<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Saepul Rohman</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/author/saepul/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Mon, 07 Jun 2010 14:26:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kecipir, Tanaman Potensial di Indonesia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/05/kecipir-tanaman-potensial-di-indonesia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/05/kecipir-tanaman-potensial-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 20 May 2010 15:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2157</guid>
		<description><![CDATA[Ternyata masih ada kekayaan hayati potensial yang hampir tak tersumber-dayakan bahkan hampir terlupakan di masyarakat yaitu kecipir. Tanaman kecipir yang memiliki nama latin Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC ini merupakan tanaman asli tropika dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di beberapa daerah dikenal dengan nama Kacang belimbing (Sumatera Utara, Sumatera Barat), Kacang embing (Palembang), Jaat (Jawa Barat/ Sunda), Cipir, Kecipir (Jawa), Kelongkang (Bali), Biraro (Menado, Ternate).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: left"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/pohon_kecipir1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-2159" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/pohon_kecipir1.jpg" alt="" width="300" height="448" /></a> Satu lagi kekayaan hayati yang hampir tak tersumberdayakan bahkan hampir terlupakan di masyarakat yaitu kecipir. Kecipir atau Psophocarpus tetragonolobus (L.) DC ini merupakan tanaman asli tropika dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di beberapa daerah dikenal dengan nama Kacang belimbing (Sumatera Utara, Sumatera Barat), Kacang embing (Palembang), Jaat (Sunda), Cipir, Kecipir (Jawa), Kelongkang (Bali), Biraro (Menado, Ternate). Beberapa pendapat akademisi terhadap kecipir:</p>
<ul>
<li> An underexploited tropical plant with promising economic value !. [U.S. National Academy of Sciences, 1975]</li>
<li>A possible soybean for the tropics !. A (food) supermarket on a stalk !. [Board on Sci. &amp; Technol. for Intern. Develop., 1981]</li>
<li> A leading potential plant protein source for the future ! [Sri Kantha dan Erdman, 1984]</li>
<li> An unexploited source of (fatty) oil !. [Salunkhe dkk., 1992]</li>
</ul>
<p style="text-align: left">Sejak 1975, kecipir ternyata telah diprediksikan akan sangat menjajikan di masa depan sebagai bahan hayati bernilai ekonomi tinggi dan memiliki segudang manfaat. Tetapi kenyataan saat ini keberadaannya justru tidak disadari oleh masyarakat. Oleh karena itu mari kita telusuri kembali apa itu tanaman kecipir.</p>
<p style="text-align: left"><strong>Deskripsi dan Manfaat<br />
Batang dan Umbi</strong><br />
Tanaman kecipir tumbuh merambat, membentuk semak. Tingginya bisa mencapai 3-4 m, dalam budidaya biasanya diberi penyangga, namun jika dibiarkan akan menutupi permukaan tanah. Batangnya silindris, beruas-ruas, jarang mengayu. Umbi kecipir rasanya agak manis, daging berwarna putih gading, berserat kokoh seperti apel, tetapi berbau kurang sedap. Protein umbinya (10,9 g) lima kali lebih tinggi dari kentang, gadung dan ubi jalar. Beberapa manfaat dari umbi kecipir:</p>
<ol>
<li> Umbi belum tua bisa dimakan sesudah dikukus/direbus/”dibubuy”;</li>
<li> Dapat dibuat keripik setelah direbus, diiris tipis-tipis, dan digoreng. Umbi kecipir juga dapat dimakan seperti bengkuang;</li>
<li> Di negara myanmar, umbi kecipir biasanya direbus sampai lunak dan dimakan sebagai snack bersama minyak nabati dan garam, dan</li>
<li> Sebagai obat sariawan dengan ditambah gula batu.</li>
</ol>
<p style="text-align: left"><strong> </strong></p>
<p><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/umbi.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2173" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/umbi.jpg" alt="" width="663" height="443" /></a></p>
<div id="attachment_2164" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><strong><strong><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kecipir.jpg"><img class="size-medium wp-image-2164" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kecipir-300x185.jpg" alt="kecipir" width="300" height="185" /></a></strong></strong><p class="wp-caption-text">kecipir</p></div>
<p><strong>Daun</strong><br />
Daun majemuk dengan anak daun tiga berbentuk segitiga, panjang 7,0-8,5cm, pertulangan menyirip, letak berselang-seling, warna hijau. Daun kecipir konon dapat digunakan sebagai obat sakit mata, sakit telinga, dan bisul. Daun, khususnya yang berwarna hijau gelap kaya akan provitamin A. Proteinnya (5,07,6 g) lebih tinggi dari daun singkong (6,9 g), bayam (3,6 g), daun talas (4,1 g) per 100 gramnya.</p>
<p style="text-align: left"><strong>Bunga</strong><br />
Bunganya tunggal, tipe kupu-kupu, tumbuh dari ketiak daun, kelopaknya biasanya berwarna biru pucat dan memiliki keunggulan mampu menyerbuk sendiri. Seperti bunga gambas dan bunga turi, bunga kecipir juga enak dimakan mentah sebagai salad atau lalap, direbus, maupun digoreng. Rasanya enak seperti jamur. Bunganya dapat diolah menjadi bumbu, rempah-rempah, permen, dan bahan pewarna alami. Protein bunga kecipir (5,6 g) lebih besar dari jantung pisang (1,6 g) dan bunga gambas (1,3 g) per 100 gramnya.</p>
<p style="text-align: left"><strong>Buah</strong><br />
Buah tipe polong, memanjang, berbentuk segiempat dengan sudut beringgit, panjang polong antara 5-35 cm, lebar sekitar 2,5 cm, mengandung 5-20 biji. Pemanenan dilakukan setelah tanaman berumur 80-120 hari, yaitu saat polong berumur kira-kira 21 hari terhitung sejak bunga mekar. Polong muda ,merupakan bagian tanaman yang paling banyak digunakan sebagai bahan sayuran, dapat dimakan mentah (sebagai lalap), direbus, atau dicampur sayuran lain sebagai sayur asam, sayur lodeh, urap, karedok, pecel, gado-gado. Juga dapat diolah dengan cara ditumis atau dioseng. Di Bangladesh, polong muda digoreng dan dimakan dengan ikan atau daging.</p>
<p style="text-align: left">Seratus gram polong muda mengandung vitamin A (340-595 SI), zat besi (0,2-12,0 mg), vitamin C (21-37 mg), serta vitamin dan mineral penting lain. Sebagai sayuran, polong muda tak hanya unggul dalam gizi, cita rasanya juga khas.</p>
<p style="text-align: left"><strong>Biji</strong><br />
Biji tanaman kecipir bulat dengan diameter 8-10mm, berwarna coklat hingga hitam. Berat berkisar 0,06 hingga 0,40 gram. Biji kecipir tua komposisi gizinya paling baik, meski lebih banyak digunakan sebagai benih ketimbang bahan pangan. Mengandung protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral cukup tinggi dibanding polong muda, umbi, dan daunnya.</p>
<p>Tabel komposisi proksimat biji (%-b dari bagian yang bisa dimakan)</p>
<div id="attachment_2165" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kandungan-biji-kecipir.jpg"><img class="size-medium wp-image-2165" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kandungan-biji-kecipir-300x154.jpg" alt="kandungan biji kecipir" width="300" height="154" /></a><p class="wp-caption-text">kandungan biji kecipir</p></div>
<p>Kecipir memiliki kandungan protein dan minyak/lemak yang sangat mirip  dengan kedelai. Pada lingkungan tropik yang lembab kedelai sulit  dibudidayakan dengan baik. Oleh sebab itu, kecipir lebih potensial  dibudidayakan di Indonesia dibandingkan dengan kedelai.</p>
<p>Komposisi asam lemak yang terkandung dalam kecipir adalah sebagai berikut:</p>
<div id="attachment_2166" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kandungan-asam-lemak-kecipir.png"><img class="size-medium wp-image-2166" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kandungan-asam-lemak-kecipir-300x174.png" alt="kandungan asam lemak kecipir" width="300" height="174" /></a><p class="wp-caption-text">kandungan asam lemak kecipir</p></div>
<p>Kecipir ternyata mengandung asam behenat yaitu asam lemak yang tidak diserap usus sehingga tidak menyebabkan kegemukan bila dikonsumsi banyak oleh manusia.</p>
<p>Skema pemanfaatan tanaman kecipir secara menyeluruh dapat dilihat pada gambar berikut:</p>
<div id="attachment_2167" class="wp-caption aligncenter" style="width: 673px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kecipir1.jpg"><img class="size-full wp-image-2167" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/05/kecipir1.jpg" alt="Skema Pemanfaatan Tanaman Kecipir" width="663" height="479" /></a><p class="wp-caption-text">Skema Pemanfaatan Tanaman Kecipir</p></div>
<p>Sumber:<br />
Dr. Tatang Herna S. Diktat Kuliah Industri Pangan: Kecipir. 2005</p>
<p>http://www.wikipedia.com</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2157&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/05/kecipir-tanaman-potensial-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanganan Limbah Udara Industri Pertambangan (part 2)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 15:56:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Draft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2097</guid>
		<description><![CDATA[Setelah partikel berukuran besar dapat dipisahkan. Maka, selanjutnya partikel debu berukuran lebih kecil dapat dipisahkan dengan alat - alat pemisah yang dapat menangani partikel debu berukuran diameter kurang dari 5 mm. Alat atau metode yang pada umumnya digunakan pada tahap ini adalah electrostatic precipitator, fabric flter (bag-house), dan wet collector (scrubber).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Selanjutnya, partikel debu berukuran lebih kecil dan tidak dapat dipisahkan pada tahap awal akan ditangani pada tahap akhir. Tahap ini dapat menangani partikel debu berukuran diameter kurang dari 5 mm. Alat atau metode yang pada umumnya digunakan pada tahap ini adalah electrostatic precipitator, fabric flter (bag-house), dan wet collector (scrubber). Berikut ini adalah penjelasan mengenai metode tersebut.<br />
a)	Electrostatic precipitation<br />
Alat ini memiliki teknik pemisahan partikel padat dan tetesan kecil cairan dari gas terpolusi yang paling efisien. Gas yang mengandung partikel debu dilewatkan melalui daerah yang dialiri listrik bertegangan 50.000 Volt antara dua elektroda dengan polaritas berlawanan. Efesiensi alat ini dipengaruhi oleh laju alir gas yang melalui sistem elekroda, temperatur gas, konsentrasi debu, dan ukuran partikel. Alat ini mampu memisahkan partikel berdiameter di bawah 10 nm dengan efisiensi mencapai 99,5%. Walaupun biaya instalasi dan pemeliharaan alat ini cukup mahal, namun biaya operasinya murah karena menggunakan konsumsi energi yang rendah. Rasio kebutuhan energi untuk electrostatic precipitator mendekati 50% apabila dibandingkan dengan sistem wet scrubbing dan 25% apabila dibandingkan dengan sistem bag filter. Electrostatic precipitation ini digunakan di pertambangan emas Kalgoorlie Consolidated, Australia Barat (gas mengalir melalui electrostatic precipitation sebelum dilepaskan ke atmosfer), di pabrik refinery alumina Alcoa di Kwinana, Australia Barat, dan sejumlah daerah internasional lainnya. Prinsip pemisahan alat ini dapat digambarkan sebagai berikut.</p>
<div id="attachment_2146" class="wp-caption aligncenter" style="width: 307px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara3.jpg"><img class="size-full wp-image-2146" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara3.jpg" alt="Electrostatic Precipitation" width="297" height="234" /></a><p class="wp-caption-text">Electrostatic Precipitation</p></div>
<p>b)	Fabric filters<br />
Alat ini sering digunakan sebagai unit tahap akhir filtrasi partikel debu. Lapisan kain atau tenun yang digunakan pada alat ini berfungsi untuk menahan partikel debu yang masih terkandung didalam gas. Walaupun memiliki efisiensi cukup tinggi, alat ini memiliki beberapa kekurangan, di antaranya dapat menyebabkan terjadinya penurunan tekanan gas yang melewati medium filtrasi ini dan terbentuknya lapisan partikel debu di permukaan filter yang akan mempengaruhi proses filtrasi akibat sifat bahan filter tersebut.</p>
<p>c)	Wet collector (scrubber)<br />
Venturi Scrubber menghilangkan partikel debu dan kontaminan gas tertentu dari gas aliran dengan memaksanya melewati aliran cair, menghasilkan cairan yang teratomisasi. Tinggi kecepatan diferensial di antara gas kotor dan cairan droplets menyebabkan partikel bertumbukan, kemudian akan berkelompok untuk membentuk tetesan yang lebih besar. Terakhir, tetesan cair tersebut  dilemparkan pada dinding alat pemisah dan gas bersih pun dikeluarkan melalui puncak scrubber. Sebelum gas kotor dilepaskan ke dalam scrubber, suhu harus direndahkan di bawah 1000C, dan gas bersih harus dipanaskan kembali sebelum dikeluarkan . Air dipompakan kembali melewati sistem ketika scrubber tidak mampu lagi menahan partikel debu dan bahan yang terlarut. Proses ini beroperasi dengan efisiensi 85% untuk pemidahan sulfur dioksida (SO2), 30% untuk pe Proses ini membedah efisiensi sebanyak sekitar 85% untuk pemisahan dioksida belerang, 30% untuk pemisahan  nitrogen oksida (NO), dan 99% untuk pemisahan debu/partikulat. Skema operasi alat ini ditunjukkan dalam gambar berikut.</p>
<div id="attachment_2147" class="wp-caption aligncenter" style="width: 292px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara4.jpg"><img class="size-full wp-image-2147" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara4.jpg" alt="Skema Operasi ventury scrubber" width="282" height="223" /></a><p class="wp-caption-text">Skema Operasi ventury scrubber</p></div>
<p>Sejauh ini, teknologi untuk mengontrol pencemaran sebagian besar didesain unuk memisahkan partikel debu dari emisi gas. Pemisahan polutan gas yang lain pun penting dilakukan dengan teknologi yang spesifik. Misalnya pada pemisahan sulfur oksida (SO2), injeksi batu kapur sangat umum digunakan. Proses tersebut dilakukan di mana batu kapur digiling dengan batubara dan dimasukkan ke dalam tungku perapian. Gas polutan dipanaskan terlebih dahulu dan dimasukkan ke dalam tungku perapian, dimana batu kapur akan bereaksi dengan belerang dioksida (SO2) dan oksigen (O2)untuk menghasilkan kalsium sulfat (CaSO4 atau gips). Proses ini dapat memisahkan sekitar 20-30% sulfur oksida. Senyawa sulfat, abu terbang, dan kapur yang tidak bereaksi mengalir melalui pre-heater  sebelum memasuki wet scrubber, agar senyawa tersebut dapat mengalami kontak dengan air . Efisiensi pemisahan yang dapat tercapai adalah sebesar 80% untuk SO2 dan 98% untuk zat partikulat.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://www.sciencedirect.com</p>
