<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Indonesia</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/indonesia/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 04:50:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Potensi Pengembangan Biodiesel di Indonesia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 06:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1861</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua (tahun 2002) dan akan menjadi penghasil CPO terbesar dunia (tahun 2012). Dengan mempertimbangkan aspek bahan, teknologi, dan independensi Indonesia terhadap diesel, biodiesel merupakan teknologi yang dapat dengan cepat diimplementasikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1864" class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img class="size-full wp-image-1864" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/jatropha-bio-diesel.jpg" alt="Jarak pagar (Jatropha curcas) adalah salah satu bahan baku biodiesel yang potensial untuk digunakan di Indonesia." width="262" height="232" /><p class="wp-caption-text">Jarak pagar (Jatropha curcas) adalah salah satu bahan baku biodiesel yang potensial untuk digunakan di Indonesia.</p></div>
<p>Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.</p>
<p>Pemilihan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah <em>crude palm oil</em> (CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar (<em>Jathropa Curcas</em>) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.</p>
<div id="attachment_1863" class="wp-caption aligncenter" style="width: 392px"><img class="size-full wp-image-1863" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/indonesia2.jpg" alt="Rancangan fasilias produksi biodiesel (INBT 2008)" width="382" height="261" /><p class="wp-caption-text">Rancangan fasilias produksi biodiesel (INBT 2008)</p></div>
<p>Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan produksi CPO sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO terbesar di dunia pada tahun 2012. Dengan mempertimbangkan aspek kelimpahan bahan baku, teknologi pembuatan, dan independensi Indonesia terhadap energi diesel, maka selayaknya potensi pengembangan biodiesel merupakan potensi pengembangan biodiesel sebagai suatu alternatif yang dapat dengan cepat diimplementasikan.</p>
<p>Walaupun pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pengembangan biodiesel, pemerintah tetap bergerak  pelan dan juga berhati-hati dalam mengimplementasikan hukum pendukung bagi produksi biodiesel. Pemerintah memberikan subsidi bagi biodiesel, bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang sama dengan bahan bakar fosil, padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang dibutuhkan.</p>
<p>Sampai saat ini,  payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Peraturan Perundang-undangan lainny, adalah sebagai berikuti:</p>
<ol>
<li>Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang <em>Kebijaksanaan Energi Nasional</em></li>
<li>Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang <em>Pengadaaan dan Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif</em></li>
<li>Dektrit Presiden No. 10/2006 tentang <em>Pembentukan team nasional untuk Pengembangan Biofuel</em></li>
</ol>
<p>Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan biodiesel. Pada fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa sawit.</p>
<p>Fasa kedua (2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi telah digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 – 100.000 ton per tahun. Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 – 2025), teknologi yang ada diharapkan telah mencapai level ‘high performance’ dimana produk yang dihasilkan memiliki angka setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter. Selain itu juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati. (Rahayu, 2006)</p>
<p>Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat industri besar yang memproduksi biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton per hari. Industri-industri tersebut adalah PT Eterindo Wahanatama (120.000 ton/tahun – umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000 ton/tahun – dengan RBD Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun – umpan beragam), Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan mentah), PT Bakrie Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000 ton/tahun). Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT Energi Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.</p>
<div id="attachment_1862" class="wp-caption aligncenter" style="width: 389px"><img class="size-full wp-image-1862" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/biofuel-producer-indonesia.jpg" alt="Produser biodiesel di Indonesia" width="379" height="310" /><p class="wp-caption-text">Produser biodiesel di Indonesia</p></div>
<p>Peluang untuk mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup besar, mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan BBM untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga disebabkan kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman yang dapat dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan jarak pagar. Pada saat ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin di Jakarta dan 12 pom bensin di Surabaya.</p>
<blockquote><p>Sumber:</p>
<p>APEC Biofuels &#8211; <a href="http://www.biofuels.apec.org/" target="_blank">http://www.biofuels.apec.org/</a><br />
Biofuel Indonesia &#8211; <a href="http://www.biofuelindonesia.com/">http://www.biofuelindonesia.com/</a><br />
Biodiesel AUSTINDO &#8211; <a href="http://bahasa.biodieselindonesia.com/indexx.php" target="_blank">http://bahasa.biodieselindonesia.com/indexx.php</a><br />
Syamtori, Stanley. <em>Biodiesel di Indonesia</em> &#8211; <a href="http://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/" target="_blank">http://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1861&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Optimasi dalam Automatisasi</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/optimasi-dalam-automatisasi/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/optimasi-dalam-automatisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 30 May 2009 08:51:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Dunia Kerja]]></category>
		<category><![CDATA[consultant]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[students]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1780</guid>
		<description><![CDATA[Industri di tahun 1990-an sampai sekarang mengalami kemajuan pesat seiring dengan teknologi yang terus menemukan celah-celah baru dalam pengembangannya. Mekanisasi dan automatisasi semakin menggeser peran manusia dalam pengerjaan proses industri.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1782" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://media.thyssenkrupp.com/images/173/KU_01.jpg"><img class="size-medium wp-image-1782" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/plant-300x189.jpg" alt="Plant dengan penerapan aset-aset terintegrasi dan diversifikasi produk" width="300" height="189" /></a><p class="wp-caption-text">Plant dengan penerapan aset-aset terintegrasi dan diversifikasi produk</p></div>
