<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; chemistry</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/chemistry/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Aug 2010 04:50:21 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>A Look at Common Industrial Chemicals</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/a-look-at-common-industrial-chemicals/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/a-look-at-common-industrial-chemicals/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 26 Jun 2009 10:47:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1885</guid>
		<description><![CDATA[Gambaran umum beberapa bahan kimia yang sering digunakan di industri beserta fungsinya: asam sulfat, nitrogen, oksigen, etilen, ammonia, asam fospat, sodium hidroksida, klorin, sodium carbonat, dan nitrobenzene.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><img class="alignleft size-full wp-image-1972" title="chemicals" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/chemicals.jpg" alt="chemicals" width="230" height="230" />Asam Sulfat</strong> (H2SO4) &#8211; Senyawa yang biasa digunakan dalam leaching dan scrubbing dan penetralisir substansi alkali. Mungkin senyawa ini merupakan senyawa asam yang paling lumrah digunakan di berbagai industri.</p>
<p><strong>Nitrogen </strong>(N2) &#8211; Merupakan senyawa inert yang paling sering ditemukan di berbagai industri. Digunakan untuk berbagai macam kebutuhan mulai dari pelapis tangki (untuk mencegah kontak oksigen dengan bahan campuran mudah terbakar) sampai pengontrol temperatur pada reaksi eksotermik. Nitrogen juga digunakan sebagai kontainer solid pembawa gas ketika kondisi bahan kimia yang rentan terhadap udara.</p>
<p><strong>Oksigen</strong> (O2) &#8211; The ultimate oxydizer. Digunakan dalam berbagai aplikasi oksidasi, pembakaran, peleburan logam, hingga pembuatan senyawa sintetis. Oksigen dalam bentuk cair digunakan dengan baik dalam hulu ledak di berbagai peluru kendali.</p>
<p><strong>Etilen</strong> (C2H4) &#8211; Senyawa yang paling populer dalam industri pembuatan polimer. Etilen juga digunakan untuk mematangkan dan zat pewarna dalam buah.</p>
<p><strong>Ammonia</strong> (NH3) &#8211; Pelarut yang sering digunakan sebagai scrubber berbagai zat pengotor dalam aliran pembuangan bahan bakar minyak bumi sebelum dilepaskan ke atmosfer. Ammonia juga digunakan sebagai bahan pendingin.</p>
<p><strong>Asam Phospat </strong>(H3PO4) &#8211; Kegunaan senyawa ini yang paling utama ada dalam industri pembuatan pupuk. Kegunaan lainnya, biasa digunakan pada pembuatan minuman ringan dan berbagai produk makanan.</p>
<p><strong>Sodium Hidroksida</strong> (NaOH) &#8211; Substansi alkali yang paling terkenal di industri. Digunakan dalam berbagai macam industri pembuatan pewarna dan sabun. Senyawa ini dapat digunakan sebagai bahan pembersih yang baik dan penetralisir asam. Senyawa ini juga dikenal dengan nama lye.</p>
<p><strong>Propilen</strong> (C3H6) &#8211;  Salah satu pelopor industri polimer.</p>
<p><strong>Klorin</strong> (Cl2) &#8211; Digunakan dalam pembuatan bleaching agent dan titanium dioksida. Akan tetapi akhir-akhir ini penggunaan klorin mulai dibatasi dalam industri pembuatan bleaching agent.</p>
<p><strong>Sodium Carbonat</strong> (Na2CO3) &#8211; Biasa dikenal dengan nama soda abu, senyawa ini digunakan dalam berbagai senyawa pembersih, pembuatan sabun, pembuatan gelas, pembuatan pulp,  dan sebagai water softener dalam industri perminyakan.</p>
<p><strong>Nitrobenzene</strong> (C6H5NO2) &#8211; Secara umum digunakan dalam pembuatan aniline dan zat aditif pada karet sebagai anti-oksidant (mencagah oksidasi).</p>
<p><strong>Aluminum Sulfat </strong>(Al2(SO4)3) &#8211; Digunakan pada industri pembuatan kertas dan pada penanganan limbah cair sebagai pH buffer.</p>
<p><strong>Methyl tert-Butyl ether</strong> (MTBE) &#8211; Senyawa yang terkenal dalam perannya sebagai aditif bensin (oxygenate &#8211; gasoline additive). Akan tetapi karena efeknya yang beracun, penggunaan MTBE mulai dikurangi dan digantikan dengan ethanol.</p>
<p><strong>Asam Nitrat</strong> (HNO3) &#8211; Dikenal dengan nama air keras, senyawa ini digunakan dalam berbagai pembentukan senyawa sintetis, pembantukan senyawa-senyawa grup nitro, pembuatan zat pewarna dan berbagai bahan peledak.</p>
<p><strong>Benzene</strong> (C6H6) &#8211; Dahulu dukenal dengan nama benzol, dua kegunaan terbesar dari senyawa ini adalah sebagai reaktan untuk memproduksi etilbenzene (digunakan untuk membuat styrene) dan cumene (digunakan untuk membuat phenol).</p>
<p><strong>Formaldehid</strong> (HCHO) &#8211; Formalin yang kita kenal merupakan larutan 40 persen Formaldehid dan 60 persen air atau air dan metil alkohol. Formalin digunakan untuk berbagai aplikasi desinfektan, insektisida, fungisida dan deodoran. Belakangan ini ditemukan fakta bahwa formalin bersifat karsinogen.</p>
<p><strong>Asam Klorida</strong> (HCl) &#8211; Senyawa ini diproduksi dalam berbagai industri sebagai produk samping reaksi klorin dengan hidrokarbon. Digunakan dalam jumlah besar untuk menyiapkan klorida, membersihkan logam dan beberapa proses industri lainnya.</p>
<p style="padding-left: 30px;">Sumber:<br />
- <a href="http://www.cheresources.com" target="_blank">Cheresources.com</a><br />
- <a href="http://en.wikipedia.org" target="_blank">Wikipedia.org</a><br />
- Microsoft Student Encarta 2009</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1885&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/a-look-at-common-industrial-chemicals/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengisian dan Penyegelan Susu</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/pengisian-dan-penyegelan-susu/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/pengisian-dan-penyegelan-susu/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 08:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[business]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>
		<category><![CDATA[tetrapack]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1605</guid>
		<description><![CDATA[Pengisian dan penyegelan makanan susu tergantung dengan cara pengolahannya. Ada tiga cara pengolahan yang umum dilakukan pada susu, yaitu pasteurisasi, sterilisasi, dan UHT-aseptik. Packaging pada susu dibagi menjadi dua jenis, yaitu returnable container dan single-service container.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1606" class="wp-caption alignleft" style="width: 262px"><img class="size-medium wp-image-1606" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/tnuva_milk_through_the_ages1-252x300.jpg" alt="Jenis-jenis kemasan susu" width="252" height="300" /><p class="wp-caption-text">Jenis-jenis kemasan susu</p></div>
<p>Pengisian dan penyegelan makanan susu tergantung dengan cara pengolahannya. Ada tiga cara pengolahan yang umum dilakukan pada susu, yaitu pasteurisasi, sterilisasi, dan <em>Ultra High Temperature </em>(UHT)-aseptik. Kualitas dari susu pasteurisasi tergantung kepada kondisi aseptik dari mesin pengemas. <em>Packaging</em> pada susu dibagi menjadi dua jenis, yaitu <em>returnable container</em> dan <em>single service container</em>.</p>
<h3><em><strong>Returnable Container</strong></em></h3>
<p><em> </em>Cara ini biasa digunakan bagi susu pasteurisasi dan sterilisasi karena susu yang diolah dengan cara ini hanya tahan disimpan untuk beberapa hari saja. Pasteurisasi biasanya hanya tahan untuk 7-16 hari sedangkan sterilisasi dapat tahan sampai dengan 3 minggu. Susu pasteurisasi dapat menggunakan botol dan kaleng, sedangkan susu sterilisasi hanya menggunakan botol.</p>
<p>Dasar sistem menggunakan <em>returnable container </em>adalah pengumpulan kontainer kosong dan pencucian sebelum mengisi ulang. Penyimpanan kontainer yang belum dicuci biasanya penting dan dapat diperpanjang semalam sehingga pencucian dan pengisian operasi berikutnya dapat dimulai di pagi hari sebelum pasokan kontainer kosong yang belum dicuci lainnya tiba. Setelah dicuci, container berbentuk kaleng dapat disimpan karena memiliki tutup sedangkan botol tidak karena botol-botol ini tidak memiliki tutup sehingga dapat terkontaminasi oleh udara. Biasanya, penyimpanan dilakukan setelah kaleng-kaleng dan botol-botol tersebut diisi sehingga distribusi dapat dilakukan dengan lebih fleksibel.</p>