<p>http://www.natural-resources.org/environment</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2097&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Penanganan Limbah Udara Industri Pertambangan (part 1)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-1/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Apr 2010 15:35:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Draft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2092</guid>
		<description><![CDATA[Limbah udara merupakan salah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh industri pertambangan. Limbah tersebut dihasilkan sebagai emisi atmosferik dari industri tersebut. Ada dua tahap dalam penanganan limbah udara dari industri pertambangan. Tahap awal dikhususkan menangani partikel debu yang berukuran cukup besar berskala milimeter. Alat yang sering digunakan untuk menangani debu pada tahap awal adalah settling chamber (ruang pengendapan) dan siklon, yang dijelaskan sebagai berikut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Limbah udara merupakan salah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh industri pertambangan. Limbah tersebut dihasilkan sebagai emisi atmosferik dari industri tersebut. Jenis komponen yang termasuk ke dalam emisi tersebut di antaranya adalah sebagai berikut :</p>
<p>•	Debu/partikulat<br />
•	Gas yang diproduksi oleh proses pembakaran, seperti CO, CO2, NOx, SO2<br />
•	Gas alam, seperti metan, yang banyak dihasilkan pertambangan batu bara dan sedikit pertambangan logam<br />
•	Coolants, seperti CFCs, yang berasal dari air-conditioners</p>
<p>Dari sejumlah komponen tersebut, emisi debu/partikulat memiliki porsi terbesar dalam kandungan limbah udara kegiatan pertambangan. Debu, pada khususnya, memiliki ukuran partikel 1-10000 mikrometer. Debu tersebut dihasilkan dari aktivitas mekanik pertambangan, seperti pemecahan atau penggerusan batuan, peledakan area tambang, maupun penanganan massa hasil pertambangan. Pada umumnya, sumber utama dari limbah udara tersebut adalah akses pertambangan yang tak diaspal, aktivitas penggalian, pembuangan, operasi sabuk conveyer, serta pembukaan lahan pertambangan.</p>
<p>Adapun penanganan debu tersebut dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap awal dan akhir, berdasarkan besar partikel debu yang dipisahkan.</p>
<p>Tahap awal dikhususkan menangani partikel debu yang berukuran cukup besar berskala milimeter. Alat yang sering digunakan untuk menangani debu pada tahap awal adalah settling chamber (ruang pengendapan) dan siklon, yang dijelaskan sebagai berikut.</p>
<p style="text-align: left">
<div id="attachment_2142" class="wp-caption alignleft" style="width: 325px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2142" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara1-300x197.jpg" alt="Gambar Settling Chamber" width="315" height="227" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar Settling Chamber</p></div>
<p>a)	Settling chamber<br />
Alat ini merupakan teknologi penanganan debu yang telah diterapkan sejak lama. Prinsip dari alat ini adalah pengendapan berdasarkan gaya gravitasi. Alat ini terdiri dari sebuah chamber (kamar/ruang) besar yang terintegrasi dalam aliran pipa gas pertambangan yang mengandung partikel debu yang akan dipisahkan. Keberadaan ruang tersebut akan m</p>
<p style="text-align: left">engurangi kecepatan gas yang melewatinya sehingga partikel debu yang cukup besar akan terendapkan di dasar chamber tersebut. Partikel debu yang dapat dipisahkan oleh alat ini berukuran lebih besar dari 60 mm.  Alat inipun kemudian difu</p>
<p style="text-align: left">ngsikan sebagai pembersih awal (preliminary cleaners) gas dari sistem penanganan debu yang ada. Alat ini dapat dipasang sejumlah tray pada tiap sisi chamber untuk mempersingkat waktu pengendapan partikel debu yang akan dipisahkan sehingga efisiensi pemisahan dan pengumpulan debu menjadi lebih besar. Settling chamber ini memiliki biaya instalasi dan operasi yang murah, namun juga memiliki efisiensi pengumpulan debu overall  yang cukup rendah. Berikut ini adalah skema operasi settling chamber yang pada umumnya digunakan oleh industri pertambangan</p>
<p>b)	Cyclone (siklon)</p>
<div id="attachment_2143" class="wp-caption alignright" style="width: 251px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara2.jpg"><img class="size-full wp-image-2143" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2010/04/limbah-udara2.jpg" alt="Skema Operasi Siklon" width="241" height="234" /></a><p class="wp-caption-text">Skema Operasi Siklon</p></div>
<p>Alat ini menggunakan gaya sentrifugal sebagai driving force pemisahan debu dari gas yang akan dihasilkan kegiatan pertambangan. Alat ini memiliki biaya instalasi dan operasi yang rendah, serta memiliki dimensi yang relatif kecil untuk mendukung efisiensinya. Keuntungan tersebut membuat siklon banyak digunakan industri pertambangan untuk mengumpulkan partikel debu yang akan menimbulkan pencemaran udara. Siklon yang berdiameter kecil akan memberikan gaya sentrifugal sampai 2500 kali dibandingkan dengan gaya gravitasi pada settling chamber. Efisiensi siklon dapat ditingkatkan dengan pengurangan diameter, penambahan panjang siklon, dan penambahan rasio siklon terhadap diameter keluaran gas. Contoh industri yang menggunakan siklon ini adalah Ampol Lytton, industri petroleum refinery di Brisbane, Queensland, dan Alcoa, industri refinery bauksit di Kwinana, Western Australia. Berikut ini merupakan skema operasi siklon tipe vertikal-tangensial inlet yang umum digunakan.</p>
<p>Sumber:</p>
<p>http://www.sciencedirect.com</p>
<p>http://www.natural-resources.org/environment</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2092&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/penanganan-limbah-udara-industri-pertambangan-part-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Landfill (part 2) : Pemanfaatan gas landfill untuk mikroturbin</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-2-pemanfaatan-gas-landfill-untuk-mikroturbin/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-2-pemanfaatan-gas-landfill-untuk-mikroturbin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 16:00:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Draft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2038</guid>
		<description><![CDATA[Mikroturbin merupakan teknologi pemulihan energi landfill gas (LFG) terutama pada landfill yang kecil dimana pembangkit listrik yang besar tidak layak disebabkan faktor ekonomi dan jumlah LFG yang sedikit. Beberapa proyek LFG mikroturbin telah dilaksanakan dengan mempertimbangkan keuntungan dan resikonya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mikroturbin merupakan teknologi pemulihan energi landfill gas (LFG) terutama pada landfill yang kecil dimana pembangkit listrik yang besar tidak layak disebabkan faktor ekonomi dan jumlah LFG yang sedikit. Beberapa proyek LFG mikroturbin telah dilaksanakan dengan mempertimbangkan keuntungan dan resikonya.<br />
Mikroturbin diperkenalkan sebagai teknologi distribution generation (DG) yang secara umum hanya cocok digunakan pada jumlah aplikasi yang relatif kecil (kurang dari 1 MW) dan didesain untuk kebutuhan energi di sekitar tempat mikrotubin berada. 30 kW mikroturbin dapat menggerakkan motor 40 hp atau menyediakan kebutuhan listrik pada 20 rumah.</p>
<p><strong>Teknologi mikroturbin</strong><br />
Teknologi mikroturbin didasarkan pada desain turbin dengan pembakaran tinggi yang digunakan pada energi listrik dan industri penerbangan. Secara umum mikroturbin bekerja sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Bahan bakar dialirkan ke bagian combustor mikroturbin pada tekanan 70 – 80 psig,</li>
<li> Udara dan bahan bakar dibakar pada combustor, menghasilkan kalor yang menyebabkan gas pembakaran keluar,</li>
<li> Gas pembakaran yang keluar akan mengoperasikan generator, lalu generator akan menghasilkan listrik,</li>
<li> Untuk menambah efisiensi total, mikroturbin biasa dioperasikan dengan recuperator yang mampu melakukan pemanasan awal udara pembakaran menggunakan gas keluaran turbin. Mikroturbin juga cocok dioperasikan dengan waste heat recovery unit untuk memanaskan air.</li>
</ol>
<p>Secara umum skema proses mikroturbin diilustrasikan di bawah ini.</p>
<div id="attachment_2039" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/mikroturbin1.jpg"><img class="size-medium wp-image-2039" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/mikroturbin1-300x225.jpg" alt="Gambar 1 Skema mikroturbin" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 1 Skema mikroturbin</p></div>
<p>Secara umum instalasi mikroturbin LFG-fired mempunyai komponen antara lain:<br />
•	Kompresor LFG<br />
•	Peralatan prapengolahan LFG (untuk uap air, siloxanes (R2SiO), dan pemindah partikulat)<br />
•	Mikroturbin<br />
•	Pusat kontrol motor<br />
•	Switchgear<br />
•	Transformer step-up</p>
<div id="attachment_2040" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/mikroturbin2.jpg"><img class="size-medium wp-image-2040" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/mikroturbin2-300x225.jpg" alt="Gambar 2 Cross section mikroturbin" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 2 Cross section mikroturbin</p></div>
<p>Prapengolahan bahan bakar diperlukan tergantung pada karakteristik LFG dan pembuat mikroturbin itu sendiri. Kadang-kadang gas didinginkan untuk menghilangkan uap air dan mengondensasikan pengotor. Lalu dipanaskan ulang untuk menyediakan bahan bakar di atas temperatur dew point. Beberapa pembuat mikroturbin menambahkan langkah absorpsi menggunakan karbon aktif untuk menghilangkan semua pengotor yang terlihat.</p>
<p><strong>Aplikasi Mikroturbin</strong><br />
Mikroturbin menyediakan keuntungan lebih dibandingkan teknologi pembangkit listrik lainnya untuk landfill dengan kondisi:<br />
•	Laju alir LFG rendah,<br />
•	LFG memilki kandungan metana yang rendah,<br />
•	Memiliki pengemisi udara, terutama pengolah NOx,<br />
•	Listrik yang digunakan hanya pada fasilitas onsite (pada daerah sekitar mikroturbin berada),<br />
•	Penyediaan listrik tidak bisa dan harga listrik tinggi,<br />
•	Air panas dibutuhkan pada lokasi yang dekat mikoturbin.</p>
<p><strong>Keuntungan dan Kerugian<br />
</strong>Keuntungan mikroturbin yang memanfaatkan gas metan hasil proses landfill  dibandingkan dengan teknologi utilisasi LFG lain adalah sebagai berikut:<br />
<span style="text-decoration: underline">1.	Portable and easily sized<br />
</span>Mikroturbin dapat ditempatkan pada tempat yang berkapasitas kecil dengan beberapa unit mikroturbin. Sehingga satu atau banyak mikroturbin dapat diatur menyesuaikan laju alir gas dan peralatan lain pada tempat tersebut. Mikroturbin juga dapat dengan mudah dipindahkan ke tempat lain saat produksi gas berkurang.</p>
<p><span style="text-decoration: underline">2.	Fleksibel<br />
</span>Mikroturbin cocok digunakan pada landfill yang kecil dan telah lama digunakan di mana teknologi pembangkit tenaga listrik tradisional tidak lagi mendukung kualitas dan kuantitas LFG</p>
<p><span style="text-decoration: underline">3.	Compact and fewer moving parts<br />
</span>Ukuran mikroturbin kira-kira sebesar lemari es besar dan membutuhkan operasi dan maintenance yang minimum. Penggunaan udara dan udara pendingin generator akan meminimumkan penggunaan pelumas dan sistem air pendingin.</p>
<p><span style="text-decoration: underline">4.	Polusi emisi yag rendah<br />
</span>Mikroturbin dapat membakar bersih daripada mesin reciprocating lain. Contohnya tingkat emisi NOx untuk mikroturbin antara dari 1 -10%.</p>
<p><span style="text-decoration: underline">5.	Mampu membakar dengan kandungan metana rendah<br />
</span>Mikroturbin dapat beroperasi pada LFG dengan kandungan metana 35% atau kurang dari 30%, sedangkan reciprocating beroperasi dengan kandungan metana 40%.</p>
<p><span style="text-decoration: underline">6.	Kemampuan untuk menghasilkan kalor dan air panas<br />
</span>Kebanyakan pembuat mikroturbin menawarkan generator air panas untuk menghasilkan air panas (lebih dari 200oF) dari kalor yang keluar dari gas cerobong. Pilihan ini akan menggantikan bahan bakar yang mahal seperti propana yang dibutuhkan untuk memanaskan air pada cuaca dingin.</p>
<p>Namun demikian, pemilihan teknologi ini sebagai pilihan utilitas LFG memiliki beberapa kerugian sebagai berikut :</p>
<ol>
<li> Mikroturbin mempunyai efisiensi yang rendah dari mesin reciprocating dan tipe turbin lainnya. Mikrotubin mengonsumsi sekitar 35% bahan bakar per kWh yang dihasilkan (menghasilkan laju kalor yang besar).</li>
<li> Mikroturbin sensitif terhadap kontaminasi siloxane dan penyediaan LFG ke mikroturbin membutuhkan prapengolahan daripada sumber pembangkit listrik lain.</li>
<li> Dikarenakan laju alir rendah, maka dibutuhkan kompresor bertekanan tinggi (capital cost yang tinggi).</li>
<li> Mikroturbin belum terbukti dapat beroperasi pada jangka panjang.</li>
</ol>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li> Tchobanoglous, G. Et.al. 1993. Integrated Solid Waste Management. McGraw Hill, Inc</li>
<li> Fukohani, Sildarista, dkk. 2006. Rancang Pabrik. Pabrik Biogas dari Sampah Padat Perkotaan Kota Bandung. Program Studi Teknik Kimia ITB.</li>
<li> http://en.wikipedia.org/wiki/Biogas</li>
<li> http://en.wikipedia.org/wiki/Methane</li>
</ul>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2038&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-2-pemanfaatan-gas-landfill-untuk-mikroturbin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Landfill (part 1): Unit Pengolahan Leachate dan biogas</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-1-unit-pengolahan-leachate-dan-biogas/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-1-unit-pengolahan-leachate-dan-biogas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Apr 2010 15:35:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Draft]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2033</guid>
