistem kode resin ini mengelompokkan botol dan kemasan plastik yang biasa ditemukan pada limbah rumah tangga berdasarkan kandungan resinnya. Sistem kode ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para penyedia jasa daur ulang dan memberikan kekonsitenan dan keseragaman sistem pada manufaktur plastik yang dapat diterapkan secara internasional.</p>
<p>Instansi penyedia jasa daur ulang tidak begitu saja menerima limbah plasti untuk didaur ulang. Mereka memiliki standar yang bervariasi. Sebagai contoh, sebuah instansi membutuhkan plastik-plastik tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis dan dipisahkan dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; instansi yang lain menerima plastik tetapi tetap terpisah dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; sedangkan instansi yang lainnya tidak memiliki masalah menerima plastik dalam keadaan tercampur dengan bahan-bahan lain.</p>
<p>Dan kita sebagai pengguna/pemakai barang plastik sepatutnya mengenal kode-kode ini,k arena ada kalanya barang plastik tersebut tidak cocok bahkan di boleh digunakan untuk hal-hal tertentu. Berikut ini adalah berbagai kode resin yang dan deskripsinya:</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<th style="text-align: center;" width="101"><strong>RESIN CODE</strong></th>
<th style="text-align: center;"><strong>CHARACTERISTICS AND EXAMPLES</strong></th>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-1-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-1-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polyethylene Terephthalate (PET, PETE)</strong></p>
<p>PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya dipergunakan sebagai botol minuman (air mineral, jus, soft drink, minuman olah raga) tetapi tidak untuk air hangat atau panas. Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihkan dan didaur ulang dapat digunakan untuk membuat serat benang karpet, <em>fiberfill,</em> dan <em>geotextile</em>. Nickname: Polyester.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1190" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-2-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-2-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>High Density Polyethylene (HDPE)</strong>.</p>
<p>HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai macam tipe botol. Botol-botol yang tidak diberi pigmen bersifat tembus cahaya, kaku, dan cocok untuk mengemas produk yang memiliki umur pendek seperti susu. Karena HDPE memiliki ketahan kimiawi yang bagus, plastik tipe ini dapat digunakan untuk mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur ulangnya dapat digunakan sebagai kemasan produk non-pangan seperti shampo, kondisioner, pipa, ember, dll.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1191" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-3-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-3-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polyvinyl Chloride (PVC)</strong></p>
<p>Memiliki karakter fisik yang stabil dan tahan terhadap bahan kimia, pengaruh cuaca, aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini paling sulit untuk didaur ulang dan biasa digunakan untuk pipa dan kontruksi bangunan.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1192" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-4-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-4-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Low Density Polyethylene (LDPE)</strong></p>
<p>Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek (madu, mustard). Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan kode inibisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1193" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-5-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-5-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polypropylene (PP)</strong></p>
<p><strong></strong>PP memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia, kuat, dan meiliki titik leleh yang tinggi sehingga cocok untuk produk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, tempat obat dan botol minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang menjadi casing baterai, sapu, sikat, dll.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-6-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-6-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polystyrene (PS)</strong></p>
<p>PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, tempat CD, karton tempat telor, dll. Pemakaian bahan ini sangat dihindari untuk mengemas makanan karena bahan styrine dapat masuk ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf manusia. Bahan ini dibanyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara cina.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-7-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-7-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Other</strong></p>
<p>Plastik yang menggunakan kode ini terbuat dari resin yang tidak termasuk enam golongan yang lainnya, atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan digunakan dalam kombinasi multi-layer.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Sumber:</em><a href="http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321" target="_blank"></a><br />
<a href="http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321" target="_blank">http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321</a><br />
<a href="http://www.americanchemistry.com/s_plastics/bin.asp?CID=1102&amp;DID=4645&amp;DOC=FILE.PDF" target="_blank">http://www.americanchemistry.com/s_plastics/bin.asp?CID=1102&amp;DID=4645&amp;DOC=FILE.PDF</a></p>
<p><em>Gambar:</em><br />
Flickr &#8211; <a href="http://farm1.static.flickr.com/5/7280217_119ca49ad7.jpg" target="_blank">http://farm1.static.flickr.com/5/7280217_119ca49ad7.jpg</a></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1188&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>22</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembangkitan Listrik Biomassa dengan Mesin Kalor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[Sampah perkotaan dan limbah pertanian dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_860" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-860" title="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/listrikthumb.jpg" alt="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia</p></div>
<p>Indonesia memiliki beribu-ribu pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan terpisah oleh lautan luas. Karena bentuk kepulauan ini, sulit menemukan cara yang ekonomis untuk mentrasmisikan dan mendistribusikan listrik dari satu pulau ke pulau yang lain. Hingga saat ini <em>national interconnection</em> hanya mungkin diterapkan di pulau-pulau besar dan sejumlah pulau-pulau relatif kecil di dekatnya. Sejumlah besar pulau harus bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan listriknya sendiri (<em>self-sufficient</em>).</p>
<p>Walaupun demikian, bentuk kepuluan ini juga memberikan biodiversitas yang sangat dahsyat dan memastikan tersedianya sumber biomassa di Indonesia. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia. Selain itu, produksi bahan bakar dan listrik biomassa akan mengeksploitasi sumber daya lokal sehingga meningkatkan pendapatan penduduk setempat. Produk-produk limbah dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat menghasilkan energi biomassa. Selain limbah pertanian, sampah perkotaan juga dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar.</p>
<p>Pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi berbasis biomassa salah satunya adalah pembangkitan listrik berprinsip mesin kalor (<em>heat engine</em>). Mesin kalor siklus Stirling menggunakan pembakaran eksternal, sedangkan mesin pembakaran internal menggunakan siklus Otto dan siklus Diesel. Khusus untuk turbin gas yang menggunakan siklus Brayton, pembakaran dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.</p>
<h3>SIklus Stirling, Otto, dan Diesel</h3>
<p>Mesin bersiklus Stirling adalah jenis mesin yang memiliki sumber energi dari luar sistem mesin itu sendiri; atau kita biasa sebut dengan mesin bakar luar. Mesin besiklus Stirling banyak diteliti dan dianggap menjanjikan karena secara teori memiliki efisiensi yang tinggi, sampai efisiensi maksimal mesin Carnot. Akan tetapi, mesin siklus Stirling komersial yang ada masih memiliki daya rendah (0,5-150 kW) dan berefisiensi sedang, masih mahal, tetapi tak memerlukan banyak pemeliharaan, toleran terhadap kontaminan, dan beremisi polutan rendah.</p>
<p>Mesin siklus Stirling tidak terpatok pada satu macam bahan bakar atau sumber energi. Hal ini tidak berlaku untuk mesin diesel dan mesin Otto yang membutuhkan bahan bakar khusus dan kapasitasnya terbatas. Mesin Otto atau sering juga disebut mesin bensin. Tipe paling umum dari mesin ini adalah mesin pembakaran empat langkah yang membakar bensin. Berbeda dengan mesin Otto, pembakaran dilakukan dengan memberikan kompresi hingga tekanannya tinggi.</p>
<h3>Turbin Gas: Siklus Brayton</h3>
<div id="attachment_896" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-896" title="Turbin Gas: Kukus" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/turbingas-kukus1.jpg" alt="Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus" width="550" height="351" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus</p></div>
<p>Siklus ini merupakan siklus daya termodinamika ideal untuk turbin gas, sehingga saat ini siklus ini yang sangat populer digunakan oleh pembuat mesin turbin (<em>manufacturer</em>) dalam analisa <em>performance upgrading</em>. Siklus ini memproduksi tenaga listrik dengan mengekspansikan gas panas melalui turbin. Efisiensinya dapat mencapai 30%. Turbin gas cocok untuk bahan bakar cair maupun gas yang relatif bebas dari kontaminan dan tidak cocok untuk gas hasil bakar biomassa tanpa pembersihan. Karena itu sebelum biogas akan dijadikan bahan bakar, H<sub>2</sub>S yang terkandung di dalamnya harus disingkirkan terlebih dahulu.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong><br />