<p>Industri di tahun 1990-an sampai sekarang mengalami kemajuan pesat seiring dengan teknologi yang terus menemukan celah-celah baru dalam pengembangannya. Cara-cara tradisional yang menggunakan tenaga manusia sudah semakin ditinggalkan, bahkan bagi beberapa jenis industri rumah tangga. Mekanisasi dan automatisasi semakin menggeser peran manusia dalam pengerjaan proses industri. Efek dari hal ini lebih terasa lagi dalam pabrik skala besar. Para operator <em>plant</em> mengalami tantangan besar karena peningkatan automatisasi, meningkatnya diversifikasi struktur produk, dan kecenderungan integrasi aset-aset industri.</p>
<p>Seiring dengan peningkatan kompleksitas <em>plant, </em>meningkat pula kebutuhan akan prosedur produksi dan perawatan yang lebih terorganisir dan efisien. Strategi modern yang dapat meningkatkan produktivitas dan efisiensi aset sambil meningkatkan ketersediaan, kehandalan, dan keamanan adalah sebuah keharusan. Manajemen Kinerja Aset (Asset Performance Management) yang efisien dapat membantu untuk memenuhi kebutuhan ini, memastikan peningkatan proses bisnis dan memberikan kontribusi penting untuk meningkatkan nilai proses.</p>
<p><em>Asset Performance Management</em> merupakan metode holistik untuk optimasi teknologi dan organisasi proses tertentu. Tujuannya adalah untuk mencegah <em>downtime</em> dan kerugian, yang berujung pada perolehan produksi yang terukur dan berkelanjutan. Seperti juga pencapaian aset utilitas yang paling efektif, fokus utama adalah pada rasio biaya/keuntungan yang seimbang.</p>
<h3><strong>Overall Equipment Efficiency (OEE)</strong></h3>
<p>Langkah pertama dalam mengidentifikasi potensi peningkatan adalah menganalisis situasi saat ini. Apa aset atau komponen yang paling penting? Hubungan teknis apa yang ada? Di mana &#8216;<em>bottle neck</em>&#8216; terjadi dalam proses produksi, di mana kelemahan dalam teknis dan prosedur organisasi? Pada tahap mana berulang kali timbul masalah yang membuat sisa proses lebih sulit dan berpengaruh negetif terhadap aset kinerja? Semua pertanyaan-pertanyaan ini harus terlebih dahulu dijawab oleh pakar dalam optimasi pemeliharaan. Begitu pula analisis mendatail dari semua proses yang terjadi pada <em>plant, </em>kunci indikator spesifik dapat digunakan untuk mengevaluasi situasi saat ini.</p>
<p>Indikator yang paling penting untuk menilai profitabilitas perusahaan adalah <em>Overall Equipent Efficiency </em>(OEE). Metrik ini memberikan informasi mengenai output dari mesin sebenarnya dibandingkan output yang diinginkan. Meskipun perencana produksi mendasarkan perencanaan jadwal produksi pada jumlah unit maksimum, pada kenyataannya, hal-hal di luar dugaan terjadi lagi dan lagi, tidak bisa diantisipasi pada tahap perencanaan. Misalnya, dalam kasus <em>bottling plant</em>, jenis botol tertentu dapat menyebabkan keterlambatan pada <em>conveyor belt </em>karena satu <em>gripper </em>botol mengganggu transportasi karena sedikit perbedaan dalam bukaan botol. Pada saat perencanaan, tidak akan pernah diduga bahwa jenis kontainer ini akan menimbulkan masalah. Kini, anggota staf yang bertanggung jawab menentukan apakah <em>gripper </em>harus diganti atau apakah jenis kontainer yang berbeda harus digunakan.</p>
<p>Seperti halnya kinerja keseluruhan mesin (<em>overall performance of a machine</em>), OEE dapat digunakan untuk menentukan efektivitas dari lini produk atau <em>plant</em> selengkapnya. Dalam menilai suatu <em>plant</em>, indeks OEE terdiri dari metrik pada kerugian selama plant <em>downtime</em>, <em>changeover</em>, dan prosedur <em>setup</em> (ketersediaan), metrik pada kerugian selama <em>deviance</em> dari jadwal yang direncanakan, <em>downtime</em> yang lebih kecil dan waktu <em>idle </em>(tingkat kinerja), dan metrik pada waktu yang hilang akibat kerusakan komponen dan pemeliharaan (kualitas).</p>
<p>Setelah penyebab kerugian dari aspek teknis telah diidentifikasi, langkah berikutnya adalah untuk lebih memahami prosedur organisasi untuk menemukan potensi optimisasi yang tersembunyi. Dalam semua kasus, pada tahap ini berkonsultasi spesialis eksternal bisa membantu, misalnya konsultan manajemen. Spesialis eksternal memiliki pandangan yang objektif dan independen serta dapat memberikan nasihat berharga karena pengalaman mereka dalam proyek-proyek dengan tantangan serupa.</p>
<p>Konsultan spesialis menganalisis produktivitas dan mengevaluasi baik proses teknologi maupun organisasi, serta kondisi hubungan kontraktor dan mitra perusahaan. Dengan dasar ini, mereka dapat mengembangkan strategi pemeliharaan dan produksi yang dapat diimplementasikan oleh operator plant. Mereka mendukung optimasi pemeliharaan dengan membantu staf untuk mencapai tujuan mereka dan memastikan bahwa OEE dikembangkan, produktivitas plant meningkat, dan biaya produksi per unit turun. Ini memungkinkan fleksibilitas yang lebih baik untuk memenuhi kebutuhan pelanggan di masa yang akan datang dan <em>margin</em> profit dapat ditingkatkan.</p>
<p>Penyebab kerugian yang paling frekuentif:</p>
<ol>
<li><em> Downtime</em>: penghentian yang disebabkan kegagalan atau kerusakan mesin; setup waktu saat perubahan jenis produk, waktu yang dibutuhkan untuk mengganti alat dan mereset parameter mesin</li>
<li> <em>Speed losses</em>: waktu <em>idle</em> dan penghentian kecil karena masalah teknis; menurunkan waktu kerja (diidentifikasi dengan perbedaan waktu yang direncanakan dan waktu sebenarnya)</li>
<li> <em>Process error</em>: kesulitan awal di antara <em>start up </em>dan stabilisasi proses, penurunan pada kualitas produk-produk awal sebelum sistem mencapai keadaan tunak</li>
</ol>
<p>Disadur dari: <a href="http://www.engineerlive.com/Process-Engineer/Plant_Management">http://www.engineerlive.com/Process-Engineer/Plant_Management</a> (<em>Asset performance management: improving process productivity)</em></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1780&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/optimasi-dalam-automatisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biogas, Krisis Energi, dan Pemanasan Global</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 02:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1536</guid>
		<description><![CDATA[Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi menyebabkan tingginya harga bahan bakar dan di sisi lain, penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1596" title="biogas" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/biogas.jpg" alt="biogas" width="200" height="150" />Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah tingginya harga bahan bakar. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar semakin meningkat dengan pesat, sementara itu sumbernya makin berkurang. Sebagai konsenkuensi logis, tanpa bahan baku energi kehidupan ini tidak ada. Selain itu, penggunaan bahan bakar juga berdampak bagi bumi kita. Penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.</p>
