<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; energy</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/energy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 04:50:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Mengubah Paradigma Ekonomi Migas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/08/mengubah-paradigma-ekonomi-migas/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/08/mengubah-paradigma-ekonomi-migas/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 12 Aug 2009 05:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2047</guid>
		<description><![CDATA[Virent Energy System, sebuah perusahaan biofuel, mengembangkan suatu proses eksklusif untuk mengkonversi gula menjadi bahan bakar dengan densitas yang lebih tinggi daripada etanol. Virent berusaha mengubah ekonomi yang dipengaruhi oleh minyak mentah menjadi ekonomi yang dipengaruhi oleh biomassa.
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2048" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-2048" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/gasoline-from-biomass-150x150.jpg" alt="Bahan bakar yang diperoleh dengan proses BioForming" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Bahan bakar yang diperoleh dengan proses BioForming</p></div>
<p>Salah satu pekerjaan yang pernah dilakukan Lee Edwards selama 25 tahun karirnya di British Petroleum (BP) adalah memimpin usaha raksasa energi tersebut membuat imej baru. Sekarang, sebagai CEO dari Virent Energy System, perusahaan <em>biofuel </em>yang telah berdiri selama 7 tahun di Madison, Wisconsin, dia telah bergerak jauh melampaui <em>petroleum</em>. Dengan proses eksklusif yang dinamakan BioForming, Virent mengklaim proses tersebut dapat mengkonversi gula dari jagung, switchgrass, dan tanaman pangan lainnya menjadi bahan bakar dengan densitas energi yang lebih tinggi daripada etanol.</p>
<p>Di samping resesi yang menimpa Amerika Serikat dan sejumlah negara di dunia, uang nampaknya terus mengalir bagi Virent. Venture capital diakui Edwards tetap berkembang, hanya lebih selektif. Kebanyakan investor mencari peningkatan teknologi yang telah dapat dibuktikan &#8212; proyek angin, solar, sejumlah akticitas berbahan bakar gas. Sejauh ini, perusahaan telah meraih 70 juta dolar dan banyak investor, termasuk Honda (HMC) dan Cargill. Perusahaan ini juga telah melakukan kontrak kolaborasi partnership dengan raksasa minyak Shell (RDSA).</p>
<p>Teknologi BioFarming bekerja dengan prinsip sederhana. Air gula masuk dan bergerak melalui sejumlah reaktor berkatalis, yang akan merengkah molekul-molekul gula dan mereaksikannya dengan bantuan katalis sehingga ada rekombinasi. Reaksi tersbut berlangsung kontinyu dan self-sustaining. Bahan bakar dari gula dengan proses reaksi berkatalis adalah suatu hasil dari proses kimia yang unik. Reaksi katalitik dari pemutusan ikatan gula dan kemudian merekombinasikannya menghasilkan energi lebih besar daripada yang dibutuhkan untuk melangsungkan suatu proses yang berkelanjutan. Hal ini berbeda dengan etanol, yang membutuhkan energi yang sangat besar untuk melakukan pemisahan final terhadap air.</p>
<p>Edwards berharap, pada tahun 2020, industri <em>biofuel</em> dapat menggantikan 15-20 persen bahan bakar dari fosil. Namun, ia juga mengatakan bahwa hal tersebut akan bergantung pada batas-batas tertentu, tergantung pada sifat <em>biofuel</em> itu sendiri. Jika <em>biofuel</em> hanya difokuskan pada etanol, angka tersebut menurutnya tidak akan bisa tercapai.</p>
<p>Perkembangan <em>biofuel </em>menurut Edwards memiliki masa depan yang cemerlang, hal ini didorong oleh beberapa faktor pendukung. Pertama adalah kebutuhan mendesak terhadap teknologi untuk mengkonversikan biomassa menjadi bahan bakan akan membuktikan harga yang kompetitif dengan minyak mentah. Kedua, dunia akan meminta alternatif terbarukan karena dampak karbon yang dihasilkan minyak mentah. Selain itu akan ada penyeimbangan kembali sekuritas energi dan lapangan pekerjaan yang banyak membantu distribusi <em>feedstock</em>.</p>
<p>Faktor-faktor tersebut menurutnya berarti bahwa dunia akan memiliki teknologi yang lebih baik dan dengan harga yang lebih kompetitif. Akan ada nilai tertentu dalam pasar pada waktu dampak karbon dari minyak mentah betul-betul dirasakan, yang akan menyeimbangkan persaingan. Dari segi kebijakan, masyarakat menginginkan kontrol yang lebih pada nasih energi dan biomassa adalah salah satu caranya.</p>
<p>Namun demikian, ada hal-hal yang masih menjadi kendala untuk mempercepat perkembangan bahan bakar terbarukan. Beberapa teknologi yang paling menjanjikan masih dalam tahap penelitian skala pilot atau laboratorium. Teknologi-teknologi ini masih harus dibuktikan kompetitivitasnya terhadap besar produksi dan biaya. Kemudian masih ada pekerjaan pada seluruh bagian upstream dari rantai <em>value</em>. Pada <em>upstream</em> minyak (fosil), proses yang dilakukan adalah <em>drilling</em>, mempompakan minyak, kemudian membawa minyak tersebut dengan <em>tanker </em>ke pemurnian minyak. Diperlukan rantai <em>value </em>yang sama sekali baru dalam hal logistik biomassa.</p>
<p>Perusahaan-perusahaan minyak besar juga tengah mengembangkan program energi alternatif. Namun, menurut Edwards, perusahaan-perusahaan tersebut sangat dipengaruhi oleh teori manajemen <em>cash-flow</em> dan portofolio <em>capital-investment</em>. Mereka tertarik, kemudian mundur, kemudian masuk lagi ke dalam program energi alternatif. Volatilitas dari manejemen <em>cash-flow </em>tersebut, mengingat mereka menginvestasikan milyaran dolar per tahunnya pada proyek <em>upstream</em> (minyak dan gas), dianggapnya bukan cara terbaik untuk mengkomersialisasikan energi.</p>
<p>Harga minyak pada tahun-tahun belakangan sangat tak bisa diprediksi. Jauh lebih mudah bagi industri <em>biofuel</em> untuk mendapatkan keuntungan saat minyak mentah berharga 140 dolar per barel daripada saat harganya menurun drastis menjadi 40 dolar. Hal yang sedang diupayakan industri <em>biofuel </em>ini adalah mengatakan: Anda tahu, kami ingin memutus hubungan dengan komuditas bernama minyak mentah dan membangun suatu komuditas baru bernama energi dari biomassa. Jika minyak mentah tetap pada 40 dolar selamanya, teknologi-teknologi <em>biofuel </em>ini hanya akan berhasil dengan kebijakan-kebijakan signifikan yang dipengaruhi oleh penyediaan lapangan pekerjaan, sekuritas energi, dan upaya-upaya untuk melestarikan lingkungan. Edwards mengatakan, yang perlu dipahami mengenai industri <em>biofuel </em>ini adalah pihaknya berusaha mengubah ekonomi yang dipengaruhi oleh minyak mentah menjadi ekonomi yang dipengaruhi oleh biomassa.</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://money.cnn.com/2009/07/23/news/companies/biomass_alternative_energy.fortune/index.htm">http://money.cnn.com/2009/07/23/news/companies/biomass_alternative_energy.fortune/index.htm</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2047&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/08/mengubah-paradigma-ekonomi-migas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reaktor Nuklir AP1000 China, Pertama di Dunia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/07/reaktor-nuklir-ap1000-china-pertama-di-dunia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/07/reaktor-nuklir-ap1000-china-pertama-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 01:10:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1983</guid>
		<description><![CDATA[Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama kali di dunia yang berbasis pada teknologi reaktor AP1000 dari U.S. Westinghouse Electric diumumkan oleh China pada bulan April 2009 kemarin. Pembangunan yang dimulai dengan menuangkan 5200 meter kubik semen di pulau nuklir Sanmen provinsi Zhejiang.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1984" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/china-AP1000-majarimagazine.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1984" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/china-AP1000-majarimagazine-150x150.jpg" alt="china-AP1000-majarimagazine" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Pembangunan reaktor Nuklir di China</p></div>
<p>Pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama kali di dunia yang berbasis pada teknologi reaktor AP1000 dari U.S. Westinghouse Electric diumumkan oleh China pada bulan April 2009 kemarin. Pembangunan yang dimulai dengan menuangkan 5200 meter kubik semen di pulau nuklir Sanmen provinsi Zhejiang. Dua unit plant akan dibangun dalam tiga tahap, dan reaktor pertama akan memulai operasi pada tahun 2013 kemudian dilanjutkan reaktor kedua pada 2014.</p>
<p>Selama berlangsungnya pengerjaan untuk dua unit reaktor tersebut, China juga akan mulai membangun dua lagi reaktor nuknir berbasis AP1000 di lokasi Haiyang provinsi Shandong, sebagaimana kontrak yang telah ditandatangani antara Westinghouse dengan State Nuclear Power Technology Pwer Corp (SNPTC) China.</p>
<p>Diluar empat unit reaktor yang sedang dibangun, sekarang negara tersebut telah memiliki total 11 unit pembangkit listrik tenaga nuklir yang sedang beroperasi. Tiga unit reakor diantaranya menggunakan teknologi dalam negri, dua unit menggunakan teknologi Russia, empat unit dengan teknologi dari Perancis dan sisanya menggunakan desain dari Kanada. Atas dasar pemenuhan kebutuhan dari permintaan yang terus meningkan dan kekhawatiran dari isu pemanasan global akhir-akhir ini, China sudah mulai mempercepat pembagunan plant nuklirnya hingga mencapai 60 GW pada tahun 2020.</p>
<div id="attachment_1985" class="wp-caption aligncenter" style="width: 248px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/ap1000-reactor.jpg"><img class="size-medium wp-image-1985" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/ap1000-reactor-238x300.jpg" alt="Bagan reaktor AP1000" width="238" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Bagan reaktor AP1000</p></div>
<p>Walaupun negara tersebut menggunakan berbagai macam desain reaktor nuklir, AP1000 akan menjadi pemain utama dalam desain reaknot ini, menurut SNPTC. Empat buah reaktor yang sedang dibangun sekarang, menggunakan &#8220;self-reliance program&#8221; dari China sendiri. Hal ini berarti negara tersebut sepenuhnya mempercayakan teknologi AP1000 berdasarkan kemajuan teknologi dalam negri. Untuk lebih jauh lagi, China akan membangun reaktor AP1000 secara masal atas kuasa SNPTC. Untuk pembangunan di pulau Sanmen misalnya, SNPTC menharapkan pembangunan enam unit lagi reaktor nuklir.</p>
<p>Penuangan semen di Sanmen untuk reaktor China generasi ketiga juga menjadi batu loncatan utama bagi Westinghouse Electric. Toshiba Corp. (dibeli oleh Westnghouse pada tahun 2006) yang menjadi suplier reaktor pressurezed water pertama di dunia pada tahun 1957 untuk plant di Shippingport. Pa., dan sekarang teknologi perusahaan ini menjadi basis hampir setengah dari jumlah pembangkit listrik tenaga nuklir di dunia, termasuk penggunaan 60 persen teknologinya di U.S. Akan tetapi benerasi baru dari reaktor tersebut tidak terlihat sesukses generasi sebelumnya. Dan AP1000 hanyalah satu-satunya desain yang disertifikasi oleh Komisi Peraturan Nuklir (NRC) U.S. Faktanya Empat buah reaktor AP1000 tahun 2007 China seharga 5,3 Milyar U.S. Dollar merupakan reaktor pertama dari Westinghouse sejak tahun 1987.</p>
<p>Perhatian kepada desain AP1000 kini mulai meningkat. Di U.S., Westinghouse dengan AP1000nya telah menjadi teknologi pilihan dari sekitar 14 unit plant baru, termasuk enam unit yang telah ditandatangani kontraknya oleh perusahaan tersebut. Dilain pihak, UK yang persiapan plant nuklir generasi barunya menarik minat berbagai perusahaan di seluruh Eropa, kini sedang mengurus sertifikasi hanya untuk dua desain reaktor barunya. Yang pertama UK-EPR yang didesain oleh AREVA dan Electricite de France; dan desain lainnya menggunakan AP1000.</p>
