<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Majari Magazine &#187; Anita Pravitasari</title>
	<atom:link href="http://majarimagazine.com/author/anita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://majarimagazine.com</link>
	<description>No.1 Magazine for Indonesian Chemical Engineering Students. Articles about chemical process technology, fuel utilization, global issues, environmental issues, safety and health, university profile, scholarships, comic, and video.</description>
	<lastBuildDate>Fri, 10 Feb 2012 03:01:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Teknologi Proses Produksi Pupuk ZK (Bagian 2)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/08/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-2/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/08/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 22:30:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[fertilizer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2051</guid>
		<description><![CDATA[Proses produksi ZK melalui dekomposisi KCl dengan MgSO4 terdiri dari dua tahap konversi dan melalui dekomposisi KCl dengan (NH4)2SO4 menjadi pupuk K2SO4 atau K2SO4-(NH4)2SO4 pada temperatur 25ºC. Proses Mannheim menggunakan furnace bejana silindris dengan 2 ruang bakar, yaitu combustion dan reaction chamber.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_2059" class="wp-caption alignleft" style="width: 160px"><img class="size-full wp-image-2059" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/q3-150x150.gif" alt="Panjing Hengxing Chemicals Co., Ltd. Salah satu produsen pupuk ZK yang berdomisili di Cina" width="150" height="150" /><p class="wp-caption-text">Panjing Hengxing Chemicals Co., Ltd. Salah satu produsen pupuk ZK yang berdomisili di Cina</p></div>
<h3>3. Proses Produksi ZK melalui dekomposisi KCl dengan MgSO4</h3>
<p>Reaksi yang terjadi:</p>
<p style="text-align: center">2KCl + 2MgSO4.xH2O + 5H2O -&gt; K2Mg(SO4)2.6H2O + MgCl2<br />
K2Mg(SO4)2.6H2O + 2KCl -&gt; 2K2SO4 + MgCl2 + 6H2O</p>
<p>Proses produksi ZK melalui dekomposisi KCl dengan MgSO4  terdiri dari dua tahap konversi, yakni magnesium sulphate bereaksi dengan sylvite (KCl) membentuk schoenite (K2Mg(SO4)2.6H2O) terlebih dahulu sebelum membentuk produk akhir yaitu SOP (ZK). Skema proses yang biasa digunakan dapat dilihat pada gambar di bawah ini.</p>
<div id="attachment_2052" class="wp-caption aligncenter" style="width: 399px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet3.jpg"><img class="size-full wp-image-2052" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet3.jpg" alt="Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan MgSO4" width="389" height="241" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan MgSO4</p></div>
<h3>4. Proses Produksi ZK melalui Dekomposisi KCl dengan (NH4)2SO4</h3>
<p>Reaksi yang terjadi:</p>
<p style="text-align: center">2KCl + (NH4)2SO4 -&gt; K2SO4 +2NH4Cl</p>
<p>Proses ini memiliki beberapa karakteristik, diantaranya yaitu konversi KCl menjadi pupuk K2SO4 atau K2SO4-(NH4)2SO4 pada temperatur 25ºC. Rasio K2O : N di pupuk dapat divariasikan dari 50 : 1 hingga 40 : 5. Selain itu NH4Cl dan KCl dapat direcover dengan proses kristalisasi dari larutan induk. PFD dari proses ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.</p>
<div id="attachment_2053" class="wp-caption aligncenter" style="width: 426px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet4.jpg"><img class="size-full wp-image-2053" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet4.jpg" alt="Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan (NH4)2SO4" width="416" height="223" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan (NH4)2SO4</p></div>
<p>Pengaruh kadar NH4 di larutan induk terhadap kadar K2SO4 pada garam yang telah dikristalisasi direpresentasikan oleh grafik. Terlihat bahwa semakin rendah kandungan NH4 di larutan induk maka semakin besar pula yield produk yang dapat diperoleh.</p>
<div id="attachment_2057" class="wp-caption aligncenter" style="width: 344px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/ZK_NH4_dependance.jpg"><img class="size-full wp-image-2057" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/ZK_NH4_dependance.jpg" alt="Pengaruh kadar NH4 di larutan induk terhadap kadar K2SO4 pada garam yang telah dikristalisasi" width="334" height="207" /></a><p class="wp-caption-text">Pengaruh kadar NH4 di larutan induk terhadap kadar K2SO4 pada garam yang telah dikristalisasi</p></div>
<h3>5. Proses Hargreaves</h3>
<p>Tidak banyak literatur yang membahas proses ini. Dalam proses ini KCl dikeringkan, diayak, dan diumpankan ke chamber reaksi. Gas SO2 panas dari Sulfur burner direaksikan dengan uap air dan udara (kondisi excess) di masukan ke dalam converter secara batch dan counter-current. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center">4KCl + 2SO2 + O2 + 2H2O -&gt; 2K2SO4 + 4HCl</p>
<h3>6. Proses Mannheim dengan Mencampur Langsung KCl dengan H2SO4</h3>
<div id="attachment_2055" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Mannheim-Furnace.jpg"><img class="size-medium wp-image-2055" title="Mannheim Furnace" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Mannheim-Furnace-300x134.jpg" alt="Furnace Mainnheim" width="300" height="134" /></a><p class="wp-caption-text">Furnace Mainnheim</p></div>
<p>Proses ini menggunakan furnace Mannheim yang berupa bejana silindris yang memiliki 2 ruang bakar, yaitu combustion chamber dan reaction chamber. Temperatur operasi furnace Mannheim adalah sebesar 800ºC. Karakteristik dari proses ini yaitu:</p>
<ol>
<li>Temperatur tinggi</li>
<li>Banyak problem pada material (tingkat korosi, dll)</li>
<li>Diperoleh by-product HCl</li>
</ol>
<p>Reaksi yang terjadi adalah:</p>
<p style="text-align: center">KCl + H2SO4 -&gt; KHSO4 + HCl<br />
KCl + KHSO4 -&gt;  K2SO4 + HCl</p>
<p>Reaksi tahap pertama bersifat eksotermis dan terjadi pada temperatur yang rendah,  sedangkan reaksi tahap kedua bersifat endotermis dan berlangsung pada temperatur 550 &#8211; 600ºC. Produk ZK selanjutnya didinginkan di cooling drum. Residu H2SO4 dinetralkan dengan penambahan Ca(OH)2 dan CaCO3 sedangkan by-product HCl yang terbentuk didinginkan  di graphite heat exchanger dan selanjutnya dilakukan absorbsi 2 tahap dengan air.</p>
<p style="text-align: center">
<div id="attachment_2054" class="wp-caption aligncenter" style="width: 330px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet5.jpg"><img class="size-full wp-image-2054" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet5.jpg" alt="Diagram alir proses Mannheim" width="320" height="250" /></a><p class="wp-caption-text">Diagram alir proses Mannheim</p></div>
<p>Spesifikasi produk yang dihasilkan adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Specproduk.jpg"><img class="aligncenter size-full wp-image-2056" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Specproduk.jpg" alt="Specproduk" width="438" height="90" /></a></p>
<p>Emisi yang dihasilkan dikontrol dengan batasan HCl maksimum 5 ppm dan SO2 maksimum 800 ppm. Beberapa negara di dunia yang telah mendirikan pabrik ZK dengan proses Mannheim antara lain Belgia, Amerika Serikat, Indonesia, dan Cina.</p>
<h3>7. Pemurnian Sumber Sulfat Alami seperti Langbeinite dan Kainite</h3>
<p>Dasar pemurnian proses ini adalah reaksi kristal dan pertukaran ion. Proses pemurnian langbeinite dapat dilakukan dengan menggunakan <em>Muriate of Potash (MOP)</em> atau KCl dengan mencampurnya dengan langbeinite. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center">4KCl + K2SO4.2MgSO4 -&gt; 3K2SO4 + 2MgCl2</p>
<p>Bijih langbeinite dipisahkan dari KCl dan NaCl dengan pencucian selektif, pengapungan, dan penambahan agen pemisah. Selanjutnya bijih tersebut dihaluskan dengan ball mill dan dicampur dengan larutan MOP yang telah dilarutkan dan di-<em>clarified</em> terlebih dahulu pada unit terpisah. Produk ZK yang terbentuk berupa larutan garam dan kristal. Kristal dapat difiltrasi atau disenrifugasi kemudian dikeringkan, dan terakhir diayak untuk memperoleh ukuran produk yang sesuai. Sedangkan garam dapat dievaporasi, kristalisasi, dan terakhir difiltrasi. Campuran dari garam yang diperoleh dapat diumpankan kembali ke reaktor, sedangkan filtratnya dapat dibuang sebagai limbah.</p>
<p style="text-align: justify">Proses pemurnian bijih kainite yang hampir mirip dengan pemrosesan langbainite terdiri dari 4 tahap:</p>
<ol>
<li>Persiapan bijih dan pengapungan</li>
<li>Produksi schoenite (K2SO4.MgSO4.6H2O) dan recovery-nya</li>
<li>Leaching schoenite menjadi ZK</li>
<li>Pengolahan larutan induk</li>
</ol>
