<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; reaction</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/reaction/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 27 Dec 2011 13:05:18 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Reforming</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Feb 2011 13:04:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Phelia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[equipments]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2376</guid>
		<description><![CDATA[Dalam pabrik urea, ammonia diperoleh melalui reaksi N2 dan H2. Gas hidrogen (H2) diperoleh dari gas alam yang dilewatkan reaktor reformer. Reaksi reformasi yang digunakan umumnya adalah steam reforming ( reformasi kukus).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam pabrik urea, ammonia diperoleh melalui reaksi N<sub>2</sub> dan H<sub>2</sub>. Gas hidrogen (H<sub>2</sub>) diperoleh dari gas alam yang dilewatkan reaktor reformer. Reaksi reformasi yang digunakan umumnya adalah <em>steam reforming</em> ( reformasi kukus). Reaksi <em>steam reforming</em> ini  melibatkan reaksi:</p>
<p style="text-align: center;"><a rel="attachment wp-att-2533" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/new-picture-5/"><img class="size-medium wp-image-2533 aligncenter" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/New-Picture-172x300.jpg" alt="" width="172" height="300" /></a></p>
<p>Dari reaksi yang ada dapat kita pastikan bahwa dalam reformer terjadi reaksi yang sangat kompleks. Untuk itu komposisi keluaran proses reformer akan bervariasi tergantung dari komposisi umpan, temperatur, tekanan operasi, dan katalis yang digunakan.</p>
<div id="attachment_2460" class="wp-caption aligncenter" style="width: 325px"><a rel="attachment wp-att-2460" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/uhde_tech_image1_9-00/"><img class="size-full wp-image-2460 " src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/uhde_tech_image1_9.00.jpg" alt="" width="315" height="368" /></a><p class="wp-caption-text">Steam Reformer</p></div>
<p>Dalam perkembangannya, steam reforming dikembangkan untuk menghasilkan teknologi yang lebih tepat guna khususnya untuk produksi gas hidrogen sebagai bahan bakar <em>fuel cell</em> atau bahan baku pabrik seperti pada pabrik ammonia. Teknologi ini dikenal dengan <em>autot hermal reforming</em>. <em>Steam reformer</em> reaksi utama antara metan dan uap air. <em>Auto thermal reformer</em> pada dasarnya merupakan gabungan dari <em>steam reformer</em> dan <em>partial oxidation</em> methan. Kedua reaktor ini dapat dioperasikan pada temperatur 1023 – 1123 K seperti pada percobaan Souza dkk.</p>
<div id="attachment_2562" class="wp-caption aligncenter" style="width: 508px"><a rel="attachment wp-att-2562" href="http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/new-picture-1-2/"><img class="size-full wp-image-2562" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/New-Picture-11.jpg" alt="" width="498" height="194" /></a><p class="wp-caption-text">(a)Selektivitas Pembentukan Syngas Reformer (b) Perbandingan H2 Terhadap CO (Souza, 2008)</p></div>
<p>Baik <em>auto thermal reforming converter</em> maupun <em>steam reformer converter</em>, keduanya masih digunakan hingga saat ini. Kedua converter ini memiliki keunggulan masing-masing. Dalam pemilihan refoermer yang akan digunakan, kita perlu mengtahui sasaran proses. Untuk proses yang membutuhkan hidrogen tinggi maka <em>auto thermal reformer</em> tepat untuk dipilih. Jika proses mengutamakan selektivitas syngas yang tinggi maka steam reformer saja sudah cukup. Dari sisi ekonomi, meski efisiensi energi untuk <em>auto thermal reformer</em> lebih baik dari <em>steam reformer</em> namun harga unit <em>steam reformer </em>lebih rendah radi pada <em>auto thermal reformer.</em></p>
<h3>Daftar Pustaka</h3>
<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li>Souza , A. E. A. M., Maciel , L. J. L., Knoechelmann , Filho, A., N.  M. Lima, Abreu, C. A. M. Comparative Evaluation Between Steam and  Atothermal Reforming of  Methane Processes to Produce Syngas, 2008</li>
<li>Adris, Alaa-Eldin M., A Fluidized Bed Membrane Reactor for Steam Methane Reforming: Experimental Verification and Model Validation, 1994</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2376&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/02/reforming/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Jalan Baru: Reaktor Tak Tunak</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/02/sebuah-jalan-baru-reaktor-tak-tunak/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/02/sebuah-jalan-baru-reaktor-tak-tunak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Feb 2011 17:48:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sarmedi Sia</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[catalyst]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2441</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan proses kimia dirancang untuk beroperasi pada kondisi tunak (steady state). Reaktor yang sering digunakan secara luas dalam industri kimia pun biasanya dioperasikan pada kondisi tunak. Variabel proses pada reaktor dijaga pada kondisi konstan (tertentu) yang merupakan kondisi optimal untuk mendapatkan selektivitas dan konversi maksimal.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan proses kimia dirancang untuk beroperasi pada kondisi tunak (<em>steady state</em>). Reaktor yang sering digunakan secara luas dalam industri kimia pun biasanya dioperasikan pada kondisi tunak. Variabel proses pada reaktor dijaga pada kondisi konstan (tertentu) yang merupakan kondisi optimal untuk mendapatkan selektivitas dan konversi maksimal. Namun, dalam kenyataan beberapa variabel proses bervariasi seiring dengan waktu, dan rancangan keadaan tunak didasarkan pada nilai rata-rata dari kuantitas variabel yang berubah-ubah ini.</p>
<p style="text-align: left;"><img class="alignleft size-full wp-image-2408" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/reactor-indusrty.jpg" alt="" width="259" height="194" />Kajian terbaru dari para peneliti menunjukkan bahwa operasi reaktor dinamik (tak tunak) pada beberapa kasus bisa menghasilkan produk reaksi yang lebih banyak atau distribusi produk yang lebih berarti dibanding reaktor keadaan tunak (Silveston, 1998). Pada kondisi tunak, katalis yang digunakan cenderung mengalami penjenuhan sehingga laju reaksi katalitik pada permukaan katalis menurun. Pada kondisi ini, selektivitas dan konversi reaksi mengalami penurunan. Fakta ini tentunya membuka jalan baru dalam pengembangan sebuah operasi proses kimia. Sebuah penemuan yang tentunya mampu menenggelamkan persepsi banyak orang yang cenderung lebih menyukai operasi tunak dalam proses kimia.</p>
<p style="text-align: left;">Perubahan variabel proses terutama temperatur terhadap waktu dapat mempertahankan laju reaksi di permukaan katalis pada kondisi optimal. Silveston (1998) mengemukakan bahwa peningkatan konversi dan selektivitas berawal dari perubahan secara temporer pada luas permukaan katalis yang aktif. Pada reaksi multiproduk, luas permukaan mempengaruhi distribusi produk yang dihasilkan. Situasi yang sangat diharapkan adalah luas permukaan katalis yang aktif sesuai dengan stoikiometri reaksi yang diinginkan terjadi ketika reaksi berlangsung (Budhi, 2005).</p>
<p style="text-align: left;">Pada reaksi fasa gas berkatalis heterogen dalam unggun diam, kelakuan transien (tak tunak) memberikan kesempatan untuk menimbulkan perubahan dinamis permukaan katalis sehingga mempengaruhi laju reaksi katalitik. Prinsip ini telah dikembangkan melalui penggunaan siklus umpan (<em>feed cycling)</em> untuk meningkatkan konversi atau selektivitas reaktor (Silveston,1998). Reaktor tak tunak juga telah diaplikasikan dalam beberapa proses, seperti oksidasi parsial metan dalam <em>reverse flow reactor</em> pada Gambar 1, oksidasi zat aromatik seperti o-xylen dan toluen, reduksi VOC (<em>volatile organic compound)</em> dalam gas buang, dan sebagainya (Budhi, 2005).<em><img class="aligncenter size-medium wp-image-2409" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2011/02/reaktor-tak-tunak-300x228.jpg" alt="" width="300" height="228" /></em></p>
<p style="text-align: center;">Gambar 1. <em>Reverse-flow oxidation catalyst reactor</em></p>
<p style="text-align: left;">Pengubahan secara periodik beberapa parameter kondisi reaktor seperti temperatur dan konsentrasi umpan juga dapat mengatasi keterbatasan operasional reaktor dari segi terrmodinamika dan kinetika reaksi.</p>