<p><em>Volumetric fillers </em>lazim digunakan dalam pengisian bahan makanan yang berbentuk cairan, termasuk susu. Pengisian dapat dilakukan dengan pengaturan <em>in-line </em>maupun <em>carousel </em>(atau rotasi). <em>Filler </em>harus dapat mengisi <em>container </em>dengan akurat tanpa <em>spoilage </em>dan tanpa kontaminasi dari proses penyegelan.</p>
<p>Kontainer dengan segel tidak diisi sepenuhnya. Ruang kosong pada bagian atas kontainer diperlukan untuk memciptakan kondisi vakum parsial. Kondisi ini mereduksi perubahan tekanan di dalam kontainer selama proses dan mereduksi reaksi oksidatif produk selama penyimpanan. Botol dan kaleng seharusnya memiliki ruang kosong sekitar 6-10% dari keseluruhan volume kontainer pada temperatur normal penyegelan.</p>
<p>Susu yang diisi biasanya masih berupa susu dengan pemrosesan yang minim. Pasteurisasi maupun sterilisasi susu biasanya dilakukan setelah kontainer diisi dan disegel untuk menghindari kontaminasi yang mungkin terjadi. Penyegelan pada botol susu biasanya memakai segel normal, seperti tutup dari <em>alumunium foil</em> atau <em>cork stopper</em> dari tembaga atau alumunium. Sedangkan tutup pada kaleng susu biasanya disegel dengan <em>double seam. </em></p>
<p>Botol dengan leher lebar (36-40 mm), cocok untuk disegel dengan tutup <em>alumunium foil</em> adalah sistem yang paling  sering digunakan untuk pengemasan susu pasteurisasi dalam <em>returnable container</em>. Sedangkan botol yang digunakan untuk susu sterilisasi mempunyai leher yang lebih ramping (26 mm) sehingga segel yang efektif dapat dibuat. <em>Prefabricated crown seal </em>digunakan untuk menyegel botol-botol ini.</p>
<div id="attachment_1607" class="wp-caption alignright" style="width: 270px"><img class="size-full wp-image-1607" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/milk-bottle.jpg" alt="Botol gelas sebagai selah satu jenis returnable container" width="260" height="259" /><p class="wp-caption-text">Botol gelas sebagai selah satu jenis returnable container</p></div>
<p>Saat susu dalam botol dipanaskan dan memuai selama pemanasan lebih dari botol, udara di atas susu terkompresasi dan tekanan di dalam botol melebihi tekanan di luar. Kontraksi susu saat didinginkan dibawah temperatur pengisian menyebabkan terbentuknya ruang vakum di atas susu. Ruang vakum ini dapat menyebabkan kontaminasi melalui segel di antara botol dan tutupnya. Oleh karena itu, sangat penting bagi segel untuk benar-benar rapat.</p>
<p>Kaleng susu dari alumunium biasanya memiliki tutup yang tidak memerlukan gasket karet, penyegelan cukup dilakukan dengan <em>sunken grip </em>ataupun <em>mushroom lids. </em>Oleh karena masalah pencucian mekanik, tutup yang dirantai pada kaleng tidak lagi digunakan.</p>
<h3><strong><em>Single Service Container</em></strong></h3>
<p>Seluruh produk yang dikemas dalam <em>single service container </em>dapat langsung dibuang setelah cairan di dalamnya selesai dikonsumsi. Dua tipe dasar dari kontainer ini terbuat dari karton dan <em>sachet </em>plastik (kantong). Bahan dasar yang lazim digunakan adalah polietilen (PE), baik yang berdensitas rendah maupun tinggi.</p>
<p>Pada susu pasteurisasi, karton dibuat secara kontinyu dari <em>plastic coated paper</em> yang dibentuk menjadi sebuah <em>tube</em>. <em>Tube </em>diisi secara kontinyu dengan susu yang telah dipasteurisasi. Segel treansvers dibuat pada sudut yang tepat di atas ketinggian susu sehingga tidak ada ruang kosong dan bentuk kemasan menjadi tetrahedron.</p>
<p>Pada susu UHT (<em>Ultra High Temperature</em>), karton diproduksi secara kontinyu dari <em>plastic coated paper</em> yang telah disterilisasi secara kimia dan termal sebelum dibentuk menjadi <em>tube. Tube </em>diisi secara kontinyu oleh susu hasil UHT, kemudian disegel di atas level cairan dan dibentuk menjadi bentuk rektangular.</p>
<div id="attachment_1608" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1608" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/karton-susu-300x199.jpg" alt="Karton susu sebagai salah satu jenis single-service ontainer" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Karton susu sebagai salah satu jenis single-service ontainer</p></div>
<p>Pada susu pasteurisasi dalam sachet, <em>sachet </em>dibuat secara kontinyu dari film polietilen dengan ketebalan 70-90 mikrometer. Mesin membentuk film menjadi silinder dengan penyegelan panas vertikal, kemudian menjadi kantong dengan segel horizontal pada bagian bawah. Setelah itu kantong diisi dengan susu pasteurisasi dari <em>small balance tank. </em>Sebuah keran dengan kontroler waktu digunakan untuk mengisi tube dengan jumlah susu yang sama. Penyegel transvers dibuat di atas level susu. Setelah pengisian dan penyegelan bagian atas kantong, dilakukan pemotongan untuk menghasilkan satu <em>sachet </em>susu.</p>
<p>Untuk kemasan 10-20 liter susu, kemasan yang dipakai adalah kemasan yang mudah untuk dibuang, khusus dibuat untuk penggunaan bersama. Kemasan ini memiliki segel berupa <em>screw cap</em>.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1605&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/pengisian-dan-penyegelan-susu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gas Rumah Kaca Dalam Pembuatan Microchip</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Apr 2009 03:45:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[nanotechnology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1564</guid>
		<description><![CDATA[Senyawa kimia yang diproduksi 8.000 ton per tahun untuk membuat monitor layar datar, televisi dan mikrochip ternyata memiliki kemampuan 17.000 kali lebih parah menyebabkan global warming dibandingkan dengan karbon dioksida. Senyawa ini juga disebut sebagai "missing greenhouse gas". Senyawa apakah itu?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1589" title="microcip" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/microcip-300x229.jpg" alt="microcip" width="300" height="229" />Sebuah senyawa kimia yang marak digunakan untuk membuat monitor layar datar, televisi dan mikrochip ternyata memiliki kemampuan 17.000 kali lebih parah menyebabkan global warming dibandingkan dengan karbon dioksida. Tim peneliti &#8220;atmospheric chemist&#8221; dari Universitas California-Irvne telah menemukan bahaya zat kimia ini dan mempublikasikannya pada jurnal Geophysical Research Letters.</p>
<p>Zat kimia yang dikenal dengan nama nitrogen trifluoride (NF3) dahulu kala hanya digunakan dalam pembuatan microchip, dengan kuantitas yang kecil dan tidak berbahaya. Akan tetapi pada tahun ini, NF3 dibuat  besar-besaran karena dan digunakan pada indutri pembuatan LCD (Liquid Crystal Displays) pada telvisi layar datar dan monitor komputer. Diperkirakan, pada tahun 2010 produksi NF3 mencapai 8.000 ton per tahun, efek pemanasan global yang ditimbulkan dari NF3 sebanyak itu setara dengan 130 juta meter kubik CO2.</p>
<p>&#8220;Seiring dengan permintaan akan monitor layar datar, pasar NH3 akan semakin membesar,&#8221; tulis Michael J. Prathrt dan Juno Hsu, peneliti yang menyebut NH3 sebagai &#8220;missing greenhouse gas&#8221;.</p>
<p>NF3 pada mulanya diperkenalkan dalam pembuatan microchip sebagai bagian dari gerakan penanggulangan pemanasan global. Pada tahun 1997, pembuatan microchip masih menggunakan Perflorocarbons (PFCs) kemudian penggunaan PFCs dilarang setelah draft perjanjian internasional Protocol Kyoto ditandatangani. Perjajian tersebut berisi kesepakatan internasional untuk mengurangi produksi 6 gas penyebab utama pemanasan global yakni Carbon dioxide, Methane, PFCs, Nitrous oxide, Hydrofluorocarbons dan Sulfur hexafluoride. Karena pada masa itu produksi NF3 masih dalam kuantitas kecil, NF3 dianggap tidak terlalu penting untuk dituliskan didalam Protocol Kyoto.</p>
<p>Setelah keluar larangan penggunaan PFCs, industri pembuatan semikonduktor memutuskan untuk menggunakan NF3 sebagai pengganti PFCs walaupun telah diketahui bahwa NF3 memberikan efek pemanasan global yang jauh lebih berbahaya. Akan tetapi berita baik yang mereka kemukakan adalah apabila pada masa pembuatan PFCs dua pertiganya lepas ke atmosfer sebagai gas rumah kaca sedangkan pada pembuatan NF3 hanya 2 persen saja dari proses pembuatannya gas tersebut terlepas ke atmosfer.</p>