Teknologi Kemurgi &#8211; Dr. Ir. Tatang H. Soerawidjaja</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=859&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sulphur Oxide from Coal</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 18:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[When coal burns, it gives off great quantities of heat energy and smoke. Smoke stacks emit so much smoke into the atmosphere that gases in the smoke are changing the very nature of clouds causing a corrosive form of precipitation known as acid rain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>To generate the energy needed in industrialized societies, vast amounts of coal have been burnt. When coal burns, it gives off great quantities of heat energy and smoke. Smoke stacks emit so much smoke into the atmosphere that gases in the smoke are changing the very nature of clouds causing a corrosive form of precipitation known as acid rain.</p>
<p>Sulphur dioxide from burning fossil fuels and nitrogen oxide from automobile exhaust fumes react with the water vapor in the atmosphere producing acidic vapors that mix with the clouds. When the wind blows, these acid bearing clouds maybe move hundred of kilometers away from the source of the pollutants. The acid rain that results is damaging to water, forest, and soil resources and can corrode metals and the surfaces of buildings. </p>
<p>One way to address the problem of acid rain is to stop burning high sulphur coal. Coal with less sulphur releases less sulphur dioxide. Another solution is to equip coal burning power plants with scrubber technology. Scrubbers are placed in the smoke stacks and force the sulphurine smoke over suspended alkali particles such as lime. The sulphur oxide reacts with these particles to form an ash that can be removed from the stack as a slurry or powder. Scrubbers can remove up to 95% of sulphur oxide from smoke before it reaches the air.</p>
<blockquote><p><i>This video is co-provided by YouTube. If you experience errors playing the video, check you Internet connection. The video needs a high speed DSL/Broadband connection. To avoid lag times when playing the video, click the play button and let your Internet browser cache the video. Re-play after the video has been cached completely.</i></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=395&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Abu Terbang Batubara Sebagai Adsorben</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/abu-terbang-batubara-sebagai-adsorben/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/abu-terbang-batubara-sebagai-adsorben/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 10:00:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Marinda Putri</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=385</guid>
		<description><![CDATA[Abu terbang batubara (fly ash) umumnya dibuang di landfill atau ditumpuk di dalam area industri. Untuk meningkatkan nilai gunanya, dapat dimanfaatkan menjadi adsorben pengolahan limbah gas (sulfur oksida, nitrogen oksida, dan merkuri) serta limbah cair.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner"style="width:302px;"><a href='http://www.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/california_academy_of_scien.jpg' title="Penggunaan abu terbang batubara sebagai campuran beton untuk bangunan California Academy of Science." class="thickbox"><img src="http://www.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/california_academy_of_scien-300x199.jpg" alt="" title="california_academy_of_scien" width="300" height="199" class="thumbimage" /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Penggunaan abu terbang batubara sebagai campuran beton untuk bangunan California Academy of Science.</span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Produksi abu terbang batubara (<em>fly ash</em>) didunia pada tahun 2000 diperkirakan berjumlah 349 milyar ton<sup>[1]</sup>. Penyumbang produksi abu terbang batubara terbesar adalah sektor pembangkit listrik. Produksi abu terbang dari pembangkit listrik di Indonesia terus meningkat, pada tahun 2000 jumlahnya mencapai 1,66 milyar ton dan diperkirakan mencapai 2 milyar ton pada tahun 2006<sup>[2]</sup>. </p>
<p>Abu terbang batubara umumnya dibuang di <em>landfill </em>atau ditumpuk begitu saja di dalam area industri. Penumpukkan abu terbang batubara ini menimbulkan masalah bagi lingkungan. Berbagai penelitian mengenai pemanfaatan abu terbang batubara sedang dilakukan untuk meningkatkan nilai ekonomisnya serta mengurangi dampak buruknya terhadap lingkungan. Saat ini umumnya abu terbang batubara digunakan dalam pabrik semen sebagai salah satu bahan campuran pembuat beton. Selain itu, sebenarnya abu terbang batubara memiliki berbagai kegunaan yang amat beragam:</p>
<ol>
<li>Penyusun beton untuk jalan dan bendungan</li>
<li>Penimbun lahan bekas pertambangan</li>
<li>Recovery magnetit, cenosphere, dan karbon</li>
<li>Bahan baku keramik, gelas, batu bata, dan refraktori</li>
<li>Bahan penggosok (polisher)</li>
<li>Filler aspal, plastik, dan kertas</li>
<li>Pengganti dan bahan baku semen</li>
<li>Aditif dalam pengolahan limbah (<em>waste stabilization</em>)</li>
<li>Konversi menjadi zeolit dan adsorben</li>
</ol>
<p>Konversi abu terbang batubara menjadi zeolit dan adsorben merupakan contoh pemanfaatan efektif dari abu terbang batubara. Keuntungan adsorben berbahan baku abu terbang batubara adalah biayanya murah. Selain itu, adsorben ini dapat digunakan baik untuk pengolahan limbah gas maupun limbah cair. Adsorben ini dapat digunakan dalam penyisihan logam berat dan senyawa organik pada pengolahan limbah. Abu terbang batubara dapat dipakai secara langsung sebagai adsorben atau dapat juga melalui perlakuan kimia dan fisik tertentu sebelum menjadi adsorben. Zeolit yang disintesis dari abu terbang batubara banyak digunakan untuk keperluan pertanian. Zeolit banyak dikonsumsi dalam pemurnian air, pengolahan tanah, dll. Zeolit dibuat dengan cara mengkonversi aluminosilikat yang terdapat pada abu terbang batubara menjadi kristal zeolit melalui reaksi hidrotermal.</p>
<h3>Sifat Fisika dan Kimia Abu Terbang</h3>
<p>Komponen utama dari abu terbang batubara yang berasal dari pembangkit listrik adalah silika (SiO<sub>2</sub>), alumina, (Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub>), dan besi oksida (Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub>), sisanya adalah karbon, kalsium, magnesium, dan belerang. Rumus empiris abu terbang batubara ialah: Si<sub>1.0</sub>Al<sub>0.45</sub>Ca<sub>0.51</sub>Na<sub>0.047</sub>Fe<sub>0.039</sub>Mg<sub>0.020</sub>K<sub>0.013</sub>Ti<sub>0.011</sub></p>
<style>
td { text-align:center; }
</style>
<div style="padding-left:10px;width:250px;font-size:0.9em;float:right;">
<center><strong>Tabel 1.</strong> Komposisi kimia abu terbang batubara</center></p>
<table>
<tr>
<th>Komponen</th>
<th>Bituminous</th>
<th>Sub-<br/>bituminous</th>
<th>Lignite</th>
</tr>
<tr>
<td>SiO<sub>2</sub></td>
<td>20-60%</td>
<td>40-60%</td>
<td>15-45%</td>
</tr>
<tr>
<td>Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub></td>
<td>5-35%</td>
<td>20-30%</td>
<td>10-25%</td>
</tr>
<tr>
<td>Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub></td>
<td>10-40%</td>
<td>4-10%</td>
<td>4-15%</td>
</tr>
<tr>
<td>CaO</td>
<td>1-12%</td>
<td>5-30%</td>
<td>15-40%</td>
</tr>
<tr>
<td>MgO</td>
<td>0-5%</td>
<td>1-6%</td>
<td>3-10%</td>
</tr>
<tr>
<td>SO<sub>3</sub></td>
<td>0-4%</td>
<td>0-2%</td>
<td>0-10%</td>
</tr>
<tr>
<td>Na<sub>2</sub>O</td>
<td>0-4%</td>
<td>0-2%</td>
<td>0-6%</td>
</tr>
<tr>
<td>K<sub>2</sub>O</td>
<td>0-3%</td>
<td>0-4%</td>
<td>0-4%</td>
</tr>
<tr>
<td>LOI</td>
<td>0-15%</td>
<td>0-3%</td>
<td>0-5%</td>
</tr>
</table>
</div>
<p>Sifat kimia dari abu terbang batubara dipengaruhi oleh jenis batubara yang dibakar dan teknik penyimpanan serta penanganannya. Pembakaran batubara lignit dan sub-bituminous menghasilkan abu terbang dengan kalsium dan magnesium oksida lebih banyak daripada bituminus. Namun, memiliki kandungan silika, alumina, dan karbon yang lebih sedikit daripada bituminous. Kandungan karbon dalam abu terbang diukur dengan menggunakan <em>Loss On Ignition Method</em> (LOI). </p>
<p>Abu terbang batubara terdiri dari butiran halus yang umumnya berbentuk bola padat atau berongga. Ukuran partikel abu terbang hasil pembakaran batubara bituminous lebih kecil dari 0,075mm<sup>[4]</sup>. Kerapatan abu terbang berkisar antara 2100 sampai 3000 kg/m<sup>3</sup> dan luas area spesifiknya (diukur berdasarkan metode permeabilitas udara <em>Blaine</em>) antara 170 sampai 1000 m<sup>2</sup>/kg<sup>[4]</sup>.</p>
<h3>Adsorben untuk Penyisihan Polutan pada Gas Buang</h3>
<p>Abu terbang dapat dimanfaatkan sebagai adsorben untuk penyisihan polutan pada gas buang prose pembakaran yang berpotensi untuk merusak lingkungan seperti gas sulfur oksida yang menyebabkan hujam asam, gas nitrogen oksida yang menyebabkan pemanasan global, dan merkuri (Hg) yang berbahaya bagi makhluk hidup.</p>
<ol>
<li><strong>Penyisihan SO<sub>x</sub></strong><br />
Industri-industri berusaha untuk mengurangi emisi SO<sub>x</sub> dengan cara memasang unit <em>flue gas desulphurization (FGD)</em> dan unit <em>scrubber</em>. Dua unit tersebut banyak digunakan karena memiliki efisiensi yang tinggi terhadap proses <em>de-SO<sub>x</sub></em>. Namun, dua unit tersebut membutuhkan air dalam jumlah yang besar dan akibatnya menghasilkan limbah cair yang banyak. FGD tipe kering tidak membutuhkan pengolahan limbah cair tetapi tipe ini membutuhkan adsorben dalam jumlah besar untuk mencapai efisiensi <em>de-SO<sub>x</sub></em>yang tinggi. Abu terbang batubara lebih dipilih untuk digunakan sebagai adsorben pada FGD tipe kering dalam skala besar dibandingkan karbon aktif karena biayanya lebih murah. Dua tipe abu terbang batubara yang berasal dari <em>fluidized bed combustion (FBC)</em> dan <em>pulverized coal combustion (PCC)</em> telah diuji coba untuk menyisihkan SO<sub>2</sub> dengan bantuan kalsium hidroksida (CaOH<sub>2</sub>)<sup>[2]</sup>. Hasil uji coba tersebut adalah konversi CaO menjadi CaSO4 mencapai 92-100% dalam pereaksian selama 1 jam.</li>
<li><strong>Penyisihan NOx</strong><br />
Abu terbang batubara juga memiliki potensi sebagai adsorben untuk menyisihkan NO<sub>x</sub> dari aliran gas buang. Emisi NO<sub>x</sub> diserap oleh karbon tidak terbakar yang terdapat di dalam abu terbang batubara. Partikel karbon tersebut dapat juga diaktivasi untuk meningkatkan kinerja penyerapan NO<sub>x</sub>. Penelitian yang dilakukan oleh Rubel et al menunjukkan bahwa perbandingan kapasitas penyerapan NO<sub>x</sub> karbon dari abu terbang batubara yang diaktivasi dengan karbon aktif komersial adalah 1/3<sup>[1]</sup>.</li>
<li><strong>Penyisihan merkuri (Hg)</strong><br />