<p>Biogas sebuah teknologi sederhana dan mudah untuk diaplikasikan dapat menjadi sebuah solusi yang baik untuk kedua permasalahan tersebut.</p>
<h3>Apa itu biogas?</h3>
<div id="attachment_1537" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1537" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas1-300x199.jpg" alt="Aplikasi biogas" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Aplikasi biogas</p></div>
<p>Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara (Tatang, 2006). Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54 – 80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20 – 45 %-vol).</p>
<p>Gambar disamping adalah beberapa aplikasi biogas dalam kehidupan sehari &#8211; sehari.<br />
Pada prinsipnya proses produksi biogas, terjadi dua tahap yaitu penyiapan bahan baku dan proses penguraian anaerobik oleh mikroorganisme untuk menghasilkan gas metana.</p>
<h3>Bahan Baku</h3>
<p>Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:</p>
<ul>
<li> Limbah tanaman	: tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan lain-lain,</li>
<li> Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu,</li>
<li> Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayuran, dedak, kain dari tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,</li>
<li> Limbah perairan  : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,</li>
<li> Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, kotoran unggas.</li>
</ul>
<p>Rasio ideal C/N untuk proses dekomposisi anaerob untuk menghasilkan metana adalah 30. C/N rasio dari beberapa bahan organik dapat dilihat pada tabel berikut ini.<br />
Tabel Rasio C/N untuk berbagai bahan organik</p>
<h3>Proses Anaerob</h3>
<p>Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik terjadi secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi yang berlangsung pada kondisi tanpa oksigen oleh mikroorganisme tertentu yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana (biogas). Proses ini banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan organik dalam bentuk padat digunakan untuk kompos.</p>
<p>Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni: hidrolisis, pembentukan asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana. Proses anaerob dikendalikan oleh dua golongan mikroorganisme (hidrolitik dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan berat molekul rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri metanogenik mengubah asam-asam tersebut menjadi metana.</p>
<div id="attachment_1541" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1541" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2-300x200.jpg" alt="Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas</p></div>
<h3>Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Mikroorganisme Anaerob</h3>
<p>Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH, salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar keracunan pada proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-faktor tersebut.</p>
<h4>Temperatur</h4>
<p>Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur utama. Temperatur kriofilik yakni kurang dari 20 C, mesofilik berlangsung pada temperatur 20-45 C (optimum pada 30-45) dan termofilik terjadi pada temperatur 40-80 C (optimum pada 55-75 C).</p>
<h4>pH</h4>
<p>Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat menghambat perolehan gas metana. Berdasarkan beberapa percobaan pH optimum untuk memproduksi metana adalah rentang netral yaitu 6,2 sampai 7,6.</p>
<h4>Nutrisi</h4>
<p>Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam amino. Zat tersebut dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme, misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan lain-lain (Malina,1992).</p>
<h4>Keracunan dan Hambatan</h4>
<p>Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah menguap (volatile) yang dapat mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses anaerob diantaranya kandungan logam berat sianida.</p>
<h4>Faktor Konsentrasi Padatan</h4>
<p>Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9%  kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob berjalan dengan baik.</p>
<h3>Penentuan Kadar Metana Dengan BMP</h3>
<p>Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan selama masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari ke-30) didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum suntik (metoda syringe) ke botol serum.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia dalam Penyediaan Berbagai Bentuk Energi. Program Studi Teknik Kimia.<br />
<a href="http://www.dikti.org/biogas">http://www.dikti.org/biogas</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1536&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHE Around Us : Chocolate</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/che-around-us-chocolate/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/che-around-us-chocolate/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 05 Apr 2009 07:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process control]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1568</guid>
		<description><![CDATA[Siapa yang tidak kenal coklat? Batangan tipis yang diberi nama sesuai dengan warnanya dengan rasa yang manis sedikit pahit, dan langsung meleleh ketika dikunyah di mulut. Cokelat yang berualitas baik berasal didapat dari biji cokelat yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a rel="attachment wp-att-1569" href="http://majarimagazine.com/2009/04/che-around-us-chocolate/chocolate1-majarimagazine/"><img class="size-medium wp-image-1569 alignleft" title="chocolate1-majarimagazine" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/chocolate1-majarimagazine-300x300.gif" alt="chocolate1-majarimagazine" width="300" height="300" /></a>Siapa yang tidak kenal coklat? Batangan tipis yang diberi nama sesuai dengan warnanya dengan rasa yang manis sedikit pahit, dan langsung meleleh ketika dikunyah di mulut. Berdasarkan catatan Majari, coklat yang sering kita makan ternyata sudah dikenal sejak 600 tahun sebelum masehi.</p>
<h3>Sejarah Coklat</h3>
<p>Chocolate, coklat berasal dari pohon Theobroma cacao asli benua amerika, tepatnya daerah tropis amerika selatan dan amerika tengah. Coklat pertama kali dikonsumsi oleh bangsa Aztecs sekitar 600 tahun sebelum masehi. Kata coklat berasal dari bahasa Nahuatl chocolatl (dieja xocolatl), yang berarti bitter water (air pahit). Sejarah penyebaran coklat di daerah Eropa dimulai ketika bangsa Aztecs menghidangkan coklat panas kepada penjelajah asal Spanyol  Hernán Cortés pada tahun 1519. Ia kemudian memperkenalkan coklat di Eropa sekembalinya ke Spanyol tahun 1528. Pertama kalinya coklat dibuat untuk konsumsi langsung (choco bar) dilakukan oleh perusahaan &#8220;Fry and Sons of Bristol&#8221; di Inggris pada tahun 1847. Milk chocolate dibuat pertama kali pada tahun 1975 di Switzerland.</p>
<h3>Industri Coklat</h3>