<p>Sumber:<br />
Power Magazine, vol.153 2009</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1983&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/07/reaktor-nuklir-ap1000-china-pertama-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sistem Kabel Superkonduktor Terpanjang Di Dunia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/07/korea-selatan-membangun-sistem-kabel-superkonduktor-terpanjang-didunia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/07/korea-selatan-membangun-sistem-kabel-superkonduktor-terpanjang-didunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Jul 2009 00:41:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1980</guid>
		<description><![CDATA[Korea Selatan mulai menginstalasikan kabel listrik superkonduktor di dekat kota Seoul pada pertengahan tahun 2010. Kabel tersebut akan digunakan pada sistem kabel 22,9 kV sebagai bagian dari jaringan listrik komersial dan akan mencapai 50 mil serta mampu menghantarkan listrik sebanyak 50 MW.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1981" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-1981" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/superconductor-majarimagazine-150x150.jpg" alt="superconductor-majarimagazine" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Kabel Superkonduktor</p></div>
<p>Korea Selatan mulai menginstal kabel distribusi listrik superkonduktor di dekat kota Seoul pada pertengahan tahun 2010. Bulan April kemarin, perusahaan kabel raksasa negara tersebut, LS Cable mulai memesan superkonduktor 344 sepanjang 50 miles dengan jenis second-generation high-temperature superconductors (HTS) dari American Superconduktor Corp (AMSC). Rencananya kabel tersebut akan digunakan pada sistem kabel 22,9 kV sebagai bagian dari jaringan penghantar listrik komersial Korea Electric Power Corp (KEPCO). Sistem kabel ini akan mencapai panjang 50 mil dan mampu menghantarkan listrik sebanyak 50 MW.</p>
<p>&#8220;Sebagaimana kasus di berbagai negara di seluruh dunia, permintaan kebutuhan listrik korea juga meningkat tajam dan kami mengandalkan berbagai sumber energi terbarukan untuk memenuhi kebutuhan tersebut,&#8221; kata Kim Ssang-su, CEO KEPCO. &#8220;Dengan kemampuan mereka membawa energi listrik dalam jumlah besar, kita akan melihat sesuatu yang menjanjikan dari teknologi kabel superkonduktor ini dan menanti penginstalan sistem pertamanya.&#8221;</p>
<p>Sebuah kabel yang dibuat dari kawat HTS didalamnya dapat menghantarkan listrik mencapai 10 kali lipat lebih banyak dibandingkan jumlah listrik yang dapat dihantarkan oleh kabel tembaga dengan diameter yang sama. Dengan mengganti kabel tembaga dengan kabel HTS dan dengan memanfaatkan jaringan terowongan bawah tanah yang sudah ada, suatu kota akan mendapatkan kepadatan arus listrik yang lebih tahan lama dan jaringan listrik yang lebih terjaga keamanannya tanpa menggali jalan-jalan kota. Superkonduktor 344 dari AMSC yang mulai diproduksi tahun 2007 ini memiliki sebuah fitur yang mampu mengurangi biaya produksinya, menurut keterangan perusahaan tersebut.</p>
<p>Korea selatan telah melakukan pengembangan dan komersialisasi sistem superkonduktor beberapa tahun, dengan menghabiskan biaya tidak kurang dari 100 juta U.S. Dollar pada program yang diberi nama Development of Advanced Power Systems by Applied Superconductivity technologies (DAPAS). Selama tahun 2006 dan 2007, negara tersebut melakukan berbagai percobaan sistem kabel superkonduktor pada panjang 30 meter dan 100 meter untuk jenis kabel superkonduktor 22,9 kV menggunakan kawat HTS generasi pertama AMSC.  Instalasi kabel di Korea Selatan ini akan mengikuti beberapa pengaturan kabel superkonduktor menyesuaikan pada jaringan listrik U.S.</p>
<p>Pemegang rekor dunia untuk pertama kalinya menggunakan sistem superkonduktor ini adalah Long Island, U.S. pada bulan April 2008. Sistem kabel 138 kV sekarang sudah menjadi bagian sistem permanen penghantar listrik utama Long Island Power Authority (LIPA). Pada kapasitas penuh, sistem kabel LIPA dapat menghantarkan listrik mencapai 574  MW. Proyek superkonduktor lain kini sedang direncanakan untuk kota Mahattan, N.Y., dengan mendapat dana bantuan dari Department of Homeland Security U.S.</p>
<p>Sumber:<br />
Power Magazine, vol.153 2009</p>
<pre>Info tambahan: <a href="http://www.submag.com/sub/pw" target="_blank">Klik disini untuk berlangganan Power Magazine</a></pre>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1980&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/07/korea-selatan-membangun-sistem-kabel-superkonduktor-terpanjang-didunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Zero Energy Building</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/zero-energy-building/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/zero-energy-building/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 02:04:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>
		<category><![CDATA[students]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1877</guid>
		<description><![CDATA[SD Jean-Louis di Perancis, sekolah ini adalah sekolah pertama yang mampu memproduksi energi dengan jumlah yang sama dengan energi yang sekolah tersebut konsumsi. Dengan kata lain, sebuah sekolah "Zero Energy", dimana para siswanya juga dididik betapa pentingnya melindungi planet kita ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1878" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1878" href="http://majarimagazine.com/2009/06/zero-energy-building/zerocarbonschool-majarimagazine/"><img class="size-thumbnail wp-image-1878" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/zerocarbonschool-majarimagazine-150x150.jpg" alt="Zero Carbon School" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Jean-Louis Elementary- Zero Carbon School</p></div>
<p>Sebuah bangunan yang berbeda dari biasanya, mungkin itu kesan pertama bagi orang yang melihat sekolah SD <em>Jean-Louis</em> di Perancis. Sekolah ini adalah sekolah pertama yang mampu memproduksi energi dengan jumlah yang sama dengan energi yang sekolah tersebut konsumsi. Dengan kata lain, sebuah sekolah &#8220;<em>Zero Energy</em>&#8220;, dimana para siswanya juga dididik betapa pentingnya melindungi planet kita ini.</p>
<h3>Back-to-school tahun 2007</h3>
<p>Konstruksi dimulai pada tahun 2005, sekolah yang mendapatkan penghargaan pemenang pertama pada kategori &#8220;<em>Enviromental Quality of Construction</em>&#8221;  pada acara tahunan Enviromental Awards ke 10 Perancis tahun 2006, memakan biaya total 7 milyar Euro. Hasilnya, bangunan bertingkat 2 dengan 5 ruang kelas TK dan 7 ruang kelas SD dibuka tepat waktu sebelum tahun ajaran 2007-2008. Didalam sekolah yang memiliki luas fasilitas 3000 meter persegi, terdapat taman bermain seluas 800 meter persegi dan lahan untuk menanam berbagai sayuran dan buah. Sekolah ini juga mendapatkan penghargaan pertama pada kategori &#8220;<em>Enviromental Policy &#8211; Clean Energy</em>&#8221; pada acara Oxygen Awards bulan November 2006.</p>
<h3>Inovasi ide pembuatan bangunan</h3>
<p>Konsep utama dibalik pembuatan sekolah ini adalah untuk menciptakan bangunan yang dapat memproduksi energi sebanyak atau mungkin lebih dari energi yang dibutuhkan oleh sekolah tersebut selama beroperasi.  Sekolah ini didesain agar menghadap matahari pada saat musim dingin, untuk mendapatkan panas yang cukup sebagai pengganti penghangat ruangan. Untuk  mengurangi penggunaan lampu penerangan, lorong dan ruang kelasdi lantai atas dilengkapi dengan dinding dan lantai kaca, dan sekolah tersebut juga menggunakan banyak jendela besar untuk memaksimalkan penggunaan cahaya penerangan alam. Sebagai tambahan, sebanyak 650 meter persegi panel surya digunakan pada atap dan gerbang sekolah tersebut.</p>
<p>Walaupun demikian, lokasi yang berada pada pinggiran kota paris membuat sekolah ini tidak dapat bergantung sepenuhnya pada radiasi matahari dimusim dingin. Maka dari itu,digunakan double  flux system yang menakjubkan untuk mengembalikan panas dari udara sekitar, sebelum panas tersebut lolos keluar. <em>Space heating</em>, digunakan dengan cara mengekstrak aliran air tanah pada kedalaman 70 meter dibawah sekolah tersebut.</p>
<p>Tentu saja, disini air-lah yang memainkan peranan penting. Sekolah ini memiliki tanah permeable yang melapisi, sehingga aliran air tanah akan terisi kembali setiap kali hujan. Bagian atas dari bangunan sekolah ditutupi dengan tumbuh-tumbuhan, didesain untuk mengisolasi bangunan dan memperlambat penguapan air hujan. Setelah di <em>recovery</em>, sebagian air digunakan untuk berkebun. Pada akhirnya, tiga perempat dari air panas digunakan untuk kamar mandi dan toilet, dengan pemanas yang berasal dari 30 meter persegi panel surya di atap gedung.</p>
<h3>Siswa yang <em>Eco-educated</em></h3>
<p>Sekolah ini tidak hanya bergantung pada teknologinya dalam mengimbangi kebutuhan enegi. Konsumsi energi juga bergantung pada kebiasaan penghuni sekolah. Untuk menghindari penggunaan kendaraan bermotor di sekitar sekolah, sebuah &#8220;<em>walking bus</em>&#8221; diletakkan disuatu tempat untuk semua siswa  yang berangkat kesekolah jalan kaki. Diperpustakaan, sebuah layar TV plasma enampilkan secara real-time konsumsi elektrik dan produksi elektrik dari gedung sekolah ini, sehingga siswa mampu mengontrol &#8220;energi behaviour&#8221; mereka oleh mereka sendiri.</p>
<p>Sedikit konsumsi, hasilkan lebih &#8211; Sebuah tantangan untuk seluruh kota<br />
Sekolah ini mengkonsumsi setengah dari energi yang diperlukan oleh bangunan tradisional, tapi ini hanya sebagian kecil dari program besar yang dicanangkan dikota Limeil-Brévannes. Sebenarnya, program utamanya adalah dalam lima tahun untuk membangun distrik baru, &#8220;<em>Quartier des Temps Durables</em>&#8221; (&#8220;<em>The Sustainable Time Zone</em>&#8220;). Dengan lokasi di bekas lahan kosong industri, area tersebut akan mengutamakan pengembangan ketahanan dan standar ecological.</p>
<p>Sebuah contoh yang baik untuk diterapkan.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Disadur dari <a href="http://www.planete-energies.com" target="_blank">planete-energies.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1877&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/zero-energy-building/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqueous Phase Reforming (APR)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[fuel cell]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Hidrogen mempunyai potensi yang besar sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan dari mengimpor sumber daya energi. Untuk itu, kita akan memerlukan fasilitas untuk memproduksi, menyimpan dan memindahkan hidrogen. Aqueous Phase Reforming (APR) merupakan salah satu caranya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1771" class="wp-caption alignleft" style="width: 183px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/h2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1771" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/h2-289x300.jpg" alt="Hydrogen power" width="173" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Hidrogen</p></div>
<p>Hidrogen banyak digunakan sebagai bahan bakar seperti pada industri pengilangan, <em>treating </em>logam dan pemrosesan makanan.  The <em>National Aeronautics and Space Administration (NASA)</em> adalah pengguna primer hidrogen sebagai bahan bakar dan telah menggunakannya selama bertahun-tahun dalam program luar angkasa. Baterai hidrogen yang disebut <em>fuel cells</em> dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan sistem daya listrik di roket atau pesawat luar angkasa. Produk samping yang diperoleh hanyalah air murni dan digunakan oleh para awak pesawat sebagai air minum. Proses pada <em>fuel cells</em> sangat efisien tetapi pembuatannya mahal.<em> Fuel cells</em> ukuran kecil dapat menjalankan mobil listrik sedangkan fuel cells ukuran besar dapat menyediakan listrik untuk tempat terpencil tanpa jalur transmisi.</p>