Emisi merkuri yang dihasilkan dari pembakaran batubara pada unit <em>boiler </em>mendapat perhatian yang besar dari pemerhati lingkungan karena berpotensi merusak lingkungan dan menjadi ancaman bagi kesehatan makhluk hidup. Abu terbang batubara dapat dijadikan salah satu adsorben untuk mengontrol emisi merkuri dengan bantuan filter dari bahan kain misalnya dengan memakai <em>baghouse filter</em>. Peneliti <em>Serre </em>dan <em>Silcox </em>menyatakan bahwa karbon yang tidak terbakar di dalam abu terbang batubara dapat digunakan sebagai substitusi karbon aktif yang murah dan efektif. Abu terbang batubara dapat diinjeksikan secara berkala di dalam <em>baghouse filter</em> yang digunakan untuk menyisihkan merkuri. Luas permukaan dan struktur abu terbang batubara yang berpori merupakan dua hal yang menyebabkan abu terbang batubara berpotensi untuk menyerap emisi merkuri.</li>
<li><strong>Penyisihan gas-gas organik</strong><br />
Selain dapat digunakan untuk menyisihkan tiga polutan diatas, abu terbang batubara juga dapat digunakan untuk menyisihkan gas organik. Penelitian yang dilakukan oleh <em>Peloso</em>, menunjukkan bahwa abu terbang batubara yang telah melewati proses aktivasi secara termal dapat menyisihkan uap toluene.</li>
</ol>
<h3>Adsorben untuk Penyisihan Ion Logam Berat pada Limbah Cair</h3>
<p>Logam berat adalah polutan yang memberikan dampak signifikan bagi kesehatan makhluk hidup. Proses penghilangan logam berat dari limbah cair sudah dilakukan dengan beberapa cara seperti, presipitasi menggunakan bahan kimia, ekstraksi menggunakan pelarut tertentu, pertukaran ion, reverse osmosis, atau adsorpsi. Proses adsorpsi dengan pilihan jenis adsorben yang tepat jika dibandingkan dengan proses lainnya merupakan proses yang sederhana tapi efektif dalam penghilangan logam berat dari limbah cair.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:252px;">
<img src="http://www.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/fly_ash_sem1.jpg" alt="" title="fly_ash_sem1" width="250" class="thumbimage" /><br />
<img src="http://www.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/fly_ash_sem_2.jpg" alt="" title="fly_ash_sem_2" width="250" class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Scanning Electron Microscopy</strong> abu terbang batubara.</div>
</div>
</div>
<p>Logam berat utama yang diteliti untuk diserap oleh abu terbang batubara adalah Pb, Ni, Cr, Cu, Cd, dan Hg. Penghilangan logam berat dari limbah cair melibatkan dua proses yaitu presipitasi dan adsorpsi. Proses presipitasi melibatkan kalsium hidroksida sedangkan proses adsorpsi melibatkan silika alumina. Kedua senyawa tersebut terkandung di dalam abu terbang batubara.</p>
<p>Peneliti bernama <em>Bayat </em>meneliti penghilangan logam Zn<sup>2+</sup>, Cd<sup>2+</sup>, Ni<sup>2+</sup>, Cu<sup>2+</sup>, dan Cr<sup>6+</sup> menggunakan abu terbang batubara yang berasal dari batubara jenis lignit. Selain itu, <em>Bayat </em>juga membandingkannya hasil penghilangan logam berat tersebut dengan karbon aktif komersial. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan bahwa abu terbang batubara dapat menghilangkan logam berat seefektif karbon aktif pada kondisi tertentu. Proses adsorpsi maksimum terjadi pada kondisi pH 7-7.5<sup>[5]</sup>.</p>
<p>Abu terbang batubara juga merupakan adsorben yang baik untuk menghilangkan Cs. Abu terbang batubara juga dikonversi menjadi zeolit melalui proses hidrotermal dan digunakan untuk menghilangkan logam Cs, timbal, dan kadmium. Kapasitas adsorpsi zeolit abu terbang batubara untuk timbal sebesar 70.58 mg/g dan 95.6 mg/g untuk kadmium dengan konsentrasi awal kedua logam sebesar 100 mg/L. </p>
<h3>Konversi Abu Terbang Batubara Menjadi Zeolit</h3>
<p>Zeolit pada dasarnya merupakan padatan aluminium-silikat yang memiliki struktur yang berpori. Zeolit alam biasanya terbentuk dari batu dan abu gunung berapi yang beraksi dengan logam alkali tanah pada air tanah. Zeolit murni hampir tidak dapat ditemukan di alam. Biasanya terdapat pengotor seperti logam natrium dan kalsium. Abu terbang batubara memiliki potensi dikonversi menjadi zeolit jika memiliki kandungan alumina-silika yang cukup tinggi dan kandungan karbon yang rendah. Zeolit memiliki beberapa aplikasi industrial yaitu<sup>[6]</sup>:</p>
<ul>
<li>Pertukaran ion : Penukar ion Na<sup>+</sup>/K<sup>+</sup>/Ca<sup>2+</sup></li>
<li>Adsorpsi pengotor gas : Adsorpsi selektif berdasarkan molekul gas spesifik</li>
<li>Adsorpsi pengotor air : Adsorpsi reversibel air tanpa ada perubahan sifat fisik dan kimia dari zeolit itu sendiri</li>
</ul>
<p>Jenis zeolit yang dihasilkan dari abu terbang bergantung pada komposisi awal dan metode konversinya.  Metode yang umum digunakan adalah hydrothermal alkali treatment yaitu memanaskan campuran abu terbang dengan larutan alkali (KOH, NaOH, dsb.) dalam variasi waktu reaksi, suhu, dan tekanan tertentu<sup>[6]</sup>.</p>
<h3>Tantangan Masa Depan</h3>
<p>Abu terbang pada masa kini dipandang sebagai limbah pembakaran batubara. Penanganan abu terbang masih terbatas pada penimbunan di lahan kosong. Hal ini berpotensi bahaya bagi lingkungan dan masyarakat sekitar seperti, logam-logam dalam abu terbang terekstrak dan terbawa ke perairan, abu terbang tertiup angin sehingga mengganggu pernafasan. Sudut pandang terhadap abu terbang harus dirubah, abu terbang adalah bahan baku potensial yang dapat digunakan sebagai adsorben murah. Beberapa investigasi menyimpulkan bahwa abu terbang memiliki kapasitas adsorpsi yang baik untuk menyerap gas organik, ion logam berat, gas polutan. Modifikasi sifat fisik dan kimia perlu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adsorpsi.</p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;">
<img src="http://www.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/fly_ash.jpg" alt="" title="Fly ash" width="200" height="210" class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Abu terbang (<em>fly ash</em>) batubara.</div>
</div>
</div>
<p>Berdasarkan paparan diatas sudah terbukti bahwa abu terbang batubara memiliki potensi yang besar sebagai adsorben yang ramah lingkungan. Abu terbang batubara dapat menjadi alternatif pengganti karbon aktif dan zeolit. Tetapi, kapasitas adsorpsi abu terbang sangat bergantung pada asal dan perlakuan pasca pembakaran batubara. Sampai sekarang, pemanfaatan abu terbang masih dilakukan dalam skala kecil karena umumnya kapasitas adsorpsinya masih rendah. Modifikasi sifat fisik dan kimia dapat meningkatkan kapasitas adsorpsi abu terbang. Peningkatan kapasitas adsorpsi dapat membuat adsorben dari abu terbang batubara kompetitif bila dibandingkan dengan karbon aktif dan zeolit<sup>[1]</sup>.</p>
<p>Konversi abu terbang menjadi zeolit adalah salah satu alternatif yang sangat potensial meningkatkan nilai ekonomis abu terbang. Karbon sisa pembakaran dalam abu terbang memiliki kualitas setara karbon aktif sehingga investigasi mengenai pemisahan karbon sisa berpotensi meningkatkan nilai ekonomis dari abu terbang. Zeolit memiliki kegunaan yang banyak seperti adsorben, resin penukar ion, molecular sieves, dll. Zeolit memilki kapasitas adsorpsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan abu terbang sehingga konversi abu terbang menjadi zeolit menjadi alternatif yang menjanjikan dimasa depan <em>(Queroll, 2006)</em>. Penelitian di masa depan diharapkan dapat membuat konversi abu terbang menjadi zeolit komersil pada skala industri. </p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong><br />
<sup>[1]</sup> S.Wang, H. Wu , H, Journal of Hazardous Materials (2006).<br />
<sup>[2]</sup> Indonesia Power, PLTU Suralaya, (2002).<br />
<sup>[3]</sup> Putu Astari Merati, Utilization of fly ash from power plant for removal of dyes, (2006).<br />
<sup>[4]</sup> Yoga Pratama, Heri T. Putranto, Coal fly ash conversion to zeolite for removal of chromium and nickel from wastewaters, (2007).<br />
<sup>[5]</sup> B. Bayat, Journal of Hazardous Materials, Vol. 95(3)275-290,(2002).<br />
<sup>[6]</sup> X.Querol, et al, Int. J. Coal Geol. 50, 413-423, (2002).<br />
<sup>[7]</sup> D. Mohan, et al, Ind. Eng. Chem. Res. 41, 3688-3695, (2002).</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=385&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/abu-terbang-batubara-sebagai-adsorben/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertambangan Batubara: Pro dan Kontra</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 11:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Asthary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Kini Pemerintah mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/coal_fired_plant.jpg" alt="" title="coal_fired_plant" width="200" height="210" align="left" class="alignleft" />Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia (setelah Australia, 2006). Batubara yang banyak diekspor adalah batubara jenis sub-bituminus yang dapat merepresentasikan produksi batubara Indonesia. Produksi batubara Indonesia meningkat sebesar 11.1% pada tahun 2003 dan jumlah ekspor meningkat sebesar 18.3% di tahun yang sama. Sebagian besar cadangan batubara Indonesia terdapat di Sumatra bagian selatan. Kualitasnya beragam antara batubara kualitas rendah seperti lignit (59%) dan sub-bituminus (27%) serta batubara kualitas tinggi seperti bituminus dan antrasit (14%).</p>
<p>Sekitar 74% dari batubara Indonesia merupakan hasil penambangan perusahaan swasta. Satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Tambang Bukit Asam, menghasilkan sekitar 10 Mt (hanya 9% dari total produksi batubara Indonesia pada tahun 2003) dari penambangan terbuka. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti PT Adaro, PT Kaltim Prima Coal, serta PT Arutmin yang dapat memproduksi batubara hingga di atas 10 Mt pada tahun yang sama. Terlihat ironis bukan? Perusahaan penambangan batubara milik negara kalah produksi oleh perusahaan swasta.</p>
