<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; technology</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/technology/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 13:05:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Pengembangan Mode Sistem Kristal Solar Cell</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Aug 2011 15:51:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[nanotechnology]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=3060</guid>
		<description><![CDATA[Selama ini  mungkin kita hanya akrab dengan solar cell berbahan utama silicon sebagai semikonduktor. Padahal, di luar dari silicon, masih banyak bahan yang sesuai untuk semikonduktor pada solar cell. Selain dari sisi bahan baku, struktur kristal solar cell juga sudah banyak dikaji. Semua kajian material ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan ekonomi solar cell.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selama ini  mungkin kita hanya akrab dengan <em>solar cell</em> berbahan utama <em>silicon</em> sebagai semikonduktor. Padahal, di luar dari <em>silicon</em>, masih banyak bahan yang sesuai untuk semikonduktor pada <em>solar cell</em>. Selain dari sisi bahan baku, struktur kristal <em>solar cell</em> juga sudah banyak dikaji. Semua kajian material ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan ekonomi <em>solar cell</em>. Berikut ini disajikan beberapa tipe <em>solar cell</em> dengan struktur kristal dan material yang berbeda – beda.</p>
<div id="attachment_3061" class="wp-caption aligncenter" style="width: 403px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/new-picture-9/" rel="attachment wp-att-3061"><img class="size-full wp-image-3061" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/08/New-Picture.jpg" alt="Solar Cell dengan Efisiensi Tertinggi pada Skala Lab" width="393" height="391" /></a><p class="wp-caption-text">Solar Cell dengan Efisiensi Tertinggi pada Skala Lab</p></div>
<p style="text-align: center">
<p align="right">Sumber: Solar Cell and Their Application</p>
<p>Pada dasarnya terdapat 3 struktur kristal pada <em>solar cell</em>. Tipe pertama adalah model <em>crystalline</em>. Model ini merupakan model yang paling pertama dikembangkan. Ketiga tipe ini meliputi <em>crystalline</em>, <em>polycrystalline</em>, dan <em>amorphous</em>. Masing-masing tipe memiliki struktur dengan ciri dan performa yang berbeda.</p>
<p>Tipe <em>crystalline</em> mimiliki ciri rangkaian atom atau molekul teratur berulang dengan orde tinggi (<em>lattice</em>) sehingga menyusun unit – unit blok berulang. Tipe ini merupakan tipe yang paling pertama dikembangkan. Bahkan, tipe ini masih banyak digunakan saat ini. <em>Solar cell</em> dengan tipe film ini memiliki umur alat yang lebih panjang dari pada tipe <em>polycrystalline</em> dan <em>amorphous</em>. Terdapat 14 tipe kisi kristal di alam. Dari 14 tipe yang ada terdapat 4 tipe yang umum untuk semikonduktor. Keempat tipe tersebut meliputi <em>Simple Cubic (SC)</em>, <em>Face Centered Cubic (FCC)</em>, <em>Body Centered</em> <em>Cubic (BCC)</em>, dan <em>Simple Hexagonal (SH)</em>. Keempat struktur ini digambarkan sebagai berikut.</p>
<div id="attachment_3062" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/new-picture2-2/" rel="attachment wp-att-3062"><img class="size-medium wp-image-3062" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/08/New-Picture2-300x114.jpg" alt="Empat Struktur Kristal Paling Umum untuk Kebutuhan Solar Cell" width="300" height="114" /></a><p class="wp-caption-text">Empat Struktur Kristal Paling Umum untuk Kebutuhan Solar Cell</p></div>
<p style="text-align: center">
<p><em></em><em>Poly crystalline solid</em> berbeda dari <em>single crystal solid</em>. <em>Polycrystalline</em> tersusun atas beberapa <em>single</em> <em>crystal</em> dengan orientasi kisi yang berbeda.<em></em> Antara kristal tunggal dengan orientasi berbeda satu dengan yang lain dipisahkan oleh <em>grain boundaries</em>. Keberadaan <em>grain boundary</em> ini mempengaruhi pergerakan elektron antar kisi pada <em>solid</em> juga kemampuan absorpsi energi surya. Selain itu dari segi harga, fabrikasi <em></em><em></em><em>polycrystalline</em> lebih mudah <em></em>dan terjangkau dibanding <em>single crystal</em>. Untuk itu pengadaan film p<em>oly</em> <em>crystalline</em> untuk <em>solar cell</em> menjadi marak sejak ia ditemukan pada tahun 1954. Beberapa contoh produk tipe ini antara lain CdS/Cu<sub>2</sub>S, CIS (<em>Copper Indium Selenide</em>), <em>Polycrystalline Silicon</em>, pc-CuIn(Ga)Se<sub>2</sub>, <em>Thin Film Cadmium Telluride</em>, dsb.<em><a href="http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/polycrystalline-silicon-solar-cell/" rel="attachment wp-att-3073"><img class="size-medium wp-image-3073 aligncenter" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/08/Polycrystalline-Silicon-Solar-Cell-300x225.jpg" alt="Polycrystalline-Silicon-Solar-Cell" width="300" height="225" /></a></em></p>
<p>Film sel surya dengan struktur <em>polycrystalline</em> diklasifikasikan dalam 4 kategori, yaitu <em>nano particle, nanocrystalline material, microcrystalline material, </em>dan<em> multicrystalline atau semi-crystalline material.</em> Spesifikasi untuk keempat kategori ini ditunjukkan table berikut.</p>
<div id="attachment_3063" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/new-picture-1-6/" rel="attachment wp-att-3063"><img class="size-large wp-image-3063 " src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/08/New-Picture-1-600x564.jpg" alt="Klasifikasi untuk Struktur Polycrystalline" width="420" height="395" /></a><p class="wp-caption-text">Klasifikasi untuk Struktur Polycrystalline</p></div>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Amorphous</em> <em>solids</em> merupakan material yang tidak memiliki keteraturan struktur sama sekali. Material ini tidak memiliki orde struktur yang panjang. Karena ketidakteraturan yang tinggi ini sulit untuk mengidentifikasi sifat dari material <em>amorphous</em>. Contoh produk ini adalah <em>Amorphous Silicon.</em></p>
<p>Dari sisi operasional, meski umur pakai dari kristal dengan sistem <em>crystalline</em> lebih panjang seringkali sistem <em>polycrystalline</em> dan <em>amorphous</em> memiliki daya serap chaya yang lebih baik dari struktur <em>crystalline</em>. Untuk itu sistem <em>polycrystalline</em> dan <em>amorphous</em> saat ini banyak dikembangkan untuk sel surya tipe <em>thin</em> <em>film</em>. Ketebalan dari film dengan kedua struktu ini mampu mereduksi ketebalan film hingga tiga kali lipat ketebalan film dengan struktur <em>crystalline</em> dengan demikian harga material untuk fabrikasi akan menjadi lebih rendah. Selain itu proses fabrikasi untuk menghasilkan struktur solid dengan keteraturan kualitas <em>crystalline</em> juga memerlukan biaya tinggi.</p>
<p>Meski demikian, bukan berarti sistem <em>crystalline</em> tidak memiliki keunggulan disbanding kedua struktur lainnya. Struktur <em>crystalline</em> selain lebih awet karena kisi tidak mengalami beban akumulasi energi pada <em>grain boundary</em> seperti <em>polycrystalline</em>, juga memiliki efisiensi konversi energy yang lebih tinggi. Umumnya efisiensi energi yang dicapai pada operasi normal hampir 20 %. Efisiensi konversi yang dicapai sistem <em>polycrystalline</em> dan <em>amorphous</em> pada umumnya masih di bawah 10 %.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=3060&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/08/pengembangan-mode-sistem-kristal-solar-cell/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perkembangan Teknologi Solar Cell Menuju Teknologi Siap Guna yang Bersih dan Ekonomis</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 31 Jul 2011 14:02:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[cleaning technology]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[equipments]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2987</guid>
		<description><![CDATA[Photovoltaic cell atau lebih dikenal dengan solar cell muncul pertama kali pada tahun 1957. Pada awal kemunculannya, solar cell ditujukan untuk keperluan luar angkasa. Kini telah menjadi teknologi yang umum bagi masyarakat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena menarik dari pengunaan <em>solar cell</em> adalah ia dapat ditemukan pada kawasan pemukiman yang mewah, namun solar cell juga dapat ditemukan pada kawasan remote area dimana listrik sulit masuk ke konsumen karena infrastruktur dan ketersediaan sumber energi yang tidak memadai di daerah tersebut.</p>
<div id="attachment_2988" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/fig1-3/" rel="attachment wp-att-2988"><img class="size-medium wp-image-2988" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/fig1-240x300.jpg" alt="Solar Cell pada Pesawat Luar Angkasa" width="240" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Solar Cell pada Pesawat Luar Angkasa</p></div>
<p><em>Photovoltaic cell</em> atau lebih dikenal dengan <em>solar cell</em> muncul pertama kali pada tahun 1957. Pada awal kemunculannya, <em>solar cell</em> ditujukan untuk keperluan luar angkasa. Sebelumnya, satelit dan pesawat luar angkasa menggunakan batrai kimia untuk memenuhi kebutuhan listrik mereka. Satelit yang memiliki umur operasi tinggi tidak mungkin menggantungkan kebutuhan listrik hanya dari batrai kimia. Di luar angkasa cahaya matahari merupakan satu – satunya sumber energi yang paling mungkin dimanfaatkan. Ide ini merupakan dorongan utama bagi pengembangan sel <em>photovoltaic</em>.</p>
<p>Kini, keterbatasan energi mendorong manusia untuk memanfaatkan segala sumber daya terbaharukan yang ada di lingkungan. <em>Solar cell</em> merupakan salah satu pilar yang dapat digunakan untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi manusia. Meski keterbatasan energi merupakan isu yang mendorong pengembangan <em>solar cell</em>, isu lain yang tidak kalah penting adalah adanya dorongan peradaban untuk merancang sistem penyediaan energi yang tidak hanya aman bagi manusia namun juga bersahabat dengan lingkungan. Pengembangan <em>solar cell</em> menjadi sebuah tuntutan ketika manusia dihadapkan pada berbagai kerusakan lingkungan akibat penggunaan bahan bakar fosil dan <em>global warming</em>.</p>
