<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; technology</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/technology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Jun 2010 14:26:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Builder dan Aditif dalam Deterjen</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 01:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[detergent]]></category>
		<category><![CDATA[polymer]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1796</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum, formula deterjen terdiri dari surfaktan untuk mempengaruhi sudut kontak sistem pencucian, builder untuk membantu efisiensi surfaktan dalam proses pembersihan kotoran, dan aditif untuk meningkatkan daya cuci. Apa saja builder dan aditif yang dapat ditambahkan ke dalam deterjen?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1797" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/detergent.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1797" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/detergent-150x150.jpg" alt="deterjen" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Deterjen</p></div>
<p>Deterjen berhubungan dengan pembersihan benda padat. Pembersihan benda padat adalah penyingkiran benda yang tak diinginkan dari permukaannya. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain pemisahan mekanik sederhana (misalnya mengucek dan mencelupkan kain ke air), pemisahan dengan pelarut (misalnya penambahan pelarut organik), dan pemisahan dengan menambahkan air dan bahan kimia seperti surfaktan.</p>
<p>Sistem pencucian dengan deterjen terdiri dari benda padat yang akan dibersihkan, yang disebut substrat, pengotor yang akan dibersihkan melalui proses pencucian, dan <em>liquid bath</em> (cairan yang mengandung air dan surfaktan untuk membersihkan). Hasil pencucian akan bergantung pada interaksi elemen-elemen tersebut dan kondisi pencucian yang digunakan, seperti temperatur, waktu, energi mekanik yang diberikan, dan kesadahan air yang digunakan. </p>
<p>Deterjen memiliki formula untuk membersihkan substrat yang kotor di bawah kondisi pencucian yang bervariasi. Beberapa deterjen, seperti sabun toilet, hanya terdiri dari satu komponen. Beberapa deterjen lainnya, memiliki lebih dari satu komponen. Secara umum, formula deterjen yang mengandung lebih dari satu komponen terdiri dari surfaktan, <em>builder</em>, dan aditif.</p>
<p>Surfaktan dalam deterjen berguna untuk mempengaruhi sudut kontak sistem pencucian, sedangkan <em>builder</em> memiliki fungsi untuk membantu efisiensi surfaktan dalam proses pembersihan kotoran. Salah satu kemampuan<em> buider</em> yang penting dan banyak digunakan adalah untuk menyingkirkan ion penyebab kesadahan dari cairan pencuci dan mencegah ion tersebut berinteraksi dengan surfaktan. Hal ini dilakukan karena interaksi tersebut akan menyebabkan penurunan efektivitas pencucian. Secara umum, <em>builder</em> memberikan alkalinitas ke cairan pencuci sehingga berfungsi juga sebagai alkali. Selain itu, <em>builder</em> juga memberikan efek anti-redeposisi. Beberapa contoh builder yang banyak digunakan antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>Zeolit </strong>(Na2Ox.Al2O3y.SiO2z.pH2O). Zeolit berfungsi sebagai <em>builder</em> penukar ion. Zeolit yang banyak digunakan adalah zeolit tipe A. Ion natrium akan dilepaskan oleh kristal zeolit dan digantikan dengan ion kalsium dari air sadah. Hal ini akan menyebabkan penurunan kesadahan dari air pencuci.</li>
<li><strong>Clay</strong>. Clay, seperti kaolin, montmorilonit, dan bentonit juga dapat digunakan sebagai <em>builder</em>. Natrium bentonit, misalnya dapat melunakkan air akibat kemampuannya menyerap ion kalsium. Namun, clay dipertimbangkan sebagai bahan yang memiliki efektivitas pelunakkan air yang lebih rendah dibandingkan zeolit tipe A.  Penggunaan clay sebagai builder juga memiliki nilai tambah lain. Clay montmorilonit, misalnya, dapat berfungsi sebagai komponen pelembut. Komponen ini akan diserap dan difilter ke dalam pakaian selama proses pencucian dan pembilasan.</li>