<p style="text-align: left;">Faktor terpenting dalam pengoperasian reaktor tak tunak adalah skala waktu pemberian gangguan (<em>switching time</em>). <em>Switching time </em>(<em>ST</em>) merupakan salah satu variabel operasi yang berpengaruh terhadap kinerja reaktor. Reaktor-reaktor tak tunak dapat dikategorikan menjadi tiga daerah operasi, yaitu (1) daerah operasi <em>quasi steady state</em>, adalah daerah di mana <em>ST</em> jauh lebih besar daripada waktu yang dibutuhkan sistem untuk merespon gangguan (<em>t<sub>r</sub></em>), sehingga sistem akan mudah merespon gangguan yang diberikan dan mencapai kondisi tunak; (2) <em>relaxed steady state</em> atau biasa disebut daerah <em>sliding</em>, adalah daerah di mana <em>ST</em> jauh lebih kecil dari <em>t<sub>r</sub></em>, gangguan yang diberikan tidak akan mempengaruhi sistem karena dinamika proses sangat lambat dan sistem seolah-olah berada dalam kondisi tunak; dan (3) daerah dinamik, <em>ST</em> hampir mendekati <em>t<sub>r</sub></em>, dengan demikian variabel sistem akan berubah-ubah tiap waktu sehingga sistem tidak akan pernah mencapai kondisi tunak (adanya efek resonansi akibat gangguan). Kondisi (3) adalah kondisi yang cukup menarik untuk diamati karena sifat tidak tunak sistem terus berlangsung selama proses (Habibi, 2010).</p>
<p style="text-align: left;">Sumber:</p>
<ol>
<li>Budhi, Y.W., (2005): <em>Reverse Flow Reactor Operation for Control of Catalyst Surface Coverage,</em> Ph.D. Dissertation, Eindhoven University of Technology</li>
<li>Habibi, M. (2010): <em>Kelakuan Dinamik Konverter Katalitik Kendaraan Bermotor</em><em> </em><em>untuk Oksidasi CO Menggunakan Katalis Pt/</em>g<em>-Al<sub>2</sub>O<sub>3­</sub> pada Kondisi</em><em> </em><em>Hot-Run</em>, Laporan Penelitian, Program Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung</li>
<li>Sia,S. dan Wangsa, A., (2011): <em>Pengolahan Emisi Gas Buang Mesin Biodiesel Secara Dinamik Menggunakan Konverter Katalitik</em>. Laporan Finalis Lomba Inovasi Sains dan Teknologi. Institut Teknologi Bandung</li>
<li>Silveston, P.L., (1998): <em>Composition Modulation of Catalytic Reactors, </em>Gordon and Breach, Ontario</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2441&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/02/sebuah-jalan-baru-reaktor-tak-tunak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Plasma dalam Industri Pengemasan Makanan</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 05:17:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2015</guid>
		<description><![CDATA[Aplikasi teknologi plasma dalam industri pengemasan makanan lahir sebagai bentuk perkembangan dalam teknologi pengemasan makanan yang baik karena memiliki beberapa keunggulan seperti proses yang cepat dan minim menyebabkan kerusakan pada makanan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2018" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2018" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/07/3-300x234.jpg" alt="food technology" width="300" height="234" /><p class="wp-caption-text">Food Technology</p></div>
<p>Salah satu tujuan utama pengemasan makanan adalah untuk menjadikan makanan dapat tahan lama (awet). Akan tetapi, proses yang dilakukan untuk mencapai tujuran tersebut biasanya dapat menyebabkan kerusakan nutrien dan komponen &#8211; komponen sensori pada makanan. Oleh sebab itu, teknologi pengemasan makanan terus dikembangkan dengan tujuan menjadikan makanan dapat tahan lama dengan meminimalkan kerusakan nutrient dan komponen – komponen sensori pada makanan tersebut.</p>
<p>Aplikasi teknologi plasma dalam industri pengemasan makanan lahir sebagai bentuk perkembangan dalam teknologi pengemasan makanan yang baik karena memiliki beberapa keunggulan seperti proses yang cepat dan minim menyebabkan kerusakan pada makanan.</p>
<p>Berikut ini merupakan aplikasi teknologi plasma dalam pengemasan makanan:</p>
<h3>1. Fungsionalisasi dan aktivasi permukaan</h3>
<p>Pada kemasan makanan berbahan dasar polimer, kemudahan dicetak dan sifat anti asap merupakan properti khas yang harus dimiliki. Dengan teknologi plasma, kedua kriteria tersebut dapat dipenuhi melalui fungsionalisasi dan aktivasi permukaan. Dalam tahap ini, plasma berfungsi sebagai penyesuai energi permukaan dengan cara mengatur adhesifitas, sifat hidrofobik, dan hidrofilik.  Dalam pengaturan sifak hidrofobik dan hidrofil, ada dua hal yang menjadi perhatian yaitu terbentuknya lapisan permukaan anti asap dan penggunaan cat berbahan dasar air ataupun tinta. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam perlakuan plasma terhadap kemasan menentukan adhesifitas yang diperoleh.</p>
<p>Penggunaan lapisan plasma juga berguna dalam meningkatkan derajat kebasahan permukaan yang berpengaruh juga terhadap energi permukaan tersebut. Dengan adanya plasma, energi permukaan meningkat 1,5 kali lipat. Hal ini sangat berguna dalam penggunaan cat berbahan dasar secara ekologis.</p>
<h3>2. Pelapisan permukaan</h3>
<p>Pengawetan makanan dalam kemasan bergantung pada sterilitas dan kualitas kemasan itu sendiri. Sebagai contoh, untuk makanan atau minuman yang sensitivitasnya terhadap udara cukup tinggi harus dikemas dalam botol yang memiliki lapisan penghalang yang kuat</p>
<div id="attachment_2029" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2029" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/07/1baru-300x224.jpg" alt="Gambar 1: Ruang dalam rekator selama perlakuan dengan plasma" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Gambar 1: Ruang dalam rekator selama perlakuan dengan plasma</p></div>
<p>Pelapisan botol PET dari dalam menggunakan SiOx dan HMDSO (heksametildioksan) dengan bantuan argon plasma merupakan cara baru dalam produksi botol PET berkualitas tinggi sebagai kemasan minuman tertentu. Dengan menggunakan plasma, lapisan SiOx setebal 50 nm dapat diperoleh hanya dalam waktu kurang dari lima detik. Padahal proses ini memakan waktu hampir puluhan kali lipat lebih lama tanpa adanya plasma. Penggunaan plasma juga meningkatkan kemampuan kemasan dalam menghalangi terjadinya difusi gas dalam rentang skala 3 -10. Selain itu, kemasan yang dilapisi menggunakan plasma, memiliki kemungkinan hampir 0% dalam terjadinya microcrack akibat spora.</p>
<h3>3. Sterilisasi plasma</h3>
<p>Sterilisasi dalam pemrosesan makanan merupakan suatu proses pengawetan makanan dengan cara memanaskan makanan pada temperatur yang cukup tinggi dalam waktu tertentu untuk menghancurkan mikroba dan aktivitas enzim. Dengan proses sterilisasi,biasanya makanan dapat bertahan hingga lebih dari 6 bulan pada temperatur ruang.</p>
<p>Ada banyak alasan mengapa sterilisasi menggunakan plasma menjadi pilihan. Berikut beberapa alasannya.</p>
<ul>
<li> Waktu inaktivasi spora yang singkat</li>
<li> Beban termal yang rendah</li>
<li> Tidak ada penggunaan bahan kimia toksik dan berbahaya</li>
<li> Tidak terbentuk produk yang toksik dan berbahaya pasca steriliasi</li>
<li> Tidak ada perubahan sifat pada material makanan yang diproses, malah terjadi peningkatan kualitas material makanan</li>
<li> Tidak perlu ada treatment lanjutan</li>
</ul>
<p>Mekanisme sterilisasi dengan plasma:</p>
<ol>
<li> Destruksi material genetic mikroorganisme melalui irradiasi UV</li>
<li> Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui fotodesorpsi intrinsik</li>
<li> Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui proses etching.</li>
</ol>
<p>Alat sterilisasi berteknologi plasma yang biasa digunakan adalah ECR Plasma (Electron Cyclotron Resonance Plasma). Alat ini memanfaatkan prinsip gaya Lorentz dengan adanya pergerakan sirkular electron-elektron bebas sehingga membangkitkan medan magnet seragam yang statis.</p>
<p>Berikut ini merupakan skema ECR plasma:</p>
<div id="attachment_2030" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2030" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/07/2baru-uy1-300x245.jpg" alt="Gambar 2 : Skema alat ECR Plasma" width="300" height="245" /><p class="wp-caption-text">Gambar 2 : Skema alat ECR Plasma</p></div>
<p>Sterilisasi meggunakan plasma berbeda karena agen aktif nya spesifik, seperti foton UV dan radikal. Keuntungan metode plasma adalah proses dapat dilakukan pada temperature rendah (500C), relative aman, dan  mengawetkan keutuhan instrument dasar polimer, yang tak bisa dilakukan bila menggunakan autoklaf atau oven. Foton UV yang diemisikan akan di-reabsorpsi oleh gas ambient pada tekanan atmosfer.</p>
<blockquote><p>Sumber:</p>
<ol>
<li><a href="http://itcanbeshown.com/NERS590/Plasma%20Sterilization.ppt">http://itcanbeshown.com/NERS590/Plasma%20Sterilization.ppt</a></li>
<li> Dr. Anto Tri Sugiarto : Slide Kuliah Teknologi Plasma</li>
</ol>
</blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2015&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanganan Limbah dengan Microchannel Reactor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 May 2009 04:28:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[cleaning technology]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1679</guid>