<p>Hidrogen mempunyai potensi yang besar sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan dari mengimpor sumber daya energi. Sebelum hidrogen dapat menjadi sumber energi terbesar dan dapat digunakan sebagai alternatif dari bensin, banyak fasilitas baru harus dibangun. Kita akan memerlukan fasilitas tersebut untuk membuat hidrogen, menyimpannya dan memindahkannya. Kita akan memerlukan fuel cells yang ekonomis dan konsumen memerlukan teknologi dan pendidikan untuk aman menggunakannya. Saat ini telah banyak proses yang ditemukan untuk mengkonversi biomassa seperti gliserol menjadi hidrogen. Salah satu proses yang efektif adalah reformasi fasa cair (<em>Aqueous Phase Reforming/APR</em>). Proses ini telah dikembangkan oleh Virent Energy System, Inc. Proses APR adalah metoda yang unik untuk memproduksi hidrogen dari larutan senyawa beroksigen dalam satu tahap proses reaktor dibandingkan dengan tiga atau lebih tahap yang diperlukan untuk memproduksi hidrogen melalui proses konvensional yang mempergunakan bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Kunci pemecahan dari proses APR adalah reformasi larutan dilakukan dalam fasa cair.</p>
<p>Gliserol ini bisa dicampur dengan air untuk dijadikan umpan dari proses reformasi fasa cair ini. Skema proses ini bisa dilihat pada Gambar berikut.</p>
<p> </p>
<div id="attachment_1772" class="wp-caption aligncenter" style="width: 484px"><img class="size-full wp-image-1772 " title="proses-apr" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/proses-apr.jpg" alt="Diagram Proses APR" width="474" height="316" /><p class="wp-caption-text">Diagram Proses APR</p></div>
<p style="text-align: center;">Pada proses ini, reaksi yang terjadi adalah :<br />
C3H8O3 + 3H2O &#8211;&gt; 3CO2 + 7H2</p>
<p>Reaksi reformasi fasa cair ini terjadi dalam reaktor tunggal pada temperatur antara 200°C hingga 250°C dan pada tekanan di atas <em>bubble point air</em> (16-40 bar). Reaksi ini merupakan reaksi endoterm sehingga membutuhkan pasokan kalor dari luar.</p>
<p>Katalis logam sering digunakan untuk proses <em>Aqueous Phase Reforming</em>. Logam seperti Pt, Pd, dan campuran logam Ni-Sn menunjukkan selektivitas yang tinggi untuk produksi hidrogen dan kecenderungan untuk membentuk alkana sangat rendah. Di sisi lain, logam seperti Ru dan Rh lebih aktif untuk membentuk alkana. Penyangga asam memiliki selektivitas tinggi untuk reaksi ini, sedangkan penyangga basa/ netral meyukai produksi hidrogen. Lebih dari itu, penyangga oksida memainkan aturan kunci dalam aktivasi molekul air, menghasilkan inhibition atau promotion dalam <em>WGSR (Water Gas Shift Reaction)</em>. Keasaman larutan juga berpengaruh pada unjuk kerja aqueous phase reformer. Secara jelas dapat disimpulkan bahwa larutan basa dan netral menghasilkan selektivitas hidrogen yang tinggi dan selektivitas alkana yang rendah. Sebaliknya larutan asam menghasilkan selektivitas hidrogen yang rendah dan selektivitas alkana yang tinggi.</p>
<p><strong>Metode Preparasi Katalis</strong><br />
Katalis yang akan digunakan untuk suatu reaksi biasanya melalui tahap preparasi terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa tahap preparasi yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.</p>
<ol>
<li> Menurut Nianjun Luo et all. Bahwa katalis berbasis Pt telah dipreparasi menggunakan metode incipient wetness impregnation. Secara khas, y-Al2O3 (ukuran 178-250 µm) telah diimpregnasi dengan larutan H2PtCl6 selama 24 jam pada temperatur ruang. Kemudian dikeringkan pada 120 °C semalaman dalam oven dan dikalsinasi pada 260 °C selama 2 jam di udara.</li>
<li> Menurut Guodong Wen et all. Bahwa larutan yang digunakan untuk preparasi katalis Pt, Ni, Co dan Cu adalah berturut-turut H2PtCl6, (Ni(NO3)2.6H2O), (Co(NO3)2.6H2O) dan (Cu(NO3)2.6H2O). Al2O3, karbon aktif, SiO2, MgO, HUSY (SiO2/Al2O3=4.8) dan SAPO-11 (Si0.129Al0.499P0.397O2) digunakan sebagai penyangga untuk menyangga katalis Pt. Katalis dipreparasi dengan metode incipient wetness impregnation dilanjutkan dengan pengeringan di udara dalam oven pada 383 K semalaman dan terakhir dikalsinasi pada 723 K selama 3 jam (kecuali untuk katalis Pt dikalsinasi pada 753 K). Kemudian direduksi dalam aliran H2 selama 2 jam pada 823 K (pemanasan 2 K/min). Setelah reduksi, sampel didinginkan samapi temperatur ruang dan dipassivasi dalam aliran O2/N2 (1%-vol O2).</li>
</ol>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.greenoptimistic.com/hydrogen_power">http://www.greenoptimistic.com/hydrogen_power</a><br />
<a href="http://www.wisbiorefine.org">http://www.wisbiorefine.org</a><br />
<a href="http://www.esru.strath.ac.uk">http://www.esru.strath.ac.uk</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1770&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>By-product Biodiesel dan Etanol, Sumber Baru Biogas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 11:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biogas]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[ethanol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1727</guid>
		<description><![CDATA[Produksi etanol dan biodiesel menghasilkan beberapa produk samping, di antaranya stillage dan gliserol. Produk-produk tersebut ternyata berpotensi menghasilkan biogas: gas produk akhir degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen/udara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1732" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/041452867000003.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1732" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/041452867000003-150x150.jpg" alt="Biogas" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Biogas</p></div>
<p>Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara. Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54-80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20-45 %-vol). Biogas dapat berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik, diantaranya limbah tanaman, limbah perairan , dan limbah peternakan, seperti kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, dan kotoran unggas. Namun, beberapa tahun belakangan ini produk samping pembuatan etanol dan biodiesel disebut-sebut juga dapat menghasilkan biogas.</p>
<p>Produksi etanol menghasilkan beberapa produk samping, antara lain residu tanaman bahan baku etanol, stillage, kondensat pada evaporator, dan lain-lain. Seluruh produk samping tersebut ternyata  memiliki potensi untuk menghasilkan gas metana. Stillage, residu proses distilasi etanol dari cairan fermentasi akan dihasilkan  sebanyak hingga 20 L untuk setiap liter etanol yang terproduksi. Residu tanaman bahan baku etanol juga dapat dimanfaatkan untuk produksi biogas. Pada produksi etanol selulosik, produk hidrolisis non-fermentable juga dapat dikonversi menjadi metana. Seperti halnya proses produksi biogas dari bahan baku lainnya, seluruh produk samping ini dapat dikonversi menjadi biogas di dalam sebuah digester dengan bantuan mikroorganisme.</p>
<p>Produk samping biodiesel juga berpotensi menghasilkan biogas. Biodiesel dapat dihasilkan melalui proses transesterifikasi minyak lemak. Proses produksi biodiesel menggunakan reaksi hidrolisis alkalin untuk mengkonversi minyak menjadi biodiesel menggunakan metanol, KOH, dan panas. Reaksi transesterifikasi akan memisahkan gugus gliserol dari trigliserida, sehingga akan menghasilkan metil ester (biodiesel) dan produk samping gliserol. Untuk memurnikan biodiesel, dibutuhkan proses pencucian untuk memisahkan asam lemak bebas dan metanol berlebih, sehingga menghasilkan  produk samping air pencuci. Untuk setiap 100 L minyak, sekitar  75 L biodiesel dan 25 L gliserol dihasilkan. Proses pencucian juga akan menghasilkan sekitar 30 L air pencuci biodiesel. Gliserol dan air pencuci tersebut merupakan produk samping biodiesel yang memiliki potensi menghasilkan gas metana.</p>
<div id="attachment_1729" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/glycerol_large.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1729" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/glycerol_large-150x150.jpg" alt="gliserol" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">gliserol</p></div>
<p>Dengan peningkatan popularitas biodiesel yang terjadi saat ini, maka juga akan terjadi penigkatan gliserol sebagai produk samping. Peningkatan ini membanjiri pasar dan menyebabkan penurunan harga gliserol. Penggunaan gliserol untuk menghasilkan biogas merupakan salah satu potensi baru pengembangan gliserol. Dengan menggunakan mikroorganisme untuk mengkonsumsi gliserol, gas seperti karbon dioksida dan  metana akan dihasilkan. Sumber energi ini selanjutnya dapat digunakan untuk menyediakan energi panas dan listrik dalam pabrik biodiesel. Selain itu, metana juga dapat dikonversi menjadi metanol, yang dapat digunakan dalam proses produksi biodiesel.</p>
<p>Pencernaan anaerobik untuk mengkonversi gliserol menjadi metana ini dapat dikembangkan pada berbagai temperatur, seperti temperatur mesofilik, sekitar 35 derajat Celcius dan temperatur termofilik, sekitar 55 hingga 60 derajat Celsius. Pencernaan anaerobik konvensional terjadi pada temperatur mesofilik. Walaupun begitu, temperatur termofilik juga merupakan kondisi yang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif karena kondisi temperatur ini dapat menyebabkan laju reaksi semakin cepat, produksi gas semakin tinggi, dan laju penghancuran patogen semakin tinggi dibandingkan dengan temperatur mesofilik. Namun, proses termofilik lebih sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan dibandingkan dengan proses mesofilik.</p>
<p>Pemanfaatan produk samping biodiesel dan etanol menjadi biogas ini merupakan salah satu nilai tambah bagi pengembangan kedua sumber energi tersebut.Selain dapat meningkatkan nilai guna by-product, pemanfaatan ini akan meningkatkan  perolehan energi dari proses produksi sumber energi yang dilakukan. Proses produksi yang terjadi pun semakin sustainable.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://aiche.confex.com/aiche/2006/techprogram/P64103.HTM"> http://aiche.confex.com/aiche/2006/techprogram/P64103.HTM</a><br />
<a href="http://biogas.ifas.ufl.edu/etohbiod.htm"> http://biogas.ifas.ufl.edu/etohbiod.htm</a><br />
Yang, Yingnan, dkk. Biodegradation and methane production from glycerol containing synthetic wastes with fixed-bed bioreactor under mesophilic and thermophilic conditions.</p>
<p>Gambar: <a href="http://media.photobucket.com/image/biogas%20from%20glycerol%20digester/biopact/04145286700000.jpg">http://media.photobucket.com/image/biogas%20from%20glycerol%20digester/biopact/04145286700000.jpg</a><br />
<a href="http://www.thomrobiofuels.com/images/photos/glycerol_large.jpg"> http://www.thomrobiofuels.com/images/photos/glycerol_large.jpg</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1727&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fly Ash sebagai Adsorben CO2</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/fly-ash-sebagai-adsorben-co2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/fly-ash-sebagai-adsorben-co2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 May 2009 11:42:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1714</guid>