<p>Kainite dihaluskan bersama garam recycle di ball mill dan hydroclasifier. Overflow akan menuju ke thickner dan filter utama sedangkan underflow diolah dengan flotasi dan filtrasi. Cake dari filter utama akan diumpankan ke reaktor schoenite dan cyclone. Setelah 2 tahap pemisahan, Schoenite diumpankan ke reaktor leaching dan ZK yang terbentuk dipisahkan di thickner lalu di sentrifugasi dan dikeringkan, sedangkan overflow thickner di-recycle kembali. Spesifikasi produk yang terbentuk juga cukup baik, yakni kadar K2O minimal 50% dan kandungan chlorine kurang dari 1%.</p>
<blockquote>
<p style="text-align: justify">Sumber:</p>
<p>K-UTEC AG Salt Technologies: <a href="http://www.k-utec.com" target="_blank">www.k-utec.com</a><br />
<em>Manual of Fertilizer Processing</em>, <span>Francis T. Nielsson,<br />
</span><a href="http://www.bodast.com" target="_blank">www.bodast.com</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2051&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/08/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknologi Proses Produksi Pupuk ZK (Bagian 1)</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/07/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-1/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/07/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Jul 2009 13:33:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[fertilizer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=2007</guid>
		<description><![CDATA[Potassium Sulphate (ZK) atau biasa disebut Sulphate of Potash (SOP) telah dikenal sejak abad ke-14. ZK digunakan sebagai pupuk yakni sumber senyawa kalium dan sulfur pada tanaman perkebunan seperti rami, kapas, dan tembakau. Di Indonesia pupuk ini tidak disubsidi sehingga harganya relatif tinggi di pasaran.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em> </em></p>
<div id="attachment_2011" class="wp-caption alignleft" style="width: 298px"><em><em><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Potassium-Sulphate-JH003-.jpg"><img class="size-full wp-image-2011" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/Potassium-Sulphate-JH003-.jpg" alt="Potassium Sulphate (ZK) biasa digunakan sebagai pupuk pada tanaman" width="288" height="164" /></a></em></em><p class="wp-caption-text">Potassium Sulphate (ZK) biasa digunakan sebagai pupuk pada tanaman</p></div>
<p><em>Potassium Sulphate</em> (ZK) atau biasa disebut <em>Sulphate of Potash</em> (SOP) telah dikenal sejak abad ke-14 yang merupakan garam berwarna putih dan memiliki sifat tidak mudah terbakar serta larut di dalam air. ZK digunakan sebagai pupuk yakni sumber senyawa kalium dan sulfur pada tanaman perkebunan seperti rami, kapas, dan tembakau. Di Indonesia pupuk ini tidak disubsidi sehingga harganya relatif tinggi di pasaran. Bahan baku sulfat alami untuk pembuatan ZK yang berasal dari pertambangan antara lain adalah <em>lanbeinite </em>(K2SO4.2MgSO4),<em> leonite</em> (K2SO4.MgSO4.4H20), <em>schoenite</em> (K2SO4.MgSO4.6H2O), dan <em>glaserite</em> (K3Na(SO4)2). Pertambangan sumber batuan tersebut banyak terdapat di negara Rusia, Kanada, benua Eropa, Israel, negara-negara timur tengah, Cina, Thailand, Kongo, dan Amerika Serikat.</p>
<p>Pemilihan proes produksi yang digunakan di dalam suatu pabrik pupuk ZK bergantung pada ketersediaan bahan baku. Secara umum ada 7 proses produksi pembuatan pupuk ZK, yaitu:</p>
<ol>
<li> Dekomposisi KCl dengan Na2SO4</li>
<li> Dekomposisi KCl dengan CaSO4</li>
<li> Dekompisisi KCl dengan MgSO4</li>
<li> Dekomposisi KCl dengan (NH4)2SO4</li>
<li> Proses Hargreaves yaitu mereaksikan gas SO2, O2, dan H2O dengan KCl</li>
<li> Proses Mannheim yaitu mencampur langsung KCl dengan H2SO4 dengan rasio mol tertentu</li>
<li> Pemurnian sumber sulfat alami seperti langbeinite dan kainit</li>
</ol>
<h3>1.    Proses Produksi ZK dengan Dekomposisi KCl dengan Na2SO4</h3>
<p>Dewasa ini, sumber yang umum digunakan berasal dari <em>Sodium Sulphate</em> Na2SO4 yang dapat diperoleh dari hasil samping dari beberapa proses produksi yakni:</p>
<ol>
<li> Pengolahan bijih <em>chromium</em></li>
<li> Pemurnian<em> flue gas</em></li>
<li> Pembuatan serat (<em>viscose fibres</em>)</li>
<li> Produksi HCl, pigmen silica, asam lemak, dan trimethylolpropane</li>
<li> Pengolahan limbah asam sulfat</li>
</ol>
<p>Diagram alir proses ditampilkan pada Gambar 1.</p>
<div id="attachment_2009" class="wp-caption aligncenter" style="width: 218px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet1.jpg"><img class="size-full wp-image-2009" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet1.jpg" alt="Gambar 1. Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan Na2SO4" width="208" height="349" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 1. Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan Na2SO4</p></div>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penjelasan proses:</strong></span><br />
Bahan baku yang digunakan adalah sodium sulphate baik dalam bentuk <em>anhydrous</em> (Na2SO4) maupun dalam bentuk <em>hydrated</em> (Na2SO4.10H2O). Selain itu digunakan juga <em>potassium chloride</em> (KCl) dalam bentuk larutan pada temperatur 20 – 25ºC. Umpan KCl, Na2SO4, dan <em>recycle mother liquor</em> yang mengandung kristalin glaserite K3Na(SO4)2 dan KCl, serta kondensat hasil kondensasi dari uap evaporator diumpankan ke reaktor. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:</p>
<p style="text-align: center">4Na2SO4 + 6KCl -&gt; 2K3Na(SO4)2 + 6NaCl<br />
2KCl + 2K3Na(SO4)2 -&gt; 4K2SO4 + 2NaCl</p>
<p style="text-align: justify">Rasio mol Na2SO4 : KCl dibuat sangat berlebih yakni antara 1 : 6 sampai 1 : 10 untuk mendapatkan konversi yang tinggi (96 – 99%), sedangkan untuk rasio mol ZK : Na2SO4 dijaga 2 : 1. Beberapa variasi rasio mol (mr) bahan baku dan produk terhadap konversi yang diperoleh di dalam reaktor ditampilkan pada Gambar 2.</p>
<p style="text-align: justify">
<div id="attachment_2012" class="wp-caption aligncenter" style="width: 457px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/rasiomol_natriumsulfat_kaliumsulfat.jpg"><img class="size-full wp-image-2012" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/rasiomol_natriumsulfat_kaliumsulfat.jpg" alt="Gambar 2. Pengaruh rasio mol reagent terhadap derajat konversi Na2SO4 menjadi K2SO4" width="447" height="197" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 2. Pengaruh rasio mol reagent terhadap derajat konversi Na2SO4 menjadi K2SO4</p></div>
<p style="text-align: justify">Setelah bereaksi di reaktor, produk ZK dipisahkan di filter dan selanjutnya mother liquor yang terbentuk diuapkan di unit konsentrasi 2 tingkat secara bertahap dan diikuti dengan proses kristalisasi pada temperatur rendah (? 2ºC) untuk tahap 1. Setiap mother liquor yang sudah terpisah baik di tahap 1 maupun 2 akan dipisahkan di filter untuk selanjutnya di-recycle kembali ke reaktor, sedangkan uap dari unit konsentrasi akan dikondensasikan terlebih dahulu dan selanjutnya dikirim ke reaktor.</p>
<p style="text-align: justify">Selain produk ZK juga diperoleh by-product berupa NaCl. Adapun spesifikasi produk ZK adalah sebagai berikut:<br />
K2SO4: 96%-w<br />
Cl-	: 0,5%-w<br />
Na+	: 0,2%-w</p>
<p style="text-align: justify">
<h3>2.   	Proses Produksi ZK dengan bahan baku KCl dan CaSO4</h3>
<p>Ada 3 tahapan utama dalam metode proses ini, yaitu:</p>
<ol>
<li> Pelarutan gypsum</li>
<li> Konversi satu tahap (T = 25ºC)</li>
<li> Siklus amoniak dalam proses</li>
</ol>
<p>Diagram alir proses dapat dilihat pada gambar 3.</p>
<div id="attachment_2010" class="wp-caption aligncenter" style="width: 255px"><a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet2.jpg"><img class="size-full wp-image-2010" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/07/flowsheet2.jpg" alt="Gambar 3. Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan CaSO4" width="245" height="352" /></a><p class="wp-caption-text">Gambar 3. Diagram alir proses produksi ZK dengan melalui dekomposisi KCl dengan CaSO4</p></div>
<p>Reaksi yang terjadi dalam proses ini antara lain:</p>
<p style="text-align: center">CaSO4.2H2O + (NH4)2CO3 -&gt; (NH4)2SO4 + CaCO3<br />
2KCl + (NH4)2CO3 -&gt; K2SO4 + 2NH4Cl</p>
<p>Adapun reaksi samping:</p>
<p style="text-align: center">CaCO3 -&gt; CaO + CO2<br />
2NH4Cl + CaO + H2O -&gt; CaCl2 + 2NH4OH<br />
2NH4OH + CO2 -&gt; (NH4)2CO3</p>
<p>Karakter dasar dari proses ini ialah adanya sistem<em> recovery multistage</em> untuk gas amoniak dan KCl, juga produk ZK yang dihasilka  akan selalu mengandung amonium sulfat yang sangat dipengaruhi oleh komposisi <em>mother liquor</em>.</p>
<p style="text-align: right"><em><strong>Akhir Bagian 1</strong></em></p>
<p style="text-align: right">
<blockquote><p>Sumber:<br />
Fertilizer Manual, 1967<br />
Chemical Paper, B. U. Grzmil and B. Kic, 2005<br />
<a href="http://www.k-utec.com/download/Te04-01.pdf" target="_blank">http://www.k-utec.com/download/Te04-01.pdf</a>, 2004</p></blockquote>