		<description><![CDATA[Jika tidak dilakukan secara benar, landfill dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan.Oleh sebab itu, dalam sistem landfill yang baik diperlukan adanya unit pengolahan air lindi dan unit pengolahan biogas.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2035" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2035 " src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/biogas-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /><p class="wp-caption-text">Gambar 2 Skema pengolahan sampah dengan landfill yang menghasilkan gas</p></div>
<p>Secara sepintas, metode landfill relatif mudah dilakukan dan bisa menampung sampah dalam jumlah besar. Akan tetapi, anggapan ini kurang tepat karena jika tidak dilakukan secara benar, landfill dapat menimbulkan masalah yang berkaitan dengan kesehatan dan lingkungan. Masalah utama yang sering timbul adalah bau dan pencemaran air lindi (leachate) yang dihasilkan. Selain itu, gas metana yang dihasilkan oleh landfill dan tidak dimanfaatkan akan menyebabkan efek pemanasan global. Jika termampatkan di dalam tanah, gas metana bisa meledak. Oleh sebab itu, dalam sistem landfill yang baik diperlukan adanya unit pengolahan air lindi dan unit pengolahan biogas.</p>
<p><strong>Unit Pengolahan Air Lindi (leachate)</strong><br />
Air lindi merupakan air dengan konsentrasi kandungan organik yang tinggi yang terbentuk dalam landfill akibat adanya air hujan yang masuk ke dalam landfill. Air lindi merupakan cairan yang sangat berbahaya karena selain kandungan organiknya tinggi, juga dapat mengandung unsur logam (seperti Zn, Hg). Jika tidak ditangani dengan baik, air lindi dapat menyerap dalam tanah sekitar landfill kemudian dapat mencemari air tanah di sekitar landfill. Air lindi memerlukan perlakuan awal, yaitu dengan menghilangkan kandungan inorganik dalam air lindi. Setelah kandungan inorganik dalam air lindi dapat dihilangkan atau dikurangi, kemudian air lindi dapat diolah lebih lanjut untuk menghilangkan kadar kandungan organiknya.<br />
Pengolahan air lindi dapat dilakukan dengan berbagai alternatif seperti :<br />
Resirkulasi air lindi kembali ke dalam landfill. Hal ini dapat meningkatkan laju dekomposisi kandungan organik menjagi biogas hingga sekitar 70%. Resirkulasi air lindi dapat dilakukan pada musim kemarau, sedangkan pada musim hujan, air lindi harus diolah untuk mengurangi volumenya.<br />
Pengolahan air lindi dengan menggunakan pengolahan limbah secara biologis. Pengolahan ini biasa dilakukan dengan menggunakan lumpur aktif yang berfungsi mendegradasi kandungan organik yang terdapat dalam air lindi. Setelah kandungan organik dalam air lindi turun drastis, kemudian dapat dilakukan pemurnian kembali dengan menggunakan alat filtrasi. Air keluaran yang diharapkan dari pengolahan semacam ini dapat langsung dibuang ke lingkungan karena tidak berbahaya bagi lingkungan.<br />
Pengolahan air lindi dengan menggunakan pengolahan limbah secara kimiawi<br />
Pengolahan air lindi dengan menggunakan membran. Selain untuk mengurangi kekeruhan atau turbiditas, pengolahan dengan membran dimaksudkan untuk mengurangi kadar COD, BOD serta kandungan logam pada air lindi. Umumnya diperlukan pengolahan bertahap untuk menghasilkan limbah yang memenuhi syarat baku mutu limbah seperti bioreaktor dengan membran (membrane bioreactor) atau integrasi antara ultrafiltrasi dan karbon aktif.</p>
<p><strong>Unit Pengolahan Biogas</strong><br />
Unit pengolahan biogas terbagi dalam 2 proses utama yaitu proses pembentukan dan penyaluran gas serta sistem pemrosesan gas. Proses pembentukan gas dalam landfill melibatkan reaksi yang kompleks sehingga laju pembentukan gas akan bervariasi antar-landfill. Laju maksimum dicapai ketika kondisi lingkungan mencapai kondisi optimum yaitu pH mendekati netral, kelembaban cukup, serta temperatur yang moderat.  Hal yang paling mengganggu adalah kehadiran oksigen yang akan menghentikan reaksi anaerobik menjadi aerobik. Pada kondisi optimum, stabilisasi sampah berlangsung antara 10-20 tahun yang ditandai dengan berhentinya pembentukan gas. Jika kurang optimum, stabilisasi bisa mencapai 30 tahun. Hal yang sulit dilakukan adalah penentuan waktu pembentukan metana dalam jumlah cukup besar. Hingga saat ini belum ada metode pasti untuk memprediksi waktu tersebut. Cara yang paling umum dilakukan adalah dengan membandingkannya dengan waktu pembentukan metana landfill yang terdekat kondisinya.</p>
<p>Gas yang dihasilkan dari landfill didominasi oleh metana dan karbondioksida. Kandungan metana berkisar antara 45-55% sedangkan karbon dioksida berkisar antara 40-50%. Kandungan metana yang lebih tinggi juga pernah dilaporkan. Kombinasi kedua gas bisa mencapai 99% dari semua gas. Walaupun demikian, satu persen gas sisanya harus sangat diperhatikan karena bisa bersifat korosif, beracun, ataupun berbau tak sedap. Dalam kondisi ideal, kalor jenis gas yang dihasilkan bisa mencapai 450-540 Btu/SCF.<br />
Komposisi gas yang dihasilkan relatif konstan selama puncak pembentukan. Ketika sampah sudah memasuki masa stabilisasi, pembentukan gas mulai menurun secara asimtot. Oleh karena itu, total waktu pembentukan gas sering dinyatakan dalam bentuk waktu paruh. Selama periode penurunan ini, komposisi gas yang dihasilkan relatif tetap. Akan tetapi, laju pembentukan yang menurun ini akan berakibat pada penurunan tekanan dan rembesan udara ke dalam landfill. Oleh karena itu, besar kemungkinan terbawanya nitrogen dan oksigen karena sulit untuk mengambil gas tanpa tercampur dengan udara.</p>
<div id="attachment_2035" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/biogas.JPG"><img class="size-medium wp-image-2035" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/biogas-300x198.jpg" alt="Gambar 2 Skema pengolahan sampah dengan landfill yang menghasilkan gas" width="300" height="198" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 2 Skema pengolahan sampah dengan landfill yang menghasilkan gas</p></div>
<p>Sistem pemrosesan gas terdiri atas beberapa sumber gas dan pipa-pipa yang saling terhubung kepada pompa vakum. Pada sistem yang sederhana, pompa yang dipakai berupa blower sentrifugal.</p>
<p>Saat ini, pengambilan gas dilakukan dengan memasukkan pipa (well) berlubang secara vertikal ke dalam sampah kira-kira hingga ¾ kedalaman landfill. Lubang-lubang itu biasanya kecil-kecil. Lubang-lubang itu akan diisi dengan bebatuan atau kerikil untuk mencegah masuknya sampah. Lubang-lubang diletakkan di bagian bawah pipa untuk mencegah masuknya udara dari luar. Segel beton diletakkan di atas kerikil. Bagian atas diisi dengan tanah.</p>
<p>Plastik pipa biasanya digunakan sebagai selubung pipa sumber (well). Besi atau baja kurang disukai karena potensial terkorosi serta kecenderungan landfill yang berubah seiring dekomposisi sampah. Material plastik (polimer) yang banyak digunakan adalah polivinil klorida (PVC), polietilen (PE), dan serat kaca (fiberglass) karena lebih tahan korosi dan fleksibel.</p>
<p>Biogas yang dikeluarkan selanjutnya diubah menjadi listrik melalui sistem konversi termal yang melibatkan gas engine dan boiler untuk menghasilkan uap air yang akan menggerakkan turbin.</p>
<p>Sumber:</p>
<ol>
<li> Marliana, Linda, dkk. 2003. Penelitian. Produksi Biogas dari Sampah Pasar Menggunakan Bioreaktor Anaerobik. Departemen Teknik Kimia ITB</li>
<li> Tchobanoglous, G. Et.al. 1993. Integrated Solid Waste Management. McGraw Hill, Inc</li>
<li> http://en.wikipedia.org/wiki/Biogas</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2033&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2010/04/landfill-part-1-unit-pengolahan-leachate-dan-biogas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Plasma dalam Industri Pengemasan Makanan</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 07 Aug 2009 05:17:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[plasma]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2015</guid>
		<description><![CDATA[Aplikasi teknologi plasma dalam industri pengemasan makanan lahir sebagai bentuk perkembangan dalam teknologi pengemasan makanan yang baik karena memiliki beberapa keunggulan seperti proses yang cepat dan minim menyebabkan kerusakan pada makanan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2018" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2018" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/3-300x234.jpg" alt="food technology" width="300" height="234" /><p class="wp-caption-text">Food Technology</p></div>
<p>Salah satu tujuan utama pengemasan makanan adalah untuk menjadikan makanan dapat tahan lama (awet). Akan tetapi, proses yang dilakukan untuk mencapai tujuran tersebut biasanya dapat menyebabkan kerusakan nutrien dan komponen &#8211; komponen sensori pada makanan. Oleh sebab itu, teknologi pengemasan makanan terus dikembangkan dengan tujuan menjadikan makanan dapat tahan lama dengan meminimalkan kerusakan nutrient dan komponen – komponen sensori pada makanan tersebut.</p>
<p>Aplikasi teknologi plasma dalam industri pengemasan makanan lahir sebagai bentuk perkembangan dalam teknologi pengemasan makanan yang baik karena memiliki beberapa keunggulan seperti proses yang cepat dan minim menyebabkan kerusakan pada makanan.</p>
<p>Berikut ini merupakan aplikasi teknologi plasma dalam pengemasan makanan:</p>
<h3>1. Fungsionalisasi dan aktivasi permukaan</h3>
<p>Pada kemasan makanan berbahan dasar polimer, kemudahan dicetak dan sifat anti asap merupakan properti khas yang harus dimiliki. Dengan teknologi plasma, kedua kriteria tersebut dapat dipenuhi melalui fungsionalisasi dan aktivasi permukaan. Dalam tahap ini, plasma berfungsi sebagai penyesuai energi permukaan dengan cara mengatur adhesifitas, sifat hidrofobik, dan hidrofilik.  Dalam pengaturan sifak hidrofobik dan hidrofil, ada dua hal yang menjadi perhatian yaitu terbentuknya lapisan permukaan anti asap dan penggunaan cat berbahan dasar air ataupun tinta. Lamanya waktu yang dibutuhkan dalam perlakuan plasma terhadap kemasan menentukan adhesifitas yang diperoleh.</p>
<p>Penggunaan lapisan plasma juga berguna dalam meningkatkan derajat kebasahan permukaan yang berpengaruh juga terhadap energi permukaan tersebut. Dengan adanya plasma, energi permukaan meningkat 1,5 kali lipat. Hal ini sangat berguna dalam penggunaan cat berbahan dasar secara ekologis.</p>
<h3>2. Pelapisan permukaan</h3>
<p>Pengawetan makanan dalam kemasan bergantung pada sterilitas dan kualitas kemasan itu sendiri. Sebagai contoh, untuk makanan atau minuman yang sensitivitasnya terhadap udara cukup tinggi harus dikemas dalam botol yang memiliki lapisan penghalang yang kuat</p>
<div id="attachment_2029" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2029" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/1baru-300x224.jpg" alt="Gambar 1: Ruang dalam rekator selama perlakuan dengan plasma" width="300" height="224" /><p class="wp-caption-text">Gambar 1: Ruang dalam rekator selama perlakuan dengan plasma</p></div>
<p>Pelapisan botol PET dari dalam menggunakan SiOx dan HMDSO (heksametildioksan) dengan bantuan argon plasma merupakan cara baru dalam produksi botol PET berkualitas tinggi sebagai kemasan minuman tertentu. Dengan menggunakan plasma, lapisan SiOx setebal 50 nm dapat diperoleh hanya dalam waktu kurang dari lima detik. Padahal proses ini memakan waktu hampir puluhan kali lipat lebih lama tanpa adanya plasma. Penggunaan plasma juga meningkatkan kemampuan kemasan dalam menghalangi terjadinya difusi gas dalam rentang skala 3 -10. Selain itu, kemasan yang dilapisi menggunakan plasma, memiliki kemungkinan hampir 0% dalam terjadinya microcrack akibat spora.</p>
<h3>3. Sterilisasi plasma</h3>
<p>Sterilisasi dalam pemrosesan makanan merupakan suatu proses pengawetan makanan dengan cara memanaskan makanan pada temperatur yang cukup tinggi dalam waktu tertentu untuk menghancurkan mikroba dan aktivitas enzim. Dengan proses sterilisasi,biasanya makanan dapat bertahan hingga lebih dari 6 bulan pada temperatur ruang.</p>
<p>Ada banyak alasan mengapa sterilisasi menggunakan plasma menjadi pilihan. Berikut beberapa alasannya.</p>
<ul>
<li> Waktu inaktivasi spora yang singkat</li>
<li> Beban termal yang rendah</li>
<li> Tidak ada penggunaan bahan kimia toksik dan berbahaya</li>
<li> Tidak terbentuk produk yang toksik dan berbahaya pasca steriliasi</li>
<li> Tidak ada perubahan sifat pada material makanan yang diproses, malah terjadi peningkatan kualitas material makanan</li>
<li> Tidak perlu ada treatment lanjutan</li>
</ul>
<p>Mekanisme sterilisasi dengan plasma:</p>
<ol>
<li> Destruksi material genetic mikroorganisme melalui irradiasi UV</li>
<li> Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui fotodesorpsi intrinsik</li>
<li> Pengikisan mikroorganisme atom per atom melalui proses etching.</li>
</ol>
<p>Alat sterilisasi berteknologi plasma yang biasa digunakan adalah ECR Plasma (Electron Cyclotron Resonance Plasma). Alat ini memanfaatkan prinsip gaya Lorentz dengan adanya pergerakan sirkular electron-elektron bebas sehingga membangkitkan medan magnet seragam yang statis.</p>
<p>Berikut ini merupakan skema ECR plasma:</p>
<div id="attachment_2030" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-2030" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/2baru-uy1-300x245.jpg" alt="Gambar 2 : Skema alat ECR Plasma" width="300" height="245" /><p class="wp-caption-text">Gambar 2 : Skema alat ECR Plasma</p></div>
<p>Sterilisasi meggunakan plasma berbeda karena agen aktif nya spesifik, seperti foton UV dan radikal. Keuntungan metode plasma adalah proses dapat dilakukan pada temperature rendah (500C), relative aman, dan  mengawetkan keutuhan instrument dasar polimer, yang tak bisa dilakukan bila menggunakan autoklaf atau oven. Foton UV yang diemisikan akan di-reabsorpsi oleh gas ambient pada tekanan atmosfer.</p>
<blockquote><p>Sumber:</p>
<ol>
<li><a href="http://itcanbeshown.com/NERS590/Plasma%20Sterilization.ppt">http://itcanbeshown.com/NERS590/Plasma%20Sterilization.ppt</a></li>
<li> Dr. Anto Tri Sugiarto : Slide Kuliah Teknologi Plasma</li>
</ol>
</blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2015&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/08/aplikasi-teknologi-plasma-dalam-industri-pengemasan-makanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahan Pembuatan Sabun</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Jul 2009 02:05:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1968</guid>