		<description><![CDATA[Dunia sedang memasuki era baru, di mana konsep the more the merrier sudah lama ditinggalkan dan digantikan dengan the lesser the better. Demikian pula dengan reaktor; teknologi microchannel reactor kini mulai dikembangkan untuk berbagai kegunaan, di antaranya adalah untuk pengolahan limbah in situ.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1681" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1681" title="Microchannel reactor" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/microchannel-reactor-300x206.jpg" alt="Microchannel reactor untuk memproses limbah in situ" width="300" height="206" /><p class="wp-caption-text">Microchannel reactor untuk memproses limbah in situ</p></div>
<p>Dunia sedang memasuki era baru, di mana konsep <em>the more the merrier </em>sudah lama ditinggalkan dan digantikan dengan <em>the lesser the better</em>. Demikian pula dengan perkembangan reaktor. Teknologi <em>microchannel reactor </em>kini mulai dikembangkan untuk berbagai kegunaan, di antaranya adalah untuk pengolahan limbah nuklir <em>in situ</em>.</p>
<p>Ada perbedaan mendasar dari <em>microreactor </em>dan <em>microchannel reactor. </em>Teknologi <em>microreactor </em>berarti menggunakan reaktor berukuran kecil yang seringkali dipakai dalam tes laboratorium. Sementara teknologi <em>microchannel </em>tetaplah dimaksudkan untuk produksi komersial, misalnya reaktor, <em>mixer, heat exchanger</em>, yang memanfaatkan saluran mikro untuk menampung proses aliran dan meningkatkan kinerja. Dimensi diameter saluran bervariasi dari puluhan hingga seratusan mikrometer dengan panjang bisa mencapai beberapa meter. Perbedaan mendasar adalah komponen <em>microchannel</em> tersebut terintegrasi ke dalam sistem yang mengandung puluhan hingga ribuan saluran. Ukuran <em>channel</em> bervariasi antara 0,1 sampai 10 mm.</p>
<p>Dalam pengolahan limbah nuklir in situ, Pacific Northwest National Laboratory mengembangkan reaktor yang berdimensi  sekitar 24x24x6 inch. Menurut Ed Baker, direktur divisi energi dan efisiensi PPNL, dibandingkan dengan memindahkan limbah ke fasilitas tersentralisasi, PPNL mengembangkan mesin skala kecil yang dapat ditempatkan dalam tangki untuk memproses limbah di tempat asalnya. Kalkulasi awal yang disandingkan dengan penelitian yang dibiayai oleh Departemen Energi Amerika Serikat menghasilkan suatu kesimpulan bahwa gagasan untuk memproses limbah dengan cara ini adalah suatu ide yang bagus. Pengerjaan yang dikerjakan secara bersamaan oleh Amerika Serikat dan Eropa untuk mengembangkan cara untuk merancang microchannel menjadi chip-chip silikon menjanjikan masa depan yang menjanjikan: kemungkinan microchannel reactor untuk menghasilkan perkembangan besar dalam proses kimia.</p>
<p>&#8220;Sayangnya,&#8221; kata Baker, seperti dikutip oleh <em>Innovation: America&#8217;s Journal of Technology Commersialization </em>&#8220;gagasan mengembangkan <em>microchannel reactor </em>untuk memproses limbah nuklir tidak pernah mencapai suatu daya tarik yang nyata. Malahan, suatu fasilitas sentral bernilai milyaran dolar untuk memproses limbah dalam tangki sedang dalam proses.&#8221;</p>
<p>Bangunan dasar dari <em>microchannel reactor </em>terdiri dari komponen-komponen dengan <em>microchannel-microchannel </em>paralel. Menurut Terry Mazanec, kepala ilmuwan Velocys, ukuran kecil berarti biaya kapital yang berkaitan dengan <em>microchannel reactor </em>relatif murah jika dibandingkan dengan peralatan konvensional. Keuntungan lainnya, semakin kecil <em>footprint</em> dari sebuah <em>microchannel reactor </em>memungkinkan reaktor dapat ditempatkan di tempat-tempat premium, pada platform pengilangan minyak bumi <em>offshore</em>, atau pada <em>refiner-refiner </em>yang ramai. Konstruksi modular reaktor memberikan fleksibilitas yang tinggi pada saat mendesain sebuah <em>plant</em>.</p>
<p>Perawatan dan pengisian katalis dapat dilakukan dengan mengganti <em>module-module</em> individual, tidak membutuhkan proses <em>shutdown</em> seluruh sistem. Suatu <em>plant</em> yang didasarkan pada <em>microchannel reactor </em>dapat dibangun pada luas area yang lebih kecil namun tetap memiliki kapasitas yang diperlukan. Hal ini tidak hanya akan memperlancar siklus bisnis dan menghemat biaya transportasi. Cara ini juga lebih mudah, lebih murah, dan lebih cepat dalam membuat kapasitas tambahan sesuai dengan kebutuhan.</p>
<p>Oleh karena setiap blok reaktor memiliki ribuan channel proses yang diisi dengan katalis yang terjalin dengan panas input atau <em>channel </em>dingin, maka <em>microchannel reactor </em>lebih mampu untuk melampaui <em>barrier </em>perpindahan panas dan massa. Dengan melampaui <em>barrier</em> perpindahan massa secara esensial memungkinkan produksi yang lebih cepat, sedangkan kapabilitas perpindahan panas berarti reaktor dapat mengatasi masalah panas secara lebih efisien daripada sistem konvensional. <em>Microchannel reactor</em> cocok digunakan untuk mengeluarkan baik reaksi katalitik eksotermik tinggi (atau generator panas) dimana panas dari reaktor harus dihilangkan, begitu juga reaksi endotermik tinggi atau reaksi yang membutuhkan panas tinggi.</p>
<p>Aplikasi-aplikasi yang potensial lainnya bagi microchannel reactor bervariasi dari produksi bahan komuditi kimia seperti <em>vinyl acetate, ethylene oxide, acrylic acid, </em>dan <em>acrylonitrite </em>dengan reaksi oksidasi parsial selektif untuk menguapkan metan <em>reforming</em> untuk memproduksi hidrogen untuk digunakan dalam bahan bakar. Namun demikian, aplikasi yang paling memungkinkan adalah produksi terdistribusi <em>second generation biofuel from waste </em>(BTL) dengan reaksi FT menggunakan <em>microchannel reactor</em> pada <em>plant </em>skala kecil dekat sumber limbah. Menurut Tonkovich, wakil presiden pengembangan teknologi dan manufaktur Velocys, dengan optimasi katalis yang baik, <em>microchannel reactor </em>FT kecil dapat beroperasi dengan efisien dan ekonomis saat reaktor hanya memproduksi 500 sampai 2000 ton limbah per hari.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Innovation: America&#8217;s Journal of Technology Commersialization.  				April/May 2009. <em>Processing Waste with Microchannel Reactors </em>oleh Laura Silva.<br />
<a href="http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/teknologi_tepat_guna/reaktor-microchannel-reaktor-apa-ini/">http://www.chem-is-try.org/artikel_kimia/teknologi_tepat_guna/reaktor-microchannel-reaktor-apa-ini/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1679&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/penanganan-limbah-dengan-microchannel-reactor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Plasma dalam Industri Tekstil</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 17:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Plasma merupakan teknologi alternatif yang efisien, hemat energi serta ramah lingkungan. Dalam industri tekstil, penggunaan energi plasma dapat menyebabkan proses pengikisan, pembentukan radikal bebas, disosiasi ikatan kimia, pembentukan ikatan silang pada permukaan polimer, dan lain-lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1651" title="plasma" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/plasma-300x295.jpg" alt="plasma" width="300" height="295" />Dalam industri tekstil, proses penyempurnaan kain hampir selalu dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari sifat-sifat kain sebelum dikirim kepada konsumen. Banyak cara untuk melakukan penyempurnaan kain, baik secara fisik maupun kimia. Hanya saja pada dalam proses penyempurnaan kain tersebut diperlukan banyak energi yang sampai saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak.</p>
<p>Untuk keperluan tersebut, beberapa industri tekstil telah mengupayakan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar. Namun bahan bakar minyak maupun batubara, keduanya merupakan sumber daya alam yang terbatas dan dapat habis pada suatu saat. Oleh karena itu perlu dicari teknologi alternatif yang lebih efisien, hemat energi serta lebih ramah lingkungan. Salah satu dari teknologi alternatif tersebut adalah energi plasma. Penggunaan energi plasma mempunyai manfaat yang cukup besar karena dapat menyebabkan proses pengikisan (<em>etching</em>) dan pembentukan radikal bebas, disosiasi ikatan kimia, pembentukan ikatan silang pada permukaan polimer, dan lain-lain.</p>
<p>Contoh-contoh serat alami maupun yang dibuat oleh manusia telah membuktikan bahwa banyak potensi yang dimiliki plasma dalam pengolahan material tekstil. Ini telah dibuktikan dengan suksesnya pengolahan anti-penyusutan pada wool dengan simultan efek posif pada <em>dyeing</em> and <em>printing. </em>Bukan hanya stuktur kimia pada permukaan yang dimodifikasi menggunakan gas plasma yang berbedam tetapi juga topografi permukaanya. Permukaan yang sangat hidrofobik dengan topografi tertentu berkontak dengan air bisa menimbulkan debu dan kotor and mungkin terkontaminasi oleh bakteri dan jamur.</p>