<p>Coklat dibuat dari biji cacao yang dipanen lalu difermentasi selama 6-7 hari, kemudian dikeringkan. Cokelat yang berualitas baik berasal didapat dari biji cokelat yang dikeringkan dengan sinar matahari langsung. Di tingkat industri, biji coklat dibersihkan dari impurities seperti pasir dan sebagainya.  kemudian biji cokelat di panggang dan ditumbuk.  Bagian dalam dari biji dihancurkan menjadi potongan-potongan kecil yang disebut &#8220;nibs&#8221;. Nibs kemudian digiling. Dari hasil proses tersebut akan didapat cairan kental yang disebut chocolate liquor. Chocolate liquor tersebut kemudian diproses lebih lanjut untuk diekstrak lemaknya (cocoa butter). Setelah lemak cokelatnya diambil, bentuk liquor tadi dikeringkan (dry) hingga menjadi bubuk (cocoa powder).</p>
<p>Didalam industri pembuatannya, coklat terbagi menjadi tiga tipe yakni: Dark chocolate, milk chocolate, dan white chocolate. Dark chocolate terdiri dari sejumlah campuran coklat padat atau cairnya, tambahan cocoa butter, gula, dan vanilla yang dicampur dengan menggunakan proses conched dan tempered (didinginkan pada kondisi tertentu) untuk menjaga agar gula dan lemak terkristalisasi dalam bentuk yang paling stabil. Sedangkan untuk pembuatan milk chocolate, ditambahkan lagi susu atau cream, susu cair, atau susu bubuk kedalam campuran dark chocolate tadi. White chocolate tidak menganding chocolate liquor, hanya terdiri dari cocoa butter, susu, lemak susu, dan pemanis seperti gula atau sirup yang kaya akan fructosa.</p>
<p>&#8220;Apabila saya membuat minuman coklat dari buah atau biji cocoa langsung dari pohonnya, maka akan banyak sekali lemak pada permukaan minuman saya. Minuman tersebut akan sangat aneh bentuknya,&#8221; dijelaskan oleh Stephen T. Beckett, Kepala departemen di Nestlé Product Technology Centre, York, England, dan penulis buku &#8220;The Science of Chocolate&#8221; (Cambridge, U.K.: Royal Society of Chemistry , 2000).</p>
<p>Coklat yang kita konsumsi biasanya terdiri dari sekitar 25 sampai 35 persen lemak dan 50 persen gula. Penyedap rasa seperti vanila biasanya ditambahkan pada produk tertentu. Gula juga terkadang digantin dengan produk lain yang rendah kalori. Berbagai macam modifikasi  memang dilakukan untuk membuat coklat dengan rasa tertentu.</p>
<p>Selama proses pembuatannya, sebagian besar coklat diproses dalam bentuk liquid. Viskositas, properti aliran dan ukuran partikel menjadi faktor penting dalam pembuatan coklat.  Lemak adalah kunci untuk menentukan properti dari coklat, menurut Beckett, lemak dapat memberikan dampak yang besar pada viskositas coklat. Sebagai contoh, dengan meningkatkan kandungan lemak didalam coklat dari 27 persen menjadi 28 persen dapat menurunkan viskositas menjadi setengahnya. Viskositas coklat dapat juga dikurangi dengan penambahan emulsifier seperti lecithin.</p>
<p>Beckett menambahkan bahwa didalam coklat terdapat sekitar 800 senyawa kimia. Walaupun didalam coklat terdapat sedikit sekali nutrisi, tetapi coklat mengandung sebuah grup polyphenolic seperti flavanoids atau catechins. Senyawa yang  berfungsi sebagai anti oksidan untuk mencegah kolesterol rendah dan melindungi dari berbagai penyakit pembuluh darah. Didalam milk chocolate 40-g contohnya, terdapat sekitar 300-mg senyawa tersebut. Dark chocolate mengandung lebih banyak flavanoids dibanding milkchocolate.</p>
<blockquote><p><strong>Sumber:</strong><br />
<a href="http://pubs.acs.org/cen" target="_blank">C&amp;EN</a>, <a href="http://encarta.msn.com" target="_blank">Microsoft Encarta</a>, Rhamnosa-Buletin</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1568&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/che-around-us-chocolate/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesia, Negara 17.504 Pulau yang Impor Garam</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Mar 2009 10:17:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process control]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1440</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1444" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1444" href="http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/majarimagazine-pembuatan-garam/"><img class="size-thumbnail wp-image-1444" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-garam-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-garam" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Proses tradisional pembuatan garam</p></div>
<p>Berdasarkan catatan Departemen Perindustrian dan Perdagangan, dalam satu tahun Indonesia membutuhkan garam lebih dari 2,1 juta ton. Akan tetapi industri garam rakyat hanya mampu memproduksi 112.000 ton garam dan sisanya mencapai 900.000 ton garam masih diimpor. Pada data tahun 2000, tercatat kebutuhan garam nasional mencapai 855.000–950.000 ton untuk kebutuhan konsumsi dan 1.150.000–1.345.000 ton untuk kebutuhan industri. Hal ini sangat ironis, melihat negara Indonesia yang memiliki garis pantai 81.000 km dan intensitas panas yang cukup, tapi kualitas dan kuantitas garam rakyat masih sangat rendah.</p>
<p>Walaupun Indonesia merupakan negara kepulauan, pembuatan garam masih terkonsentrasi di pulau Jawa dan pulau Madura.</p>
<table style="text-align: center;float:right;margin:15px 0px 10px 10px;" border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<th>Pulau Madura</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Sumenep</td>
<td>10.067   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Pemekasan</td>
<td>3.075   Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sampang</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Jawa</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Barat</td>
<td>1.159 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Tengah</td>
<td>2.168 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Jawa Timur</td>
<td>6.904 Ha</td>
</tr>
<tr>
<th>Pulau Lain</th>
<th>Area Produksi Garam</th>
</tr>
<tr>
<td>NTB</td>
<td>1.155 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sulawesi Selatan</td>
<td>2.040 Ha</td>
</tr>
<tr>
<td>Sematera dll</td>
<td>1.885 Ha</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Luas area yang dikelola oleh PT Garam hanya 5.116 Ha dan seluruhnya berada di pulau Madura hanya mampu memproduksi 60 ton/Ha/tahun. Luas area penggaraman 25.542 Ha yang dikelola secara tradisional oleh rakyat dan hanya memproduksi 40 ton/Ha/tahun. (Dini Purbani, data dari PT. Garam Persero, 2000).</p>
<p>Kualitas garam yang dikelola secara tradisional pada umumnya harus diolah kembali agar layak dijadikan garam konsumsi maupun untuk garam industri. Pembuatan garam dilakukan dengan beberapa kategori berdasarkan perbedaan kandungan NaCl nya sebagai unsur utama garam. Jenis garam dapat dibagi dalam beberapa kategori seperti; kategori baik sekali, baik dan sedang. Dikatakan berkisar baik sekali jika mengandung kadar NaCl diatas 95 persen, kategori baik dengan kadar NaCl 90–95 persen, dan kategori sedang dengan kadar NaCl antara 80–90 persen. Di Indonesia, kebutuhan kadar garam diatas 95 persen yang mencapai 1,2 juta ton seluruhnya masih diimpor.</p>
<p>Sistem penggaraman rakyat sampai saat ini menggunakan kristalisasi total sehingga produktifitas dan kualitasnya masih kurang. Pada umumnya garam dengan proses tradisional memiliki  kadar NaCl  kurang dari 90 persen  dan banyak mengandung pengotor padahal luas lahan penggaraman rakyat 25.542 Ha atau sekitar 83,31 persen dari luas areal penggaraman nasional.</p>