<li><em><strong>Nitrilotriacetic acid. </strong></em>Senyawa N(CH2COOH)3 atau biasa disebut NTA ini, merupakan salah satu <em>builder </em>yang kuat. Senyawa ini merupakan tipe<em> builder</em> organik. Namun, penggunaaannya memiliki efek samping pada kesehatan dan lingkungan.</li>
<li><strong>Garam netral</strong>. Natrium sulfat dan natrium klorida merupakan garam-garam netral yang dapat digunakan sebagai <em>builder</em>. Selain itu, senyawa-senyawa ini juga dipertimbangkan sebagai filler yang dapat mengatur berat jenis deterjen. Natrium sulfat juga dapat menurunkan Critical Micelle Concentration (CMC) dari surfaktan organik sehingga konsentrasi pencucian efektif dapat tercapai.</li>
</ol>
<p>Aditif organik dalam deterjen juga dapat ditambahkan untuk meningkatkan daya cuci. Peningkatan daya cuci yang dimaksud dapat meliputi beberapa hal, yaitu:</p>
<ol>
<li>Menurunkan pengendapan kembali kotoran</li>
<li>Meningkatkan efek <em>whiteness</em> dan <em>brightness</em></li>
<li>Meningkatkan kemudahan terlepasnya kotoran</li>
<li> Menurunkan atau menigkatkan pembusaan seperti yang diinginkan</li>
<li>Menaikkan tingkat kelarutan deterjen (Jika deterjen semakin larut, maka fungsi pencucian juga meningkat)</li>
<li>Menaikkan daya dorong terhadap logam-logam</li>
<li>Menurunkan<em> injury</em> (misalnya iritasi pada kulit manusia, barang atau kain, dan mesin)</li>
</ol>
<p>Beberapa aditif organik yang dapat digunakan dalam deterjen adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Na-CMC.</strong> <em>Natrium Carboxyl Methyl Cellulose</em> sebagai aditif berfungsi sebagai agen anti-redeposisi yang paling umum digunakan pada kain katun. Namun, senyawa ini tidak berfungsi baik pada serat sintetis.</li>
<li><em><strong>Blueing Agent</strong></em><em>.</em> <em>Blueing agent</em> memiliki fungsi untuk memberi kesan biru pada kain putih sehingga kain akan terlihat semakin putih. Selain itu, <em>blueing agent</em> juga dapat memberi kesan warna yang lembut.</li>
<li><em><strong>Fluorescent.</strong></em><em> </em><em>Fluorescent</em> merupakan agen pemutih yang pertama kali dikombinasikan dengan deterjen pada tahun 1940. Agen ini akan menyerap radiasi ultraviolet dan mengemisi sebagian energi radiasi tersebut sebagai sinar-sinar biru yang tampak. Konsentrasi aditif harus diperhatikan dalam penggunaannya karena jika konsentrasi aditif yang digunakan salah, <em>fluoroecent</em> tidak akan memberikan efek absorbsi sinar ultraviolet.</li>
<li><em><strong>Proteolytic enzyme.</strong></em> <em>Proteolytic enzyme</em> banyak digunakan pada formula deterjen. Tujuan penggunaannya adalah untuk mendegradasi bercak-bercak pada substrat yang dapat didegradasi oleh enzim. Penggunaan aditif ini membutuhkan waktu lebih lama daripada aditif lainnya karena merupakan bioteknologi. Enzim-enzim yang dapat digunakan sebagai aditif antara lain enzim amilase, trigliserida, dan lipase.</li>
<li><em><strong>Bleaching agent.</strong></em> <em>Bleaching agent</em> anorganik yang banyak digunakan dalam formula deterjen adalah natrium perborat. Pada temperatur pencucian yang tinggi, sekitar 70-80 derajat Celcius, senyawa ini akan memucatkan (efek bleaching) bercak-bercak seperti bercak wine dan buah-buahan secara efektif. Namun, untuk memenuhi syarat lingkungan, sebbelum dibuang, air sisa cucian harus didinginkan hingga temperatur di bawah 50 derajat Celsius. <em>Bleaching agent</em> organik yang juga dapat digunakan adalah TAED (Tetra Acetyl Ethylene Diamine). Senyawa ini efektif digunakan pada temperatur pencucian 50-60 derajat Celcius.</li>
<li><em><strong>Foam Regulator.</strong></em> <em>Foam regulator</em> seperti amin oksida, alkanolamida, dan betain terdapat dalam produk deterjen jika jumlah busa yang banyak diinginkan sehingga aditif ini umumnya ditemui pada cairan pencuci tangan dan sampo.</li>
<li><em><strong>Organic sequestering.</strong></em><em> <span style="font-style: normal;">Aditif ini berfungsi untuk memisahkan ion logam dari bath deterjen. Beberapa aditif yang berfungsi sebagai <em>organic sequestering</em> adalah EDTA dan nitrilotriacetic acid.</span></em></li>
</ol>
<blockquote><p>Sumber: File kuliah Dasar-Dasar Rekayasa Produk, G. Handi A.<br />