<h3><strong>Penggunaan Plasma Untuk Inisiasi <em>Grafting</em></strong></h3>
<p><strong><em></em></strong></p>
<h4><strong><em>Kapas</em></strong></h4>
<p><strong><em></em></strong> Kain kapas adalah kain yang terbuat dari serat kapas 100% yang molekulnya terdiri dari polimer selulosa. Serat kapas adalah serat selulosa alam yang mempunyai kutikula, lumen dan dinding sel yang kuat sehingga mempunyai kekuatan yang tinggi. Proses <em>etching </em>menggunakan GDP (<em>glow discharge plasma</em>) selama 20 menit menurunkan berat serat kapas sebesar 1, 9 %, sedangkan kekuatan benangnya dari 266 g turun menjadi 230 g, atau turun sebesar 13,5%. Serat kapas dengan ekspos 60 detik sudah dapat untuk inisiasi pada polimerisasi tempel (<em>grafting</em>) terhadap berbagai monomer. Monomer hidroksi etil metakrilat (HEMA) adalah yang paling besar kemampuannya untuk grafting pada kapas, disusul n-isopropil akrilamid (NIPA), metoksi etil akrilat (MEA), hidroksi etil akrilat (HEA), asam akrilat (AA) dan akrilamid (AMD).</p>
<h4><strong><em>Rayon Viskosa</em></strong></h4>
<p>Serat rayon viskosa adalah serat regenerasi selulosa yang dibuat dari <em>pulp</em> kayu cemara dan sejenisnya yang melalui serangkaian proses dan pemintalan basah dapat terbentuk serat. Oleh karena bahan dasarnya selulosa maka serat tersebut termasuk serat yang hidrofil. Serat rayon mempunyai berat molekul dan kristalinitas yang rendah dibanding serat kapas. Sehingga mempunyai kekuatan yang lebih rendah dan kandungan air (<em>moisture regain</em>) yang lebih tinggi, kurang lebih 12% (kandungan air kapas 8%). Pada proses <em>etching</em> dengan GDP selama 20 menit serat rayon mengalami penurunan berat sebesar 6%, sedangkan kekuatan benangnya turun dari 142g menjadi 105g atau turun sebesar 25,06%. Serat rayon viskosa yang terinisiasi selama 60 detik sudah mampu melakukan polimerisasi tempel (<em>grafting</em>) terhadap berbagai monomer. Kemampuan rayon viskosa untuk di-<em>grafting </em>dengan beberapa monomer berbeda dengan kemampuan kapas.</p>
<h4><em><strong> Poliester</strong></em></h4>
<p><em><strong></strong></em>Poliester adalah serat sintetik yang terbuat dari kopolimerisasi antara asam tereftalat dengan etilen-glikol membentuk polimer yang strukturnya sangat kristalin. Serat poliester sangat sedikit mengandung gugus hidrofil sehingga termasuk serat hidrofob dan pada kondisi normal mempunyai kandungan air (<em>moisture regain</em>) hanya 0,4%. Etching dengan GDP selama 20 menit menurunkan berat serat poliester sebesar 0,6%, sedangkan kekuatannya turun sebesar 19,2%. Sama halnya dengan serat kapas maupun rayon viskosa, serat poliester dapat melakukan polimerisasi tempeL terhadap berbagai monomer.</p>
<h4><strong><em>Nilon</em></strong></h4>
<p>Nilon (nilon 66) adalah serat sintetik yang terbuat dari kopolimerisasi antara asam adipat dan heksametilendiamin membentuk polimer dengan struktur supermolekuler yang sangat kristalin. Serat nilon relatif sedikit mengandung gugus hidrofil dan mengandung gugus amina, sehingga sifatnya lebih hidrofil dibanding poliester. Pada kondisi normal serat nilon mempunyai kandungan air (<em>moisture regain</em>) sebesar kurang lebih 4%. Proses etching dengan GDP selama 20 menit menurunkan berat serat nilon sebesar 6%, sedangkan  kekuatannya turun dari 228g menjadi 219g atau sebesar 4,4%.</p>
<h4><strong><em> Akrilik</em></strong></h4>
<p><strong><em></em></strong>Serat akrilik termasuk serat sintetik yang merupakan polimer hidrokarbon linier yang mengandung banyak gugus akrilonitril (lebih dari 85%). Proses <em>etching </em>GDP selama 20 menit menurunkan berat serat akrilik sebesar 6%, sedangkan kekuatannya turun dari 202g menjadi 198g atau sebesar 1,98%.</p>
<h4><em><strong> Rayon Asetat</strong></em></h4>
<p><em><strong></strong></em>Serat rayon asetat adalah serat regenerasi selulosa yang dimodifikasi, sehingga mengandung gugus asetat dan sifat-sifatnya jauh berbeda dengan serat rayon viskosa maupun serat kapas.</p>
<p><em>Grafting </em>serat-serat tekstil dengan monomer tidak menurunkan kekuatannya tetapi justru meningkatkan. Adanya monomer tertentu dapat menambah friksi antara serat satu dengan yang lainnya, sehingga kemungkinan terjadi selip lebih kecil.</p>
<blockquote><p><em>Sumber:</em><br />
<em></em> Kailani, Zubaidi A. 2005.  Pemanfaatan Energi Plasma dalam Proses Tekstil Untuk Memperbaiki Sifat-Sifat Kain.<br />
Sparavigna, Amelia. Plasma Treatment Advantages for Textiles.<br />
Höcker, Hartwig. 2002. Plasma Treatment of Textile Fiber. Pure Appl. Chem., Vol. 74, No. 3, pp. 423–427.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1632&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reaktor Aliran Bolak-Balik</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 14:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[catalyst]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1613</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu alternatif pengoperasian reaktor tak tunak adalah dengan cara mengubah arah aliran yang melalui reaktor secara periodik dalam selang waktu tertentu yang disebut switching time. Konsep ini dikenal dengan nama Reverse Flow Reactor atau Reaktor Aliran Bolak-balik (RABB).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1615" class="wp-caption alignleft" style="width: 123px"><img class="size-full wp-image-1615" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/pm_422p.jpg" alt="Reef Octopus CR-140 Reverse Flow Calcium Reactor from CoralVue" width="113" height="163" /><p class="wp-caption-text">Reef Octopus CR-140 Reverse Flow Calcium Reactor from CoralVue</p></div>
<p>Pengoperasian reaktor secara tak tunak yang dapat memberikan kelebihan yang besar bagi unjuk kerja suatu proses baru-baru ini mulai membuka jalan baru dalam intensifikasi proses. Berbeda dengan pengoperasian proses kontinu tradisional yang memfokuskan pada keadaan tunak, reaktor kontinu dipaksa untuk bekerja pada keadaan tak tunak (unsteady state). Salah satu alternatif pengoperasian reaktor tak tunak adalah dengan cara mengubah arah aliran yang melalui reaktor secara periodik dalam selang waktu tertentu yang disebut switching time. Konsep ini dikenal dengan nama<em> Reverse Flow Reactor</em> atau Reaktor Aliran Bolak-balik (RABB).</p>
<p>RABB telah menunjukkan keuntungan yang besar untuk reaksi eksotermis dalam hal <em>energy saving</em>. Selain itu dengan mengubah arah aliran dan mengatur frekuensi ubah (<em>switching  frequency</em>) alirannya RABB juga akan mengakibatkan terjadinya deviasi dari keadaan tunak yang dipercaya dapat meningkatkan selektifitas dan konversi. Akan tetapi diperlukan pemilihan frekuensi yang tepat karena apabila <em>switching time</em> terlalu cepat akan mengakibatkan konversi menjadi turun karena akan ada reaktan yang belum sempat bereaksi terdorong keluar dari reaktor saat arah aliran diubah. Karena itu pengaturan RABB untuk setiap proses berbeda-beda tergantung pada kondisi pengoperasiannya.</p>
<div id="attachment_1614" class="wp-caption aligncenter" style="width: 291px"><img class="size-full wp-image-1614" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/05/rfr.jpg" alt="Skema sederhana Reaktor Aliran Bolak-Balik (Reverse Flow Reactor)" width="281" height="215" /><p class="wp-caption-text">Skema sederhana Reaktor Aliran Bolak-Balik (Reverse Flow Reactor)</p></div>
<p>Skema proses dari RABB ditunjukkan secara sederhana pada gambar 1. Selama berlangsung siklus pertama, aliran mengalir melalui<strong> 1-2-R-3-4</strong>, dan selama berlangsung siklus kedua, aliran mengalir melalui <strong>1-2-R-3-4</strong>.  Pada kasus-kasus RABB pada umumnya, katalis di dalam reaktor bukan hanya berperan untuk mempercepat laju reaksi, tetapi juga dapat berperan sebagai penyimpan panas yang dihasilkan dari reaksi eksotermik. Hal ini dapat terjadi karena katalis memiliki kapasitas panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan fluida yang mengalir di dalam reaktor, baik yang diumpankan maupun yang dihasilkan. Untuk memaksimalkan penghematan energi maka arah aliran sebaiknya diganti saat temperatur aliran keluar mulai meningkat setelah pengubahan arah aliran pertama. Jika aliran dibalik arahnya secara periodik, maka aliran umpan tidak lagi memerlukan pemanas awal untuk mencapai temperatur mula reaksi (<em>reaction ignition temperature</em>).</p>
<p>RABB beroperasi pada dinamika beda temperatur yang besar sepanjang unggun katalis karena adanya pertukaran panas antara unggun katalis dan gas yang bereaksi. Pergerakan beda temperatur ini harus dipantau terus menerus, karena hal ini dapat menyebabkan gradien temperatur yang besar dan dapat merusak unggun katalis. Sistem kontrol operasi RABB adalah salah satu hambatan penerapan teknologi ini di industri. Pengoperasian sistem monitor dan kontrol diperlukan untuk menghindari pemadaman reaksi (<em>extinction</em>) serta kelebihan panas (<em>overheating</em>) pada unggun katalis. Selain itu, peralatan seperti kerangan yang dapat beroperasi pada frekuensi ubah (switching frequency) yang tinggi belum memadai, serta membutuhkan investasi yang mahal.</p>
