<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Rendra Bayu</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/author/rendra-bayu-h/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine and Forum for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 17:19:14 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.6.2</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bioethanol from Biowaste</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/bioethanol-from-biowaste/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/bioethanol-from-biowaste/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Feb 2008 04:18:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rendra Bayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/bioethanol-from-biowaste/</guid>
		<description><![CDATA[Scatter small units all around the world next to food factories that produce biowaste and farms that can use the leftovers.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>How do you make the world&#8217;s most environmentally-friendly bioethanol? </strong><br />
At St1, we were looking to answer this question when planning our own bioethanol plant. We started by putting aside all traditional ways of making bioethanol. We didn&#8217;t really want to make it out of crops grown and shipped from the other side of the world. Then, we notice how all around us, there is energy that literally thrown to waste: biowaste. The kind of leftovers which bakery, dairy factories, breweries, and numerous other food producers dump their landfills by the ton. The main challenge was transportation.</p>
<p>Traditionally, the waste get transported to one huge ethanol plant which is costly and time-consuming. In other words, completely wasteful. That&#8217;s when we understood we needed to turn around our way of thinking. We didn&#8217;t want to build one gigantic ethanol plant but many small ones instead. If the waste mountain won&#8217;t come to the plant, let&#8217;s bring the plant to the waste mountain. This thought brought about a completely new way of making bioethanol: dispersed production. </p>
<p>By building small ethanol units next to these factories, the biowaste and other leftovers don&#8217;t get sent to landfills anymore; instead, to a very efficient process of fermentation, they distilled into 85% alcohols. Even the energy to power this process comes from renewable resources. The leftovers from the fermentation process can also be used as feed for animals. And since the bioethanol plants are close to that build factories and farms, we save on transportation. </p>
<p>The same container trucks that re-stock from petrol station are used to move the ethanol from the small units to a larger plant. On their way back from the petrol stations, they simply fill their tank with ethanol, so we avoid driving empty trucks around. The ethanol needs to be boosted so it can be blended with petrol. We do that in a separate de-watering unit where the ethanol is turned into almost pure alcohols. Thanks to the day of advanced technologies, this process consumes very little energy. </p>
<p>That&#8217;s the idea behind St1&#8217;s dispersed ethanol production: We scatter small units all around the world next to food factories that produce biowaste and farms that can use the leftovers. We keep an eye on energy consumption and we keep the environment clean. This is how we create the world&#8217;s cleanest bioethanol without producing any extra greenhouse gases.</p>
<p><em>St1 energy company is implementing through operations its vision of being the leading manufacturer and vendor of CO2 -free energy products in Europe. St1 now operates more than 400 service stations in Finland, 41 stations in Sweden and 4 distribution units in Poland. St1 also sells electricity to consumers and smaller companies and is a large scale vendor of heating oil all over Finland.</em></p>
<blockquote><p><i>This video is co-provided by YouTube. If you experience errors playing the video, check you Internet connection. The video needs a high speed DSL/Broadband connection. To avoid lag times when playing the video, click the play button and let your Internet browser cache the video. Re-play after the video has been cached completely.</i></p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/bioethanol-from-biowaste/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Co-production of Bioethanol</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/02/co-production-of-bioethanol-with-others-biofuels/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/02/co-production-of-bioethanol-with-others-biofuels/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 08 Feb 2008 07:15:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Rendra Bayu</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<category><![CDATA[biotechnology]]></category>

