<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Wahyu Hidayat</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/author/wahyuhidayat/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 17:19:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Pembakaran Batubara dengan O2/CO2</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/pembakaran-batubara-dengan-o2co2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/pembakaran-batubara-dengan-o2co2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jun 2008 12:57:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=401</guid>
		<description><![CDATA[Dengan kandungan CO2 hingga 95% pada gas keluaran, teknologi pembakaran batubara dengan menggunakan campuran gas O2/CO2 merupakan teknologi yang efisien untuk proses pemisahan karbondioksida hasil pembakaran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/coal_o2_co2.jpg" alt="" title="Coal Fired Power Plant" width="200" height="210" align="left" />Saat ini, konsumsi energi dunia, terutama dari bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, dan batubara), meningkat secara besar-besaran dan tak terhindarkan. Teknologi pemanfaatan dan eksplorasi bahan bakar fosil yang sudah mapan menyebabkan energi dapat dihasilkan dengan proses yang terjamin dengan harga yang relatif murah. Hal inilah yang menyebabkan bahan bakar fosil banyak disukai walaupun dewasa ini penelitian mengenai bahan bakar terbarukan terus digalakkan dan pemanfaatannya mulai mendapatkan perhatian publik. Bahan bakar fosil tetap dipercaya sebagai sumber energi dunia setidaknya untuk 50 tahun ke depan. Untuk itu, peningkatan efisiensi utilisasi bahan bakar fosil harus terus dilakukan dengan terus memperhatikan faktor lingkungan.</p>
<p>Salah satu jenis bahan bakar fosil ialah batubara. Dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, batubara mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya:</p>
<ol>
<li>Batubara yang siap diekploitasi secara ekonomis terdapat dalam jumlah banyak.</li>
<li>Batubara terdistribusi secara merata di seluruh dunia.</li>
<li>Jumlah yang melimpah membuat batubara menjadi bahan bakar fosil yang paling lama dapat menyokong kebutuhan energi dunia.</ol>
<p>Namun, batubara juga memiliki kelemahan yaitu:</p>
<ol>
<li>Identik sebagai bahan bakar yang kotor dan tidak ramah lingkungan karena komposisinya yang terdiri dari C, H, O, N, S, dan abu.</li>
<li>Kandungan C per mol batubara jauh lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil lainnya sehingga pengeluaran CO<sub>2</sub> dari batubara jauh lebih banyak. Selain itu, kandungan S dan N batubara bisa terlepas sebagai SO<sub>x</sub> dan NO<sub>x</sub> dan menyebabkan terjadinya hujan asam.</li>
</ol>
<p>Oleh karena itu, perlu dikembangkan metode baru dalam pemanfaatan batubara agar dapat meredam isu-isu lingkungan yang mungkin terjadi.</p>
<p>Salah satu metode yang dapat menjadi alternatif ialah pembakaran batubara menggunakan campuran O<sub>2</sub>/CO<sub>2</sub>. Keunggulan utama dari metode ini yaitu adanya daur ulang aliran gas keluaran sehingga kandungan CO<sub>2</sub> pada aliran tersebut sangat tinggi, mencapai 95%. Dengan kandungan CO<sub>2</sub> yang tinggi, proses pemisahan karbondioksida menjadi lebih mudah dan ekonomis dibandingkan pada pembakaran batubara konvensional (menggunakan udara) yang hanya menghasilkan CO<sub>2</sub> sekitar 13% pada gas keluaran. Gas keluaran dengan kandungan CO<sub>2</sub> sampai 95% bahkan dapat langsung digunakan untuk proses <em>oil enhanced recovery (EOR)</em> <sup>[2]</sup>. Pembakaran batubara menggunakan campuran O<sub>2</sub>/CO<sub>2</sub> ditampilkan pada gambar di bawah ini.</p>
<div class="thumb" align="center">
<div class="thumbinner">
<img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/06/fig_1_o2-co2.jpg" alt="" title="Pembakaran batubara dengan campuran gas O2/CO2" />
<div class="thumbcaption"><strong>Gambar 1. </strong>Diagram alir proses pembakaran batubara dengan menggunakan campuran gas O<sub>2</sub>/CO<sub>2</sub></div>
</div>
</div>
<p>Batubara (<em>fuel</em>) dibakar dalam sebuah <em>combustion chamber</em> dengan menggunakan campuran gas oksigen dan karbondioksida. Oksigen didapatkan dari proses pemisahan nitrogen dan oksigen dari udara dalam sebuah <em>Air Separation Unit</em>. Karbondioksida sendiri merupakan gas hasil pembakaran batubara yang kembali dialirkan ke dalam <em>combustion chamber</em>. Aliran <em>recycle </em>karbondioksida ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbondioksida yang sangat signifikan di aliran keluaran sehingga memudahkan proses pemisahan karbondioksida itu sendiri. Pemisahan karbondioksida dapat diselenggarakan menggunakan metode konvensional seperti menggunakan <em>CO<sub>2</sub> absorber</em> maupun metoda terkini seperti pemisahan dengan membran. Tingginya konsentrasi CO<sub>2</sub> di aliran umpan <em>absorber </em>atau membran akan memudahkan proses pemisahan sehingga spesifikasi alat pemisah tidak terlalu memakan biaya besar.</p>
<p>Selain kandungan CO<sub>2</sub> gas keluaran yang tinggi, metode ini juga mempunyai efisiensi pembakaran karbon yang tinggi. Hasil penelitian Liu (2005) menunjukkan bahwa pembakaran batubara menggunakan media O<sub>2</sub>/CO<sub>2</sub> menghasilkan efisiensi pembakaran karbon yang lebih tinggi dibandingkan pembakaran batubara konvensional. Hal itu dibuktikan dari kandungan karbon baik pada <em>fly ash</em> maupun <em>bottom ash</em> yang jauh lebih sedikit.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<sup>[1]</sup> <a href="http://www.europeanenergyforum.eu">www.europeanenergyforum.eu</a><br />
<sup>[2]</sup> Liu, Hao, et all, Comparison of pulverized coal combustion in air and in mixture of O2/CO2, Fuel 84 (2005) 833 – 840.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/pembakaran-batubara-dengan-o2co2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sulphur Oxide from Coal</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 18:03:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[When coal burns, it gives off great quantities of heat energy and smoke. Smoke stacks emit so much smoke into the atmosphere that gases in the smoke are changing the very nature of clouds causing a corrosive form of precipitation known as acid rain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>To generate the energy needed in industrialized societies, vast amounts of coal have been burnt. When coal burns, it gives off great quantities of heat energy and smoke. Smoke stacks emit so much smoke into the atmosphere that gases in the smoke are changing the very nature of clouds causing a corrosive form of precipitation known as acid rain.</p>
<p>Sulphur dioxide from burning fossil fuels and nitrogen oxide from automobile exhaust fumes react with the water vapor in the atmosphere producing acidic vapors that mix with the clouds. When the wind blows, these acid bearing clouds maybe move hundred of kilometers away from the source of the pollutants. The acid rain that results is damaging to water, forest, and soil resources and can corrode metals and the surfaces of buildings. </p>
<p>One way to address the problem of acid rain is to stop burning high sulphur coal. Coal with less sulphur releases less sulphur dioxide. Another solution is to equip coal burning power plants with scrubber technology. Scrubbers are placed in the smoke stacks and force the sulphurine smoke over suspended alkali particles such as lime. The sulphur oxide reacts with these particles to form an ash that can be removed from the stack as a slurry or powder. Scrubbers can remove up to 95% of sulphur oxide from smoke before it reaches the air.</p>
<blockquote><p><i>This video is co-provided by YouTube. If you experience errors playing the video, check you Internet connection. The video needs a high speed DSL/Broadband connection. To avoid lag times when playing the video, click the play button and let your Internet browser cache the video. Re-play after the video has been cached completely.</i></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/sulphur-oxide-from-coal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Khusus: Puslitbang tekMIRA (Bagian 2)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jun 2008 17:01:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hot News]]></category>

		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=362</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 30 April 2008, beberapa kontributor Majari mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Puslitbang tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3174/2465184864_17ff2dd0eb.jpg" class="thickbox" title="Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3174/2465184864_17ff2dd0eb_m.jpg' alt='Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left"><strong><em>Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung.</em></strong></span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Pada tanggal 30 April 2008, beberapa kontributor Majari mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Puslitbang tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara), suatu badan yang lahir dari penggabungan Balai Penelitian Tambang dan Pengolahan Bahan Galian dengan Akademi Geologi dan Pertambangan, pada 11 November 1976. </p>
<p>Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel bagian pertama: <a href="http://majarimagazine.com/2008/05/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-1/">Laporan Khusus: Puslitbang tekMIRA (Bagian 1)</a>. Artikel bagian pertama membahas tentang peralatan-peralatan pengolahan batubara yang terdapat di Puslitbang tekMIRA sedangkan artikel bagian kedua ini membahas tentang peralatan-peralatan yang dipakai untuk keperluan karakterisasi batubara.</p>
<p>Puslitbang tekMIRA memiliki beberapa laboratorium yang digunakan untuk menganalisis sifat-sifat fisika maupun kimia dari batubara. Sifat-sifat fisika maupun kimia yang dapat dianalisis antara lain:</p>
<ol>
<li><strong>Nilai kalor batubara (<em>coal calorific value</em>)</strong><br />
Salah satu parameter penentu kualitas batubara ialah nilai kalornya, yaitu seberapa banyak energi yang dihasilkan per satuan massanya. Nilai kalor batubara diukur menggunakan alat yang disebut bom kalorimeter.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3059/2465233990_476bc01155.jpg" class="thickbox" title="Bomb calorimeter."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3059/2465233990_476bc01155_m.jpg' alt='Bomb calorimeter.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm3.static.flickr.com/2316/2464407287_17b52a6463.jpg" class="thickbox" title="Bomb calorimeter."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2316/2464407287_17b52a6463_m.jpg' alt='Bomb calorimeter.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 1. <strong><em>Bomb calorimeter</em> digunakan untuk menentukan nilai kalor dalam batubara.</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center></p>
<p>Kalorimater bom terdiri dari 2 unit yang digabungkan menjadi satu alat. Unit pertama ialah unit pembakaran di mana batubara dimasukkan ke dalam bejana dan dibakar dengan pasokan udara/oksigen pembakar. Unit kedua ialah unit pendingin (kondensor) yang pada gambar di atas terletak pada bagian kanan.