		<description><![CDATA[Pembangkitan energi dengan batubara menghasilkan fly ash dan emisi CO2. Salah satu metode penangkapan CO2 adalah metode adsorpsi dengan menggunakan kalsium oksida. Fly ash ternyata memiliki kandungan CaO yang dapat langsung dimanfaatkan untuk mengadsorp CO2 tanpa perlu diaktivasi kembali.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1715" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/coal-power-station-001.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1715" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/coal-power-station-001-150x150.jpg" alt="Coal Power Station" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Coal Power Station</p></div>
<p>Salah satu bahan bakar fosil yang umum digunakan saat ini adalah batubara. Batubara adalah sumber energi yang paling mudah diambil dari alam. Namun, pembangkitan energi dengan batubara menimbulkan limbah yang cukup banyak, di antaranya <em>fly ash</em>. <em>Fly ash</em> adalah salah satu residu hasil pembakaran batubara. Komponen yang terkandung dalam <em>fly ash</em> bervariasi bergantung pada sumber batubara yang dibakar, tetapi semua <em>fly ash</em> mengandung SiO2 dan CaO. Jika tidak diolah lebih lanjut,  <em>fly ash</em> dapat menyebabkan dampak negatif bagi lingkungan. <em>Fly ash</em> dapat mengkontaminasi air tanah dengan kandungan pengotor seperti arsenik, barium, berillium, boron, cadmium, komium, thallium, selenium, molibdenum dan merkuri.</p>
<p>Pemanfaatan batubara juga memberikan dampak negatif lain berupa emisi karbon dioksida. Gas CO2 ini, lebih jauh lagi, akan menimbulkan dampak berupa efek rumah kaca. Oleh karena itu, dalam pemanfaatan batubara sebagai sumber energi, diperlukan suatu metode untuk menangkap gas CO2 dari hasil pembakaran batubara dan menyimpannya dalam suatu materi isolator. Teknologi ini dikenal dengan nama Carbon Capture and Storage (CCS). Banyak metode penangkapan CO2 yang sedang dikembangkan saat ini, di antaranya adalah adsorpsi, absorpsi, penggunaan membran, proses kriogenik, dan pemanfaatan mikroba.</p>
<p>Salah satu metode penangkapan CO2 adalah metode adsorpsi dengan menggunakan kalsium oksida, magnesium oksida, seng oksida, dan tembaga oksida. Sorbent yang paling umum digunakan dalam industri adalah CaO (kalsium oksida) yang terdapat di alam dalam bentuk CaCO3. Untuk mendapatkan CaO dari batuan kapur, batuan kapur harus terlebih dahulu diaktivasi, yaitu dengan memanaskan batu kapur hingga rentang temperatur kalsinasi, yang umumnya berkisar 800-950 derajat Celsius. Proses akitivasi ini jelas membutuhkan energi dalam jumlah yang besar, serta melepaskan CO2 ke lingkungan saat diaktivasi. Proses ini dikhawatirkan akan membuang CO2 lebih banyak ke lingkungan dibandingkan dengan jumlah CO2 yang berhasil ditangkap. Oleh karena itu, diperlukan suatu alternatif sorbent yang tidak memerlukan aktivasi terlebih dahulu.</p>
<div id="attachment_1716" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/123012.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1716" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/123012-150x150.jpg" alt="Fly Ash" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Fly Ash</p></div>
<p><em>Fly ash</em> dari pembakaran batubara merupakan salah satu contoh sorbent yang dapat digunakan. <em>Fly ash</em> yang diperoleh dari pembakaran batubara memiliki kandungan CaO yang dapat langsung dimanfaatkan untuk mengadsorp CO2 tanpa perlu diaktivasi kembali, sehingga kebutuhan energi untuk melakukan proses kalsinasi dapat dihindari. Selain itu, <em>fly ash</em> hasil pembakaran batubara tersedia dalam jumlah besar dan terus dihasilkan, sehingga<em> fly ash</em> yang telah digunakan tidak perlu dikarbonasikan kembali, melainkan dapat langsung dibuang. <em>Fly ash</em> yang digunakan dalam penangkapan CO2 ini memiliki kandungan kalsium yang tinggi sehingga akan langsung bereaksi dengan air. Hasil dari proses hidrasi <em>fly ash</em> tersebut adalah terbentuknya Ca(OH)2 dan fase C-H-S yang reaktif terhadap CO2. Reaksi yang terjadi selanjutnya adalah:</p>
<p style="text-align: center;">CO2 + Ca(OH)2 &#8211;&gt; CaCO3 + H2O<br />
CaO.nSiO2.mH2O(C-S-H) + CO2 &#8211;&gt; CaCO3 + SiO2 + mH2O</p>
<p>Selain dapat mengurangi emisi CO2 yang dihasilkan dari proses pembangkitan energi dengan batubara, metode ini juga dapat memanfaatkan hasil samping produksi batubara lainnya, yaitu <em>fly ash</em>. Adanya teknologi yang tepat guna seperti ini selanjutnya diharapkan dapat membantu pemenuhan kebutuhan energi yang ramah lingkungan.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Fly_ash">http://en.wikipedia.org/wiki/Fly_ash</a><br />
<a href="http://www.geology.sk/co2neteast/documents/workshop_bratislava/AU_BOCHENCZYK.pdf"> http://www.geology.sk/co2neteast/documents/workshop_bratislava/AU_BOCHENCZYK.pdf</a><br />
Nugraha Yohannes A. dan Aditya Tanuwijaya, Penangkapan CO2 dengan Fly Ash Termodifikasi, 2009.</p>
<p>Gambar:<br />
<a href="http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/12/16/1229431063588/Coal-power-station-001.jpg"> http://static.guim.co.uk/sys-images/Guardian/Pix/pictures/2008/12/16/1229431063588/Coal-power-station-001.jpg</a><br />
<a href="http://www.tva.gov/kingston/photo_gallery/images/123012.jpg"> http://www.tva.gov/kingston/photo_gallery/images/123012.jpg</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1714&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/fly-ash-sebagai-adsorben-co2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Plasma dalam Industri Tekstil</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 17:35:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1632</guid>
		<description><![CDATA[Plasma merupakan teknologi alternatif yang efisien, hemat energi serta ramah lingkungan. Dalam industri tekstil, penggunaan energi plasma dapat menyebabkan proses pengikisan, pembentukan radikal bebas, disosiasi ikatan kimia, pembentukan ikatan silang pada permukaan polimer, dan lain-lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignright size-medium wp-image-1651" title="plasma" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/plasma-300x295.jpg" alt="plasma" width="300" height="295" />Dalam industri tekstil, proses penyempurnaan kain hampir selalu dilakukan untuk memperbaiki kekurangan dari sifat-sifat kain sebelum dikirim kepada konsumen. Banyak cara untuk melakukan penyempurnaan kain, baik secara fisik maupun kimia. Hanya saja pada dalam proses penyempurnaan kain tersebut diperlukan banyak energi yang sampai saat ini masih menggunakan bahan bakar minyak.</p>
<p>Untuk keperluan tersebut, beberapa industri tekstil telah mengupayakan pemanfaatan batubara sebagai bahan bakar. Namun bahan bakar minyak maupun batubara, keduanya merupakan sumber daya alam yang terbatas dan dapat habis pada suatu saat. Oleh karena itu perlu dicari teknologi alternatif yang lebih efisien, hemat energi serta lebih ramah lingkungan. Salah satu dari teknologi alternatif tersebut adalah energi plasma. Penggunaan energi plasma mempunyai manfaat yang cukup besar karena dapat menyebabkan proses pengikisan (<em>etching</em>) dan pembentukan radikal bebas, disosiasi ikatan kimia, pembentukan ikatan silang pada permukaan polimer, dan lain-lain.</p>
<p>Contoh-contoh serat alami maupun yang dibuat oleh manusia telah membuktikan bahwa banyak potensi yang dimiliki plasma dalam pengolahan material tekstil. Ini telah dibuktikan dengan suksesnya pengolahan anti-penyusutan pada wool dengan simultan efek posif pada <em>dyeing</em> and <em>printing. </em>Bukan hanya stuktur kimia pada permukaan yang dimodifikasi menggunakan gas plasma yang berbedam tetapi juga topografi permukaanya. Permukaan yang sangat hidrofobik dengan topografi tertentu berkontak dengan air bisa menimbulkan debu dan kotor and mungkin terkontaminasi oleh bakteri dan jamur.</p>
<h3><strong>Penggunaan Plasma Untuk Inisiasi <em>Grafting</em></strong></h3>
<p><strong><em></em></strong></p>
<h4><strong><em>Kapas</em></strong></h4>
<p><strong><em></em></strong> Kain kapas adalah kain yang terbuat dari serat kapas 100% yang molekulnya terdiri dari polimer selulosa. Serat kapas adalah serat selulosa alam yang mempunyai kutikula, lumen dan dinding sel yang kuat sehingga mempunyai kekuatan yang tinggi. Proses <em>etching </em>menggunakan GDP (<em>glow discharge plasma</em>) selama 20 menit menurunkan berat serat kapas sebesar 1, 9 %, sedangkan kekuatan benangnya dari 266 g turun menjadi 230 g, atau turun sebesar 13,5%. Serat kapas dengan ekspos 60 detik sudah dapat untuk inisiasi pada polimerisasi tempel (<em>grafting</em>) terhadap berbagai monomer. Monomer hidroksi etil metakrilat (HEMA) adalah yang paling besar kemampuannya untuk grafting pada kapas, disusul n-isopropil akrilamid (NIPA), metoksi etil akrilat (MEA), hidroksi etil akrilat (HEA), asam akrilat (AA) dan akrilamid (AMD).</p>
<h4><strong><em>Rayon Viskosa</em></strong></h4>
<p>Serat rayon viskosa adalah serat regenerasi selulosa yang dibuat dari <em>pulp</em> kayu cemara dan sejenisnya yang melalui serangkaian proses dan pemintalan basah dapat terbentuk serat. Oleh karena bahan dasarnya selulosa maka serat tersebut termasuk serat yang hidrofil. Serat rayon mempunyai berat molekul dan kristalinitas yang rendah dibanding serat kapas. Sehingga mempunyai kekuatan yang lebih rendah dan kandungan air (<em>moisture regain</em>) yang lebih tinggi, kurang lebih 12% (kandungan air kapas 8%). Pada proses <em>etching</em> dengan GDP selama 20 menit serat rayon mengalami penurunan berat sebesar 6%, sedangkan kekuatan benangnya turun dari 142g menjadi 105g atau turun sebesar 25,06%. Serat rayon viskosa yang terinisiasi selama 60 detik sudah mampu melakukan polimerisasi tempel (<em>grafting</em>) terhadap berbagai monomer. Kemampuan rayon viskosa untuk di-<em>grafting </em>dengan beberapa monomer berbeda dengan kemampuan kapas.</p>
<h4><em><strong> Poliester</strong></em></h4>
<p><em><strong></strong></em>Poliester adalah serat sintetik yang terbuat dari kopolimerisasi antara asam tereftalat dengan etilen-glikol membentuk polimer yang strukturnya sangat kristalin. Serat poliester sangat sedikit mengandung gugus hidrofil sehingga termasuk serat hidrofob dan pada kondisi normal mempunyai kandungan air (<em>moisture regain</em>) hanya 0,4%. Etching dengan GDP selama 20 menit menurunkan berat serat poliester sebesar 0,6%, sedangkan kekuatannya turun sebesar 19,2%. Sama halnya dengan serat kapas maupun rayon viskosa, serat poliester dapat melakukan polimerisasi tempeL terhadap berbagai monomer.</p>
<h4><strong><em>Nilon</em></strong></h4>
<p>Nilon (nilon 66) adalah serat sintetik yang terbuat dari kopolimerisasi antara asam adipat dan heksametilendiamin membentuk polimer dengan struktur supermolekuler yang sangat kristalin. Serat nilon relatif sedikit mengandung gugus hidrofil dan mengandung gugus amina, sehingga sifatnya lebih hidrofil dibanding poliester. Pada kondisi normal serat nilon mempunyai kandungan air (<em>moisture regain</em>) sebesar kurang lebih 4%. Proses etching dengan GDP selama 20 menit menurunkan berat serat nilon sebesar 6%, sedangkan  kekuatannya turun dari 228g menjadi 219g atau sebesar 4,4%.</p>
<h4><strong><em> Akrilik</em></strong></h4>
<p><strong><em></em></strong>Serat akrilik termasuk serat sintetik yang merupakan polimer hidrokarbon linier yang mengandung banyak gugus akrilonitril (lebih dari 85%). Proses <em>etching </em>GDP selama 20 menit menurunkan berat serat akrilik sebesar 6%, sedangkan kekuatannya turun dari 202g menjadi 198g atau sebesar 1,98%.</p>
<h4><em><strong> Rayon Asetat</strong></em></h4>
<p><em><strong></strong></em>Serat rayon asetat adalah serat regenerasi selulosa yang dimodifikasi, sehingga mengandung gugus asetat dan sifat-sifatnya jauh berbeda dengan serat rayon viskosa maupun serat kapas.</p>
<p><em>Grafting </em>serat-serat tekstil dengan monomer tidak menurunkan kekuatannya tetapi justru meningkatkan. Adanya monomer tertentu dapat menambah friksi antara serat satu dengan yang lainnya, sehingga kemungkinan terjadi selip lebih kecil.</p>
<blockquote><p><em>Sumber:</em><br />