		<category><![CDATA[energy]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/2008/02/co-production-of-bioethanol-with-others-biofuels/</guid>
		<description><![CDATA[Seperti yang telah kita ketahui bersama, Indonesia kaya akan biomassa, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi sangat potensial untuk dikembangkan. Berikut ini adalah paparan ringkas tentang produksi bioetanol dari bahan baku biomassa.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="http://majarimagazine.com/wp-content/themes/catalyst/scripts/timthumb.php?src=http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/old/coproduction.jpg&amp;w=200&amp;h=150&amp;zc=1&amp;q=80" alt="" class="left" />Seperti yang telah kita ketahui bersama, Indonesia kaya akan biomassa, apapun itu bentuknya. Oleh karena itu, pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi sangat potensial untuk dikembangkan. Berikut ini adalah paparan ringkas tentang produksi bioetanol dari bahan baku biomassa (bahan berselulosa) yang dikaitkan dengan produksi biofuel yang lain serta sedikit pembahasan tentang <em>bio/catalytic refineries</em> dan integrasinya dengan <em>conventional refineries</em>.</p>
<h3>Hydrogen Production</h3>
<p>Konversi biomassa menjadi hidrogen secara biologi dapat dilakukan dengan proses <em>photofermentation </em>maupun <em>darkfermentation</em>. Perolehan hidrogen dengan dark fermentation hanya mencapai 10-20% dari jumlah kandungan hidrogen dalam bahan organik teoretik. Perolehan hidrogen bervariasi dari 0,52 mol/mol heksosa yang diperoleh jika menggunakan subtrat molase dalam <em>batch culture Enterobacter aerogenes</em>, hingga 2,3 mol/mol heksosa jika menggunakan glukosa sebagai substrat dalam <em>continuous culture Clostridium butyricum</em>. Selain perolehan yang rendah, permasalahan lain yang ada dalam produksi hidrogen secara fermentasi adalah konsumsi hidrogen oleh organisme lain seperti metanogenik sehingga substrat awal harus di sterilisasi terlebih dahulu dan menggunakan inokulum yang dalam keadaan murni. Proses produksi hidrogen yang berdiri sendiri dengan cara ini masih tidak laik untuk diaplikasikan saat ini.</p>
<h3>Methane Production</h3>
<p>Dalam ekosistem anaerobik degradasi biomassa (yang tak tersterilisasi) secara normal dapat mengikuti jalur yang diilustrasikan pada Fig 1. Jika tidak ada akseptor elektron anorganik seperti sulfat atau nitrat, metana menjadi produk akhir proses karena semua senyawa intermediet dari bakteri fermentasi dapat di degradasi menjadi metana, karbondioksida, dan air. Hampir 90% energi dalam biomassa terkonversi menjadi produk akhir dan hanya 10% digunakan untuk bakteri fermentasi. Dalam tahap akhir proses pembentukan metana, karbon (dalam biomassa) hampir sepenuhnya diubah menjadi keadaan paling teroksidasi (CO<sub>2</sub>) dan paling tereduksi (CH<sub>4</sub>). Hanya 4% energi digunakan unuk mikroorganisme dan 86% energi terkandung dalam metana.</p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig1.gif' alt='Degradation pathway and avaiable energy to participating microorganisms and in intermediates and end products during anaerobic degradation of organic matter. The percentages refer to residual energy in substrate and fermentation products (in bold), and to the energy used by microorganisms (in italics).' width="550px" /></center></p>
<p>Dalam proses fermentasi metanogenik secara umum diperoleh perolehan metana mendekati perolehan maksimum teoretik 3 mol CH<sub>4</sub>/mol glukosa.</p>
<h3>Production Biofuels Using the Maxifuel Concept</h3>