<blockquote><p>Referensi:<br />
<em>Simulation of Reverse Flow Operation for Manipulation of Catalyst Surface Coverage in the Selective Oxidation of Ammonia</em>. Y.W. Budhi, dkk. 2004<br />
<em>Reverse Flow Operation with Reactor Side Feeding: Analysis, Modeling, and Simulation</em>. Y.W. Budhi, dkk. 2009.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1613&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resin Urea-Formaldehide</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1599</guid>
		<description><![CDATA[Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil kondensasi urea dengan formaldehid. Polimer jenis ini banyak digunakan di industri untuk berbagai tujuan seperti bahan adhesif (61%), papan fiber berdensitas medium (27%), hardwood plywood (5%), dan lain-lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1601" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/04/resin11.jpg"><img class="size-medium wp-image-1601" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/04/resin11-300x199.jpg" alt="Resin for Automotive Paint" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Resin for Automotive Paint</p></div>
<p>Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil kondensasi urea dengan formaldehid. Polimer jenis ini banyak digunakan di industri untuk berbagai tujuan seperti bahan adhesif (61%), papan fiber berdensitas medium (27%), hardwood plywood (5%) dan laminasi (7%) pada produk furnitur, panel dan lain-lain.</p>
<p>Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai urea-metanal) adalah suatu resin atau plastik thermosetting yang terbuat dari urea dan formaldehid yang dipanaskan dalam suasana basa lembut seperti amoniak atau piridin. Resin ini memiliki sifat tensile-strength dan hardness permukaan yang tinggi, dan absorpsi air yang rendah.</p>
<p>Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi kondensasi antara urea dengan formaldehid. Pada umumnya reaksi menggunakan katalis hidroksida alkali dan kondisi reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi reaksi Cannizaro, yaitu reaksi diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam karboksilat. Untuk menjaga agar pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia sebagai buffer ke dalam campuran.</p>
<p>Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni inisiasi, propagasi (kondensasi), dan proses curing.</p>
<ol>
<li> Tahap metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea, dan menghasilkan metilol urea</li>
<li> Tahap selanjutnya propagasi, yaitu reaksi kondensasi dari monomer-monomer mono dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus</li>
<li> Tahap terakhir adalah proses curing yaitu ketika kondensasi tetap berlangsung, polimer membentuk rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi resin thermosetting. Resin thermosetting mempunyai sifat tahan terhadap asam, basa, serta tidak dapat melarut dan meleleh. Temperatur curing dilakukan pada sekitar temperatur 120 Celcius dan pH &lt; 5</li>
</ol>
<h3><strong>Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Urea-Formaldehid</strong></h3>
<h4><strong>Katalis</strong></h4>
<p>Penggunaan katalis pada suatu reaksi akan meningkatkan laju reaksi tersebut. Begitu juga yang terjadi pada reaksi urea-formaldehid ini. Laju reaksinya akan meningkat jika digunakan katalis. Katalis yang diguanakan pada percobaan ini adalah NH4OH karena reaksi ini berlangsung pada kondisi basa.</p>
<h4><strong>Temperatur</strong></h4>
<p>Kenaikan temperatur selalu mengakibatkan peningkatan laju suatu reaksi. Namun, kenaikan temperatur ini dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk, bergantung pada jenis reaksi tersebut (eksoterm atau endoterm). Oleh karena itu, diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.<br />
Kenaikan temparatur juga dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-formaldehid. Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang baru, sehingga memperkecil ukuran molekul resin.</p>
<h4><strong>Waktu Reaksi</strong></h4>
<p>Jumlah dan sifat produk yang dihasilkan dari suatu reaksi juga dipengaruhi oleh waktu reaksi. Makin lama waktu reaksi, jumlah produk yang dihasilkan makin banyak akibatnya, resin yang dihasilkan akan berkadar tinggi dan memiliki Mr tinggi.</p>
<p>Pembuatan resin urea – formaldehid skala laboratorium dapat dilakukan dengan langkah kerja sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Masukkan 500 ml formalin (37%-w/w ) ke dalam labu bundar berleher yang dilengkapi kondensor, termometer, agitator, dan water bath (heater)</li>
<li> Tambahkan 2 gram Na2CO3H2O sebagai buffering agent</li>
<li> Tambahkan 206,5 ml NH4OH sebagai katalis</li>
<li> Tambahkan 3,8 mol Urea kemudian aduk secara teratur hingga tampak homogen</li>
<li> Panaskan larutan secara perlahan sampai mendidih</li>
<li> Setelah mendidih, akan terjadi refluks</li>
<li>Setelah terjadi refluks, atur temperatur heater menjadi 65 oC</li>
<li> Panaskan selama 3 jam sejak terjadi refluks pertama</li>
<li> Setelah 3 jam, ambil larutan secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang tahan panas misalnya cawan penguap</li>
<li>Masukkan larutan dalam cawan penguap ke dalam oven dengan temperatur pemanasan sekitar 120 oC selama 24 jam hingga larutan mengeras membentuk resin</li>
</ol>
<div id="attachment_1602" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/04/dsc00360.jpg"><img class="size-medium wp-image-1602" src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2009/04/dsc00360-225x300.jpg" alt="Gambar rangkaian alat" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar rangkaian alat</p></div>
<p>Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu berleher yang dilengkapi kondensor ohm meter, termometer, agitator. Kondensor berfungsi mengembunkan air yang menguap selama proses polimerisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat tercapainya kesetimbangan reaksi. Agitator berfungsi membuat larutan tetap homogen selama proses berlangsung.</p>
<p>Kerugian penggunaan urea-formaldehid sebagai resin dibandingkan polimer lain adalah resistensinya terhadap kadar air (moisture) apalagi jika dikombinasikan dengan panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan monomer – monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer. Monomer ini biasanya beracun misalnya formaldehid yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, ada baiknya bila kita akan menggunakan peralatan makan yang terbuat dari bahan polimer, sebaiknya peralatan tersebut direndam dahulu dengan air panas dengan tujuan agar monomer – monomer yang belum sempurna bereaksi terlepas pada air rendaman.</p>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li> Billmeyer Jr.,F.W.,Textbook  of Polymer Science, John Wiley and Sons, 1994, pp.186-219</li>
<li>D’Alelio, G.F., Experiment Plastics and Synthetic Resins, John Wiley and Sons, 1952, pp. 163-166</li>
<li><a href="http://www.fpl.fs.fed.us/documnts/pdf1996/conne96a.pdf">http://www.fpl.fs.fed.us/documnts/pdf1996/conne96a.pdf</a></li>
</ul>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1599&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chemiformers: lab cars go green!</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/03/chemiformers-lab-cars-go-green/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/03/chemiformers-lab-cars-go-green/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 Mar 2008 16:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Alvin Octory Atmojo</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[fuel cell]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/03/chemiformers-lab-cars-go-green/</guid>
		<description><![CDATA[The Chemiformers, UKM Chem-e-Car winning green lab car, operate using electrochemical cell which consists of magnesium and lead oxide as the electrodes and sulfuric acid as the electrolyte.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:302px;"><img src='http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2008/03/chemiformers-1.JPG' alt='chemiformers-1.JPG' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Chemiformers.</strong> This green lab car operates using electrochemical cell which consists of magnesium and lead oxide as the electrodes and sulfuric acid as the electrolyte.</div>
</div>
</div>
<h3>What is Chem-e-Car?</h3>