<em></em> Kailani, Zubaidi A. 2005.  Pemanfaatan Energi Plasma dalam Proses Tekstil Untuk Memperbaiki Sifat-Sifat Kain.<br />
Sparavigna, Amelia. Plasma Treatment Advantages for Textiles.<br />
Höcker, Hartwig. 2002. Plasma Treatment of Textile Fiber. Pure Appl. Chem., Vol. 74, No. 3, pp. 423–427.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1632&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/plasma-dalam-industri-tekstil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biogas, Krisis Energi, dan Pemanasan Global</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 02:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1536</guid>
		<description><![CDATA[Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi menyebabkan tingginya harga bahan bakar dan di sisi lain, penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1596" title="biogas" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/biogas.jpg" alt="biogas" width="200" height="150" />Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah tingginya harga bahan bakar. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar semakin meningkat dengan pesat, sementara itu sumbernya makin berkurang. Sebagai konsenkuensi logis, tanpa bahan baku energi kehidupan ini tidak ada. Selain itu, penggunaan bahan bakar juga berdampak bagi bumi kita. Penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.</p>
<p>Biogas sebuah teknologi sederhana dan mudah untuk diaplikasikan dapat menjadi sebuah solusi yang baik untuk kedua permasalahan tersebut.</p>
<h3>Apa itu biogas?</h3>
<div id="attachment_1537" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1537" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas1-300x199.jpg" alt="Aplikasi biogas" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Aplikasi biogas</p></div>
<p>Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara (Tatang, 2006). Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54 – 80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20 – 45 %-vol).</p>
<p>Gambar disamping adalah beberapa aplikasi biogas dalam kehidupan sehari &#8211; sehari.<br />
Pada prinsipnya proses produksi biogas, terjadi dua tahap yaitu penyiapan bahan baku dan proses penguraian anaerobik oleh mikroorganisme untuk menghasilkan gas metana.</p>
<h3>Bahan Baku</h3>
<p>Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:</p>
<ul>
<li> Limbah tanaman	: tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan lain-lain,</li>
<li> Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu,</li>
<li> Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayuran, dedak, kain dari tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,</li>
<li> Limbah perairan  : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,</li>
<li> Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, kotoran unggas.</li>
</ul>
<p>Rasio ideal C/N untuk proses dekomposisi anaerob untuk menghasilkan metana adalah 30. C/N rasio dari beberapa bahan organik dapat dilihat pada tabel berikut ini.<br />
Tabel Rasio C/N untuk berbagai bahan organik</p>
<h3>Proses Anaerob</h3>
<p>Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik terjadi secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi yang berlangsung pada kondisi tanpa oksigen oleh mikroorganisme tertentu yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana (biogas). Proses ini banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan organik dalam bentuk padat digunakan untuk kompos.</p>
<p>Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni: hidrolisis, pembentukan asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana. Proses anaerob dikendalikan oleh dua golongan mikroorganisme (hidrolitik dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan berat molekul rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri metanogenik mengubah asam-asam tersebut menjadi metana.</p>
<div id="attachment_1541" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1541" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2-300x200.jpg" alt="Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas</p></div>
<h3>Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Mikroorganisme Anaerob</h3>
<p>Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH, salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar keracunan pada proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-faktor tersebut.</p>
<h4>Temperatur</h4>
<p>Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur utama. Temperatur kriofilik yakni kurang dari 20 C, mesofilik berlangsung pada temperatur 20-45 C (optimum pada 30-45) dan termofilik terjadi pada temperatur 40-80 C (optimum pada 55-75 C).</p>
<h4>pH</h4>
<p>Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat menghambat perolehan gas metana. Berdasarkan beberapa percobaan pH optimum untuk memproduksi metana adalah rentang netral yaitu 6,2 sampai 7,6.</p>
<h4>Nutrisi</h4>
<p>Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam amino. Zat tersebut dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme, misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan lain-lain (Malina,1992).</p>
<h4>Keracunan dan Hambatan</h4>
<p>Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah menguap (volatile) yang dapat mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses anaerob diantaranya kandungan logam berat sianida.</p>
<h4>Faktor Konsentrasi Padatan</h4>
<p>Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9%  kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob berjalan dengan baik.</p>
<h3>Penentuan Kadar Metana Dengan BMP</h3>
<p>Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan selama masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari ke-30) didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum suntik (metoda syringe) ke botol serum.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia dalam Penyediaan Berbagai Bentuk Energi. Program Studi Teknik Kimia.<br />
<a href="http://www.dikti.org/biogas">http://www.dikti.org/biogas</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1536&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gas Rumah Kaca Dalam Pembuatan Microchip</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 03:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[nanotechnology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1564</guid>
		<description><![CDATA[Senyawa kimia yang diproduksi 8.000 ton per tahun untuk membuat monitor layar datar, televisi dan mikrochip ternyata memiliki kemampuan 17.000 kali lebih parah menyebabkan global warming dibandingkan dengan karbon dioksida. Senyawa ini juga disebut sebagai "missing greenhouse gas". Senyawa apakah itu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1589" title="microcip" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/microcip-300x229.jpg" alt="microcip" width="300" height="229" />Sebuah senyawa kimia yang marak digunakan untuk membuat monitor layar datar, televisi dan mikrochip ternyata memiliki kemampuan 17.000 kali lebih parah menyebabkan global warming dibandingkan dengan karbon dioksida. Tim peneliti &#8220;atmospheric chemist&#8221; dari Universitas California-Irvne telah menemukan bahaya zat kimia ini dan mempublikasikannya pada jurnal Geophysical Research Letters.</p>
<p>Zat kimia yang dikenal dengan nama nitrogen trifluoride (NF3) dahulu kala hanya digunakan dalam pembuatan microchip, dengan kuantitas yang kecil dan tidak berbahaya. Akan tetapi pada tahun ini, NF3 dibuat  besar-besaran karena dan digunakan pada indutri pembuatan LCD (Liquid Crystal Displays) pada telvisi layar datar dan monitor komputer. Diperkirakan, pada tahun 2010 produksi NF3 mencapai 8.000 ton per tahun, efek pemanasan global yang ditimbulkan dari NF3 sebanyak itu setara dengan 130 juta meter kubik CO2.</p>
<p>&#8220;Seiring dengan permintaan akan monitor layar datar, pasar NH3 akan semakin membesar,&#8221; tulis Michael J. Prathrt dan Juno Hsu, peneliti yang menyebut NH3 sebagai &#8220;missing greenhouse gas&#8221;.</p>
<p>NF3 pada mulanya diperkenalkan dalam pembuatan microchip sebagai bagian dari gerakan penanggulangan pemanasan global. Pada tahun 1997, pembuatan microchip masih menggunakan Perflorocarbons (PFCs) kemudian penggunaan PFCs dilarang setelah draft perjanjian internasional Protocol Kyoto ditandatangani. Perjajian tersebut berisi kesepakatan internasional untuk mengurangi produksi 6 gas penyebab utama pemanasan global yakni Carbon dioxide, Methane, PFCs, Nitrous oxide, Hydrofluorocarbons dan Sulfur hexafluoride. Karena pada masa itu produksi NF3 masih dalam kuantitas kecil, NF3 dianggap tidak terlalu penting untuk dituliskan didalam Protocol Kyoto.</p>
<p>Setelah keluar larangan penggunaan PFCs, industri pembuatan semikonduktor memutuskan untuk menggunakan NF3 sebagai pengganti PFCs walaupun telah diketahui bahwa NF3 memberikan efek pemanasan global yang jauh lebih berbahaya. Akan tetapi berita baik yang mereka kemukakan adalah apabila pada masa pembuatan PFCs dua pertiganya lepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca sedangkan pada pembuatan NF3 hanya 2 persen saja dari proses pembuatannya gas tersebut terlepas ke atmosfer.</p>
<p>Peneliti lain menambahkan, walaupun dalam proses pembuatan hanya sebagian kecil saja NF3 yang terlepas, masih ada kemungkinan lain NF3 terbebas ke udara misalnya pada proses trasportasi, penggunaan atau pembuangan. &#8220;Kita tidak tahu apakah 1 persen atau 20 persen gas NF3 yang terbebas keudara, tapi sekali kita melepaskannya, kita tidak akan pernah bisa mengurungnya kembali.&#8221;</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.latimes.com">LA times</a><br />
<a href="http://www.naturalnews.com">Natural News</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1564&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pertamina: On The Move</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Mar 2009 01:17:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1376</guid>
		<description><![CDATA[Saat ini, Petronas sudah masuk peringkat 500 perusahaan terbaik versi Majalah Fortune, menempati posisi ke-97; sementara Pertamina tidak termasuk di dalamnya. Pertamina saat ini memang sedang bertransformasi ke arah yang lebih baik. Perubahan apa saja yang sudah perusahaan ini lakukan?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1377" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/1.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1377" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/1-150x150.jpg" alt="Logo Pertamina" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Logo Pertamina</p></div>
<p>Pertamina, perusahaan minyak nasional, sedang bertransformasi. Pertamina <em>On The Move</em>, begitulah taglinenya. Banyak sekali agenda transformasi Pertamina, salah satunya perubahan paradigma SDM dan manajemen. Lalu, perubahan apa saja yang sudah perusahaan ini lakukan? Apakah sudah memuaskan para konsumennya?</p>
<p>Pada prinsipnya, program transformasi di Pertamina menyentuh dua aspek. Aspek pertama, budaya dan fundamental yang menyangkut pola pikir karyawan dalam menangani <em>stakeholder</em>. Yang kedua, aspek bisnis hulu hingga hilir. Perubahan yang telah dilakukan Pertamina antara lain sistem pengembangan SDM, pembenahan SPBU, penggencaran iklan Pertamina, dan meningkatkan nilai GCG (<em>good corporate governance</em>). Salah satu perubahan yang terlihat langsung oleh masyarakat adalah citra perubahan dalam kinerja Pertamina.</p>
<div id="attachment_1378" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/pertamina_thm.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1378" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/pertamina_thm-150x150.jpg" alt="SPBU Pertamina" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">SPBU Pertamina</p></div>