<p style="text-align: justify">
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=2007&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/07/teknologi-proses-produksi-pupuk-zk-bagian-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Co-firing Batubara dengan Limbah Biomassa</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/co-firing-batubara-dengan-limbah-biomassa/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/co-firing-batubara-dengan-limbah-biomassa/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 15 Jun 2009 16:24:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[co-firing]]></category>
		<category><![CDATA[coal]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1904</guid>
		<description><![CDATA[Pembakaran batubara menghasilkan emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama pemanasan global yang sedang marak diperdebatkan. Co-firing batubara dengan limbah biomassa merupakan salah salu metode potensial untuk mengatasi hal tersebut.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Batubara saat ini banyak digunakan di unit pembangkit listrik, pembangkit kukus, dan tanur pada pabrik-pabrik. Penggunaan batubara di Indonesia diperkirakan akan terus meningkat karena dikeluarkannya Perpres No. 5 tahun 2006 yang menyatakan  bahwa konsumsi batubara akan terus ditingkatkan hingga tahun 2025. Akan tetapi pembangkitan energi menggunakan batubara memiliki suatu kendala, yaitu pembakaran batubara menghasilkan emisi gas rumah kaca yang merupakan penyebab utama pemanasan global yang sedang marak diperdebatkan. Oleh karena itu, penggunaan batubara di masa depan sebaiknya dikurangi dan diganti dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan.</p>
<p>Salah satu cara yang potensial untuk mengurangi konsumsi batubara sekaligus mengurangi emisi gas rumah kaca dari pembakaran batubara adalah <em>co-firing</em> batubara dengan limbah biomassa.</p>
<h3><em>Co-firing</em></h3>
<div id="attachment_1905" class="wp-caption alignright" style="width: 263px"><img class="size-full wp-image-1905" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/cofiring_co2_cycle.jpg" alt="cofiring_co2_cycle" width="253" height="192" /><p class="wp-caption-text">Co-firing batubara dengan limbah biomassa dapat mengurangi emisi gas rumah kaca</p></div>
<p><em>Co-firing</em> merupakan suatu proses pembakaran dua material yang berbeda secara bersamaan. Dengan menggunakan <em>co-firing</em>, emisi dari pembakaran suatu bahan bakar fosil dapat dikurangi. Co-firing merupakan salah satu metode alternatif untuk mengubah biomassa menjadi tenaga listrik, yaitu dengan cara substitusi sebagian batubara dengan biomassa di dalam suatu coal boiler. Biomassa dikenal sebagai zero CO2 emission, dengan kata lain tidak menyebabkan  akumulasi CO2 di atmosfer, dan biomassa juga mengandung lebih sedikit sulfur jika dibandingkan dengan batubara. Oleh karena itu,co-firing batubara dan biomassa menyebabkan menurunnya emisi CO2 dan jumlah polutan NOx dan SOx dari bahan bakar fosil.</p>
<p style="text-align: center;">
<div id="attachment_1906" class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><img class="size-full wp-image-1906" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/co-firing_noncorrosive.jpg" alt="Alkali klorida akan bereaksi dengan sulfur oksida dan aluminium silikat. Hasil reaksi akan berupa alkali sulfat dan alkali silikat serta HCl yang tidak bersifat korosif" width="162" height="192" /><p class="wp-caption-text">Dengan co-firing, dampak korosi pada dinding pembakar akan diminimalisir.</p></div>
<p>Selain itu, pembakaran batubara dan limbah biomassa secara bersamaan mengurangi korosi yang disebabkan oleh klorin. Biomassa apabila dibakara kana menghasilkan zat alkali klorida yang kemudian akan bereaksi dengan sulfur oksida dan aluminium silikat, dimana keduanya adalah hasil pembakaran dari batubara. Hasil reaksi akan berupa alkali sulfat dan alkali silikat serta HCl yang tidak bersifat korosif sehingga aman bagi alat-alat pembakar. Metode <em>co-firing</em> batu bara dan limbah biomassa ini telah didemonstrasikan, diuji, serta dibuktikan pada semua tipe <em>boiler</em> yang umum digunakan pada unit pembangkit listrik. Efisiensi yang dicapai dengan metode ini hampir mencapai 33 – 37%.</p>
<p>Hingga saat ini, terdapat tiga jenis konfigurasi <em>co-firing</em> yang telah digunakan, yaitu <em>direct co-firing, indirect cofiring</em>, dan <em>parallel co-firing</em>.</p>
<ol>
<li> <strong><em>Direct Co-firing</em></strong></li>
<p>Pada konfigurasi ini, biomassa (sebagai bahan bakar sekunder) dimasukkan bersamaan dengan batubara (sebagai bahan bakar primer) ke dalam boiler yang sama. <em>Direct co-firing</em> lebih umum digunakan karena paling murah. Pada <em>direct co-firing</em> sendiri, ada dua pendekatan yang dapat dilakukan. Yang pertama adalah pencampuran dan perlakuan awal terhadap biomassa dan batubara dilakukan bersamaan sebelum diumpankan ke pembakar. Yang kedua, perlakuan awal biomassa dan batubara dilakukan secara terpisah, kemudian baru diumpankan ke pembakar.</p>
<div id="attachment_1907" class="wp-caption aligncenter" style="width: 232px"><img class="size-full wp-image-1907" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/direct-co-firing.jpg" alt="direct-co-firing" width="222" height="138" /><p class="wp-caption-text">Proses Direct Co-firing (K-boiler)</p></div>
<p style="text-align: center;">
<li><strong><em>Indirect Co-firing</em></strong></li>
<p>Konfigurasi <em>indirect co-firing</em> mengacu pada proses gasifikasi biomassa, dimana gas hasil gasifikasi biomassa kemudian diumpankan ke dalam pembakar dan dibakar bersama batubara. Dengan menggunakan konfigurasi ini, abu dari biomassa akan terpisah dari abu batubara dengan tetap menghasilkan rasio <em>co-firing</em> yang sangat tinggi. Kekurangan dari <em>indirect co-firing</em> adalah biaya investasinya yang tinggi.</p>
<div id="attachment_1908" class="wp-caption aligncenter" style="width: 263px"><img class="size-full wp-image-1908" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/indirect-co-firing.jpg" alt="Proses indirect co-firing dengan menggunakan (a) pre-furnace PP, atau (b) gasifier RG untuk biomassa (K-boiler)" width="253" height="258" /><p class="wp-caption-text">Proses indirect co-firing dengan menggunakan (a) pre-furnace PP, atau (b) gasifier RG untuk biomassa (K-boiler)</p></div>
<li><strong><em>Parallel Co-firing</em></strong></li>
<p><em>Parallel co-firing</em> melibatkan suatu pembakar dan boiler terpisah untuk biomassa, dimana hasil pembakaran dari biomassa akan membangkitkan steam yang kemudian akan digunakan pada sirkuit power plant pembakaran batubara. Walaupun konfigurasi ini membutuhkan investasi yang lebih besar daripada <em>direct co-firing</em>, konfigurasi ini memiliki kelebihan tersendiri. Dengan menggunakan konfigurasi ini,sangatlah mungkin untuk digunakan bahan bakar dengan kandungan logam alkali dan klorin tinggi dan abu dari hasil pembakaran batubara serta biomassa akan dihasilkan terpisah.</p>
<p><div id="attachment_1909" class="wp-caption aligncenter" style="width: 246px"><img class="size-full wp-image-1909" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/parallel-co-firing.jpg" alt="Konfigurasi parallel co-firing (K-boiler)" width="236" height="148" /><p class="wp-caption-text">Konfigurasi parallel co-firing (K-boiler)</p></div></ol>
<h3>Tantangan Menggunakan Biomassa sebagai Feedstock</h3>
<div id="attachment_1910" class="wp-caption alignleft" style="width: 204px"><img class="size-full wp-image-1910" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/straw2.jpg" alt="Co-firing jerami dengan batubara telah dilakukan di DTI, Denmark." width="194" height="146" /><p class="wp-caption-text">Co-firing jerami dengan batubara telah dilakukan di DTI, Denmark.</p></div>
<p>Limbah biomassa yang umum digunakan dalam bidang energi adalah limbah pangan (jerami gandum, tandan kosong sawit, batang tebu, dll), limbah perhutanan, dan tanaman energi (ditanam khusus sebagai bahan bakar). Penggunakan biomassa dalam proses <em>co-firing</em> dengan batubara memiliki sebuah kendala. Biomassa memiliki karakteristik yang berbeda dengan batubara. Pada umumnya,analisis proksimat dari biomassa menunjukkan kandungan volatil sebesar 80% dan20% karbon tetap (basis kering dan basis bebas abu). Biomassa memiliki kelembaban  yang tinggi sehingga nilai kalornya rendah. Kelembaban yang tinggi akan menyebabkan turunya temperatur pembakaran maksimum dan meningkatkan waktu tinggal yang dibutuhkan pada ruang pembakaran dan juga dapat menyebabkan terjadi pembakaran tidak sempurna. Biomassa juga mengandung abu yang l;ebih sedikit daripada batubara, akan tetapi kandungan logam alkali tinggi pada abu biomassa. Logam alkali merupakan salah satu penyebab terjadinya fouling di permukaan perpindahan panas.<br />