<p>Peneliti lain menambahkan, walaupun dalam proses pembuatan hanya sebagian kecil saja NF3 yang terlepas, masih ada kemungkinan lain NF3 terbebas ke udara misalnya pada proses trasportasi, penggunaan atau pembuangan. &#8220;Kita tidak tahu apakah 1 persen atau 20 persen gas NF3 yang terbebas keudara, tapi sekali kita melepaskannya, kita tidak akan pernah bisa mengurungnya kembali.&#8221;</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.latimes.com">LA times</a><br />
<a href="http://www.naturalnews.com">Natural News</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1564&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/gas-rumah-kaca-dalam-pembuatan-microchip/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembuatan Keramik Industri</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Mar 2009 02:06:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1436</guid>
		<description><![CDATA[Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate. Material untuk membuat keramik biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-thumbnail wp-image-1437" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-pembuatan-keramik-industri-150x150.jpg" alt="majarimagazine-pembuatan-keramik-industri" width="150" height="150" />Keramik industri dibuat dari bubuk yang telah diberi tekanan sedemikian rupa kemudian dipanaskan pada temperatur tinggi. Keramik tradisional seperti <em>porcelain</em>, ubin (keramik lantai) dan tembikar dibuat dari bubuk yang terdiri dari berbagai material seperti tanah liat (lempung), talc, silika dan faldspar. Akan tetapi, sebagian besar keramik industri dibentuk dari bubuk kimia khusus seperti silikon karbida, alumina dan barium titanate.</p>
<p>Material yang digunakan untuk membuat keramik ini biasanya digali dari perut bumi dan dihancurkan hingga menjadi bubuk. Produsen seringkali memurnikan bubuk ini dengan mencampurkannya dengan suatu larutan hingga terbantuk endapan pengotor. Kemudian endapan tadi disaring dan bubuk material keramik dipanaskan untuk menghilangkan impuritis dan air. Hasilnya, bubuk dengan tingkat kemurnian tinggi dan berukuran sekitar 1 mikrometer (0.0001 centimeter).</p>
<h3>A. Pembentukan</h3>
<p>Setelah pemurnian, sedikit wax (lilin) biasanya ditambahkan untuk meekatkan bubuk keramik dan menjadikannya mudah dibentuk. Plastik juga dapat ditambahkan untuk mendapatkan kelenturan dan kekerasan tertentu. Bubuk tersebut dapat menjadi bentuk yang berbeda-beda dengan beragam proses pembentukan (molding). Proses pembentukan ini diantaranya adalah slip casting, pressure casting, injection molding, dan extruction.  Setelah dibentuk, keramik kemudian dipanaskan dengan proses yang dikenal dengan nama densifikasi (densification) agar material yang terbantuk lebih kuat dan padat.</p>
<ol>
<li><strong>Slip Casting</strong>. Slip Casting adalah proses untuk membuat keramik yang berlubang. Proses ini menggunakan cetakan dengan dinding  yang berlubang-lunagng kecil dan memanfaatkan daya kapilaritas air.</li>
<li><strong>Pressure Casting</strong>. Pada proses ini, bubuk keramik dituangkan pada cetakan dan diberi tekanan. Tekanan tersebut membuat bubuk keramik menjadi lapisan solid keramik yang berbentuk seperti cetakan.</li>
<li><strong>Injection Molding</strong>. Proses ini digunakan untuk membuat objek yang kecil dan rumit. Metode ini menggunaan piston untuk menekan bubuk keramik melalui pipa panas masuk ke cetakan. Pada cetakan tersebut, bubuk keramik didinginkan dan mengeras sesuai dengan bentuk cetakan. Ketika objek tersebut telah mengeras, cetakan dibuka dan bagian keramik dipisahkan.</li>
<li><strong>Extrusion</strong>. Extrusion adalah proses kontinu yang manama bubuk keramik dipanaskan didalam sebuah tong yang panjang. Terdapat baling-baling yang memutar dan mendorong material panas tersebut kedalam cetakan. Karena prosesnya yang kontinu, setelah terbentuk dan didinginkan, keramik dipotong pada panjang tertentu. Proses ini digunakan untuk membuat pipa keramik, ubin dan bata modern.</li>
</ol>
<h3>B. Densifikasi</h3>
<p>Proses densifikasi menggunakan panas yang tinggi untuk menjadikan sebuah keramik menjadi produk yang keras dan padat. Setelah dibentuk, keramik dipanaskan pada tungku (furnace) dengan temperatur antara 1000 sampai 1700 C. Pada proses pemanasan, partikel-partikel bubuk menyatu dan memadat. Proses pemadatan ini menyebabkan objek keramik menyusut hingga 20 persen dari ukuran aslinya. Tujuan dari proses pemanasan ini adalah untuk memaksimalkan kekerasan keramik dengan mendapatkan struktur internal yang tersusun rapih dan sangat padat.</p>
<h3>Kegunaan Keramik Industri</h3>
<p>Keramik dinilai dari propertinya. Kegunaan keramik beragam disesuaikan dengan kemampuan dan daya tahannya. Keramik dengan properti elektrik dan magnetik dapat digunakan sebagai insulator, semikoncuktor, konduktor dan magnet. Keramik dengan properti yang berbeda dapat digunakan pada aerospace, biomedis, konstruksi bangunan, dan industri nuklir.<br />
Beberapa contoh penggunaan keramik industri:</p>
<ul>
<li>Peralatan yang dibuat dari alumina dan silikon nitrida dapat digunakan sebagai pemotong, pembentuk dan penghancur logam.</li>
<li>Keramik tipe zirconias, silikon nitrida maupun karbida dapat digunakan untuk saluran pada rotorturbocharger diesel temperatur tinggi dan Gas-Turbine Engine.</li>
<li>Keramik sebagai insulator adalah aluminum oksida (AlO3). Keramik sebagai semikonduktor adalah barium titanate (BaTiO3) dan strontium titanate (SrTiO3). Sebagai superkonduktor adalah senyawa berbasis tembaga oksida.</li>
<li>Keramik dengan campuran semen dan logam digunakan untuk pelapis pelindung panas pada pesawat ulang-alik dan satelit.</li>
<li>Keramik Biomedical jenis porous alumina digunakan sebagai implants pada tubuh manusia. Porous alumina dapat berikatan dengan tulang dan jaringan tubuh.</li>
<li>Butiran uranium termasuk keramik yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga nuklir. Butiran ini dibentuk dari gas uranium hexafluorida (UF6).</li>
<li>Keramik berbasis feldspar dan tanah liat digunakan pada industri bahan bangunan.</li>
<li>Keramik juga digunakan sebagai coating (pelapis) untuk mencagah korosi. Keramik yang digunakan adalah jenis enamel. Peralatan rumah tangga yang menggunakan pelapisan enamel ini diantaranya adalah kulkas, kompor gas, mesin cuci, mesin pengering.</li>
</ul>
<blockquote><p>Sumber :<br />
<em>Ceramics</em>. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.<br />
<a href="http://www.ceramicindustry.com">http://www.ceramicindustry.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1436&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/pembuatan-keramik-industri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ceramics, The Art of Industry</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Mar 2009 01:53:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1431</guid>
		<description><![CDATA[Definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1433" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1433" href="http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/majarimagazine-superconductor-ceramics/"><img class="size-thumbnail wp-image-1433" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/majarimagazine-superconductor-ceramics-150x150.jpg" alt="Super Conductor Ceramics" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Super Conductor Ceramics</p></div>
<p>Keramik (English <em>ceramics</em>, Greek <em>keramos</em>, &#8216;potter clay&#8217;), asal katanya berasal dari seni pembuatan  tembikar, peralatan dari tanah liat. Sekarang, definisi keramik secara ilmiah adalah benda-benda yang dibuat dari bahan lunak dari alam yang dijadikan keras dengan cara pemanasan. Material keramik adalah non logam, senyawa inorganik, biasanya senyawa ikatan oksigen, karbon, nitrogen, boron dan silikon. Keramik pada industri tidak bisa dibayangkan sebagai benda-benda seni. Beberapa contoh keramik industri adalah pipa selokan, insulator listrik, bata tahan panas dan lainnya.</p>
<p>Keramik sebagai insulator listrik misalnya, memiliki berbagai sifat kelistrikan. Hasil penemuan beru-baru ini, jenis keramik yang berupa campuran tembaga oksida dapat membuat keramik tersebut menjadi superkonduktor (penghantar listrik tanpa hambatan pada temperatur yang tinggi). Keramik juga digunakan sebagai komponen pembuat kapal ulang-alik luar angkasa.</p>
<h3>Properti Keramik</h3>