<p>Transformasi citra Pertamina berawal dari pandangan buruk masyarakat terhadap perusahaan ini. Dua tahun lalu, Situs Survey Dharmapena menyebutkan: SPBU Pertamina masih suka curang, tidak profesional (amatiran), sarang KKN, kurang bermanfaat karena sumbangan<em> corporate social responsibility </em>belum memenuhi keinginan masyarakat, birokratis, dan kegiatan hulunya masih dinilai merusak lingkungan. Pertamina memang memiliki SPBU yang sangat banyak di tanah air. Namun, bagaimana bisa disukai kalau SPBU nya kotor, penjaganya tidak ramah, bahkan melakukan kecurangan dengan tidak me-nol-kan alat pengukur volume bensin.</p>
<div id="attachment_1379" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1379" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/2-150x150.jpg" alt="Sertifikat Pasti Pas!" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Sertifikat Pasti Pas!</p></div>
<p>Tapi itu dulu. Saat ini, pasti kita semua sudah sering dengar sertifikat “Pasti Pas”. Tak hanya itu, operator SPBU pun dilatih dan kualifikasinya ditingkatkan. Tak heran, baju dekil dan muka judes yang dulu menyambut kita di SPBU Pertamina kini sudah berganti dengan seragam bersih dan petugas ramah yang berkata, ”Dari nol ya mbak&#8230;”.  Daerah SPBU pun sudah tak kotor lagi. Tak jarang area SPBU dilengkapi juga dengan masjid, supermarket, dan restoran.</p>
<p>Bukan hanya citra, masih banyak lagi yang Pertamina lakukan dalam bertransformasi. Kinerja Pertamina Tahun 2008 (prognosis):</p>
<ol>
<li> Total pendapatan sebesar Rp 540 Triliun</li>
<li> Laba sebelum pajak sebesar Rp 50 Triliun</li>
<li> Laba bersih sebesar Rp 30 Triliun</li>
<li>Volume lifting minyak sebesar 35,9 juta Barrel</li>
<li> Produksi minyak 156.000 barrel per hari</li>
<li> Realisasi investasi sebesar Rp 17 Triliun</li>
<li> Harga minyak Indonesia sebesar 101 dollar AS per barrel</li>
</ol>
<p>Tapi jangan bangga dulu. Sayangnya, walaupun sudah banyak melakukan perubahan, toh Pertamina masih kalah saing dengan perusahaan minyak nasional negara lain. Faktanya, saat ini Petronas sudah masuk peringkat 500 perusahaan terbaik versi Majalah <em>Fortune</em>, menempati posisi ke-97. Sementara, Pertamina tidak termasuk di dalamnya. Tentang perkembangan Pertamina, sang dirut lama dulu punya alibi, “Bisa dibayangkan, profit kami Rp 19 triliun, tapi harus disetorkan ke pemerintah sebesar Rp 11,9 triliun. Jadi, bagaimana kami bisa berkembang?”.</p>
<p>Bukan hanya kalah saing, tahun 2009 ini pun dibuka Pertamina dengan buruk. Tangki Nomor 24 Depo Pertamina Plumpang yang bermuatan 2.900 kiloliter BBM tiba-tiba meledak akibat gelas pengukur bensin atau ken bergesekan dengan slot ukur tangki. Ledakan ini menimbulkan kerugian sebesar US$ 1 miliar. Siapa yang paling bertanggung jawab? Sayangnya, pengusutan kasus ini pun belum tuntas hingga sekarang.</p>
<p>Buntutnya, entah karena masalah kebakaran Plumpang tersebut, masalah kelangkaan LPG sebelumnya, atau masalah lain, awal bulan lalu Direktur Utama Pertamina diganti. Padahal, direktur sebelumnya, Ari Soemarno, belum sampai 3 tahun menjabat. Singkat sekali masa jabatannya. Seharusnya, untuk perusahaan sekelas Pertamina, 3 tahun masa jabatan masih belum cukup. Beberapa pihak menilai ada unsur politis di balik penggantian tersebut. Apalagi penggantian itu terkesan tiba-tiba dan pada waktu yang dekat pemilu.</p>
<p>Yah.. apapun pemicunya, yang jelas, transformasi Pertamina masih belum selesai. Walaupun terhambat pergantian direksi, masih banyak tugas Pertamina ke depan. Visi jangka panjangnya pun sangat tinggi, yaitu 15 tahun ke depan Pertamina akan menjadi perusahaan minyak dan gas yang terintegrasi dan terkemuka di tingkat regional. Semoga saja acara pergantian jabatan awal bulan lalu tidak menghambat Pertamina yang ”<em>On The Move</em>”.</p>
<blockquote><p><em>Referensi: Kompas, SWA</em></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1376&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/pertamina-on-the-move/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biomass To Liquid (Kayu dan Rerumputan)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 06:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[BTL atau Biomass To Liquid adalah suatu teknologi pengolahan biomassa menjadi senyawa-senyawa turunan dari synthesis gas yang biasa digunakan sebagai bahan bakar. Dan bahan baku BTL yang akan dibahas kali ini adalah material berkayu dan rumput-rumputan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih berbicara tentang sumber energi alternatif sebagai bentuk upaya manusia menyelamatkan generasi yang akan datang dari krisis energi. BTL atau <em>Biomass To Liquid</em> adalah suatu teknologi pengolahan biomassa menjadi senyawa-senyawa turunan dari <em>synthesis gas</em> yang biasa digunakan sebagai bahan bakar.</p>
<p>Berbeda dengan GTL yang berbahan baku gas alam, pada BTL memerlukan proses yang lebih kompleks dalam penyiapan bahan baku, karena bahan baku BTL yakni biomassa harus digasifikasi terlebih dahulu kemudian gas tersebut harus dibersihkan dari komponen lain : NOx, SOx, partikel-partikel, dan lain-lain untuk memperoleh synthetis gas dengan kemurnian tinggi.</p>
<p>Bahan baku biomassa dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu pohon berkayu (<em>woody</em>) dan rumput-rumputan (<em>herbaceous</em>). Saat ini material berkayu diperkirakan merupakan 50% dari total potensial bioenergi dunia. 20% yang lain adalah jerami yang diperoleh dari hasil samping  pertanian. Spesifikasi utama dari tanaman yang dapat dijadikan bahan baku untuk memproduksi bahan bakar BTL disajikan pada tabel berikut yang dilengkapi dengan karakteristi bahan baku batu bara dan gas alam pada GTL sebagai perbandingan:</p>
<div id="attachment_1339" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-large wp-image-1339" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/tabel-btl-600x343.jpg" alt="Tabel karakteristik batu bara, gas alam, material berkayu dan material rumput-rumputan" width="600" height="343" /><p class="wp-caption-text">Tabel karakteristik batu bara, gas alam, material berkayu dan material rumput-rumputan</p></div>
<h3>Bahan Baku Berkayu</h3>
<div id="attachment_1341" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1341" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/bahan-baku-berkayu-300x150.jpg" alt="Gambar Bahan yang potensial untuk produksi BTL – dari kiri ke kanan: serpihan kayu, serbuk gergaji, kulit kayu dan pellet kayu." width="300" height="150" /><p class="wp-caption-text">Gambar Bahan yang potensial untuk produksi BTL – dari kiri ke kanan: serpihan kayu, serbuk gergaji, kulit kayu dan pellet kayu.</p></div>
<p>Batang kayu merupakan contoh aplikasi biomassa untuk energi yang pertama kali dikenal. Pembakaran kayu untuk penerangan dan penghangat telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu.</p>
<p>Bagaimanapun penggunaan batangan kayu untuk tujuan energi saat ini bersaing dengan penggunaan non-energi yang mempunyai nilai lebih seperti untuk produksi pulp, industri furnitur, dan lain-lain. Sehingga menyebabkan tingginya harga bahan baku BTL serta semakin meningkatkan konsumsi terhadap pohon. Oleh sebab itu, bahan baku berkayu yang dimaksud di sini adalah bahan berkayu hasil sisa pengolahan kertas, furnitur, dan lain lain.</p>
<p>Proses gasifikasi material berkayu biasanya tidak mungkin dilakukan secara langsung, karena berbagai alasan seperti ukuan partikel yang terlalu besar atau terlalu berlainan, kandungan air dan pengotor. Oleh karenanya biomassa berkayu memerlukan perlakuan pendahuluan dan transformasi menjadi bahan baku yang tepat untuk proses gasifikasi dan proses yang lebih lanjut. Bahan baku tersebut bisa berupa serpihan kayu, serbuk kayu atau dalam bentuk pellet.<br />
Ketika mencacah kayu yang masih baru, kandungan air dari serpihan kayu bisa sangat tinggi (45-55% berat). Tingginya kandungan air dapat menghambat proses gasifikasi, sehingga kandungan airnya harus diturunkan menjadi 5-25%. Terdapat tiga cara untuk menurunkan kandungan air dalam biomassa berkayu :</p>
<ol>
<li>Pengeringan secara alami material berkayu : pohon dibiarkan di atas tanah, kandungan air dapat turun secara alami dari 50-55% menjadi 35-45%.</li>
<li> Pengeringan alami serpihan kayu : serpihan kayu dapat disimpan di luar ruangan atau di dalam ruangan dekat reaktor gasifikasi untuk pengeringan lebih jauh. Penyimpanan di luar ruangan dapat menurunkan kadar air dari 50% hingga sekitar 30%. Namun penyimpanan di luar dapat menyebabkan berkurangnya berat kayu karena dekomposisi biologi dan  atau infeksi serangga (terutama pada spesies kayu lunak) terutama pada keadaan lembab.</li>
<li> Pengeringan buatan biomassa berkayu : secara umum pengeringan dengan cara ini harus dihindari, karena memerlukan energi dan biaya tambahan yang tinggi.</li>
</ol>
<h3>Bahan Baku Rumput-rumputan</h3>
<p>Penggunaan biomassa rumput-rumputan untuk energi masih dalam tahap pengembangan. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, energi potensial biomassa rumput-rumputan sangat menjanjikan, karena sebagian besar biomassa tersebut berasal dari material sisa pertanian seperti jerami. Pengubahan bahan baku rumput-rumputan untuk umpan gasifikasi lebih mudah dari pada menggunakan material berkayu, karena biomassa rumput-rumputan hanya memerlukan pencacahan.</p>
<h4>Tanaman Energi</h4>
<div id="attachment_1342" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1342" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/mischantus-300x129.jpg" alt="kiri : mischantus yang baru di tanam ; kanan : mischantus saat umur dua tahun." width="300" height="129" /><p class="wp-caption-text">Kiri: Mischantus yang baru di tanam; Kanan : Mischantus saat umur dua tahun.</p></div>
<p>Penanaman rumput-rumputan untuk tujuan energi merupakan suatu hal yang relatif baru. Spesies utama tanaman untuk energi adalah <em>mischantus </em>(rumput glagah), <em>red canary grass</em>, dan <em>switchgrass</em>. <em>Mischantus </em>merupakan pilihan yang menarik, karena pertumbuhannya memerlukan pupuk dan pestisida yang lebih sedikit daripada tanaman yang lain, dengan perolehannya mencapai 15 ton per hektar pada kondisi yang optimum. Kelemahan utamanya adalah sulitnya rehabilitasi lahan untuk penggunaan yang lain karena struktur akar mischantus yang sangat dalam. Perolehan yang lebih rendah di dapat dari <em>switchgrass </em>( sampai dengan 10 ton per hektar). Untuk jenis <em>red canary grass</em> perolehannya lebih rendah lagi yaitu 5-7 ton per hektar.</p>
<p>Dibandingkan tanaman jangka pendek yang lain, jenis rumput-rumputan mempunyai kadar air yang lebih rendah. Meskipun demikian, spesies rumput-rumputan menunjukkan beberapa kelemahan dibandingkan dengan biomassa berkayu. Lebih rendahnya densitas, yang dapat menaikkan biaya transportasi dan penanganan. Kandungan komponen yang tidak diinginkan (kalium, klorin, sulfur, abu), yang dapat menurunkan perolehan syngas, korosi pada peralatan, penggumpalan dan fouling. Karena beberapa alasan tersebut, biomassa rumput-rumputan biasanya tidak digasifikasikan secara langsung untuk produksi BTL, tetapi diproses dalam bentuk produk setengah jadi berupa minyak pirolisis.</p>
<h4><strong>Sisa Biomassa Tanaman Rumput-rumputan (Jerami)</strong></h4>
<p>Jerami (gambar 2.3 ) merupakan bahan rumput-rumputan utama yang dipakai untuk energi akhir-akhir ini. Sama seperti tanaman rumput-rumputan yang lain, jerami biasanya mempunyai kandungan kadar air yang lebih rendah dari pada biomassa berkayu. Sebaliknya jerami  mepunyai nilai kalor, densitas dan titik leleh abu yang lebih rendah, dan kandungan abu, klorin, kalium dan sulfur yang lebih tinggi. Kalium dan klorin dapat direduksi dengan mudah dengan membiarkan jerami di ladang, saat turun hujan sejumlah besar kalium dan klorin akan tercuci oleh air hujan. Alternatifr yang lain, jerami yang masih baru dapat langsung dicuci pada temperatur sedang (50-60 C). karena pencucian, kandungan air pada jerami akan menjadi sangat besar sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencucian.</p>