Sebagian besar permasalahan yang timbul pada proses <em>co-firing</em> batubara dengan limbah biomassa berasal dari sifat fisik dan kimia biomassa, karena itu diperlukan <em>pre-treatement</em> terhadap biomassa sebelum digunakan dalam proses <em>co-firing</em>. Pilihan <em>pre-treatment </em>yang dapat dilakukan adalah <em>drying, sizing, balling, pelletizing, briquetting, washing/leaching</em>, torefaksi, torefaksi dengan <em>pelletizing,</em> dan pirolisis.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong></p>
<p>Maciejewska, A., et all . <em>Co-firing of Biomass with Coal: Constraints and Role of Biomass Pre-treatment</em>. DG JRC, Institute for Energy. 2006.<br />
Veijonen et all.  <em>Biomass Co-firing: An Efficient Way to Reduce Greenhouse Gas Emissions</em>. European Bioenergy Network (EUBIONET).<br />
<em>Biomass Co-firing: A Renewable Alternative for Utilities</em>. National Renewable Energy Laboratory, U.S. Department of Energy (DOE). 2000.<br />
Abirama dan Mandolang. <em>Torefaksi Jerami Padi dan Tandan Kosong Kelapa Sawi</em>t. Program Studi Teknik Kimia, Institut Teknologi Bandung. 2009.<br />
<span class="addmd">Van Loo dan Koppejan</span>. <em>The Handbook of Biomass Combustion and Co-firing</em>.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1904&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/co-firing-batubara-dengan-limbah-biomassa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potensi Pengembangan Biodiesel di Indonesia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Jun 2009 06:37:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1861</guid>
		<description><![CDATA[Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua (tahun 2002) dan akan menjadi penghasil CPO terbesar dunia (tahun 2012). Dengan mempertimbangkan aspek bahan, teknologi, dan independensi Indonesia terhadap diesel, biodiesel merupakan teknologi yang dapat dengan cepat diimplementasikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1864" class="wp-caption alignleft" style="width: 272px"><img class="size-full wp-image-1864" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/jatropha-bio-diesel.jpg" alt="Jarak pagar (Jatropha curcas) adalah salah satu bahan baku biodiesel yang potensial untuk digunakan di Indonesia." width="262" height="232" /><p class="wp-caption-text">Jarak pagar (Jatropha curcas) adalah salah satu bahan baku biodiesel yang potensial untuk digunakan di Indonesia.</p></div>
<p>Hingga saat ini Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar berbasis fosil sebagai sumber energi. Data yang didapat dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa dengan persediaan minyak mentah di Indonesia, yaitu sekitar 9 milyar barrel, dan dengan laju produksi rata-rata 500 juta barrel per tahun, persediaan tersebut akan habis dalam 18 tahun. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak bumi dan memenuhi persyaratan lingkungan global, satu-satunya cara adalah dengan pengembangan bahan bakar alternatif ramah lingkungan.</p>
<p>Pemilihan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif berbasis pada ketersediaan bahan baku. Minyak rapeseed adalah bahan baku untuk biodiesel di Jerman dan kedelai di Amerika. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Indonesia adalah <em>crude palm oil</em> (CPO). Selain itu, masih ada potensi besar yang ditunjukan oleh minyak jarak pagar (<em>Jathropa Curcas</em>) dan lebih dari 40 alternatif bahan baku lainnya di Indonesia.</p>
<div id="attachment_1863" class="wp-caption aligncenter" style="width: 392px"><img class="size-full wp-image-1863" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/indonesia2.jpg" alt="Rancangan fasilias produksi biodiesel (INBT 2008)" width="382" height="261" /><p class="wp-caption-text">Rancangan fasilias produksi biodiesel (INBT 2008)</p></div>
<p>Indonesia adalah penghasil minyak sawit terbesar kedua setelah Malaysia dengan produksi CPO sebesar 8 juta ton pada tahun 2002 dan akan menjadi penghasil CPO terbesar di dunia pada tahun 2012. Dengan mempertimbangkan aspek kelimpahan bahan baku, teknologi pembuatan, dan independensi Indonesia terhadap energi diesel, maka selayaknya potensi pengembangan biodiesel merupakan potensi pengembangan biodiesel sebagai suatu alternatif yang dapat dengan cepat diimplementasikan.</p>
<p>Walaupun pemerintah Indonesia menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap pengembangan biodiesel, pemerintah tetap bergerak  pelan dan juga berhati-hati dalam mengimplementasikan hukum pendukung bagi produksi biodiesel. Pemerintah memberikan subsidi bagi biodiesel, bio-premium, dan bio-pertamax dengan level yang sama dengan bahan bakar fosil, padahal biaya produksi biodiesel melebihi biaya produksi bahan bakar fosil. Hal ini menyebabkan Pertamina harus menutup sendiri sisa biaya yang dibutuhkan.</p>
<p>Sampai saat ini,  payung hukum yang sudah disediakan oleh pemerintah untuk industri biofuel, dalam bentuk Keputusan Presiden ataupun Peraturan Perundang-undangan lainny, adalah sebagai berikuti:</p>
<ol>
<li>Peraturan Presiden No. 5/2006 tentang <em>Kebijaksanaan Energi Nasional</em></li>
<li>Instruksi Presiden No. 1/2006 tentang <em>Pengadaaan dan Penggunaan Biofuel sebagai Energi Alternatif</em></li>
<li>Dektrit Presiden No. 10/2006 tentang <em>Pembentukan team nasional untuk Pengembangan Biofuel</em></li>
</ol>
<p>Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2006 tentang Kebijakan Energi Nasional menyebutkan pengembangan biodiesel sebagai energi terbarukan akan dilaksakan selama 25 tahun, dimulai dengan persiapan pada tahun 2004 dan eksekusi sejak tahun 2005. Periode 25 tahun tersebut dibagi dalam tiga fasa pengembangan biodiesel. Pada fasa pertama, yaitu tahun 2005-2010, pemanfaatan biodiesel minimum sebesar 2% atau sama dengan 720.000 kilo liter untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak nasional dengan produk-produk yang berasal dari minyak castor dan kelapa sawit.</p>
<p>Fasa kedua (2011-2015) merupakan kelanjutan dari fasa pertama akan tetapi telah digunakan tumbuhan lain sebagai bahan mentah. Pabrik-pabrik yang dibangun mulai berskala komersial dengan kapasitas sebesar 30.000 – 100.000 ton per tahun. Produksi tersebut mampu memenuhi 3% dari konsumsi diesel atau ekivalen dengan 1,5 juta kilo liter. Pada fasa ketiga (2016 – 2025), teknologi yang ada diharapkan telah mencapai level ‘high performance’ dimana produk yang dihasilkan memiliki angka setana yang tinggi dan casting point yang rendah. Hasil yang dicapai diharapkan dapat memenuhi 5% dari konsumsi nasional atau ekivalen dengan 4,7 juta kilo liter. Selain itu juga terdapat Inpres Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai bahan bakar lain. Hal-hal ini menunjukkan keseriusan Pemerintah dalam penyediaan dan pengembangan bahan bakar nabati. (Rahayu, 2006)</p>
<p>Hingga Mei 2007, Indonesia telah memiliki empat industri besar yang memproduksi biodiesel dengan total kapasitas 620.000 ton per hari. Industri-industri tersebut adalah PT Eterindo Wahanatama (120.000 ton/tahun – umpan beragam), PT Sumi Asih (100.000 ton/tahun – dengan RBD Stearin sebagai bahan mentah), PT Indo BBN (50.000 ton/tahun – umpan beragam), Wilmar Bioenergy (350.000 ton/tahun dengan CPO sebagai bahan mentah), PT Bakrie Rekin Bioenergy (150.000 ton/tahun) dan PT Musim Mas (100.000 ton/tahun). Selain itu juga terdapat industri-industri biodiesel kecil dan menengah dengan total kapasitas sekitar 30.000 ton per tahun, seperti PT Ganesha Energy, PT Energi Alternatif Indonesia, dan beberapa BUMN.</p>
<div id="attachment_1862" class="wp-caption aligncenter" style="width: 389px"><img class="size-full wp-image-1862" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/06/biofuel-producer-indonesia.jpg" alt="Produser biodiesel di Indonesia" width="379" height="310" /><p class="wp-caption-text">Produser biodiesel di Indonesia</p></div>
<p>Peluang untuk mengembangkan potensi pengembangan biodiesel di Indonesia cukup besar, mengingat saat ini penggunaan minyak solar mencapai sekitar 40 % penggunaan BBM untuk transportasi. Sedang penggunaan solar pada industri dan PLTD adalah sebesar 74% dari total penggunaan BBM pada kedua sektor tersebut. Bukan hanya karena peluangnya untuk menggantikan solar, peluang besar biodiesel juga disebabkan kondisi alam Indonesia. Indonesia memiliki beranekaragam tanaman yang dapat dijadikan sumber bahan bakar biodiesel seperti kelapa sawit dan jarak pagar. Pada saat ini, biodiesel (B-5) sudah dipasarkan di 201 pom bensin di Jakarta dan 12 pom bensin di Surabaya.</p>
<blockquote><p>Sumber:</p>
<p>APEC Biofuels &#8211; <a href="http://www.biofuels.apec.org/" target="_blank">http://www.biofuels.apec.org/</a><br />