<p>Perkembangan solar cell diawali dengan perkembangan pengetahuan terkait sifat cahaya sebagai gelombang elektro magnetik dan penemuan Einstein terkait energi <em>photon</em>. Peningkatan penggunaan bahan – bahan semikonduktor   dalam komponen mikroelektronika juga mendorong pada inovasi <em>solar cell. Solar cell</em> telah mengalami banyak perkembangan dari awal penemuannya. Pada awal penemuan, <em>solar cell</em> hanya mampu memproduksi listrik sebesar 1 watt. Kini solar cell yang dipasarkan telah dapat mencapai kapasitar produksi listrik 10 watt. Bahkan pada skala laboratorium, telah peneliti telah mampu menciptakan solar cell dengan kapasitas 10 – 100 watt. Pada awal produksinya <em>solar cell</em> hanya memiliki efisiensi 10 %. Perkembangan teknologi saat ini telah mampu meningkatkan efisiensi energi dari <em>solar cell</em> hingga 18 %. Kajian peneliti menyebutkan bahwa efisiensi maksimum yang mungkin dicapai solar cell adalah 33 % dari total energy matahari yang diserapnya. Peningkatan efisiensi solar cell ini dilakukan dengan berbagai cara salah satunya memainkan luas permukaan kontak silicon dengan plat metal. Selain itu penambahan senyawa phosphor, penyesuaian temperatur optimal operasi <em>solar cell</em>, dan teknologi penyesuaian ketebalan film juga mempengaruhi efisiensi konversi energy solar cell. Terobosan ini menjadikan <em>solar cell</em> semakin dekat kepada konsumennya.</p>
<p><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/new-picture-1-5/" rel="attachment wp-att-2991"><img class="alignnone size-large wp-image-2991" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-11-600x261.jpg" alt="" width="600" height="261" /></a></p>
<p>Banyak perusahaan telah mampu memberikan jaminan umur penggunaan film <em>solar cell</em> 25 tahun. Meski begitu, umur batrai yang digunakan untuk <em>solar cell</em> hanya 2 tahun. Masalah ini merupakan masalah utama dalam penggunaan <em>solar cell</em>. Energi yang dihasilkan dari solar cell berupa energy listrik yang sulit disimpan. Solusi yang ditawarkan para ahli adalah mengkonversi energy listrik yang dihasilkan <em>solar cell</em> menjadi energi kimia yang mudah disimpan. Alternatif proses yang ditawarkan adalah dengan elektrolisis H<sub>2 </sub>dari air laut dan mereaksikan H<sub>2</sub> dengan CO<sub>2</sub>. Metode ini ditunjukkan dalam diagram berikut.</p>
<div id="attachment_2990" class="wp-caption alignnone" style="width: 610px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/new-picture2/" rel="attachment wp-att-2990"><img class="size-large wp-image-2990" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture21-600x384.jpg" alt="Sistem Produksi Metanol dari Air Laut dan CO2 dengan Sumber Energi Solar Cell" width="600" height="384" /></a><p class="wp-caption-text">Sistem Produksi Metanol dari Air Laut dan CO2 dengan Sumber Energi Solar Cell</p></div>
<p>Berbagai saran untuk pengembangan solar cell telah dilakukan. Pengembangan teknologi ini masih tetap dikendalai masalah biaya. Bila dibandingkan dengan energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil, biaya yang dibutuhkan untuk proses produksi energi dari <em>solar cell</em> lebih tinggi. Sebenarnya kalkulasi biaya ini tidak memperhitungkan biaya kompensasi untukpengatasan dampak lingkungan yang ditimbulkan. Jika biaya ini turut diperhitungkan, maka biaya produksi energy dari solar cell akan lebih rendah. Selain itu peningkatan produksi dan penggunaan listrik dari <em>solar cell</em> akan menurunkan biaya operasi persatuan daya yang dihasilkan dari <em>solar cell</em>.</p>
<p>Pustaka:</p>
<p>Green, Martin A., 2000, Power to the People : Sunlight to Electricity Using Solar Cells, University of New South Wales</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2987&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/07/perkembangan-teknologi-solar-cell-menuju-teknologi-siap-guna-yang-bersih-dan-ekonomis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membran Kristalisasi</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jul 2011 09:27:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[equipments]]></category>
		<category><![CDATA[membrane]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2815</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian besar praktisi industri akan mengarahkan pikiran mereka pada sistem waste water treatment ketika mendengar istilah membrane. Masih jarang praktisi yang menyadari luasnya bidang aplikasi unit pemisahan ini. Untuk itu dalam kesempatan ini, membrane akan diperkenalkan dari sisi lain yaitu sebagai unit untuk aplikasi kristalisasi. Pengembangan membran sebagai unit kristalisasi didorong oleh tuntutan konsumen yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2822" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-8/" rel="attachment wp-att-2822"><img class="size-medium wp-image-2822" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture1-300x201.jpg" alt="" width="300" height="201" /></a><p class="wp-caption-text">Kristal NaCl</p></div>
<p>Sebagian besar praktisi industri akan mengarahkan pikiran mereka pada <em>sistem</em> waste water treatment ketika mendengar istilah membrane. Masih jarang praktisi yang menyadari luasnya bidang aplikasi unit pemisahan ini. Untuk itu dalam kesempatan ini, membrane akan diperkenalkan dari sisi lain yaitu sebagai unit untuk aplikasi kristalisasi.</p>
<p>Pengembangan membran sebagai unit kristalisasi didorong oleh tuntutan konsumen yang semakin tinggi terhadap produk kristal dengan ukuran dan betuk dan  distribusi yang seragam. Tuntutan ini terutama berasala dari pasar kristal untuk aplikasi medis dan komponen elektronika. Tuntuan ini tidak mampu dipenuhi oleh unit kristalisasi yang ada saat ini, seperti  <em>Forced Circulated Crystallizer</em> dan <em>Draft Tube Baffled Crystallizer</em>. Kedua tipe ini menghasilkan bentuk dan ukuran kristal yang tidak seragam.</p>
<p>Ide penggunaan membrane untuk keperluan kristalisasi didasarkan pada pemanfaatan control mixing pada struktur berukuran mikro pada membrane untuk menghasilkan kristal dengan struktur dan ukuran seragam. Kedua dalam penggunaan membrane peningkatan luas permukaan kontak akan meningkatkan laju pembentukan inti kristal. Penggunaan membrane dalam proses kristalisasi diharapkan dapat menghasilkan kristal yang lebih baik dari kedua metode konvensional sebelumnya.</p>
<p>Pengembangan teknologi kristalisasi dengan menggunakan membaran sebagai alat intensifikasi proses ini didasarkan pada lima metode utama, yaitu <em>reverse osmosis</em>, distilasi, antisolvent, <em>membrane reactor</em>, dan <em>cooling contactor</em>. Masing-masing metode ini akan menggunakan tipe membrane yang berbeda sebab mekanisme <em>driving forces</em> pada pembentukan kristal dari kelima metode ini juga berbeda.</p>
<p>Membrane crystallizer yang dikembangkan pertamakali adalah dengan metode reverse osmosis. Pengmebangan metode ini ditujukan untuk mengambil produk samping berupa garam anorganik dari proses desalinasi air laut. Proses ini memanfaatkan driving forces murni beda tekan. Kelemahan metode ini selain fluks air (solvent) rendah, masalah <em>fouling</em> membatasi umur dari membrane dan konsentrasi umpan (air laut) yang diperbolehkan untuk aplikasi. Semakin tinggi konsentrasi garam maka proses <em>fouling</em> pada membrane juga akan berlangsung lebih cepat.</p>
<p>Metode berikutnya adalah dengan <em>sistem</em> <em>membrane distillation</em>. <em>Sistem</em> ini mendapat banyak perhatian dari para pengembang proses. Dalam <em>sistem</em> ini, terjadi tiga tahap utama:</p>
<ol>
<li>Tahap evaporasi <em>solvent</em> dari <em>feed</em> pada permukaan membran 1.</li>
<li>Tahap difusi dari uap <em>solvent</em> di sepanjang pori dengan udara yang ada pada pori membran</li>
<li>Tahap kondensasi <em>solvent</em> pada permukaan membran 2 dan  masuk ke aliran distilat.</li>
</ol>
<p>Skema proses ini disajikan pada gambar berikut.</p>
<div id="attachment_2816" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-3-2/" rel="attachment wp-att-2816"><img class="size-medium wp-image-2816" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-3-300x264.jpg" alt="" width="300" height="264" /></a><p class="wp-caption-text">Sistem Mass Transfer pada Membrane Distillation</p></div>
<p>Membrane yang digunakan dalam proses ini adalah membrane <em>porous hydrophobic</em>. Pemilihan material membrane yang <em>hydrophobic</em> didasarkan pada pertimbangan tekanan operasi. Jika digunakan membrane <em>hydrophilic</em>, tekan osmosis yang terjadi antara sisi distilat dan <em>feed</em> akan besar. Untuk melawan tekanan osmosis ini, membrane diharuskan beroperasi pada tekanan tinggi. Hal ini tidak diharapkan karena dikhawatirkan membrane tidak kuat dan akan pecak ketika operasi dilaksanankan.</p>
<p>Karena sifatnya yang <em>hydrophobic</em>, membrane distilasi ini rentan terhadap <em>fouling</em>. Umur membrane akan semakin pendek jika membrane digunakan pada <em>feed</em> dengan konsentrasi garam yang tinggi. Konsentrasi garam yang tinggi memungkinkan garam menempel pada pori membrane distilasi. Garam masuk pada pori, peluang pori terisi <em>solvent</em> cair semakin besar. Hal ini akan mengganggu proses <em>mass</em> <em>transfer</em> pada pori yang seharusnya berlangsung pada fasa gas.</p>
<p>Metode kristalisasi dengan <em>membrane reactor</em> tidak hanya melibatkan perpindahan massa saja. Aplikasi proses kristalisasi dengan membrane reaktor ini telah diterapkan untuk produksi kristal BaSO<sub>4</sub>. Dalam proses ini terjadi reaksi kimia yang menghasilkan garam yang akan terkristalkan. Umumnya tipe membrane yang digunakan di sini berupa <em>shell and tube</em>. Dalam sistem yang ditunjukkan pada gambar membrane reactor, reaksi yang terjadi adalah:</p>
<p><sub><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-8-2/" rel="attachment wp-att-2840"><img class="size-full wp-image-2840 aligncenter" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-8.bmp" alt="" /></a><br />
</sub></p>
<p>Proses yang terjadi pada membrane ini digambarkan pada skema berikut.</p>
<div id="attachment_2817" class="wp-caption aligncenter" style="width: 251px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-4/" rel="attachment wp-att-2817"><img class="size-full wp-image-2817" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-4.jpg" alt="" width="241" height="278" /></a><p class="wp-caption-text">Sistem Kritalisasi pada Membrane Reactor</p></div>
<p>Kristalisasi dengna menggunakan prinsip antisolvent mendasarkan proses penyingkiran pelarut dengan mengekstrak pelarut dengan pelarut lainnya. Penggunaan membrane dalam proses ini bertujuan meningkatkan luas permukaan kontak antar kedua fasa. Dengan peningkatan luas permukaan kontak, diharapkan <em>mass transfer</em> akan berlangsung lebih cepat dan hambatan perpindahan menjadi lebih kecil. Sistem kristalisasi ini digambarkan pada skema alat berikut</p>
<div id="attachment_2820" class="wp-caption alignnone" style="width: 668px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-7/" rel="attachment wp-att-2820"><img class="size-full wp-image-2820" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-7.jpg" alt="" width="658" height="205" /></a><p class="wp-caption-text">Skema Alat Penggunaan Membrane untuk Kristalisasi dengan Sistem Antisolvent</p></div>
<p>Pengembangan membrane crystallizer dengan keempat teknik di atas memanfaatkan membrane <em>porous</em>. Masalah yang terjadi dalam pengoperasian dari keempat membrane di atas adalah <em>fouling</em>. Perkembangan modifikasi <em>membrane crystallizer</em> terbaru mengusahakan penanganan masalah <em>fouling</em> untuk meningkatkan umur penggunaan membrane. Sistem yang saat ini dikembangkan adalah <em>membrane crystallizer</em> dengan <em>sistem</em> pendinginan.</p>