</li>
<li><strong>Titik leleh abu (<em>ash melting point</em>)</strong>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3103/2464435121_98e2d1fe0f.jpg" class="thickbox" title="Beberapa sampel abu (ash) batubara dari berbagai sumber yang berbeda."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3103/2464435121_98e2d1fe0f_m.jpg' alt='Beberapa sampel abu (ash) batubara dari berbagai sumber yang berbeda.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 2. <strong><em>Beberapa sampel abu (<em>ash</em>) batubara dari berbagai sumber yang berbeda.</em></strong></span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Abu (<em>ash</em>) merupakan produk samping proses pembakaran batubara. Apabila proses pembakaran terjadi pada temperatur di atas titik leleh abu, abu yang terbentuk akan meleleh dan menimbulkan penyumbatan di dalam reaktor (<em>slagging</em>). Hal tersebut menyebabkan nilai titik leleh abu penting sangat penting untuk diketahui secara pasti. </p>
<p>Titik leleh abu merupakan suhu yang menunjukkan perubahan karakteristik abu batubara apabila dipanaskan pada kondisi standar. Prosedur analisa dimulai dengan membentuk abu batubara menjadi seperti kerucut dengan bantuan cetakan. Abu yang telah berbentuk kerucut tersebut kemudian dipanaskan di dalam <em>furnace</em>. Gambar 2 menunjukkan beberapa sampel batubara dari berbagai sumber. Abu batubara yang masih berbentuk seperti bedak ini kemudian dicetak dengan cetakan kerucut seperti pada Gambar 3 kiri.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2131/2465260144_be33821275.jpg" class="thickbox" title="Alat yang digunakan untuk mencetak abu sehingga membentuk kerucut."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2131/2465260144_be33821275_m.jpg' alt='Alat yang digunakan untuk mencetak abu sehingga membentuk kerucut.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm4.static.flickr.com/3282/2464431525_8d2e111349.jpg" class="thickbox" title="Sebuah ilustrasi yang menggambarkan bentuk abu selama proses pelelehan."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3282/2464431525_8d2e111349_m.jpg' alt='Sebuah ilustrasi yang menggambarkan bentuk abu selama proses pelelehan.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 3. <strong>Alat yang digunakan untuk mencetak abu (<em>ash</em>) sehingga membentuk kerucut (kiri). Sebuah ilustrasi yang menggambarkan bentuk abu selama proses pelelehan (kanan).</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center></p>
<p><em>Furnace </em>dilengkapi dengan kamera yang terhubung dengan komputer untuk memantau karakteristik sampel di dalam <em>furnace </em>sehingga dapat ditentukan pada suhu berapa sampel mulai mengalami deformasi, membentuk sperikal, hemisperikal, dan akhirnya mulai meleleh. Proses perubahan bentuk dapat dilihat pada Gambar 3 kanan. Anda tahu berapa temperatur <em>furnace </em>yang digunakan untuk analisis titik leleh abu ini? 1170°C.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3257/2464460543_3024b6f19c.jpg" class="thickbox" title="Komputer yang berfungsi untuk melihat foto hasil kamera yang dipasang pada furnace."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3257/2464460543_3024b6f19c_m.jpg' alt='Komputer yang berfungsi untuk melihat foto hasil kamera yang dipasang pada furnace.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm3.static.flickr.com/2400/2465291862_798b6f41eb.jpg" class="thickbox" title="Furnace yang digunakan untuk menganalisis titik leleh abu batubara."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2400/2465291862_798b6f41eb_m.jpg' alt='Furnace yang digunakan untuk menganalisis titik leleh abu batubara.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 4. <strong>Komputer yang berfungsi untuk melihat foto hasil kamera yang dipasang pada <em>furnace </em>(kiri). Furnace yang digunakan untuk menganalisis titik leleh abu batubara (kanan).</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center>
</li>
<li><strong><em>Free Swelling Index</em> (FSI)</strong><br />
<em>Free Swelling Index</em> merupakan suatu parameter seberapa jauh batubara akan memuai apabila dipanaskan. Sampel batubara dimasukkan ke dalam cawan khusus dan dipanaskan di dalam <em>furnace</em>. Kokas diamati profilnya dengan cara membandingkan bentuk kokas dengan bentuk profil kokas standar yang mempunyai nilai dari angka 1 sampai 9. Gambar di bawah ini menunjukkan <em>furnace </em>yang digunakan dalam analisis FSI dan kokas yang terbentuk setelah proses pemanasan. Warna merah di dalam furnace terlihat karena tingginya temperatur di dalam <em>furnace</em>; Anda dapat merasakan panas radiasinya bahkan dari jarak 3 meter.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2093/2465300496_c1940725bf.jpg" class="thickbox" title="Furnace yang digunakan untuk menganalisa Free Swelling Index (FSI)."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2093/2465300496_c1940725bf_m.jpg' alt='Furnace yang digunakan untuk menganalisa Free Swelling Index (FSI).' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm4.static.flickr.com/3139/2464467193_68494a306d.jpg" class="thickbox" title="Kokas (coke) yang terbentuk setelah pemanasan dalam furnace."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3139/2464467193_68494a306d_m.jpg' alt='Kokas (coke) yang terbentuk setelah pemanasan dalam furnace.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 5. <strong><em>Furnace </em>(kiri) dan kokas (<em>coke</em>) yang terbentuk setelah pemanasan (kanan)</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center>
</li>
<li><strong><em>True Specific Gravity</em> (TSG)</strong>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2338/2464478181_4ced82b7f9.jpg" class="thickbox" title="Piknometer yang digunakan untuk analisis True Specific Gravity (TSG) batubara."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2338/2464478181_4ced82b7f9_m.jpg' alt='Piknometer yang digunakan untuk analisis True Specific Gravity (TSG) batubara.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 6. <strong>Piknometer yang digunakan untuk analisis <em>True Specific Gravity</em> (TSG) batubara.</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p><em>True Specific Gravity</em> (TSG) merupakan perbandingan antara densitas batubara dengan densitas air pada suhu referensi tertentu (misalnya 60°F atau 90°F). <em>True specific gravity</em> dapat dihitung dari berat cairan tipol yang dipindahkan oleh batubara kering yang lolos ayakan 60 mesh dan telah diketahui beratnya dalam suatu botol densitas (piknometer). Piknometer dikonsidikan dalam keadaan vakum agar batubara lebih cepat mengendap. Nilai TSG batubara umumnya bernilai antara 1,2 (bituminus) hingga 1,5 (antrasit). Dibandingkan dengan sekian banyak peralatan analisa yang ada di Puslitbang tekMIRA, peralatan penentuan TSG merupakan peralatan yang paling sederhana.
</li>
<li><strong>Kadar sulfur</strong><br />
Salah satu cara untuk menentukan kadar sulfur yaitu melalui pembakaran pada suhu tinggi. Batubara dioksidasi dalam <em>tube furnace</em> dengan suhu mencapai 1350°C. Sulfur oksida (SOx) yang terbentuk sebagai hasil pembakaran kemudian ditangkap oleh oleh detektor infra merah dan kemudian dianalisis. Hasil analisis kemudian ditampilkan dalam komputer.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3268/2465377978_d152825066.jpg" class="thickbox" title="Furnace yang digunakan untuk menganalisa kadar suflur."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3268/2465377978_d152825066_m.jpg' alt='Furnace yang digunakan untuk menganalisa kadar suflur.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm4.static.flickr.com/3204/2464507773_5f59632ffe.jpg" class="thickbox" title="Komputer yang dihubungkan dengan furnace yang digunakan untuk menganalisa kadar sulfur dengan metode infra merah."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3204/2464507773_5f59632ffe_m.jpg' alt='Komputer terhubung dengan furnace yang digunakan untuk menganalisa kadar sulfur dengan metode infra merah.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 7. <strong><em>Furnace </em>(kiri) terhubung dengan komputer (kanan) yang digunakan untuk menganalisa kadar sulfur dengan metode infra merah.</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center>
</li>
<li><strong>Analisis ultimat batubara (<em>coal ultimate analysis</em>)</strong><br />
Analisis ultimat dilakukan untuk menentukan kadar karbon (C), hidrogen (H), oksigen (O), nitrogen, (N),  dan sulfur (S) dalam batubara. Seiring dengan perkembangan teknologi, analisis ultimat batubara sekarang sudah dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Analisa ultimat ini sepenuhnya dilakukan oleh alat yang sudah terhubung dengan komputer. Prosedur analisis ultimat ini cukup ringkas; cukup dengan memasukkan sampel batubara ke dalam alat dan hasil analisis akan muncul kemudian pada layar komputer.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2097/2464573315_9ebb9e5357.jpg" class="thickbox" title="Alat yang digunakan untuk analisa ultimat batubara."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2097/2464573315_9ebb9e5357_m.jpg' alt='Alat yang digunakan untuk analisa ultimat batubara.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm3.static.flickr.com/2243/2465373176_fdef9a9221.jpg" class="thickbox" title="Elementar, perusahaan produsen alat analisa ultimat batubara yang all-in-one ini."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2243/2465373176_fdef9a9221_m.jpg' alt='Elementar, perusahaan produsen alat analisa ultimat batubara yang all-in-one ini.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 8. <strong>Alat yang digunakan untuk analisa ultimat batubara (kiri). Coba perhatikan logo Elementar, perusahaan produsen alat analisa ini, yang menyandingkan unsur-unsur kimia dengan warna karakternya masing-masing (kanan).</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center>
</li>