<p>Keramik memiliki properti kimia, mekanik, fisika, panas, elektrik, dan magnetik yang membedakan mereka dari material lain seperti logam dan plastik. Industri keramik merubah properti keramik dengan cara mengontrol jenis dan jumlah material yang digunakan untuk pembuatan.</p>
<h4>A. Properti Kimia</h4>
<p>Keramik industri sebagian besar adalah oksida (senyawa ikatan oksigen), akan tetapi ada juga senyawa carbida (senyawa ikatan karbon dan logam berat), nitrida (senyawa ikatan nitrogen), borida (senyawa ikatan boron) dan silida (senyawa ikatan silikon). Sebagai contoh, pembuatan keramik alumina menggunakan 85 sampai 99 persen aluminum oksida sebagai bahan utama dan dikombinasikan dengan berbagai senyawa kompleks secara kimia. Beberapa contoh senyawa kompleks adalah barium titanate (BaTiO3) dan zinc ferrite (ZnFe2O4). Material lain yang dapat disebut juga sebagai jenis keramik adalah berlian dan graphite dari karbon.</p>
<p>Keramik lebih resisten terhadap korosi dibanding plastik dan logam. Keramik biasanya tidak bereaksi dengan sebagian besar cairan, gas, aklali dan asam. Jenis-jenis keramik memiliki titik leleh yang tinggi dan beberapa diantaranya masih dapat digunakan pada temperatur mendekati titik lelehnya. Keramik juga stabil dalam waktu yang lama.</p>
<h4>B. Properti Mekanik</h4>
<p>Ikatan keramik dapat dibilang sangat kuat, dapat kita lihat dari kekakuan ikatan dengan mengukur kemampuan keramik menahan tekanan dan kelengkungan. Bend Strength atau jumlah tekanan yang diperlukan untuk melengkungkan benda biasanya digunakan untuk menentukan kekuatan keramik. Salah satu keramik yang keras adalah Zirconium dioxide yang memiliki bend strength mendekati senyawa besi. Zirconias (ZrO2) mampu mempertahankan kekuatannya hingga temperatur 900 C (1652 F), dan bahkan silikon carbida dan silikon nitrida dapat mempertahankan kekuatannya pada temperatur diatas 1400 C (2552 F). Material-material silikon ini biasanya digunakan pada peralatan yang memerlukan panas tinggi seperti bagian dari Gas-Turbine Engine. Walaupun keramik memiliki ikatan yang kuat dan tahan pada temperatur tinggi, material ini sangat rapuh dan mudah pecah bila dijatuhkan atau ketika dipanaskan dan didinginkan seketika.</p>
<h4>C. Properti Fisik</h4>
<p>Sebagian besar keramik adalah ikatan dari karbon, oksigen atau nitrogen dengan material lain seperti logam ringan dan semilogam. Hal ini menyebabkan keramik biasanya memiliki densitas yang kecil. Sebagian keramik yang ringan mungkin dapat sekeras logam yang berat. Keramik yang keras juga tahan terhadap gesekan. Senyawa keramik yang paling keras adalah berlian, diikuti boron nitrida pada urutan kedua dalam bentuk kristal kubusnya. Aluminum oksida dan silikon karbida biasa digunakan untuk memotong, menggiling, menghaluskan dan menghaluskan material-material keras lain.</p>
<h4>D. Properti Panas</h4>
<p>Sebagian besar keramik memiliki titik leleh yang tinggi, artinya walaupun pada temperatur yang tinggi material ini dapat bertahan dari deformasi dan dapat bertahan dibawah tekanan tinggi. Akan tetapi perubahan temperatur yang besar dan tiba-tiba dapat melemahkan keramik. Kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tersebutlah yang dapat membuat keramik pecah. Silikon karbida dan silikon nitrida lebih dapat bertahan dari kontraksi dan ekspansi pada perubahan temperatur tinggi daripada keramik-keramik lain. Oleh karena itu material ini digunakan pada bagian-bagian mesin seperti rotor pada turbin dalam mesin jet yang memiliki variasi perubahan temperatur yang ekstrim.</p>
<h4>E. Properti Elektrik</h4>
<p>Beberapa jenis keramik dapat menghantarkan listrik. Contohnya Chromium dioksida yang mampu menghantarkan listrik sama baiknya dengan sebagian besar logam. Jenis keramik lain seperti silikon karbida, kurang dapat menghantarkan listrik tapi masih dapat dikatakan sebagai semikonduktor. Keramik seperti aluminum oksida bahkan tidak menghantarkan listrik sama sekali. Beberapa keramik seperti porcelain dapat bertindak sebagai insulator (alat untuk memisahkan elemen-elemen pada sirkuit listrik agar tetap pada jalurnya masing-masing) pada temperatur rendah tapi dapat menghantarkan listrik pada temperatur tinggi.</p>
<h4>F. Properti Magnetik</h4>
<p>Keramik yang mengandung besi oksida (Fe2O3) dapat memiliki gaya magnetik mirip dengan magnet besi, nikel dan cobalt. Keramik berbasis besi oksida ini biasa disebut ferrite. Keramik magnetis lainnya adalah oksida-oksida nikel, senyawa mangan dan barium. Keramik ber-magnet biasanya digunakan pada motor elektrik dan sirkuit listrik dan dapat dibuat dengan resistensi tinggi terhadap demagnetisasi. Ketika elektron-elektron disejajarkan sedemikian rupa, keramik dapat menghasilkan medan magnet yang sangat kuat dan sukar demagnetisasi (menghilangkan medan magnet) dengan memecah barisan elektron tersebut.</p>
<blockquote><p>Sumber :<br />
Ceramics. Microsoft® Student 2009. Redmond, WA: Microsoft Corporation, 2008.</p>
<p>http://www.ceramicindustry.com</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1431&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ceramics-the-art-of-industry/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ekstraksi</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:38:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>
		<category><![CDATA[technology]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1373</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1485" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1485" title="Fragonard Perfume (Grasse, France)" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/perfume_lab-300x168.jpg" alt="Fragonard Perfume (Grasse, France)" width="300" height="168" /><p class="wp-caption-text">Fragonard Perfume (Grasse, France)</p></div>
<p>Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Contohnya dalam ekstraksi minyak atsiri dari biji pala (<em>Myristica fragrans</em>). Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan pemurnian untuk mendapatkan minyak esensial atsirinya saja.</p>
<p>Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya.</p>
<p>Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry]</p>
<p>Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:</p>
<ul>
<li> Tipe persiapan sampel</li>
<li> Waktu ekstraksi</li>
<li> Kuantitas pelarut</li>
<li> Suhu pelarut</li>
<li> Tipe pelarut</li>
</ul>
<p>Minyak dapat diekstraksi dengan perkolasi, imersi, dan gabungan perkolasi-imersi. Dengan metode perkolasi, pelarut jatuh membasahi bahan tanpa merendam dan berkontak dengan seluruh spasi diantara partikel. Sementara imersi terjadi saat bahan benar-benar terendam oleh pelarut yang bersirkulasi di dalam ekstraktor. Sehingga dapat disimpulkan:</p>
<ul>
<li> Dalam proses perkolasi, laju di saat pelarut berkontak dengan permukaan bahan selalu tinggi dan pelarut mengalir dengan cepat membasahi bahan karena pengaruh gravitasi.</li>
<li> Dalam proses imersi, bahan berkontak dengan pelarut secara periodeik sampai bahan benar-banar terendam oleh pelarut. Oleh karena itu pelarut mengalir perlahan pada permukaan bahan, bahkan saat sirkulasinya cepat.</li>
<li> Untuk perkolasi yang baik, partikel bahan harus sama besar untuk mempermudah pelarut bergerak melalui bahan.</li>
<li> Dalam kedua prosedur, pelarut disirkulasikan secara counter-current terhadap bahan. Sehingga bahan dengan kandungan minyak paling sedikit harus berkontak dengan pelarut yang kosentrasinya paling rendah.</li>
</ul>
<p>Metode perkolasi biasa digunakan untuk mengekstraksi bahan yang kandungan minyaknya lebih mudah terekstraksi. Sementara metode imersi lebih cocok digunakan untuk mengekstraksi minyak yang berdifusi lambat.</p>
<p>Ekstraksi bahan makanan biasa dilakukan untuk mengambil senyawa pembentuk rasa bahan tersebut. Misalnya senyawa yang menimbulkan bau dan/atau rasa tertentu.</p>
<div id="attachment_1374" class="wp-caption alignleft" style="width: 207px"><a href="http://EkstraksiSoxhlet"><img class="size-medium wp-image-1374" title="Ekstraksi" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/soxhlet-197x300.jpg" alt="Ekstraksi Soxhlet" width="197" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Ekstraksi Soxhlet</p></div>
<p>Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon.</p>
<p>Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet. Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal ini didasari oleh faktor berikut:</p>