Gambar: <a href="http://www.asia.ru/Catalog/10151.html">http://www.asia.ru/Catalog/10151.html</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1796&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Negara 17.504 Pulau yang Impor Garam</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process control]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1440</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1444" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1444" href="http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/majarimagazine-pembuatan-garam/"><img class="size-thumbnail wp-image-1444" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-garam-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-garam" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Proses tradisional pembuatan garam</p></div>
<p>Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor. Pada data tahun 2000, tercatat kebutuhan garam nasional mencapai 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri. Hal ini sangat ironis, melihat negara Indonesia yang memiliki garis pantai 81.000 km dan intensitas panas yang cukup, tapi kualitas dan kuantitas garam rakyat masih sangat rendah.</p>
<p>Walaupun Indonesia merupakan negara kepulauan, pembuatan garam masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan pulau Madura.</p>
<table style="text-align: center;float:right;margin:15px 0px 10px 10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<th>Pulau Madura</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Sumenep</td>
<td>10.067   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Pemekasan</td>
<td>3.075   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sampang</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Jawa</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Barat</td>
<td>1.159 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Tengah</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Timur</td>
<td>6.904 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Lain</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>NTB</td>
<td>1.155 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sulawesi Selatan</td>
<td>2.040 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sematera dll</td>
<td>1.885 Ha</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Luas area yang dikelola oleh PT Garam hanya 5.116 Ha dan seluruhnya berada di pulau Madura hanya mampu memproduksi 60 ton/Ha/tahun. Luas area penggaraman 25.542 Ha yang dikelola secara tradisional oleh rakyat dan hanya memproduksi 40 ton/Ha/tahun. (Dini Purbani, data dari PT. Garam Persero, 2000).</p>
<p>Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali agar layak dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Pembuatan garam dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl diatas 95 persen, kategori baik dengan kadar NaCl 90–95 persen, dan kategori sedang dengan kadar NaCl antara 80–90 persen. Di Indonesia, kebutuhan kadar garam diatas 95 persen yang mencapai 1,2 juta ton seluruhnya masih diimpor.</p>
<p>Sistem penggaraman rakyat sampai saat ini menggunakan kristalisasi total sehingga produktifitas dan kualitasnya masih kurang. Pada umumnya garam dengan proses tradisional memiliki  kadar NaCl  kurang dari 90 persen  dan banyak mengandung pengotor padahal luas lahan penggaraman rakyat 25.542 Ha atau sekitar 83,31 persen dari luas areal penggaraman nasional.</p>
<p>Jika saja 50% dari luas area penggaraman ini ditingkatkan produktifitasnya menjadi 80 ton/Ha/tahun, maka produksi garam dapat mencapai 1,5 juta ton sehingga total produksi garam nasional meningkat menjadi 1,8 juta ton. Dengan demikian kebutuhan impor garam industri dapat dikurangi dari 1,2 juta ton menjadi hanya sekitar 300.000 ton. Angka yang cukup besar untuk menghemat devisa negara.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<em>Proses Pembentukan Kristalisasi Garam</em>. Dini Purbani. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003<br />
<a href="http://www.dkp.go.id">http://www.dkp.go.id</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1440&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuatan Keramik Industri</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 02:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1436</guid>