		<description><![CDATA[Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1977" title="Stamped-Soap-Bars" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Stamped-Soap-Bars.jpg" alt="Stamped-Soap-Bars" width="250" height="331" />Sabun adalah salah satu senyawa kimia tertua yang pernah dikenal. Sabun sendiri tidak pernah secara aktual ditemukan, namun berasal dari pengembangan campuran antara senyawa alkali dan lemak/minyak.<br />
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna.</p>
<p>Sabun dibuat dengan reaksi penyabunan sebagai berikut:</p>
<p>Reaksi penyabunan (saponifikasi) dengan menggunakan alkali adalah adalah reaksi trigliserida dengan alkali (NaOH atau KOH) yang menghasilkan sabun dan gliserin. Reaksi penyabunan dapat ditulis sebagai berikut :</p>
<p style="text-align: center;"><strong>C3H5(OOCR)3 + 3 NaOH -&gt; C3H5(OH)3 + 3 NaOOCR</strong></p>
<p>Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion.</p>
<p>Sabun pada umumnya dikenal dalam dua wujud, sabun cair dan sabun padat. Perbedaan utama dari kedua wujud sabun ini adalah alkali yang digunakan dalam reaksi pembuatan sabun. Sabun padat menggunakan natrium hidroksida/soda kaustik (NaOH), sedangkan sabun cair menggunakan kalium hidroksida (KOH) sebagai alkali. Selain itu, jenis minyak yang digunakan juga mempengaruhi wujud sabun yang dihasilkan. Minyak kelapa akan menghasilkan sabun yang lebih keras daripada minyak kedelai, minyak kacang, dan minyak biji katun.</p>
<h3>Bahan Baku: Minyak/Lemak</h3>
<p>Minyak/lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat.</p>
<p>Minyak tumbuhan maupun lemak hewan merupakan senyawa trigliserida. Trigliserida yang umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun memiliki asam lemak dengan panjang rantai karbon antara 12 sampai 18. Asam lemak dengan panjang rantai karbon kurang dari 12 akan menimbulkan iritasi pada kulit, sedangkan rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun menjadi keras dan sulit terlarut dalam air. Kandungan asam lemak tak jenuh, seperti oleat, linoleat, dan linolenat yang terlalu banyak akan menyebabkan sabun mudah teroksidasi pada keadaan atmosferik sehingga sabun menjadi tengik. Asam lemak tak jenuh memiliki ikatan rangkap sehingga titik lelehnya lebih rendah daripada asam lemak jenuh yang tak memiliki ikatan rangkap, sehingga sabun yang dihasilkan juga akan lebih lembek dan mudah meleleh pada temperatur tinggi.</p>
<h3>Jenis-jenis Minyak atau Lemak</h3>
<p>Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti : kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :</p>
<ol>
<li><strong>Tallow</strong>. Tallow adalah lemak sapi atau domba yang dihasilkan oleh industri pengolahan daging sebagai hasil samping. Kualitas dari tallow ditentukan dari warna, titer (temperatur solidifikasi dari asam lemak), kandungan FFA, bilangan saponifikasi, dan bilangan iodin. Tallow dengan kualitas baik biasanya digunakan dalam pembuatan sabun mandi dan tallow dengan kualitas rendah digunakan dalam pembuatan sabun cuci. Oleat dan stearat adalah asam lemak yang paling banyak terdapat dalam tallow. Jumlah FFA dari tallow berkisar antara 0,75-7,0 %. Titer pada tallow umumnya di atas 40°C. Tallow dengan titer di bawah 40°C dikenal dengan nama grease.</li>
<li><strong>Lard</strong>. Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti oleat (60 ~ 65%) dan asam lemak jenuh seperti stearat (35 ~ 40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.</li>
<li><strong>Palm Oil (minyak kelapa sawit)</strong>. Minyak kelapa sawit umumnya digunakan sebagai pengganti tallow. Minyak kelapa sawit dapat diperoleh dari pemasakan buah kelapa sawit. Minyak kelapa sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak kelapa sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak kelapa sawit harus dicampur dengan bahan lainnya.</li>
<li><strong>Coconut Oil (minyak kelapa)</strong>. Minyak kelapa merupakan minyak nabati yang sering digunakan dalam industri pembuatan sabun. Minyak kelapa berwarna kuning pucat dan diperoleh melalui ekstraksi daging buah yang dikeringkan (kopra). Minyak kelapa memiliki kandungan asam lemak jenuh yang tinggi, terutama asam laurat, sehingga minyak kelapa tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Minyak kelapa juga memiliki kandungan asam lemak kaproat, kaprilat, dan kaprat.</li>
<li><strong>Palm Kernel Oil (minyak inti kelapa sawit).</strong> Minyak inti kelapa sawit diperoleh dari biji kelapa sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa.</li>
<li><strong>Palm Oil Stearine (minyak sawit stearin).</strong> Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah stearin.</li>
<li><strong>Marine Oil.</strong> Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.</li>
<li><strong>Castor Oil (minyak jarak).</strong> Minyak ini berasal dari biji pohon jarak dan digunakan untuk membuat sabun transparan.</li>
<li><strong>Olive oil (minyak zaitun).</strong> Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit.</li>
<li><strong>Campuran minyak dan lemak.</strong> Industri pembuat sabun umumnya membuat sabun yang berasal dari campuran minyak dan lemak yang berbeda. Minyak kelapa sering dicampur dengan tallow karena memiliki sifat yang saling melengkapi. Minyak kelapa memiliki kandungan asam laurat dan miristat yang tinggi dan dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Kandungan stearat dan dan palmitat yang tinggi dari tallow akan memperkeras struktur sabun.</li>
</ol>
<h3>Bahan Baku: Alkali</h3>
<p>Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).</p>
<p>Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.</p>
<h3>Bahan Pendukung</h3>
<p>Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.</p>
<ol>
<li><strong>NaCl</strong>. NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. Kandungan NaCl pada produk akhir sangat kecil karena kandungan NaCl yang terlalu tinggi di dalam sabun dapat memperkeras struktur sabun. NaCl yang digunakan umumnya berbentuk air garam (brine) atau padatan (kristal). NaCl digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap. NaCl harus bebas dari besi, kalsium, dan magnesium agar diperoleh sabun yang berkualitas.</li>
<li><strong>Bahan aditif</strong>. Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain : Builders, Fillers inert, Anti oksidan, Pewarna,dan parfum.</li>
</ol>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1968&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/07/bahan-pembuatan-sabun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Fermentasi dalam Pengolahan Biji Kakao</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/teknik-fermentasi-dalam-pengolahan-biji-kakao/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/teknik-fermentasi-dalam-pengolahan-biji-kakao/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Jun 2009 12:40:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[food]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[products]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1775</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading dan Ghana. Dengan teknologi fermentasi, produksi kakao Indonesia dapat dioptimasi sehingga volume ekspor kakao akan semakin meningkat dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan devisa Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1776" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/kakao.jpg"><img class="size-medium wp-image-1776" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/kakao-300x225.jpg" alt="kakao" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">kakao</p></div>
<p>Kakao merupakan salah satu komoditas ekspor yang dapat memberikan kontribusi untuk peningkatan devisa Indonesia. Indonesia merupakan salah satu negara pemasok utama kakao dunia setelah Pantai Gading (38,3%) dan Ghana (20,2%) dengan persentasi 13,6%. Permintaan dunia terhadap komoditas kakao semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hingga tahun 2011, ICCO (International Cocoa Organization) memperkirakan produksi kakao dunia akan mencapai 4,05 juta ton, sementara konsumsi akan mencapai 4,1 juta ton, sehingga akan terjadi defisit sekitar 50 ribu ton per tahun (Suryani, 2007). Kondisi ini merupakan suatu peluang yang baik bagi Indonesia karena sebenarnya Indonesia berpotensi untuk menjadi produsen utama kakao dunia.</p>
<p>Namun, kualitas biji kakao yang diekspor oleh Indonesia dikenal sangat rendah (berada di kelas 3 dan 4). Hal ini disebabkan oleh, pengelolaan produk kakao yang masih tradisional (85% biji kakao produksi nasional tidak difermentasi) sehingga kualitas kakao Indonesia menjadi rendah. Kualitas rendah menyebabkan harga biji dan produk kakao Indonesia di pasar internasional  dikenai diskon USD200/ton atau 10%-15% dari harga pasar. Selain itu, beban pajak ekspor kakao olahan (sebesar 30%) relatif lebih tinggi dibandingkan dengan beban pajak impor produk kakao (5%), kondisi tersebut telah menyebabkan jumlah pabrik olahan kakao Indonesia terus menyusut (Suryani, 2007). Selain itu para pedagang (terutama trader asing) lebih senang mengekspor dalam bentuk biji kakao (non olahan).</p>
<p>Peningkatan produksi kakao mempunyai arti yang strategis karena pasar ekspor biji kakao Indonesia masih sangat terbuka dan pasar domestik masih belum tergarap. Permasalahan utama yang dihadapi perkebunan kakao dapat diatasi dengan penerapan fermentasi pada pengolahan biji pasca panen dan pengembangan produk hilir kakao berupa serbuk kakao.</p>
<div id="attachment_1777" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/academia-barilla-gourmet-chocolate-mousse.jpg"><img class="size-medium wp-image-1777" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/academia-barilla-gourmet-chocolate-mousse-300x210.jpg" alt="coklat" width="300" height="210" /></a><p class="wp-caption-text">Coklat</p></div>
<p>Proses fermentasi akan menghasilkan kakao dengan cita rasa setara dengan kakao yang berasal dari Ghana. Selain itu, kakao Indonesia memiliki kelebihan tidak mudah meleleh sehingga cocok untuk blending.</p>
<p>Fermentasi merupakan suatu proses produksi suatu produk dengan mikroba sebagai organisme pemroses. Fermentasi biji kakao merupakan fermentasi tradisional yang melibatkan mikroorganisme indigen dan aktivitas enzim endogen. Fermentasi biji kakao tidak memerlukan penambahan kultur starter (biang), karena pulp kakao yang mengandung banyak glukosa, fruktosa, sukrosa dan asam sitrat dapat mengundang pertumbuhan mikroorganisme sehingga terjadi fermentasi.<br />
Tahapan pengolahan pasca panen kakao yaitu buah hasil panen dibelah dan biji berselimut pulp dikeluarkan, kemudian dikumpulkan pada suatu wadah. Jenis wadah yang digunakan dapat bervariasi, diantaranya drying platforms (Amerika), keranjang yang dilapisi oleh daun, dan kontainer kayu. Kontainer disimpan di atas tanah atau di atas saluran untuk menampung pulp juices yang dihasilkan selama fermentasi (hasil degradasi pulp). Pada umumnya, dasar kontainer memiliki lubang kecil untuk drainase dan aerasi. Kontainer tidak diisi secara penuh, disisakan 10 cm dari atas dan permukaan atas ditutupi dengan daun pisang yang bertujuan untuk menahan panas dan mencegah permukaan biji dari pengeringan. Fermentasi dalam kotak dapat dilakukan selama 2 – 6 hari, isi kotak dibalik tiap hari dengan memindahkannya ke kotak lain.</p>
<p>Fermentasi biji kakao akan menghasilkan prekursor cita rasa, mencokelat-hitamkan warna biji, mengurangi rasa-rasa pahit, asam, manis dan aroma bunga, meningkatkan aroma kakao (cokelat) dan kacang (nutty), dan mengeraskan kulit biji menjadi seperti tempurung. Biji yang tidak difermentasi tidak akan memiliki senyawa prekursor tersebut sehingga cita rasa dan mutu biji sangat rendah. Fermentasi pada biji kakao terjadi dalam dua tahap yaitu fermentasi anaerob dan fermentasi aerob. Keberadaan asam sitrat membuat lingkungan pulp menjadi asam sehingga akan menginisiasi pertumbuhan ragi dan terjadi fermentasi secara anaerob. Fermentasi aerob diinisiasi oleh bakteri asam laktat dan bakteri asam asetat. Produk fermentasi yang dihasilkan berupa etanol, asam laktat, dan asam asetat yang akan berdifusi ke dalam biji dan membuat biji tidak berkecambah.</p>
<p>Selama fermentasi terjadi pula aktivitas enzimatik, enzim yang terlibat adalah endoprotease, aminopeptidase, karboksipeptidase, invertase (kotiledon dan pulp), polifenol oksidase dan glikosidase. Enzim-enzim ini berperan dalam pembentukan prekursor cita rasa dan degradasi pigmen selama fermentasi. Prekursor cita rasa (asam amino, peptida dan gula pereduksi) membentuk komponen cita rasa di bawah reaksi Maillard (reaksi pencoklatan non-enzimatis) selama penyangraian.</p>
<p>Untuk menghentikan proses fermentasi, biji kakao kemudian dikeringkan. Pengeringan dilakukan sampai kadar air menjadi 7 – 8 % (setimbang dengan udara berkelembaban 75 %). Kadar air kurang dari 6 %, biji akan rapuh sehingga penanganan serta pengolahan lanjutnya menjadi lebih sulit. Kadar air lebih dari 9 % memungkinkan pelapukan biji oleh jamur. Pengeringan dengan pemanas simar surya dapat memakan waktu 14 hari, sedangkan dengan pengeringan non surya memakan waktu 2 – 3 hari.</p>
<p>Setelah pengeringan, biji disortir untuk membersihkan biji dan dilanjutkan dengan penyangraian pada suhu 210 C selama 10 – 15 menit. Tujuan dari penyangraian adalah untuk mensterilisasi biji serta pembentukan cita rasa dari prekursor cita rasa (hasil fermentasi) melalui reaksi Maillard.</p>
<p>Pada saat panen, petani coklat Indonesia memiliki kecenderungan untuk mengolah biji coklat tanpa fermentasi dengan cara merendam biji dalam air untuk membuang pulp dan dilanjutkan dengan penjemuran, dengan demikian biji siap dijual tanpa memerhatikan kualitas. Langkah tersebut diambil petani untuk mendapatkan hasil penjualan yang cepat karena jika melalui fermentasi diperlukan waktu inkubasi sehingga petani harus menunggu untuk mendapatkan keuntungan dari penjualan, sedangkan fermentasi merupkan kunci penting untuk memberikan cita rasa coklat. Dengan demikian, pengetahuan mengenai pentingnya fermentasi pada biji kakao perlu disebarluaskan pada petani coklat.</p>
<p>Produk yang melalui proses fermentasi sehingga diperoleh cita rasa coklat yang sesungguhnya dengan cost production yang relatif rendah. Fermentasi dapat dilakukan secara tradisional dan tidak memerlukan treatment khusus, hanya diperlukan wadah fermentasi dari kayu, ruang penyimpanan, lahan untuk menjemur, dan mesin penyangrai.</p>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li> TK-4231 / Industri PanganPengolahan Cokelat/Kakao (1), Dr. Tatang H. Soerawidjaja</li>