<ul>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet cairan akan menggejorok ke dalam labu setelah tinggi pelarut dalam selongsong sama dengan pipa sifon. Hal ini menyebabkan ada bagian sampel yang berkontak lebih lama dengan cairan daripada bagian lainnya. Sehingga sampel yang berada di bawah akan terekstraksi lebih banyak daripada bagian atas. Akibatnya ekstraksi menjadi tidak merata. Sementara pada ekstraktor Butt, pelarut langsung keluar menuju labu didih. Sampel berkontak dengan pelarut dalam waktu yang sama.</li>
<li> Pada ekstraktor Soxhlet terdapat pipa sifon yang berkontak langsung dengan udara ruangan. Maka akan terjadi perpindahan panas dari pelarut panas di dalam pipa ke ruangan. Akibatnya suhu di dalam Soxhlet tidak merata. Sedangkan pada ekstraktor Butt, pelarut seluruhnya dilindungi oleh jaket uap yang mencegah perpindahan panas pelarut ke udara dalam ruangan.</li>
</ul>
<blockquote><p>Referensi:<br />
AOCS Official Method Am. 2-93. Determination of Oil Content in Oilseeds.<br />
Lucas, Howard J, David Pressman. 1949. Principles and Practice In Organic Chemistry. New York: John Wiley and Sons, Inc.<br />
Whitaker, M.C. 1915. The Journal of Industrial and Engineering Chemistry. Easton: Eschenbach Printing Company.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1373&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>100 Tahun Senjata Kimia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/100-tahun-senjata-kimia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/100-tahun-senjata-kimia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Mar 2009 15:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Inra Sumahamijaya</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[safety]]></category>
		<category><![CDATA[weapon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1401</guid>
		<description><![CDATA[Hampir satu abad lalu, penggunaan senjata kimia skala besar pertama kali terjadi pada tahun 1915, ketika Jerman melepaskan gas chlorine terkompresi dari 5730 kontainernya. Senjata kimia pemusnah masal telah digunakan pada awal tahun 1900-an hingga bom nuklir pada tahun 1940-an.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1402" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><a rel="attachment wp-att-1402" href="http://majarimagazine.com/2009/03/100-tahun-senjata-kimia/majarimagazine-gaza-h03-chemicalweapon/"><img class="size-thumbnail wp-image-1402" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/majarimagazine-gaza-h03-chemicalweapon-150x150.jpg" alt="Senjata kimia digunakan di Gaza" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Senjata kimia digunakan di Gaza</p></div>
<p>Penggunaan senjata kimia adalah saah satu alasan pada Perang Iraq tahun 1991 silam. Pemerintah U.S percaya bahwa Iraq melakukan penyerangan dan penyimpanan senjata pembunuh masal ini. Akan tetapi, hingga saat ini pemerintah U.S belum dapat membuktikan kebenarannya. Berdasarkan data yang dikutip dari artikel Leonard A. Cole, salah satu penjelasan pemerintah U.S mengenai keberadaan senjata kimia Iraq adalah tentara U.S telah menghiraukan peringatan CIA dan menghancurkan bunker tempat penyimpanan senjata kimia sehingga menyebabkan hilangnya bukti keberadaan senjata tersebut dan PBB hanya menemukan kasus penyakit pada tentara U.S akibat pengeboman bunker senjata kimia.</p>
<p>Tentara Israel juga diduga menggunakan senjata sulfur dalam penerangan Palestina di Gaza pada bulan Januari 2009 kemarin.(<a title="Israel menggunakan senjata kimia" href="http://tv.kompas.com/content/view/11571/2/" target="_blank">Kompas.tv</a>)</p>
<p>Hampir satu abad lalu, penggunaan senjata kimia skala besar pertama kali terjadi pada tahun 1915 selama Perang Dunia I, ketika tentara Jerman melepaskan gas <em>chlorine </em>yang terkompresi dari 5730 kontainernya pada saat angin bertiup kearah Perancis yang berjarak beberapa ratus yards. <em>Phosgene </em>dan berbagai senjata kimia lain juga digunakan dalam perang hingga pada puncaknya Jerman mengenalkan &#8220;<em>mustard gas</em>&#8221; pada tahun 1917. Pada akhir PD 1 tahun 1918, semua kubu perang telah menggunakan berbagai macam senjata kimia mematikan.</p>
<p>Senjata kimia pemusnah masal memang telah digunakan pada awal tahun 1900-an, diikuti dengan senjata biologis yang berstatus &#8220;<em>weapons of mass destruction</em>&#8221; pada tahun 1930-an lalu bom nuklir pada tahun 1940an. Protokol Geneva yang ditandatangani pada tahun 1925 kini telah membatasi penggunaan senjata kimia dan biologis. Walaupun sebagian besar negara yang hadir pada menyetujui perjanjian tersebut, U.S bersikeras menolaknya hingga tahun 1975.</p>
<h3>Tipe &#8220;Senjata Kimia Penghancur Massal&#8221;</h3>
<p>Senyawa yang digunakan pada senjata kimia dapat digolongkan pada dua tipe utama:</p>
<ol>
<li> Tipe yang mempengaruni permukaan tubuh yang terkena senyawa kimia,</li>
<li>Tipe yang dapat merusak sistem syaraf korban.</li>
</ol>
<p>Beberapa contoh senyawa kimia yan merusak permukaan tubuh adalah gas <em>phosgene</em>, gas <em>chlorine</em>, <em>hydrogen cyanide</em> dan gas <em>mustard</em>. Prinsip kerja dari <em>phosgene</em>, <em>chlorine</em>, dan <em>hydrogen cyanide</em> adalah penyerangan melalui pernapasan. <em> Phosgene </em>adalah senyawa penyedak napas yang menyebabkan paru-paru dipenuhi oleh air, secangkan <em>chlorine </em>mempu menghancurkan sel-sel pada saluran pernapasan. <em>Hydrogen cyanide</em> dapat menghalangi oxygen berikatan dengan darah. Setetes saja <em>gas mustard</em> yang menguap ke udara, dapat merusak permukaan tubuh manapun termasuk kulit, mata dan paru-paru. Senyawa tersebut dapat menyebabkan kematian dari kegagalan pernapasan.</p>
<p><em>Nerve Gas</em>, senyawa perusak syaraf bekerja dengan cara menghalangi transmisi penyampaian pesan syaraf pusat ke seluruh tubuh.  Tipe senyawa ini antara lain: sarin, soman, tabun, dan VX. Seluruh senyawa yang beraksi dengan mengganggu <em>neurotransmitter </em>yang disebut juga <em>acetylcholine</em>. Dengan cara terhisap ataupun terserap melalui kulit, setetes saja senyawa-senyawa tersebut dapat mematikan seluruh jaringan syaraf tubuh. Jenis senjata terkuat pada tipe ini ada pada grup turunan VX, tetapi semua senyawa tipe ini dapat menyebabkan kematian hanya dalam beberapa menit setelah terkontak.</p>
<p>Ada juga tipe herbisida (<em>herbicides</em>) seperti <em>Agent Orange</em>, yang mampu membunuh tumbuh-tumbuan. <em>Agent Orange </em>digunakan selama Perang Vietnam (1959-1975) sebagai <em>defoliant </em>yang menghancurkan dedaunan hutan untuk menemukan pasukan musuh. Beberapa orang menganggap tipe herbisida ini tidak akan membahayakan hewan maupun manusia. Akan tetapi, banyak veteran perang Vietnam yang mengalami gangguan kesehatan akibat senyawa ini dan pemerintah Vietnam menetapkan bahwa mereka terkena dampak dari <em>Agent Orange</em>.</p>
<h3>Pendeteksian, Pencegahan dan Pengobatan</h3>
<p>Banyak senyawa kimia pembunuh ini yang memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau dan tidak memiliki rasa. Penyerangan biasa terjadi tanpa disadari oleh korban. Tentara biasanya membawa peralatan pendeteksi keberadaan bahan kimia berbahaya, yang biasanya terdiri dari kertas yang dibuat sedemikian rupa atau cairan yang dapat berubah warna bila mendeteksi keberadaan bahan kimia berbahaya.</p>
<p>Bahan kimia pembunuh ini dapat cepat tersebar bila terlepas ke udara. Bedak tertentu, <em>lotion</em> pemutih atau hanya dengan sabun dan air sebenarnya sudah mempu menetralisir beberapa senyawa tersebut. <em>Lotion </em>pemutih dapat mengurangi kerusakan kulit dari gas Mustard bila digunakan sesegera mungkin setelah terkontak.  Penanganan medis dan obat-obatan dapat menolong beberapa korban yang selamat walaupun demikian tetap saja akibat yang ditimbulkan sulit untuk dihindari karena senyawa yang menyerang syaraf akan langsung membunuh korbannya dalam hitungan menit. Sebenarnya <em>treatment </em>dengan obat <em>pyridostigmine bromide</em> dapat menolong dari kerusakan syaraf apabila digunakan dengan sangat-sangat segera setelah terkena terkontak.</p>
<h3>Properti Senyawa Senjata Kimia</h3>
<h4>Phosgene</h4>