<li><strong>Analisis proksimat batubara (<em>coal proximate analysis</em>)</strong>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2061/2465405960_f23200232d.jpg" class="thickbox" title="Alat yang digunakan untuk analisa proksimat batubara."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2061/2465405960_f23200232d_m.jpg' alt='Alat yang digunakan untuk analisa proksimat batubara.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 9. <strong>Alat yang digunakan untuk analisa proksimat batubara.</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Analisis proksimat batubara bertujuan untuk menentukan kadar <em>fixed carbon</em>, <em>volatile matters</em>, <em>moisture</em>, dan abu (<em>ash</em>). <em>Fixed carbon</em> ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah <em>volatile matters</em> dipisahkan dari batubara. Kadar <em>fixed carbon</em> ini berbeda dengan kadar karbon (C) hasil analisis ultimat karena sebagian karbon berikatan membentuk senyawa hidrokarbon <em>volatile</em>. <em>Volatile matters</em> adalah kandungan batubara yang terbebaskan pada temperatur tinggi tanpa keberadaan oksigen (misalnya CxHy, H2, SOx, dan sebagainya). <em>Moisture</em> ialah kandungan air yang terdapat dalam batubara sedangkan abu (<em>ash</em>) merupakan kandungan residu <em>non-combustible</em> yang umumnya terdiri dari senyawa-senyawa silika oksida (SiO2), kalsium oksida (CaO), karbonat, dan mineral-mineral lainnya. Sama halnya dengan alat analisis ultimat, alat analisis proksimat ini juga sudah terkomputerisasi.</li>
</ol>
<p>Demikianlah laporan khusus kunjungan beberapa kontributor Majari ke Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara (Puslitbang tekMIRA) yang terletak di Kota Bandung. Semoga bermanfaat! </p>
<p>Salam Majari Kanayakan.</p>
<blockquote><p>Artikel oleh <strong>Wahyu Hidayat</strong>. Fotografi oleh <strong>Michael Hutagalung</strong>.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Laporan Khusus: Puslitbang tekMIRA (Bagian 1)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-1/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Jun 2008 18:35:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Hot News]]></category>

		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=361</guid>
		<description><![CDATA[Pada tanggal 30 April 2008, beberapa kontributor Majari mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Puslitbang tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3174/2465184864_17ff2dd0eb.jpg" class="thickbox" title="Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3174/2465184864_17ff2dd0eb_m.jpg' alt='Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left"><strong><em>Beberapa kontributor Majari sedang melakukan kunjungan ke Puslitbang tekMIRA yang terletak di Kota Bandung.</em></strong></span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Pada tanggal 30 April 2008, beberapa kontributor Majari mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Puslitbang tekMIRA (Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara), suatu badan yang lahir dari penggabungan Balai Penelitian Tambang dan Pengolahan Bahan Galian dengan Akademi Geologi dan Pertambangan, pada 11 November 1976. Sebelum dikenal dengan sebutan Puslitbang tekMIRA, institusi ini bernama Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral (P3TM) sebagai perubahan dari nama Pusat Penelitian Teknologi Mineral (PPTM) yang waktu itu berada di bawah Direktorat Jenderal Pertambangan Umum (DJPU), Departemen Pertambangan dan Energi (DPE) Republik Indonesia. Banyak karya nyata yang telah dihasilkan untuk kepentingan pengembangan usaha di subsektor mineral dan batubara, serta tidak sedikit kontribusi yang diberikan untuk mendukung kebijakan DJPU maupun DPE.</p>
<p>Kunjungan ke Puslitbang tekMIRA diawali dengan presentasi berjudul &#8220;<em>Kesiapan Teknologi Pemanfaatan Batubara</em>&#8221; yang menjelaskan tentang pemanfaatan batubara yang dapat dilakukan secara tidak langsung, seperti misalnya melalui <em>upgrading</em> batubara dengan proses UBC (<em>Upgrading Brown Coal</em>), <em>coal washing</em>, dan CWF (<em>Coal-Water Mixture Fuel</em>) atau melalui konversi batubara ke dalam bentuk lainnya melalui gasifikasi, likuefaksi, serta pembriketan, dan juga secara langsung seperti dalam <em>combustion power plant</em>, <em>cyclone burner</em>, <em>pulverized combustion</em>, dan <em>fluidized bed combustion</em>. Acara dilanjutkan dengan presentasi kedua yang berjudul &#8220;<em>Analisis/Pengujian Sifat Fisika dan Kimia Batubara</em>&#8221; yang berisi penjelasan tentang metode-metode yang digunakan dalam menentukan sifat kimia batubara (analisis ultimat, proksimat, nilai kalor, komposisi abu, dan titik leleh abu) serta sifat fisika batubara (HGI - <em>Hardgrove Grindability Index</em>, FSI - <em>Free Swelling Index</em>, dan TSG - <em>True Specific Gravity</em>).</p>
<p>Puslitbang tekMIRA memiliki beberapa unit-unit peralatan pengolahan batubara. Sebagian besar alat-alat tersebut tidak lagi difungsikan dan hanya disimpan untuk keperluan kunjungan namun beberapa alat masih dapat dioperasikan untuk keperluan penelitian.</p>
<ol>
<li><strong>Unit penyiapan batubara</strong></p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3058/2464346867_df2d97829f.jpg" class="thickbox" title="Conveyor belt."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3058/2464346867_df2d97829f_m.jpg' alt='Alat Pembriketan Batubara' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 1. <strong><em>Conveyor belt</em></strong></span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Peralatan-peralatan pada unit ini berfungsi untuk mempersiapkan batubara sebelum diolah lebih lanjut. Dalam unit ini, batubara mendapat beberapa perlakuan, yaitu:</p>
<ul>
<li>Pengecilan ukuran menggunakan <em>jaw crusher</em> hingga ukuran 4 mesh</p>
<li>Pengecilan ukuran menggunakan <em>hammer mill</em> hingga ukuran 8 mesh
<li>Pengecilan ukuran hingga didapat sampel batubara berukuran -60 mesh dan -14+28 mesh
<li>Pengeringan</li>
</ul>
<p>Di dalam unit pengolahan batubara nyata, perpindahan batubara dari satu alat ke alat lainnya dilakukan dengan <em>conveyor belt</em> atau dengan <em>pneumatic conveyor</em>.</li>
<li><strong>Unit pembuatan briket batubara</strong><br />
Proses pembuatan briket batubara tergambar dengan jelas dalam unit ini. Proses inti pembuatan briket batubara diawali dengan sebuah alat pembriketan (Gambar 2 kiri) dan dilanjutkan dengan alat pencetak briket (Gambar 2 kanan atau Gambar 3 kiri). Briket batubara yang telah dicetak dengan cetakan oval memiliki bentuk seperti yang terlihat pada Gambar 3 kanan. Briket batubara memiliki berbagai macam bentuk tergantung alat cetakan yang digunakan.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:484px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3156/2465179962_ae96d32221.jpg" class="thickbox" title="Alat Pembriketan Batubara"><img src='http://farm4.static.flickr.com/3156/2465179962_ae96d32221_m.jpg' alt='Alat Pembriketan Batubara' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm3.static.flickr.com/2247/2464377057_abd7479228.jpg" class="thickbox" title="Alat cetakan briket batubara bentuk sarang lebah."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2247/2464377057_abd7479228_m.jpg' alt='Cetakan briket batubara bentuk sarang lebah.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 2. <strong>Alat pembriketan batubara (kiri) dan alat cetakan briket batubara bentuk sarang lebah (kanan)</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center></p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:379px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2245/2465210264_7cb6f90254.jpg" class="thickbox" title="Cetakan briket sarang lebah."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2245/2465210264_7cb6f90254_m.jpg' alt='Cetakan briket batubara bentuk sarang lebah.' class='thumbimage' height="180px" /></a><a href="http://farm3.static.flickr.com/2097/2465174796_83332fa5a8.jpg" class="thickbox" title="Briket batubara yang sudah dicetak."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2097/2465174796_83332fa5a8_m.jpg' alt='Briket batubara yang sudah dicetak.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 3. <strong>Cetakan briket bentuk sarang lebah (kiri) dan briket yang telah dicetak dengan cetakan oval (kanan)</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center></li>
<li><strong>Unit gasifikasi dan pembakaran</strong><br />
Selain pembuatan briket batubara, Puslitbang tekMIRA juga memiliki reaktor gasifikasi batubara. Tujuan utama dari proses <a href="http://majarimagazine.com/2007/12/teknologi-gasifikasi-batubara/">gasifikasi</a> ialah mengkonversi batubara menjadi gas sintesis (CO dan H2). Selain itu, terdapat juga <em>cyclone burner</em>, sebuah alat yang berfungsi sebagai <em>combustion chamber</em> yang memungkinkan kemudahan penggantian bahan bakar <em>boiler </em>dalam pabrik menjadi bahan bakar batubara. Berikut ini merupakan gambar dari reaktor gasifikasi dan <em>cyclone burner</em>.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:379px;">
<a href="http://farm3.static.flickr.com/2234/2464384267_098f3938ed.jpg" class="thickbox" title="Reaktor gasifikasi batubara."><img src='http://farm3.static.flickr.com/2234/2464384267_098f3938ed_m.jpg' height="180px" alt='Reaktor gasifikasi batubara.' class='thumbimage' /></a><a href="http://farm4.static.flickr.com/3193/2465229716_5439a2855a.jpg" class="thickbox" title="Cyclone Burner"><img src='http://farm4.static.flickr.com/3193/2465229716_5439a2855a_m.jpg' alt='Cyclone Burner' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 4. <strong>Reaktor gasifikasi (kiri) dan <em>cyclone burner</em> (kanan)</strong></span><span class="right"><em>click photos to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p></center>
</li>
<li><strong>Unit pencairan batubara</strong>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:242px;">
<a href="http://farm4.static.flickr.com/3251/2464401201_0a3144e691.jpg" class="thickbox" title="Heater untuk likuefaksi batubara skala laboratorium."><img src='http://farm4.static.flickr.com/3251/2464401201_0a3144e691_m.jpg' alt='Heater untuk proses  likuefaksi batubara skala laboratorium.' class='thumbimage' /></a>
<div class="thumbcaption"><span class="left">Gambar 5. <strong><em>Heater</em> untuk proses likuefaksi batubara skala laboratorium.</strong></span><span class="right"><em>click photo to enlarge</em></span></div>
</div>
</div>
<p>Hingga saat ini, Puslitbang tekMIRA masih terus melakukan penelitian untuk menemukan konfigurasi dan kondisi operasi yang optimal mengenai teknologi likuefaksi batubara. Dalam penelitian Puslitbang tekMIRA, metode likuefaksi batubara yang digunakan ialah metoda likuefaksi secara langsung. Batubara, katalis, dan pelarut (<em>solvent</em>) dimasukkan ke dalam bejana. Selain itu, sejumlah tertentu gas hidrogen juga dialirkan ke dalam bejana. Bejana ini kemudian dipanaskan hingga temperatur 450°C dan tekanan 250 bar dalam sebuah <em>heater </em>seperti pada Gambar 5. Setelah proses likuefaksi berlangsung, bejana didinginkan dan gas hidrogen dikeluarkan sedikit demi sedikit. Hasil akhir proses likuefaksi ini ialah hidrokarbon cair (CSO - <em>Crude Synthetic Oil</em>) yang komposisinya mirip dengan minyak bumi.