<p>Proses produksi hidrogen, metana, dan bioetanol dapat dilangsungkan secara terintegrasi, seperti dalam Maxifuel concept (ilustrasi Fig 2). Konsep ini didesain untuk produksi Etanol dari bahan lignoselulosa, untuk menghasilkan jumlah biofuel yang maksimum per unit raw material dan memanfaatkan residu untuk konversi lebih lanjut menjadi energi. Produk utama bioetanol digunakan untuk bahan bakar transportasi dan penekanan proses ini untuk optimasi produksi etanol. Produksi biofuel yang lain seperti metana, hidrogen, dan produk bernilai lain seperti bahan bakar padat akan menambah nilai lebih pada proses. Proses ini juga ramah lingkungan karena dilakukan <em>recycle </em>dan <em>reuse </em>aliran keluaran. Pengembangan produksi etanol berbasis bahan lignoselulosa dapat diintegrasikan lebih lanjut dalam produksi bioetanol konvensional dari bahan jagung, dimana residu jagung dan fiber dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas 20% seperti tertera pada ilustrasi Fig 3.</p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig2.gif' alt='Flow sheet of the Maxifuel concept. All major processes and process streams from solid lignocellulosic biomass to ethanol, hydrogen, and methane are shown.' width="550px" /></center></p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig3.gif' alt='Increasing the ethanol yield from a conventional corn-to-ethanol plant by bolting on a pretreatment and xylose fermenting unit. The ethanol output is increased by 20%.' width="550px" /></center></p>
<p>Lebih dari 19% bahan baku terpisahkan sebagai padatan, yang dapat dimanfaatkan untuk proses pembakaran. Jika diinginkan, fraksi ini dapat ditingkatkan, sebaliknya jika tidak diinginkan dapat diresirkulasi pada proses pretreatment bersama dengan bahan baku. Neraca massa dari proses Maxifuel dapat dilihat pada ilustrasi Fig 4. <em>Pilot plant</em> proses ini telah di buat di Technical University of Denmark, DTU (ilustrasi Fig 5) dan konsep ini akan didemonstrasikan pada tahun 2008.</p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig4.gif' alt='Mass balance based on COD of different products from the Maxifuel processes. The percentage values represent the relative contribution to the total COD.'  width="550px"/></center></p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig5.jpg' alt='The pilot plant at DTU. a. Inlet, b. Fermentation tanks (2700 L each), c. Fermenters and holding tanks, d. Distillation tanks.'  width="550px"/></center></p>
<p>Proses Maxifuel yang telah dipatenkan terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li><strong>Pretreatment</strong><br />
Proses pretreatment dari bahan lignoselulosa lebih intensif dibandingkan dengan bahan gula dan bahan berpati. Metode pretreatment bahan lignoselulosa sekarang ini mengonsumsi 30-40% biaya total untuk produksi bioetanol.</li>
<li><strong>Hydrolysis</strong><br />
Hidrolisa keluaran tahap pretreatment direaksikan dengan enzim untuk memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi heksosa dan pentosa sehingga dapat di fermentasi mejadi etanol. Harga enzim sangat mahal, sehingga penelitian untuk mendapatkan enzim dengan aktivitas tinggi dan harga murah adalah kunci untuk mengatasi hambatan ini. Adapun cara lain untuk mereduksi biaya adalah dengan melakukan recycle loops untuk mengumpan balik enzim dalam tangki hidrolisis enzimatik.</li>
<li><strong>Fermentation of C6 sugars </strong><br />
Tahap hidrolisis dapat dioptimalkan dengan melakukan kombinasi hidrolisis enzymatik bersamaan dengan proses fermentasi oleh ragi (<em>simultaneous saccharification and fermentation</em>, SSF). Temperatur optimum enzim yang lebih tinggi dari pada temperatur optimum ragi dapat mengurangi keuntungan menggunakan proses SSF dibandingkan dengan proses terpisah. Ragi roti <em>Saccharomyces cerevisiae</em> digunakan untuk menghasilkan etanol, dan telah banyak digunakan dalam produksi skala industrial. Produktivitas etanol yang besar serta toleran terhadap etanol dan inhibitor lain dalam hidrolisa biomassa adalah alasan penting digunakannya organisme ini, meskipun proses fermentasi xylose organisme ini kurang.</li>
<li><strong>Separation</strong><br />
Setelah fermentasi glukosa oleh ragi dalam konsep Maxifuel, lignin dipisahkan dengan menggunakan filter, yang sangat mungkin didapatkan lignin dengan berat kering yang tinggi untuk menghindari pembuangan xylose dan etanol yang berada dalam fasa likuid.</li>
<li><strong>Fermentation of C5 sugars</strong><br />
Gula residu dalam hidrolisat setelah proses fermentasi oleh ragi di fermentasikan lagi menggunakan mikroorganisme termofilik, Thermobacter BG1. Modifikasi genetik pada mikroorganisme ini dapat menghasilkan 38,7 g/L atau 5,4% v/v etanol dalam sistem kontinu dari hidrolisa bahan nondetoxified lignoselulosa. Temperatur pertumbuhan pada 75<sup>o</sup>C memberi kemudahan untuk proses distilasi etanol dari reaktor. Operasi pada kondisi termofilik dapat menurunkan pengaruh kontaminasi, yang merupakan hambatan utama proses fermentasi pada kondisi mesofilik. Selama proses fermentasi gula residu ini, 0,5 sampai 1,1 mol hidrogen/mol substrat dihasilkan sebagai produk samping. Untuk optimasi kelayakan, proses fermentasi termofilik bioetanol dilakukan dalam sistem reaktor terimobilisasi. Imobilisasi organisme ini dalam up flow reactor meningkatkan toleransi etanol, meningkatkan konversi substrat, dan menurunkan sensitivitas ketidakseimbangan proses fermentasi</li>