<p>Dapat kita sebut juga sebagai <em>carbonic dichloride</em> dengan formula COCl2. Senyawa ini tidak berwarna dan sangat beracun, berbau sangat menyengat pada konsentrasi tinggi. <em>Phosgene</em> lebih berat 3,43 kali dari pada udara, memiliki titik leleh pada -118 C dan titik didih pada 8,3 C. Cara pembuatan <em>phosgene </em>adalah dengan mereaksikan <em>carbon monoxide</em> dan <em>chlorine </em>dengan bantuan suatu katalis. <em>Phosgene </em>beracun pada konsentrasi diatas 50 ppm (<em>parts per million</em>) udara. Selama Perang Dunia 1, senyawa ini digunakan sebagai senjata kimia pembunuh masal, dan sekarang senyawa ini digunakan sebagai senyawa pertengahan pada sintesa senyawa organik seperti <em>carbonic esters</em>, <em>isocyanates</em>, polyurethanes, dan digunakan dalam pembuatan pewarna.</p>
<h4>Chlorine Gas</h4>
<p>Pada temperatur ruangan, senyawa murni Cl ini berbentuk gas berwarna kuning kehijauan dan berbau  menyengat pada konsentrasi tinggi. Senyawa murni Cl tidak tesedia bebas diudara, akan tetapi berikatan dengan senyawa lain. <em>Chlorine </em>mudah bereaksi dengan air, logam dan bahan organik. <em>Chlorine </em>memiliki titik leleh pada -101 C dan titik didih pada -34,05 C pada tekanan atmosfer. Penggunaan <em>Chlorine </em>sebagai senjata kimia tercatat mulai Perang Dunia 1 dan kini senyawanya digunakan sebagai bahan pemutih pada kertas, membunuh bakteri, pembuatan bromine, <em>tetraethyl </em>dan berbagai produk lainnya.</p>
<h4>Agent Orange</h4>
<p>Senyawa yang digunakan untuk membunuh tanaman semasa Perang Vietnam ini dibuat dengan mengkombinasikan <em>2,4,5-trichlorophenoxyacetic acid</em> dan <em>2,4-dichlorophenoxyacetic acid</em> pada konsentrasi tertentu. Senyawa ini disebut <em>Orange </em>karena kontainer pembawa senyawa ini berwarna oranye. Beberapa senyawa herbisida lain yang terkenal pada selama perang tersebut antara lain <em>Agent Blue</em> dan <em>Agent White</em>. <em>Agent Orange</em> ini mengandung senyawa samping <em>dioxins </em>yang sangat berbahaya bagi hewan dan manusia. <em>Dioxins </em>dapat menyebabkan cacat lahir dan kangker langka dan memiliki efek yang berkepanjangan. Penggunaan senyawa ini selama Perang Vietnam di tahun 1970 masih ditemukan dampaknya pada anak-anak yang lahir di tahun 1996.</p>
<h4>Nerve Gas</h4>
<p>Sebagian besar gas syaraf termasuk jenis organophosphates, sebuah tipe yang awalnya dikembangkan untuk digunakan sebagai pestisida. Beberapa tipe yang ada termasuk inisialnya adalah Tabun (GA), Sarin (GB), Soman (GD), dan yang paling berbahaya VX. Permurnian lokasi dari Sarin dengan dosis yang tidak berbahaya memakan waktu lebih dari 2 minggu. Dan senyawa VX beberapa kali lebih berbahaya dari Sarin. Seseorang yang menyentuh benda yang terkena VX, akan langsung terkontaminasi dosis yang berbahaya dan senyawa VX akan terus berada pada tubuh korban selama berminggu-minggu kemudian.</p>
<p>Senjata kimia kini terus dikembangkan oleh berbagai negara, baik secara diam-diam maupun terang-terangan.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1401&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/100-tahun-senjata-kimia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHE Around Us: Sabun</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/12/che-around-us-sabun/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/12/che-around-us-sabun/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 08 Dec 2007 03:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Simson Arifin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/12/che-around-us-sabun/</guid>
		<description><![CDATA[Banyak di antara kita yang tidak mengerti bagaimana sabun dalam media air dapat membersihkan kita dari minyak yang menempel di tangan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/sabun.jpg&amp;w=200&amp;h=230&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="alignleft" />Dalam kemajuan jaman yang sangat pesat ini, kita sebagai masyarakat yang terlibat di dalamnya harus peka dan mengerti akan fenomena-fenomena kimia sederhana yang terjadi di sekitar kita karena hal tersebut dapat menjadi batu loncatan untuk menciptakan kreasi dan inovasi di masa mendatang. Banyak orang awam kurang memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal kecil atau bahkan tidak peduli akan fenomena yang sering terjadi dalam keseharian mereka. Salah satu contoh sederhana yang dapat kita tinjau ialah mencuci tangan. Berapa kali sehari teman-teman mencuci tangan? 3 kali? 5 kali? 10 kali? Banyak di antara kita yang tidak mengerti bagaimana sabun dalam media air dapat membersihkan tangan kita dari minyak yang menempel di tangan. </p>
<h3>Sabun, Lemak, dan Air</h3>
<p>Prinsip utama kerja sabun ialah gaya tarik antara molekul kotoran, sabun, dan air. Kotoran yang menempel pada tangan manusia umumnya berupa lemak. Untuk mempermudah penjelasan, mari kita tinjau minyak goreng sebagai contoh. Minyak goreng mengandung asam lemak jenuh dan tidak jenuh.<strong> Asam lemak jenuh</strong> yang ada pada minyak goreng umumnya terdiri dari <i>asam miristat</i>, <i>asam palmitat, asam laurat</i>, dan <i>asam kaprat</i>. <strong>Asam lemak tidak jenuh</strong> dalam minyak goreng adalah <i>asam oleat, asam linoleat</i>, dan <i>asam linolena</i>. Asam lemak tidak lain adalah <i>asam alkanoat</i> atau asam karboksilat berderajat tinggi (rantai C lebih dari 6).</p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/200px-lauric_acid.png' alt='Lauric Acid' class="alignleft" />
<div class="thumbcaption"><strong>Struktur Asam Laurat</strong></div>
</div>
</div>
<p>Sabun merupakan merupakan suatu bentuk senyawa yang dihasilkan dari reaksi <strong>saponifikasi.</strong> Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa lemah (misalnya NaOH). Hasil lain dari reaksi saponifikasi ialah gliserol. Selain C12 dan C16, sabun juga disusun oleh gugus asam karboksilat.</p>
<p>Reaksi saponifikasi dan struktur dasar senyawa sabun yang dihasilkan ialah sebagai berikut:<br />
<center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/soap.gif' alt='Saponification Reaction' /></center></p>
<p>Seperti yang kita ketahui, air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O, yaitu molekul yang tersusun atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau pada kondisi standar, yaitu pada tekanan 100 kPa (1 bar) and temperatur 273,15 K (0 °C). Air sering disebut sebagai <em>pelarut universal</em> karena air melarutkan banyak zat kimia. Kelarutan suatu zat dalam air ditentukan oleh dapat tidaknya zat tersebut menandingi kekuatan gaya tarik-menarik listrik (gaya intermolekul dipol-dipol) antara molekul-molekul air.</p>
<h3>Mengapa minyak dapat larut dengan bantuan sabun dalam media air?</h3>
<p><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/180px-stilles_mineralwasser.jpg' alt='Water' class="alignleft" />Dari penjelasan di atas, pertanyaan tersebut dapat dijawab dengan mudah. Fenomena tersebut tidak lepas dari gaya tarik menarik molekul. Gaya tarik antara dua molekul polar ( gaya tarik dipol-dipol) menyebabkan larutan polar larut dalam larutan polar. Molekul polar mempunyai dipol yang permanen sehingga menginduksi awan elektron non polar sehingga terbentuk dipol terinduksi, maka larutan nonpolar dapat larut dalam non polar. Hal tersebut dapat menjelaskan proses yang terjadi saat kita mencuci tangan. Saat pencucian tangan, air yang merupakan senyawa polar menginduksi awan elektron sabun sehingga dapat membantu larutnya asam lemak yang juga merupakan senyawa non polar. Maka dari itu, bila kita mencuci tangan dengan menggunkan sabun, lemak yang menempel pada tangan akan melarut bersama sabun dengan bantuan air.</p>
<p><i>&#8220;So, what? Gua gak peduli tuh mo ada awan elektron kek atau awan hujan kek.. yang penting tangan gua bersih..&#8221;</i></p>
<p>Mungkin mudah bagi kita untuk berkata seperti itu sekarang. Tapi cobalah teman-teman bayangkan. Anggaplah teman-teman sedang bekerja di bagian <i>R&#038;D</i> sebuah perusahaan <i>consumer goods</i> seperti misalnya <i>Unilever, P&#038;G</i>, atau <i>L&#8217;oreal</i>. Suatu hari sang <i>R&#038;D Manager</i> menugaskan teman-teman untuk menemukan formula sabun baru yang efektif dan handal. Bagaimana teman-teman bisa memikirkan sebuah inovasi apabila teman-teman tidak mengerti bagaimana cara kerja dasar sebuah sabun? </p>