<p>Operasi penambangan batubara seringkali dituduh menyebabkan kerusakan lingkungan. Penambangan batubara diperkirakan menyebabkan kerusakan pada kurang lebih 70 ribu hektar tanah. Pada beberapa area, limbah cair dibuang pada sungai terdekat yang pada akhirnya mencemari sumber air warga sekitar. Dampak lingkungan serta permintaan akan kontribusi perusahaan pertambangan yang lebih besar kepada perkembangan masyarakat telah menyebabkan munculnya permintaan akan ditutupnya operasi penambangan batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengrusakan lingkungan oleh operasi penambangan batubara adalah dengan lebih memperketat regulasi yang berkaitan dengan penambangan batubara, disinilah peran besar pemerintah. Pemerintah merespon permasalahan ini dengan memberikan komitmen bahwa operasi penambangan batubara akan merujuk pada peraturan pemerintah mengenai keselamatan lingkungan. Sebagai contoh, pada tahun 1999 diterbitkan PP no 18 yang mengatur mengenai tata cara pemrosesan limbah berbahaya dan beracun. Peraturan ini mengharuskan perusahaan pertambangan untuk memproses limbah yang dihasilkan hingga mencapai derajat kebersihan yang sangat tinggi dengan standar kemurnian air yang 5 kali lebih ketat dibandingkan Amerika Serikat maupun Kanada. Akan tetapi, penerapan regulasi ini pada akhirnya ditunda karena pemerintah mengevaluasi ulang kemampuan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan pertambangan di Indonesia dan ternyata dibutuhkan penyesuaian. Belum lagi adanya penambangan batubara ilegal. Para penambang ilegal mengabaikan ketentuan yang berkaitan dengan lingkungan dan keselamatan serta menjual batubara dengan harga yang lebih rendah. Pemerintah diharapkan dapat mengambil sikap dan menuntut para penambang ilegal ini.</p>
<p>Pemerintah sendiri memiliki ketertarikan yang besar dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan batubara untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh batubara. Usaha untuk mengembangkan <em>Clean Coal Technology (CCT) </em>telah memasukkan kerjasama dengan pihak asing untuk mempelajari efek-efek yang mungkin muncul dari penggunaan batubara dan untuk mencari cara baru agar pembangkit listrik yang berbasis pembakaran batubara dapat memenuhi ketentuan lingkungandari segi emisi. Ini suatu itikad baik yang ditunjukkan oleh pemerintah mengingat permasalahan yang menyangkut emisi yang dihasilkan oleh batubara dapat mengurangi visibilitas digunakannya batubara sebagai sumber energi.</p>
<p>Masalah sumber energi pun sedang menjadi fokus utama pemerintah berkaitan dengan naiknya harga minyak bumi. Pada dasarnya, cadangan batubara Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan dengan cadangan minyak bumi maupun gas alam sehingga pemerintah kini mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Batubara selama ini telah digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen dan pabrik baja, apa salahnya jika batubara digunakan untuk membangkitkan listrik? Apabila hal ini dapat dilakukan, subsidi pemerintah untuk BBM dapat berkurang (saat ini subsidi memang tidak mencukupi akibat kenaikan harga minyak bumi dan peningkatan konsumsi BBM). Dalam 3 tahun mendatang diharapkan telah berdiri PLTU Batubara dengan kapasitas daya listrik yang dapat dihasilkan sebesar 10000 MW.</p>
<p>Tampaknya untuk mewujudkan hal itu, pemerintah dan industri pertambangan batubara harus bekerja lebih keras. Dengan perkiraan heating value batubara Indonesia yang berada pada kisaran 5000 sampai 7000 kal/kg, berapa banyak batubara yang harus diproduksi untuk menghasilkan listrik 10000 MW? Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?</p>
<p>Tampaknya jawaban pertanyaan di atas adalah TIDAK. Atau mungkin BELUM. Tanah yang dikeruk, polusi yang disebabkannya, serta bekas yang ditinggalkannya masih akan menjadi masalah lingkungan di kemudian hari. Mungkin saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kinerja unit-unit penanganan limbah sekaligus melakukan transfer teknologi terkait dengan keterbatasan yang kita miliki dalam teknologi penambangan, mengurangi penambang-penambang ilegal, dan secara bertahap melakukan rehabilitasi lahan pertambangan yang telah ditinggalkan. MENGAPA? Karena lebih tidak mungkin menghentikan penambangan batubara yang saat ini diharapkan bisa menjadi penyelamat bagi krisis energi yang melanda Indonesia.</p>
<p>COAL for ENERGY!!</p>
<blockquote><p>Referensi: <a href="http://www.australiancoal.com">www.australiancoal.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=373&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Human Roundup</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/human-roundup/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/human-roundup/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 16 Feb 2008 05:01:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Jodi Astorifa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/human-roundup/</guid>
		<description><![CDATA[With modern humans engaged in highly destructive behaviors towards nature, did you ever wonder what nature would do to humans if it had the chance?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/comic/Human_Roundup_600.jpg" alt="Fluoridation" /></p>
<p>Commentary by <a href="http://www.newstarget.com">Mike Adams</a>, the creator of this cartoon:</p>
<p>With modern humans engaged in highly destructive behaviors towards nature (pollution, toxic chemicals production, CO2 emissions, abuse of animals, use of Roundup herbicides, etc.), did you ever wonder what nature would do to humans if it had the chance? In this CounterThink cartoon, the trees march on human cities, spraying &#8220;Human Roundup&#8221; as workers flee the campus of Monsanto, the company that manufactures Roundup.</p>
<p>It brings to mind images from the Lord of the Rings, where the Ents, fed up with the evil mage Saruman&#8217;s reckless destruction of nature, attacked his fortress at Isengard. (Click here to read up on the Saruman saga at Wikipedia.) The Ents, led by Treebeard, hurled boulders at Saruman&#8217;s army and even unleashed a river by smashing a dam, drowning orcs in a torrent of water that only the trees could withstand due to their mass and height.</p>
<p>It was a brilliant display of evil being defeated by the forces of nature. All the weapons used by the Ents were elementals, too: the boulders were from rock, the flood was composed of water, and the trees themselves were made of wood. The symbolism in this work is very powerful, and the message remains valid even in modern times: That <strong>nature is more powerful than evil men.</strong></p>
<p>Today, as mankind continues to destroy the planet&#8217;s environment and ecosystems, some rather inconvenient natural events are about to be unleashed that will no doubt severely impact human populations. It doesn&#8217;t mean trees will uproot themselves and march upon our cities, of course. That&#8217;s just a cartoon depiction. What&#8217;s far more likely to happen is that <strong>imbalanced ecosystems will unleash famines and infectious diseases</strong> that will ultimately devastate humankind.</p>
<p>Why famines? Because radical weather patterns caused by global warming will disrupt food production, causing droughts in some areas and floods in others. As food production plummets, famine will become widespread. We are, after all, in a &#8220;food bubble&#8221; right now.</p>
<p>Why infectious disease? Because only balanced, healthy ecosystems keep infectious disease at bay. When ecosystems are disrupted, they become breeding grounds for infectious pathogens. Those pathogens spread quickly through non-natural animal production facilities (bird farms, cattle ranches, fish farming ponds, etc.), accelerating the mutation rate and greatly increasing the chance of cross-species infections that can then be spread by human-to-human contact. Bird flu, for example, remains globally uncontrolled and could mutate into a human form at any moment.</p>
<p>On top of this, our hospitals are actually breeding antibiotic-resistant superbugs through the rampant abuse of antibiotics, and our food supply has very little safety oversight (as we&#8217;ve seen with deadly bacterial contaminations of peanut butter, spinach, onions and other food items over the past two years). There&#8217;s also mad cow disease, which can easily pass to humans through beef products, and which cannot be killed by cooking the meat. And don&#8217;t forget our modern corporate-controlled agricultural practices which eliminate biodiversity and base the future of humanity on a few patented strains of food-producing crops that are practically begging to be wiped out by blight or some other crop disease.</p>
<p>Then we turn to the forces of nature. Consider these: The rising intensity of hurricanes (Katrina, anyone?), the devastating 2004 Tsunami in the Indian Ocean, the disruption of seasonal crop-producing rains in India, the recent cold-freeze decimation of the California citrus industry, the floods and droughts happening now on virtually every continent, earthquakes, sinkholes and volcanoes&#8230; the more you look at natural events, the more it becomes increasingly obvious that Earth changes are accelerating at an alarming pace. Nature is giving humanity a dose of its own medicine, so to speak, and humans are poised to pay a dear price for the destruction they have unleashed upon the planet.</p>
<p>Of course, nature is not vengeful, and she does not act out of cruelty or anger. Rather, nature responds in kind to the treatment it has received. When humans treat nature with respect, she responds with abundant crops, predictable weather and stable ecosystems that sustain life. But when humans treat planet Earth as a dumping ground for chemicals, pharmaceuticals, power plant emissions and automobile exhaust, nature responds in a way that ultimately &#8220;rebalances&#8221; the global ecosystem.</p>
<p>And how do you rebalance the global ecosystem? The most direct way, from nature&#8217;s point of view, is to get rid of the cancer that&#8217;s destroying the planet. That cancer, of course, is us. <strong>Humans are, by far, the most destructive force on the planet and the greatest threat to life and biodiversity on planet Earth.</strong> It&#8217;s almost like finding two fish in a fishbowl who have hatched plans to crack the bowl and drain the water out because it would make room for more fish. Silly fish, huh?</p>
<p>But humans are ultimately no different. It is a simple fact that for planet Earth to attain a state of balance, the current population of human beings will need to be radically reduced. The alternative to that scenario is that human beings would find ways to live in harmony with the planet, but given the foolishishness and short-term thinking tendancy of the human species, this is highly unlikely. The most likely scenario is the continued destruction of nature, followed by a radical planetary alteration that collapses the human population bubble, followed by a period of planetary cleansing and rebalancing during which animals, plants and natural resources flourish, along with whatever remaining humans manage to survive the crunch.</p>
<p>It is clear that humankind, as situated today, is incompatible with sustainable living, and unless humans can somehow find a way to radically reduce their &#8220;footprint&#8221; on planet Earth, the natural consequences will be quite severe.</p>