Biofuel Indonesia &#8211; <a href="http://www.biofuelindonesia.com/">http://www.biofuelindonesia.com/</a><br />
Biodiesel AUSTINDO &#8211; <a href="http://bahasa.biodieselindonesia.com/indexx.php" target="_blank">http://bahasa.biodieselindonesia.com/indexx.php</a><br />
Syamtori, Stanley. <em>Biodiesel di Indonesia</em> &#8211; <a href="http://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/" target="_blank">http://dest-online.com/blog_stanley/2008/03/02/biodiesel-di-indonesia/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1861&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/06/potensi-pengembangan-biodiesel-di-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pemilihan Lokasi Industri Kimia</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/pemilihan-lokasi-industri-kimia/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/pemilihan-lokasi-industri-kimia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 18 May 2009 01:05:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[chemical industry]]></category>
		<category><![CDATA[chemical plant]]></category>
		<category><![CDATA[plant location]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1673</guid>
		<description><![CDATA[Lokasi suatu pabrik kimia memberikan kontribusi yang besar bagi kesuksesan bisnis berbasis kimia. Faktor biaya produksi dan distribusi minimum, kemungkinan adanya ekspansi pabrik, lingkungan yang kondusif, dan tempat tinggal pekerja juga merupakan hal-hal yang penting untuk diperhatikan.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1674" class="wp-caption alignleft" style="width: 250px"><img class="size-full wp-image-1674" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/chemical-industry.jpg" alt="Lokasi dari suatu pabrik kimia menentukan keberlangsungan dari pabrik itu sendiri" width="240" height="180" /><p class="wp-caption-text">Lokasi dari suatu pabrik kimia menentukan keberlangsungan dari pabrik itu sendiri</p></div>
<p>Lokasi suatu pabrik kimia memberikan kontribusi yang besar bagi kesuksesan bisnis berbasis kimia. Dibutuhkan pertimbangan lebih terhadap faktor-faktor tertentu dalam memilih lokasi suatu pabrik. Sebuah pabrik idealnya memiliki lokasi yang memberikan biaya produksi dan distribusi minimum. Selain itu kemungkinan adanya ekspansi pabrik serta  lingkungan yang kondusif juga harus dipertimbangkan agar operasi pabrik dapat berjalan lancar. Akan tetapi, faktor-faktor seperti tempat tinggal pekerja dan komunitas sekitarnya juga merupakan hal yang penting untuk diperhatikan.</p>
<p>Secara garis besar, lokasi suatu pabrik ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:</p>
<ol>
<li> Ketersediaan bahan baku</li>
<li> Ketersediaan sumber energi</li>
<li> Lokasi pasar</li>
<li> Sarana transportasi</li>
<li> Pembuangan limbah</li>
<li> Ketersediaan tenaga kerja</li>
<li> Komunitas</li>
<li> Pajak dan regulasi</li>
</ol>
<h3>Ketersediaan Bahan Baku</h3>
<p>Jarak antara tempat produksi dan lokasi pengambilan bahan baku dapat  mempengaruhi kemampuan bersaing dari produk-produk yang dibuat, terutama bila produk tersebut merupakan produk missal yang tidak melalui proses yang rumit. Sebagai contoh, untuk penghematan biaya transportasi pada industri aluminium Swiss, pabrik-pabrik pengolahan  tanah liat diletakkan berdekatan dengan tambang bauksit di belahan bumi yang lain dan aluminium oksida yang dihasilkan di sana diimpor untuk proses pengolahan selanjutnya. Selain itu kebutuhan tempat penyimpanan bahan baku juga perlu diperhitungkan.</p>
<h3>Ketersediaan Sumber Energi</h3>
<p>Kebutuhan tenaga dan steam sangatlah tinggi pada sebagian besar pabrik kimia, dan biasanya dibutuhkan ketersediaan bahan bakar untuk memenuhi kebutuhan ini. Tenaga dan bahan bakar merupakan kombinasi yang sangat krusial dalam pemilihan lokasi dari suatu pabrik. Apabila suatu pabrik membutuhkan batu bara atau minyak dalam jumlah jumlah besar, maka sebaiknya dipilih lokasi yang dekat dengan sumber bahan bakar untuk operasi yang ekonomis. Biaya tenaga lokal dapat membantu menentukan apakah tenaga sebaiknya tenaga dibeli atau dibangkitkan sendiri.</p>
<h3>Lokasi Pasar</h3>
<p>Lokasi pasar atau pusat distribusi mempengaruhi biaya distribusi produk dan waktu yang dibutuhkan untuk pengiriman. Kedekatan dengan pasar merupakan salah satu pertimbangan yang penting karena bagi konsumen lebih menguntungkan untuk membeli produk dari sumber yang dekat. Harus diingat bahwa pasar yang dibutuhkan bukan hanya untuk produk akhir utama, akan tetapi juga untuk produk samping dari proses.</p>
<h3>Sarana Transportasi</h3>
<p>Saran transportasi yang baik dapat menunjang keberhasilan suatu pabrik kimia. Saran transportasi yang dimaksud adalah jalan yang nyaman untuk pekerja, transportasi bahan-bahan dan peralatan yang efisien, serta pengiriman secara cepat dan ekonomis. Untuk produk-produk missal, penggunaan transportasi air dan kereta api lebih cocok, sedangkan untuk produk khusus yang lebih mahal digunakan transportasi dan jalan biasa.</p>
<h3>
<div id="attachment_1675" class="wp-caption alignright" style="width: 370px"><img class="size-full wp-image-1675" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/novartis0.gif" alt="Basel adalah pusat industri kimia dan farmasi Switzerland" width="360" height="240" /><p class="wp-caption-text">Basel adalah pusat industri kimia dan farmasi Switzerland</p></div>
<p>Pembuangan Limbah</h3>
<p>Peraturan-peraturan yang membatasi metode pembuangan limbah dari industry proses telah banyak dibuat. Lokasi yang dipilih sebaiknya memiliki kapasitas dan fasilitas yang memadai untuk melakukan pembuangan limbah secara benar. Dalam pemilihan lokasi, tingkat toleransi dari berbagai metode pembuangan harud diperhatikan dengan hati-hati.</p>
<h3>Ketersediaan Tenaga Kerja</h3>
<p>Ditinjau dari segi ini, lokasi yang dipilih sebaiknya berada dekat dengan lingkungan pendidikan dan sekolah yang baik. Namun situasi lapangan kerja di daerah seperti itu sering terlalu kompetitif, sehingga tenaga ahli sangat sulit didapat walaupun upah yang ditawarkan tinggi. Problem ini dapat dihindarkan dengan cara pemindahan tempat produksi ke daerah yang industrinya tidak terlalu padat. Jika hal ini dilakukan maka suatu pendidikan internal yang intensif (pelatihan) diperlukan.</p>
<h3>Komunitas</h3>
<p>Keadaan alam dan fasilitas yang ada di komunitas juga menentukan. Pabila jumlah fasilitas yang dapat memenuhi kebutuhan hidup dari pekerja pabrik tidak tersedia, maka akan menjadi tanggungan dari pabrik untuk mensubsidi fasilitas-fasilitas tersebut.</p>
<h3>Pajak dan Regulasi</h3>
<p>Pajak pendapatan, insuransi pekerja, dan regulasi lainnya berbeda-beda untuk setiap lokasi. Selain itu peraturan-peraturan lain seperti kode pembangunan, aspek ganguan, dan fasilitas transportasi dapat menjadi pengaruh yang besar dalam pemilihan akhir lokasi suatu pabrik.</p>
<blockquote><p>Referensi:<br />
Selection of Plant Llocation for Establishing a Chemical Industry &#8211; Prashantkumar Kudli Shrinivas<br />
Bernasconi, et all. 1995. Chemische Technologie. Diterjemahkan oleh: Dr. Ir. Lienda Handojo, M. Eng.</p>
<p>Gambar:<br />
<a href="http://www.kiwi.ch/main/Aktuell/Novartis/" target="_blank">http://www.kiwi.ch/main/Aktuell/Novartis/</a><br />
Lars Odemark. <a href="http://www.flickr.com/photos/19410529@N03/" target="_blank">http://www.flickr.com/photos/19410529@N03/</a></p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1673&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/pemilihan-lokasi-industri-kimia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Reaktor Aliran Bolak-Balik</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 May 2009 14:32:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[catalyst]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[reaction]]></category>
		<category><![CDATA[separation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1613</guid>
		<description><![CDATA[Salah satu alternatif pengoperasian reaktor tak tunak adalah dengan cara mengubah arah aliran yang melalui reaktor secara periodik dalam selang waktu tertentu yang disebut switching time. Konsep ini dikenal dengan nama Reverse Flow Reactor atau Reaktor Aliran Bolak-balik (RABB).]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1615" class="wp-caption alignleft" style="width: 123px"><img class="size-full wp-image-1615" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/pm_422p.jpg" alt="Reef Octopus CR-140 Reverse Flow Calcium Reactor from CoralVue" width="113" height="163" /><p class="wp-caption-text">Reef Octopus CR-140 Reverse Flow Calcium Reactor from CoralVue</p></div>
