<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; biogas</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/tag/biogas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 03:01:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>STKSR 2011, International Seminar on Chemical Engineering</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2011/08/soehadi-reksowardojo-2011-international-seminar-on-chemical-engineering/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2011/08/soehadi-reksowardojo-2011-international-seminar-on-chemical-engineering/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 06:37:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Ivan Hadinata Rimbualam</dc:creator>
				<category><![CDATA[Events]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biogas]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[universities]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2996</guid>
		<description><![CDATA[In two months time, there will be an international seminar on Chemical Engineering in Bandung, Indonesia, called "Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo 2011", STKSR 2011. This international seminar, which will be held on October 5-7, 2011, is also in conjunction with the Commemoration of the 70th year of Chemical Engineering Higher Education in Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>In two months time, there will be an international seminar on Chemical Engineering in Bandung, Indonesia, called &#8220;Seminar Teknik Kimia Soehadi Reksowardojo 2011&#8243;, STKSR 2011. This international seminar, which will be held on October 5-7, 2011, is also in conjunction with the Commemoration of the 70th year of Chemical Engineering Higher Education in Indonesia.</p>
<p>The theme for STKSR 2011 is &#8220;Bioenergy, Biobased Product and Process Developments&#8221;. This topic is really related to the current global issue. Nowadays, many experts are exploring this global issue with various researches. The main objective of this international seminar is &#8220;to create a comprehensive synergy among various aspects in Chemical Engineering that hold great promise for the the advancement of research and development.&#8221;</p>
<p>The higher education of chemical engineering in Indonesia was founded in 1941. You should know that the first higher education in chemical engineering in Indonesia was established at Bandung Institute of Technology (ITB).</p>
<p>You may look for the guidelines to become the authors in this international seminar at<strong> http://www.che.itb.ac.id/stksr2011/</strong>. The deadline of abstract submission for who are interested is on August 22nd, 2011.  You can also read list of important dates at <strong>http://www.che.itb.ac.id/stksr2011/. </strong></p>
<p>STKSR has been held since 1991 (twenty years ago). This annual seminar always gives significant contributions in knowledge development for the higher education on chemical engineering in Indonesia. We hope that STKSR 2011 will also give more significant contributions to discover innovative solutions for current global issue, especially for Indonesia development.</p>
<p><strong>Reference: http://www.che.itb.ac.id/stksr2011/home.php</strong></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2996&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2011/08/soehadi-reksowardojo-2011-international-seminar-on-chemical-engineering/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Food For Fuel</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Apr 2010 03:36:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Devy Nandya Utami</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biogas]]></category>
		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2117</guid>
		<description><![CDATA[Seiring dengan semakin populernya pengembangan energi alternatif, semakin banyak pula peneliti yang mencari sejumlah besar limbah organik dari komunitasnya untuk ditransformasi menjadi biofuel, bahan bakar yang lebih bersahabat dengan lingkungan.Para peneliti Institut Teknologi Nigata di Kashiwazaki, Jepang memberikan sebuah bentuk baru bagi susu yang sudah basi. Sedangkan di Universitas Birmingham, Inggris, para peneliti telah mengubah permen, karamel, dan limbah makanan manis lainnya yang berasal dari pabrik Cadbury Schweppes setempat menjadi bahan bakar.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2118" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2118" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/09/cadbury-chocolate-300x223.jpg" alt="Coklat juga bisa jadi bahan baku sumber energi alternatif" width="300" height="223" /><p class="wp-caption-text">Coklat juga bisa jadi bahan baku sumber energi alternatif</p></div>