</li>
</ol>
<p>Anda tertarik mengetahui berbagai peralatan untuk menganalisa dan mengkarakterisasi batubara? Silakan tunggu artikel selanjutnya!</p>
<p><em>Bersambung (<a href="http://majarimagazine.com/2008/05/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-2/">Analisis dan Karakterisasi Batubara</a>)</em></p>
<blockquote><p>Artikel oleh <strong>Wahyu Hidayat</strong>. Fotografi oleh <strong>Michael Hutagalung</strong>.</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/06/laporan-khusus-puslitbang-tekmira-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Energi Geotermal</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/04/energi-geotermal/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/04/energi-geotermal/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Apr 2008 07:19:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<category><![CDATA[geothermal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=312</guid>
		<description><![CDATA[Energi geotermal merupakan energi yang dibangkitkan dari panas yang tersimpan di bawah permukaan bumi. Sumber energi ini merupakan salah satu alternatif yang diharapkan dapat menyelesaikan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/04/geothermal.jpg" alt="Energi Geothermal" title="Energi Geothermal" width="200" height="210" class="left" />Anda sering mendengar geothermal? Istilah geotermal berasal dari bahasa Yunani, <em>geo </em>yang berarti bumi dan <em>therme </em>berarti panas. Energi geotermal merupakan energi yang dibangkitkan dari panas yang tersimpan di bawah permukaan bumi. Sumber energi ini merupakan salah satu alternatif yang diharapkan dapat menyelesaikan ketergantungan dunia terhadap bahan bakar fosil.</p>
<h3>Energi di dalam Bumi</h3>
<p>Bumi terbagi menjadi beberapa lapisan yaitu: perut bumi, mantel bumi, dan kulit bumi sebagai lapisan terluar. Setiap 100 meter kita turun ke dalam perut bumi, temperatur bebatuan cair yang ada di dalam bumi lebih tinggi sekitar 3°C dari bebatuan di atasnya. Semakin jauh ke dalam perut bumi, temperatur batu-batuan maupun lumpur akan semakin tinggi. Bila suhu di permukaan bumi adalah 27°C maka pada kedalaman 100 meter suhu bebatuan mencapai sekitar 30°C. Untuk kedalaman 1 kilometer suhu batu-batuan dan lumpur mencapai 57-60°C, dan bila kita ukur pada kedalaman 2 kilometer, suhu batuan dan lumpur bisa mencapai 120°C atau lebih.</p>
<p>Di dalam kulit bumi, ada kalanya aliran air berada dekat dengan batu-batuan panas yang temperaturnya bisa mencapai 148°C. Air tersebut tidak menjadi uap (<em>steam</em>) karena tidak ada kontak dengan udara. Bila air panas tersebut keluar ke permukaan bumi melalui celah atau retakan di kulit bumi, maka akan timbul air panas yang biasa disebut dengan <em>hot spring</em>. Air panas alam (<em>hot spring</em>) ini biasa dimanfaatkan untuk kolam air panas dan banyak pula yang sekaligus dijadikan tempat wisata. Di Indonesia, banyak sumber air panas alami yang dimanfaatkan sebagai sarana pemandian dan tempat wisata seperti Ciater, Cipanas-Garut, Sipoholon dan Desa Hutabarat di Tarutung, Lau Debuk-debuk di Tanah Karo, dan beberapa tempat lainnya di penjuru tanah air.</p>
<h3>Pembangkit Listrik Tenaga Geotermal</h3>
<p>Air panas alam (<em>hot spring</em>) dapat juga dimanfaatkan untuk menghasilkan tenaga listrik. Apabila air panas alam mengalami kontak dengan udara karena fraktur atau retakan, maka semburan akan keluar melalui retakan tersebut dalam bentuk air panas dan uap panas (<em>steam</em>). Air panas dan <em>steam </em>inilah yang kemudian dimanfaatkan sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Agar energi geotermal dapat dikonversi menjadi energi listrik, tentunya diperlukan sebuah sistem pembangkitan listrik (<em>power plants</em>). Berikut ini merupakan teknologi-teknologi yang digunakan dalam pembangkit listrik geotermal:</p>
<ol>
<li><strong><em>Dry steam power plant</em></strong><br />
Pembangkit tipe ini adalah yang pembangkit listrik geotermal yang pertama kali ada. Pada tipe ini, uap panas (<em>steam</em>) langsung diarahkan ke turbin serta mengaktifkan generator untuk bekerja menghasilkan listrik. Sisa panas yang datang dari <em>production well</em> dialirkan kembali ke dalam <em>reservoir </em>melalui <em>injection well</em>.</li>
<div class="thumb" align="center" style="margin-top:10px;">
<div class="thumbinner" style="width:343px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/04/drysteam.png' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Dry steam power plant</strong></div>
</div>
</div>
<li><strong><em>Flash steam power plant</em></strong><br />
Panas bumi yang berupa fluida, misalnya air panas alam (<em>hot spring</em>) di atas suhu 175°C, dapat digunakan sebagai sumber pembangkit <em>flash steam power plant</em>. Fluida panas tersebut dialirkan kedalam tangki <em>flash </em>yang tekanannya lebih rendah sehingga terjadi uap panas dengan laju alir yang tinggi. Uap panas yang disebut dengan <em>flash </em>inilah yang menggerakkan turbin untuk mengaktifkan generator yang kemudian menghasilkan listrik. Sisa panas yang tidak terpakai masuk kembali ke <em>reservoir </em>melalui <em>injection well</em>.</li>
<div class="thumb" align="center" style="margin-top:10px;">
<div class="thumbinner" style="width:343px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/04/flashsteam.png' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Flash steam power plant</strong></div>
</div>
</div>
<li><strong><em>Binary-cycle power plant (BCPP)</em></strong><br />
BCPP menggunakan prinsip teknologi yang berbeda dengan kedua teknologi yang sebelumnya sudah ada (<em>dry steam</em> dan <em>flash steam</em>). Pada BCPP, air panas atau uap panas yang berasal dari sumur produksi (<em>production well</em>) tidak pernah menyentuh turbin. Air panas bumi digunakan untuk memanaskan apa yang disebut dengan <em>working fluid</em> pada <em>heat exchanger</em>. Temperatur <em>working fluid</em> kemudian akan meningkat dan menghasilkan uap berupa <em>flash</em>. Uap yang dihasilkan di <em>heat exchanger</em> dialirkan untuk memutar turbin yang selanjutnya menggerakkan generator untuk menghasilkan sumber daya listrik. Uap panas yang dihasilkan di <em>heat exchanger</em> inilah yang disebut sebagai <em>secondary (binary) fluid</em>. <em>Binary cycle power plant</em> merupakan sistem aliran tertutup karena tidak ada materi yang dilepas ke atmosfer. Keunggulan dari BCPP ialah pengoperasiannya yang dapat dilakukan pada suhu rendah, yaitu sekitar 90-175°C.</li>
<div class="thumb" align="center" style="margin-top:10px;">
<div class="thumbinner" style="width:343px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/04/binary.png' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Binary cycle power plant</strong></div>
</div>
</div>
</ol>
<p>Kelebihan energi geotermal dibandingkan dengan sumber energi lainnya ialah sifat energi geotermal yang bersih, bahkan terbersih jika dibandingkan minyak bumi, batubara, dan nuklir. Hal ini dikarenakan emisi pembangkit geotermal sangatlah rendah, dan bahkan secara teoritis emisinya sama dengan nol. Walaupun begitu, energi geotermal tetap mempunyai kekurangan yaitu biaya instalasi awalnya yang sangat mahal.</p>
<h3>Geotermal di Indonesia</h3>
<p>Di Indonesia, energi geotermal belum dimanfaatkan dengan baik. Sebagian besar sumber energi geotermal hanya dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan hanya sedikit yang dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik seperti Wayang Windu yang terdapat di Pangalengan, Jawa Barat. Padahal, dengan meningkatnya kebutuhan energi dunia ditambah lagi dengan semakin tingginya kesadaran akan kebersihan dan keselamatan lingkungan, maka energi geotermal akan mempunyai masa depan yang cerah. </p>
<p>Salah satu perusahaan energi dunia yang mengelola energi geotermal di Indonesia ialah Chevron, dengan dua unit geotermalnya yang dibangun di daerah Garut dan Sukabumi, Jawa Barat. Perusahaan-perusahaan energi nasional sendiri belum melakukan pemanfaatan yang cukup signifikan. Karena itu, energi geotermal di Indonesia hendaknya mendapat perhatian yang lebih baik agar pemanfaatannya dapat menjadi lebih optimal mengingat banyaknya sumber geotermal di sepanjang Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Tidak menutup kemungkinan bahwa kelak Indonesia dapat menjadi negara pengekspor listrik. </p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://www.pertamina.com">http://www.pertamina.com</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/04/energi-geotermal/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Produksi Paraxylene dan Terephthalic Acid</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/03/produksi-paraxylene-dan-terephthalic-acid/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/03/produksi-paraxylene-dan-terephthalic-acid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 Mar 2008 16:04:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<category><![CDATA[process design]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/12/produksi-paraxylene-dan-terephthalic-acid/</guid>
		<description><![CDATA[Reformasi katalitik naphta menghasilkan campuran xylene yang terdiri dari paraxylene, ortoxylene, metaxylene, dan ethylbenzene.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:202px;"><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/paraxylene.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Kilang UP IV Pertamina Cilacap.</strong> Paraxylene di PERTAMINA dihasilkan oleh Kilang Paraxylene PERTAMINA UP IV Cilacap. Kapasitas produksi kilang tersebut ialah 270.000 ton/tahun.</div>
</div>
</div>
<p>Xylene adalah hidrokarbon aromatik yang terdiri dari benzen yang berikatan dengan dua metil dan dapat diproduksi melalui reformasi katalitik naphta. Reformasi katalitik naphta menghasilkan campuran xylene yang terdiri dari <i>paraxylene </i>(p-xylene), <i>ortoxylene </i>(o-xylene), <i>metaxylene </i>(m-xylene), dan <i>ethylbenzene</i>. P-xylene adalah isomer yang bernilai jual paling tinggi karena dapat digunakan sebagai bahan baku pada produksi <i>terephthalic acid</i> pada pabrik polyester.<br />
<center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/tabel_xylene.png' alt='NBP Xylene' /></center></p>