<p>Of course, it&#8217;s only severe from the point of view of humans. From planet Earth&#8217;s point of view, humankind can simply be shrugged off in the blink of an eye (say, 10,000 years), and the planet will go on living without the destructive presence of modern humans.</p>
<p>Virtually everything modern civilization now values &#8212; from technology and science to knowledge and intellectual property &#8212; was developed in the last 5,000 years. And most of it in just the last 50 years. Yet with all the advances we&#8217;ve been able to create, and all the apparent mastery over the laws of nature, we&#8217;ve really only proved that we do not have the wisdom to live in harmony with our own world. We&#8217;re destroying the ground beneath our feet, and that is not an attribute of an advanced civilization.</p>
<p>Let&#8217;s face it: Humans are infants, and we act like children in the way we deal with our home planet. Perhaps a future civilization will do better than this one, because the one we live in right now is headed for certain disaster. Remember: modern human civilization is not the first civilization to rise and fall on this planet, nor will it be the last. All we can hope for is that future beings who inhabit this world will be wiser than we have been and will somehow find the presence of mind to stop destroying their planet before it destroys them.</p>
<p>In the mean time, you can do your best to honor and protect the planet by living a green lifestyle and remembering where you came from &#8212; the Earth. We&#8217;re all made of this Earth, and it is Earth water that fills that soggy mass of neurons in your skull. It is Earth iron that turns your blood red, and Earth air that fills your lungs with each breath. To honor the Earth is to honor yourself, for you are not separate from this planet, and your own health is inevitably tied to the health of the world you inhabit.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=281&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/human-roundup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Mengenai Dampak Lingkungan</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 16:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah teman-teman, usaha dan kegiatan apa saja yang diwajibkan untuk menyusun AMDAL? Siapa saja pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan AMDAL? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/amdal.jpg&amp;w=150&amp;h=140&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Legalisasi pendirian pabrik kimia? Jangan pernah lupakan faktor AMDAL. Mungkin teman-teman sekalian sudah sering sekali mendengar istilah AMDAL, bahkan tahu bahwa istilah ini merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Namun, tahukah teman-teman usaha/kegiatan apa saja yang diwajibkan untuk menyusun AMDAL? Siapa saja pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan AMDAL? Dan bagaimana prosedur pengajuan AMDAL? Bagi yang belum tahu mungkin ulasan di bawah ini bisa membantu. </p>
<h3>Apa yang dimaksud dengan AMDAL?</h3>
<p>Berdasarkan PP no. 27 tahun 1999, definisi AMDAL ialah <em>kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan</em>. Dokumen AMDAL terdiri dari beberapa bagian:</p>
<ol>
<li>Dokumen kerangka acuan analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL)</li>
<li>Dokumen analisis dampak lingkungan</li>
<li>Dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL)</li>
<li>Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL)</li>
</ol>
<h3>Siapa pihak-pihak terkait dalam penyusunan AMDAL?</h3>
<ol>
<li><strong>Pemrakarsa</strong><br />
Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha/kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya.</li>
<li>K<strong>omisi penilai</strong><br />
Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL.</li>
<li><strong>Masyarakat yang berkepentingan</strong><br />
Masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan seperti  kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.</li>
</ol>
<h3>Bagaimana prosedur AMDAL?</h3>
<p>Prosedur AMDAL terdiri dari 4 tahapan, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Penapisan (screening) wajib AMDAL</strong><br />
Menentukan apakah suatu rencana usaha/kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak. Berdasarkan Kepmen LH no 17 tahun 2001, terdapat beberapa rencana usaha dan bidang kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, yaitu: pertahanan dan keamanan, pertanian, perikanan, kehutanan, kesehatan, perhubungan, teknologi satelit, perindustrian, prasarana wilayah, energi dan sumber daya mineral, pariwisata, pengembangan nuklir, pengelolaan limbah B3, dan rekayasa genetika. Kegiatan yang tidak tercantum dalam daftar wajib AMDAL, tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung, termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting, dan wajib menyusun AMDAL. Kawasan lindung yang dimaksud adalah hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air, kawasan sekitar waduk/danau, kawasan sekitar mata air, kawasan suaka alam, dan lain sebagainya.</li>
<li><strong>Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat</strong><br />
Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.</li>
<li><strong>Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL</strong><br />
Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan). Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya. Apabila dalam 75 hari komisi penilai tidak menerbitkan hasil penilaian, maka komisi penilai dianggap telah menerima kerangka acuan.</li>
<li><strong>Peyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL</strong><br />
Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.</li>
</ol>
<h3>Bagaimana jika usaha/kegiatan tidak diwajibkan menyusun AMDAL?</h3>
<p>Usaha/kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). UKL dan UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan izin. melakukan usaha dan atau kegiatan.</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://www.menlh.go.id/index.php?idx=amdalnet">Situs Kementrian Lingkungan Hidup</a>, Diktat Kuliah Pengelolaan Limbah Industri TK-ITB </p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=279&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>44</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekosemen: Produksi Semen dari Sampah</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/produksi-semen-dari-sampah/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/produksi-semen-dari-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Feb 2008 16:34:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dedy Eka Priyanto</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/produksi-semen-dari-sampah/</guid>
		<description><![CDATA[Peneliti Jepang berhasil memproses abu hasil pembakaran sampah menjadi semen. Abu tersebut berfungsi sebagai pengganti tanah liat pada produksi semen konvensional.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/ecocement.jpg&amp;w=200&amp;h=135&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" /><em>Jepang, sebuah negeri penuh inovasi.</em> Mungkin sebutan itu sangat sesuai sebagaimana Jepang menangani masalah sampah di negaranya. Setelah berhasil membuat sebuah <em>airport </em>berkelas internasional di Kobe yang dibangun di atas lapisan sampah dan menerapkan pembuatan pupuk dari sampah di berbagai hotel di Jepang, kini Jepang telah berhasil mengubah sampah menjadi produk semen yang kemudian dinamakan dengan ekosemen.</p>
<h3>Ekosemen</h3>
<p>Terminologi ekosemen dibentuk dari kata &#8220;ekologi&#8221; dan &#8220;semen&#8221;. Diawali penelitian di tahun 1992, para peneliti Jepang telah mempelajari kemungkinan memprosesan abu hasil pembakaran sampah dan endapan air kotor untuk dijadikan bahan pembuat semen. Dari hasil penelitian tersebut diketahui bahwa abu hasil pembakaran sampah mengandung unsur yg sama dengan bahan dasar semen pada umumnya. Pada tahun 1993, proyek itu dibiayai oleh Kementrian Perdangan Internasional dan Industri Jepang. Tahun 2001, pabrik pertama di dunia yang mengubah sampah menjadi semen resmi beroperasi di Chiba. Pabrik tersebut mampu memproduksi ekosemen sebanyak 110,000 ton/tahunnya. Sampah yang diubah menjadi abu yang kemudian diolah menjadi semen mencapai 62,000 ton/tahun sedangkan endapan air kotor dan residu abu industri yang diolah mencapai 28,000 ton/tahun.</p>
<h3>Penggunaan Abu Insinerasi untuk semen</h3>
<p>Penduduk Jepang membuang sampah, baik organik maupun anorganik, dengan jumlah sekitar 50 juta ton/tahun. Dari 50 ton/tahun tersebut, sampah yang dibakar (proses <em>incineration</em>) menjadi abu (<em>incineration ash</em>) ialah sekitar 37 ton/tahun. Sedangkan abu yang dihasilkan mencapai 6 ton per tahunnya. Abu inilah yang kemudian dijadikan sebagai bahan pembuat ekosemen. Abu dan endapan air kotor mengandung senyawa-senyawa yang diperlukan dalam pembentukan semen konvensional, yaitu senyawa-senyawa oksida seperti CaO, SiO<sub>2</sub>, Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub>, dan Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub>. Karena itu, abu insinerasi dapat difungsikan sebagai pengganti tanah liat yang digunakan pada pembuatan semen konvensional<sup> [1]</sup>.</p>
<p><center><strong>Tabel 1. </strong>Komposisi senyawa pada abu insinerasi dan semen konvensional (ppm)</p>
<style>
.header { background : #003366; color:#333; padding: 2px; border:none; text-align: center; font-weight:bold; width:50px; }
.header2 { background : #FFF; padding: 2px; border-bottom:black solid 1px; width:100px; }
.isi { background : #FFF; padding: 2px; border-bottom:black solid 1px; text-align: center; width:50px; }
</style>
<table border=0 cellspacing=0 cellpadding=0>
<tr>
<th class="header"></th>
<th class="header">CaO</th>
<th class="header">SiO<sub>2</sub></th>
<th class="header">Al<sub>2</sub>O<sub>3</sub></th>
<th class="header">Fe<sub>2</sub>O<sub>3</sub></th>
<th class="header">SO<sub>3</sub></th>
<th class="header">Cl</th>
</tr>
<tr>
<td class="header2">Semen konvensional</td>
<td class="isi">62-65</td>
<td class="isi">20-25</td>
<td class="isi">3-5</td>
<td class="isi">3-4</td>
<td class="isi">2-3</td>
<td class="isi">50-100</td>
</tr>
<tr>
<td class="header2">Abu insenerasi</td>
<td class="isi">12-31</td>
<td class="isi">23-46</td>
<td class="isi">13-29</td>
<td class="isi">4-7</td>
<td class="isi">1-4</td>
<td class="isi">150000</td>
</tr>
</table>
<p></center></p>