<p>Metode yang digunakan pada <em>membrane crystallizer</em> dengan pendinginan ini jauh berbeda dengan <em>membrane crystallizer</em> sebelumnya. Perpindahan yang terjadi pada membrane ini adalah perpindahan panas bukan massa seperti membrane sebelumnya. Prinsip yang digunakan pada membrane ini adalah menghasilkan larutan lewat jenuh melalui prinsip pendinginan hingga akhirnya terbentuk kristal. Luas permukaan membrane yang besar akan mempercepat laju perpindahan panas dari <em>feed</em> ke fluida pendingin. Sistem ini menawarkan beberapa keunggulan. Pertama, membrane ini mampu mengatasi masalah <em>fouling</em> yang terjadi pada metode kristalisasi dengan <em>membrane porous</em>. Kedua, membrane ini dapat mengatasi penyumbatan pada <em>tube</em> membrane akibat terbentuknya kristal pada dinding <em>tube</em> selama proses pembentukan kristal. Disamping itu produk kristal yang dihasilkan berukuran kecil dan distribusi ukurannya juga seragam. Metode ini baik digunakan untuk kristal organik seperti protein yang tidak tahan terhadap temperature tinggi.</p>
<div id="attachment_2821" class="wp-caption aligncenter" style="width: 288px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/new-picture-5-2/" rel="attachment wp-att-2821"><img class="size-full wp-image-2821" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/07/New-Picture-5.jpg" alt="" width="278" height="318" /></a><p class="wp-caption-text">Sistem Kristalisasi dengan Membrane Melalui Pendinginan</p></div>
<p>Pengembangan membrane sebagai alat intensifikasi kini telah melingkupi berbagai bidang aplikasi yang sangat luas bahkan di luar dari perkiraan para pengembangnya di awal. Tuntutan teknologi dan permintaan konsumen yang makin spesifik pada produk dengan kualitas serta keseragaman yang semakin tinggi dari waktu ke waktu menjadi pemicu inovasi dan kreativitas pengembangan metode.  Kristalisasi dengan menggunakan membrane merupakan salah satu buah kerja keras tersebut. Kedepannya pengembangan metode yang makin selektif dengan produktivitas skala produksi yang semakin besar,  biaya operasi yang semakin rendah dengan dampak lingkungan yang semakin minim akan membawa pada pengembangan dan perbaikan proses di berbagai unit. Melalui pengembangan berbagai alat dan metode intensifikasi peralatan baru diharapkan dihasilkan unit pemroses yang semakin baik dari waktu ke waktu .</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<ol>
<li>A.Konig, D. Weckesser.<em>Membrane Based Evaporation Crystalization</em></li>
<li>E. Drioli, A. Criscuoli, E Curcio, I<em>ntegrated Membrane Operations for Seawater Desalination,</em> Elsevier, 2002</li>
<li>A. Gugliuzza, E. Curcio , E.Drioli, G. Di Profio, M.Aceto, S.Simone,R. Madonna, <em>Novel Functional Per-fluofinated Membranes: Suitable, Nucleating Systems for Protein Crystallization</em></li>
<li>E. DrioliA <em>Review on Membrane Crystallization</em>.</li>
<li>E. Curcio, G. Di Profio, E. Drioli, <em>A New Membrane Based Crystallization Technique: Test on Lysozyme</em>, Elsevier, 2002</li>
<li>E. Curcio, G. Di Profio, E. Drioli, <em>Membrane Crystallization of Macromolecular Solutions,</em> Elsevier, 2002</li>
<li>M. Gryta, <em>Direct Contact Membrane Distillation with Crystalization Applied to Na Cl Solutions</em>, 2001</li>
<li>E. Curcio, G. Di Profio, E. Drioli, M<em>embrane Conttactors: Fundamentals, Applications, and Potentialities,</em> Journal of Membrane Science and Technology,2006</li>
<li><a href="http://www.emeraldbiosystems.com/blog/post/Membrane-Protein-Crystallization-with-Additives-in-LCP.aspx">http://www.emeraldbiosystems.com/blog/post/Membrane-Protein-Crystallization-with-Additives-in-LCP.aspx</a></li>
<li>BIWIC 2006: 13th International Workshop on Industrial Crystallization</li>
<li>Zhiqian et al.,<em>Synthesis of nanosized BaSO4 Particles with a Membrane Reactor: Effects of Operating Parameters on Particles</em>, Journal of Membrane Science, 2002.</li>
<li>Zarkadas et al.,<em>Solid Hollow Fier Cooling Crystallizatio</em>n, 2004.</li>
<li>Sirkar, Kamalesh K. et al., <em>Antisolvent Crystallization in Porous Hollow Fiber Devices and Methods of Use Thereof</em>, 2007</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2815&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/07/membran-kristalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbedaan Pemanfaatan Tebu dan Sorgum dalam Industri</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/03/perbedaan-pemanfaatan-tebu-dan-sorgum-dalam-industri/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/03/perbedaan-pemanfaatan-tebu-dan-sorgum-dalam-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 16 Mar 2011 17:46:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Hadinata Rimbualam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2613</guid>
		<description><![CDATA[Tebu &#38; sorgum manis merupakan dua komoditas yang termasuk penting dalam industri gula sehingga dalam kesempatan ini akan dibahas mengenai perbedaan pemanfaatan antara tebu dan sorgum manis dalam industri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>TEBU DAN SORGUM MANIS</strong></p>
<p>Sukrosa gula atau gula meja sukrosa yang biasa kita kenal berasal dari hasil ekstraksi tanaman. Dua tanaman gula yang paling penting adalah tebu (Saccharum spp.) dan bit (Beta vulgaris), dengan kadar gula bisa mencapai 12% &#8211; 20% dari berat kering tanaman. Beberapa tanaman gula komersial lainnya termasuk kurma (Phoenix dactylifera), sorgum (Sorghum vulgare), dan mapel (Acer saccharum). Tebu &amp; sorgum manis merupakan dua komoditas yang termasuk penting dalam industri gula sehingga dalam kesempatan ini dibahas mengenai perbedaan pemanfaatan antara tebu dan sorgum manis dalam industri.</p>
<p><strong>1. Tebu</strong></p>
<p>Tebu (Saccharum) merupakan genus yang terdiri dari 6-37 spesies (tergantung dari pengertian taksonominya) dari rerumputan tinggi (famili Poaceae), berasal dari kawasan bersuhu hangat hingga tropis di Dunia Tua (sebagian Eropa, Asia dan Afrika) dan Pasifik. Umur tanaman sejak ditanam sampai bisa dipanen mencap<a href="http://majarimagazine.com/2011/03/perbedaan-pemanfaatan-tebu-dan-sorgum-dalam-industri/url-2/" rel="attachment wp-att-2616"><img class="alignright size-full wp-image-2616" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/03/url1.jpg" alt="Tebu" width="331" height="248" /></a>ai kurang lebih 7-8 bulan. Di Indonesia tebu banyak dibudidayakan di pulau Jawa dan Sumatra. Contohnya di daerah Malang. Luas lahan tebu di Kabupaten Malang lebih dari 40 hektar dengan hasil panen (produksi) sekitar 1 juta ton per tahun.</p>
<p>Tanaman ini memiliki batang berserat yang kuat dan beruas dengan ketinggian 2-6 m dan mengandung cairan yang kaya dengan gula. Seluruh spesies saling berkawinan, dan varietas komersial yang paling banyak ditemui adalah jenis hibrida kompleks terutama dari varietas Saccharum officinarum,S. spontaneum, S. barberi dan S. sinense.</p>
<p>Budidaya tanaman tebu membutuhkan iklim tropis atau subtropis dengan curah hujan paling sedikit 600 mm per tahun. Temperatur optimum untuk perkecambahan tebu adalah 26-33°C dan 30-33°C untuk pertumbuhan vegetatif. Tanaman ini memiliki kemampuan fotosintesis yang paling efisien dibandingkan dengan seluruh jenis tanaman lainnya, dan dimana dapat mengubah sebanyak 2% energi matahari menjadi biomassa.</p>
<p>Jumlah tebu diperbanyak dan dibiakkan dari pemotongan batang-batangnya dan bukan dari benih. Setiap potong paling tidak musti harus mengandung satu ruas bakal-tanaman (bud), dan potongan-potongan tersebut biasanya ditanam secara manual dengan tangan. Dalam sekali tanam, satu batang tebu dapat dipanen hingga beberapa kali; setelah tiap kali pemanenan, anakan tebu akan tumbuh menjadi batang-batang baru dinamakan ratoons. Hasil yang didapat pada pemanenan berikutnya biasanya lebih rendah, oleh karena itu dilakukan penanaman kembali. Pada tiap penanaman, panen dapat dilakukan 2 hingga 10 kali tergantung pada praktik pertanian yang dilakukan. Rata-rata tebu yang dihasilkan adalah 100 ton tebu per hektar atau 10 ton gula per hektar.</p>
<p><strong>2. Sorgum</strong></p>
<p>Sorgum merupakan genus yang terdiri dari 20 spesies rumput-rumputan, berasal dari kawasan tropis hingga subtropis di Afrika Timur, dengan satu spesies di antaranya berasal dari Meksiko. Tanaman ini dibudidayakan di Eropa Selatan, Amerika Tengah dan Asia Selatan. Sorgum mempunyai masa panen selama 3-4 bulan. Gula dapat diekstrak dari biji-bijinya, namun ekstraksi ini hanya dilakukan secara lokal dalam skala kecil.</p>
<p>Biji sorgum yang mengandung karbohidrat cukup tinggi sering digunakan sebagai bahan baku berbagai industri seperti industri bir, pati, gula cair (sirup), jaggery (sejenis gula merah), etanol, lem, cat, kertas, d</p>
<div id="attachment_2615" class="wp-caption alignright" style="width: 241px"><a href="http://majarimagazine.com/2011/03/perbedaan-pemanfaatan-tebu-dan-sorgum-dalam-industri/url/" rel="attachment wp-att-2615"><img class="size-full wp-image-2615" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/03/url.jpg" alt="" width="231" height="308" /></a><p class="wp-caption-text">Sorgum</p></div>
<p>egradable plastics dan lain-lain. Batangnya juga mengandung kadar gula cukup tinggi dan digunakan untuk pakan ternak ruminansia, gula cair (sirup), jaggery dan bioetanol.</p>
<p>Sorgum merupakan salah satu tumbuhan yang dibudidayakan khusus sebagai sumber karbon dan energi untuk menghasilkan produk-produk berbasis biomassa selain pangan dan pakan. Sehingga lebih banyak digunakan untuk memproduksi bioetanol. Pada dasarnya, bioetanol adalah etanol yang terbuat dari sumber daya hayati. Indonesia sangat kaya dengan bahan mentah bioetanol, sorgum manis salah satunya. Dengan hasil panen sebesar 80 ton/ha/tahun, sorgum manis dapat diproduksi menjadi etanol sebanyak 6000 liter/ha/tahun.</p>
<p>Untuk sekali siklus panen, produksi bioetanol sorgum di Amerika Serikat mencapai 10.000 liter/ha/tahun, di India 3.000 – 4.000 liter/ha/tahun, dan di Cina mencapai 7000 liter/ha/tahun. Di Cina sorgum banyak dibudidayakan dan dikembangkan dalam kaitan pemingkatan produktivitas lahan-lahan marjinal yang sering terkena wabah kekeringan dan salinitas tinggi. Di India bioetanol sorgum digunakan sebagai bahan bakar untuk lampu penerangan (pressurized ethanol lantern) disebut “Noorie” yang menghasilkan 1.250-1.300 lumens (setara bola lampu 100 W), kompor pemasak (pressurized ethanol stove) yang menghasilkan kapasitas panas 3 kW. Selain itu, pemerintah India telah mengeluarkan kebijakan mencampur bioetanol sorgum dengan bensin untuk bahan bakar kendaraan bermotor.</p>
<p><strong>Dari pemaparan tebu dan sorgum di atas , terdapat perbedaan pemanfaatan antara keduanya dalam industri.</strong></p>