<p>Masalah utama dari pemisahan p-xylene dari m-xylene dan o-xylene ialah dekatnya nilai titik didih ketiga senyawa tersebut yang menyebabkan sulitnya dilakukan distilasi sebagai metode pemisahan. Saat ini telah banyak berkembang teknik untuk memisahkan p-xylene dari kedua isomernya dan sejarah perkembangan teknik pemisahan tersebut diawali dengan <strong>kristalisasi</strong>. Teknik pemisahan melalui kristalisasi memiliki beberapa kekurangan yaitu hanya dapat dilakukan pada skala yang kecil dan reliabilitas alat-alat yang digunakan rendah. Teknik pemisahan lain yang berkembang ialah <strong>adsorpsi selektif</strong>. Saat ini, 90% produksi p-xylene dunia menggunakan teknik adsorpsi selektif. </p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/iupac-cyclic.png' alt='IUPAC Cyclic' /></center></p>
<h3>Pemisahan Paraxylene</h3>
<ol>
<li><strong>Kristalisasi</strong><br />
<i>CrystPXsm</i> menerapkan teknik kristalisasi 2 tahap dan merupakan hasil pengembangan teknologi awal pemishan p-xylene dengan kristalisasi. Umpan yang berupa campuran xylene dialirkan ke kristalisator tahap pertama. Pada kristalisator tahap pertama terjadi penurunan temperatur sehingga p-xylene yang memiliki titik beku tertinggi membentuk kristal, sedangkan isomer lainnya tetap berfasa cair. Campuran cairan dan kristal tersebut kemudian dialirkan ke sentrifugator sehingga terjadi pengendapan kristal p-xylene membentuk <i>slurry</i>. </p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2007/12/crystalization_xylene.gif' alt='Xylene Crystalization' /></center></p>
<p>Cairan yang terdiri dari o-xylene dan m-xylene dialirkan ke isomerator untuk menghasilkan lebih banyak p-xylene, sedangkan slurry dialirkan ke kolom pelelehan. Pada kolom pelelehan, terjadi pemanasan sehingga kristal p-xylene meleleh. Kemudian, lelehan dialirkan ke kristalisator tahap kedua. Pada kristalisator tersebut kembali terjadi kristalisasi p-xylene. Setelah itu, campuran cairan dan kristal dialirkan ke sentrifugator dan kemudian slurry dialirkan ke bejana pelelehan. Beberapa perusahaan pengembang sejenis ialah <i>BEFS Prokem, Raytheon, BP, Sulzer</i>, dan <i>Axens</i>. </li>
<li><strong>Adsorpsi selektif</strong><br />
Pada proses adsorpsi, p-xylene dan isomer-isomernya dialirkan ke bejana unggun tetap yang berisi <i>molecular sieves</i> yang secara selektif hanya mengadsorpsi p-xylene, sedangkan isomer-isomer lainnya tidak teradsorp dan dialirkan keluar dari bejana adsorpsi. Pelarut yang dapat diregenerasi dialirkan ke bejana adsorpsi dan berfungsi untuk melarutkan p-xylene yang telah teradsorp pada molecular sieves. Setelah proses adsorpsi, pelarut dipisahkan dari p-xylene dengan cara distilasi. Rafinat yang terdiri dari m-xylene dan o-xylene diisomerisasi untuk menghasilkan lebih banyak p-xylene. Teknik pemisahan p-xylene dari isomer-isomer xylene lainnya melalui proses adsorpsi selektif telah dikembangkan oleh <i>Axen’s Eluxyl</i> dan <i>UOP’s Parex</i>.</li>
</ol>
<h3>Paraxylene di Pertamina Indonesia</h3>
<p>Paraxylene adalah senyawa hidrokarbon aromatic yang dihasilkan dari proses aromatisasi dari heavy naptha dalam unit platformer yang kemudian dipisahkan untuk memproduksi benzene dengan ekstraksi dan paraxylene dengan absorpsi. Paraxylene digunakan sebagai bahan baku untuk memproduksi PTA (<i>pure terephthalic acid</i>). Paraxylene di PERTAMINA dihasilkan oleh Kilang Paraxylene PERTAMINA UP IV Cilacap. Kapasitas produksi kilang tersebut ialah 270.000 ton/tahun. Kilang Paraxylene Cilacap didirikan pada tahun 1988 dan mulai beroperasi setelah diresmikan oleh Presiden pada tanggal 20 Desember 1990. Kapasitas total kilang ini adalah 590.000 ton/tahun dengan range produksi: <i>paraxylene</i>, <i>benzene</i>, LPG, <i>raffinate</i>, <i>heavy aromate</i> dan <i>fuel gas/excess</i>. Paraxylene adalah bahan baku untuk Plaju Aromatic Center dan dipasarkan untuk keperluan ekspor.</p>
<p>PERTAMINA ialah produsen PTA pertama di Indonesia dan sejak tahun 1986 telah memproduksi PTA di Kilang PERTAMINA UP III Plaju. Proses produksi dilaksanakan di Unit Terepthalic Acid melalui reaksi oksidasi paraxylene dengan udara yang dilanjutkan dengan reaksi hidrogenasi. Bentuk fisik PTA ialah bubuk/kristal putih yang tidak larut dalam air, chloroform, ether, dan asam asetat. PTA larut dalam alkohol dan alkali (NaOH, KOH), memiiki berat molekul 166.10, dan mudah terbakar.</p>
<p>Kapasitas produk PTA di PERTAMINA UP III Plaju ialah 225.000 ton/tahun. Kegunaan PTA antara lain ialah sebagai bahan baku utama pembuatan serat benang polyester untuk industri tekstil, bahan baku polyester chip, dan bahan baku polyester fibre yang kemudian digunakan sebagai bahan baku tekstil, ban, seatbelts, reinforcement, dan jaket tahan panas. PTA dapat juga digunakan untuk pembuatan botol PET (<i>polyethylene terephthalate</i>), PET film, dan juga <i>polyester filament</i> untuk bahan baku benang polyester.</p>
<blockquote><p><b>Sumber:</b> Arsip Pribadi, <a href="http://www.pertamina.com">PERTAMINA</a>, <a href="http://www.wikipedia.org">Wikipedia</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/03/produksi-paraxylene-dan-terephthalic-acid/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Analisis Mengenai Dampak Lingkungan</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 Feb 2008 16:09:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Tahukah teman-teman, usaha dan kegiatan apa saja yang diwajibkan untuk menyusun AMDAL? Siapa saja pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan AMDAL? ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/amdal.jpg&amp;w=150&amp;h=140&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Legalisasi pendirian pabrik kimia? Jangan pernah lupakan faktor AMDAL. Mungkin teman-teman sekalian sudah sering sekali mendengar istilah AMDAL, bahkan tahu bahwa istilah ini merupakan singkatan dari Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Namun, tahukah teman-teman usaha/kegiatan apa saja yang diwajibkan untuk menyusun AMDAL? Siapa saja pihak-pihak yang terkait dalam penyusunan AMDAL? Dan bagaimana prosedur pengajuan AMDAL? Bagi yang belum tahu mungkin ulasan di bawah ini bisa membantu. </p>
<h3>Apa yang dimaksud dengan AMDAL?</h3>
<p>Berdasarkan PP no. 27 tahun 1999, definisi AMDAL ialah <em>kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan</em>. Dokumen AMDAL terdiri dari beberapa bagian:</p>
<ol>
<li>Dokumen kerangka acuan analisis dampak lingkungan (KA-ANDAL)</li>
<li>Dokumen analisis dampak lingkungan</li>
<li>Dokumen rencana pengelolaan lingkungan hidup (RKL)</li>
<li>Dokumen rencana pemantauan lingkungan hidup (RPL)</li>
</ol>
<h3>Siapa pihak-pihak terkait dalam penyusunan AMDAL?</h3>
<ol>
<li><strong>Pemrakarsa</strong><br />
Orang atau badan hukum yang bertanggung jawab atas suatu rencana usaha/kegiatan yang akan dilaksanakan. Dalam penyusunan studi AMDAL, pemrakarsa dapat meminta jasa konsultan untuk menyusunkan dokumen AMDAL. Penyusun dokumen AMDAL harus telah memiliki sertifikat Penyusun AMDAL dan ahli di bidangnya.</li>
<li>K<strong>omisi penilai</strong><br />
Komisi yang bertugas menilai dokumen AMDAL.</li>
<li><strong>Masyarakat yang berkepentingan</strong><br />
Masyarakat yang terpengaruh atas segala bentuk keputusan dalam proses AMDAL berdasarkan alasan-alasan seperti  kedekatan jarak tinggal dengan rencana usaha dan/atau kegiatan, faktor pengaruh ekonomi, perhatian pada lingkungan hidup, dan/atau faktor pengaruh nilai-nilai atau norma yang dipercaya. Masyarakat berkepentingan dalam proses AMDAL dapat dibedakan menjadi masyarakat terkena dampak, dan masyarakat pemerhati.</li>
</ol>
<h3>Bagaimana prosedur AMDAL?</h3>
<p>Prosedur AMDAL terdiri dari 4 tahapan, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Penapisan (screening) wajib AMDAL</strong><br />
Menentukan apakah suatu rencana usaha/kegiatan wajib menyusun AMDAL atau tidak. Berdasarkan Kepmen LH no 17 tahun 2001, terdapat beberapa rencana usaha dan bidang kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL, yaitu: pertahanan dan keamanan, pertanian, perikanan, kehutanan, kesehatan, perhubungan, teknologi satelit, perindustrian, prasarana wilayah, energi dan sumber daya mineral, pariwisata, pengembangan nuklir, pengelolaan limbah B3, dan rekayasa genetika. Kegiatan yang tidak tercantum dalam daftar wajib AMDAL, tetapi lokasinya berbatasan langsung dengan kawasan lindung, termasuk dalam kategori menimbulkan dampak penting, dan wajib menyusun AMDAL. Kawasan lindung yang dimaksud adalah hutan lindung, kawasan bergambut, kawasan resapan air, kawasan sekitar waduk/danau, kawasan sekitar mata air, kawasan suaka alam, dan lain sebagainya.</li>
<li><strong>Proses pengumuman dan konsultasi masyarakat</strong><br />
Berdasarkan Keputusan Kepala BAPEDAL Nomor 08/2000, pemrakarsa wajib mengumumkan rencana kegiatannya selama waktu yang ditentukan dalam peraturan tersebut, menanggapi masukan yang diberikan, dan kemudian melakukan konsultasi kepada masyarakat terlebih dulu sebelum menyusun KA-ANDAL.</li>
<li><strong>Penyusunan dan penilaian KA-ANDAL</strong><br />
Penyusunan KA-ANDAL adalah proses untuk menentukan lingkup permasalahan yang akan dikaji dalam studi ANDAL (proses pelingkupan). Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen KA-ANDAL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian KA-ANDAL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya. Apabila dalam 75 hari komisi penilai tidak menerbitkan hasil penilaian, maka komisi penilai dianggap telah menerima kerangka acuan.</li>
<li><strong>Peyusunan dan penilaian ANDAL, RKL, dan RPL</strong><br />
Proses penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL. Penyusunan ANDAL, RKL, dan RPL dilakukan dengan mengacu pada KA-ANDAL yang telah disepakati (hasil penilaian Komisi AMDAL). Setelah selesai disusun, pemrakarsa mengajukan dokumen ANDAL, RKL dan RPL kepada Komisi Penilai AMDAL untuk dinilai. Berdasarkan peraturan, lama waktu maksimal untuk penilaian ANDAL, RKL dan RPL adalah 75 hari di luar waktu yang dibutuhkan oleh penyusun untuk memperbaiki/menyempurnakan kembali dokumennya.</li>
</ol>
<h3>Bagaimana jika usaha/kegiatan tidak diwajibkan menyusun AMDAL?</h3>
<p>Usaha/kegiatan yang tidak wajib menyusun AMDAL tetap harus melaksanakan upaya pengelolaan lingkungan (UKL) dan upaya pemantauan lingkungan (UPL). UKL dan UPL merupakan perangkat pengelolaan lingkungan hidup untuk pengambilan keputusan dan dasar untuk menerbitkan izin. melakukan usaha dan atau kegiatan.</p>