<p>Kebutuhan kandungan CaO yang masih belum terpenuhi pada abu insinerasi dapat dicukupi dengan penambahan batu kapur. Dalam pembuatan ekosemen, klorin dan logam berat yang terkandung pada abu insinerasi diekstrak menjadi <em>artificial ore</em> (Cu, Pb, dan lainnya) yang kemudian di-<em>recyle</em> untuk digunakan kembali.</p>
<h3>Proses Pembuatan Ekosemen</h3>
<p>Secara umum, produksi semen konvensional (<em>Portland</em>) meliputi pengeringan, penghancuran, dan pencampuran batu kapur, tanah liat, <em>quartzite</em>, serta bahan baku lainnya dan kemudian dibakar pada rotary klin. Prinsip produksi ekosemen pada dasarnya sama dengan prinsip pembuatan semen konvensional. Adapun perbedaannya terletak pada proses pembakaran dan pengolahan limbah.</p>
<ol>
<li>Persiapan<br />
Bahan baku (abu insenerasi, endapan air kotor rumah tangga, dan residu abu industri) diproses terlebih dahulu melalui pengeringan, penghancuran, dan pemisahan logam yang masih terkandung pada bahan baku.</li>
<li>Penghancuran<br />
Setelah dikeringkan, bahan baku tersebut kemudian dihancurkan pada <em>raw grinder</em> atau <em>drying mill</em> bersamaan dengan batu kapur.</li>
<li>Pencampuran<br />
Setelah dikeringkan dan dihancurkan, umpan dimasukkan ke dalam <em>homogenizing tank</em> bersamaan dengan <em>fly ash</em> (abu yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara) dan <em>blast furnace slag</em> (limbah yang dihasilkan industri besi). Penempatan dua <em>homoginezing tank</em> yang diilustrasikan dalam diagram dimaksudkan untuk mencampuran semua secara merata sehingga dapat menghasilkan komposisi yang diinginkan.</li>
<li>Pembakaran<br />
Berbeda dengan produksi semen konvensional dimana bahan baku dibakar pada suhu 900<sup>o</sup>C, pada proses pembuatan ekosemen, bahan baku dimasukkan ke dalam <em>rotary klin</em> dan dibakar pada suhu diatas 1350<sup>o</sup>C. Dalam <em>rotary kiln</em>, dioksin dan senyawa berbahaya lainnya yang terkandung pada abu insenerasi akan terurai menjadi air dan gas klor sehingga aman bagi lingkungan. Gas yang keluar dari <em>rotary klin</em> kemudian didinginkan secara cepat hingga suhu 200<sup>o</sup>C untuk mencegah kembali terbentuknya dioksin. Pada proses ini, logam berat yang masih terkandung dipisahkan dan dikumpulkan ke dalam <em>bag filter</em> sebagai debu yang masih mengandung klor. Debu ini kemudian dialirkan ke <em>heavy metal recovery process</em>. Klor yang masih tersisa akan dihilangkan dan menghasilkan sebuah <em>articial ore</em> seperti tembaga dan timbal yang kemurniannya mencapai 35% atau lebih. Proses pembakaran akan menghasilkan <em>clinker</em> (<em>intermediate stage</em> pada industri semen) yang kemudian dikirim ke <em>clinker tank</em>.</li>
<li>Penghancuran Produk<br />
Campuran <em>gypsum</em> dan <em>clinker</em> dihancurkan dalam <em>finish mill</em> dan kemudian akan dihasilkan ekosemen.</li>
<p><center><strong>Fig 1.</strong> <em>Flowchart</em> pembuatan ekosemen<sup> [3]</sup><br />
<img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/flow-chart.JPG' alt='Ecocement Production Flowchart' /></center>
</ol>
<h3>Kendala</h3>
<p>Salah satu kendala utama pengembangan ekosemen adalah proses produksinya yang relatif mahal apabila dibandingkan dengan produksi semen konvensional. Hal ini disebabkan oleh proses pemisahan klor pada produksi ekosemen yang memakan banyak biaya. Keberadaan klor sendiri diakibatkan karena adanya plastik vinil yang ikut tercampur pada sampah organik. Pada pembuatan abu insenarasi, plastik vinil akan ikut terurai menjadi klor. Klor akan menurunkan kekuatan konkrit ekosemen apabila tidak dipisahkan. Hal tersebut membuat pemisahan plastik dari sampah organik secara seksama menjadi kunci utama pada produksi ekosemen.</p>
<h3>Kualitas Ekosemen</h3>
<p>Hingga saat ini, terdapat dua macam tipe ekosemen (berdasarkan penambahan alkali dan kandungan klor) yaitu tipe biasa dan tipe <em>rapid hardening</em>. Ekosemen tipe biasa mempunyai kualitas sama baiknya dengan semen Portland biasa. Tipe ekosemen ini digunakan sebagai <em>ready mixed concrete</em> sedangkan ekosemen tipe <em>fast hardening</em> memiliki kekuatan konkrit serta pengerasan yang lebih cepat dibanding semen Portland tipe high-early strength (<em>lihat Fig 2</em>). Ekosemen tipe <em>fast hardening</em> digunakan pada blok arsitektur, bahan genteng, pemecah ombak, dan lain sebagainya. Ekosemen tipe <em>fast hardening</em> telah melewati standardisasi JIS (Japanese Industrial Standard).</p>
<p><center><strong>Fig 2.</strong> Perbandingan kekuatan ekosemen dibandikan dengan semen Portland<sup> [2]</sup><br />
<img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/grafik.jpg' alt='Cement vs. Ecocement' /></center></p>
<h3>Manfaat Ekosemen </h3>
<p>Pengolahan sampah menjadi semen akan menambah metode alternatif pengolahan sampah yang lebih bernilai ekonomis dan biaya pengolahan sampah akan menjadi lebih murah. Sebagai contohnya, di Jepang, biaya pengolahan sampah konvensional sebelum keberadaan teknologi ekosemen ialah sebesar 40,000 yen/ton dan sekarang turun menjadi 39,000 yen/ton.</p>
<p>Selain itu, teknologi ekosemen sangat ramah lingkungan. Pada proses produksi ekosemen, sebagian CaO yang dibutuhkan dapat diperoleh dari abu insenerasi sehingga mengurangi penggunaan batu kapur (CaCO<sub>2</sub>) yang selama ini merupakan sumber emisi gas CO<sub>2</sub> pada industri semen. Atas keberhasilan dalam mengurangi emisi CO<sub>2</sub> ini, teknologi ekosemen mendapat penghargaan dari menteri lingkungan Jepang atas peranannya dalam mencegah pemanasan global. </p>
<h3>Peluang di Indonesia</h3>
<p>Indonesia merupakan sebuah negara yang belum bisa lepas dari masalah sampah. Mulai dari penolakan warga masyarakat sekitar TPA akibat kepulan asap dan bau yang ditimbulkan oleh pengolahan sampah dengan PLTSa hingga kejadian yang tidak pernah dilupakan Tragedi Leuwigajah yang merenggut 24 nyawa tak bersalah.</p>
<p>Sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mencari solusi penyelesaian masalah sampah Indonesia termasuk dengan cara mengubah sampah tersebut menjadi sumber energi (<em>methane</em>). Namun, akibat kurangnya prospek dari segi ekonomi, perkembangan proses konversi tersebut dapat dikatakan masih jalan di tempat. Dengan berhasilnya Jepang dalam mengolah sampah menjadi semen, muncul peluang yang besar untuk melakukan hal yang sama di Indonesia. Untuk masalah bahan baku, di Jakarta, sampah domestik yang dihasilkan mencapai lebih dari 6000 ton/hari. Dari segi proses, dapat dikatakan bahwa prinsip pembuatan ekosemen hampir sama dengan pembuatan semen biasa. Apabila Pemerintah dan pihak industri dapat bekerja sama dengan baik, masalah sampah akan teratasi dan pihak industri meningkatkan keuntungan dengan adanya pengurangan penggunaan <em>limestone</em> sebesar 26%.</p>
<p>Satu faktor utama yang menentukan keberhasilan proses pengolahan sampah ialah regulasi pemerintah, khususnya pemerintah kota/daerah, dalam mengelola sampah dengan baik. Salah satu cara yang dapat ditempuh ialah melalui penggalakkan kampanye pemisahan sampah antara sampah organik, sampah anorganik, sampah botol, dan sampah kaleng serta kemudian menjadikannya sebagai kebiasaan warga Indonesia secara luas. Dimulai dari hal sederhana tersebut, peluang pemanfaatan sampah menjadi semen atau produk yang lain dapat dilakukan pihak industri dengan lebih ekonomis.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong><br />
<sup>[1]</sup> T. Shimoda, S. Yokoyama, <strong>Ecocement—a new Portland cement to solve municipal and industrial waste problems</strong>, Proc. of International Congress on Creating with Concrete, Dundee, 1999, pp. 17– 30<br />
<sup>[2]</sup> <a href="http://www.taiheiyo-cement.co.jp">Taiheiyo Cement</a><br />
<sup>[3]</sup> <a href="http://www.ichiharaeco.co.jp">Ichiharaeco</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=266&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/produksi-semen-dari-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fluoridation</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 08:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Birru Pagi Lucha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/</guid>
		<description><![CDATA[Dentists, doctors and government health authorities who actually promote the fluoridation of public water supplies are nothing less than clinically insane.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/comic/Fluoride_Water_Main_600.png" alt="Fluoridation" /></p>
<p>Commentary by <a href="http://www.newstarget.com">Mike Adams</a>, the creator of this cartoon:</p>
<p>The fluoride issue is, in my opinion, a &#8220;sanity test&#8221; for anyone who claims to know anything about health. As I will explain here, all the dentists, doctors and government health authorities who actually promote the fluoridation of public water supplies are nothing less than clinically insane.</p>
<p>How do I know? Because I know where this so-called &#8220;fluoride&#8221; comes from. Cities actually buy the stuff from coal plants and chemical manufacturers, where it would normally have to be disposed of as a toxic waste chemical if it wasn&#8217;t sold to towns and cities to be dumped into the water supply. This fluoride byproduct of chemical processing is so toxic that it&#8217;s a violation of environmental laws to dump it into any river. Yet it&#8217;s somehow perfectly legal to feed it to infants, children, adults and senior citizens who are drinking from the public water supply. Interesting, huh? It&#8217;s so toxic that it kills fish, but dentists want your babies to drink it.</p>
<p>The entire pro-fluoride argument lacks a single shred of scientific evidence showing any benefit whatsoever to the mass consumption of the fluoride chemical. Essentially, the leaders in dentistry and medicine simply invented a myth about fluoride and dental health, then invested their careers and egos in the desperate defense of this myth, even as the scientific evidence clearly shows increased rates of hip fractures, fluorosis and even cancer from fluoride consumption.</p>
<p>The claims about fluoride essentially make it a drug according to FDA regulations, yet this &#8220;drug&#8221; has never been approved as a treatment or cure for dental caries by the FDA. Furthermore, can you think of any other drug that is mass-medicated to the entire population with no diagnosis, no medical oversight and no patient follow-up whatsoever? It&#8217;s like dumping Prozac into the water supply and saying, &#8220;Everyone is depressed and needs their brain chemistry balanced.&#8221; A silly idea, of course, but it&#8217;s essentially the same as dumping fluoride into the water supply.</p>