		<description><![CDATA[Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate. Material untuk membuat keramik biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1437" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-keramik-industri-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-keramik-industri" width="150" height="150" />Keramik industri dibuat dari bubuk yang telah diberi tekanan sedemikian rupa kemudian dipanaskan pada temperatur tinggi. Keramik tradisional seperti <em>porcelain</em>, ubin (keramik lantai) dan tembikar dibuat dari bubuk yang terdiri dari berbagai material seperti tanah liat (lempung), talc, silika dan faldspar. Akan tetapi, sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate.</p>
<p>Material yang digunakan untuk membuat keramik ini biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk. Produsen seringkali memurnikan bubuk ini dengan mencampurkannya dengan suatu larutan hingga terbantuk endapan pengotor. Kemudian endapan tadi disaring dan bubuk material keramik dipanaskan untuk menghilangkan impuritis dan air. Hasilnya, bubuk dengan tingkat kemurnian tinggi dan berukuran sekitar 1 mikrometer (0.0001 centimeter).</p>
<h3>A. Pembentukan</h3>
<p>Setelah pemurnian, sedikit wax (lilin) biasanya ditambahkan untuk meekatkan bubuk keramik dan menjadikannya mudah dibentuk. Plastik juga dapat ditambahkan untuk mendapatkan kelenturan dan kekerasan tertentu. Bubuk tersebut dapat menjadi bentuk yang berbeda-beda dengan beragam proses pembentukan (molding). Proses pembentukan ini diantaranya adalah slip casting, pressure casting, injection molding, dan extruction.  Setelah dibentuk, keramik kemudian dipanaskan dengan proses yang dikenal dengan nama densifikasi (densification) agar material yang terbantuk lebih kuat dan padat.</p>
<ol>
<li><strong>Slip Casting</strong>. Slip Casting adalah proses untuk membuat keramik yang berlubang. Proses ini menggunakan cetakan dengan dinding  yang berlubang-lunagng kecil dan memanfaatkan daya kapilaritas air.</li>
<li><strong>Pressure Casting</strong>. Pada proses ini, bubuk keramik dituangkan pada cetakan dan diberi tekanan. Tekanan tersebut membuat bubuk keramik menjadi lapisan solid keramik yang berbentuk seperti cetakan.</li>
<li><strong>Injection Molding</strong>. Proses ini digunakan untuk membuat objek yang kecil dan rumit. Metode ini menggunaan piston untuk menekan bubuk keramik melalui pipa panas masuk ke cetakan. Pada cetakan tersebut, bubuk keramik didinginkan dan mengeras sesuai dengan bentuk cetakan. Ketika objek tersebut telah mengeras, cetakan dibuka dan bagian keramik dipisahkan.</li>
<li><strong>Extrusion</strong>. Extrusion adalah proses kontinu yang manama bubuk keramik dipanaskan didalam sebuah tong yang panjang. Terdapat baling-baling yang memutar dan mendorong material panas tersebut kedalam cetakan. Karena prosesnya yang kontinu, setelah terbentuk dan didinginkan, keramik dipotong pada panjang tertentu. Proses ini digunakan untuk membuat pipa keramik, ubin dan bata modern.</li>
</ol>
<h3>B. Densifikasi</h3>
<p>Proses densifikasi menggunakan panas yang tinggi untuk menjadikan sebuah keramik menjadi produk yang keras dan padat. Setelah dibentuk, keramik dipanaskan pada tungku (furnace) dengan temperatur antara 1000 sampai 1700 C. Pada proses pemanasan, partikel-partikel bubuk menyatu dan memadat. Proses pemadatan ini menyebabkan objek keramik menyusut hingga 20 persen dari ukuran aslinya. Tujuan dari proses pemanasan ini adalah untuk memaksimalkan kekerasan keramik dengan mendapatkan struktur internal yang tersusun rapih dan sangat padat.</p>
<h3>Kegunaan Keramik Industri</h3>
<p>Keramik dinilai dari propertinya. Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Keramik dengan properti elektrik dan magnetik dapat digunakan sebagai insulator, semikoncuktor, konduktor dan magnet. Keramik dengan properti yang berbeda dapat digunakan pada aerospace, biomedis, konstruksi bangunan, dan industri nuklir.<br />
Beberapa contoh penggunaan keramik industri:</p>
<ul>
<li>Peralatan yang dibuat dari alumina dan silikon nitrida dapat digunakan sebagai pemotong, pembentuk dan penghancur logam.</li>