<p>Jika saja 50% dari luas area penggaraman ini ditingkatkan produktifitasnya menjadi 80 ton/Ha/tahun, maka produksi garam dapat mencapai 1,5 juta ton sehingga total produksi garam nasional meningkat menjadi 1,8 juta ton. Dengan demikian kebutuhan impor garam industri dapat dikurangi dari 1,2 juta ton menjadi hanya sekitar 300.000 ton. Angka yang cukup besar untuk menghemat devisa negara.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<em>Proses Pembentukan Kristalisasi Garam</em>. Dini Purbani. Departemen Kelautan dan Perikanan. 2003<br />
<a href="http://www.dkp.go.id">http://www.dkp.go.id</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1440&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/indonesia-negara-17504-pulau-yang-impor-garam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertamina: On The Move</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 01:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, Petronas sudah masuk peringkat 500 perusahaan terbaik versi Majalah Fortune, menempati posisi ke-97; sementara Pertamina tidak termasuk di dalamnya. Pertamina saat ini memang sedang bertransformasi ke arah yang lebih baik. Perubahan apa saja yang sudah perusahaan ini lakukan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1377" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1377" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/1-150x150.jpg" alt="Logo Pertamina" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Logo Pertamina</p></div>
<p>Pertamina, perusahaan minyak nasional, sedang bertransformasi. Pertamina <em>On The Move</em>, begitulah taglinenya. Banyak sekali agenda transformasi Pertamina, salah satunya perubahan paradigma SDM dan manajemen. Lalu, perubahan apa saja yang sudah perusahaan ini lakukan? Apakah sudah memuaskan para konsumennya?</p>
<p>Pada prinsipnya, program transformasi di Pertamina menyentuh dua aspek. Aspek pertama, budaya dan fundamental yang menyangkut pola pikir karyawan dalam menangani <em>stakeholder</em>. Yang kedua, aspek bisnis hulu hingga hilir. Perubahan yang telah dilakukan Pertamina antara lain sistem pengembangan SDM, pembenahan SPBU, penggencaran iklan Pertamina, dan meningkatkan nilai GCG (<em>good corporate governance</em>). Salah satu perubahan yang terlihat langsung oleh masyarakat adalah citra perubahan dalam kinerja Pertamina.</p>
<div id="attachment_1378" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/pertamina_thm.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1378" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/pertamina_thm-150x150.jpg" alt="SPBU Pertamina" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">SPBU Pertamina</p></div>
<p>Transformasi citra Pertamina berawal dari pandangan buruk masyarakat terhadap perusahaan ini. Dua tahun lalu, Situs Survey Dharmapena menyebutkan: SPBU Pertamina masih suka curang, tidak profesional (amatiran), sarang KKN, kurang bermanfaat karena sumbangan<em> corporate social responsibility </em>belum memenuhi keinginan masyarakat, birokratis, dan kegiatan hulunya masih dinilai merusak lingkungan. Pertamina memang memiliki SPBU yang sangat banyak di tanah air. Namun, bagaimana bisa disukai kalau SPBU nya kotor, penjaganya tidak ramah, bahkan melakukan kecurangan dengan tidak me-nol-kan alat pengukur volume bensin.</p>
<div id="attachment_1379" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1379" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2-150x150.jpg" alt="Sertifikat Pasti Pas!" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sertifikat Pasti Pas!</p></div>
<p>Tapi itu dulu. Saat ini, pasti kita semua sudah sering dengar sertifikat “Pasti Pas”. Tak hanya itu, operator SPBU pun dilatih dan kualifikasinya ditingkatkan. Tak heran, baju dekil dan muka judes yang dulu menyambut kita di SPBU Pertamina kini sudah berganti dengan seragam bersih dan petugas ramah yang berkata, ”Dari nol ya mbak&#8230;”.  Daerah SPBU pun sudah tak kotor lagi. Tak jarang area SPBU dilengkapi juga dengan masjid, supermarket, dan restoran.</p>
<p>Bukan hanya citra, masih banyak lagi yang Pertamina lakukan dalam bertransformasi. Kinerja Pertamina Tahun 2008 (prognosis):</p>
<ol>
<li> Total pendapatan sebesar Rp 540 Triliun</li>
<li> Laba sebelum pajak sebesar Rp 50 Triliun</li>
<li> Laba bersih sebesar Rp 30 Triliun</li>
<li>Volume lifting minyak sebesar 35,9 juta Barrel</li>
<li> Produksi minyak 156.000 barrel per hari</li>
<li> Realisasi investasi sebesar Rp 17 Triliun</li>
<li> Harga minyak Indonesia sebesar 101 dollar AS per barrel</li>
</ol>
<p>Tapi jangan bangga dulu. Sayangnya, walaupun sudah banyak melakukan perubahan, toh Pertamina masih kalah saing dengan perusahaan minyak nasional negara lain. Faktanya, saat ini Petronas sudah masuk peringkat 500 perusahaan terbaik versi Majalah <em>Fortune</em>, menempati posisi ke-97. Sementara, Pertamina tidak termasuk di dalamnya. Tentang perkembangan Pertamina, sang dirut lama dulu punya alibi, “Bisa dibayangkan, profit kami Rp 19 triliun, tapi harus disetorkan ke pemerintah sebesar Rp 11,9 triliun. Jadi, bagaimana kami bisa berkembang?”.</p>
<p>Bukan hanya kalah saing, tahun 2009 ini pun dibuka Pertamina dengan buruk. Tangki Nomor 24 Depo Pertamina Plumpang yang bermuatan 2.900 kiloliter BBM tiba-tiba meledak akibat gelas pengukur bensin atau ken bergesekan dengan slot ukur tangki. Ledakan ini menimbulkan kerugian sebesar US$ 1 miliar. Siapa yang paling bertanggung jawab? Sayangnya, pengusutan kasus ini pun belum tuntas hingga sekarang.</p>
<p>Buntutnya, entah karena masalah kebakaran Plumpang tersebut, masalah kelangkaan LPG sebelumnya, atau masalah lain, awal bulan lalu Direktur Utama Pertamina diganti. Padahal, direktur sebelumnya, Ari Soemarno, belum sampai 3 tahun menjabat. Singkat sekali masa jabatannya. Seharusnya, untuk perusahaan sekelas Pertamina, 3 tahun masa jabatan masih belum cukup. Beberapa pihak menilai ada unsur politis di balik penggantian tersebut. Apalagi penggantian itu terkesan tiba-tiba dan pada waktu yang dekat pemilu.</p>
<p>Yah.. apapun pemicunya, yang jelas, transformasi Pertamina masih belum selesai. Walaupun terhambat pergantian direksi, masih banyak tugas Pertamina ke depan. Visi jangka panjangnya pun sangat tinggi, yaitu 15 tahun ke depan Pertamina akan menjadi perusahaan minyak dan gas yang terintegrasi dan terkemuka di tingkat regional. Semoga saja acara pergantian jabatan awal bulan lalu tidak menghambat Pertamina yang ”<em>On The Move</em>”.</p>