<blockquote><p>Sumber: <a href="http://www.menlh.go.id/index.php?idx=amdalnet">Situs Kementrian Lingkungan Hidup</a>, Diktat Kuliah Pengelolaan Limbah Industri TK-ITB </p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/analisis-mengenai-dampak-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Pengolahan Limbah B3</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 Jan 2008 11:43:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/</guid>
		<description><![CDATA[Limbah B3 harus ditangani khusus mengingat bahaya yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Bagaimanakah teknologi pengolahannya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/limbahb3.jpg&amp;w=100&amp;h=105&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" align="left" />Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (<em>toxicity</em>, <em>flammability</em>, <em>reactivity</em>, dan <em>corrosivity</em>) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.</p>
<p>Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:</p>
<ul>
<li><em>Primary sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah menguap</li>
<li><em>Chemical sludge</em>, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan flokulasi</li>
<li><em>Excess activated sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil proses tersebut</li>
<li><em>Digested sludge</em>, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.</li>
</ul>
<p>Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu <em>total solids residue</em> (TSR), kandungan <em>fixed residue</em> (FR), kandungan <em>volatile solids</em> (VR), kadar air (<em>sludge moisture content</em>), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas, sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia dan kandungan senyawa kimia).</p>
<p>Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri klor-alkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam-logam berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. Daftar lengkap limbah B3 dapat dilihat di <a href='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/pdf_1038452290.pdf' title='PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)'>PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)</a>. Silakan klik link tersebut untuk daftar lengkap yang juga mencakup peraturan resmi dari Pemerintah Indonesia.</p>
<p>Penanganan atau pengolahan limbah padat atau lumpur B3 pada dasarnya dapat dilaksanakan di dalam unit kegiatan industri (<em>on-site treatment</em>) maupun oleh pihak ketiga (<em>off-site treatment</em>) di pusat pengolahan limbah industri. Apabila pengolahan dilaksanakan secara <em>on-site treatment</em>, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:</p>
<ul>
<li>jenis dan karakteristik limbah padat yang harus diketahui secara pasti agar teknologi pengolahan dapat ditentukan dengan tepat; selain itu, antisipasi terhadap jenis limbah di masa mendatang juga perlu dipertimbangkan</li>
<li>jumlah limbah yang dihasilkan harus cukup memadai sehingga dapat menjustifikasi biaya yang akan dikeluarkan dan perlu dipertimbangkan pula berapa jumlah limbah dalam waktu mendatang (1 hingga 2 tahun ke depan)</li>
<li>pengolahan<em> on-site</em> memerlukan tenaga tetap (<em>in-house staff</em>) yang menangani proses pengolahan sehingga perlu dipertimbangkan manajemen sumber daya manusianya</li>
<li>peraturan yang berlaku dan antisipasi peraturan yang akan dikeluarkan Pemerintah di masa mendatang agar teknologi yang dipilih tetap dapat memenuhi standar</li>
</ul>
<h3>Teknologi Pengolahan</h3>
<p>Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling populer di antaranya ialah <em>chemical conditioning</em>, <em>solidification/Stabilization</em>, dan <em>incineration</em>.</p>
<ol>
<li><strong><em>Chemical Conditioning</em></strong><br />
Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah <em>chemical conditioning</em>. TUjuan utama dari <em>chemical conditioning</em> ialah:</p>
<ul>
<li>menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam lumpur</li>
<li>mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur</li>
<li>mendestruksi organisme patogen</li>
<li>memanfaatkan hasil samping proses <em>chemical conditioning</em> yang masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan pada proses <em>digestion</em></li>
<li>mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam keadaan aman dan dapat diterima lingkungan</li>
</ul>
<p><em>Chemical conditioning</em> terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><em>Concentration thickening</em><br />
Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan ini ialah <em>gravity thickener</em> dan <em>solid bowl centrifuge</em>. Tahapan ini pada dasarnya merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan <em>de-watering</em> selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler <em>gravity thickener</em> dan <em>centrifuge</em>, beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses <em>flotation </em>pada tahapan awal ini.</li>
<li><em>Treatment, stabilization, and conditioning</em><br />
Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah <em>lagooning</em>, <em>anaerobic digestion</em>, <em>aerobic digestion</em>, <em>heat treatment</em>, <em>polyelectrolite flocculation</em>, <em>chemical conditioning</em>, dan <em>elutriation</em>. </li>
<li><em>De-watering and drying</em><br />
<em>De-watering and drying</em> bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah <em>drying bed</em>, <em>filter press</em>, <em>centrifuge</em>, <em>vacuum filter</em>, dan <em>belt press</em>.</li>
<li><em>Disposal</em><br />
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi sebelum limbah B3 dibuang ialah <em>pyrolysis</em>, <em>wet air oxidation</em>, dan <em>composting</em>. Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah <em>sanitary landfill</em>, <em>crop land</em>, atau <em>injection well</em>.</li>
</ol>
</li>
<li><em><strong>Solidification/Stabilization</strong></em><br />
Di samping <em>chemical conditiong</em>, teknologi <em>solidification/stabilization</em> juga dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:</p>
<ol>
<li><em>Macroencapsulation</em>, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah dibungkus dalam matriks struktur yang besar</li>
<li><em>Microencapsulation</em>, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada tingkat mikroskopik</li>
<li><em>Precipitation</em></li>
<li><em>Adsorpsi</em>, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.</li>
<li><em>Absorbsi</em>, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan menyerapkannya ke bahan padat</li>
<li><em>Detoxification</em>, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang sama sekali</li>
</ol>
<p>Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah metoda <em>in-drum mixing, in-situ mixing</em>, dan <em>plant mixing</em>. Peraturan mengenai solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.</li>
<li><strong><em>Incineration</em></strong><br />
Teknologi pembakaran (<em>incineration </em>) adalah alternatif yang menarik dalam teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat  karena pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi memerlukan lahan yang relatif kecil. </p>
<p>Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (<em>heating value</em>) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3 ialah <em>rotary kiln</em>, <em>multiple hearth</em>, <em>fluidized bed</em>, <em>open pit</em>, <em>single chamber</em>, <em>multiple chamber</em>, <em>aqueous waste injection</em>, dan <em>starved air unit</em>. Dari semua jenis insinerator tersebut, <em>rotary kiln</em> mempunyai kelebihan karena alat tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.</li>
</ol>
<h3>Penanganan Limbah B3</h3>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:252px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/hazardous-container.jpg' alt='Hazardous Material Container' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption">Hazardous Material Container</div>
</div>
</div>
<p>Limbah B3 harus ditangani dengan perlakuan khusus mengingat bahaya dan resiko yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Hal tersebut termasuk proses pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutannya. Pengemasan limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak bereaksi dengan limbah yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah meledak, kemasan harus dibuat rangkap di mana kemasan bagian dalam harus dapat menahan agar zat tidak bergerak dan mampu menahan kenaikan tekanan dari dalam atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat <em>self-reactive</em> dan peroksida organik juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya. Pembantalan kemasan limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak mengalami penguraian (dekomposisi) saat berhubungan dengan limbah. Jumlah yang dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.</p>
<p>Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas 2&#215;2 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan korosi.</p>
<p>Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Namun, kita dapat merujuk peraturan pengangkutan yang diterapkan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya. Persyaratan yang harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi kecelakaan dalam kondisi pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah ke lingkungan dalam jumlah yang berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki kualitas yang cukup agar efektivitas kemasan tidak berkurang selama pengangkutan. Limbah gas yang mudah terbagak harus dilengkapi dengan <em>head shields</em> pada kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah kenaikan suhu yang cepat. Di Amerika juga diperlakukan rute pengangkutan khusus selain juga adanya kewajiban kelengkapan <em>Material Safety Data Sheets</em> (MSDS) yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam kebarakan.</p>
<p><center>
<div class="thumb">
<div class="thumbinner" style="width:428px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/secure-landfill.png' alt='Secured Landfill' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Secured Landfill.</strong> Faktor hidrogeologi, geologi lingkungan, topografi, dan faktor-faktor lainnya harus diperhatikan agar <em>secured landfill</em> tidak merusak lingkungan. Pemantauan pasca-operasi harus terus dilakukan untuk menjamin bahwa badan air tidak terkontaminasi oleh limbah B3.</div>