<li>Keramik tipe zirconias, silikon nitrida maupun karbida dapat digunakan untuk saluran pada rotorturbocharger diesel temperatur tinggi dan Gas-Turbine Engine.</li>
<li>Keramik sebagai insulator adalah aluminum oksida (AlO3). Keramik sebagai semikonduktor adalah barium titanate (BaTiO3) dan strontium titanate (SrTiO3). Sebagai superkonduktor adalah senyawa berbasis tembaga oksida.</li>
<li>Keramik dengan campuran semen dan logam digunakan untuk pelapis pelindung panas pada pesawat ulang-alik dan satelit.</li>
<li>Keramik Biomedical jenis porous alumina digunakan sebagai implants pada tubuh manusia. Porous alumina dapat berikatan dengan tulang dan jaringan tubuh.</li>
<li>Butiran uranium termasuk keramik yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Butiran ini dibentuk dari gas uranium hexafluorida (UF6).</li>
<li>Keramik berbasis feldspar dan tanah liat digunakan pada industri bahan bangunan.</li>
<li>Keramik juga digunakan sebagai coating (pelapis) untuk mencagah korosi. Keramik yang digunakan adalah jenis enamel. Peralatan rumah tangga yang menggunakan pelapisan enamel ini diantaranya adalah kulkas, kompor gas, mesin cuci, mesin pengering.</li>
</ul>
<blockquote><p>Sumber :<br />
<em>Ceramics</em>. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.<br />
<a href="http://www.ceramicindustry.com">http://www.ceramicindustry.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1436&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceramics, The Art of Industry</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 01:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1433" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1433" href="http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/majarimagazine-superconductor-ceramics/"><img class="size-thumbnail wp-image-1433" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-superconductor-ceramics-150x150.jpg" alt="Super Conductor Ceramics" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Super Conductor Ceramics</p></div>
<p>Keramik (English <em>ceramics</em>, Greek <em>keramos</em>, &#8216;potter clay&#8217;), asal katanya berasal dari seni pembuatan  tembikar, peralatan dari tanah liat. Sekarang, definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon. Keramik pada industri tidak bisa dibayangkan sebagai benda-benda seni. Beberapa contoh keramik industri adalah pipa selokan, insulator listrik, bata tahan panas dan lainnya.</p>
<p>Keramik sebagai insulator listrik misalnya, memiliki berbagai sifat kelistrikan. Hasil penemuan beru-baru ini, jenis keramik yang berupa campuran tembaga oksida dapat membuat keramik tersebut menjadi superkonduktor (penghantar listrik tanpa hambatan pada temperatur yang tinggi). Keramik juga digunakan sebagai komponen pembuat kapal ulang-alik luar angkasa.</p>
<h3>Properti Keramik</h3>
<p>Keramik memiliki properti kimia, mekanik, fisika, panas, elektrik, dan magnetik yang membedakan mereka dari material lain seperti logam dan plastik. Industri keramik merubah properti keramik dengan cara mengontrol jenis dan jumlah material yang digunakan untuk pembuatan.</p>
<h4>A. Properti Kimia</h4>
<p>Keramik industri sebagian besar adalah oksida (senyawa ikatan oksigen), akan tetapi ada juga senyawa carbida (senyawa ikatan karbon dan logam berat), nitrida (senyawa ikatan nitrogen), borida (senyawa ikatan boron) dan silida (senyawa ikatan silikon). Sebagai contoh, pembuatan keramik alumina menggunakan 85 sampai 99 persen aluminum oksida sebagai bahan utama dan dikombinasikan dengan berbagai senyawa kompleks secara kimia. Beberapa contoh senyawa kompleks adalah barium titanate (BaTiO3) dan zinc ferrite (ZnFe2O4). Material lain yang dapat disebut juga sebagai jenis keramik adalah berlian dan graphite dari karbon.</p>
<p>Keramik lebih resisten terhadap korosi dibanding plastik dan logam. Keramik biasanya tidak bereaksi dengan sebagian besar cairan, gas, aklali dan asam. Jenis-jenis keramik memiliki titik leleh yang tinggi dan beberapa diantaranya masih dapat digunakan pada temperatur mendekati titik lelehnya. Keramik juga stabil dalam waktu yang lama.</p>
<h4>B. Properti Mekanik</h4>