<p>Tingkatkan <i>awareness </i>teman-teman terhadap fenomena-fenomena kimia yang terjadi di sekitar kita mulai dari sekarang karena ilmu dasar tersebut hanya dapat kita dapatkan saat kuliah.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=151&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/12/che-around-us-sabun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sodium + H2O? Check it out!</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/natrium-h2o-hati-hati/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/natrium-h2o-hati-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 18:00:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Fatrian Rusydy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/natrium-h2o-hati-hati/</guid>
		<description><![CDATA[Something interesting happens if we react sodium with water. And unfortunately, it's something we've got to handle with care.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita semua pasti tahu benar bahwa unsur-unsur kimia memiliki karakteristiknya masing-masing dibandingkan dengan unsur-unsur kimia lainnya. Begitu banyak unsur kimia yang berbahaya dan tidak boleh sembarangan digunakan tanpa perlakukan khusus. Contohnya ialah natrium. Natrium (Na) ialah senyawa logam alkali yang sangat tidak stabil. Natrium harus mendonorkan satu elektronnya untuk mencapai kestabilan dan karena itu Na termasuk Golongan IA (Na<sup>+</sup>). Ingat pelajaran Kimia di SMA kan? Hehe..</p>
<p>Namun, teori kimia seperti demikian kurang dapat menggambarkan kita, khususnya bagi para mahasiswa baru, bagaimana sebenarnya fenomena molekuler tersebut terlihat bila dipandang dari kacamata manusia. </p>
<p>Di atas terdapat sebuah video yang diharapkan dapat menggambarkan bagaimana interaksi natrium saat &#8216;bertemu&#8217; dengan air.  Saat natrium dikontakkan dengan air (H<sub>2</sub>O), reaksi kimia yang sangat eksotermik terjadi antara kedua reaktan tersebut dan membentuk natrium hidroksida (NaOH) dan hidrogen (H2).</p>
<div align="center"><strong>Na<sub>(s)</sub> + H2O<sub>(l)</sub> &#8211;> NaOH<sub>(aq)</sub> + H<sub>2(g)</sub> + panas</strong></div>
<p>Reaksi tersebut merupakan reaksi yang amat eksoterm dan cukup untuk membuat hidrogen terbakar karena keberadan oksigen di atmosfer. Reaksi hidrogen dan oksigen kemudian membentuk molekul air yang baru.</p>
<div align="center"><strong>2H<sub>2(g)</sub> + O<sub>2(g)</sub> &#8211;> 2H<sub>2</sub>O<sub>(g)</sub></strong></div>
<p>Nah buat teman-teman semua yang masih berada di awal studi Teknik Kimia, berhati-hatilah saat praktikum khususnya praktikum Kimia Dasar. Baca dan lakukan prosedur praktikum dengan sebaik-baiknya. Gunakanlah peralatan safety yang dianjurkan dan jangan ceroboh dalam melakukan praktikum. </p>
<blockquote><p>&#8220;Wahh.. tapi kan pengen iseng pas praktikum.. Lagian kan praktikumnya udah beres.. Ini senyawa masih nyisa-nyisa.. Dicampur-campurin aja.. kali aja nemu teori baru..&#8221;</p></blockquote>
<p>Iseng tuh bisa menambah ilmu dan pengetahuan kita, bahkan penemu-penemu dunia pasti memulai segala sesuatunya bermodal awalkan iseng dan rasa ingin tahu. Tapi ingat, iseng yang tidak bertanggungjawab bisa membawa bahaya.. Hehe.. <strong>Natrium: it&#8217;s something you&#8217;ve got to handle with care.</strong></p>
<blockquote><p><i>This video is co-provided by YouTube. If you experience errors playing the video, check you Internet connection. The video needs a high speed DSL/Broadband connection. To avoid lag times when playing the video, click the play button and let your Internet browser cache the video. Re-play after the video has been cached completely.</i></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=120&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/natrium-h2o-hati-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>CHE Around Us: The Fireworks</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/che-around-us-the-fireworks/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/che-around-us-the-fireworks/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 08 Nov 2007 17:33:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/che-around-us-the-fireworks/</guid>
		<description><![CDATA[Teman-teman pasti sering melihat kembang api pada saat perayaan atau pesta-pesta hari raya katakanlah seperti Perayaan Tahun Baru, Idul Fitri, dan Hari Natal. Pernah terpikirkan oleh teman-teman, bagaimana sebuah kembang api bisa melaju ke atas langit dan memancarkan sinar dengan indahnya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/international_fireworks_2_b.jpg' alt='Fireworks 4' align="left" class="alignleft" /><em><strong>The Fireworks: </strong>Barium klorida menghasilkan warna hijau, stronsium klorida memproduksi warna merah, dan tembaga klorida menghasilkan warna biru. Kembang api yang menjadi hiasan perayaan hari raya kita ternyata jarang dikagumi unsur kimianya. (ya iyalah! hehehe..)</em></p>
<p>Teman-teman pasti sering melihat kembang api pada saat perayaan atau pesta-pesta hari raya katakanlah seperti Perayaan Tahun Baru, Idul Fitri, dan Hari Natal. Pernah terpikirkan oleh teman-teman, bagaimana sebuah kembang api bisa melaju ke atas langit dan memancarkan sinar dengan indahnya?</p>
<blockquote><p>
&#8220;Waw&#8230; kerennn!&#8221;<br />
&#8220;Aduh&#8230; romantis&#8230;&#8221;<br />
&#8220;Mamahh&#8230; mau digendong&#8230;&#8221;</p></blockquote>
<p>Itu adalah 3 dari 5 respon umum yang terucap dari lidah manusia berumur 3 hingga 25 tahun saat menyaksikan sebuah pertunjukkan kembang api.. Hehehe..</p>
<p>Tetapi, sebagai seorang calon sarjana Teknik Kimia, akan sangat memalukanlah bila teman-teman Anda berkata,<br />
<strong>Teman: &#8220;Wahh.. kok itu bisa warna-warni gitu ya?? Lo TEKIM kan? Jelasin dong!&#8221;</strong></p>
<p>Lalu Anda tersenyum simpul, terdiam 3 detik, dan berkata,<br />
<strong>Anda: &#8220;Eh.. lo haus gak?? Beli minum yok!&#8221;</strong></p>
<p>Untuk itulah, Anda harus membaca artikel dengan dengan seksama. Jangan sampai titel Teknik Kimia di dahi Anda mempermalukan diri Anda sendiri.</p>
<p>Kembang api, atau yang dalam Bahasa Inggris disebut fireworks, berasal dari China dan ditemukan sekitar 1000 tahun yang lalu. Seseorang menemukan fenomena menarik itu saat dia mencampurkan <strong>sulfur, charcoal, dan saltpeter</strong> (potassium nitrate) dan membakarnya tiba-tiba dengan sebuah percikan api. Campuran tersebut kemudian dinamakan gunpowder (bubuk mesiu) dan digunakan orang China dalam berbagai upacara pengusiran setan.</p>
<p>Gunpowder sendiri merupakan cikal bakal dari campuran padatan penyusun kembang api. Sekitar tahun 1800-an, ahli kimia menemukan campuran yang tepat untuk menyusun sebuah kembang api yang indah dan berwarna-warni menghasilkan warna merah, hijau, jingga, biru, dan ungu.</p>
<p><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/0607_fireworks_green.jpg' alt='Fireworks 1' align="left" class="alignleft" /></p>
<p>Pada masa lalu, warna jingga dari kembang api muncul karena <strong>black-body radiation</strong> dari partikel padatan yang amat panas. Sedangkan warna hijau dan merah muncul sebagai hasil dari emisi spektrum molekul yang berada dalam fasa gas. Metal klorida, yang berfluoresensi dengan kuat pada gelombang cahaya tampak, merupakan dasar pembentuk hampir semua warna pada kembang api yang ada saat ini.</p>
<p><strong>Barium klorida menghasilkan warna hijau, stronsium klorida memproduksi warna merah, dan tembaga klorida menghasilkan warna biru</strong>. Teman-teman masih ingat kan akan unsur-unsur logam? Anyway, pada dasarnya ketiga senyawa logam tersebut bersifat higroskopik, tidak bisa dibakar, dan tidak stabil. Solusi yang digunakan untuk mengakali keadaan tersebut ialah dengan mengontakkan logam dengan klorin pada fasa gas saat proses pembakaran terjadi di mana energi dari pembakaran dapat mengeksitasi elektron-elektron molekul yang akhirnya menghasilkan emisi yang tampak di mata sebagai kilauan yang berwarna-warni. Jadi, beberapa komponen yang diperlukan untuk menghasilkan kembang api ialah bahan bakar, oxidizer, logam, dan senyawa pendonor klorin. </p>
<p>Di masa lampau, senyawa pendonor klorin yang digunakan untuk menghasilkan kembang api ialah kalium klorat, KClO3, yang bertindak sebagai oxizider dan chlorin donor. Namun, KClO3 kemudian tidak digunakan lagi karena sifarnya yang mudah meledak apabila mengalami kontak dengan sulfur, bubuk logam, garam ammonium, dan uap air. Kembang api masa kini umumnya menggunakan kalium perklorat (KClO4) sebagai senyawa pendonor klorin.</p>