<p>Chem-e-Car is an annual college competition for students majoring in Chemical Engineering held in Malaysia. Students must design small-scale automobiles that operate by chemical means, along with a poster describing their research. During the competition, they must drive their car a fixed distance in order to demonstrate its capabilities. In addition to driving a specified distance, they must also hold a payload of 0-500mL of water. The exact distance (15-30m) and payload is given one hour before the competition. The size of designed cars cannot exceed a specific defined size and cars must operate using &#8220;green&#8221; methods, which do not release any pollution or waste in the form of a visible liquid or gas, such as exhaust. To operate the car using &#8220;green&#8221; method, it can be used electrochemical cell, fuel cell, solar cell, pressure, and etc. A new learning opportunity is emerging, in which the competition can help students to confront another reality safety an area of instruction where some teachers admit the current curriculum often falls short. The competition may help jump-start students’ expertise in safety. The event gives chemical engineering students the opportunity to work in teams and apply their knowledge of chemistry, physics, and thermodynamics.</p>
<h3>How Chemiformers work?</h3>
<p>The Chemiformers operate using electrochemical cell which consists of magnesium and lead oxide as the electrodes and sulfuric acid as the electrolyte. In the process of the reaction, electrons move from magnesium to lead oxide through an electrically conducting path as useful electric current. This result generates energy to move the motor which connected to the well of the car and thus moves the car. The car will continue move until the magnesium strip is fully dissolved into the solution.</p>
<h3>Reaction</h3>
<p>Anode : Mg<sub>(s)</sub> + SO<sub>4</sub><sup>2-</sup><sub>(aq)</sub> + 2H<sup>+</sup><sub>(aq)</sub> -> MgSO<sub>4(s)</sub> + H<sub>2(g)</sub> + 2e<sup>-</sup><br />
Cathode	: PbO<sub>2(s)</sub> + SO<sub>4</sub><sup>2-</sup><sub>(aq)</sub> + 4H<sup>+</sup><sub>(aq)</sub> + 2e<sup>-</sup> -> PbSO<sub>4(s)</sub> + 2H<sub>2</sub>O<sub>(l)</sub><br />
Overall : Mg<sub>(s)</sub> + 2SO<sub>4</sub><sup>2-</sup><sub>(aq)</sub> + PbO<sub>2(s)</sub> + 6H<sup>+</sup><sub>(aq)</sub> -> MgSO<sub>4(s)</sub> + PbSO<sub>4(s)</sub> + H<sub>2(g)</sub> + 2H<sub>2</sub>O<sub>(l)</sub></p>
<h3>Features and Safety</h3>
<p>Inside the Chemiformers, the reaction occurs instantly as soon as the circuit is completed, giving a very minimal start-up time in the process. Additional to the zero release of pollution in the form of a visible liquid or gas, Chemiformers also uses economical-recycled materials which make it a complete environmentally-friendly lab cars. Chemiformers may be operated in ease with design considerations in the safety factors. The reactant tank is spillage and leakage free designed from material that strong enough to hold acids. The byproduct of Chemiformers is hydrogen which is earth-friendly gas.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:302px;"><img src='http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2008/03/chemiformers-2.JPG' alt='chemiformers-2.JPG' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Chemiformers.</strong> Additional to the zero release of pollution in the form of a visible liquid or gas, Chemiformers also uses economical-recycled materials which make it a complete environmentally-friendly lab cars.</div>
</div>
</div>
<h3>The Competition</h3>
<p>Chemiformers was one of two teams that represent Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) in the competition. The team members are Ahmad Sharifudin Hashim, Shafika Zulkepli, Siti Noor Leela Selamat, and Alvin Octory Atmojo, an Indonesian student that currently continuing his bachelor study in UKM Malaysia. Chemiformers was also the winners of the Chem-E-Car competition at UKM level, held at the Engineering Faculty in September 2007. The competition, an annual event, was organized by the Institution of Engineers Malaysia (IEM) and held at Universiti Sains Malaysia (USM), Penang. UKM won the Special Award, secured second place in the Car Competition and first place in the Poster Presentation in the competition.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=292&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/03/chemiformers-lab-cars-go-green/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>21</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fluoridation</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 08:51:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Birru Pagi Lucha</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komik]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/</guid>
		<description><![CDATA[Dentists, doctors and government health authorities who actually promote the fluoridation of public water supplies are nothing less than clinically insane.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/comic/Fluoride_Water_Main_600.png" alt="Fluoridation" /></p>
<p>Commentary by <a href="http://www.newstarget.com">Mike Adams</a>, the creator of this cartoon:</p>
<p>The fluoride issue is, in my opinion, a &#8220;sanity test&#8221; for anyone who claims to know anything about health. As I will explain here, all the dentists, doctors and government health authorities who actually promote the fluoridation of public water supplies are nothing less than clinically insane.</p>
<p>How do I know? Because I know where this so-called &#8220;fluoride&#8221; comes from. Cities actually buy the stuff from coal plants and chemical manufacturers, where it would normally have to be disposed of as a toxic waste chemical if it wasn&#8217;t sold to towns and cities to be dumped into the water supply. This fluoride byproduct of chemical processing is so toxic that it&#8217;s a violation of environmental laws to dump it into any river. Yet it&#8217;s somehow perfectly legal to feed it to infants, children, adults and senior citizens who are drinking from the public water supply. Interesting, huh? It&#8217;s so toxic that it kills fish, but dentists want your babies to drink it.</p>
<p>The entire pro-fluoride argument lacks a single shred of scientific evidence showing any benefit whatsoever to the mass consumption of the fluoride chemical. Essentially, the leaders in dentistry and medicine simply invented a myth about fluoride and dental health, then invested their careers and egos in the desperate defense of this myth, even as the scientific evidence clearly shows increased rates of hip fractures, fluorosis and even cancer from fluoride consumption.</p>
<p>The claims about fluoride essentially make it a drug according to FDA regulations, yet this &#8220;drug&#8221; has never been approved as a treatment or cure for dental caries by the FDA. Furthermore, can you think of any other drug that is mass-medicated to the entire population with no diagnosis, no medical oversight and no patient follow-up whatsoever? It&#8217;s like dumping Prozac into the water supply and saying, &#8220;Everyone is depressed and needs their brain chemistry balanced.&#8221; A silly idea, of course, but it&#8217;s essentially the same as dumping fluoride into the water supply.</p>
<p>Of course, any use of reason, logic or genuine science is not allowed in the fluoride debate. Dentists, doctors and health authorities viciously defend the indiscriminate fluoridation of all humans with the ferocity of rabid pack dogs. For any sane person to even suggest that perhaps industrial waste chemicals should not be dumped into public water supplies is to invite a wild-eyed verbal assault by dentists so filled with ignorance and froth that you would think you were insulting the false gods of some outdated superstition from eons past. Which, of course, is exactly what fluoridation is: superstition.</p>
<p>Any perceived health benefit of mass fluoridation is nothing more than persistent myth, desperately defended by the most irrational, unscientific and easily offended members of modern society &#8212; who all happen to reside in some branch of medicine, by the way. These myth pushers claim to base their support of dumping toxic chemicals into the water supply based on so-called &#8220;scientific evidence&#8221; that they can never quite produce. The only evidence they have is the circular-logic statements of various dentists quoting each other in some sort of deviant doctoral blabbing contest. Meanwhile, they selectively ignore any real evidence from scientific studies showing the damaging effects of fluoride.</p>
<p>Selective censorship of reality is, of course, the very foundation of modern dentistry &#8212; an industry that exists in such blatant denial of reality that it continues to implant some 34 metric tons of mercury &#8212; one of the most toxic substances to human and environmental health &#8212; into the mouths of dental patients each year. All while calling it perfectly safe, of course.</p>