<p>Pengoperasian reaktor secara tak tunak yang dapat memberikan kelebihan yang besar bagi unjuk kerja suatu proses baru-baru ini mulai membuka jalan baru dalam intensifikasi proses. Berbeda dengan pengoperasian proses kontinu tradisional yang memfokuskan pada keadaan tunak, reaktor kontinu dipaksa untuk bekerja pada keadaan tak tunak (unsteady state). Salah satu alternatif pengoperasian reaktor tak tunak adalah dengan cara mengubah arah aliran yang melalui reaktor secara periodik dalam selang waktu tertentu yang disebut switching time. Konsep ini dikenal dengan nama<em> Reverse Flow Reactor</em> atau Reaktor Aliran Bolak-balik (RABB).</p>
<p>RABB telah menunjukkan keuntungan yang besar untuk reaksi eksotermis dalam hal <em>energy saving</em>. Selain itu dengan mengubah arah aliran dan mengatur frekuensi ubah (<em>switching  frequency</em>) alirannya RABB juga akan mengakibatkan terjadinya deviasi dari keadaan tunak yang dipercaya dapat meningkatkan selektifitas dan konversi. Akan tetapi diperlukan pemilihan frekuensi yang tepat karena apabila <em>switching time</em> terlalu cepat akan mengakibatkan konversi menjadi turun karena akan ada reaktan yang belum sempat bereaksi terdorong keluar dari reaktor saat arah aliran diubah. Karena itu pengaturan RABB untuk setiap proses berbeda-beda tergantung pada kondisi pengoperasiannya.</p>
<div id="attachment_1614" class="wp-caption aligncenter" style="width: 291px"><img class="size-full wp-image-1614" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/05/rfr.jpg" alt="Skema sederhana Reaktor Aliran Bolak-Balik (Reverse Flow Reactor)" width="281" height="215" /><p class="wp-caption-text">Skema sederhana Reaktor Aliran Bolak-Balik (Reverse Flow Reactor)</p></div>
<p>Skema proses dari RABB ditunjukkan secara sederhana pada gambar 1. Selama berlangsung siklus pertama, aliran mengalir melalui<strong> 1-2-R-3-4</strong>, dan selama berlangsung siklus kedua, aliran mengalir melalui <strong>1-2-R-3-4</strong>.  Pada kasus-kasus RABB pada umumnya, katalis di dalam reaktor bukan hanya berperan untuk mempercepat laju reaksi, tetapi juga dapat berperan sebagai penyimpan panas yang dihasilkan dari reaksi eksotermik. Hal ini dapat terjadi karena katalis memiliki kapasitas panas yang lebih tinggi dibandingkan dengan fluida yang mengalir di dalam reaktor, baik yang diumpankan maupun yang dihasilkan. Untuk memaksimalkan penghematan energi maka arah aliran sebaiknya diganti saat temperatur aliran keluar mulai meningkat setelah pengubahan arah aliran pertama. Jika aliran dibalik arahnya secara periodik, maka aliran umpan tidak lagi memerlukan pemanas awal untuk mencapai temperatur mula reaksi (<em>reaction ignition temperature</em>).</p>
<p>RABB beroperasi pada dinamika beda temperatur yang besar sepanjang unggun katalis karena adanya pertukaran panas antara unggun katalis dan gas yang bereaksi. Pergerakan beda temperatur ini harus dipantau terus menerus, karena hal ini dapat menyebabkan gradien temperatur yang besar dan dapat merusak unggun katalis. Sistem kontrol operasi RABB adalah salah satu hambatan penerapan teknologi ini di industri. Pengoperasian sistem monitor dan kontrol diperlukan untuk menghindari pemadaman reaksi (<em>extinction</em>) serta kelebihan panas (<em>overheating</em>) pada unggun katalis. Selain itu, peralatan seperti kerangan yang dapat beroperasi pada frekuensi ubah (switching frequency) yang tinggi belum memadai, serta membutuhkan investasi yang mahal.</p>
<blockquote><p>Referensi:<br />
<em>Simulation of Reverse Flow Operation for Manipulation of Catalyst Surface Coverage in the Selective Oxidation of Ammonia</em>. Y.W. Budhi, dkk. 2004<br />
<em>Reverse Flow Operation with Reactor Side Feeding: Analysis, Modeling, and Simulation</em>. Y.W. Budhi, dkk. 2009.</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1613&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/05/reaktor-aliran-bolak-balik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ultrasonic Processing for Fast Biodiesel Production</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/03/ultrasonic-processing-for-fast-biodiesel-production/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/03/ultrasonic-processing-for-fast-biodiesel-production/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Mar 2009 02:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biodiesel]]></category>
		<category><![CDATA[biofuel]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1405</guid>
		<description><![CDATA[Ultrasonic processing used in biodiesel production delivers a biodiesel yield in excess of 99% in five minutes or less, compared to one hour or more using conventional batch reactor systems. This is what the Hielscher Ultrasound Technology offers.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1413" class="wp-caption alignleft" style="width: 346px"><img class="size-full wp-image-1413" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/463873.jpg" alt="Rapeseed oil is a primary source of raw oil feedstock in Europe for biodiesel production" width="336" height="252" /><p class="wp-caption-text">Rapeseed oil is a primary source of raw oil feedstock in Europe for biodiesel production</p></div>
<p>Biodiesel is biodegradable, non-toxic, renewable, and has reduced emissions of CO, SO2, particulates, and hydrocarbons as compared to conventional diesel. Furthermore its properties are very close to petroleum-based diesel making it a possible substitute of conventional diesel in diesel engines. The most common method for producing biodiesel is transesterification of triglycerides or fatty acids with an alcohol in the presence of a strong catalyst (acid, base, or enzymatic), producing a mixture of fatty acid alkyl esters and glycerol (=glycerine). Glycerine (the heavier phase) will sink to the bottom, while biodiesel (the lighter phase) floats on top and can be separated.</p>
<p>At present, biodiesel is primarily produced in batch reactors in which the required energy is provided by heating accompanied by mechanical mixing. Since fats and alcohols are not totally miscible, the conventional transesterification reaction in batch processing is relatively slow, and phase separation of the glycerin is time-consuming. Whereas, ultrasonic processing used in biodiesel production delivers a biodiesel yield in excess of 99% in five minutes or less, compared to one hour or more using conventional batch reactor systems. This is what the Hielscher Ultrasound Technology offers. Hielscher is a small German company providing ultrasonic processing equipment for a variety of sonochemical applications, biodiesel production being one.</p>
<h3>Ultrasonic Processing</h3>
<p>Ultrasound is cyclic sound pressure with a frequency greater than the upper limit of human hearing. Ultrasound frequencies range from ~20 kHz to l0 MHz, with associated acoustic wavelengths in liquids of roughly 100-0.15 mm. The application of ultrasound to chemical reactions and processes is called sonochemistry. The chemical effects of ultrasound (sonochemical) in liquids derive from several nonlinear acoustic phenomena, of which cavitation is the most important. Acoustic cavitation is the formation, growth, and implosive collapse of bubbles in a liquid irradiated with sound or ultrasound. Acoustic cavitation can lead to implosive compression if treated under proper conditions which will produce inetense local heating, high pressures, enormous heating and cooling rates, and liquid jet streams. Ultrasonication provides the mechanical energy for mixing and the required activation energy for initiating the transesterification reaction. Ultrasonication can help to reduce the separation time from 5 to 10 hours required with conventional agitation, to less than 15 minutes, according to Hielscher. The ultrasonication also helps to decrease to amount of catalyst required by 50 to 60% due to the increased chemical activity in the presence of cavitation. Another benefit is the increase in purity of the glycerol.</p>
<h3>Continuous Processing and Separation</h3>
<div id="attachment_1407" class="wp-caption aligncenter" style="width: 430px"><img class="size-full wp-image-1407" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/biodiesel_continuous_p1000.gif" alt="A flow-chart showing a typical setup for the in-line sonication of oil for the conversion into biodiesel" width="420" height="387" /><p class="wp-caption-text">A flow-chart showing a typical setup for the in-line sonication of oil for the conversion into biodiesel</p></div>
<p>Since ultrasonication could reduce the transesterification retention times to 5 min compared to over 1 hour or more necessary for conventional batch processing, this method could be effectively used for continuous production of biodiesel using plug-flow or continuous stirred tank reactor systems. In a setup for the continuous processing and continuous separation, the oil is circulated through a heater before it is mixed with the catalyst continuously using adjustable pumps.</p>