<p>Ikatan keramik dapat dibilang sangat kuat, dapat kita lihat dari kekakuan ikatan dengan mengukur kemampuan keramik menahan tekanan dan kelengkungan. Bend Strength atau jumlah tekanan yang diperlukan untuk melengkungkan benda biasanya digunakan untuk menentukan kekuatan keramik. Salah satu keramik yang keras adalah Zirconium dioxide yang memiliki bend strength mendekati senyawa besi. Zirconias (ZrO2) mampu mempertahankan kekuatannya hingga temperatur 900 C (1652 F), dan bahkan silikon carbida dan silikon nitrida dapat mempertahankan kekuatannya pada temperatur diatas 1400 C (2552 F). Material-material silikon ini biasanya digunakan pada peralatan yang memerlukan panas tinggi seperti bagian dari Gas-Turbine Engine. Walaupun keramik memiliki ikatan yang kuat dan tahan pada temperatur tinggi, material ini sangat rapuh dan mudah pecah bila dijatuhkan atau ketika dipanaskan dan didinginkan seketika.</p>
<h4>C. Properti Fisik</h4>
<p>Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat. Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan menghaluskan material-material keras lain.</p>
<h4>D. Properti Panas</h4>
<p>Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada temperatur yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah tekanan tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat keramik pecah. Silikon karbida dan silikon nitrida lebih dapat bertahan dari kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tinggi daripada keramik-keramik lain. Oleh karena itu material ini digunakan pada bagian-bagian mesin seperti rotor pada turbin dalam mesin jet yang memiliki variasi perubahan temperatur yang ekstrim.</p>
<h4>E. Properti Elektrik</h4>
<p>Beberapa jenis keramik dapat menghantarkan listrik. Contohnya Chromium dioksida yang mampu menghantarkan listrik sama baiknya dengan sebagian besar logam. Jenis keramik lain seperti silikon karbida, kurang dapat menghantarkan listrik tapi masih dapat dikatakan sebagai semikonduktor. Keramik seperti aluminum oksida bahkan tidak menghantarkan listrik sama sekali. Beberapa keramik seperti porcelain dapat bertindak sebagai insulator (alat untuk memisahkan elemen-elemen pada sirkuit listrik agar tetap pada jalurnya masing-masing) pada temperatur rendah tapi dapat menghantarkan listrik pada temperatur tinggi.</p>
<h4>F. Properti Magnetik</h4>
<p>Keramik yang mengandung besi oksida (Fe2O3) dapat memiliki gaya magnetik mirip dengan magnet besi, nikel dan cobalt. Keramik berbasis besi oksida ini biasa disebut ferrite. Keramik magnetis lainnya adalah oksida-oksida nikel, senyawa mangan dan barium. Keramik ber-magnet biasanya digunakan pada motor elektrik dan sirkuit listrik dan dapat dibuat dengan resistensi tinggi terhadap demagnetisasi. Ketika elektron-elektron disejajarkan sedemikian rupa, keramik dapat menghasilkan medan magnet yang sangat kuat dan sukar demagnetisasi (menghilangkan medan magnet) dengan memecah barisan elektron tersebut.</p>
<blockquote><p>Sumber :<br />
Ceramics. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.</p>
<p>http://www.ceramicindustry.com</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1431&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstraksi</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1485" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1485" title="Fragonard Perfume (Grasse, France)" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/perfume_lab-300x168.jpg" alt="Fragonard Perfume (Grasse, France)" width="300" height="168" /><p class="wp-caption-text">Fragonard Perfume (Grasse, France)</p></div>
<p>Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Contohnya dalam ekstraksi minyak atsiri dari biji pala (<em>Myristica fragrans</em>). Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan pemurnian untuk mendapatkan minyak esensial atsirinya saja.</p>
<p>Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.</p>
<p>Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry]</p>
<p>Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:</p>
<ul>
<li> Tipe persiapan sampel</li>
<li> Waktu ekstraksi</li>
<li> Kuantitas pelarut</li>
<li> Suhu pelarut</li>
<li> Tipe pelarut</li>
</ul>