<li><strong>Anaerobic digestion of process water and recirculation</strong><br />
Efluen dari produksi bioetanol masih mengandung bahan organik yang besar, kecuali karbohidrat. Anaerobik digestion telah lama digunakan untuk mengolah limbah yang mengandung zat organik dalam konsentrasi yang tinggi. Keuntungan proses ini antara lain menstabilkan aliran limbah, efisiensi reduksi kandungan zat organik tinggi, dan produksi metana sebagai bahan baku energi. Pendapatan dari produksi metana dapat mengurangi biaya produksi bioetanol hingga mencapai 34%. Efluen dari tahap fermentasi mengandung lignin berberat molekul rendah yang dihasilkan selama proses  fisik-kimia pada tahap pretreatment, yang berupa senyawa aromatik. Senyawa aromatik ini secara umum sukar di degradasi pada proses anaerob, dan jika digunakan kembali akan menginhibisi proses fermentasi. Oleh karena itu, pencapaian dalam proses purifikasi anaerobik yang dapat mendegradasi senyawa ini sangat penting dilakukan.</li>
</ol>
<h3>Bio/Catalytic Refineries</h3>
<p>Perkembangan lanjut biorefineries dapat dilakukan dengan teknik hibrida menggabungkan proses konversi biologi dengan proses hilir katalitik. Proses dalam autothermal reformer dengan efisiensi tinggi dapat mengubah 1 mol etanol menjadi 5 mol hidrogen. Jika digabungkan dengan proses biologi dimana 2 mol etanol dihasilkan dari setiap molekul gula (glukosa) perolehan hidrogen dalam dua tahap menjadi 83 % dari nilai maksimum teoretik, lebih besar jika dibandingkan dengan proses fermentasi yang hanya mencapai 10-20%. Selain itu, dihasilkan juga hidrogen dari proses fermentasi termofilik yang akan menambah perolehan hidrogen pada keseluruhan proses mendekati nilai maksimal teoretik yaitu 12 mol hidrogen/mol monosakarida.</p>
<p>Hidrogen dipandang sebagai salah satu energi masa depan. Pengenalan proses hilir konversi katalitik biofuel memungkinkan digunakannya bahan bakar yang tidak memerlukan perlakuan yang lebih  kompleks (etanol untuk menghasilkan hidrogen) untuk alat transportasi dengan menggabungkan teknologi fuel cell. </p>
<h3>Integrated Conventional and Bio/Catalytic Refineries</h3>
<p>Adanya perhatian dan perkembangan yang pesat pemanfaatan biomassa sebagai bahan baku energi, tidak menutup kemungkinan bahan bakar minyak akan terganti semua dalam kurun waktu 50 tahun. Integrasi antara conventional refineries dengan bio/catalytic refineries akan menimbulkan kesinergian dalam proses, ketersediaan bahan kimia, dan logistik.  Beberapa aliran proses, limbah, dan panas dari conventional refinery dapat dimanfaatkan dalam biorefinery (ilustrasi Fig 6). Air pendingin dan beberapa aliran efluen dapat digunakan sebagai air proses dalam biorefinery. Conventional refinery memiliki sejumlah besar energi dengan temperatur rendah yang dapat ditukar dan dimanfaatkan untuk energi proses dalam biorefinery. Produk biorefinery dapat digunakan sebagai bahan baku untuk bermacam-macam proses dalam conventional refinery. Sebagai contoh, etanol digunakan sebagai bahan campuran produk gasolin.</p>
<p>Hidrogen yang dihasilkan dari proses biologi dapat dimanfaatkan untuk proses hidrogenasi dalam conventional refiery. Methane dari proses biorefinery dapat digunakan untuk bahan bakar, dan dapat juga digunakan sebagai bahan baku proses reformasi katalitik untuk menghasilkan hidrogen. Dapat juga digunakan untuk menghasilkan gas sintesis (CO/H<sub>2</sub>), yang dapat dimanfaatkan dalam proses gas to liquids atau produksi metanol. Adanya tahap proses katalitik antara kedua refinery ini dapat meningkatkan keuntungan dua kali lipat , karena hidrokarbon keluaran proses katalitik dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku proses refining lebih lanjut pada coventional refinery.</p>
<p><center><img src='http://majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/02/fig6.jpg' alt='Combination of bio/catalytic refinery and petroleum-based refinery. cat indices chemical catalytic conversion.'  width="550px"/></center></p>
<blockquote><p>
Referensi: <strong>Bioscience and Technology</strong>, BioCentrum-DTU, Technical University of Denmark.
</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/02/co-production-of-bioethanol-with-others-biofuels/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