<p>In a setup for the continuous processing and continuous separation, the heated oil and the catalyst premix are mixed together continuously using adjustable pumps. The oil/catalyst heated mixture passes the flow cell, where it is being sonicated inline for approximately 5 to 30 seconds. The sonicated mix enters the reactor column with specific volume to give approximately 1 hour retention time in the column, just enough for the transesterification reaction to be completed. The reacted biodiesel/glycerin mix is pumped to the centriguge where it is separated into the biodiesel and glycerin fractions. Post-processing can be done continuously, too.</p>
<h3>Cost Effective</h3>
<div id="attachment_1409" class="wp-caption alignright" style="width: 220px"><img class="size-full wp-image-1409" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/ultrasound_efficiency_p0500.gif" alt="The overall energy efficiency of the industrial ultrasonic devices is approx. 80-90% from the power plug into the liquid" width="210" height="105" /><p class="wp-caption-text">The overall energy efficiency of the industrial ultrasonic devices is approx. 80-90% from the power plug into the liquid</p></div>
<p>The installation of Hielscher ultrasonic reactors into your biodiesel process line reduces your operational for the following reasons:</p>
<ul>
<li><strong>Less excess methanol</strong><br />
The reduced methanol levels were able to be achieved due to enhanced reaction kinetics afforded by the Hielscher reactors</li>
<li><strong>Raw material savings<br />
</strong>It is possible to switch to cheaper raw materials with poorer quality such as animal fats, recycled restaurant oils or waste oils, because the ultrasonic process intensification improves the conversion results for any feedstock.</li>
<li><strong>Less catalyst<br />
</strong>Ultrasonic mixing improves the methanol-in-oil emulsification and generates more and smaller droplets.<br />
This leads to a better distribution and increased catalyst efficiency. As a consequence, you can save up to 50% catalyst when compared with shear mixers or stirrers.</li>
<li><strong>Higher glycerine quality</strong><br />
A higher conversion rate and lower excess methanol lead to a much faster chemical conversion and to a sharper separation of the glycerin.</li>
<li><strong>Electric energy and heating</strong>
<div id="attachment_1408" class="wp-caption alignright" style="width: 234px"><img class="size-full wp-image-1408" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/biodiesel_energy_p0500.gif" alt="A comparisonin energy consumption between ultrasonic cavitation, high-shear mixing and hydrodynamic cavitation." width="224" height="156" /><p class="wp-caption-text">A comparison in energy consumption between ultrasonic cavitation, high-shear mixing and hydrodynamic cavitation.</p></div>
<p>Hielscher ultrasonic devices require s about 1.4kWh/m³. To achieve a similar result using hydrodynamic magnetic impulse cavitation, requires about 32.0kWh/m³. High-Shear mixing requires about 4.4kWh/m³. This means, that hydrodynamic impulse cavitation requires approx. 23 times more energy and high shear mixing approx. 3 times more energy than Hielscher ultrasonic devices to provide the same throughput.</li>
</ul>
<p>Hielscher estimates that costs for ultrasonication in biodiesel processing will vary between €0.002 and €0.015 per liter (€0.008 to €0.06/gallon) when used in commercial scale, depending on the flow rate.</p>
<address>Reference: <a href="http://www.hielscher.com/ultrasonics/" target="_blank">http://www.hielscher.com/ultrasonics/</a></address>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1405&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/03/ultrasonic-processing-for-fast-biodiesel-production/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengelola Sampah, Mengelola Gaya Hidup</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 06:16:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[green]]></category>
		<category><![CDATA[plastic]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1296</guid>
		<description><![CDATA[Perubahan itu memang perlu dan ada baiknya perubahan dimulai dari diri kita masing-masing karena pengelolaan sampah tidak lepas dari 'pengelolaan' gaya hidup masyarakat. Apalagi kita sebagai insan akademis sudah seharusnya peduli pada isu lingkungan yang satu ini.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1297" class="wp-caption alignleft" style="width: 328px"><img class="size-full wp-image-1297" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/recycleplastic.jpg" alt="Tempat sampah plastik daur ulang (recycle bin for plastic waste)" width="318" height="212" /><p class="wp-caption-text">Tempat sampah plastik daur ulang (recycle bin for plastic waste)</p></div>
<p>Potensi limbah plastik sebagai bahan komoditas mulai disadari para perlaku bisnis di Indonesia. Terbukti dengan munculnya industri-industri daur ulang plastik di Jakarta bahkan di Kalimantan. Tidak hanya membawa dampak positif bagi lingkungan, daur ulang plastik juga dapat membuka lapangan kerja baru, seperti tenaga sortir plastik, tenaga giling, tenaga pengepakan sampai staf administrasi dan keuangan.</p>
<p>Hanya saja industri ini sering terbentur kendala bahan baku akibat belum adanya kebijakan dari pemerintah untuk mengikut sertakan masyarakat sebagai konsumen untuk ikut berperan dalam daur ulang sampah. Pembuangan sampah yang tercampur seperti yang berlaku di Indonesia saat ini dapat merusak dan mengurangi nilai dari material yang mungkin masih bisa dimanfaatkan lagi. Bahan-bahan organik dapat mengkontaminasi bahan-bahan yang mungkin masih bisa didaur ulang.</p>
<p>Sudah saatnya kita mulai mengikuti jejak negara-negara maju dalam hal pengelolaan  sampah. Sebut saja Jepang. Daur ulang di Jepang dilakukan secara besar-besaran, dengan melibatkan seluruh masyarakat, lengkap dengan undang-undang. Para konsumen bertanggung jawab untuk memilah-milah sampah masing-masing (sampah basah, sampah kering yang dipilah-pilah lagi menjadi botol gelas dan plastik, kaleng aluminium, dan kertas, sedangkan pemerintah daerah bertanggung jawab mengorganisir sampah-sampah  itu untuk diserahkan ke pabrik pendaur ulang.</p>
<p>Perubahan itu memang perlu dan ada baiknya perubahan dimulai dari diri kita masing-masing karena pengelolaan sampah tidak lepas dari ‘pengelolaan’ gaya hidup masyarakat. Apalagi kita sebagai insan akademis sudah seharusnya peduli pada isu lingkungan yang satu ini. Tips-tips berikut ini dapat diterapkan untuk meningkatkan jumlah sampah plastik yang di daur ulang dan juga mengurangi jumlah sampah plastik perumahan.</p>
<ol>
<li><strong>Cari tahu jenis-jenis plastik yang dapat didaur ulang</strong>. Sebagian besar industri daur ulang plastik hanya menerima botol plastik yang terbuat dari PET (#1) dan HDPE (#2) dan memang sebagian besar kemasan plastik (terutama botol plastik) termasuk dalam golongan-golongan tersebut. Pengelompokan kemasan plastik berdasarkan komponen penyusunnya dapat dilihat <a href="http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/" target="_self">disini</a>.</li>
<li><strong>Kosongkan dan bilas botol plastik</strong>. Lepas tutup dan label botol karena keduanya bersifat kontaminan. Remuk botol agar lebih menghemat tempat.</li>
<li><strong>Gunakan tas plastik lebih dari sekali sebelum membuangnya</strong>. Masing-masing jenis tas plastik dapat digunakan kembali untuk hal yang berbeda-beda. Contohnya adalah sebagai pelapis tempat sampah yang sering dipraktekkan oleh ibu rumah tangga.</li>
<li> <strong>Pastikan tas plastik kosong dan bersih</strong>. Hal ini penting karena struk belanja dan bahan lain dapat mengkontaminasi plastik saat di daur ulang. Semua tas plastik bersih berlabel #2 (HDPE) atau #4 (LLDPE) dapat didaur ulang. Tas plastik yang terkena kontak langsung dengan makanan sebaiknya dipisahkan dari plastik yang akan di daur ulang.</li>
<li><strong>Kembalikan kemasan plastik untuk di daur ulang</strong>. Beberapa toko dan retailer mengadakan program yang menyarankan <em>customer</em>-nya untuk mengembalikan kemasan plastiknya untuk didaur ulang dengan imbalan tertentu.</li>
<li><strong>Biasakan hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan dan pastikan kemasannya dapat didaur ulang</strong>. Apabila membeli keperluan sehari-hari dan rumah tangga, belilah dalam kemasan yang lebih besar untuk meminimalisir jumlah kemasan.</li>
<li><strong>Bawalah tas belanja sendiri saat berbelanja ke supermarket</strong>. Gunakan saja tas-tas plastik yang didapat dari belanja sebelumnya.</li>
<li><strong>Belilah produk-produk yang lebih tahan lama</strong> untuk mengurangi frekuensi membuang kemasan. Misalnya membeli shampo atau deterjen dengan konsentrasi yang lebih tinggi.</li>