<h3><strong>Produksi Syngas dari Biomassa</strong></h3>
<p>Produksi syngas berkualitas tinggi dari biomassa, yang akan digunakan sebagai umpan untuk produksi BTL memerlukan perhatian khusus. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa produksi syngas dari biomassa masih merupakan komponen yang baru dari konsep GTL. Syngas yang diperoleh dari gas alam dan batu bara merupakan teknologi yang telah lama dikenal.</p>
<p>Gasifikasi dapat didefinisikan sebagai degradasi termal dengan keberadaan suplai agen pengoksidasi (mengandung oksigen) dari luar seperti udara, steam,oksigen. Berbagai metode gasifikasi telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar untuk tujuan pembangkit listrik. Akan tetapi, untuk produksi BTL yang efisien diperlukan  komposisi gas yang sangat berbeda. Dikarenakan pada pembangkit listrik syngas digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan di proses BTL syngas digunakan sebagai umpan untuk mendapatkan produk yang lain. Perbedaan tersebut mempunyai implikasi berkenaan dengan kemurnian dan komposisi gas.</p>
<p>Untuk produksi BTL, yang terpenting adalah banyaknya CO dan H2 (makin banyak, makin bagus). Keberadaan komponen hidrokarbon dan inert harus dihindari atau setidaknya jumlahnya serendah mungkin. Hal tersebut dapat didapatkan melalui beberapa jalan:</p>
<ul>
<li>Banyaknya komponen selain CO dan H2 dapat direduksi melalui transformasi lebih lanjut komponen tersebut menjadi CO dan H2. Bagaimanapun hal tersebut juga memerlukan energi dan biaya yang lebih besar (dua proses – gasifikasi dan transformasi). Hasilnya, efisiensi energi dari keseluruhan proses produksi syngas dan BTL juga berkurang, menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi.</li>
<li>Banyaknya berbagai macam komponen dapat diperkecil melalui dekomposisi biomassa yang lebih sempurna. Pendekatan ini sepertinya lebih sesuai ditinjau dari efisiensi energi dan biaya. Minimalisasi kandungan berbagai jenis hidrokarbon dapat diperoleh dengan menaikkan temperatur proses gasifikasi,  serta mempercepat waktu tinggal umpan di dalam reaktor. Oleh karena pendeknya waktu tinggal, ukuran partikel harus cukup kecil agar proses gasifikasi sempurna dan efisien dapat berlangsung.</li>
<li>Dalam proses gasifikasi untuk pembangkit listrik biasanya menggunakan udara sebagai pengoksidasi, karena udara merupakan pengoksidasi paling murah. Akan tetapi penggunaan udara menghasilkan nitrogen pada gas produk dalam jumlah besar. Keberadaan nitrogen dalam jumlah besar pada gas produk akan mengganggu untuk produksi BTL. Menghilangkan nitrogen melalui liquifasi di bawah temperature kriogenik memerlukan energi yang sangat besar. Di antara pilihan lain yang potensial (steam, CO2, O2), oksigen merupakan pengoksidasi yang paling sesuai untuk pabrik BTL.</li>
</ul>
<h3><strong>Gasifier untuk BTL</strong></h3>
<div id="attachment_1343" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1343" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/gas-and-char-indirect-gasifier-300x160.jpg" alt="Gas (sebelah kiri) dan char (sebelah kanan) indirect gasifier" width="300" height="160" /><p class="wp-caption-text">Gas (sebelah kiri) dan char (sebelah kanan) indirect gasifier</p></div>
<p><em>Fluidised bed gasifier</em> umumnya tidak menjumpai pembatasan skala dan lebih fleksibel mengenai ukuran partikel umpan. Meskipun demikian, gasifier tersebut masih mempunyai batas spesifikasi umpan, karena resiko adanya slagging dan fouling, aglomerasi dan korosi. Temperature operasi  fluidised bed gasifier dengan hembusan udara relative rendah (800-1000 C), yang mengakibatkan dekomposisi umpan kurang sempurna, meskipun waktu tinggalnya lama. Atmospheric atau pressurised circulating fluidised bed gasifier dengan hembusan oksigen dan gas atau char indirect gasifiers (gambar 3.3) dengan hembusan steam merupakan solusi yang lebih baik untuk produksi BTL. Kedua metode gasifikasi tersebut mereduksi jumlah nitrogen dalam gas produser secara signifikan. Pada metode pertama, hal tersebut terjadi karena penggantian udara dengan oksigen. Sedangkan pada metode kedua, nitrogen keluar pada gas cerobong (flue gas) bukan pada gas produsen, karena gasifikasi dan pembakaran dilakukan terpisah – energi untuk gasifikasi didapatkan dari pembakaran char dari gasifier pertama pada reaktor kedua.</p>
<p>Untuk mendapatkan ukuran partikel biomassa yang halus merupakan tantangan utama dari segi efisiensi energi dan biaya. Penggilingan kayu memerlukan lebih banyak energi dari pada penggilingan material lain, misalnya sekitar lima kali lebih besar dari pada penggilingan batu bara. Lebih susah lagi pencacahan biomassa rumput-rumputan menjadi partikel berukuran begitu kecil, meskipun masih mungkin dilakukan. Efisiensi energi gasifikasi lebih lanjut di reduksi dengan penghilangan gas inert (biasanya CO2) dalam jumlah besar dari gas produser. Jumlah gas inert dipengaruhi oleh densitas umpan – makin kecil densitas, makin banyak jumlah gas inert. Dengan begitu, alternative bentuk umpan biomassa (melalui <em>pre-treatment</em>) perlu dipikirkan untuk entrained flow gasifier. Pilihan pre-treatment biomassa  yang mungkin adalah <em>torrefaction</em>, <em>pyrolysis </em>dan pra-gasifikasi.</p>
<p><em>Torrefaction </em>merupakan perlakuan termal biomassa (terutama kayu) tanpa adanya oksigen selama 15-60 menit pada temperature 200-3000C dan tekanan atmosferik. Hasilnya, biomassa akan berubah menjadi produk yang mirip kokas. Tranformasi torrefaction adalah proses dengan efisiensi tinggi (konversi 85-95%). Energi yang dipakai pada torrefaction terbayar sepenuhnya dengan 8-10 kali lebih rendah konsumsi energi penggilingan kayu yang telah di torrefaction dibandingkan penggilingan kayu yang masih baru.</p>
<p>Pada <em> pyrolysis</em>, biomassa padat (terutama rumput-rumputan) diubah menjadi keadaan cairan material setengah jadi (<em>pyrolysis slurry</em>) yang kemudian diumpankan ke gasifier. Tidak seperti gasifikasi, pyrolysis merupakan degradasi termal tanpa adanya suplai pengoksidasi dari luar, Hasilnya, perolehan pyrolysis sebagian besar cairan (sampai 80% basis massa) dan beberapa tar dan char. Pyrolysis sangat cocok untuk biomassa rumput-rumputan karena pre-treatment alternatif (pencacahan) jauh lebih susah dan mahal dibandingkan kayu.</p>
<p>Gambar berikut adalah konfigurasi sistem secara menyeluruh untuk memproduksi syngas dari biomassa dengan persiapan pyrolysis untuk pemrosesan lebih lanjut menjadi bahan bakar BTL.</p>
<div id="attachment_1344" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-large wp-image-1344" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/process-of-choren-industries-gmbh-untuk-memproduksi-syngas-dari-biomassa-600x404.jpg" alt="Gambar Carbo-V® Process of Choren Industries GmbH untuk memproduksi syngas dari biomassa" width="600" height="404" /><p class="wp-caption-text">Gambar Carbo-V® Process of Choren Industries GmbH untuk memproduksi syngas dari biomassa</p></div>
<p>Setelah dipirolisis (pada <em>low-temperature gasifier/NTV</em>), gas pirolisis biomassa dan char (<em>biocoke</em>) diunpankan ke gasifier dan akan didapatkan  gas bebas tar dengan kandungan CO dan H2 tinggi. Gas yang bersih didinginkan hingga 200 C dalam heat exchanger, dengan demikian meningkatkan efisiensi energi keseluruhan proses dengan memproduksi steam kualitas tinggi. Selanjutnya gas dibersihkan dari partikel debu (di <em>deduster</em>) dan dari komponen selain CO dan H2 (di <em>washer</em>). Pada akhirnya akan didapatkan syngas yang bersih, terdiri dari CO dan H2. Pembersihan gas secara cukup menunjukkan poin penting dalam produksi syngas dan BTL. Katalis dalam sintesis BTL dapat dengan mudah teracuni oleh logam alkali, <em>halide</em>, senyawa sulfur, CO2 dan sebagainya,  meskipun dengan jumlah yang sangat kecil.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1338&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>5000 Turbin Angin untuk Rumah di UK</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/lagi-5000-7000-turbin-angin-33-gw-untuk-seluruh-rumah-di-uk/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/lagi-5000-7000-turbin-angin-33-gw-untuk-seluruh-rumah-di-uk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Feb 2009 10:14:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1305</guid>
		<description><![CDATA[DECC (Department of Energy and Climate Change) UK memutuskan untuk membangun 5000-7000 turbin angin yang akan dibangun di lepas pantai hingga akhir tahun 2020. Kumpulan turbin angin tersebut dapat membangkitkan energi sebanyak 25GW (GigaWatt).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1309" class="wp-caption alignleft" style="width: 269px"><a rel="attachment wp-att-1309" href="http://majarimagazine.com/2009/02/lagi-5000-7000-turbin-angin-33-gw-untuk-seluruh-rumah-di-uk/offshore-windfarm-majarimagazine/"><img class="size-medium wp-image-1309" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/offshore-windfarm-majarimagazine-300x225.jpg" alt="offshore-windfarm-majarimagazine" width="259" height="195" /></a><p class="wp-caption-text">Offshore Wind Turbine Farm</p></div>
<p>Turbin angin lepas pantai tersebut dapat membangkitkan energi listrik yang cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik seluruh rumah di UK akhir dekade depan, sebagaimana diumumkan oleh pemerintah UK. <a href="http://www.decc.gov.uk" target="_blank">DECC</a> (Department of Energy and Climate Change) UK memutuskan untuk membangun 5000-7000 lagi turbin angin yang akan dibangun di lepas pantai hingga akhir tahun 2020. Kumpulan turbin angin tersebut dapat membangkitkan energi sebanyak 25GW (GigaWatt), setara dengan 25 pemangkit listrik skala besar berbahan bakar batu bara. Dan pada pengerjaan selanjutnya akan dibangun 8GW lagi hingga total kapasitas menjadi 33GW.</p>
<p>Hasil riset selama bertahun-tahun tesebut jauh diatas perkiraan <a href="http://www.carbontrust.co.uk" target="_blank">Carbon Trust </a>(perusahaan yang didirikan pemerintah UK untuk menangani bisnis pengurangan emisi karbon), yang tahun lalu mengungkapkan bahwa UK mampu membangun turbin angin lepas pantai dengan kapasitas total 29GW. Proyek lepas pantai terbesar itu kini ditangani oleh perusahaan multinasional <a href="http://www.eon.com" target="_blank">E.ON</a>.</p>
<p>Emily Highmore, pembicara perusahaan tersebut mengatakan bahwa perusahaannya sudah setuju mengenai proyek ini akan tetapi tidak dapat menjamin proyek ini akan berjalan dengan lancar. &#8220;Turbin lepas pantai selalu dan akan selalu sangat mahal,&#8221; beliau mengatakan. &#8220;Kami tidak dapat mengatakan ini akan berjalan dengan lancar, tapi kami percaya proyek ini luar biasa dan sangat penting untuk membantu pemerintah mencapai target energi terbarukannya.&#8221;</p>
<p>E.ON menginginkan pemerintah UK menggandakan dukungan finansialnya untuk turbin angin lepas pantai, tambah Highmore. &#8220;Kami pikir ini (target 33GW, red) adalah sangat ambisius dan ini yanga dapat terjadi apabila kami mendapat dukungan finansial, akses jaringan dan perencanaan,&#8221; beliau kembali menambahkan.</p>
<p>Carbon Trust juga mendorong pemerintah UK untuk memungkinkan lokasi situs lepas pantai tersedia bagi pengembang dengan harga yang rendah, membantu investasi riset dan pengembangan peningkatan efisiensinya.<br />
Tom Jennings, Manager perencanaan Carbon Trust, telah menyampaikan banyak rekomendasi, akan tetapi keterangan detail masih dibutuhkan.</p>