<li> Suryani, Dinie, Zulfebriansyah, 2007. Komoditas Kakao : Potret dan Peluang Pembiayaan. Economic Review : 210 . Desember 2007.</li>
<li> Carl E Hansen, Margarita del Olmo and Christine Burri. 1998. Enzyme Activities in Cocoa Beans During Fermentation. J Sci Food Agric: 77, 273È281.</li>
</ul>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1775&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/teknik-fermentasi-dalam-pengolahan-biji-kakao/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Aqueous Phase Reforming (APR)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 03:23:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[fuel cell]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1770</guid>
		<description><![CDATA[Hidrogen mempunyai potensi yang besar sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan dari mengimpor sumber daya energi. Untuk itu, kita akan memerlukan fasilitas untuk memproduksi, menyimpan dan memindahkan hidrogen. Aqueous Phase Reforming (APR) merupakan salah satu caranya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1771" class="wp-caption alignleft" style="width: 183px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/h2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1771" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/h2-289x300.jpg" alt="Hydrogen power" width="173" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Hidrogen</p></div>
<p>Hidrogen banyak digunakan sebagai bahan bakar seperti pada industri pengilangan, <em>treating </em>logam dan pemrosesan makanan.  The <em>National Aeronautics and Space Administration (NASA)</em> adalah pengguna primer hidrogen sebagai bahan bakar dan telah menggunakannya selama bertahun-tahun dalam program luar angkasa. Baterai hidrogen yang disebut <em>fuel cells</em> dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan sistem daya listrik di roket atau pesawat luar angkasa. Produk samping yang diperoleh hanyalah air murni dan digunakan oleh para awak pesawat sebagai air minum. Proses pada <em>fuel cells</em> sangat efisien tetapi pembuatannya mahal.<em> Fuel cells</em> ukuran kecil dapat menjalankan mobil listrik sedangkan fuel cells ukuran besar dapat menyediakan listrik untuk tempat terpencil tanpa jalur transmisi.</p>
<p>Hidrogen mempunyai potensi yang besar sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk mengurangi ketergantungan dari mengimpor sumber daya energi. Sebelum hidrogen dapat menjadi sumber energi terbesar dan dapat digunakan sebagai alternatif dari bensin, banyak fasilitas baru harus dibangun. Kita akan memerlukan fasilitas tersebut untuk membuat hidrogen, menyimpannya dan memindahkannya. Kita akan memerlukan fuel cells yang ekonomis dan konsumen memerlukan teknologi dan pendidikan untuk aman menggunakannya. Saat ini telah banyak proses yang ditemukan untuk mengkonversi biomassa seperti gliserol menjadi hidrogen. Salah satu proses yang efektif adalah reformasi fasa cair (<em>Aqueous Phase Reforming/APR</em>). Proses ini telah dikembangkan oleh Virent Energy System, Inc. Proses APR adalah metoda yang unik untuk memproduksi hidrogen dari larutan senyawa beroksigen dalam satu tahap proses reaktor dibandingkan dengan tiga atau lebih tahap yang diperlukan untuk memproduksi hidrogen melalui proses konvensional yang mempergunakan bahan bakar fosil yang tak terbarukan. Kunci pemecahan dari proses APR adalah reformasi larutan dilakukan dalam fasa cair.</p>
<p>Gliserol ini bisa dicampur dengan air untuk dijadikan umpan dari proses reformasi fasa cair ini. Skema proses ini bisa dilihat pada Gambar berikut.</p>
<p> </p>
<div id="attachment_1772" class="wp-caption aligncenter" style="width: 484px"><img class="size-full wp-image-1772 " title="proses-apr" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/proses-apr.jpg" alt="Diagram Proses APR" width="474" height="316" /><p class="wp-caption-text">Diagram Proses APR</p></div>
<p style="text-align: center;">Pada proses ini, reaksi yang terjadi adalah :<br />
C3H8O3 + 3H2O &#8211;&gt; 3CO2 + 7H2</p>
<p>Reaksi reformasi fasa cair ini terjadi dalam reaktor tunggal pada temperatur antara 200°C hingga 250°C dan pada tekanan di atas <em>bubble point air</em> (16-40 bar). Reaksi ini merupakan reaksi endoterm sehingga membutuhkan pasokan kalor dari luar.</p>
<p>Katalis logam sering digunakan untuk proses <em>Aqueous Phase Reforming</em>. Logam seperti Pt, Pd, dan campuran logam Ni-Sn menunjukkan selektivitas yang tinggi untuk produksi hidrogen dan kecenderungan untuk membentuk alkana sangat rendah. Di sisi lain, logam seperti Ru dan Rh lebih aktif untuk membentuk alkana. Penyangga asam memiliki selektivitas tinggi untuk reaksi ini, sedangkan penyangga basa/ netral meyukai produksi hidrogen. Lebih dari itu, penyangga oksida memainkan aturan kunci dalam aktivasi molekul air, menghasilkan inhibition atau promotion dalam <em>WGSR (Water Gas Shift Reaction)</em>. Keasaman larutan juga berpengaruh pada unjuk kerja aqueous phase reformer. Secara jelas dapat disimpulkan bahwa larutan basa dan netral menghasilkan selektivitas hidrogen yang tinggi dan selektivitas alkana yang rendah. Sebaliknya larutan asam menghasilkan selektivitas hidrogen yang rendah dan selektivitas alkana yang tinggi.</p>
<p><strong>Metode Preparasi Katalis</strong><br />
Katalis yang akan digunakan untuk suatu reaksi biasanya melalui tahap preparasi terlebih dahulu. Berikut adalah beberapa tahap preparasi yang telah dilakukan oleh peneliti sebelumnya.</p>
<ol>
<li> Menurut Nianjun Luo et all. Bahwa katalis berbasis Pt telah dipreparasi menggunakan metode incipient wetness impregnation. Secara khas, y-Al2O3 (ukuran 178-250 µm) telah diimpregnasi dengan larutan H2PtCl6 selama 24 jam pada temperatur ruang. Kemudian dikeringkan pada 120 °C semalaman dalam oven dan dikalsinasi pada 260 °C selama 2 jam di udara.</li>
<li> Menurut Guodong Wen et all. Bahwa larutan yang digunakan untuk preparasi katalis Pt, Ni, Co dan Cu adalah berturut-turut H2PtCl6, (Ni(NO3)2.6H2O), (Co(NO3)2.6H2O) dan (Cu(NO3)2.6H2O). Al2O3, karbon aktif, SiO2, MgO, HUSY (SiO2/Al2O3=4.8) dan SAPO-11 (Si0.129Al0.499P0.397O2) digunakan sebagai penyangga untuk menyangga katalis Pt. Katalis dipreparasi dengan metode incipient wetness impregnation dilanjutkan dengan pengeringan di udara dalam oven pada 383 K semalaman dan terakhir dikalsinasi pada 723 K selama 3 jam (kecuali untuk katalis Pt dikalsinasi pada 753 K). Kemudian direduksi dalam aliran H2 selama 2 jam pada 823 K (pemanasan 2 K/min). Setelah reduksi, sampel didinginkan samapi temperatur ruang dan dipassivasi dalam aliran O2/N2 (1%-vol O2).</li>
</ol>
<blockquote><p>Sumber:<br />
<a href="http://www.greenoptimistic.com/hydrogen_power">http://www.greenoptimistic.com/hydrogen_power</a><br />
<a href="http://www.wisbiorefine.org">http://www.wisbiorefine.org</a><br />
<a href="http://www.esru.strath.ac.uk">http://www.esru.strath.ac.uk</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1770&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/aqueous-phase-reforming-apr/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membran Polisulfon Sintetik</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/membran-polisulfon-sintetik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/membran-polisulfon-sintetik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 May 2009 02:57:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[membrane]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1634</guid>
		<description><![CDATA[PSF-Membrane adalah membran yang dibuat dari polimer (polisulfon) dan banyak digunakan dan diaplikasikan di industri. Namun, diperlukan additive membrane yang dapat meningkatkan kinerja PSF-Membrane sehingga meningkatkan ketahanannya terhadap biofouling.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Semua jenis material sintetis dapat digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran. Bahan material tersebut meliputi bahan anorganik yaitu keramik, kaca, logam. Selain bahan anorganik material sintesis yang digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran juga bisa berupa bahan organik seperti semua jenis polimer. Polimer adalah bahan dasar yang banyak digunakan di dalam industri pembuatan membran.</p>
<p>Metode pembuatan membran dengan phase inversion with immersion precipitation adalah metode yang paling banyak digunakan dalam pembuatan membran sintetis skala komersial. Pada metode ini polimer akan ditransformasi dari cairan menjadi padat atau yang biasa disebut proses solidifikasi. Proses solidifikasi ini biasanya diinisiasi dengan transisi dari suatu keadaan cair ke dalam dua cairan (liquid-liquid demixing).  Selama proses demixing, salah satu fasa cairan (yakni fasa dengan konsentrasi polimer paling tinggi) akan berubah menjadi padatan (solid matrix). Immersion precipitation terjadi ketika lapisan membran disiapkan dengan terlebih dahulu membuat larutan polmer (berisi polimer dan pelarutnya) kemudian larutan tersebut dituangkan di atas permukaan kaca untuk membuat lembaran polimer proses ini disebut casting solution. Setelah itu, casting solution direndam di dalam bak koagulasi yang berisi anti pelarut (non-solvent) dari polimer tersebut. Di dalam bak koagulasi tersebut akan terjadi presipitasi yang disebabkan terjadinya pertukaran antara pelarut (solvent) dengan anti pelarut (non-solvent) pada casting solution. Solvent untuk polysulfone yang sering digunakan diantaranya adalah DMAC, NMP dan PVP. Sementara untuk anti-solvent biasanya digunakan aqua-dm.</p>
<div id="attachment_1635" class="wp-caption alignleft" style="width: 235px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/struktur-membran-psf.jpg"><img class="size-full wp-image-1635" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/struktur-membran-psf.jpg" alt="struktur-membrane-polisulfon" width="225" height="177" /></a><p class="wp-caption-text">Struktur Membrane Polisulfon</p></div>
<p>Polisulfon adalah polimer yang banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan membran. Hal ini dikarenakan memiliki ketahanan yang baik terhadap temperatur tinggi, rentang pH yang lebar 1 – 13, memiliki resistansi yang baik terhadap klorin, serta mudah dipabrikasi. Sama seperti membran pada umumnya, membran memiliki usia kerja tertentu, yakni jangka waktu pemanfaatan membran. Usia kerja membran sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti fouling (biofouling). Terjadinya biofouling menyebabkan kinerja membran menurun, serta usia kerja membran pun menurun. Kinerja membran dapat diketahui dari beberapa parameter seperti fluks membran, kemampuan rejeksi, kekuatan membran, dan antifouling.</p>
<div id="attachment_1636" class="wp-caption alignright" style="width: 255px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/psf-membran.jpg"><img class="size-full wp-image-1636" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/psf-membran.jpg" alt="packed PSF-membrane" width="245" height="246" /></a><p class="wp-caption-text">Packed PSF-membrane</p></div>
<p>Banyak cara dilakukan untuk meningkatkan kinerja membran polisulfon diantaranya dengan penambahan additive membrane yang ditambahkan saat proses pembuatan casting solution. Berdasarkan penelitian yang dipublis di jurnal internasional (journal of membrane science) telah ditemukan beberapa additive membrane yang dapat meningkatkan kinerja membran polysulfon adalah sebagai berikut:</p>
<h3>1. TiO2 (Titanium dioxide)</h3>
<p>Nano-TiO2 adalah bahan material aktif dengan ukuran nano yang memiliki beberapa keunggulan yakni resistensi terhadap bakteri yang tinggi dan bersifat sangat hidropilik.</p>
<p>Penambahan TiO2 dilakukan dalam bentuk bubuk TiO2. Komposisi yang terbaik untuk pembuatan casting solution adalah (18 %-wt) Polisulfon; (2 %-wt) TiO2 ; (64%-wt) DMAC; (16 %-wt) NMP.</p>
<p>Penambahan TiO2 tersebut meningkatkan kekuatan fisik membran sehingga membran tidak mudah terdekomposisi, meningkatkan hidropilitas sehingga fluks meningkat.</p>
<h3>2. Nanosilver</h3>
<p>Perak (silver) memiliki kemampuan anti-bakteria yang baik. Oleh sebab itu, banyak digunakan untuk perlindungan terhadap serangan bakteri salah satunya yang diaplikasikan dalam pembuatan membran polysulfon. Komposisi terbaik yang diperoleh adalah (15%-wt) PSf,( 10%-wt) PVP,( 75%-wt) NMP, and (0.22%-wt) nAg.</p>
<p>Penambahan nanosilver dapat meningkatkan ketahanan membran terhadap biofouling baik yang disebabkan oleh pertumbuhan bakteri di permukaan membran maupun akibat serangan bakteri dari bahan yang melewati membran.</p>
<h3>3. Fe3O4</h3>
<p>Ferrosoferric oxide (Fe3O4) baik digunakan sebagai additive membrane karena memiliki ketahanan terhadap temperatur tinggi, stabilitas kimia yang baik, kinerja magnetic yang baik, serta anti microbial yang baik pula.</p>
<p>Penambahan Fe3O4 sebanyak (58.3 %-wt) terbukti dapat meningkatkan fluks, kemampuan rejeksi, serta antifouling dari membran polisulfon.</p>
<blockquote><p>Sumber :<br />
1. M. Mulder, Basic Principles of Membrane Technology, 1996<br />
2. http://www.sciencesdirect.com/polysulfone-membrane</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1634&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/membran-polisulfon-sintetik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Resin Urea-Formaldehide</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 11:09:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1599</guid>
		<description><![CDATA[Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil kondensasi urea dengan formaldehid. Polimer jenis ini banyak digunakan di industri untuk berbagai tujuan seperti bahan adhesif (61%), papan fiber berdensitas medium (27%), hardwood plywood (5%), dan lain-lain.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1601" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/resin11.jpg"><img class="size-medium wp-image-1601" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/resin11-300x199.jpg" alt="Resin for Automotive Paint" width="300" height="199" /></a><p class="wp-caption-text">Resin for Automotive Paint</p></div>
<p>Resin urea-formaldehid adalah salah satu contoh polimer yang merupakan hasil kondensasi urea dengan formaldehid. Polimer jenis ini banyak digunakan di industri untuk berbagai tujuan seperti bahan adhesif (61%), papan fiber berdensitas medium (27%), hardwood plywood (5%) dan laminasi (7%) pada produk furnitur, panel dan lain-lain.</p>