<p>1. Sorgum tidak dapat diproduksi menjadi gula kristal (padat). Hal ini dikarenakan kandungan amilum pada tebu terlalu tinggi sehingga sulit dikristalisasi. Dampak dari kondisi ini yaitu sorgum manis lebih banyak diproduksi menjadi gula cair. Sedangkan tanaman tebu memiliki kadar amilum yang sesuai sehingga gulanya dapat dikristalisasi. Oleh karena itu tebu digunakan sebagai komoditas utama industri gula pasir.</p>
<p>2. Tanaman sorgum lebih baik dalam memproduksi bioetanol karena memiliki produksi biji dan biomassa yang jauh lebih tinggi dibanding tanaman tebu.</p>
<p>3. Masa panen sorgum lebih cepat yaitu hanya 3-4 bulan dibandingkan dengan tebu yang dipanen pada umur 7 bulan. Selain itu sorgum dapat diratun sehingga untuk sekali tanam dapat dipanen beberapa kali.</p>
<p>4. Adaptasi sorgum jauh lebih luas dibanding tebu sehingga sorgum dapat ditanam di hampir semua jenis lahan, baik lahan subur maupun lahan marjinal.</p>
<p>5. Tanaman sorgum memilki sifat lebih tahan terhadap kekeringan, salinitas tinggi dan genangan air (water lodging) dibandingkan dengan tebu</p>
<p>6. Kebutuhan air untuk tanaman sorgum hanya sepertiga dari tanaman tebu.</p>
<p>7. Sorgum memerlukan pupuk relatif lebih sedikit dan pemeliharaannya lebih mudah daripada tanaman tebu.</p>
<p>8. Menanam sorgum lebih mudah, kebutuhan benih hanya 4,5–5 kg/ha dibanding tebu yang memerlukan 4.500–6.000 kg stek batang.</p>
<p>9. Secara tradisional, bioetanol telah lebih lama diproduksi dari molases hasil limbah pengolahan gula tebu (sugarcane). Hara molases tebu relatif lebih murah</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="text-decoration: underline"><strong>Reference:</strong></span></p>
<ol>
<li>http://www.food-info.net/id/products/sugar/sources.htm</li>
<li>http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum_etanol.html</li>
<li>http://www.batan.go.id/patir/_berita/pert/sorgum/sorgum.html</li>
<li>http://www.gatra.com/2009-07-02/artikel.php?id=127752</li>
<li>http://agribisnis.deptan.go.id/index.php?mod=detail_informasi?=1&amp;kat=&amp;fuse=663</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2613&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/03/perbedaan-pemanfaatan-tebu-dan-sorgum-dalam-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tantangan Reverse Flow Reactor dalam Mengatasi Global Warming</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/02/tantangan-reverse-flow-reactor-dalam-mengatasi-global-warming/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/02/tantangan-reverse-flow-reactor-dalam-mengatasi-global-warming/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Feb 2011 15:40:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Hadinata Rimbualam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[cleaning technology]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2592</guid>
		<description><![CDATA[Reverse Flow Reactor merupakan salah satu teknologi yang sedang diuji coba oleh banyak peneliti di dunia untuk mengatasi global warming, yaitu dengan cara mengoksidasi gas metana encer akibat kebocoran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Fenomena global warming merupakan kasus yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. Penelitian ilmiah di dunia sekarang sedang tertuju pada teknologi bagaimana cara mengatasi peristiwa global warming ini. Salah satu metodologi untuk mengatasi fenomena pemanasan global ini adalah dengan mengolah emisi gas rumah kaca yang menjadi penyebab fenomena ini. Salah satu gas rumah kaca yang berbahaya dan berjumlah banyak di atmosfer bumi kita adalah gas metana (CH4). Dampak bahaya dari gas metana seringkali dinyatakan dalam ekivalen dengan efek gas karbondioksida (Marín dkk., 2008).</p>
<p>Gas metana merupakan gas rumah kaca kedua terbanyak, yang memberikan dampak 20 kali lebih berbahaya daripada gas karbon dioksida. Gas metana dalam jumlah yang besar dilepaskan ke atmosfer bumi dari pertambangan batubara setiap tahunnya (Wang dkk, 2010). Sumber emisi gas metana yang cukup besar adalah dari industri batu bara, minyak bumi, dan gas alam. Gas metana dapat dioksidasi sehingga menghasilkan gas karbon dioksida. Dengan demikian, pengaruh gas rumah kaca terhadap pemanasan global dapat tereduksi sebesar 87% (Hayes, 2004).</p>
<div id="attachment_2594" class="wp-caption aligncenter" style="width: 283px"><a rel="attachment wp-att-2594" href="http://majarimagazine.com/2011/02/tantangan-reverse-flow-reactor-dalam-mengatasi-global-warming/rfr-3/"><img class="size-full wp-image-2594" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/RFR.jpg" alt="Reverse Flow Reactor" width="273" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Reverse Flow Reactor (RFR)</p></div>
<p>Metana merupakan senyawa hidrokarbon yang sulit dibakar (Marin, 2005). Untuk dapat melangsungkan reaksi, gas metana harus dipanaskan sampai temperatur yang relatif tinggi (500 C). Sedangkan untuk reaksi katalitik, diperlukan temperatur sekitar 1000 C agar aktivitas katalis semakin baik. Akan tetapi, emisi gas metana akibat kebocoran berada pada temperatur lingkungan sehingga diperlukan pemanasan awal sebelum metana dimasukkan ke dalam reaktor. Selain itu, konsentrasi emisi gas metana akibat kebocoran ini rendah dan berfluktuasi sehingga memerlukan teknologi yang tepat untuk mengolahnya (Salomons dkk., 2003). Jurnal Energi Fuels 2010 juga menyatakan bahwa kebocoran emisi gas metana, yang diberikan nama VAM (ventilation air methane), bersifat tidak stabil dan biasanya memiliki konsentrasi kurang dari 1 %-volum sehingga tidak dapat dibakar dengan metode pembakaran yang tradisional. Oleh karena itu, teknologi pengolahan yang efisien telah menjadi tantangan bagi para peneliti di dunia (Wang dkk, 2010).</p>
<p>Hingga saat ini, belum ada teknologi yang tepat dan memuaskan dalam mengolah emisi gas metana. Salah satu metode yang telah dicoba adalah dengan mengoksidasinya di dalam reaktor katalitik aliran bolak-balik (Reverse Flow Reactor, RFR). Perbedaan utama reaktor ini dengan reaktor searah adalah arah alirannya. RFR menggunakan 2 arah aliran yang saling berlawanan. Jika reaktor dirancang dan dioperasikan dengan prosedur yang tepat, aliran bolak-balik seperti ini dapat menjebak panas (heat trap) yang dihasilkan dari reaksi oksidasi metana yang bersifat eksotermik, sehingga temperatur di dalam reaktor cukup tinggi. Dengan demikian, gas metana tidak perlu dipanaskan dengan preheater sebelum oksidasi metana berlangsung (Salomons dkk., 2003). Reaksi oksidasi metana tersebut akan dapat mengurangi dampak pemanasan global dari efek gas rumah kaca seperti yang telah disebutkan pada bagian sebelumnya.</p>
<p>Reaktor katalitik aliran bolak balik merupakan salah satu alternatif dari pengoperasian reaktor tak tunak. Konsep pengoperasian dengan prinsip utama mengubah aliran yang melalui reaktor secara periodik dikenal dengan nama Reaktor Katalitik Aliran Bolak-Balik (Reverse Flow Reactor, RFR) (Budhi, 2004). Reaktor katalitik aliran bolak-balik merupakan reaktor unggun diam (fixed bed) yang arah aliran yang melalui reaktor dibuah secara periodik secara periodik dalam selang waktu tertentu yang sering dikenal dengan nama waktu ubah (switching time) (Budhi, 2005).</p>
<p>Beberapa penelitian yang berkaitan dengan perancangan reaktor katalitik aliran bolak-balik untuk oksidasi emisi metana yaitu dengan menambahkan insulasi pada reaktor untuk menjebak panas secara sempurna. Sebagian panas dapat diambil dari insulasi tersebut agar panas dalam reaktor tidak berlebihan. Panas yang diambil tersebut dapat digunakan untuk membuat steam dan dapat dikonversi menjadi energi listrik (Litto dkk., 2006).</p>
<p><strong>Reference:</strong></p>
<ol>
<li>Budhi, Y.W.; Jaree, A.; Hoebink, J.H.B.J.; Schouten, J.C., “Simulation of Reverse Flow Operation for Manipulation of Catalyst Surface Coverage in the Selective Oxidation of Ammonia”, Chemical Engineering Science Vol 59, 2004.</li>
<li>Budhi, Y.W.,”Reverse Flow Reactor Operation for Control of Catalyst Surface Coverage”, Disertasi Doktor, Technische Universiteit Eindhoven, 2005.</li>
<li>Hayes, R.E., “Catalytic Solutions for Fugitive Methane Emissions in the Oil and Gas Sector”, Chemical Engineering Science 59 4073-4080, 2004.</li>
<li>Litto, R.; Hayes, R.E.; Liu, B.,”Capturing Fugitive Methane Emissions from Natural Gas Compressor Buildings”, Journal of Environmental Management 84 (2007) 347-361, 2006.</li>
<li>Marín, P.; Hevia, Miguel A.G.; Ordónez, S.; Díez, F.V., “Combustion of Methane Lean Mixtures in Reverse Flow Reactors: Comparison Between Packed and Structured Catalyst Beds”, Catalysis Today 105, 701–708, 2005.</li>
<li>Marín, P.; Ordónez, S.; Díez, F.V., “Procedures for Heat Recovery in the Catalytic Combustion of Lean Methane–Air Mixtures in a Reverse Flow Reactor”, Chemical Engineering Journal 147, 356–365, 2008.</li>
<li>Salomons, S.; Hayes, R. E; Poirier, M.; Sapoundjiev, H., “Flow Reversal Reactor for the Catalytic Combustion of Lean Methane Mixtures”, Catalysis Today 83, 59–69, 2003.</li>
<li>Wang, Y.; Man, C.; Che, D.,” Catalytic Combustion of Ventilation Air Methane in a Reverse-Flow Reactor”, Energy Fuels 2010, 24, 4841–4848, 2010.</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2592&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/02/tantangan-reverse-flow-reactor-dalam-mengatasi-global-warming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reforming</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 13:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[equipments]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2376</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pabrik urea, ammonia diperoleh melalui reaksi N2 dan H2. Gas hidrogen (H2) diperoleh dari gas alam yang dilewatkan reaktor reformer. Reaksi reformasi yang digunakan umumnya adalah steam reforming ( reformasi kukus).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pabrik urea, ammonia diperoleh melalui reaksi N<sub>2</sub> dan H<sub>2</sub>. Gas hidrogen (H<sub>2</sub>) diperoleh dari gas alam yang dilewatkan reaktor reformer. Reaksi reformasi yang digunakan umumnya adalah <em>steam reforming</em> ( reformasi kukus). Reaksi <em>steam reforming</em> ini  melibatkan reaksi:</p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-2533" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/new-picture-5/"><img class="size-medium wp-image-2533 aligncenter" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/New-Picture-172x300.jpg" alt="" width="172" height="300" /></a></p>
<p>Dari reaksi yang ada dapat kita pastikan bahwa dalam reformer terjadi reaksi yang sangat kompleks. Untuk itu komposisi keluaran proses reformer akan bervariasi tergantung dari komposisi umpan, temperatur, tekanan operasi, dan katalis yang digunakan.</p>
<div id="attachment_2460" class="wp-caption aligncenter" style="width: 325px"><a rel="attachment wp-att-2460" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/uhde_tech_image1_9-00/"><img class="size-full wp-image-2460 " src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/uhde_tech_image1_9.00.jpg" alt="" width="315" height="368" /></a><p class="wp-caption-text">Steam Reformer</p></div>