<p>Of course, any use of reason, logic or genuine science is not allowed in the fluoride debate. Dentists, doctors and health authorities viciously defend the indiscriminate fluoridation of all humans with the ferocity of rabid pack dogs. For any sane person to even suggest that perhaps industrial waste chemicals should not be dumped into public water supplies is to invite a wild-eyed verbal assault by dentists so filled with ignorance and froth that you would think you were insulting the false gods of some outdated superstition from eons past. Which, of course, is exactly what fluoridation is: superstition.</p>
<p>Any perceived health benefit of mass fluoridation is nothing more than persistent myth, desperately defended by the most irrational, unscientific and easily offended members of modern society &#8212; who all happen to reside in some branch of medicine, by the way. These myth pushers claim to base their support of dumping toxic chemicals into the water supply based on so-called &#8220;scientific evidence&#8221; that they can never quite produce. The only evidence they have is the circular-logic statements of various dentists quoting each other in some sort of deviant doctoral blabbing contest. Meanwhile, they selectively ignore any real evidence from scientific studies showing the damaging effects of fluoride.</p>
<p>Selective censorship of reality is, of course, the very foundation of modern dentistry &#8212; an industry that exists in such blatant denial of reality that it continues to implant some 34 metric tons of mercury &#8212; one of the most toxic substances to human and environmental health &#8212; into the mouths of dental patients each year. All while calling it perfectly safe, of course.</p>
<p>Mercury is perfectly safe, they all proclaim. And so is fluoride. And, come to think of it, there&#8217;s no such thing as any chemical too dangerous to put in the mouths or stomachs of patients as long as your dentist says so. And while we&#8217;re at it, don&#8217;t forget to have your wisdom teeth surgically removed &#8212; yet another medically useless procedure that&#8217;s been scientifically shown to be utterly worthless according to the British Medical Journal. I, for one, still have all my wisdom teeth, and nearly every time I see a new dentist, the idiot insists that I have them surgically removed even though they are entirely asymptomatic (i.e. nothing&#8217;s wrong with them).</p>
<p>All this explains why the fluoride question is such an effective sanity test. Anyone who genuinely supports the disposal of toxic fluoride chemicals via public waterways is not merely a fool and a danger to themselves; they are a danger to society and should probably be locked away in some sort of institution where crazy people can bang their heads against the walls until their mercury fillings fall out. There, at least, they won&#8217;t harm anybody else.</p>
<p>Fortunately, there are a growing number of sane dentists and doctors in the world. One of the leading organizations in this regard is the IAOMT. Watch their &#8220;Smoking Teeth&#8221; video if you want to learn the truth about mercury fillings, or read their Position on Fluoridation to hear what sane, intelligent dentists have concluded about mass fluoridation practices.</p>
<p>And if you still have mercury fillings in your mouth, get them removed by a dentist who specializes in mercury removal. Be sure to take plenty of chlorella and Jon Barron&#8217;s Metal Magic tincture before and after any such procedure to minimize the amount of fluoride that gets into your body during removal.</p>
<p>Finally, if your dentist continues to push fluoridation and mercury fillings (they call them &#8220;silver fillings&#8221; to hide the fact that they&#8217;re made with mercury), fire the idiot and find yourself a new dentist who runs a more natural health oriented practice. Natural dentistry is a growing practice. And it&#8217;s no mystery why. The American Dental Association, in my opinion, remains stuck in the Dark Ages. I can&#8217;t wait for the day when they finally reverse their support of fluoride and mercury and join the rest of the sane people in the world who have long since figured out that toxic chemicals do not belong in the human body.</p>
<p>This is not complicated, folks. I think that perhaps the only reason anyone still supports fluoride or mercury is because their brains have been affected by the chemicals.</p>
<p>And yes, by the way, it&#8217;s true that people who handle fluoride have to wear chemical suits, just as shown in this comic. If you drop a bottle of pure fluoride and inhale the fumes or get some on your skin, it can kill you. </p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=262&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Pengolahan Limbah Gas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-gas/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-gas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 19:28:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-gas/</guid>
		<description><![CDATA[Bagaimanakah pengolahan limbah gas sebelum akhirnya dibuang ke lingkungan bebas? Apa saja teknologi proses yang terlibat dan apa peralatan yang dibutuhkan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/limbahgas.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Industri selalu dikaitkan sebagai sumber pencemar karena aktivitas industri merupakan kegiatan yang sangat tampak dalam pembebasan berbagai senyawa kimia ke lingkungan. Teman-teman sering melihat asap tebal membubung keluar dari cerobong pabrik? Ya, asap tebal tersebut merupakan limbah gas yang dikeluarkan pabrik ke lingkungan. Bagaimanakah teknologi pengolahan limbah gas tersebut sebelum akhirnya dibuang ke lingkungan bebas?</p>
<p>Sebagian jenis gas dapat dipandang sebagai pencemar udara terutama apabila konsentrasi gas tersebut melebihi tingkat konsentrasi normal dan dapat berasal dari sumber alami (seperti gunung api) serta juga gas yang berasal dari kegiatan manusia (<em>anthropogenic sources</em>). Senyawa pencemar udara itu sendiri digolongkan menjadi (a) senyawa pencemar primer, dan (b) senyawa pencemar sekunder. Senyawa <strong>pencemar primer</strong> adalah senyawa pencemar yang langsung dibebaskan dari sumber sedangkan senyawa<strong> pencemar sekunder</strong> ialah senyawa pencemar yang baru terbentuk akibat antar-aksi dua atau lebih senyawa primer selama berada di atmosfer. Dari sekian banyak senyawa pencemar yang ada, lima senyawa yang paling sering dikaitkan dengan pencemaran udara ialah: karbonmonoksida (CO), oksida nitrogen (NOx), oksida sulfur (SOx), hidrokarbon (HC), dan partikulat (debu).</p>
<p>Definisi dari pencemaran udara itu sendiri ialah peristiwa pemasukan dan/atau penambahan senyawa, bahan, atau energi ke dalam lingkungan udara akibar kegiatan alam dan manusia sehingga temperatur dan karakteristik udara tidak sesuai lagi untuk tujuan pemanfaatan yang paling baik. Atau dengan singkat dapat dikatakan bahwa nilai lingkungan udara tersebut telah menurun. </p>
<p>Pencemaran udara yang disebabkan oleh aktivitas manusia dapat ditimbulkan dari 6 (enam) sumber utama, yaitu:</p>
<ol>
<li>pengangkutan dan transportasi</li>
<li>kegiatan rumah tangga</li>
<li>pembangkitan daya yang menggunakan bahan bakar fosil</li>
<li>pembakaran sampah</li>
<li>pembakaran sisa pertanian dan kebakaran hutan</li>
<li>pembakaran bahan bakar dan emisi proses</li>
</ol>
<p>Suatu penelitian dari <em>Ross </em>[1972] menyatakan bahwa pengangkutan merupakan sumber yang memberikan iuran terbesar dalam emisi pencemar per tahun dan hal ini terus meningkat karena adanya penambahan kendaraan dalam lalu lintas di jalan raya pada lima tahun terakhir. Di Amerika Serikat, industri memberikan bagian yang relatif kecil pada pencemaran atmosferik jika dibandingkan dengan pengangkutan. Namun, karena kegiatan industri merupakan aktivitas yang mudah diamati dan merupakan golongan sumber pencemaran titik (<em>point source of pollution</em>), masyarakat pada umumnya lebih menganggap industri sebagai sumber utama polutan yang menyebabkan udara tercemar. Belum lagi dengan limbah padat dan limbah cair industri yang semakin memperparah <em>image </em>negatif industri di masyarakat.</p>
<h3>Pengendalian Pencemaran</h3>
<p>Pengendalian pencemaran akan membawa dampak positif bagi lingkungan karena hal tersebut akan menyebabkan kesehatan masyarakat yang lebih baik, kenyamanan hidup lingkungan sekitar yang lebih tinggi, resiko yang lebih rendah, kerusakan materi yang rendah, dan yang paling penting ialah kerusakan lingkungan yang rendah. Faktor utama yang harus diperhatikan dalam pengendalian pencemaran ialah karakteristik dari pencemar dan hal tersebut bergantung pada jenis dan konsentrasi senyawa yang dibebaskan ke lingkungan, kondisi geografik sumber pencemar, dan kondisi meteorologis lingkungan.</p>
<p>Pengendalian pencemaran udara dapat dilakukan dengan dua cara yaitu pengendalian pada sumber pencemar dan pengenceran limbah gas. Pengendalian pada sumber pencemar merupakan metode yang lebih efektif karena hal tersebut dapat mengurangi keseluruhan limbah gas yang akan diproses dan yang pada akhirnya dibuang ke lingkungan. Di dalam sebuah pabrik kimia, pengendalian pencemaran udara terdiri dari dua bagian yaitu penanggulangan emisi debu dan penanggulangan emisi senyawa pencemar.</p>
<p>Alat-alat pemisah debu bertujuan untuk memisahkan debu dari alirah gas buang. Debu dapat ditemui dalam berbagai ukuran, bentuk, komposisi kimia, densitas, daya kohesi, dan sifat higroskopik yang berbeda. Maka dari itu, pemilihan alat pemisah debu yang tepat berkaitan dengan tujuan akhir pengolahan dan juga aspek ekonomis. Secara umum alat pemisah debu dapat diklasifikasikan menurut prinsip kerjanya:</p>
<ul>
<li><strong>Pemisah <em>Brown</em></strong><br />
Alat pemisah debu yang bekerja dengan prinsip ini menerapkan prinsip gerak partikel menurut Brown. Alat ini dapat memisahkan debu dengan rentang ukuran 0,01 &#8211; 0,05 mikron. Alat yang dipatenkan dibentuk oleh susunan filamen gelas denga jarak antar filamen yang lebih kecil dari lintasan bebas rata-rata partikel.</li>
<li><strong>Penapisan</strong><br />
Deretan penapis atau filter bag akan dapat menghilangkan debu hingga 0,1 mikron. Susunan penapis ini dapat digunakan untuk gas buang yang mengandung minyak atau debu higroskopik.