<p>Seiring dengan semakin populernya pengembangan energi alternatif, semakin banyak pula peneliti yang mencari sejumlah besar limbah organik dari komunitasnya untuk ditransformasi menjadi<em> biofuel</em>, bahan bakar yang lebih bersahabat dengan lingkungan. Produk pertanian seperti jagung dan tebu telah dikenal sebagai sumber produksi energi terbesar di dunia, terutama untuk etanol hasil distilasi. Di tengah kekhawatiran akan potensi terjadinya kompetisi antara makanan dan bahan bakar, sejumlah perusahaan merekayasa minyak yang dibuat dari <em>flowering plant</em> dan <em>algae. </em>Sebagian lainnya berusaha mengeksploitasi rerumputan yang jumlahnya hampir tak terbatas dan dapat tumbuh dengan cepat untuk membuat <em>biofuel</em>.</p>
<p>Setiap saat, ada bergunung-gunung limbah makanan yang memenuhi tempat pembuangan akhir atau incinerator. Para peneliti menemukan bahwa sedikit kecerdasan dapat mengubah kerajaan sampah menjadi sejumlah besar energi. Seperti yang ditunjukkan para peneliti Institut Teknologi Nigata di Kashiwazaki, Jepang. Mereka memberikan sebuah bentuk baru bagi susu yang sudah basi. Di Universitas California, Davis, Amerika Serikat, para insinyur telah memberikan fungsi lain pada sampah meja-meja kayu dari restoran-resturan megah di Bay Area. Sedangkan di Universitas Birmingham, Inggris, para peneliti telah mengubah permen, karamel, dan limbah makanan manis lainnya yang berasal dari pabrik Cadbury Schweppes setempat.</p>
<p><strong>Pengolahan susu di Jepang</strong></p>
<p>Jepang pada tahun-tahun belakangan kebanjiran sampah susu. Penyebabnya masih belum jelas, salah satu kemungkinannya adalah anak sekolah sekarang lebih memilih mengkonsumsi soda. Melihat keadaan ini, Masayuki Onodera, profesor kimia terapan dan bioteknologi Institut Teknologi Nigata, mendapat ide untuk mengolah susu menjadi <em>biofuel</em>.</p>
<p>Onodera dan kolega-koleganya memulai proses konversi dua tahap dengan memanaskan larutan gula untuk menciptakan lingkungan ramah-bakteri pada limbah cairan. Bioreaktor tersebut bergantung pada mikroba penyuka-panas untuk mencerna endapan pada lingkungan bebas oksigen dengan temperatur 131 derajat Fahrenheit. Kondisi ini dihampirkan pada kondisi dalam sejumlah tempat pembuangan akhir dan menghasilkan metan dan karbondioksida. Para peneliti menganggap pembebasan karbondioksida ini sebagai &#8216;karbon netral&#8217; karena gas yang dibebaskan ke atmosfer jumlahnya sama dengan yang dibutuhkan rumput pada saat fotosintesis, yang kemudian dimakan sapi perah.</p>
<p>Tim Onodera mencampur susu yang telah dicerna bakteri tersebut dengan kontainer kedua yang berisi susu tengik. Saat oksigen dalam campuran tersebut rendah dan pH-nya dijaga netral, biogas yang dihasilkan mencapai 8 kali volume asalnya dalam periode 1 minggu. Setengah dari biogas yang diperoleh adalah hidrogen dan setengahnya lagi karbondioksida. Dengan mengganti sebagian endapan yang mengandung bakteri secara periodik dengan susu dan memastikan larutan tetap pada pH yang tepat, sistem ini akan memproduksi biogas secara kontinyu sampai 100 hari kemudian. Sampai saat itu, campuran tersebut menghasilkan biogas lebih dari 5 kali volumenya setiap 2 hari.</p>
<p><strong>Fungsi lain restoran Amerika</strong></p>
<p>Untuk memuluskan rencana mengganti bahan bakar dengan tingkat polusi tinggi, bioreaktor pengkonversi limbah perlu mendemostrasikan efisiensinya dalam skala yang jauh lebih besar. Tantangan inilah yang dilakukan para peneliti di Universitas California, Davis.</p>
<p>Sejak Oktober 2006, Biogas Energy Project telah mengkonversi meja-meja bekas dari sejumlah restoran mewah, limbah sayuran, potongan rumput, dan limbah sapi menjadi metan dan hidrogen. Reaktor memproses 3-8 ton limbah organik per harinya. Dengan kondisi itu, <em>output</em> reaktor per hatinya bisa menyediakan energi untuk 80 rumah seharian.</p>
<p>Teknologi ini tidak memerlukan bahan bakar <em>starter </em>untuk memproses kira-kira 5 juta ton limbah makanan yang dibuang di tempat pembuangan akhir California tiap tahunnya. Ketika limbah sudah selesai dimasukkan, reaktor <em>multi-tank </em>Davis bergantung pada proses anaerobik dua tahap di mana mikroba mengubah limbah makanan tersebut menjadi campuran asam dan air. Pada fasa kedua, digunakan campuran bakteria lainnya untuk mengkonversi asam-asam tersebut menjadi biogas.</p>