<p>Urea-formaldehid (dikenal juga sebagai urea-metanal) adalah suatu resin atau plastik thermosetting yang terbuat dari urea dan formaldehid yang dipanaskan dalam suasana basa lembut seperti amoniak atau piridin. Resin ini memiliki sifat tensile-strength dan hardness permukaan yang tinggi, dan absorpsi air yang rendah.</p>
<p>Reaksi urea-formaldehid merupakan reaksi kondensasi antara urea dengan formaldehid. Pada umumnya reaksi menggunakan katalis hidroksida alkali dan kondisi reaksi dijaga tetap pada pH 8-9 agar tidak terjadi reaksi Cannizaro, yaitu reaksi diproporsionasi formaldehid menjadi alkohol dan asam karboksilat. Untuk menjaga agar pH tetap maka dilakukan penambahan ammonia sebagai buffer ke dalam campuran.</p>
<p>Reaksi ini secara umum berlangsung dalam 3 tahap yakni inisiasi, propagasi (kondensasi), dan proses curing.</p>
<ol>
<li> Tahap metilolasi, yaitu adisi formaldehid pada gugus amino dan amida dari urea, dan menghasilkan metilol urea</li>
<li> Tahap selanjutnya propagasi, yaitu reaksi kondensasi dari monomer-monomer mono dan dimetilol urea membentuk rantai polimer yang lurus</li>
<li> Tahap terakhir adalah proses curing yaitu ketika kondensasi tetap berlangsung, polimer membentuk rangkaian 3 dimensi yang sangat kompleks dan menjadi resin thermosetting. Resin thermosetting mempunyai sifat tahan terhadap asam, basa, serta tidak dapat melarut dan meleleh. Temperatur curing dilakukan pada sekitar temperatur 120 Celcius dan pH &lt; 5</li>
</ol>
<h3><strong>Faktor-faktor yang Mempengaruhi Reaksi Urea-Formaldehid</strong></h3>
<h4><strong>Katalis</strong></h4>
<p>Penggunaan katalis pada suatu reaksi akan meningkatkan laju reaksi tersebut. Begitu juga yang terjadi pada reaksi urea-formaldehid ini. Laju reaksinya akan meningkat jika digunakan katalis. Katalis yang diguanakan pada percobaan ini adalah NH4OH karena reaksi ini berlangsung pada kondisi basa.</p>
<h4><strong>Temperatur</strong></h4>
<p>Kenaikan temperatur selalu mengakibatkan peningkatan laju suatu reaksi. Namun, kenaikan temperatur ini dapat mempengaruhi jumlah produk yang terbentuk, bergantung pada jenis reaksi tersebut (eksoterm atau endoterm). Oleh karena itu, diperlukan suatu optimasi untuk mencapai hasil yang diinginkan.<br />
Kenaikan temparatur juga dapat menurunkan berat molekul (Mr) resin urea-formaldehid. Hal tersebut dikarenakan adanya pembentukan pusat-pusat aktif yang baru, sehingga memperkecil ukuran molekul resin.</p>
<h4><strong>Waktu Reaksi</strong></h4>
<p>Jumlah dan sifat produk yang dihasilkan dari suatu reaksi juga dipengaruhi oleh waktu reaksi. Makin lama waktu reaksi, jumlah produk yang dihasilkan makin banyak akibatnya, resin yang dihasilkan akan berkadar tinggi dan memiliki Mr tinggi.</p>
<p>Pembuatan resin urea – formaldehid skala laboratorium dapat dilakukan dengan langkah kerja sebagai berikut:</p>
<ol>
<li> Masukkan 500 ml formalin (37%-w/w ) ke dalam labu bundar berleher yang dilengkapi kondensor, termometer, agitator, dan water bath (heater)</li>
<li> Tambahkan 2 gram Na2CO3H2O sebagai buffering agent</li>
<li> Tambahkan 206,5 ml NH4OH sebagai katalis</li>
<li> Tambahkan 3,8 mol Urea kemudian aduk secara teratur hingga tampak homogen</li>
<li> Panaskan larutan secara perlahan sampai mendidih</li>
<li> Setelah mendidih, akan terjadi refluks</li>
<li>Setelah terjadi refluks, atur temperatur heater menjadi 65 oC</li>
<li> Panaskan selama 3 jam sejak terjadi refluks pertama</li>
<li> Setelah 3 jam, ambil larutan secukupnya kemudian dimasukkan ke dalam wadah yang tahan panas misalnya cawan penguap</li>
<li>Masukkan larutan dalam cawan penguap ke dalam oven dengan temperatur pemanasan sekitar 120 oC selama 24 jam hingga larutan mengeras membentuk resin</li>
</ol>
<div id="attachment_1602" class="wp-caption aligncenter" style="width: 235px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/dsc00360.jpg"><img class="size-medium wp-image-1602" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/dsc00360-225x300.jpg" alt="Gambar rangkaian alat" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar rangkaian alat</p></div>
<p>Reaksi kondensasi ini dilakukan dalam sebuah labu berleher yang dilengkapi kondensor ohm meter, termometer, agitator. Kondensor berfungsi mengembunkan air yang menguap selama proses polimerisasi. Hal ini dimaksudkan untuk mempercepat tercapainya kesetimbangan reaksi. Agitator berfungsi membuat larutan tetap homogen selama proses berlangsung.</p>
<p>Kerugian penggunaan urea-formaldehid sebagai resin dibandingkan polimer lain adalah resistensinya terhadap kadar air (moisture) apalagi jika dikombinasikan dengan panas. Kondisi ini dapat menyebabkan reaksi balik dan melepaskan monomer – monomer yang belum sempurnya bereaksi membentuk polimer. Monomer ini biasanya beracun misalnya formaldehid yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, ada baiknya bila kita akan menggunakan peralatan makan yang terbuat dari bahan polimer, sebaiknya peralatan tersebut direndam dahulu dengan air panas dengan tujuan agar monomer – monomer yang belum sempurna bereaksi terlepas pada air rendaman.</p>
<p>Sumber:</p>
<ul>
<li> Billmeyer Jr.,F.W.,Textbook  of Polymer Science, John Wiley and Sons, 1994, pp.186-219</li>
<li>D’Alelio, G.F., Experiment Plastics and Synthetic Resins, John Wiley and Sons, 1952, pp. 163-166</li>
<li><a href="http://www.fpl.fs.fed.us/documnts/pdf1996/conne96a.pdf">http://www.fpl.fs.fed.us/documnts/pdf1996/conne96a.pdf</a></li>
</ul>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1599&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/resin-urea-formaldehide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biogas, Krisis Energi, dan Pemanasan Global</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2009 02:44:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[global warming]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[oil and gas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1536</guid>
		<description><![CDATA[Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi menyebabkan tingginya harga bahan bakar dan di sisi lain, penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-full wp-image-1596" title="biogas" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/04/biogas.jpg" alt="biogas" width="200" height="150" />Dua buah isu global yang sering diperbincangkan masyarakat Indonesia dan dunia adalah mengenai krisis energi dan pemanasan global. Krisis energi yang dampaknya langsung bisa dirasakan adalah tingginya harga bahan bakar. Hal ini didorong oleh kenyataan bahwa kebutuhan (konsumen) terhadap bahan bakar semakin meningkat dengan pesat, sementara itu sumbernya makin berkurang. Sebagai konsenkuensi logis, tanpa bahan baku energi kehidupan ini tidak ada. Selain itu, penggunaan bahan bakar juga berdampak bagi bumi kita. Penggunaan bahan bakar dari minyak dan batu bara disinyalir sebagai penyebab utama terjadinya pemanasan global.</p>
<p>Biogas sebuah teknologi sederhana dan mudah untuk diaplikasikan dapat menjadi sebuah solusi yang baik untuk kedua permasalahan tersebut.</p>
<h3>Apa itu biogas?</h3>
<div id="attachment_1537" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1537" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas1-300x199.jpg" alt="Aplikasi biogas" width="300" height="199" /><p class="wp-caption-text">Aplikasi biogas</p></div>
<p>Biogas adalah gas produk akhir pencernaan atau degradasi anaerobik bahan-bahan organik oleh bakteri-bakteri anaerobik dalam lingkungan bebas oksigen atau udara (Tatang, 2006). Komponen terbesar (penyusun utama) biogas adalah metana (CH4, 54 – 80 %-vol) dan karbon dioksida (CO2, 20 – 45 %-vol).</p>
<p>Gambar disamping adalah beberapa aplikasi biogas dalam kehidupan sehari &#8211; sehari.<br />
Pada prinsipnya proses produksi biogas, terjadi dua tahap yaitu penyiapan bahan baku dan proses penguraian anaerobik oleh mikroorganisme untuk menghasilkan gas metana.</p>
<h3>Bahan Baku</h3>
<p>Biogas berasal dari hasil fermentasi bahan-bahan organik diantaranya:</p>
<ul>
<li> Limbah tanaman	: tebu, rumput-rumputan, jagung, gandum, dan lain-lain,</li>
<li> Limbah dan hasil produksi : minyak, bagas, penggilingan padi, limbah sagu,</li>
<li> Hasil samping industri : tembakau, limbah pengolahan buah-buahan dan sayuran, dedak, kain dari tekstil, ampas tebu dari industri gula dan tapioka, limbah cair industri tahu,</li>
<li> Limbah perairan  : alga laut, tumbuh-tumbuhan air,</li>
<li> Limbah peternakan : kotoran sapi, kotoran kerbau, kotoran kambing, kotoran unggas.</li>
</ul>
<p>Rasio ideal C/N untuk proses dekomposisi anaerob untuk menghasilkan metana adalah 30. C/N rasio dari beberapa bahan organik dapat dilihat pada tabel berikut ini.<br />
Tabel Rasio C/N untuk berbagai bahan organik</p>
<h3>Proses Anaerob</h3>
<p>Proses penguraian oleh mikroorganisme untuk menguraikan bahan-bahan organik terjadi secara anaerob. Proses anaerob adalah proses biologi yang berlangsung pada kondisi tanpa oksigen oleh mikroorganisme tertentu yang mampu mengubah senyawa organik menjadi metana (biogas). Proses ini banyak dikembangkan untuk mengolah kotoran hewan dan manusia atau air limbah yang kandungan bahan organiknya tinggi. Sisa pengolahan bahan organik dalam bentuk padat digunakan untuk kompos.</p>
<p>Secara umum, proses anaeorob terdiri dari empat tahap yakni: hidrolisis, pembentukan asam, pembentukan asetat dan pembentukan metana. Proses anaerob dikendalikan oleh dua golongan mikroorganisme (hidrolitik dan metanogen). Bakteri hidrolitik memecah senyawa organik kompleks menjadi senyawa yang lebih sederhana. Senyawa sederhana diuraikan oleh bakteri penghasil asam (acid-forming bacteria) menjadi asam lemak dengan berat molekul rendah seperti asam asetat dan asam butirat. Selanjutnya bakteri metanogenik mengubah asam-asam tersebut menjadi metana.</p>
<div id="attachment_1541" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2.jpg"><img class="size-medium wp-image-1541" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/03/biogas2-300x200.jpg" alt="Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Instalasi sistem produksi dan pemanfaatan biogas</p></div>
<h3>Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Aktivitas Mikroorganisme Anaerob</h3>
<p>Laju proses anaerob yang tinggi sangat ditentukan oleh faktor-faktor yang mempengaruhi mikroorganisme, diantaranya temperatur, pH, salinitas dan ion kuat, nutrisi, inhibisi dan kadar keracunan pada proses, dan konsentrasi padatan. Berikut ini adalah pembahasan tentang faktor-faktor tersebut.</p>
<h4>Temperatur</h4>
<p>Gabungan bakteri anaerob bekerja dibawah tiga kelompok temperatur utama. Temperatur kriofilik yakni kurang dari 20 C, mesofilik berlangsung pada temperatur 20-45 C (optimum pada 30-45) dan termofilik terjadi pada temperatur 40-80 C (optimum pada 55-75 C).</p>
<h4>pH</h4>
<p>Pada dekomposisi anaerob faktor pH sangat berperan, karena pada rentang pH yang tidak sesuai, mikroba tidak dapat tumbuh dengan maksimum dan bahkan dapat menyebabkan kematian yang pada akhirnya dapat menghambat perolehan gas metana. Berdasarkan beberapa percobaan pH optimum untuk memproduksi metana adalah rentang netral yaitu 6,2 sampai 7,6.</p>
<h4>Nutrisi</h4>
<p>Mikroorganisme membutuhkan beberapa vitamin esensial dan asam amino. Zat tersebut dapat disuplai ke media kultur dengan memberikan nutrisi tertentu untuk pertumbuhan dan metabolismenya. Selain itu juga dibutuhkan mikronutrien untuk meningkatkan aktivitas mikroorganisme, misalnya besi, magnesium, kalsium, natrium, barium, selenium, kobalt dan lain-lain (Malina,1992).</p>
<h4>Keracunan dan Hambatan</h4>
<p>Keracunan (toxicity) dan hambatan (inhibition) proses anaerob dapat disebabkan oleh berbagai hal, misalnya produk antara asam lemak mudah menguap (volatile) yang dapat mempengaruhi pH. Zat-zat penghambat lain terhadap aktivitas mikroorganisme pada proses anaerob diantaranya kandungan logam berat sianida.</p>
<h4>Faktor Konsentrasi Padatan</h4>
<p>Konsentrasi ideal padatan untuk memproduksi biogas adalah 7-9%  kandungan kering. Kondisi ini dapat membuat proses digester anaerob berjalan dengan baik.</p>
<h3>Penentuan Kadar Metana Dengan BMP</h3>
<p>Uji BMP (Biochemical Methane Potential) ditunjukan untuk mengukur gas metana yang dihasilkan selama masa inkubasi secara anaerob pada media kimia. Uji BMP dilakukan dengan cara menempatkan cairan contoh, inokulan (biakan bakteri anaeorob) dan media kimia dalam botol serum. Botol serum ini, diinkubasi pada suhu 35oC, lalu pengukuran dilakukan selama masa inkubasi secara periodik (biasanya setiap 5 hari), sehingga pada akhir masa inkubasi (hari ke-30) didapatkan akumulasi gas metana. Pengukuran dilakukan dengan memasukkan jarum suntik (metoda syringe) ke botol serum.</p>
<blockquote><p>Sumber:<br />
Soerawidjaja, Tatang H. 2006. Potensi Sumber Daya Hayati Indonesia dalam Penyediaan Berbagai Bentuk Energi. Program Studi Teknik Kimia.<br />
<a href="http://www.dikti.org/biogas">http://www.dikti.org/biogas</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1536&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/04/biogas-krisis-energi-dan-pemanasan-global/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Biomass To Liquid (Kayu dan Rerumputan)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 06:14:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[energy]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1338</guid>
		<description><![CDATA[BTL atau Biomass To Liquid adalah suatu teknologi pengolahan biomassa menjadi senyawa-senyawa turunan dari synthesis gas yang biasa digunakan sebagai bahan bakar. Dan bahan baku BTL yang akan dibahas kali ini adalah material berkayu dan rumput-rumputan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masih berbicara tentang sumber energi alternatif sebagai bentuk upaya manusia menyelamatkan generasi yang akan datang dari krisis energi. BTL atau <em>Biomass To Liquid</em> adalah suatu teknologi pengolahan biomassa menjadi senyawa-senyawa turunan dari <em>synthesis gas</em> yang biasa digunakan sebagai bahan bakar.</p>
<p>Berbeda dengan GTL yang berbahan baku gas alam, pada BTL memerlukan proses yang lebih kompleks dalam penyiapan bahan baku, karena bahan baku BTL yakni biomassa harus digasifikasi terlebih dahulu kemudian gas tersebut harus dibersihkan dari komponen lain : NOx, SOx, partikel-partikel, dan lain-lain untuk memperoleh synthetis gas dengan kemurnian tinggi.</p>