</li>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:302px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/electrostatic-precipitator.jpg' alt='Electrostatic Precipitator' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Electrostatic Precipitator</div>
</div>
</div>
<li><strong>Pengendap elektrostatik</strong><br />
Alat ini mengalirkan tegangan yang tinggi dan dikenakan pada aliran gas yang berkecepatan rendah. Debu yang telah menempel dapat dihilangkan secara beraturan dengan cara getaran. Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan pengendap elektrostatik ini ialah didapatkannya debu yang kering dengan ukuran rentang 0,2 &#8211; 0,5 mikron. Secara teoritik seharusnya partikel yang terkumpulkan tidak memiliki batas minimum.
</li>
<li><strong>Pengumpul sentrifugal</strong><br />
Pemisahan debu dari aliran gas didasarkan pada gaya sentrifugal yang dibangkitkan oleh bentuk saluran masuk alat. Gaya ini melemparkan partikel ke dinding dan gas berputar (<em>vortex</em>) sehingga debu akan menempel di dinding serta terkumpul pada dasar alat. Alat yang menggunakan prinsip ini digunakan untuk pemisahan partikel dengan rentang ukuran diameter hingga 10 mikron lebih.
</li>
<li><strong>Pemisah inersia</strong><br />
Pemisah ini bekerja atas gaya inersia yang dimiliki oleh partikel dalam aliran gas. Pemisah ini menggunakan susunan penyekat sehingga partikel akan bertumbukan dengan penyekat dan akan dipisahkan dari aliran fasa gas. Alat yang bekerja berdasarkan prinsip inersia ini bekerja dengan baik untuk partikel yang berukuran hingga 5 mikron.
</li>
<li><strong>Pengendapan dengan gravitasi</strong><br />
Alat yang bekerja dengan prinsip ini memanfaatkan perbedaan gaya gravitasi dan kecepatan yang dialami oleh partikel. Alat ini akan bekerja dengan baik untuk partikel dengan ukuran yang lebih besar dari 40 mikron dan tidak digunakan sebagi pemisah debu tingkat akhir.
</li>
</ul>
<p>Di industri, terdapat juga beberapa alat yang dapat memisahkan debu dan gas secara bersamaan (<em>simultan</em>). Alat-alat tersebut memanfaatkan sifat-sifat fisik debu sekaligus sifat gas yang dapat terlarut dalam cairan. Beberapa metoda umum yang dapat digunakan untuk pemisahan secara simultan ialah:</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:248px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/250px-irrigcyclone.gif' alt='Irrigated Cyclone Scrubber' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Irrigated Cyclone Scrubber</div>
</div>
</div>
<ul>
<li><strong>Menara percik</strong><br />
Prinsip kerja menara percik ialah mengkontakkan aliran gas yang berkecepatan rendah dengan aliran air yang bertekanan tinggi dalam bentuk butiran. Alat ini merupakan alat yang relatif sederhana dengan kemampuan penghilangan sedang (<em>moderate</em>). Menara percik mampu mengurangi kandungan debu dengan rentang ukuran diameter 10-20 mikron dan gas yang larut dalam air.</li>
<li><strong>Siklon basah</strong><br />
Modifikasi dari siklon ini dapat menangani gas yang berputar lewat percikan air. Butiran air yang mendandung partikel dan gas yang terlarut akan dipisahkan dengan aliran gas utama atas dasar gaya sentrifugal. Slurry dikumpulkan di bagian bawah siklon. Siklon jenis ini lebih baik daripada menara percik. Rentang ukuran debu yang dapat dipisahkan ialah antara 3 &#8211; 5 mikron.</li>
<li><strong>Pemisah venturi</strong><br />
Metode pemisahan venturi didasarkan atas kecepatan gas yang tinggi pada bagian yang disempitkan dan kemudan gas akan bersentuhan dengan butir air yang dimasukkan di daerah sempit tersebut. Alat ini dapat memisahakan partikel hingga ukuran 0,1 mikron dan gas yang larut di dalam air.</li>
<li><strong>Tumbukan <em>orifice plate</em></strong><br />
Alat ini disusun oleh piringan yang berlubang dan gas yang lewat orifis ini membentur lapisan air hingga membentuk percikan air. Percikan ini akan bertumbukkan dengan penyekat dan air akan menyerap gas serta mengikat debu. Ukuran partikel paling kecil yang dapat diserap ialah 1 mikron.</li>
<li><strong>Menara dengan <em>packing</em></strong><br />
Prinsip penyerapan gas dilakukan dengan cara mengkontakkan cairan dan gas di antara packing. Aliran gas dan cairan dapat mengalir secara <em>co-current, counter-current</em>, ataupun <em>cross-current</em>. Ukuran debu yang dapat diserap ialah debu yang berdiameter lebih dari 10 mikron.</li>
<li><strong>Pencuci dengan pengintian</strong><br />
Prinsip yang diterapkan adalah pertumbuhan inti dengan kondensasi dan partikel yang dapat ditangani ialah partikel yang berdiameter hingga 0,01 mikron serta dikumpulkan pada permnukaan filamen.</li>
<li><strong>Pembentur turbulen</strong><br />
Pembentur turben pada dasarnya ialah penyerapan partikel dengan cara mengalirkan aliran gas lewat cairan yang berisi bola-bola pejal. Partikel dapat dipisahan dari aliran gas karena bertumbukkan dengan bola-bola tersebut. Efisiensi penyerapan gas bergantung pada jumlah tahap yang digunakan.</li>
</ul>
<h3>Pemilihan Teknologi</h3>
<p>Teknologi pengendalian harus dikaji secara seksama agar penggunaan alat tidak berlebihan dan kinerja yang diajukan oleh pembuat alat dapat dicapai dan memenuhi persyaratan perlindungan lingkungan. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan teknologi pengendalian dan rancangan sistemnya ialah:</p>
<ol>
<li>watak gas buang atau efluen</li>
<li>tingkat pengurangan limbah yang dibutuhkan</li>
<li>teknologi komponen alat pengendalian pencemaran</li>
<li>kemungkinan perolehan senyawa pencemar yang bernilai ekonomi</li>
</ol>
<p>Industri-industri di Indonesia terutama industri milik negara telah menerapakan sistem pengendalian pencemaran udara dan sistem ini terutama dikaitkan dengan proses produksi serta penanggulangan pencemaran debu.</p>
<p>Nah, kembali ke permasalahan yang mendasar:<br />
<strong>&#8220;Mengapa limbah gas begitu penting untuk diolah dan dikendalikan?&#8221;</strong><br />
Hujan asam, penipisan lapisan ozon, <em>photochemical smog</em>, dan <em><a href="http://majarimagazine.com/2007/12/global-warming-deniers/">global warming</a></em>. <em>Does any of those ring you a bell??</em></p>
<blockquote><p>Referensi: <strong>Pengelolaan Limbah Industri &#8211; Prof. Tjandra Setiadi</strong>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sewage_treatment"><strong>Wikipedia</strong></a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=203&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-gas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