</div>
</div>
<p></center></p>
<h3>Pembuangan Limbah B3 (<em>Disposal</em>)</h3>
<p>Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi yang tersedia harus berakhir pada pembuangan (<em>disposal</em>). Tempat pembuangan akhir yang banyak digunakan untuk limbah B3 ialah <em>landfill </em>(lahan urug) dan <em>disposal well</em> (<em>sumur pembuangan</em>). Di Indonesia, peraturan secara rinci mengenai pembangunan lahan urug telah diatur oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan (BAPEDAL) melalui Kep-04/BAPEDAL/09/1995.</p>
<p><em>Landfill </em>untuk penimbunan limbah B3 diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: (1) <em>secured landfill double liner</em>, (2) <em>secured landfill single liner</em>, dan (3) <em>landfill clay liner</em> dan masing-masing memiliki ketentuan khusus sesuai dengan limbah B3 yang ditimbun.</p>
<p>Dimulai dari bawah, bagian dasar <em>secured landfill </em>terdiri atas tanah setempat, lapisan dasar, sistem deteksi kebocoran, lapisan tanah penghalang, sistem pengumpulan dan pemindahan lindi (<em>leachate</em>), dan lapisan pelindung. Untuk kasus tertentu, di atas dan/atau di bawah sistem pengumpulan dan pemindahan lindi harus dilapisi geomembran. Sedangkan bagian penutup terdiri dari tanah penutup, tanah tudung penghalang, tudung geomembran, pelapis tudung drainase, dan pelapis tanah untuk tumbuhan dan vegetasi penutup. <em>Secured landfill</em> harus dilapisi sistem pemantauan kualitas air tanah dan air pemukiman di sekitar lokasi agar mengetahui apakah <em>secured landfill </em>bocor atau tidak. Selain itu, lokasi <em>secured landfill </em>tidak boleh dimanfaatkan agar tidak beresiko bagi manusia dan habitat di sekitarnya.</p>
<div class="thumb tright">
<div class="thumbinner" style="width:335px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/deep-injection-well1.png' alt='Deep Injection Well' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Deep Injection Well.</strong> Pembuangan limbah B3 melalui metode ini masih mejadi kontroversi dan masih diperlukan pengkajian yang komprehensif terhadap efek yang mungkin ditimbulkan. Data menunjukkan bahwa pembuatan sumur injeksi di Amerika Serikat paling banyak dilakukan pada tahun 1965-1974 dan hampir tidak ada sumur baru yang dibangun setelah tahun 1980.</div>
</div>
</div>
<p>Sumur injeksi atau sumur dalam (<em>deep well injection</em>) digunakan di Amerika Serikat sebagai salah satu tempat pembuangan limbah B3 cair (<em>liquid hazardous wastes</em>). Pembuangan limbah ke sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3 ke dalam formasi geologi yang berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki kemampuan mengikat limbah, sama halnya formasi tersebut memiliki kemampuan menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal yang penting untuk diperhatikan dalam pemilihan tempat ialah strktur dan kestabilan geologi serta hidrogeologi wilayah setempat.</p>
<p>Limbah B3 diinjeksikan se dalam suatu formasi berpori yang berada jauh di bawah lapisan yang mengandung air tanah. Di antara lapisan tersebut harus terdapat lapisan <em>impermeable </em>seperti <em>shale </em>atau tanah liat yang cukup tebal sehingga cairan limbah tidak dapat bermigrasi. Kedalaman sumur ini sekitar 0,5 hingga 2 mil dari permukaan tanah.</p>
<p>Tidak semua jenis limbah B3 dapat dibuang dalam sumur injeksi karena beberapa jenis limbah dapat mengakibatkan gangguan dan kerusakan pada sumur dan formasi penerima limbah. Hal tersebut dapat dihindari dengan tidak memasukkan limbah yang dapat mengalami presipitasi, memiliki partikel padatan, dapat membentuk emulsi, bersifat asam kuat atau basa kuat, bersifat aktif secara kimia, dan memiliki densitas dan viskositas yang lebih rendah daripada cairan alami dalam formasi geologi.</p>
<p>Hingga saat ini di Indonesia belum ada ketentuan mengenai pembuangan limbah B3 ke sumur dalam (<em>deep injection well</em>). Ketentuan yang ada mengenai hal ini ditetapkan oleh Amerika Serikat dan dalam ketentuan itu disebutkah bahwa:</p>
<ol>
<li>Dalam kurun waktu 10.000 tahun, limbah B3 tidak boleh bermigrasi secara vertikal keluar dari zona injeksi atau secara lateral ke titik temu dengan sumber air tanah.</li>
<li>Sebelum limbah yang diinjeksikan bermigrasi dalam arah seperti disebutkan di atas, limbah telah mengalami perubahan higga tidak lagi bersifat berbahaya dan beracun.</li>
</ol>
<blockquote><p>Referensi: <strong>Pengelolaan Limbah Industri - Prof. Tjandra Setiadi</strong>, <a href="http://www.wikipedia.org"><strong>Wikipedia</strong></a>, <a href="http://www.epa.gov/"><strong>US EPA</strong></a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-limbah-b3/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Pengolahan Air Limbah</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jan 2008 09:33:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/</guid>
		<description><![CDATA[Pembuangan air limbah ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitasnya tidak memenuhi baku mutu limbah. Bagaimana proses pengolahannya?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pembuangan air limbah baik yang bersumber dari kegiatan domestik (rumah tangga) maupun industri ke badan air dapat menyebabkan pencemaran lingkungan apabila kualitas air limbah tidak memenuhi baku mutu limbah. Sebagai contoh, mari kita lihat Kota Jakarta. Jakarta merupakan sebuah ibukota yang amat padat sehingga letak <em>septic tank</em>, cubluk (balong), dan pembuangan sampah berdekatan dengan sumber air tanah. Terdapat sebuah penelitian yang mengemukakan bahwa 285 sampel dari 636 titik sampel sumber air tanah telah tercemar oleh bakteri coli. Secara kimiawi, 75% dari sumber tersebut tidak memenuhi baku mutu air minum yang parameternya dinilai dari unsur nitrat, nitrit, besi, dan mangan. </p>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:252px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/250px-trickling_filter_bed_2_w.JPG' alt='Trickling Filter' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Trickling filter.</strong> Sebuah <em>trickling filter bed</em> yang menggunakan <em>plastic media.</em></div>
</div>
</div>
<p>Bagaimana dengan air limbah industri? Dalam kegiatan industri, air limbah akan mengandung zat-zat/kontaminan yang dihasilkan dari sisa bahan baku, sisa pelarut atau bahan aditif, produk terbuang atau gagal, pencucian dan pembilasan peralatan, <em>blowdown </em>beberapa peralatan seperti <em>kettle boiler</em> dan sistem air pendingin, serta <em>sanitary wastes</em>. Agar dapat memenuhi baku mutu, industri harus menerapkan prinsip pengendalin limbah secara cermat dan terpadu baik di dalam proses produksi (<em>in-pipe pollution prevention</em>) dan setelah proses produksi (<em>end-pipe pollution prevention</em>). Pengendalian dalam proses produksi bertujuan untuk meminimalkan volume limbah yang ditimbulkan, juga konsentrasi dan toksisitas kontaminannya. Sedangkan pengendalian setelah proses produksi dimaksudkan untuk menurunkan kadar bahan peencemar sehingga pada akhirnya air tersebut memenuhi baku mutu yang sudah ditetapkan.</p>
<div style="clear: left;float: right;padding:0px 0px 5px 15px;">
<style>
.header { background : #003366; color:#333; padding: 2px; border:none; text-align: center }
.isi { background : #FFF; padding: 2px; border-bottom:black solid 1px; text-align: center }
</style>
<table border=0 cellpadding=0 cellspacing=0>
<tr>
<th class="header">Parameter</th>
<th class="header">Konsentrasi (mg/L)
<th></tr>
<tr>
<td class="isi">COD</td>
<td class="isi">100 - 300
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">BOD</td>
<td class="isi">50 - 150
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Minyak nabati</td>
<td class="isi">5 - 10
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Minyak mineral</td>
<td class="isi">10 - 50
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Zat padat tersuspensi (TSS)</td>
<td class="isi">200 - 400
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">pH</td>
<td class="isi">6.0 - 9.0
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Temperatur</td>
<td class="isi">38 - 40 [<sup>o</sup>C]
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Ammonia bebas (NH3)</td>
<td class="isi">1.0 - 5.0
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Nitrat (NO3-N)</td>
<td class="isi">20 - 30
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Senyawa aktif biru metilen</td>
<td class="isi">5.0 - 10
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Sulfida (H2S)</td>
<td class="isi">0.05 - 0.1
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Fenol</td>
<td class="isi">0.5 - 1.0
<td></tr>
<tr>
<td class="isi">Sianida (CN)</td>
<td class="isi">0.05 - 0.5
<td></tr>
</table>
<div style="font-size:0.9em;"><strong>Batasan Air Limbah untuk Industri</strong><br/>Kepmen LH No. KEP-51/MENLH/10/1995</div>
</div>
<p>Namun walaupun begitu, masalah air limbah tidak sesederhana yang dibayangkan karena pengolahan air limbah memerlukan biaya investasi yang besar dan biaya operasi yang tidak sedikit. Untuk itu, pengolahan air limbah harus dilakukan dengan cermat, dimulai dari perencanaan yang teliti, pelaksanaan pembangunan fasilitas instalasi pengolahan air limbah (IPAL) atau unit pengolahan limbah (UPL) yang benar, serta pengoperasian yang cermat.</p>
<p>Dalam pengolahan air limbah itu sendiri, terdapat beberapa parameter kualitas yang digunakan. Parameter kualitas air limbah dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu parameter organik, karakteristik fisik, dan kontaminan spesifik. Parameter organik merupakan ukuran jumlah zat organik yang terdapat dalam limbah. Parameter ini terdiri dari <em>total organic carbon</em> (TOC), <em>chemical oxygen demand</em> (COD), <em>biochemical oxygen demand</em> (BOD), minyak dan lemak (O&#038;G), dan <em>total petrolum hydrocarbons</em> (TPH). Karakteristik fisik dalam air limbah dapat dilihat dari parameter <em>total suspended solids</em> (TSS), pH, temperatur, warna, bau, dan potensial reduksi. Sedangkan kontaminan spesifik dalam air limbah dapat berupa senyawa organik atau inorganik.</p>
<h3>Teknologi Pengolahan Air Limbah</h3>
<p>Tujuan utama pengolahan air limbah ialah untuk mengurai kandungan bahan pencemar di dalam air terutama senyawa organik, padatan tersuspensi, mikroba patogen, dan senyawa organik yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme yang terdapat di alam. Pengolahan air limbah tersebut dapat dibagi menjadi 5 (lima) tahap:</p>