<p>Bahan baku biomassa dibedakan menjadi dua jenis utama, yaitu pohon berkayu (<em>woody</em>) dan rumput-rumputan (<em>herbaceous</em>). Saat ini material berkayu diperkirakan merupakan 50% dari total potensial bioenergi dunia. 20% yang lain adalah jerami yang diperoleh dari hasil samping  pertanian. Spesifikasi utama dari tanaman yang dapat dijadikan bahan baku untuk memproduksi bahan bakar BTL disajikan pada tabel berikut yang dilengkapi dengan karakteristi bahan baku batu bara dan gas alam pada GTL sebagai perbandingan:</p>
<div id="attachment_1339" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-large wp-image-1339" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/tabel-btl-600x343.jpg" alt="Tabel karakteristik batu bara, gas alam, material berkayu dan material rumput-rumputan" width="600" height="343" /><p class="wp-caption-text">Tabel karakteristik batu bara, gas alam, material berkayu dan material rumput-rumputan</p></div>
<h3>Bahan Baku Berkayu</h3>
<div id="attachment_1341" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1341" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/bahan-baku-berkayu-300x150.jpg" alt="Gambar Bahan yang potensial untuk produksi BTL – dari kiri ke kanan: serpihan kayu, serbuk gergaji, kulit kayu dan pellet kayu." width="300" height="150" /><p class="wp-caption-text">Gambar Bahan yang potensial untuk produksi BTL – dari kiri ke kanan: serpihan kayu, serbuk gergaji, kulit kayu dan pellet kayu.</p></div>
<p>Batang kayu merupakan contoh aplikasi biomassa untuk energi yang pertama kali dikenal. Pembakaran kayu untuk penerangan dan penghangat telah dikenal oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu.</p>
<p>Bagaimanapun penggunaan batangan kayu untuk tujuan energi saat ini bersaing dengan penggunaan non-energi yang mempunyai nilai lebih seperti untuk produksi pulp, industri furnitur, dan lain-lain. Sehingga menyebabkan tingginya harga bahan baku BTL serta semakin meningkatkan konsumsi terhadap pohon. Oleh sebab itu, bahan baku berkayu yang dimaksud di sini adalah bahan berkayu hasil sisa pengolahan kertas, furnitur, dan lain lain.</p>
<p>Proses gasifikasi material berkayu biasanya tidak mungkin dilakukan secara langsung, karena berbagai alasan seperti ukuan partikel yang terlalu besar atau terlalu berlainan, kandungan air dan pengotor. Oleh karenanya biomassa berkayu memerlukan perlakuan pendahuluan dan transformasi menjadi bahan baku yang tepat untuk proses gasifikasi dan proses yang lebih lanjut. Bahan baku tersebut bisa berupa serpihan kayu, serbuk kayu atau dalam bentuk pellet.<br />
Ketika mencacah kayu yang masih baru, kandungan air dari serpihan kayu bisa sangat tinggi (45-55% berat). Tingginya kandungan air dapat menghambat proses gasifikasi, sehingga kandungan airnya harus diturunkan menjadi 5-25%. Terdapat tiga cara untuk menurunkan kandungan air dalam biomassa berkayu :</p>
<ol>
<li>Pengeringan secara alami material berkayu : pohon dibiarkan di atas tanah, kandungan air dapat turun secara alami dari 50-55% menjadi 35-45%.</li>
<li> Pengeringan alami serpihan kayu : serpihan kayu dapat disimpan di luar ruangan atau di dalam ruangan dekat reaktor gasifikasi untuk pengeringan lebih jauh. Penyimpanan di luar ruangan dapat menurunkan kadar air dari 50% hingga sekitar 30%. Namun penyimpanan di luar dapat menyebabkan berkurangnya berat kayu karena dekomposisi biologi dan  atau infeksi serangga (terutama pada spesies kayu lunak) terutama pada keadaan lembab.</li>
<li> Pengeringan buatan biomassa berkayu : secara umum pengeringan dengan cara ini harus dihindari, karena memerlukan energi dan biaya tambahan yang tinggi.</li>
</ol>
<h3>Bahan Baku Rumput-rumputan</h3>
<p>Penggunaan biomassa rumput-rumputan untuk energi masih dalam tahap pengembangan. Meskipun masih dalam tahap pengembangan, energi potensial biomassa rumput-rumputan sangat menjanjikan, karena sebagian besar biomassa tersebut berasal dari material sisa pertanian seperti jerami. Pengubahan bahan baku rumput-rumputan untuk umpan gasifikasi lebih mudah dari pada menggunakan material berkayu, karena biomassa rumput-rumputan hanya memerlukan pencacahan.</p>
<h4>Tanaman Energi</h4>
<div id="attachment_1342" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1342" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/mischantus-300x129.jpg" alt="kiri : mischantus yang baru di tanam ; kanan : mischantus saat umur dua tahun." width="300" height="129" /><p class="wp-caption-text">Kiri: Mischantus yang baru di tanam; Kanan : Mischantus saat umur dua tahun.</p></div>
<p>Penanaman rumput-rumputan untuk tujuan energi merupakan suatu hal yang relatif baru. Spesies utama tanaman untuk energi adalah <em>mischantus </em>(rumput glagah), <em>red canary grass</em>, dan <em>switchgrass</em>. <em>Mischantus </em>merupakan pilihan yang menarik, karena pertumbuhannya memerlukan pupuk dan pestisida yang lebih sedikit daripada tanaman yang lain, dengan perolehannya mencapai 15 ton per hektar pada kondisi yang optimum. Kelemahan utamanya adalah sulitnya rehabilitasi lahan untuk penggunaan yang lain karena struktur akar mischantus yang sangat dalam. Perolehan yang lebih rendah di dapat dari <em>switchgrass </em>( sampai dengan 10 ton per hektar). Untuk jenis <em>red canary grass</em> perolehannya lebih rendah lagi yaitu 5-7 ton per hektar.</p>
<p>Dibandingkan tanaman jangka pendek yang lain, jenis rumput-rumputan mempunyai kadar air yang lebih rendah. Meskipun demikian, spesies rumput-rumputan menunjukkan beberapa kelemahan dibandingkan dengan biomassa berkayu. Lebih rendahnya densitas, yang dapat menaikkan biaya transportasi dan penanganan. Kandungan komponen yang tidak diinginkan (kalium, klorin, sulfur, abu), yang dapat menurunkan perolehan syngas, korosi pada peralatan, penggumpalan dan fouling. Karena beberapa alasan tersebut, biomassa rumput-rumputan biasanya tidak digasifikasikan secara langsung untuk produksi BTL, tetapi diproses dalam bentuk produk setengah jadi berupa minyak pirolisis.</p>
<h4><strong>Sisa Biomassa Tanaman Rumput-rumputan (Jerami)</strong></h4>
<p>Jerami (gambar 2.3 ) merupakan bahan rumput-rumputan utama yang dipakai untuk energi akhir-akhir ini. Sama seperti tanaman rumput-rumputan yang lain, jerami biasanya mempunyai kandungan kadar air yang lebih rendah dari pada biomassa berkayu. Sebaliknya jerami  mepunyai nilai kalor, densitas dan titik leleh abu yang lebih rendah, dan kandungan abu, klorin, kalium dan sulfur yang lebih tinggi. Kalium dan klorin dapat direduksi dengan mudah dengan membiarkan jerami di ladang, saat turun hujan sejumlah besar kalium dan klorin akan tercuci oleh air hujan. Alternatifr yang lain, jerami yang masih baru dapat langsung dicuci pada temperatur sedang (50-60 C). karena pencucian, kandungan air pada jerami akan menjadi sangat besar sehingga diperlukan pengeringan setelah proses pencucian.</p>
<h3><strong>Produksi Syngas dari Biomassa</strong></h3>
<p>Produksi syngas berkualitas tinggi dari biomassa, yang akan digunakan sebagai umpan untuk produksi BTL memerlukan perhatian khusus. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa produksi syngas dari biomassa masih merupakan komponen yang baru dari konsep GTL. Syngas yang diperoleh dari gas alam dan batu bara merupakan teknologi yang telah lama dikenal.</p>
<p>Gasifikasi dapat didefinisikan sebagai degradasi termal dengan keberadaan suplai agen pengoksidasi (mengandung oksigen) dari luar seperti udara, steam,oksigen. Berbagai metode gasifikasi telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar untuk tujuan pembangkit listrik. Akan tetapi, untuk produksi BTL yang efisien diperlukan  komposisi gas yang sangat berbeda. Dikarenakan pada pembangkit listrik syngas digunakan sebagai bahan bakar, sedangkan di proses BTL syngas digunakan sebagai umpan untuk mendapatkan produk yang lain. Perbedaan tersebut mempunyai implikasi berkenaan dengan kemurnian dan komposisi gas.</p>
<p>Untuk produksi BTL, yang terpenting adalah banyaknya CO dan H2 (makin banyak, makin bagus). Keberadaan komponen hidrokarbon dan inert harus dihindari atau setidaknya jumlahnya serendah mungkin. Hal tersebut dapat didapatkan melalui beberapa jalan:</p>
<ul>
<li>Banyaknya komponen selain CO dan H2 dapat direduksi melalui transformasi lebih lanjut komponen tersebut menjadi CO dan H2. Bagaimanapun hal tersebut juga memerlukan energi dan biaya yang lebih besar (dua proses – gasifikasi dan transformasi). Hasilnya, efisiensi energi dari keseluruhan proses produksi syngas dan BTL juga berkurang, menyebabkan biaya produksi yang lebih tinggi.</li>
<li>Banyaknya berbagai macam komponen dapat diperkecil melalui dekomposisi biomassa yang lebih sempurna. Pendekatan ini sepertinya lebih sesuai ditinjau dari efisiensi energi dan biaya. Minimalisasi kandungan berbagai jenis hidrokarbon dapat diperoleh dengan menaikkan temperatur proses gasifikasi,  serta mempercepat waktu tinggal umpan di dalam reaktor. Oleh karena pendeknya waktu tinggal, ukuran partikel harus cukup kecil agar proses gasifikasi sempurna dan efisien dapat berlangsung.</li>
<li>Dalam proses gasifikasi untuk pembangkit listrik biasanya menggunakan udara sebagai pengoksidasi, karena udara merupakan pengoksidasi paling murah. Akan tetapi penggunaan udara menghasilkan nitrogen pada gas produk dalam jumlah besar. Keberadaan nitrogen dalam jumlah besar pada gas produk akan mengganggu untuk produksi BTL. Menghilangkan nitrogen melalui liquifasi di bawah temperature kriogenik memerlukan energi yang sangat besar. Di antara pilihan lain yang potensial (steam, CO2, O2), oksigen merupakan pengoksidasi yang paling sesuai untuk pabrik BTL.</li>
</ul>
<h3><strong>Gasifier untuk BTL</strong></h3>
<div id="attachment_1343" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1343" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/gas-and-char-indirect-gasifier-300x160.jpg" alt="Gas (sebelah kiri) dan char (sebelah kanan) indirect gasifier" width="300" height="160" /><p class="wp-caption-text">Gas (sebelah kiri) dan char (sebelah kanan) indirect gasifier</p></div>
<p><em>Fluidised bed gasifier</em> umumnya tidak menjumpai pembatasan skala dan lebih fleksibel mengenai ukuran partikel umpan. Meskipun demikian, gasifier tersebut masih mempunyai batas spesifikasi umpan, karena resiko adanya slagging dan fouling, aglomerasi dan korosi. Temperature operasi  fluidised bed gasifier dengan hembusan udara relative rendah (800-1000 C), yang mengakibatkan dekomposisi umpan kurang sempurna, meskipun waktu tinggalnya lama. Atmospheric atau pressurised circulating fluidised bed gasifier dengan hembusan oksigen dan gas atau char indirect gasifiers (gambar 3.3) dengan hembusan steam merupakan solusi yang lebih baik untuk produksi BTL. Kedua metode gasifikasi tersebut mereduksi jumlah nitrogen dalam gas produser secara signifikan. Pada metode pertama, hal tersebut terjadi karena penggantian udara dengan oksigen. Sedangkan pada metode kedua, nitrogen keluar pada gas cerobong (flue gas) bukan pada gas produsen, karena gasifikasi dan pembakaran dilakukan terpisah – energi untuk gasifikasi didapatkan dari pembakaran char dari gasifier pertama pada reaktor kedua.</p>
<p>Untuk mendapatkan ukuran partikel biomassa yang halus merupakan tantangan utama dari segi efisiensi energi dan biaya. Penggilingan kayu memerlukan lebih banyak energi dari pada penggilingan material lain, misalnya sekitar lima kali lebih besar dari pada penggilingan batu bara. Lebih susah lagi pencacahan biomassa rumput-rumputan menjadi partikel berukuran begitu kecil, meskipun masih mungkin dilakukan. Efisiensi energi gasifikasi lebih lanjut di reduksi dengan penghilangan gas inert (biasanya CO2) dalam jumlah besar dari gas produser. Jumlah gas inert dipengaruhi oleh densitas umpan – makin kecil densitas, makin banyak jumlah gas inert. Dengan begitu, alternative bentuk umpan biomassa (melalui <em>pre-treatment</em>) perlu dipikirkan untuk entrained flow gasifier. Pilihan pre-treatment biomassa  yang mungkin adalah <em>torrefaction</em>, <em>pyrolysis </em>dan pra-gasifikasi.</p>
<p><em>Torrefaction </em>merupakan perlakuan termal biomassa (terutama kayu) tanpa adanya oksigen selama 15-60 menit pada temperature 200-3000C dan tekanan atmosferik. Hasilnya, biomassa akan berubah menjadi produk yang mirip kokas. Tranformasi torrefaction adalah proses dengan efisiensi tinggi (konversi 85-95%). Energi yang dipakai pada torrefaction terbayar sepenuhnya dengan 8-10 kali lebih rendah konsumsi energi penggilingan kayu yang telah di torrefaction dibandingkan penggilingan kayu yang masih baru.</p>
<p>Pada <em> pyrolysis</em>, biomassa padat (terutama rumput-rumputan) diubah menjadi keadaan cairan material setengah jadi (<em>pyrolysis slurry</em>) yang kemudian diumpankan ke gasifier. Tidak seperti gasifikasi, pyrolysis merupakan degradasi termal tanpa adanya suplai pengoksidasi dari luar, Hasilnya, perolehan pyrolysis sebagian besar cairan (sampai 80% basis massa) dan beberapa tar dan char. Pyrolysis sangat cocok untuk biomassa rumput-rumputan karena pre-treatment alternatif (pencacahan) jauh lebih susah dan mahal dibandingkan kayu.</p>
<p>Gambar berikut adalah konfigurasi sistem secara menyeluruh untuk memproduksi syngas dari biomassa dengan persiapan pyrolysis untuk pemrosesan lebih lanjut menjadi bahan bakar BTL.</p>
<div id="attachment_1344" class="wp-caption aligncenter" style="width: 610px"><img class="size-large wp-image-1344" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/process-of-choren-industries-gmbh-untuk-memproduksi-syngas-dari-biomassa-600x404.jpg" alt="Gambar Carbo-V® Process of Choren Industries GmbH untuk memproduksi syngas dari biomassa" width="600" height="404" /><p class="wp-caption-text">Gambar Carbo-V® Process of Choren Industries GmbH untuk memproduksi syngas dari biomassa</p></div>
<p>Setelah dipirolisis (pada <em>low-temperature gasifier/NTV</em>), gas pirolisis biomassa dan char (<em>biocoke</em>) diunpankan ke gasifier dan akan didapatkan  gas bebas tar dengan kandungan CO dan H2 tinggi. Gas yang bersih didinginkan hingga 200 C dalam heat exchanger, dengan demikian meningkatkan efisiensi energi keseluruhan proses dengan memproduksi steam kualitas tinggi. Selanjutnya gas dibersihkan dari partikel debu (di <em>deduster</em>) dan dari komponen selain CO dan H2 (di <em>washer</em>). Pada akhirnya akan didapatkan syngas yang bersih, terdiri dari CO dan H2. Pembersihan gas secara cukup menunjukkan poin penting dalam produksi syngas dan BTL. Katalis dalam sintesis BTL dapat dengan mudah teracuni oleh logam alkali, <em>halide</em>, senyawa sulfur, CO2 dan sebagainya,  meskipun dengan jumlah yang sangat kecil.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1338&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/biomass-to-liquid-kayu-dan-rerumputan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (2)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 05:00:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[recycling]]></category>