<p>Minyak dapat diekstraksi dengan perkolasi, imersi, dan gabungan perkolasi-imersi. Dengan metode perkolasi, pelarut jatuh membasahi bahan tanpa merendam dan berkontak dengan seluruh spasi diantara partikel. Sementara imersi terjadi saat bahan benar-benar terendam oleh pelarut yang bersirkulasi di dalam ekstraktor. Sehingga dapat disimpulkan:</p>
<ul>
<li> Dalam proses perkolasi, laju di saat pelarut berkontak dengan permukaan bahan selalu tinggi dan pelarut mengalir dengan cepat membasahi bahan karena pengaruh gravitasi.</li>
<li> Dalam proses imersi, bahan berkontak dengan pelarut secara periodeik sampai bahan benar-banar terendam oleh pelarut. Oleh karena itu pelarut mengalir perlahan pada permukaan bahan, bahkan saat sirkulasinya cepat.</li>
<li> Untuk perkolasi yang baik, partikel bahan harus sama besar untuk mempermudah pelarut bergerak melalui bahan.</li>
<li> Dalam kedua prosedur, pelarut disirkulasikan secara counter-current terhadap bahan. Sehingga bahan dengan kandungan minyak paling sedikit harus berkontak dengan pelarut yang kosentrasinya paling rendah.</li>
</ul>
<p>Metode perkolasi biasa digunakan untuk mengekstraksi bahan yang kandungan minyaknya lebih mudah terekstraksi. Sementara metode imersi lebih cocok digunakan untuk mengekstraksi minyak yang berdifusi lambat.</p>
<p>Ekstraksi bahan makanan biasa dilakukan untuk mengambil senyawa pembentuk rasa bahan tersebut. Misalnya senyawa yang menimbulkan bau dan/atau rasa tertentu.</p>
<div id="attachment_1374" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://EkstraksiSoxhlet"><img class="size-medium wp-image-1374" title="Ekstraksi" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/soxhlet-197x300.jpg" alt="Ekstraksi Soxhlet" width="197" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ekstraksi Soxhlet</p></div>
<p>Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.</p>
<p>Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet. Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal ini didasari oleh faktor berikut:</p>
<ul>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet cairan akan menggejorok ke dalam labu setelah tinggi pelarut dalam selongsong sama dengan pipa sifon. Hal ini menyebabkan ada bagian sampel yang berkontak lebih lama dengan cairan daripada bagian lainnya. Sehingga sampel yang berada di bawah akan terekstraksi lebih banyak daripada bagian atas. Akibatnya ekstraksi menjadi tidak merata. Sementara pada ekstraktor Butt, pelarut langsung keluar menuju labu didih. Sampel berkontak dengan pelarut dalam waktu yang sama.</li>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet terdapat pipa sifon yang berkontak langsung dengan udara ruangan. Maka akan terjadi perpindahan panas dari pelarut panas di dalam pipa ke ruangan. Akibatnya suhu di dalam Soxhlet tidak merata. Sedangkan pada ekstraktor Butt, pelarut seluruhnya dilindungi oleh jaket uap yang mencegah perpindahan panas pelarut ke udara dalam ruangan.</li>
</ul>
<blockquote><p>Referensi:<br />
AOCS Official Method Am. 2-93. Determination of Oil Content in Oilseeds.<br />
Lucas, Howard J, David Pressman. 1949. Principles and Practice In Organic Chemistry. New York: John Wiley and Sons, Inc.<br />
Whitaker, M.C. 1915. The Journal of Industrial and Engineering Chemistry. Easton: Eschenbach Printing Company.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1373&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atasi Limbah Oil Sludge dengan Teknologi Plasma</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 20:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[oil]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai teknik pengolahan limbah, salah satunya limbah oil sludge. Oil sludge adalah endapan sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan akibat oksidasi proses yang dipicu oleh  kontak antara minyak, udara dan air. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1397" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2374362016_658722922f.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1397" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2374362016_658722922f-150x150.jpg" alt="Sludge Oil" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sludge Oil</p></div>