<p>Dalam perkembangannya, steam reforming dikembangkan untuk menghasilkan teknologi yang lebih tepat guna khususnya untuk produksi gas hidrogen sebagai bahan bakar <em>fuel cell</em> atau bahan baku pabrik seperti pada pabrik ammonia. Teknologi ini dikenal dengan <em>autot hermal reforming</em>. <em>Steam reformer</em> reaksi utama antara metan dan uap air. <em>Auto thermal reformer</em> pada dasarnya merupakan gabungan dari <em>steam reformer</em> dan <em>partial oxidation</em> methan. Kedua reaktor ini dapat dioperasikan pada temperatur 1023 – 1123 K seperti pada percobaan Souza dkk.</p>
<div id="attachment_2562" class="wp-caption aligncenter" style="width: 508px"><a rel="attachment wp-att-2562" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/new-picture-1-2/"><img class="size-full wp-image-2562" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/New-Picture-11.jpg" alt="" width="498" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">(a)Selektivitas Pembentukan Syngas Reformer (b) Perbandingan H2 Terhadap CO (Souza, 2008)</p></div>
<p>Baik <em>auto thermal reforming converter</em> maupun <em>steam reformer converter</em>, keduanya masih digunakan hingga saat ini. Kedua converter ini memiliki keunggulan masing-masing. Dalam pemilihan refoermer yang akan digunakan, kita perlu mengtahui sasaran proses. Untuk proses yang membutuhkan hidrogen tinggi maka <em>auto thermal reformer</em> tepat untuk dipilih. Jika proses mengutamakan selektivitas syngas yang tinggi maka steam reformer saja sudah cukup. Dari sisi ekonomi, meski efisiensi energi untuk <em>auto thermal reformer</em> lebih baik dari <em>steam reformer</em> namun harga unit <em>steam reformer </em>lebih rendah radi pada <em>auto thermal reformer.</em></p>
<h3>Daftar Pustaka</h3>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Souza , A. E. A. M., Maciel , L. J. L., Knoechelmann , Filho, A., N.  M. Lima, Abreu, C. A. M. Comparative Evaluation Between Steam and  Atothermal Reforming of  Methane Processes to Produce Syngas, 2008</li>
<li>Adris, Alaa-Eldin M., A Fluidized Bed Membrane Reactor for Steam Methane Reforming: Experimental Verification and Model Validation, 1994</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2376&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penggunaan PVA Microsphare untuk Pengobatan Uterine Fibroid</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/01/penggunaan-pva-microsphare-untuk-pengobatan-uterine-fibroid/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/01/penggunaan-pva-microsphare-untuk-pengobatan-uterine-fibroid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Jan 2011 12:42:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[polymer]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2305</guid>
		<description><![CDATA[Uterine fibroid merupakan tumor jinak yang  terdapat pada rahim. Uterine fibroid merupakan jenis tumor yang paling banyak ditemukan pada organ reproduksi wanita. Sekitar 20 – 25% wanita di dunia menderita Uterine Fibroide dan 40% dari penderita berusia 50 tahun ke atas.Proses Uterine Fibroid Embolisatin dengan microsphere PVA telah memberi harapan penyembuhan bagi sekitar 86% penderita Uterine Fibroid. Selain itu proses ini menjanjikan penanganan yang lebih nyaman dan cepat bagi pasien dengan waktu pemulihan 7 hari.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Uterine fibroid </em>merupakan tumor jinak yang  terdapat pada rahim. <em>Uterine fibroid</em> merupakan jenis tumor yang paling banyak ditemukan pada organ reproduksi wanita. Sekitar 20 – 25% wanita di dunia menderita <em>Uterine Fibroide </em>dan 40% dari penderita berusia 50 tahun ke atas.</p>
<div id="attachment_2451" class="wp-caption alignleft" style="width: 164px"><a rel="attachment wp-att-2451" href="http://majarimagazine.com/2011/01/penggunaan-pva-microsphare-untuk-pengobatan-uterine-fibroid/new-picture/"><img class="size-full wp-image-2451" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/01/New-Picture.jpg" alt="" width="154" height="217" /></a><p class="wp-caption-text">Uterine Fibroid</p></div>
<p>Pada awalnya, penanganan kasus <em>Uterine Fibroid</em> melalui dua metode yaitu metode hormon dan metode operasi. Kedua metode ini tidak memberikan hasil yang memuaskan. Metode hormon dilakukan dengan memberikan hormon <em>anti-estrogen</em> seperti <em>progesteron</em>. Pemberian hormon ini tidak dapat dilakukan terus menerus karena dapat mengakibatkan osteoporosis dan sindrom manopouse dini. Metode operasi sendiri tidak jarang mengharuskan pengankatan rahim dan sering kali melukai organ abdomen. Pelaksanaan operasi juga tidak dapat memberi jaminan bahwa tumor tidak akan tumbuh kembali setelah tumor diangkat. Selain itu pelaksanaan operasi juga memiliki resiko kegagalan, pendaarahan yang membahayakan pasien, dan memerlukan waktu pemulihan yang lama (6 minggu waktu istirahat).</p>
<p>Penemuan metode embolisasi dan penerapannya pada kasus tumor sejak tahun 1990 memberikan harapan pada pasien <em>Uterine Fibroid</em>. Metode embolisasi dilakukan dengan memasukkan material ke dalam pembuluh darah untuk menyumbat aliran arteri. Melalui metode embolisasi ini diharapkan dapat menghentikan asupan makanan ke sel tumor. Saat ini material yang paling tepat digunakan untuk proses embolisasi <em>Uterine Fibroid</em> adalah PVA (Poly Vinyl Alcohol). PVA dipilih karena murah, biokompatibel, tidak beracun dan aman untuk proses embolisasi.</p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-2328" href="http://majarimagazine.com/?attachment_id=2328"></a></p>
<div id="attachment_2452" class="wp-caption aligncenter" style="width: 304px"><a rel="attachment wp-att-2452" href="http://majarimagazine.com/2011/01/penggunaan-pva-microsphare-untuk-pengobatan-uterine-fibroid/new-picture-3/"><img class="size-full wp-image-2452 " src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/01/New-Picture-3.jpg" alt="" width="294" height="294" /></a><p class="wp-caption-text">Prinsip Embolisasi pada Uterine Fibroid</p></div>
<p>PVA akan diinjeksikan dalam bentuk <em>microsphere</em> PVA. Disebut <em>microsphere</em> karena PVA tersuspensi dalam cairan pembawa, dalam cairan ini partikel PVA akan memiliki bentuk s<em>phare </em>(elips) jika diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 1000 kali. Bentuk ini hanya dapat terjadi jika PVA yang digunakan memiliki bentuk regular.  Tantangan dalam pengembangna PVA <em>microsphere </em>ini terletak pada pengadaan suspensi PVA yang tidak hanya memiliki bentuk <em>sphare</em> atau elips namun juga memiliki ukuran partikel seragam, tidak mengalami aglomerasi akibat kontak antar permukaan partikel PVA, dan memiliki ukuran diameter yang mudah dikalibrasi. Ukuran PVA yang paling sesuai untuk embolisasi <em>Uterine Fibroid</em> ada pada rentang 300 – 500 µm atau 500 – 700 µm. Penggunaan partikel dengan ukuran terlalu kecil dapat mengakibatkan penyumbatan di pembuluh nontarget seperti <em>collateral uretro ovarian</em>.</p>
<p>Proses pembuatan PVA microsphere yang dilakukan saat ini antara lain:</p>
<ol>
<li>larutkan polyvinylalcohol dalam larutan asam;</li>
<li>tambahkan aldehid sebagai larutan sampingang polyvinylal cohol dalam campuran;</li>
<li>tambahkan minyak untuk menghasilkan emulsi  antara 0.1 – 10% dengan HLB kurang dari 5, dengan demikian dihasilkan emulsi droplet PVA yang tersuspensi dalam minyak;</li>
<li>panaskan campuran untuk menyingkirkan aldehid dalam campuran dan pembentukan <em>spharical particle</em> melalui reaksi <em>crosslin</em>k polyvinylalcohol;</li>
<li>netralkan <em>said active aldehyde</em> pada <em>said spherical particles</em> dari rantai PVA yang sudah mengalami <em>crosslink</em>;</li>
<li>bilas <em>said spherical particles</em> yang sudah dinetralkan dengan buffer</li>
<li> sterilisasi partikel yang terbentuk.</li>
</ol>
<p>Metode ini menghasilkan PVA m<em>icrosphere</em> dengan ukuran partikel antara 10 &#8211; 2000µm. Samapai saat ini PVA yang digunakan dalam proses embolisasi masih dihasilkan dari metode produksi ini. Penemuan metode produksi PVA microsphere ini telah memberikan sumbangsih besar bagi kasus medis pendarahan serta penanganan tumor khususnya pada <em>Uterine Fibroid</em>.</p>
<p>Hingga saat ini proses <em>Uterine Fibroid Embolisatin</em> dengan <em>microsphere </em>PVA telah memberi harapan penyembuhan bagi sekitar 86% penderita <em>Uterine Fibroid</em>. Selain itu proses ini menjanjikan penanganan yang lebih nyaman dan cepat bagi pasien dengan waktu pemulihan 7 hari.</p>
<h3>Daftar Pustaka</h3>
<ul></ul>
<ol>
<li>Kirsch, Robert.L. Worthington, dkk., <em>Polyvinyl Alcohol Particle Size for Uterine Artery Embolization</em>, 2000, Department of Interventional Radiology, Delaware Valley Imaging.</li>
<li>Spies, James B., Benati, James F., dkk, <em>Initial Experience with Use of Tris-acryl Gelatin Microspheres for UterineArtery Embolization for Leiomyomata,</em> 2001</li>
<li><a href="http://www.mirs.org/Articles/Fibroids/Fibroid.htm">http://www.mirs.org/Articles/Fibroids/Fibroid.htm</a></li>
<li><a href="http://www.freepatentsonline.com/7591993.html">http://www.freepatentsonline.com/7591993.html</a></li>
<li><a href="http://radiology.rsna.org/content/218/2/605.full">http://radiology.rsna.org/content/218/2/605.full</a></li>
<li><a href="http://www.jvir.org/article/S1051-0443%2810%2900915-2/abstract">http://www.jvir.org/article/S1051-0443(10)00915-2/abstract</a></li>
<li><a href="http://www.fibroidoptions.com/agents.htm">http://www.fibroidoptions.com/agents.htm</a></li>
<li>http://emedicine.medscape.com/article/421734-overview</li>
</ol>
<ul></ul>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/01/penggunaan-pva-microsphare-untuk-pengobatan-uterine-fibroid/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Builder dan Aditif dalam Deterjen</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Jun 2009 01:19:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[detergent]]></category>
		<category><![CDATA[polymer]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1796</guid>
		<description><![CDATA[Secara umum, formula deterjen terdiri dari surfaktan untuk mempengaruhi sudut kontak sistem pencucian, builder untuk membantu efisiensi surfaktan dalam proses pembersihan kotoran, dan aditif untuk meningkatkan daya cuci. Apa saja builder dan aditif yang dapat ditambahkan ke dalam deterjen?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1797" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/detergent.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1797" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/detergent-150x150.jpg" alt="deterjen" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Deterjen</p></div>