<p>Mercury is perfectly safe, they all proclaim. And so is fluoride. And, come to think of it, there&#8217;s no such thing as any chemical too dangerous to put in the mouths or stomachs of patients as long as your dentist says so. And while we&#8217;re at it, don&#8217;t forget to have your wisdom teeth surgically removed &#8212; yet another medically useless procedure that&#8217;s been scientifically shown to be utterly worthless according to the British Medical Journal. I, for one, still have all my wisdom teeth, and nearly every time I see a new dentist, the idiot insists that I have them surgically removed even though they are entirely asymptomatic (i.e. nothing&#8217;s wrong with them).</p>
<p>All this explains why the fluoride question is such an effective sanity test. Anyone who genuinely supports the disposal of toxic fluoride chemicals via public waterways is not merely a fool and a danger to themselves; they are a danger to society and should probably be locked away in some sort of institution where crazy people can bang their heads against the walls until their mercury fillings fall out. There, at least, they won&#8217;t harm anybody else.</p>
<p>Fortunately, there are a growing number of sane dentists and doctors in the world. One of the leading organizations in this regard is the IAOMT. Watch their &#8220;Smoking Teeth&#8221; video if you want to learn the truth about mercury fillings, or read their Position on Fluoridation to hear what sane, intelligent dentists have concluded about mass fluoridation practices.</p>
<p>And if you still have mercury fillings in your mouth, get them removed by a dentist who specializes in mercury removal. Be sure to take plenty of chlorella and Jon Barron&#8217;s Metal Magic tincture before and after any such procedure to minimize the amount of fluoride that gets into your body during removal.</p>
<p>Finally, if your dentist continues to push fluoridation and mercury fillings (they call them &#8220;silver fillings&#8221; to hide the fact that they&#8217;re made with mercury), fire the idiot and find yourself a new dentist who runs a more natural health oriented practice. Natural dentistry is a growing practice. And it&#8217;s no mystery why. The American Dental Association, in my opinion, remains stuck in the Dark Ages. I can&#8217;t wait for the day when they finally reverse their support of fluoride and mercury and join the rest of the sane people in the world who have long since figured out that toxic chemicals do not belong in the human body.</p>
<p>This is not complicated, folks. I think that perhaps the only reason anyone still supports fluoride or mercury is because their brains have been affected by the chemicals.</p>
<p>And yes, by the way, it&#8217;s true that people who handle fluoride have to wear chemical suits, just as shown in this comic. If you drop a bottle of pure fluoride and inhale the fumes or get some on your skin, it can kill you. </p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=262&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/01/fluoridation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Katalis dan Produksinya di Indonesia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 17 Nov 2007 20:23:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[catalyst]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/</guid>
		<description><![CDATA[Katalis hampir selalu ada di dalam reaktor industri. Bagaimana produksi katalis di Indonesia? Dari sekian banyak pabrik kimia yang ada, berapa yang menggunakan katalis produksi nasional?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Katalis? Mungkin istilah yang satu ini sudah tidak asing lagi di telinga teman-teman. Bahkan sejak di bangku SMA dulu, bapak dan ibu guru kimia kita telah memperkenalkan istilah ini kepada kita. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi teman-teman untuk tidak kenal sama yang namanya katalis, terutama mahasiswa Teknik Kimia!! Hehehe&#8230;</p>
<p>Katalis hampir selalu ada di dalam reaktor industri.. Senyawa tambahan yang berjumlah amat sedikit bila dibandingkan laju alir reaktan dan produk, namun membawa dampak sedemikian besar terhadap karakteristik produk baik secara kualitas dan kuantitas.. Bagaimana ya produksi katalis di Indonesia? Dari sekian banyak pabrik kimia yang ada, berapa persen ya kira-kira pabrik yang menggunakan katalis produksi nasional?? Tapi sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita menyegarkan pikiran kita tentang apa katalis itu sebenarnya.. Untuk teman-teman yang sudah expert, harap bersabar.. banyak pembaca kita yang bahkan baru memulai semester pertamanya di jurusan Teknik Kimia.. Hehehe..</p>
<h3>Definisi</h3>
<p>Hmmm&#8230; teman-teman ingat tidak? Dulu waktu SMA guru kita pernah menerangkan definisi katalis: <em>zat yang mempercepat reaksi tanpa ikut bereaksi</em>. Nahh berhubung kita sekarang sudah mahasiswa, ada baiknya definisi tersebut kita perbaiki karena pada dasarnya definisi tersebut kurang tepat. Definisi yang lebih tepat ialah <em>zat yang dapat mempercepat reaksi tanpa ikut terkonsumsi oleh keseluruhan reaksi.</em> Mengapa demikian? Karena pada dasarnya katalis justru HARUS ikut bereaksi dengan reaktan untuk membentuk suatu zat antara yang aktif. Zat antara ini kemudian bereaksi dengan molekul reaktan yang lain menghasilkan produk. Pada akhirnya, produk kemudian terlepas dari permukaan katalis. Untuk lebih jelasnya, lihat contoh berikut :</p>
<p>Reaksi A + B -&gt; D hendak dilakukan dengan menggunakan C sebagai katalis. Mekanisme reaksi yang terjadi ialah:<br />
<center></p>
<table>
<tr>
<td>A + C</td>
<td>-&gt;</td>
<td>AC</td>
<td>(1)</td>
</tr>
<tr>
<td>B + AC</td>
<td>-&gt;</td>
<td>ABC</td>
<td>(2)</td>
</tr>
<tr>
<td>ABC</td>
<td>-&gt;</td>
<td>CD</td>
<td>(3)</td>
</tr>
<tr>
<td>CD</td>
<td>-&gt;</td>
<td>C + D</td>
<td>(4)</td>
</tr>
<tr>
<td>A + B</td>
<td>-&gt;</td>
<td>D</td>
<td>(total)</td>
</tr>
</table>
<p></center></p>
<h3>Penggolongan dan Struktur Katalis</h3>
<p>Berdasarkan fasanya, katalis bisa digolongkan menjadi 2 yaitu katalis <strong>heterogen</strong> (fasa katalis tidak sama dengan campuran reaksi) dan <strong>homogen</strong> (fasa katalis sama dengan campuran reaksi). Namun, katalis heterogen lebih disukai karena proses pemisahan katalis dan hasil-hasil reaksi lebih mudah untuk dilakukan. Suatu katalis padat terdiri dari 3 komponen utama, yaitu <strong>(1) fasa aktif, (2) penyangga, dan (3) promotor.</strong> Fasa aktif berfungsi untuk mempercepat dan mengarahkan reaksi, peyangga berfungsi untuk memberikan luas permukaan yang lebih besar bagi fasa aktif, dan promotor berfungsi untuk meningkatkan kinerja katalis. Fasa aktif dari katalis bisa menjadi tidak aktif (terdeaktivasi) karena beberapa sebab seperti kehadiran CO, CO<sub>2</sub>, dan senyawa-senyawa sulfur serta temperatur operasi yang terlalu tinggi.</p>
<h3>Cara Kerja dan Sifat-sifat Katalis</h3>
<p>Sebelum membahas bagaimana cara kerja dari katalis, ada baiknya kita mengetahui syarat-syarat yang diperlukan agar reaksi dapat berlangsung. Syarat berlangsungnya reaksi ialah <strong>(1) Terjadi kontak (tumbukan) dengan orientasi yang tepat, dan (2) disertai dengan energi yang cukup (melebihi energi aktivasi reaksi)</strong>. Dengan adanya katalis, kedua syarat di atas dapat terkomodasi dengan baik. Katalis dapat “mengantarkan” reaktan melalui jalan baru yang lebih mudah untuk berubah menjadi produk. Jalan baru yang dimaksud yaitu jalan dengan energi aktivasi yang lebih rendah. Keberadaan katalis juga dapat meningkatkan jumlah tumbukan dengan orientasi yang tepat. Hal itu disebabkan molekul-molekul reaktan akan teradsorp pada permukaan aktif katalis sehingga kemungkinan terjadinya tumbukan antar molekul-molekul reaktan akan semakin besar. Selain itu, ketepatan orientasi tumbukan pun akan semakin meningkat.Katalis memiliki beberapa sifat-sifat tertentu, yang pertama ialah katalis tidak mengubah kesetimbangan dan katalis hanya berpengaruh pada sifat kinetik seperti mekanisme reaksi. Oleh karena itu, sebagus apa pun katalis yang digunakan, konversi yang dihasilkan tidak akan melebihi konversi kesetimbangan. Selain itu, katalis juga bersifat spesifik, satu katalis hanya sesuai untuk satu jenis reaksi saja. Dan bagaimana efek penggunaan katalis terhadap keseluruhan reaksi? Sebagai gambaran, <em>pada sintesis amonia, dibutuhkan sekitar 100 meter kubik katalis untuk menghasilkan 1500 ton amonia/hari dengan masa kerja 10 tahun.</em></p>
<h3>Katalis di Indonesia</h3>
<p>Nah.. dari definisi dan cara kerja di atas, teman-teman semua pasti sudah memiliki gambaran yang cukup tentang bagaimana pentingnya penggunaan katalis dalam sebuah reaktor industri. Bayangkan saja, tanpa katalis suatu reaksi dapat menjadi 1.000.000 kali lebih lambat dalam menghasilkan produk. Salah satu pabrik katalis yang ada di Indonesia ialah pabrik di Kawasan Industri Kujang Cikampek dengan kapasitas produksi 1.100 ton/tahun. Pengelola pabrik ini adalah P.T. Kujang Süd-Chemie Catalysts, yaitu sebuah perusahaan patungan PT. Pupuk Kujang dengan Süd-Chemie Jepang dan Jerman. Namun untuk memberi gambaran tentang bagaimana keadaan industri katalis di Indonesia, berikut ini sedikit kutipan dari Harian Umum Kompas:</p>