<p>Dua bulan lalu, perairan Batam kedatangan tamu tak dikenal. Kapal tanker asing berbendera San Lorenzo, MT Seraya, berupaya mencurahkan sebanyak 6 ton sludge oil sisa daur ulang ke laut. Mereka membawa limbah tersebut tanpa dokumen lengkap. Perairan Batam memang berulang kali menjadi tempat pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari kapal, terutama kapal-kapal asing. Kasus pencemaran akibat oil sludge seperti ini juga pernah terjadi di Tarakan (Kalimantan Timur), Riau, Sorong (Papua), dan terakhir di Indramayu.</p>
<div id="attachment_1398" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plasma.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1398" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plasma-150x150.jpg" alt="plasma" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">plasma</p></div>
<p>Tentu saja para pembuang limbah itu belum tahu tentang teknologi plasma. Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai teknik pengolahan limbah, salah satunya limbah oil sludge. Oil sludge adalah endapan sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan akibat oksidasi proses yang dipicu oleh  kontak antara minyak, udara dan air. Oil sludge terdiri dari minyak (hidrokarbon), air, abu, karat tangki, pasir, dan bahan kimia lainnya.</p>
<p>Oil sludge dapat diolah lewat plasma suhu tinggi (thermal plasma). Thermal plasma adalah gas yang terionisasi dengan suhu tinggi diatas 10.000 û. Thermal plasma dapat dibuat dengan electric arc, yang terbentuk diantara dua elektroda, dalam sebuah alat yang disebut plasma torch. Dengan memasukkan gas seperti udara, argon, nitrogen, steam dan sebagainya ke dalam plasma torch, atom atau molekul gas akan bertumbukan dengan elektron yang terbentuk dalam electric arc. Hasil dari proses ini adalah panas dan gas terionisasi yang akan memproduksi thermal plasma jet dengan temperatur yang sangat tinggi. Plasma yang dihasilkan oleh plasma torch ini dipergunakan untuk menguapkan senyawa organik (hidrokarbon) yang terkandung dalam oil sludge. Senyawa organik yang menguap dapat dibentuk kembali dalam bentuk minyak, dan dapat dimanfaatkan.</p>
<p>Energi yang diperlukan dalam proses dibentuk dalam plasma torch. Gas yang dipergunakan dalam torch adalah argon atau nitrogen. Gas organik yang yang terbentuk dalam reaktor bersamaan dengan gas argon atau nitrogen kemudian dimasukkan ke dalam kondensor, untuk mengubah uap gas tadi menjadi cairan. Setelah melalui pendinginan dalam kondensor cairan yang terbentuk dari gas organik tadi adalah light oil yang 100% dapat dipergunakan kembali. Gas argon atau nitrogen sendiri dapat dipergunakan kembali dalam reaktor proses.</p>
<p>Normal operasi temperatur yang dipergunakan dalam proses ini adalah sekitar 800 hingga 1200 derajat Celcius. Kondisi dalam reaktor proses dikondisikan sedemikian rupa agar tidak terjadi proses oksidasi pada material hidrokarbon dan dapat mendukung proses pembentukan minyak pada kondensator. Residu yang dihasilkan dari proses ini akan bebas dari kandungan hidrokarbon, dan siap untuk dibuang ke TPA dengan aman.</p>
<p>Apabila pada oil sludge terkandung logam berat seperti timbal, proses lanjutan dengan plasma dapat dilakukan untuk mendaur ulang logam tersebut. Beberapa kelebihan dari pemanfaatan proses ini adalah energi efisiensinya dapat mencapai 80%. Hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada proses yang menggunakan gas atau bahan bakar minyak lain yang hanya dapat mencapai 20%. Plasma proses akan lebih efektif jika diaplikasikan pada limbah oil sludge yang memiliki kandungan hydrocarbon di atas 10%. Selanjutnya, kandungan hydrocarbon pada residu yang dihasilkan berkisar dibawah 0.01% dari total hidrokarbon.  Dengan penerapan plasma proses , maka limbah oil sludge dapat didaur ulang sehingga dapat menjadikan nilai tambah bagi industri perminyakan nasional.</p>
<blockquote><p><em>Referensi:</em><em> </em><a href="http://indeni.org/"><em>http://indeni.org/</em></a><br />
<em>Gambar: <a href="http://www.flickr.com/photos/25160595@N06/2374362016/">http://www.flickr.com/photos/25160595@N06/2374362016/</a></em><br />
<em> <a href="http://www.flickr.com/photos/miedo/62138622/">http://www.flickr.com/photos/miedo/62138622/</a><br />
</em></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1396&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