<p>Bila proyek ini berjalan sesuai rencana, turbin angin lepas pantai dan didaratan akan dapat memotong emisi total kerbon dioksida UK mencapai 14 persen dan menciptakan lebih dari 70.000 lowongan kerja di UK, kebutuhan bahan mentah yang tinggi dan pasar internasional, dikatakan oleh pembicara Carbon Trust.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.ecoworldly.com" target="_blank">Ecowordly</a><br />
<a href="http://www.carbontrust.com" target="_blank">Carbon Trust</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1305&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/lagi-5000-7000-turbin-angin-33-gw-untuk-seluruh-rumah-di-uk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Natuna D-Alpha, Ladang CO2 yang Jadi Primadona</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/natuna-d-alpha-ladang-co2-yang-jadi-primadona/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/natuna-d-alpha-ladang-co2-yang-jadi-primadona/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 19 Feb 2009 00:57:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1352</guid>
		<description><![CDATA[Natuna D-Alpha saat ini sedang jadi rebutan. Tak heran, sebab kandungan gas yang sangat menggiurkan terkandung di sana. Sayangnya, tak mudah mengambil gas yang terkandung di Natuna D-Alpha. Alasannya, sebagian besar kolam itu berisi gas CO2. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1357" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/1172313562_d7fc2e799e_m.jpg" alt="1172313562_d7fc2e799e_m" width="240" height="180" />Natuna D-Alpha saat ini sedang jadi rebutan. Tak heran, sebab kandungan gas yang sangat menggiurkan terkandung di sana. Terletak sekitar 250 kilometer dari Kepulauan Natuna, kolam gas ini ditemukan oleh Agip, sebuah perusahaan minyak Italia, pada tahun 1973. Pada puncak produksi, volume gas kotor yang bisa disedot dari blok ini diperkirakan lebih dari total produksi gas seluruh Indonesia yang mencapai sekitar 46 triliun kaki kubik (bandingkan dengan Tangguh yang hanya 14 triliun kaki kubik).</p>
<p>Sayangnya, tak mudah mengambil gas yang terkandung di Natuna D-Alpha. Alasannya, sebagian besar kolam itu berisi gas CO2. Dari 6,28 triliun m3 volume total gas yang ada disana, 71% merupakan gas CO2. Sisanya, 28% gas alam (metana dan hidrokarbon berat), 0.5% belerang, dan 0.5% nitrogen. Jika diambil dengan metode konvensional, gas CO2 akan langsung lepas ke atmosfer. Padahal, kandungan gas CO2 di Natuna D-Alpha merupakan kumpulan CO2 terbesar di dunia. Jika gas ini terlepas ke udara, emisi CO2 tahunan Indonesia akan meningkat 50 persen. Dalam 30 tahun, total CO2 dari ladang ini dapat menaikkan konsentrasi CO2 dunia 4,3 part per million atau lebih dari satu persen.</p>
<p>Dalam proses pengelolaan Blok D-Alpha nanti, tentunya akan banyak tantangan yang harus dihadapi. Pertama, tantangan teknologi, yaitu penghilangan, pembuangan, dan penyimpanan karbon dioksida karena CO2 tidak bisa dibuang sembarangan. Selain teknologi, lokasi di laut lepas dengan kedalaman 300-400 meter membutuhkan fasilitas yang lengkap. Jika sudah terealisasi, daerah ini nantinya akan menjadi anjungan lepas pantai terbesar di dunia. Tantangan lainnya adalah investasi. Perlakuan khusus akibat timbunan CO2 dan masalah lainnya menyebabkan investasi di blok ini lebih tinggi daripada ladang gas lain. Nilai investasinya diperkirakan US$ 52 miliar, delapan kali lebih besar daripada ladang gas Tangguh di Papua. Namun, sebagai imbalannya, sekitar US$ 6.2 miliar per tahun akan disumbangkan oleh ladang gas ini, jika harga gas pada kisaran US$ 10/MMBTU dan share pemerintah 45% di luar cost recovery dan insentif.</p>
<p>Pemerintah sebelumnya menunjuk ExxonMobil sebagai pengelola utama. Dalam kontrak lama, Exxon menguasai 76 persen saham dan Pertamina 24 persen. Namun, sejak tahun 2005, perjanjian itu telah putus. Blok Natuna secara resmi diserahkan pemerintah ke Pertamina pada 19 Februari 2008. Penunjukan Pertamina itu mengakhiri ketidakpastian selama tiga tahun tentang siapa pengelola blok di Kepulauan Natuna tersebut. Akhirnya, WoodMcKenzie, sebuah perusahaan konsultan, diminta Pertamina mencari pasangan untuk menggarap Natuna Blok D-Alpha pada Juli 2008 lalu. Hingga saat ini, proses seleksi calon mitra Pertamina di Natuna masih berlangsung. Dari seleksi tahap pertama, ada delapan perusahaan yang dinilai layak, yakni ExxonMobil, Shell, Chevron, Total, Statoil, Eni, CNPC, dan Petronas. Selain itu, Pertamina telah menyatakan hanya akan mengambil maksimal 40 persen porsi kepemilikan di Blok Natuna D-Alpha.</p>
<blockquote><p>Referensi: <a href="http://majalah.tempointeraktif.com/">http://majalah.tempointeraktif.com/</a>, <a href="http://www.kompas.com/">http://www.kompas.com/</a><br />
Gambar: <a href="http://www.flickr.com/photos/paulkeithphoto/1172313562/">http://www.flickr.com/photos/paulkeithphoto/1172313562/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1352&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/natuna-d-alpha-ladang-co2-yang-jadi-primadona/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semen Penyerap CO2 Oleh British Engineer</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/penemuan-semen-penyerap-co2-oleh-british-engineer/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/penemuan-semen-penyerap-co2-oleh-british-engineer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 05:04:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[catalyst]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[press release]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1293</guid>
		<description><![CDATA[Penemuan ini dapat menjadi salah satu cara untuk gas rumah kaca dari atmosfer kita. Sekarang, semen merupakan komoditas yang terbilang sangat besar, mencapai 2 milyar ton diproduksi tiap tahunnya diseluruh dunia, dan semen bertanggung jawab 5 persen dari emisi CO2 dunia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1302" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/semen-majarimagazine-300x201.jpg" alt="semen-majarimagazine" width="203" height="136" />Penemuan ini dapat menjadi salah satu cara untuk gas rumah kaca dari atmosfer kita. Sekarang, semen merupakan komoditas yang terbilang sangat besar, mencapai 2 milyar ton diproduksi tiap tahunnya diseluruh dunia, dan semen bertanggung jawab 5 persen dari emisi CO2 dunia. Hal yang sangat mengejutkan, pada tahun 2020 kebutuhan semen akan naik 50 persen dibanding tahun ini menurut <em>Agricole</em> sebuah Bank dari Prancis.</p>
<p>Pada proses pembuatan semen secara tradisional, semen menghasilkan gas rumah kaca dari proses pemanasannya dan proses memasak bahan baku seperti <em>limestone</em> (batu kapur). Pembakaran dan kebutuhan energi tersebut menghasilkan CO2. Dan sampai sekarang, belum ada orang yang mampu merubah fundamental pembuatan semen tersebut, hingga <em>Nikolaos Vlasopoulos</em> mengungkapkan hasil penelitiannya.</p>
<p>&#8220;Formula baru yang ramah lingkungan ini dapat merubah industri semen menjadi penyerap karbon yang baik,&#8221; kata kepala peneliti <em>Novacem</em> yang berbasis di London. Penelitian yang mendapat dukungan dari para pecinta lingkungan ini, menggunakan material berbeda untuk bahan dasar pembuatan semen. Novacem yang didirikan oleh Vlasopoulos dan rekan-rekannya di <a href="http://www3.imperial.ac.uk">Imperial College London</a> telah menarik perhatian perusahaan konstruksi besar seperti <a href="http://www.riotintominerals.com" target="_blank">Rio Tinto Minerals</a>, <a href="http://www.wspgroup.com" target="_blank">WSP Group</a> dan <a href="http://www.laingorourke.com" target="_blank">Laing O’Rourke</a>, dan banyak investor termasuk <a href="http://www.carbontrust.co.uk" target="_blank">Carbon Trust</a>.</p>
<p>Semen <em>Novacem</em> tersebut berbasis magnesium silikat dan tidak membutuhkan energi yang besar pada pemanasannya. Semen tersebut juga akan menyerap CO2 pada saat ia mengeras. Perusahaan ini pemulai Pilot Plant senilai £1.5m didanai oleh <a href="http://www.innovateuk.org" target="_blank">Technology Strategy Board</a>, sebuah badan milik pemerintah UK. Bila sema berjalan lancar, Vlasopoulos memperkirakan produk <em>Novacem</em> akan ada di pasaran dalam lima tahun lagi. &#8220;Di UK perubahan iklim ini memaksa kita untuk mengurangi emisi CO2 dan seluruh sektor harus berperan didalamnya. Industri konstruksi harus bertanggung jawat penuh atas pengaruh lingkungan yang disebabkan oleh industri itu sendiri.&#8221; dikatakan oleh Jonathan Essex, seorang civil engineer konsultan <a href="http://www.bioregional.com" target="_blank">Bioregional</a> yang juga duduk dalam panel kepedulian lingkungan untuk Institusi Civil Engineers. Bila Novacem dapat membuat semen mereka dengan harga yang kompetitif,m langkah selanjutnya adalah menggunakan energi terbarukan untuk tungku pemanas agar dapat mengurangi lagi emisi CO2-nya.</p>
<p>Menurut <em>Novacem</em>, peroduknya dapat menyerap sekitar 0,6 ton CO2 setiap ton semen. Dapat dibandingkan dengan emisi karbon 0,4 ton setiap pembuatan semen standar. Sebelumnya telah ada beberapa usaha untuk membuat semen yang lebih ramah lingkungan, ada yang menggunakan tambahan aggregate pada campuran konsentratnya sehingga menggunakan semen yang lebih sedikit, akan tetapi belum mampu mengatasi permasalahan utama emisi CO2 proses pembuatan semennya. Usaha lainnya adalah dengan membuat campuran polimer tapi tetap tidak berpengaruh besar pada pasar.</p>
<p>Pembicara dari Asosiasi Semen British mengungkapkan keraguannya pada berbagai penelitian laboratorium untuk semen-semen jenis baru dan permasalahannya. &#8220;Realitanya terdapat ketersedian geologis dan distribusi globan dari sumber daya alam yang sesuai, disandingkan dengan besarnya validasi yang dibutuhkan untuk memastikan kesesuaian tujuan, membuat semen-semen tersebut sangat tidak sesuai sebagai alternatif yang realistis bahan bangunan.&#8221;</p>
<p>Vlasopoulos merespon bahwa magnesium silikat banyak sekali terdapat di seluruh dunia, sekitar 10.000 milyar ton tersedia menurut beberapa perkiraan. &#8220;Sebagai tambahan, proses produksi semen ini adalah alamiah secara kimia, artinya semen ini dapat menggunakan berbagai produk samping industri yang terdapat magnesium didalamnya.&#8221; Ia percaya bahwa material ini cukup kuat untuk digunakan sebagai bahan bangunan, tetapi ia mengakui bahwa untuk mendapatkan lisensi kebenarah hal itu membutuhkan waktu beberapa tahun percobaan.</p>
<h3>Perbandingan: Semen Ecofriendly dengan Tradisional</h3>
<p>Semen standar, biasa diketahui dengan Portland cement, dibuat dengan cara memanaskan batu kapur (limestone) atau tanah liat (clay) pada temperatur sekitar 1.500 C. Dari proses ini, pembakaran bahan baku tersebut melepaskan 0,8 ton CO2 setiap ton semen yang diproduksi. Ketika dicampur dengan air untuk digunakan sebagai bahan bangunan, setiap ton semen dapat menyerap 0,4 ton CO2, tapi tetap saja keseluruhan proses menyisakan emisi karbon 0,4 ton setiap ton semen.</p>
<p>Semen Novacem, yang masih belum dipatenkan, menggunakan magnesium silikat sehingga tidak menghasilkan CO2 dari proses pembuatannya. Proses produksinya juga berjalan pada temperatur yang lebih rendah yakni 650 C. Hasil akhir menunjukkan bahwa semen Novacem menghasilkan emisi CO2 sebesar 0,5 ton setiap ton semen. Akan tetapi, dengan formula Novacem ini, semen mampu menyerap CO2 lebih banyak, sekitar 1,1 ton. Sehingga proses keseluruhannya adalah carbon negative, mampu menyerap 0,6 ton CO2 dari udara setiap ton semen yang digunakan.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.guardian.co.uk/environment/network" target="_blank">Guardian Enviromental Network</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1293&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/penemuan-semen-penyerap-co2-oleh-british-engineer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