<blockquote><p>Meski peneliti di perguruan tinggi dan lembaga penelitian di Indonesia berhasil mengembangkan teknologi katalis yang bernilai ekonomi, belum ada industri yang berminat memproduksi hasil inovasi itu. Hal ini, antara lain, disebabkan <strong>produksi katalis tidak menjanjikan skala produksi dan keuntungan yang tinggi.</strong> Akibatnya, hampir seluruh kebutuhan tersebut <strong>diimpor dan sebagian kecil diproduksi di Indonesia dengan lisensi dari luar negeri.</strong> Sejauh ini, pengembangan katalis belum menjadi perhatian secara terpadu dari pemerintah, industri, dan lembaga penelitian.</p></blockquote>
<p>Hal tersebut disampaikan Ketua Masyarakat Katalis Indonesia (MKI) <strong>Dr. Subagjo</strong> dalam Simposium dan Kongres I Teknologi Katalis Indonesia 2005 di Serpong, Banten. Kongres terakhir MKI diselenggarakan di Universitas Diponegoro pada tahun 2006 lalu dan kongres ketiga akan diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada tahun ini.</p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:303px;"><img src='http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2007/11/cuznal-impregnasi.jpg' alt='Cu/Zn/Al Impregnasi'  class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Cu/Zn/Al2O3</strong>: Katalis yang digunakan untuk reaksi reformasi metanol penyedia hidrogen untuk fuel cell. Dibuat dengan metode impregnasi kering gamma-alumina (Al2O3) dengan larutan Cu(NO3)2 dan Zn(NO3)2. Penelitian dari Makertihartha, Janitra, dan Sianturi ini mengemukakan bahwa katalis ini menghasilkan konversi metanol sebesar 90% pada suhu 225 C.</div>
</div>
</div>
<p>Bagaimana pendapat teman-teman mendengar keadaan tersebut? Cukup disayangkan bukan? Seluruh kebutuhan katalis diimpor dan hanya sebagian kecil yang diproduksi di Indonesia.. Itupun dengan lisensi dari luar negeri.. Yang artinya katalis tersebut diproduksi oleh pabrik tertentu dengan komposisi, kondisi operasi, dan resep-resep lainnya yang sudah dipatenkan dan kita harus membayar sekian rupiah kepada negara luar untuk setiap katalis yang dihasilkan. Padahal, pada dasarnya Indonesia memiliki sumber daya dan teknologi yang cukup untuk memproduksi katalis sendiri. Dan apa kira-kira penyebab industri Indonesia tidak bisa menjanjikan kebutuhan katalis dalam skala yang besar? Bukankah setiap industri di Indonesia membutuhkan katalis dalam tiap reaktornya? Apakah kualitas katalis Indonesia masih kurang baik dibandingkan kualitas buatan luar negeri? Ataukah memang pada dasarnya industri Indonesia lebih yakin akan kualitas katalis buatan luar negeri dibandingkan dengan katalis buatan Indonesia??</p>
<p>Tapi untungnya, masyarakat katalis Indonesia cukup peka terhadap keadaan tersebut dan beberapa gerakan telah dilakukan untuk menginisiasi pengembangan katalis mandiri yang berkualitas buatan Indonesia.<br />
Berikut ini kutipan lain dari Harian Kompas:</p>
<blockquote><p>Lebih dari itu, beberapa institusi anggota MKI, ujar peneliti dari Pusat Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Dr Hery Haerudin, telah melaksanakan pengembangan katalis dan teknologi pemprosesnya. Di antaranya <strong>hydrotreating minyak mentah untuk menghilangkan pengotor; katalis asam padat dengan memanfaatkan tanah liat untuk memproduksi bio-diesel atau bahkan biogasoline, pengembangan katalis proses produksi hidrogen untuk fuel cell, serta pengembangan katalis perengkahan minyak berat.</strong></p></blockquote>
<p>Semoga teman-teman sedikit tersadarkan akan pentingnya suatu senyawa (atau campuran senyawa) bernama katalis yang secara kuantitas amatlah kecil bila dibandingkan dengan volume produksi pabrik, namun memegang peranan yang sedemikian pentingnya dalam industri. Bahkan minyak bumi sekalipun, yang diheboh-hebohkan dan diperebutkan oleh negara-negara di dunia, tetap membutuhkan katalis-katalis dalam rangkaian pemrosesannya sebelum akhirnya dapat kita nikmati sebagai bahan bakar untuk rumah tangga dan kendaraan pribadi kita. Dan bukan salah industri Indonesia apabila mereka lebih mempercayai kualitas katalis luar negeri ketimbang katalis buatan sendiri. Mungkin memang pada dasarnya mereka jauh lebih baik dari kita. Atau mungkin mahasiswa dan peneliti Indonesia yang masih kurang sadar akan pentingnya katalis berkualitas buatan negeri sendiri. Dan sepertinya, sudah menjadi tugas kita sebagai mahasiswa untuk memajukan kualitas katalis buatan Indonesia agar terpercaya dan terjamin performa dan <em>reliability</em>-nya.</p>
<p>Ayo majukan produksi katalis Indonesia!</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0502/25/humaniora/1581253.htm">Harian Umum Kompas</a>, <a href="http://www.katalisis.org/">Situs Masyarakat Katalis Indonesia</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=121&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/katalis-dan-produksinya-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>26</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Regional Symposium on Chemical Engineering 2007</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/10/regional-symposium-on-chemical-engineering-2007/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/10/regional-symposium-on-chemical-engineering-2007/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 27 Oct 2007 11:23:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/10/regional-symposium-on-chemical-engineering-2007/</guid>
		<description><![CDATA[The 14th Regional Symposium on Chemical Engineering (RSCE 2007) is scheduled to take place on 4-5 December 2007 in Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>The Regional Symposium on Chemical Engineering (RSCE)</strong> provides a forum for academicians, researchers and professional from both public and private organizations, particularly in the Asia region, to exchange knowledge and information of relevance to the chemical industries. The Organizing Committee welcomes academics, engineers, scientists and industrialists to participate and contribute to this symposium.</p>
<p>The Regional Symposium on Chemical Engineering has become an important annual forum for academicians, researchers and practitioners in the South East and Pacific Asian region, to exchange knowledge and information in the broad area of chemical engineering science and technology. This event has a pivotal role in improving chemical engineering research and linkages in Asean region. The past symposia were held in:</p>
<ul>
<li>Philippines (1994, 1998, 2003)</li>
<li>Thailand (1995, 1999, 2004)</li>
<li><strong>Indonesia (1996, 2001)</strong></li>
<li>Malaysia (1997, 2002)</li>
<li>Vietnam (2005)</li>
<li>Singapore (2000, 2006)</li>
</ul>
<p>To continue the excellent tradition in promoting the interchange of idea among researchers and practitioners from a variety of institutions and industries working in or related to Chemical Engineering, the 14th Regional Symposium on Chemical Engineering (RSCE 2007) is scheduled to take place on 4 &#8211; 5 December 2007 in Indonesia. It will be organized by <a href="http://chemeng.ugm.ac.id/" target="_blank">Chemical Engineering Department</a>, <a href="http://www.ugm.ac.id/" target="_blank">Gadjah Mada University</a>, Indonesia. The Organizing Committee welcomes all chemical engineering professions to participate to this symposium <strong>RSCE 2007 &#8211; Frontiers in Chemical Engineering</strong>. This year, the symposium will be followed by the <strong>International Workshop on Industrial Multiphase Flows and Reactors</strong> on 6 &#8211; 7 December 2007.</p>
<p>The registration fee for Indonesian students is <strong>Rp 350.000</strong> (RSCE2007), <strong>Rp 700.000</strong> (International Workshop), and <strong>Rp 850.000</strong> (RSCE2007 and International Workshop). The registration fee covers the proceeding materials, lunches, tea breaks and dinner. The event brochure dan information can be downloaded <a href="http://majari.lemuel.netdna-cdn.com/wp-content/uploads/2007/10/symposium_rsce_2007_last_call-3.pdf" title="RSCE 2007">here [PDF 1.66MB]</a>. More information about RSCE 2007 can also be found in <a href="http://rsce.ugm.ac.id/" target="_blank">the official website</a>.</p>
<blockquote><p>Reference(s): <a href="http://rsce.ugm.ac.id/" target="_blank">Regional Symposium on Chemical Engineering 2007 </a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=53&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/10/regional-symposium-on-chemical-engineering-2007/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 1/56 queries in 0.055 seconds using disk: basic
Object Caching 659/806 objects using disk: basic
Content Delivery Network via majari.lemuel.netdna-cdn.com

Served from: majarimagazine.com @ 2012-02-04 10:19:00 -->