<blockquote><p><em>Referensi: Kompas, SWA</em></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1376&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hybrid Cars, Hi-fashion Solution for Air Pollution</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/01/hybrid-cars-hi-fashion-solution-for-air-pollution/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/01/hybrid-cars-hi-fashion-solution-for-air-pollution/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Jan 2009 21:59:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[fuel cell]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[Hybrid cars began grabbing headlines in 2004, especially after movie stars were seen arriving at the Academy Awards in these environmentally friendly vehicles. With worries over air pollution and with gasoline prices topping $2 a gallon, the public imagination has seized on hybrid cars as a high-tech, high-fashion solution.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1010" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1010" title="Toyota Prius" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/majarimagazine-prius-300x219.jpg" alt="Toyota Prius" width="300" height="219" /><p class="wp-caption-text">Toyota Prius</p></div>
<p>Hybrid cars began grabbing headlines in 2004, especially after movie stars were seen arriving at the Academy Awards in these environmentally friendly vehicles. With worries over air pollution and with gasoline prices topping $2 a gallon, the public imagination has seized on hybrid cars as a high-tech, high-fashion solution.</p>
<p>The state of California provided the major commercial impetus in the U.S. for the development of electric (battery), electric-gasoline (hybrid), and fuel-cell vehicles. In 1990 the California Air Resources Board mandated a schedule for sales of light-duty vehicles in the state in order to reduce air pollution. The first modern hybrid cars, the <strong>Toyota Prius</strong> and the <strong>Honda Insight</strong>, went on sale in Japan in 1997 and 1999, respectively, and in the U.S. in very limited numbers in 2000 not mentioned when in Indonesia. Greater numbers—although still fewer than 50,000 in the U.S. (compared with some 17 million gasoline vehicles sold each year)—became available with the 2004 model year. Sales took off, with dealers reporting waiting lists of from six months to a year. American manufacturers countered in the summer and fall of 2004. Ford introduced the <strong>Escape</strong>, the world&#8217;s first hybrid sport utility vehicle; General Motors offered hybrid versions of its <strong>Chevrolet Silverado</strong> and <strong>GMC Sierra</strong> trucks; and DaimlerChrysler came up with a hybrid version of its <strong>Dodge Ram</strong> truck.</p>
<p>Hybrids typically use nickel–metal-hydride (NiMH) batteries to provide power for an electric motor that shares duties with a small gasoline motor. Either or both motors may be operating, according to driving conditions. When the car is idling at a stop, going downhill, or cruising at low speeds, the gasoline motor is shut off. (Unlike conventional gasoline vehicles, hybrids get better mileage in the city than on the highway.) Under full-throttle acceleration, when climbing hills, or while cruising at high speeds, the two engines operate in tandem by means of a sophisticated electronic transmission. When decelerating or braking, the force used to slow the car is harnessed to charge the battery.</p>
<p>Hopefully this hi-fashion modern car type can replace the former hi-&#8221;urban air pollution source&#8221; car type. Talking about urban air pollution, Los Angeles is worst example of polluted air. Tokyo has such a serious air-pollution problem that oxygen is supplied to policemen who direct traffic at busy intersections. Milan, Ankara, Mexico City, and Buenos Aires face similar problems. Although New York City produces greater quantities of pollutants than Los Angeles, it has been spared from an air-pollution disaster only because of lucky favorable climatic circumstances. Compared with those cities, Jakarta and Surabaya is &#8220;not very polluted enough&#8221; but our kind of air problem still dangerous for traffic and pedestrian user like us.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1009&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/01/hybrid-cars-hi-fashion-solution-for-air-pollution/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembangkitan Listrik Biomassa dengan Mesin Kalor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[Sampah perkotaan dan limbah pertanian dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_860" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-860" title="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/listrikthumb.jpg" alt="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia</p></div>
<p>Indonesia memiliki beribu-ribu pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan terpisah oleh lautan luas. Karena bentuk kepulauan ini, sulit menemukan cara yang ekonomis untuk mentrasmisikan dan mendistribusikan listrik dari satu pulau ke pulau yang lain. Hingga saat ini <em>national interconnection</em> hanya mungkin diterapkan di pulau-pulau besar dan sejumlah pulau-pulau relatif kecil di dekatnya. Sejumlah besar pulau harus bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan listriknya sendiri (<em>self-sufficient</em>).</p>
<p>Walaupun demikian, bentuk kepuluan ini juga memberikan biodiversitas yang sangat dahsyat dan memastikan tersedianya sumber biomassa di Indonesia. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia. Selain itu, produksi bahan bakar dan listrik biomassa akan mengeksploitasi sumber daya lokal sehingga meningkatkan pendapatan penduduk setempat. Produk-produk limbah dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat menghasilkan energi biomassa. Selain limbah pertanian, sampah perkotaan juga dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar.</p>
<p>Pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi berbasis biomassa salah satunya adalah pembangkitan listrik berprinsip mesin kalor (<em>heat engine</em>). Mesin kalor siklus Stirling menggunakan pembakaran eksternal, sedangkan mesin pembakaran internal menggunakan siklus Otto dan siklus Diesel. Khusus untuk turbin gas yang menggunakan siklus Brayton, pembakaran dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.</p>
<h3>SIklus Stirling, Otto, dan Diesel</h3>
<p>Mesin bersiklus Stirling adalah jenis mesin yang memiliki sumber energi dari luar sistem mesin itu sendiri; atau kita biasa sebut dengan mesin bakar luar. Mesin besiklus Stirling banyak diteliti dan dianggap menjanjikan karena secara teori memiliki efisiensi yang tinggi, sampai efisiensi maksimal mesin Carnot. Akan tetapi, mesin siklus Stirling komersial yang ada masih memiliki daya rendah (0,5-150 kW) dan berefisiensi sedang, masih mahal, tetapi tak memerlukan banyak pemeliharaan, toleran terhadap kontaminan, dan beremisi polutan rendah.</p>
<p>Mesin siklus Stirling tidak terpatok pada satu macam bahan bakar atau sumber energi. Hal ini tidak berlaku untuk mesin diesel dan mesin Otto yang membutuhkan bahan bakar khusus dan kapasitasnya terbatas. Mesin Otto atau sering juga disebut mesin bensin. Tipe paling umum dari mesin ini adalah mesin pembakaran empat langkah yang membakar bensin. Berbeda dengan mesin Otto, pembakaran dilakukan dengan memberikan kompresi hingga tekanannya tinggi.</p>
<h3>Turbin Gas: Siklus Brayton</h3>