<p>Deterjen berhubungan dengan pembersihan benda padat. Pembersihan benda padat adalah penyingkiran benda yang tak diinginkan dari permukaannya. Pembersihan ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, antara lain pemisahan mekanik sederhana (misalnya mengucek dan mencelupkan kain ke air), pemisahan dengan pelarut (misalnya penambahan pelarut organik), dan pemisahan dengan menambahkan air dan bahan kimia seperti surfaktan.</p>
<p>Sistem pencucian dengan deterjen terdiri dari benda padat yang akan dibersihkan, yang disebut substrat, pengotor yang akan dibersihkan melalui proses pencucian, dan <em>liquid bath</em> (cairan yang mengandung air dan surfaktan untuk membersihkan). Hasil pencucian akan bergantung pada interaksi elemen-elemen tersebut dan kondisi pencucian yang digunakan, seperti temperatur, waktu, energi mekanik yang diberikan, dan kesadahan air yang digunakan. </p>
<p>Deterjen memiliki formula untuk membersihkan substrat yang kotor di bawah kondisi pencucian yang bervariasi. Beberapa deterjen, seperti sabun toilet, hanya terdiri dari satu komponen. Beberapa deterjen lainnya, memiliki lebih dari satu komponen. Secara umum, formula deterjen yang mengandung lebih dari satu komponen terdiri dari surfaktan, <em>builder</em>, dan aditif.</p>
<p>Surfaktan dalam deterjen berguna untuk mempengaruhi sudut kontak sistem pencucian, sedangkan <em>builder</em> memiliki fungsi untuk membantu efisiensi surfaktan dalam proses pembersihan kotoran. Salah satu kemampuan<em> buider</em> yang penting dan banyak digunakan adalah untuk menyingkirkan ion penyebab kesadahan dari cairan pencuci dan mencegah ion tersebut berinteraksi dengan surfaktan. Hal ini dilakukan karena interaksi tersebut akan menyebabkan penurunan efektivitas pencucian. Secara umum, <em>builder</em> memberikan alkalinitas ke cairan pencuci sehingga berfungsi juga sebagai alkali. Selain itu, <em>builder</em> juga memberikan efek anti-redeposisi. Beberapa contoh builder yang banyak digunakan antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>Zeolit </strong>(Na2Ox.Al2O3y.SiO2z.pH2O). Zeolit berfungsi sebagai <em>builder</em> penukar ion. Zeolit yang banyak digunakan adalah zeolit tipe A. Ion natrium akan dilepaskan oleh kristal zeolit dan digantikan dengan ion kalsium dari air sadah. Hal ini akan menyebabkan penurunan kesadahan dari air pencuci.</li>
<li><strong>Clay</strong>. Clay, seperti kaolin, montmorilonit, dan bentonit juga dapat digunakan sebagai <em>builder</em>. Natrium bentonit, misalnya dapat melunakkan air akibat kemampuannya menyerap ion kalsium. Namun, clay dipertimbangkan sebagai bahan yang memiliki efektivitas pelunakkan air yang lebih rendah dibandingkan zeolit tipe A.  Penggunaan clay sebagai builder juga memiliki nilai tambah lain. Clay montmorilonit, misalnya, dapat berfungsi sebagai komponen pelembut. Komponen ini akan diserap dan difilter ke dalam pakaian selama proses pencucian dan pembilasan.</li>
<li><em><strong>Nitrilotriacetic acid. </strong></em>Senyawa N(CH2COOH)3 atau biasa disebut NTA ini, merupakan salah satu <em>builder </em>yang kuat. Senyawa ini merupakan tipe<em> builder</em> organik. Namun, penggunaaannya memiliki efek samping pada kesehatan dan lingkungan.</li>
<li><strong>Garam netral</strong>. Natrium sulfat dan natrium klorida merupakan garam-garam netral yang dapat digunakan sebagai <em>builder</em>. Selain itu, senyawa-senyawa ini juga dipertimbangkan sebagai filler yang dapat mengatur berat jenis deterjen. Natrium sulfat juga dapat menurunkan Critical Micelle Concentration (CMC) dari surfaktan organik sehingga konsentrasi pencucian efektif dapat tercapai.</li>
</ol>
<p>Aditif organik dalam deterjen juga dapat ditambahkan untuk meningkatkan daya cuci. Peningkatan daya cuci yang dimaksud dapat meliputi beberapa hal, yaitu:</p>
<ol>
<li>Menurunkan pengendapan kembali kotoran</li>
<li>Meningkatkan efek <em>whiteness</em> dan <em>brightness</em></li>
<li>Meningkatkan kemudahan terlepasnya kotoran</li>
<li> Menurunkan atau menigkatkan pembusaan seperti yang diinginkan</li>
<li>Menaikkan tingkat kelarutan deterjen (Jika deterjen semakin larut, maka fungsi pencucian juga meningkat)</li>
<li>Menaikkan daya dorong terhadap logam-logam</li>
<li>Menurunkan<em> injury</em> (misalnya iritasi pada kulit manusia, barang atau kain, dan mesin)</li>
</ol>
<p>Beberapa aditif organik yang dapat digunakan dalam deterjen adalah:</p>
<ol>
<li><strong>Na-CMC.</strong> <em>Natrium Carboxyl Methyl Cellulose</em> sebagai aditif berfungsi sebagai agen anti-redeposisi yang paling umum digunakan pada kain katun. Namun, senyawa ini tidak berfungsi baik pada serat sintetis.</li>
<li><em><strong>Blueing Agent</strong></em><em>.</em> <em>Blueing agent</em> memiliki fungsi untuk memberi kesan biru pada kain putih sehingga kain akan terlihat semakin putih. Selain itu, <em>blueing agent</em> juga dapat memberi kesan warna yang lembut.</li>
<li><em><strong>Fluorescent.</strong></em><em> </em><em>Fluorescent</em> merupakan agen pemutih yang pertama kali dikombinasikan dengan deterjen pada tahun 1940. Agen ini akan menyerap radiasi ultraviolet dan mengemisi sebagian energi radiasi tersebut sebagai sinar-sinar biru yang tampak. Konsentrasi aditif harus diperhatikan dalam penggunaannya karena jika konsentrasi aditif yang digunakan salah, <em>fluoroecent</em> tidak akan memberikan efek absorbsi sinar ultraviolet.</li>
<li><em><strong>Proteolytic enzyme.</strong></em> <em>Proteolytic enzyme</em> banyak digunakan pada formula deterjen. Tujuan penggunaannya adalah untuk mendegradasi bercak-bercak pada substrat yang dapat didegradasi oleh enzim. Penggunaan aditif ini membutuhkan waktu lebih lama daripada aditif lainnya karena merupakan bioteknologi. Enzim-enzim yang dapat digunakan sebagai aditif antara lain enzim amilase, trigliserida, dan lipase.</li>
<li><em><strong>Bleaching agent.</strong></em> <em>Bleaching agent</em> anorganik yang banyak digunakan dalam formula deterjen adalah natrium perborat. Pada temperatur pencucian yang tinggi, sekitar 70-80 derajat Celcius, senyawa ini akan memucatkan (efek bleaching) bercak-bercak seperti bercak wine dan buah-buahan secara efektif. Namun, untuk memenuhi syarat lingkungan, sebbelum dibuang, air sisa cucian harus didinginkan hingga temperatur di bawah 50 derajat Celsius. <em>Bleaching agent</em> organik yang juga dapat digunakan adalah TAED (Tetra Acetyl Ethylene Diamine). Senyawa ini efektif digunakan pada temperatur pencucian 50-60 derajat Celcius.</li>
<li><em><strong>Foam Regulator.</strong></em> <em>Foam regulator</em> seperti amin oksida, alkanolamida, dan betain terdapat dalam produk deterjen jika jumlah busa yang banyak diinginkan sehingga aditif ini umumnya ditemui pada cairan pencuci tangan dan sampo.</li>
<li><em><strong>Organic sequestering.</strong></em><em> <span style="font-style: normal;">Aditif ini berfungsi untuk memisahkan ion logam dari bath deterjen. Beberapa aditif yang berfungsi sebagai <em>organic sequestering</em> adalah EDTA dan nitrilotriacetic acid.</span></em></li>
</ol>
<blockquote><p>Sumber: File kuliah Dasar-Dasar Rekayasa Produk, G. Handi A.<br />
Gambar: <a href="http://www.asia.ru/Catalog/10151.html">http://www.asia.ru/Catalog/10151.html</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1796&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/builder-dan-aditif-dalam-deterjen/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Negara 17.504 Pulau yang Impor Garam</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process control]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1440</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1444" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1444" href="http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/majarimagazine-pembuatan-garam/"><img class="size-thumbnail wp-image-1444" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-garam-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-garam" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Proses tradisional pembuatan garam</p></div>
<p>Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor. Pada data tahun 2000, tercatat kebutuhan garam nasional mencapai 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri. Hal ini sangat ironis, melihat negara Indonesia yang memiliki garis pantai 81.000 km dan intensitas panas yang cukup, tapi kualitas dan kuantitas garam rakyat masih sangat rendah.</p>
<p>Walaupun Indonesia merupakan negara kepulauan, pembuatan garam masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan pulau Madura.</p>
<table style="text-align: center;float:right;margin:15px 0px 10px 10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<th>Pulau Madura</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Sumenep</td>
<td>10.067   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Pemekasan</td>
<td>3.075   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sampang</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Jawa</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Barat</td>
<td>1.159 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Tengah</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Timur</td>
<td>6.904 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Lain</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>NTB</td>
<td>1.155 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sulawesi Selatan</td>
<td>2.040 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sematera dll</td>
<td>1.885 Ha</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Luas area yang dikelola oleh PT Garam hanya 5.116 Ha dan seluruhnya berada di pulau Madura hanya mampu memproduksi 60 ton/Ha/tahun. Luas area penggaraman 25.542 Ha yang dikelola secara tradisional oleh rakyat dan hanya memproduksi 40 ton/Ha/tahun. (Dini Purbani, data dari PT. Garam Persero, 2000).</p>
<p>Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali agar layak dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Pembuatan garam dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl diatas 95 persen, kategori baik dengan kadar NaCl 90–95 persen, dan kategori sedang dengan kadar NaCl antara 80–90 persen. Di Indonesia, kebutuhan kadar garam diatas 95 persen yang mencapai 1,2 juta ton seluruhnya masih diimpor.</p>
<p>Sistem penggaraman rakyat sampai saat ini menggunakan kristalisasi total sehingga produktifitas dan kualitasnya masih kurang. Pada umumnya garam dengan proses tradisional memiliki  kadar NaCl  kurang dari 90 persen  dan banyak mengandung pengotor padahal luas lahan penggaraman rakyat 25.542 Ha atau sekitar 83,31 persen dari luas areal penggaraman nasional.</p>
<p>Jika saja 50% dari luas area penggaraman ini ditingkatkan produktifitasnya menjadi 80 ton/Ha/tahun, maka produksi garam dapat mencapai 1,5 juta ton sehingga total produksi garam nasional meningkat menjadi 1,8 juta ton. Dengan demikian kebutuhan impor garam industri dapat dikurangi dari 1,2 juta ton menjadi hanya sekitar 300.000 ton. Angka yang cukup besar untuk menghemat devisa negara.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<em>Proses Pembentukan Kristalisasi Garam</em>. Dini Purbani. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003<br />