<p>Sama dengan Onedera, proses yang dikembangkan Ruihong Zhang, profesor teknik biologi dan pertanian, dan koleganya ini juga menghasilkan hidrogen dan karbondioksida. Menurut Zhang, secara teknis proses anaerobik dapat digunakan untuk mengkonversi apapun yang <em>biodegradable</em>. Meskipun kondisi untuk pengolahannya berbeda-beda tergantung materialnya.</p>
<p>Metode tersebut dilisensikan oleh Onsite Power Systems, Inc. yang berbasis di California. Dengan <em>prototype</em> reaktor yang telah tersedia, perusahaan ini membangun sebuah sistem komersial yang dapat menangani limbah sampai dengan 250 ton per hari. Reaktor ini tidak hanya dapat mengkonversi sisa-sisa makanan, tetapi juga rerumputan dan limbah pembuatan keju. <em>Biofuel </em>yang dihasilkan dapat menjadi bahan bakar bagi truk-truk sampah, menghemat biaya dan energi yang dibutuhkan untuk mentransportasikan bahan mentah bagi reaktor.</p>
<p>Menurut Zhang, teknologi yang dikembangkannya tidak hanya menawarkan biogas, tetapi juga cara pengolahan limbah padat yang ramah lingkungan. Endapan yang dihasilkan dapat diproses kembali menjadi kompos dan <em>organic fertilizer</em>. Serat yang tidak tercerna dalam endapan tersebut juga dapat menjadi bahan baku <em>particle board</em> kualitas tinggi.</p>
<p><strong>Bahan bakar Cadbury</strong></p>
<p>Dalam penelitian untuk mengolah limbah dalam skala industri, para peneliti dari University of Birmingham, Inggris menggaet Cadbury Schweppes sebagai partner. Anak perusahaan yang dinamakan Biowaste2energy atau BW2E berencana untuk membuat unit demonstrasi bagi sistem tiga tahapnya.</p>
<p>Seperti halnya proyek di California, metode BW2E dimulai denga tahap fermentasi yang memecah makanan menjadi asam organik, mengkonversikan sekitar 40 persen limbah dalam prosesnya. Proses purifikasi mengkonversi 40 persen lainnya dan sebuah <em>photobioreactor</em> yang menggunakan cahaya dan bakteria mengkonversi sebagian besar sisa endapan menjadi hidrogen, karbondioksida, dan air. Menurut CEO BW2E, David Anthony, proses tiga tahap dipilih karena dapat mengurangi volume limbah lebih banyak daripada dengan proses satu tahap.</p>
<p>Selain menyelamatkan Cadbury dalam lautan karamelnya sendiri, BW2E juga terbuka bagi perusahaan-perusahaan yang mencari cara pengolahan yang lebih baik bagi limbah minuman buah-buahan dan buah-buahan busuk.</p>
<p>Anda punya sisa makanan? Konversikan jadi biogas!</p>
<p>Sumber: http://www.msnbc.msn.com/id/23638979//</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2117&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/food-for-fuel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>By-product Biodiesel dan Etanol, Sumber Baru Biogas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 29 May 2009 11:44:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Dian Shofinita</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biogas]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[ethanol]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1727</guid>
		<description><![CDATA[Produksi etanol dan biodiesel menghasilkan beberapa produk samping, di antaranya stillage dan gliserol. Produk-produk tersebut ternyata berpotensi menghasilkan biogas: gas produk akhir degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen/udara.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1732" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/041452867000003.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1732" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/041452867000003-150x150.jpg" alt="Biogas" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Biogas</p></div>
<p>Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara. Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54-80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20-45 %-vol). Biogas dapat berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik, diantaranya limbah tanaman, limbah perairan , dan limbah peternakan, seperti kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, dan kotoran unggas. Namun, beberapa tahun belakangan ini produk samping pembuatan etanol dan biodiesel disebut-sebut juga dapat menghasilkan biogas.</p>