<div id="attachment_896" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-896" title="Turbin Gas: Kukus" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/turbingas-kukus1.jpg" alt="Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus" width="550" height="351" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus</p></div>
<p>Siklus ini merupakan siklus daya termodinamika ideal untuk turbin gas, sehingga saat ini siklus ini yang sangat populer digunakan oleh pembuat mesin turbin (<em>manufacturer</em>) dalam analisa <em>performance upgrading</em>. Siklus ini memproduksi tenaga listrik dengan mengekspansikan gas panas melalui turbin. Efisiensinya dapat mencapai 30%. Turbin gas cocok untuk bahan bakar cair maupun gas yang relatif bebas dari kontaminan dan tidak cocok untuk gas hasil bakar biomassa tanpa pembersihan. Karena itu sebelum biogas akan dijadikan bahan bakar, H<sub>2</sub>S yang terkandung di dalamnya harus disingkirkan terlebih dahulu.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong><br />
Teknologi Kemurgi &#8211; Dr. Ir. Tatang H. Soerawidjaja</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=859&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahaya Merubah Hutan Tropis Menjadi Ladang Biofuel</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/12/bahaya-merubah-hutan-tropis-menjadi-ladang-biofuel/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/12/bahaya-merubah-hutan-tropis-menjadi-ladang-biofuel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Dec 2008 09:15:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=774</guid>
		<description><![CDATA[Hasil riset pada journal Conservation Biology menemukan bahwa mempertahankan hutan hujan tropis merupakan jalan yang lebih baik dari pada mengkonversikannya menjadi ladang tanaman biofuel. Konversi ini akan memperburuk perubahan iklim karena menggantikan salah satu tempat penyimpanan karbon paling penting di dunia: hutan hujan tropis.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_791" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://flickr.com/photos/gpsea/2928758330/"><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/indonesia_papua_forest_palm-300x199.jpg" alt="The sharp contrast between the pristine forest and forest destroyed to make way for palm oil plantations in Papua Province, Indonesia&#039;s last intact forest frontier. (8 October 2008, Papua Province, Indonesia, Greenpeace Southeast Asia)" title="Indonesia Pristine Forests" width="300" height="199" class="size-medium wp-image-791" /></a><p class="wp-caption-text">The sharp contrast between the pristine forest and forest destroyed to make way for palm oil plantations in Papua Province, Indonesia's last intact forest frontier. (8 October 2008, Papua Province, Indonesia, Greenpeace Southeast Asia)</p></div>
<p><em>Hasil riset pada journal Conservation Biology menemukan bahwa mempertahankan hutan hujan tropis merupakan jalan yang lebih baik dari pada mengkonversikannya menjadi ladang tanaman biofuel.</em></p>
<p><strong>MajariMagazine (Dec, 2008)</strong> &#8211; Riset membuktikan bahwa dibutuhkan waktu 75-93 tahun untuk melihat keuntungan dan pengaruhnya terhadap perubahan terhadap iklim apabila dilakukan konversi hutan tropis menjadi ladang biofuel. Bahkan dibutuhkan waktu 600 tahun apabila reservoir karbon pada di tanah jenis peatland yang habitatnya kaya akan karbon (seperti lumut kayu dsb) dikonversi menjadi ladang biofuel. Akan tetapi apabila dilakukan penanaman didaerah padang rumput, konversi tersebut akan mengurang emisi karbon dalam 10 tahun.</p>
<p>&#8220;Analisa kami menunjukkan bahwa dibutuhkan waktu antara 75 sampai 93 tahun untuk melihat keuntungannya terhadap perubahan iklim konversi hutan tropis terjadi&#8221;, kata Finn Danielson dari Agensi Nordic Untuk Pengembangan dan Ekologi Denmark (<a title="NORDECO" href="http://www.nordeco.dk/" target="_blank">NORDECO</a>) yang memimpin penulisan jurnal ini.</p>
<p>&#8220;Biofuel merupakan hal yang membahayakan bagi hutan, satwa liar dan iklim itu sendiri apabila ladang biofuel menggantikan hutan tropis&#8221;, tegas wakil penulis Dr. Neil Burgess dari <a title="worldwildlife" href="http://www.worldwildlife.org" target="_blank">World Wildlife Fund</a>. &#8220;Faktanya, hal tersebut dapat memperburuk perubahan iklim karena menggantikan salah satu tempat penyimpanan karbon paling penting di dunia &#8211; Keseluruhan hutan hujan tropis.&#8221;</p>
<p>Para penulis mengharapkan adanya pengembangan standar global yang dalam mendukung produksi biofuel.</p>
<p>&#8220;Perbandingan flora dan fauna dari hutan tropis dengan tanaman minyak untuk biofuel, menunjukkan efek hilangnya keanekaragaman hayati dan kerusakan lingkungan dari konversi hutan ini. Grup utama tumbuhan yang tumbuh subur didalam hutan tropis seperti pepohonan, anggrek dan tumbuhan asli hutan tropis lain akan punah&#8221;, menurut Hendrien Beukema, ahli tumbuh-tumbuhan dari Universitas Groningen Belanda.</p>
<p>&#8220;Konservasi hutan yang ada tidak hanya bermanfaat untuk mengurangi emisi gas efek rumah kaca, tapi juga memiliki bermacam manfaat lain seperti perlindungan keanekaragaman hayati&#8221;, kata Dr. Daniel Murdiyarso dari Pusat Perlindungan Hutan Internasional di Indonesia (<a title="CIFOR" href="http://www.cifor.cgiar.org/" target="_blank">CIFOR</a>). Hutan tropis menyimpan lebih dari setengah seluruh spesies di bumi dan hutan di Asia Tenggara paling kaya akan ragam spesies. Hutan tropis juga menyimpan 46 persen karbon dunia.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi jurnal:</strong><br />
Danielsen et al. Biofuel Plantations on Forested Lands: Double Jeopardy for Biodiversity and Climate. Conservation Biology, 2008; DOI: 10.1111/j.1523-1739.2008.01096.x</p></blockquote>
<blockquote><p>
<strong>Ditulis oleh:</strong><br />
Finn Danielsen (<a href="http://www.nordeco.dk/" target="_blank">NORDECO</a>, Denmark), Hendrien Beukema (<a title="RUG" href="http://www.rug.nl/corporate/?lang=en" target="_blank">University of Groningen</a>, Netherlands), Neil D. Burgess (<a href="http://www.worldwildlife.org/" target="_blank">World Wildlife Fund</a> US and <a href="http://www.cam.ac.uk/" target="_blank">University of Cambridge</a>), Faizal Parish (<a href="http://www.gecnet.info/" target="_blank">Global Environment Centre</a>, Malaysia), Carsten A. Brühl (<a href="http://www.uni-koblenz.de" target="_blank">University Koblenz</a>-Landau, Germany), Paul F. Donald (<a href="http://www.rspb.org.uk/" target="_blank">RSPB</a>, UK), Daniel Murdiyarso (<a href="http://www.cifor.cgiar.org/" target="_self">CIFOR</a>, Indonesia) Ben Phalan (<a href="http://www.cam.ac.uk/" target="_blank">University of Cambridge</a>), Lucas Reijnders (<a href="http://www.english.uva.nl/" target="_blank">University of Amsterdam</a>, Netherlands), Matthew Struebig (<a href="http://www.qmul.ac.uk/" target="_blank">Queen Mary University of London</a>, UK), and Emily Fitzherbert (<a href="http://www.zsl.org/" target="_blank">Zoological Society of London</a> and <a href="http://www.uea.ac.uk/" target="_blank">University of East Anglia</a>, UK).