<p>Beberapa senyawa berbahaya lainnya yang pernah digunakan sebagai senyawa pendonor ialah paris green (<i>copper acetoarsenite</i>), calomel (<i>mercurous chloride</i>), dan realgar (<i>arsenic sulfide</i>). Selain itu, di masa lampau barium klorat juga kerap sebagai senyawa pendonor klorin. Namun beberapa dekade terakhir ini, barium klorat telah disubsitusi oleh banyak produsen kembang api karena sifat ion klorat yang tidak stabil. Beberapa substituen yang umum digunakan ialah barium nitrat, stronsium karbonat, stronsium nitrat, natrium oksalat, dan tembaga karbonat.</p>
<blockquote><p>Apakah Anda sudah cukup muak dengan sedemikian banyak senyawa-senyawa?? Hahaha.. sabar.. sedikitt lagii.. Bagian di bawah ini sangatlah penting untuk melengkapi ocehan Anda kepada lawan bicara Anda..</p></blockquote>
<p>Sering melihat kembang api yang berwarna biru?<br />
Masih ingatkah Anda dengan senyawa apa warna biru dihasilkan??<br />
(*Ya.. Anda benar.. Jawabannya ialah tembaga klorida..)</p>
<p>Warna biru pada kembang api menjadi tantangan tersendiri bagi para <i>fireworks designers</i> karena tembaga klorida merupakan senyawa yang tidak dapat bertahan dengan baik pada temperatur tinggi. Perkembangan teknologi pembuatan kembang api beberapa dekade terakhir ini mengusulkan penggunaan magnalium sebagai substituen tembaga klorida. </p>
<p><strong>Teman: &#8220;Hah?? Magnalium? Apaan tuh?? Gua gak pernah denger..&#8221;</strong></p>
<p>Nahh.. saat pertanyaan itu muncul, pasang tatapan mata Teknik Kimia yang Anda miliki dan katakan,<br />
<strong>Anda: &#8220;Magnalium itu ialah paduan logam (alloy) dari magnesium dan aluminium.. logam bisa dipadukan secara fisik dan menghasilkan suatu karakteristik paduan yang lebih baik dibanding logam-logam penyusunnya.. Paduan logam itu biasa disebuh alloy..&#8221;</strong></p>
<p><strong>Teman: &#8220;Oooo.. (*muka gak ngerti).. Yaudah kita beli minum aja yok!&#8221;</strong></p>
<p>Nahh.. sekarang Anda boleh tersenyum.. Hahaha..</p>
<div align="center">
<img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/new-year-fireworks-hk.jpg' alt='Fireworks 5' /><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/fireworks1280.jpg' alt='Fireworks 3' /></div>
<p>Sedikit pesan moral dari artikel ini: Sebagai seorang mahasiswa Teknik Kimia, sudah seyogyanya Anda mau mengerti fenomena-fenomena kimia yang terjadi di sekitar kita.. Cobalah dari hal-hal yang sederhana dan pada akhirnya Anda menyadari betapa berharganya pengetahuan yang ada di otak Anda.</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://pubs.acs.org/cen/whatstuff/stuff/7927sci3.html">C&#038;EN (Science and Technology)</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=97&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/che-around-us-the-fireworks/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Chemical Engineering is Everywhere</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/11/chemical-engineering-everywhere/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/11/chemical-engineering-everywhere/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 31 Oct 2007 17:26:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Michael Hutagalung</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[chemistry]]></category>
		<category><![CDATA[life]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/11/chemical-engineering-everywhere/</guid>
		<description><![CDATA[Showing people that chemical engineering touches their lives everyday is easy. From plastic bottles to activated carbon filter, you can find many more examples. Maybe the industrial world and world that we call "home" aren't so different after all.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/25102007114.jpg" alt="AQUA" align="left" class="alignleft" />When I was thinking about writing this article, I was sitting on a bench in Red Roll Cafe at The Majesty Apartment Bandung. Waiting for the meal to be served, I saw peoples walking here, there, and everywhere. On my table, I noticed an AQUA bottle that I brought from home. I usually refill the bottle with fresh water and reuse it as my daily drinking water container. Suddenly I remembered the time last night I was in the kitchen, spending a minute or two, trying to help my mom even though I realize that I wasn&#8217;t really doing a thing.</p>
<p>Last night, I rinsed the bottle with hot water then placed on the cap back onto the bottle. The appearance of the bottle reminded me of an important lesson that chemical engineers have learned over the years. I read many reports of large chemical processing vessels collapsing after being cleaned with steam.  Usually, the cause of the incident was that the operator sealed the vessel too soon after cleaning.  If all of the steam has not yet condensed and the vessel is sealed, the pressure inside the vessel will decrease (below atmospheric pressure) as the steam condenses. Essentially, a vacuum is formed as the volume of the water vapor decreases.  The same mechanism is what caused the plastic bottle to &#8220;suck in&#8221;.  As the water cooled and condensed, the pressure inside the bottle decreased and atmospheric pressure pushed the sides of the bottle inward.  A simple, yet important lesson for us, a chemical engineering student.  Many tanks and process vessels have been destroyed by this action.</p>
<blockquote><p>Anyway, it&#8217;s unhealthy to reuse the AQUA bottle again and again especially if you often wash it with hot water or expose the bottle to direct sunlight in a certain period of time. Particular amount of heat will destroy some of the polymer particles and will be dissolved in the water we refill in. Have you ever thought of &#8216;eating&#8217; polymers? (*LOL)</p></blockquote>
<p>Another item caught my eye in the kitchen that evening. A simple plastic soda bottle. Many people don&#8217;t realize that these bottle are made of polyester! Even many people do not know what polyester is. They just say &#8216;plastics&#8217;. From trash bags to cellphones, it&#8217;s all plastics!</p>
<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/11/aroundhouse7.gif" alt="Plastic Chips" align="left" class="alignleft" />Anyway, polyester is manufactured in large scale chemical plants just like most chemicals. At the end of the process, the plastic is cut into tiny chips as shown below. These plastic chips are then sold to companies that use a process called injection molding to make bottle preforms. The preforms are then packaged and sold to bottlers of the end products whether it be soda or something else. The bottler uses a technique called blow molding to inject hot gas into the preform and &#8220;blow&#8221; it out the final size.</p>
<p>Finally, I noticed the water filter on my kitchen sink. This filter contains one of the oldest filtration medias known to chemical engineers: activated carbon. Via a process called adsorption, small particles adhere to the activated carbon as the fluid passes through the filter.   Chemical engineers have long used activated carbon to purify liquids and gases. Perhaps the most common application in use today in the chemical industry is the use of carbon to remove tiny particles from gas streams before they are released to the atmosphere. Without the activated carbon, these particles could make the surrounding area a very unpleasant place to live or work. The actual activated carbon filter applications may be seen in the above banner. It is a picture of  filters in a water treatment plant.</p>
<p>Showing people that chemical engineering touches their lives everyday is easy. From plastic bottles to activated carbon filter, you can find many more examples. It&#8217;s also important to note that chemical engineers can also learned some things from the home as is evident with the collapsing water bottle. Maybe the industrial world and world that we call &#8220;home&#8221; aren&#8217;t so different after all.</p>
<blockquote><p>Reference(s): <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Carbon_filtering" target="_blank">Wikipedia &#8211; Activated carbon filtering</a>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Blow_molding" target="_blank">Wikipedia &#8211; Blow moulding</a>, Other sources.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=55&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/11/chemical-engineering-everywhere/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