<p>Produksi etanol menghasilkan beberapa produk samping, antara lain residu tanaman bahan baku etanol, stillage, kondensat pada evaporator, dan lain-lain. Seluruh produk samping tersebut ternyata  memiliki potensi untuk menghasilkan gas metana. Stillage, residu proses distilasi etanol dari cairan fermentasi akan dihasilkan  sebanyak hingga 20 L untuk setiap liter etanol yang terproduksi. Residu tanaman bahan baku etanol juga dapat dimanfaatkan untuk produksi biogas. Pada produksi etanol selulosik, produk hidrolisis non-fermentable juga dapat dikonversi menjadi metana. Seperti halnya proses produksi biogas dari bahan baku lainnya, seluruh produk samping ini dapat dikonversi menjadi biogas di dalam sebuah digester dengan bantuan mikroorganisme.</p>
<p>Produk samping biodiesel juga berpotensi menghasilkan biogas. Biodiesel dapat dihasilkan melalui proses transesterifikasi minyak lemak. Proses produksi biodiesel menggunakan reaksi hidrolisis alkalin untuk mengkonversi minyak menjadi biodiesel menggunakan metanol, KOH, dan panas. Reaksi transesterifikasi akan memisahkan gugus gliserol dari trigliserida, sehingga akan menghasilkan metil ester (biodiesel) dan produk samping gliserol. Untuk memurnikan biodiesel, dibutuhkan proses pencucian untuk memisahkan asam lemak bebas dan metanol berlebih, sehingga menghasilkan  produk samping air pencuci. Untuk setiap 100 L minyak, sekitar  75 L biodiesel dan 25 L gliserol dihasilkan. Proses pencucian juga akan menghasilkan sekitar 30 L air pencuci biodiesel. Gliserol dan air pencuci tersebut merupakan produk samping biodiesel yang memiliki potensi menghasilkan gas metana.</p>
<div id="attachment_1729" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/glycerol_large.jpg"><img class="size-thumbnail wp-image-1729" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/glycerol_large-150x150.jpg" alt="gliserol" width="150" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">gliserol</p></div>
<p>Dengan peningkatan popularitas biodiesel yang terjadi saat ini, maka juga akan terjadi penigkatan gliserol sebagai produk samping. Peningkatan ini membanjiri pasar dan menyebabkan penurunan harga gliserol. Penggunaan gliserol untuk menghasilkan biogas merupakan salah satu potensi baru pengembangan gliserol. Dengan menggunakan mikroorganisme untuk mengkonsumsi gliserol, gas seperti karbon dioksida dan  metana akan dihasilkan. Sumber energi ini selanjutnya dapat digunakan untuk menyediakan energi panas dan listrik dalam pabrik biodiesel. Selain itu, metana juga dapat dikonversi menjadi metanol, yang dapat digunakan dalam proses produksi biodiesel.</p>
<p>Pencernaan anaerobik untuk mengkonversi gliserol menjadi metana ini dapat dikembangkan pada berbagai temperatur, seperti temperatur mesofilik, sekitar 35 derajat Celcius dan temperatur termofilik, sekitar 55 hingga 60 derajat Celsius. Pencernaan anaerobik konvensional terjadi pada temperatur mesofilik. Walaupun begitu, temperatur termofilik juga merupakan kondisi yang dapat dipertimbangkan sebagai alternatif karena kondisi temperatur ini dapat menyebabkan laju reaksi semakin cepat, produksi gas semakin tinggi, dan laju penghancuran patogen semakin tinggi dibandingkan dengan temperatur mesofilik. Namun, proses termofilik lebih sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan dibandingkan dengan proses mesofilik.</p>
<p>Pemanfaatan produk samping biodiesel dan etanol menjadi biogas ini merupakan salah satu nilai tambah bagi pengembangan kedua sumber energi tersebut.Selain dapat meningkatkan nilai guna by-product, pemanfaatan ini akan meningkatkan  perolehan energi dari proses produksi sumber energi yang dilakukan. Proses produksi yang terjadi pun semakin sustainable.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://aiche.confex.com/aiche/2006/techprogram/P64103.HTM"> http://aiche.confex.com/aiche/2006/techprogram/P64103.HTM</a><br />
<a href="http://biogas.ifas.ufl.edu/etohbiod.htm"> http://biogas.ifas.ufl.edu/etohbiod.htm</a><br />
Yang, Yingnan, dkk. Biodegradation and methane production from glycerol containing synthetic wastes with fixed-bed bioreactor under mesophilic and thermophilic conditions.</p>
<p>Gambar: <a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/04145286700000.jpg">http://media.photobucket.com/image/biogas%20from%20glycerol%20digester/biopact/04145286700000.jpg</a><br />
<a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/glycerol_large1.jpg"> http://www.thomrobiofuels.com/images/photos/glycerol_large.jpg</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1727&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/by-product-biodiesel-dan-etanol-sumber-baru-biogas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 5/20 queries in 0.025 seconds using disk: basic
Object Caching 382/403 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.majarimagazine.com

Served from: majarimagazine.com @ 2012-05-23 01:16:33 -->