<a href="http://www.dkp.go.id">http://www.dkp.go.id</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1440&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuatan Keramik Industri</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 02:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1436</guid>
		<description><![CDATA[Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate. Material untuk membuat keramik biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1437" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-keramik-industri-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-keramik-industri" width="150" height="150" />Keramik industri dibuat dari bubuk yang telah diberi tekanan sedemikian rupa kemudian dipanaskan pada temperatur tinggi. Keramik tradisional seperti <em>porcelain</em>, ubin (keramik lantai) dan tembikar dibuat dari bubuk yang terdiri dari berbagai material seperti tanah liat (lempung), talc, silika dan faldspar. Akan tetapi, sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate.</p>
<p>Material yang digunakan untuk membuat keramik ini biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk. Produsen seringkali memurnikan bubuk ini dengan mencampurkannya dengan suatu larutan hingga terbantuk endapan pengotor. Kemudian endapan tadi disaring dan bubuk material keramik dipanaskan untuk menghilangkan impuritis dan air. Hasilnya, bubuk dengan tingkat kemurnian tinggi dan berukuran sekitar 1 mikrometer (0.0001 centimeter).</p>
<h3>A. Pembentukan</h3>
<p>Setelah pemurnian, sedikit wax (lilin) biasanya ditambahkan untuk meekatkan bubuk keramik dan menjadikannya mudah dibentuk. Plastik juga dapat ditambahkan untuk mendapatkan kelenturan dan kekerasan tertentu. Bubuk tersebut dapat menjadi bentuk yang berbeda-beda dengan beragam proses pembentukan (molding). Proses pembentukan ini diantaranya adalah slip casting, pressure casting, injection molding, dan extruction.  Setelah dibentuk, keramik kemudian dipanaskan dengan proses yang dikenal dengan nama densifikasi (densification) agar material yang terbantuk lebih kuat dan padat.</p>
<ol>
<li><strong>Slip Casting</strong>. Slip Casting adalah proses untuk membuat keramik yang berlubang. Proses ini menggunakan cetakan dengan dinding  yang berlubang-lunagng kecil dan memanfaatkan daya kapilaritas air.</li>
<li><strong>Pressure Casting</strong>. Pada proses ini, bubuk keramik dituangkan pada cetakan dan diberi tekanan. Tekanan tersebut membuat bubuk keramik menjadi lapisan solid keramik yang berbentuk seperti cetakan.</li>
<li><strong>Injection Molding</strong>. Proses ini digunakan untuk membuat objek yang kecil dan rumit. Metode ini menggunaan piston untuk menekan bubuk keramik melalui pipa panas masuk ke cetakan. Pada cetakan tersebut, bubuk keramik didinginkan dan mengeras sesuai dengan bentuk cetakan. Ketika objek tersebut telah mengeras, cetakan dibuka dan bagian keramik dipisahkan.</li>
<li><strong>Extrusion</strong>. Extrusion adalah proses kontinu yang manama bubuk keramik dipanaskan didalam sebuah tong yang panjang. Terdapat baling-baling yang memutar dan mendorong material panas tersebut kedalam cetakan. Karena prosesnya yang kontinu, setelah terbentuk dan didinginkan, keramik dipotong pada panjang tertentu. Proses ini digunakan untuk membuat pipa keramik, ubin dan bata modern.</li>
</ol>
<h3>B. Densifikasi</h3>
<p>Proses densifikasi menggunakan panas yang tinggi untuk menjadikan sebuah keramik menjadi produk yang keras dan padat. Setelah dibentuk, keramik dipanaskan pada tungku (furnace) dengan temperatur antara 1000 sampai 1700 C. Pada proses pemanasan, partikel-partikel bubuk menyatu dan memadat. Proses pemadatan ini menyebabkan objek keramik menyusut hingga 20 persen dari ukuran aslinya. Tujuan dari proses pemanasan ini adalah untuk memaksimalkan kekerasan keramik dengan mendapatkan struktur internal yang tersusun rapih dan sangat padat.</p>
<h3>Kegunaan Keramik Industri</h3>
<p>Keramik dinilai dari propertinya. Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Keramik dengan properti elektrik dan magnetik dapat digunakan sebagai insulator, semikoncuktor, konduktor dan magnet. Keramik dengan properti yang berbeda dapat digunakan pada aerospace, biomedis, konstruksi bangunan, dan industri nuklir.<br />
Beberapa contoh penggunaan keramik industri:</p>
<ul>
<li>Peralatan yang dibuat dari alumina dan silikon nitrida dapat digunakan sebagai pemotong, pembentuk dan penghancur logam.</li>
<li>Keramik tipe zirconias, silikon nitrida maupun karbida dapat digunakan untuk saluran pada rotorturbocharger diesel temperatur tinggi dan Gas-Turbine Engine.</li>
<li>Keramik sebagai insulator adalah aluminum oksida (AlO3). Keramik sebagai semikonduktor adalah barium titanate (BaTiO3) dan strontium titanate (SrTiO3). Sebagai superkonduktor adalah senyawa berbasis tembaga oksida.</li>
<li>Keramik dengan campuran semen dan logam digunakan untuk pelapis pelindung panas pada pesawat ulang-alik dan satelit.</li>
<li>Keramik Biomedical jenis porous alumina digunakan sebagai implants pada tubuh manusia. Porous alumina dapat berikatan dengan tulang dan jaringan tubuh.</li>
<li>Butiran uranium termasuk keramik yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Butiran ini dibentuk dari gas uranium hexafluorida (UF6).</li>
<li>Keramik berbasis feldspar dan tanah liat digunakan pada industri bahan bangunan.</li>
<li>Keramik juga digunakan sebagai coating (pelapis) untuk mencagah korosi. Keramik yang digunakan adalah jenis enamel. Peralatan rumah tangga yang menggunakan pelapisan enamel ini diantaranya adalah kulkas, kompor gas, mesin cuci, mesin pengering.</li>
</ul>
<blockquote><p>Sumber :<br />
<em>Ceramics</em>. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.<br />
<a href="http://www.ceramicindustry.com">http://www.ceramicindustry.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1436&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceramics, The Art of Industry</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 01:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1433" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1433" href="http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/majarimagazine-superconductor-ceramics/"><img class="size-thumbnail wp-image-1433" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-superconductor-ceramics-150x150.jpg" alt="Super Conductor Ceramics" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Super Conductor Ceramics</p></div>
<p>Keramik (English <em>ceramics</em>, Greek <em>keramos</em>, &#8216;potter clay&#8217;), asal katanya berasal dari seni pembuatan  tembikar, peralatan dari tanah liat. Sekarang, definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon. Keramik pada industri tidak bisa dibayangkan sebagai benda-benda seni. Beberapa contoh keramik industri adalah pipa selokan, insulator listrik, bata tahan panas dan lainnya.</p>
<p>Keramik sebagai insulator listrik misalnya, memiliki berbagai sifat kelistrikan. Hasil penemuan beru-baru ini, jenis keramik yang berupa campuran tembaga oksida dapat membuat keramik tersebut menjadi superkonduktor (penghantar listrik tanpa hambatan pada temperatur yang tinggi). Keramik juga digunakan sebagai komponen pembuat kapal ulang-alik luar angkasa.</p>
<h3>Properti Keramik</h3>
<p>Keramik memiliki properti kimia, mekanik, fisika, panas, elektrik, dan magnetik yang membedakan mereka dari material lain seperti logam dan plastik. Industri keramik merubah properti keramik dengan cara mengontrol jenis dan jumlah material yang digunakan untuk pembuatan.</p>
<h4>A. Properti Kimia</h4>
<p>Keramik industri sebagian besar adalah oksida (senyawa ikatan oksigen), akan tetapi ada juga senyawa carbida (senyawa ikatan karbon dan logam berat), nitrida (senyawa ikatan nitrogen), borida (senyawa ikatan boron) dan silida (senyawa ikatan silikon). Sebagai contoh, pembuatan keramik alumina menggunakan 85 sampai 99 persen aluminum oksida sebagai bahan utama dan dikombinasikan dengan berbagai senyawa kompleks secara kimia. Beberapa contoh senyawa kompleks adalah barium titanate (BaTiO3) dan zinc ferrite (ZnFe2O4). Material lain yang dapat disebut juga sebagai jenis keramik adalah berlian dan graphite dari karbon.</p>
<p>Keramik lebih resisten terhadap korosi dibanding plastik dan logam. Keramik biasanya tidak bereaksi dengan sebagian besar cairan, gas, aklali dan asam. Jenis-jenis keramik memiliki titik leleh yang tinggi dan beberapa diantaranya masih dapat digunakan pada temperatur mendekati titik lelehnya. Keramik juga stabil dalam waktu yang lama.</p>
<h4>B. Properti Mekanik</h4>
<p>Ikatan keramik dapat dibilang sangat kuat, dapat kita lihat dari kekakuan ikatan dengan mengukur kemampuan keramik menahan tekanan dan kelengkungan. Bend Strength atau jumlah tekanan yang diperlukan untuk melengkungkan benda biasanya digunakan untuk menentukan kekuatan keramik. Salah satu keramik yang keras adalah Zirconium dioxide yang memiliki bend strength mendekati senyawa besi. Zirconias (ZrO2) mampu mempertahankan kekuatannya hingga temperatur 900 C (1652 F), dan bahkan silikon carbida dan silikon nitrida dapat mempertahankan kekuatannya pada temperatur diatas 1400 C (2552 F). Material-material silikon ini biasanya digunakan pada peralatan yang memerlukan panas tinggi seperti bagian dari Gas-Turbine Engine. Walaupun keramik memiliki ikatan yang kuat dan tahan pada temperatur tinggi, material ini sangat rapuh dan mudah pecah bila dijatuhkan atau ketika dipanaskan dan didinginkan seketika.</p>
<h4>C. Properti Fisik</h4>
<p>Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat. Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan menghaluskan material-material keras lain.</p>
<h4>D. Properti Panas</h4>
<p>Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada temperatur yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah tekanan tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat keramik pecah. Silikon karbida dan silikon nitrida lebih dapat bertahan dari kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tinggi daripada keramik-keramik lain. Oleh karena itu material ini digunakan pada bagian-bagian mesin seperti rotor pada turbin dalam mesin jet yang memiliki variasi perubahan temperatur yang ekstrim.</p>
<h4>E. Properti Elektrik</h4>
<p>Beberapa jenis keramik dapat menghantarkan listrik. Contohnya Chromium dioksida yang mampu menghantarkan listrik sama baiknya dengan sebagian besar logam. Jenis keramik lain seperti silikon karbida, kurang dapat menghantarkan listrik tapi masih dapat dikatakan sebagai semikonduktor. Keramik seperti aluminum oksida bahkan tidak menghantarkan listrik sama sekali. Beberapa keramik seperti porcelain dapat bertindak sebagai insulator (alat untuk memisahkan elemen-elemen pada sirkuit listrik agar tetap pada jalurnya masing-masing) pada temperatur rendah tapi dapat menghantarkan listrik pada temperatur tinggi.</p>