<ol>
<li>Pengolahan Awal (<em>Pretreatment</em>)<br />
Tahap pengolahan ini melibatkan proses fisik yang bertujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak dalam aliran air limbah. Beberapa proses pengolahan yang berlangsung pada tahap ini ialah <em>screen and grit removal</em>, <em>equalization and storage</em>, serta <em>oil separation</em>.</li>
<li>Pengolahan Tahap Pertama (<em>Primary Treatment</em>)<br />
Pada dasarnya, pengolahan tahap pertama ini masih memiliki tujuan yang sama dengan pengolahan awal. Letak perbedaannya ialah pada proses yang berlangsung. Proses yang terjadi pada pengolahan tahap pertama ialah <em>neutralization</em>, <em>chemical addition and coagulation</em>, <em>flotation</em>, <em>sedimentation</em>, dan <em>filtration</em>.</li>
<li>Pengolahan Tahap Kedua (<em>Secondary Treatment</em>)<br />
Pengolahan tahap kedua dirancang untuk menghilangkan zat-zat terlarut dari air limbah yang tidak dapat dihilangkan dengan proses fisik biasa. Peralatan pengolahan yang umum digunakan pada pengolahan tahap ini ialah <em>activated sludge</em>, <em>anaerobic lagoon</em>, <em>tricking filter</em>, <em>aerated lagoon</em>, <em>stabilization basin</em>, <em>rotating biological contactor</em>, serta <em>anaerobic contactor and filter</em>.</li>
<li>Pengolahan Tahap Ketiga (<em>Tertiary Treatment</em>)<br />
Proses-proses yang terlibat dalam pengolahan air limbah tahap ketiga ialah <em>coagulation and sedimentation</em>, <em>filtration</em>, <em>carbon adsorption</em>, <em>ion exchange</em>, <em>membrane separation</em>, serta <em>thickening gravity or flotation</em>.</li>
<li>Pengolahan Lumpur (<em>Sludge Treatment</em>)<br />
Lumpur yang terbentuk sebagai hasil keempat tahap pengolahan sebelumnya kemudian diolah kembali melalui proses <em>digestion or wet combustion</em>, <em>pressure filtration</em>, <em>vacuum filtration</em>, <em>centrifugation</em>, <em>lagooning or drying bed</em>, <em>incineration</em>, atau <em>landfill</em>.</li>
</ol>
<h3>Pemilihan Teknologi</h3>
<p>Pemilihan proses yang tepat didahului dengan mengelompokkan karakteristik kontaminan dalam air limbah dengan menggunakan indikator parameter yang sudah ditampilkan di tabel di atas. Setelah kontaminan dikarakterisasikan, diadakan pertimbangan secara detail mengenai aspek ekonomi, aspek teknis, keamanan, kehandalan, dan kemudahan peoperasian. Pada akhirnya, teknologi yang dipilih haruslah teknologi yang tepat guna sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah. Setelah pertimbangan-pertimbangan detail, perlu juga dilakukan studi kelayakan atau bahkan percobaan skala laboratorium yang bertujuan untuk:</p>
<ol>
<li>Memastikan bahwa teknologi yang dipilih terdiri dari proses-proses yang sesuai dengan karakteristik limbah yang akan diolah.</li>
<li>Mengembangkan dan mengumpulkan data yang diperlukan untuk menentukan efisiensi pengolahan yang diharapkan.</li>
<li>Menyediakan informasi teknik dan ekonomi yang diperlukan untuk penerapan skala sebenarnya.</li>
</ol>
<div class="thumb tleft">
<div class="thumbinner" style="width:252px;"><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/01/250px-primary_sedimentation_tank1_w.JPG' alt='Sedimentation' class="thumbimage" />
<div class="thumbcaption"><strong>Sedimentation.</strong> Sebuah<em> primary sedimentation tank</em> di sebuah unit pengolahan limbah domestik. <em>Sedimentation tank</em> merupakan salah satu unit pengolahan limbah yang sangat umum digunakan.</div>
</div>
</div>
<p><em>Bottomline</em>, perlu kita semua sadari bahwa limbah tetaplah limbah. Solusi terbaik dari pengolahan limbah pada dasarnya ialah menghilangkan limbah itu sendiri. Produksi bersih (<em>cleaner production</em>) yang bertujuan untuk mencegah, mengurangi, dan menghilangkan terbentuknya limbah langsung pada sumbernya di seluruh bagian-bagian proses dapat dicapai dengan penerapan kebijaksanaan pencegahan, penguasaan teknologi bersih, serta perubahan mendasar pada sikap dan perilaku manajemen. <em>Treatment </em>versus <em>Prevention</em>? Mana yang menurut teman-teman lebih baik?? Saya yakin kita semua tahu jawabannya. <em>Reduce, recyle, and reuse.</em></p>
<blockquote><p>Referensi: <strong>Pengelolaan Limbah Industri - Prof. Tjandra Setiadi</strong>, <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Sewage_treatment"><strong>Wikipedia</strong></a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/01/teknologi-pengolahan-air-limbah/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Alpukat dalam Tangki Bahan Bakar Biodiesel</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2007/12/alpukat-dari-dapur-ke-tangki-bahan-bakar/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2007/12/alpukat-dari-dapur-ke-tangki-bahan-bakar/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 26 Dec 2007 20:13:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Wahyu Hidayat</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2007/12/alpukat-dari-dapur-ke-tangki-bahan-bakar/</guid>
		<description><![CDATA[Alpukatnya enak? Pernahkah teman-teman mendengar biodiesel dari alpukat? Buah yang sering kita konsumsi dalam bentuk juice atau potongan-potongan kecil dalam es campur. ]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/alpukat.jpg&amp;w=200&amp;h=210&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Saat ini, hampir 80% kebutuhan energi dunia dipenuhi oleh bahan bakar fosil. Padahal, seperti kita ketahui, penggunaan bahan bakar fosil menimbulkan dampak yang negatif bagi lingkungan karena turut berkontribusi terhadap timbulnya <em>global warming</em>. Oleh karena itu, sudah saatnya kita melepaskan diri dari ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mulai beralih ke bahan bakar alternatif. Salah satu bahan bakar alternatif tersebut yaitu biodiesel. </p>
<p>Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari <em>alkil ester</em> rantai pendek yang diperoleh melalui trans-esterifikasi minyak nabati atau lemak hewan. Nama jarak pagar, malapari, sawit tentunya sudah familiar bagi kita sebagai sumber biodiesel yang populer di Indonesia saat ini. Namun, pernahkah teman-teman mendengar <strong>biodiesel dari alpukat</strong>? Buah yang sering kita konsumsi dalam bentuk juice atau potongan-potongan kecil dalam es campur. </p>
<p>Bagi penjaja es campur, mungkin biji alpukat hanya menjadi jatah keranjang sampah. Setelah dagingnya diambil, biji kemudian dibuang percuma. Namun beberapa tahun kedepan, biji <em>Persea americana</em> pasti bakal jadi rebutan. Minyak biji alpukat mengandung <em>fatty acid methyl esters</em> yang berpotensi sebagai bahan bakar alternatif: avocado biodiesel. Alpukat memiliki kandungan minyak yang cukup tinggi. Pada tabel di bawah ini akan ditunjukkan perolehan minyak/ha lahan dari beberapa tumbuhan.</p>
<div style="clear: left;float: left;padding:0px 15px 5px 0px;">
<style>
.header { font-weight:bold; padding: 2px; border:none; text-align: center }
.isi { background : #FFF; padding: 2px; border-bottom:black solid 1px; text-align: center }
</style>
<table border=0 cellpadding=0 cellspacing=0>
<tr>
<th class="header">Tanaman</th>
<th class="header">Perolehan<br/>[kg/ha]</th>
<th class="header">Perolehan<br/>[liter/ha]</th>
</tr>
<tr>
<td class="isi">keledai</td>
<td class="isi">375</td>
<td class="isi">446</td>
</tr>
<tr>
<td class="isi">jarak</td>
<td class="isi">1590</td>
<td class="isi">1892</td>
</tr>
<tr>
<td class="isi">bunga matahari</td>
<td class="isi">800</td>
<td class="isi">952</td>
</tr>
<tr>
<td class="isi">alpukat</td>
<td class="isi">2217</td>
<td class="isi">2638</td>
</tr>
<tr>
<td class="isi">kacang tanah</td>
<td class="isi">890</td>
<td class="isi">1059</td>
</tr>
<tr>
<td class="isi">sawit</td>
<td class="isi">5000</td>
<td class="isi">5950</td>
</tr>
</table>
</div>
<p>Dari tabel, dapat dilihat bahwa kandungan minyak alpukat lebih tinggi dibandingkan tanaman-tanaman seperti kedelai, jarak, bunga matahari, dan kacang tanah. Namun, kandungan minyak alpukat masih lebih rendah dibandingkan sawit.</p>
<p>Image <em>&#8220;sebutir buah sejuta manfaat&#8221;</em> sesaat lagi bakal disandang alpukat. Daging buah yang lezat berpadu dengan minyak biji yang dapat digunakan sebagai biodiesel. Kelak bisa saja mobil berbahan bakar minyak alpukat akan melintas dijalanan layaknya mobil biasa. Apakah mungkin? Jawabnya mungkin saja. Sebab hal itu sudah terjadi di Amerika Serikat sejak akhir 2004. Serombongan ekolog yang dipimpin Zak Zaidman melakukan melakukan perjalanan dari California ke Costarica berkendaraan bus berbahan bakar biodiesel alpukat. Bus keluaran sebuah pabrik di Amerika serikat tahun 1974 itu diisi dengan 130 liter minyak alpukat. Bus melintasi Guatemala, El Savador, Honduras, Nicaragua, dan terakhir Costarica dengan bahan bakar tersisa 55 liter. Hal itu karena kadar belarang dalam Persea americana kurang dari 15 ppm (kadar belerang solar umumnya 1500-4100 ppm) sehingga pembakaran berlangsung sempurna. Emisi CO dan CO2 bisa ditekan sehingga polusi udara pun bisa dikurangi.</p>
<p>Beragam penelitian mendukung penggunaan minyak alpukat sebagai biodiesel. The National Biodiesel Foundation (NBF), telah meneliti buah alpukat sebagai bahan bakar sejak 1994. Joe Jobe, executive director NBF, memaparkan bahwa alpukat mengandung lemak nabati yang tersusun dari senyawa alkyl ester. Bahan ester itu memiliki komposisi sama dengan bahan bakar diesel solar, bahkan lebih baik nilai cetane nya dibandingkan solar sehingga pantas bila gas buangannya pun lebih ramah lingkungan.</p>
<p>Indonesia sebagai negara agraris, kaya akan berbagai jenis tanaman. Alpukat hanyalah satu dari berbagai jenis tanaman tersebut. Masih banyak tanaman-tanaman lain yang berpotensi digunakan sebagai sumber biodiesel. Bahkan mungkin tanaman-tanaman tersebut ada di sekitar kita, tetapi kita tidak menyadari potensi yang dimilikinya. Semoga artikel ini bermanfaat dan dapat menambah wawasan bagi teman-teman.</p>
<blockquote><p><strong>Sumber :</strong> <a href="http://www.wikipedia.org">Wikipedia</a>, <a href="http://www.avocadosource.com/WAC1/WAC1_p159.pdf">http://www.avocadosource.com</a>, <a href="http://www.bppt.go.id">http://www.bppt.go.id</a></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2007/12/alpukat-dari-dapur-ke-tangki-bahan-bakar/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