</p></blockquote>
<p>(inra/<a title="Science Daily" href="http://www.sciencedaily.com/" target="_blank">SD</a>,<a title="worldwildlife" href="http://www.worldwildlife.org/" target="_blank">WWF</a>)</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=774&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/12/bahaya-merubah-hutan-tropis-menjadi-ladang-biofuel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertambangan Batubara: Pro dan Kontra</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jun 2008 11:15:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ratih Asthary</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=373</guid>
		<description><![CDATA[Kini Pemerintah mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/coal_fired_plant.jpg" alt="" title="coal_fired_plant" width="200" height="210" align="left" class="alignleft" />Indonesia adalah eksportir batubara terbesar kedua di dunia (setelah Australia, 2006). Batubara yang banyak diekspor adalah batubara jenis sub-bituminus yang dapat merepresentasikan produksi batubara Indonesia. Produksi batubara Indonesia meningkat sebesar 11.1% pada tahun 2003 dan jumlah ekspor meningkat sebesar 18.3% di tahun yang sama. Sebagian besar cadangan batubara Indonesia terdapat di Sumatra bagian selatan. Kualitasnya beragam antara batubara kualitas rendah seperti lignit (59%) dan sub-bituminus (27%) serta batubara kualitas tinggi seperti bituminus dan antrasit (14%).</p>
<p>Sekitar 74% dari batubara Indonesia merupakan hasil penambangan perusahaan swasta. Satu-satunya Badan Usaha Milik Negara (BUMN), PT Tambang Bukit Asam, menghasilkan sekitar 10 Mt (hanya 9% dari total produksi batubara Indonesia pada tahun 2003) dari penambangan terbuka. Bandingkan dengan perusahaan-perusahaan swasta seperti PT Adaro, PT Kaltim Prima Coal, serta PT Arutmin yang dapat memproduksi batubara hingga di atas 10 Mt pada tahun yang sama. Terlihat ironis bukan? Perusahaan penambangan batubara milik negara kalah produksi oleh perusahaan swasta.</p>
<p>Operasi penambangan batubara seringkali dituduh menyebabkan kerusakan lingkungan. Penambangan batubara diperkirakan menyebabkan kerusakan pada kurang lebih 70 ribu hektar tanah. Pada beberapa area, limbah cair dibuang pada sungai terdekat yang pada akhirnya mencemari sumber air warga sekitar. Dampak lingkungan serta permintaan akan kontribusi perusahaan pertambangan yang lebih besar kepada perkembangan masyarakat telah menyebabkan munculnya permintaan akan ditutupnya operasi penambangan batubara. Salah satu hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi pengrusakan lingkungan oleh operasi penambangan batubara adalah dengan lebih memperketat regulasi yang berkaitan dengan penambangan batubara, disinilah peran besar pemerintah. Pemerintah merespon permasalahan ini dengan memberikan komitmen bahwa operasi penambangan batubara akan merujuk pada peraturan pemerintah mengenai keselamatan lingkungan. Sebagai contoh, pada tahun 1999 diterbitkan PP no 18 yang mengatur mengenai tata cara pemrosesan limbah berbahaya dan beracun. Peraturan ini mengharuskan perusahaan pertambangan untuk memproses limbah yang dihasilkan hingga mencapai derajat kebersihan yang sangat tinggi dengan standar kemurnian air yang 5 kali lebih ketat dibandingkan Amerika Serikat maupun Kanada. Akan tetapi, penerapan regulasi ini pada akhirnya ditunda karena pemerintah mengevaluasi ulang kemampuan teknologi yang dimiliki oleh perusahaan pertambangan di Indonesia dan ternyata dibutuhkan penyesuaian. Belum lagi adanya penambangan batubara ilegal. Para penambang ilegal mengabaikan ketentuan yang berkaitan dengan lingkungan dan keselamatan serta menjual batubara dengan harga yang lebih rendah. Pemerintah diharapkan dapat mengambil sikap dan menuntut para penambang ilegal ini.</p>
<p>Pemerintah sendiri memiliki ketertarikan yang besar dalam mengembangkan teknologi pemanfaatan batubara untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan oleh batubara. Usaha untuk mengembangkan <em>Clean Coal Technology (CCT) </em>telah memasukkan kerjasama dengan pihak asing untuk mempelajari efek-efek yang mungkin muncul dari penggunaan batubara dan untuk mencari cara baru agar pembangkit listrik yang berbasis pembakaran batubara dapat memenuhi ketentuan lingkungandari segi emisi. Ini suatu itikad baik yang ditunjukkan oleh pemerintah mengingat permasalahan yang menyangkut emisi yang dihasilkan oleh batubara dapat mengurangi visibilitas digunakannya batubara sebagai sumber energi.</p>
<p>Masalah sumber energi pun sedang menjadi fokus utama pemerintah berkaitan dengan naiknya harga minyak bumi. Pada dasarnya, cadangan batubara Indonesia memang jauh lebih besar dibandingkan dengan cadangan minyak bumi maupun gas alam sehingga pemerintah kini mulai melihat batubara sebagai sumber energi alternatif yang murah. Batubara selama ini telah digunakan sebagai bahan bakar pada pabrik semen dan pabrik baja, apa salahnya jika batubara digunakan untuk membangkitkan listrik? Apabila hal ini dapat dilakukan, subsidi pemerintah untuk BBM dapat berkurang (saat ini subsidi memang tidak mencukupi akibat kenaikan harga minyak bumi dan peningkatan konsumsi BBM). Dalam 3 tahun mendatang diharapkan telah berdiri PLTU Batubara dengan kapasitas daya listrik yang dapat dihasilkan sebesar 10000 MW.</p>
<p>Tampaknya untuk mewujudkan hal itu, pemerintah dan industri pertambangan batubara harus bekerja lebih keras. Dengan perkiraan heating value batubara Indonesia yang berada pada kisaran 5000 sampai 7000 kal/kg, berapa banyak batubara yang harus diproduksi untuk menghasilkan listrik 10000 MW? Apakah perusahaan pertambangan di Indonesia dapat menemukan cara untuk menambang batubara tanpa menimbulkan kerusakan lingkungan?</p>
<p>Tampaknya jawaban pertanyaan di atas adalah TIDAK. Atau mungkin BELUM. Tanah yang dikeruk, polusi yang disebabkannya, serta bekas yang ditinggalkannya masih akan menjadi masalah lingkungan di kemudian hari. Mungkin saat ini yang bisa dilakukan adalah meningkatkan kinerja unit-unit penanganan limbah sekaligus melakukan transfer teknologi terkait dengan keterbatasan yang kita miliki dalam teknologi penambangan, mengurangi penambang-penambang ilegal, dan secara bertahap melakukan rehabilitasi lahan pertambangan yang telah ditinggalkan. MENGAPA? Karena lebih tidak mungkin menghentikan penambangan batubara yang saat ini diharapkan bisa menjadi penyelamat bagi krisis energi yang melanda Indonesia.</p>
<p>COAL for ENERGY!!</p>
<blockquote><p>Referensi: <a href="http://www.australiancoal.com">www.australiancoal.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=373&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/pertambangan-batubara-pro-dan-kontra/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