<h4>F. Properti Magnetik</h4>
<p>Keramik yang mengandung besi oksida (Fe2O3) dapat memiliki gaya magnetik mirip dengan magnet besi, nikel dan cobalt. Keramik berbasis besi oksida ini biasa disebut ferrite. Keramik magnetis lainnya adalah oksida-oksida nikel, senyawa mangan dan barium. Keramik ber-magnet biasanya digunakan pada motor elektrik dan sirkuit listrik dan dapat dibuat dengan resistensi tinggi terhadap demagnetisasi. Ketika elektron-elektron disejajarkan sedemikian rupa, keramik dapat menghasilkan medan magnet yang sangat kuat dan sukar demagnetisasi (menghilangkan medan magnet) dengan memecah barisan elektron tersebut.</p>
<blockquote><p>Sumber :<br />
Ceramics. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.</p>
<p>http://www.ceramicindustry.com</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1431&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstraksi</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1485" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1485" title="Fragonard Perfume (Grasse, France)" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/03/perfume_lab-300x168.jpg" alt="Fragonard Perfume (Grasse, France)" width="300" height="168" /><p class="wp-caption-text">Fragonard Perfume (Grasse, France)</p></div>
<p>Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Contohnya dalam ekstraksi minyak atsiri dari biji pala (<em>Myristica fragrans</em>). Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan pemurnian untuk mendapatkan minyak esensial atsirinya saja.</p>
<p>Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.</p>
<p>Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry]</p>
<p>Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:</p>
<ul>
<li> Tipe persiapan sampel</li>
<li> Waktu ekstraksi</li>
<li> Kuantitas pelarut</li>
<li> Suhu pelarut</li>
<li> Tipe pelarut</li>
</ul>
<p>Minyak dapat diekstraksi dengan perkolasi, imersi, dan gabungan perkolasi-imersi. Dengan metode perkolasi, pelarut jatuh membasahi bahan tanpa merendam dan berkontak dengan seluruh spasi diantara partikel. Sementara imersi terjadi saat bahan benar-benar terendam oleh pelarut yang bersirkulasi di dalam ekstraktor. Sehingga dapat disimpulkan:</p>
<ul>
<li> Dalam proses perkolasi, laju di saat pelarut berkontak dengan permukaan bahan selalu tinggi dan pelarut mengalir dengan cepat membasahi bahan karena pengaruh gravitasi.</li>
<li> Dalam proses imersi, bahan berkontak dengan pelarut secara periodeik sampai bahan benar-banar terendam oleh pelarut. Oleh karena itu pelarut mengalir perlahan pada permukaan bahan, bahkan saat sirkulasinya cepat.</li>
<li> Untuk perkolasi yang baik, partikel bahan harus sama besar untuk mempermudah pelarut bergerak melalui bahan.</li>
<li> Dalam kedua prosedur, pelarut disirkulasikan secara counter-current terhadap bahan. Sehingga bahan dengan kandungan minyak paling sedikit harus berkontak dengan pelarut yang kosentrasinya paling rendah.</li>
</ul>
<p>Metode perkolasi biasa digunakan untuk mengekstraksi bahan yang kandungan minyaknya lebih mudah terekstraksi. Sementara metode imersi lebih cocok digunakan untuk mengekstraksi minyak yang berdifusi lambat.</p>
<p>Ekstraksi bahan makanan biasa dilakukan untuk mengambil senyawa pembentuk rasa bahan tersebut. Misalnya senyawa yang menimbulkan bau dan/atau rasa tertentu.</p>
<div id="attachment_1374" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://EkstraksiSoxhlet"><img class="size-medium wp-image-1374" title="Ekstraksi" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/02/soxhlet-197x300.jpg" alt="Ekstraksi Soxhlet" width="197" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ekstraksi Soxhlet</p></div>
<p>Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.</p>
<p>Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet. Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal ini didasari oleh faktor berikut:</p>
<ul>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet cairan akan menggejorok ke dalam labu setelah tinggi pelarut dalam selongsong sama dengan pipa sifon. Hal ini menyebabkan ada bagian sampel yang berkontak lebih lama dengan cairan daripada bagian lainnya. Sehingga sampel yang berada di bawah akan terekstraksi lebih banyak daripada bagian atas. Akibatnya ekstraksi menjadi tidak merata. Sementara pada ekstraktor Butt, pelarut langsung keluar menuju labu didih. Sampel berkontak dengan pelarut dalam waktu yang sama.</li>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet terdapat pipa sifon yang berkontak langsung dengan udara ruangan. Maka akan terjadi perpindahan panas dari pelarut panas di dalam pipa ke ruangan. Akibatnya suhu di dalam Soxhlet tidak merata. Sedangkan pada ekstraktor Butt, pelarut seluruhnya dilindungi oleh jaket uap yang mencegah perpindahan panas pelarut ke udara dalam ruangan.</li>
</ul>
<blockquote><p>Referensi:<br />
AOCS Official Method Am. 2-93. Determination of Oil Content in Oilseeds.<br />
Lucas, Howard J, David Pressman. 1949. Principles and Practice In Organic Chemistry. New York: John Wiley and Sons, Inc.<br />
Whitaker, M.C. 1915. The Journal of Industrial and Engineering Chemistry. Easton: Eschenbach Printing Company.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1373&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Atasi Limbah Oil Sludge dengan Teknologi Plasma</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 20:18:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[oil]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1396</guid>
		<description><![CDATA[Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai teknik pengolahan limbah, salah satunya limbah oil sludge. Oil sludge adalah endapan sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan akibat oksidasi proses yang dipicu oleh  kontak antara minyak, udara dan air. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1397" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/02/2374362016_658722922f.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1397" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/02/2374362016_658722922f-150x150.jpg" alt="Sludge Oil" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sludge Oil</p></div>
<p>Dua bulan lalu, perairan Batam kedatangan tamu tak dikenal. Kapal tanker asing berbendera San Lorenzo, MT Seraya, berupaya mencurahkan sebanyak 6 ton sludge oil sisa daur ulang ke laut. Mereka membawa limbah tersebut tanpa dokumen lengkap. Perairan Batam memang berulang kali menjadi tempat pembuangan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari kapal, terutama kapal-kapal asing. Kasus pencemaran akibat oil sludge seperti ini juga pernah terjadi di Tarakan (Kalimantan Timur), Riau, Sorong (Papua), dan terakhir di Indramayu.</p>
<div id="attachment_1398" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/02/plasma.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1398" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/02/plasma-150x150.jpg" alt="plasma" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">plasma</p></div>
<p>Tentu saja para pembuang limbah itu belum tahu tentang teknologi plasma. Teknologi plasma banyak diterapkan sebagai teknik pengolahan limbah, salah satunya limbah oil sludge. Oil sludge adalah endapan sedimentasi pada dasar tangki penyimpanan akibat oksidasi proses yang dipicu oleh  kontak antara minyak, udara dan air. Oil sludge terdiri dari minyak (hidrokarbon), air, abu, karat tangki, pasir, dan bahan kimia lainnya.</p>
<p>Oil sludge dapat diolah lewat plasma suhu tinggi (thermal plasma). Thermal plasma adalah gas yang terionisasi dengan suhu tinggi diatas 10.000 û. Thermal plasma dapat dibuat dengan electric arc, yang terbentuk diantara dua elektroda, dalam sebuah alat yang disebut plasma torch. Dengan memasukkan gas seperti udara, argon, nitrogen, steam dan sebagainya ke dalam plasma torch, atom atau molekul gas akan bertumbukan dengan elektron yang terbentuk dalam electric arc. Hasil dari proses ini adalah panas dan gas terionisasi yang akan memproduksi thermal plasma jet dengan temperatur yang sangat tinggi. Plasma yang dihasilkan oleh plasma torch ini dipergunakan untuk menguapkan senyawa organik (hidrokarbon) yang terkandung dalam oil sludge. Senyawa organik yang menguap dapat dibentuk kembali dalam bentuk minyak, dan dapat dimanfaatkan.</p>
<p>Energi yang diperlukan dalam proses dibentuk dalam plasma torch. Gas yang dipergunakan dalam torch adalah argon atau nitrogen. Gas organik yang yang terbentuk dalam reaktor bersamaan dengan gas argon atau nitrogen kemudian dimasukkan ke dalam kondensor, untuk mengubah uap gas tadi menjadi cairan. Setelah melalui pendinginan dalam kondensor cairan yang terbentuk dari gas organik tadi adalah light oil yang 100% dapat dipergunakan kembali. Gas argon atau nitrogen sendiri dapat dipergunakan kembali dalam reaktor proses.</p>
<p>Normal operasi temperatur yang dipergunakan dalam proses ini adalah sekitar 800 hingga 1200 derajat Celcius. Kondisi dalam reaktor proses dikondisikan sedemikian rupa agar tidak terjadi proses oksidasi pada material hidrokarbon dan dapat mendukung proses pembentukan minyak pada kondensator. Residu yang dihasilkan dari proses ini akan bebas dari kandungan hidrokarbon, dan siap untuk dibuang ke TPA dengan aman.</p>
<p>Apabila pada oil sludge terkandung logam berat seperti timbal, proses lanjutan dengan plasma dapat dilakukan untuk mendaur ulang logam tersebut. Beberapa kelebihan dari pemanfaatan proses ini adalah energi efisiensinya dapat mencapai 80%. Hal ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada proses yang menggunakan gas atau bahan bakar minyak lain yang hanya dapat mencapai 20%. Plasma proses akan lebih efektif jika diaplikasikan pada limbah oil sludge yang memiliki kandungan hydrocarbon di atas 10%. Selanjutnya, kandungan hydrocarbon pada residu yang dihasilkan berkisar dibawah 0.01% dari total hidrokarbon.  Dengan penerapan plasma proses , maka limbah oil sludge dapat didaur ulang sehingga dapat menjadikan nilai tambah bagi industri perminyakan nasional.</p>
<blockquote><p><em>Referensi:</em><em> </em><a href="http://indeni.org/"><em>http://indeni.org/</em></a><br />
<em>Gambar: <a href="http://www.flickr.com/photos/25160595@N06/2374362016/">http://www.flickr.com/photos/25160595@N06/2374362016/</a></em><br />
<em> <a href="http://www.flickr.com/photos/miedo/62138622/">http://www.flickr.com/photos/miedo/62138622/</a><br />
</em></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1396&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/atasi-limbah-oil-sludge-dengan-teknologi-plasma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 3/53 queries in 0.063 seconds using disk: basic
Object Caching 806/907 objects using disk: basic
Content Delivery Network via majari.lemuel.netdna-cdn.com

Served from: majarimagazine.com @ 2012-02-07 18:07:17 -->