		<category><![CDATA[tetrapack]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1307</guid>
		<description><![CDATA[Sampah kemasan aseptik memang unik; komposisi kertas (karton) yang mencapai 80% menyebabkan sampah ini sering dianggap sebagai organik. Namun, 20% sisanya merupakan bahan non-organik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Lantas bagaimana sebaiknya sampah kemasan aseptik ini diolah?]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>« Sambungan dari <a href="http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-1/">Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (1) </a></p>
<h3><strong>Bagaimana pengolahan sampah kemasan aseptik yang sebaiknya dilakukan?</strong></h3>
<p>Sampah kemasan aseptik memang unik karena tidak dapat dikelompokkan menjadi sampah organik ataupun sampah non-organik. Komposisi kertas (karton) yang mencapai 80% menyebabkan sampah ini sering dianggap sebagai organik. Namun, 20% sisanya merupakan bahan non-organik yang dapat berdampak buruk bagi lingkungan. Oleh karena itu, perlu penanganan khusus untuk sampah kemasan aseptik tersebut.</p>
<div id="attachment_1306" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1306" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/kertas-300x225.jpg" alt="kertas daur ulang dari sampah kemasan aseptik" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Kertas daur ulang dari sampah kemasan aseptik.</p></div>
<h3><strong>Proses Pemisahan Komponen Organik dan Non-Organik</strong></h3>
<p>Penanganan khusus tersebut dimulai dengan proses pemisahan antara sampah organik (kertas/karton) dengan sampah anorganik (alumunium dan polietilen). Lapisan-lapisan ini dapat dipisahkan secara sederhana menggunakan tangki yang didesain khusus agar pada keluaran tangki dihasilkan bubur kertas dan lapisan aluminium-polietilen. Proses fisik yang digunakan pada tangki adalah pengadukan sederhana, dengan memanfaatkan bafel-bafel yang dipasang di bagian dalam tangki dan air panas yang digunakan sebagai pelarut. Proses ini digunakan agar tidak diperlukan pemisahan komponen sampah kemasan aseptik secara manual.<br />
Setelah terpisah, bubur kertas yang dihasilkan diolah menjadi kertas daur ulang yang dapat dikembangkan lebih lanjut menjadi kertas seni. Kemudian Alumunium dan Polietilen dapat diolah secara terpadu (campuran Al-PE) maupun diolah secara terpisah.</p>
<div id="attachment_1308" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1308" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/11072008122-300x225.jpg" alt="Komposit Al-PE" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Komposit Al-PE</p></div>
<h3><strong>Metode Hot Pressing</strong></h3>
<p>Dalam bentuk terpadu, campuran Al-PE dapat diolah menjadi komposit dengan metode hot pressing. Tiga langkah penting dalam metode ini adalah pencacahan, pemanasan, dan pencetakan. Pencacahan lapisan aluminium-polietilen dilakukan untuk membuat bahan komposit menjadi homogen. Selain itu, pencacahan memudahkan dalam pemanasan, pelelehan polietilen lebih mudah dan cepat terjadi jika pencacahan lapisan tersebut dilakukan terlebih dahulu. Pemanasan aluminium-polietilen akan mempermudah proses pencetakan produk. Setelah proses pemanasan, aluminium-polietilen yang telah tercacah hancur dan panas secara bersamaan kemudian dimasukkan ke dalam cetakan yang diberi tekanan hidraulik, yang dioperasikan secara mekanik. Besar tekanan harus maksimal agar menghasilkan produk dengan karakteristik yang terbaik.</p>
<h3><strong>Alat Pemroses Terintegrasi</strong></h3>
<div id="attachment_1310" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1310" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/alat-300x200.jpg" alt="alat pemroses terintegrasi" width="300" height="200" /><p class="wp-caption-text">Alat Pemroses Terintegrasi</p></div>
<p>Pada tahun 2008 kemarin, sekelompok mahasiswa S1 Teknik Kimia ITB, berhasil merepresentasikan ketiga langkah pengolahan tersebut menjadi sebuah alat terintegrasi. Alat terintegrasi ini masih dibuat untuk skala laboratorium. Alat terintegrasi ini terdiri dari:</p>
<ol>
<li> <strong>Extruder</strong>. Komponen ini digunakan untuk memasukkan bahan baku berupa lapisan aluminium-polietilen dari sampah kemasan aseptik dan sekaligus untuk mencacahnya. Sebenarnya alat ini adalah alat pencacah daging, tetapi mereka melihat suatu potensi bahwa alat ini dapat menjadi alat pencacah sampah sekaligus menjadi alat pendorong sampah yang masuk dari extruder hingga ke pencetakan. Sehingga, extruder ini menjadi suatu alat yang sangat berguna jika kita ingin melangsungkan proses secara berkelanjutan.</li>
<li><strong>Elemen pemanas (Termokopel).</strong> Komponen ini digunakan untuk memanaskan sampah, sebagai bahan baku, yang akan dicetak. Elemen pemanas dipasang secara melingkar di bagian tengah hingga ujung extruder (dekat alat pencetak).</li>
<li><strong>Termo control.</strong> Komponen ini digunakan untuk mengatur dan memantau suhu pemanasan bahan baku yang akan dicetak. Termo control ini menggunakan termokopel sebagai sensor panasnya. Termo control diletakkan di ujung extruder yang sangat dekat dengan alat pencetak. Hal ini dimaksudkan agar bahan baku yang masuk ke pencetakan dipastikan telah memiliki suhu sesuai dengan yang dikehendaki.</li>
<li><strong>Pencetak.</strong> Komponen ini digunakan untuk mencetak bahan baku, yang telah melalui proses pemanasan, sehingga memiliki bentuk yang dikehendaki untuk kepentingan uji kekuatannya. Pencetak dipasang di bagian ujung extruder sehingga bahan baku yang telah dipanaskan tercetak di luar extruder.</li>
</ol>
<blockquote><p>Referensi:<br />
1. <em>Makalah Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat Nasional 2008</em>, Nazrul Munir, dkk.<br />
2. Zuben, F. dan Neves, F.L. (2004), <em>Recycling Of Aluminum And Polyethylene Present In Tetra Pak Packages</em>.<br />
3. <a href="http://www.wikipedia.com">http://www.wikipedia.com</a><br />
4. <a href="http://www.freepatentsonline.com">http://www.freepatentsonline.com</a><br />
5. <a href="http://www.tetrapak.com">http://www.tetrapak.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1307&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (1)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-1/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Feb 2009 16:19:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saepul Rohman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[recycling]]></category>
		<category><![CDATA[tetrapack]]></category>
		<category><![CDATA[waste]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1240</guid>
		<description><![CDATA[Anda pernah membeli susu, minuman rasa teh, atau jus buah yang dikemas dalam kemasan aseptik? Lalu setelah minuman di dalam kemasan tersebut anda habiskan, apa yang anda lakukan dengan sampah kemasan aseptik tersebut? Mari kita kuak keajaiban di balik kemasan unik tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1239" class="wp-caption alignright" style="width: 363px"><img class="size-large wp-image-1239" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/tetrapak-designs-600x306.jpg" alt="aseptic pack" width="353" height="180" /><p class="wp-caption-text">Aseptic Pack</p></div>
<p>Anda pernah membeli susu, minuman rasa teh, atau jus buah yang dikemas dalam kemasan aseptik? Lalu setelah minuman di dalam kemasan tersebut anda habiskan, apa yang anda lakukan dengan sampah kemasan aseptik tersebut?</p>
<p>Kemasan aseptik adalah kemasan  yang didesain khusus agar produk makanan atau minuman yang dikemas di dalamnya terhindar dari berbagai kontaminan seperti bakteri. Oleh sebab itu, biasanya kemasan aseptik dibuat kedap udara. Kemasan aseptik dibuat berlapis-lapis, terdiri dari polietilen (15 %) , kertas / karton (80%), dan Alumunium (5%).  Sistem pelapisan kertas karton dengan komponen plastik dan alumunium pada sampah kemasan aseptik bertujuan untuk menyempurnakan tingkat kekedapan udara dalam kemasan tersebut. Aluminium dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan logam atau bahan kedap udara lainnya, selain karena aluminium ini ringan dan tidak mudah untuk terkorosi.</p>
<div id="attachment_1241" class="wp-caption alignright" style="width: 160px"><img class="size-thumbnail wp-image-1241" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/tetrapak_homefirststepforrecycling-150x150.jpg" alt="aseptic pack waste" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Aseptic Pack Waste</p></div>
<h3><strong>Dampak Penggunaan Kemasan aseptik dalam Jumlah Besar</strong></h3>
<p>Di Indonesia, saat ini kemasan aseptik sudah banyak digunakan oleh industri-industri makanan ternama. Di sisi lain penggunaan dalam skala besar menimbulkan permasalahan di bidang lingkungan karena kemasan aseptik sendiri tidak ikut terkonsumsi atau dengan kata lain menjadi sampah. Di Bandung, contohnya, Berdasarkan hasil survei yang dilakukan kelompok penelitian mahasiswa Teknik Kimia ITB, di beberapa <em>franchise</em>? Indomaret, Yomart, Alfamart, Circle K? di kota Bandung, jumlah kemasan aseptik yang dikonsumsi per hari mencapai angka sekitar 30.000 kemasan. Dapat dibayangkan jumlah kemasan aseptik yang dikonsumsi dalam kurun waktu 1 tahun akan menimbulkan suatu permasalahan sampah yang serius.</p>
<p>Sampai saat ini penanganan sampah kemasan aseptik masih dilakukan dengan metode yang kurang tepat, setidaknya dalam skala rumah tangga. Biasanya sampah kemasan aseptik dibakar bersama dengan sampah organik lainnya. Ketika dibakar, kertas karton dan polietilen akan habis terbakar, namun logam Al tidak ikut terbakar dan dikubur dalam tanah. Logam aluminium dalam tanah dapat mengakibatkan pencemaran tanah. Lalu hasil dari pembakaran kertas karton dan polietilen pun akan berdampak pada pencemaran udara karena pembakaran tersebut menghasilkan senyawa polutan yang dapat membahayakan lingkungan. Kemungkinan lainnya adalah adanya pelarut yang dapat melarutkan logam aluminium sisa pembakaran tadi dan membawa sisa logam tersebut ke perairan dan menyebabkan pencemaran air. Jikalau pun dibakar di kolom insinerasi dengan suhu yang tinggi, aluminiumnya hanya akan meleleh untuk sementara waktu. Lelehan aluminium ini akan kembali menjadi padatan dan membentuk kerak pada insinerator saat terjadi penurunan suhu.</p>
<p>Selain dibakar, penanganan sampah kemasan aseptik yang dianggap kurang tepat adalah dengan cara dikubur di dalam tanah. Penanganan ini akan berakibat buruk pada kondisi tanah karena hanya lapisan karton yang dapat terdegradasi di dalam tanah. Penguraian karton pun hanya dapat terjadi jika kemasan kemasan aseptik telah rusak secara fisik dan kehilangan lapisan pelindung polietilennya. Di lain pihak, lapisan polietilen tidak dapat diuraikan dan akan mengganggu keadaan fisik tanah. Sedangkan lapisan aluminium akan membentuk oksidanya dan mengganggu keseimbangan  unsur-unsur dalam tanah.</p>
<p>Jadi bila anda membuang sampah kemasan aseptik sembarangan maka anda turut bertanggung jawab atas terjadinya kerusakan lingkungan. Selain isu kerusakan lingkungan, alasan untuk mengolah sampah kemasan aseptik juga dapat ditinjau dari sudut pandang energi. Sebagai mana kita ketahui bahwa untuk memperoleh alumunium murni dibutuhkan energi yang besar dalam proses pemurniannya. Oleh sebab itu, bila sampah kemasan aseptik yang mengandung alumunium murni tersebut tidak kita olah, maka telah terjadi <em>energy</em> <em>loss </em>yang cukup besar dan mubadzir.</p>
<div id="attachment_1242" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-1242" src="http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/pyrolysis-300x296.jpg" alt="tetrapack waste recycling" width="300" height="296" /><p class="wp-caption-text">Tetrapack Waste Recycling</p></div>
<h3><strong>Lantas bagaimana seharusnya penanganan sampah kemasan aseptik tersebut?</strong></h3>
<p>Pada intinya, yang harus dilakukan pertama kali adalah memisahkan sampah kemasan aseptik tersebut dari lapisan kertasnya. Kemudian setelah lapisan kertas dapat dipisahkan, maka dapat dilakukan beberapa metode pemanfaatannya. Untuk sampah kertas dapat diolah menjadi kertas daur ulang.<br />
Beberapa metode yang bisa dilakukan untuk pemanfaatan sampah ini, diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Metode Hot – Pressing</strong>. Metode ini bertujuan memanfaatkan lapisan AL-PE. Lapisan AL-PE ini dipanaskan pada suhu tertentu hingga polietilen mencair. Setelah itu kemudian dimasukkan ke dalam cetakan untuk ditekan dengan tekanan tinggi. Produk akhir dari metode ini adalah komposit AL-PE. Komposit ini dapat digunakan sebagai material pengganti kayu, dll. Komposit yang telah berhasil dibuat memiliki kekuatan yang cukup kuat yakni sekitar 3 ton pada uji tekan komposit di lab teknik material ITB.</li>
<li><strong>Metode Pelarutan Menggunakan Pelarut Organik</strong>. Metode ini bertujuan untuk memperoleh alumunium murni dengan melarutkan polietilen yang melekat pada alumunium tersebut. Setelah diperoleh alumunium murni, selanjutnya AL-murni tersebut dapat dikonversi menjadi tawas ataupun sodium aluminat.</li>
</ol>
<p>Bersambung ke <a href="http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-2/">Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (2) »</a></p>
<blockquote><p><strong>Pustaka</strong><br />
1.	Zuben, F. dan Neves, F.L. (2004), <em>Recycling Of Aluminum And Polyethylene Present In Tetra Pak Packages</em>.<br />
2.	<a href="http://www.wikipedia.com">http://www.wikipedia.com</a><br />
3.	<a href="http://www.freepatentsonline.com">http://www.freepatentsonline.com</a><br />
4.	<a href="http://www.tetrapak.com">http://www.tetrapak.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1240&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/menguak-keajaiban-di-balik-sampah-kemasan-aseptik-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