</ol>
<p>Memang hal-hal diatas tampak remeh dan merepotkan. Tetapi bayangkan jika kita semua melakukannya pasti akan menimbulkan dampak yang besar. Karena itu ajaklah kerabat dan teman-teman dekat Anda untuk ikut berperan aktif dalam melindungi lingkungan hidup kita.</p>
<p>Gambar: <a href="www.uppergwynedd.org/images/RecyclePlastic.jpg" target="_blank">www.uppergwynedd.org/images/RecyclePlastic.jpg</a></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1296&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/mengelola-sampah-mengelola-gaya-hidup/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Simbol Daur Ulang pada Botol dan Kemasan Plastik</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Feb 2009 02:14:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kuliah]]></category>
		<category><![CDATA[materials]]></category>
		<category><![CDATA[polymer]]></category>
		<category><![CDATA[recycle]]></category>
		<category><![CDATA[resin]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1188</guid>
		<description><![CDATA[Instansi penyedia jasa daur ulang memiliki standar yang bervariasi. Sistem kode identifikasi resin diperkenalkan pada tahun 1988 oleh The Society of the Plastics Industry, Inc. (SPI). Sistem ini mengelompokkan plastik yang biasa ditemukan pada limbah rumah tangga berdasarkan kandungan resinnya.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_1198" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><img class="size-full wp-image-1198" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/7280217_119ca49ad7.jpg" alt="Simbol daur ulang yang tertera di dasar botol plastik air mineral" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">Simbol daur ulang yang tertera di dasar botol plastik air mineral</p></div>
<p>Manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak pernah jauh dari kemasan plastik, baik berupa botol maupun tas. Selain itu limbah plastic tidak dapat tergradasi dengan mudah. Sangatlah wajar jika suatu saat bumi kita ini tidak mampu lagi untuk menampung limbah plastik yang hari demi hari jumlahnya semakin bertambah. Salah satu jalan keluar yang telah banyak diimplementasikan oleh sejumlah besar komunitas di dunia adalah daur ulang (<em>recycle</em>).</p>
<p>Jika diperhatikan pada permukaan dasar botol plastik, Anda akan menyadari bahwa hampir di setiap kemasan plastik tersebut terdapat sebuah simbol tiga panah yang membentuk segitiga. Terlepas dari ada atau tidaknya simbol tersebut, pada kenyataanya sebagian besar plastik dapat didaur ulang. Jadi simbol itu sebenarnya untuk apa?</p>
<p>Bagian yang terpenting justru bukan tiga buah panah itu tetapi justru angka kecil yang ada ditengah-tengah ketiga panah tersebut. Angka-angka tersebut lebih dikenal sebagai sistem kode identifikasi resin dan diperkenalkan pada tahun 1988 oleh <em>The Society of the Plastics Industry, Inc. (SPI)</em>. Sistem kode resin ini mengelompokkan botol dan kemasan plastik yang biasa ditemukan pada limbah rumah tangga berdasarkan kandungan resinnya. Sistem kode ini dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan para penyedia jasa daur ulang dan memberikan kekonsitenan dan keseragaman sistem pada manufaktur plastik yang dapat diterapkan secara internasional.</p>
<p>Instansi penyedia jasa daur ulang tidak begitu saja menerima limbah plasti untuk didaur ulang. Mereka memiliki standar yang bervariasi. Sebagai contoh, sebuah instansi membutuhkan plastik-plastik tersebut dikelompokkan berdasarkan jenis dan dipisahkan dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; instansi yang lain menerima plastik tetapi tetap terpisah dari bahan-bahan yang dapat didaur ulang lainnya; sedangkan instansi yang lainnya tidak memiliki masalah menerima plastik dalam keadaan tercampur dengan bahan-bahan lain.</p>
<p>Dan kita sebagai pengguna/pemakai barang plastik sepatutnya mengenal kode-kode ini,k arena ada kalanya barang plastik tersebut tidak cocok bahkan di boleh digunakan untuk hal-hal tertentu. Berikut ini adalah berbagai kode resin yang dan deskripsinya:</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<th style="text-align: center;" width="101"><strong>RESIN CODE</strong></th>
<th style="text-align: center;"><strong>CHARACTERISTICS AND EXAMPLES</strong></th>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-1-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-1-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polyethylene Terephthalate (PET, PETE)</strong></p>
<p>PET transparan, jernih, dan kuat. Biasanya dipergunakan sebagai botol minuman (air mineral, jus, soft drink, minuman olah raga) tetapi tidak untuk air hangat atau panas. Serpihan dan pelet PET yang telah dibersihkan dan didaur ulang dapat digunakan untuk membuat serat benang karpet, <em>fiberfill,</em> dan <em>geotextile</em>. Nickname: Polyester.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1190" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-2-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-2-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>High Density Polyethylene (HDPE)</strong>.</p>
<p>HDPE dapat digunakan untuk membuat berbagai macam tipe botol. Botol-botol yang tidak diberi pigmen bersifat tembus cahaya, kaku, dan cocok untuk mengemas produk yang memiliki umur pendek seperti susu. Karena HDPE memiliki ketahan kimiawi yang bagus, plastik tipe ini dapat digunakan untuk mengemas deterjen dan bleach. Hasil daur ulangnya dapat digunakan sebagai kemasan produk non-pangan seperti shampo, kondisioner, pipa, ember, dll.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1191" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-3-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-3-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polyvinyl Chloride (PVC)</strong></p>
<p>Memiliki karakter fisik yang stabil dan tahan terhadap bahan kimia, pengaruh cuaca, aliran, dan sifat elektrik. Bahan ini paling sulit untuk didaur ulang dan biasa digunakan untuk pipa dan kontruksi bangunan.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1192" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-4-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-4-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Low Density Polyethylene (LDPE)</strong></p>
<p>Biasa dipakai untuk tempat makanan dan botol-botol yang lembek (madu, mustard). Barang-barang dengan kode ini dapat di daur ulang dan baik untuk barang-barang yang memerlukan fleksibilitas tetapi kuat. Barang dengan kode inibisa dibilang tidak dapat di hancurkan tetapi tetap baik untuk tempat makanan.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1193" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-5-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-5-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polypropylene (PP)</strong></p>
<p><strong></strong>PP memiliki daya tahan yang baik terhadap bahan kimia, kuat, dan meiliki titik leleh yang tinggi sehingga cocok untuk produk yang berhubungan dengan makanan dan minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum, tempat obat dan botol minum untuk bayi. Biasanya didaur ulang menjadi casing baterai, sapu, sikat, dll.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-6-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-6-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Polystyrene (PS)</strong></p>
<p>PS biasa dipakai sebagai bahan tempat makan styrofoam, tempat minum sekali pakai, tempat CD, karton tempat telor, dll. Pemakaian bahan ini sangat dihindari untuk mengemas makanan karena bahan styrine dapat masuk ke dalam makanan ketika makanan tersebut bersentuhan. Bahan Styrine berbahaya untuk otak dan sistem syaraf manusia. Bahan ini dibanyak negara bagian di Amerika sudah melarang pemakaian tempat makanan berbahan styrofoam termasuk negara cina.</td>
</tr>
<tr>
<td align="center"><img class="aligncenter size-full wp-image-1195" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/plastic-recycling-symbols-7-th.jpg" alt="plastic-recycling-symbols-7-th" width="90" height="90" /></td>
<td><strong>Other</strong></p>
<p>Plastik yang menggunakan kode ini terbuat dari resin yang tidak termasuk enam golongan yang lainnya, atau terbuat dari lebih dari satu jenis resin dan digunakan dalam kombinasi multi-layer.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>Sumber:</em><a href="http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321" target="_blank"></a><br />
<a href="http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321" target="_blank">http://www.thedailygreen.com/green-homes/latest/recycling-symbols-plastics-460321</a><br />
<a href="http://www.americanchemistry.com/s_plastics/bin.asp?CID=1102&amp;DID=4645&amp;DOC=FILE.PDF" target="_blank">http://www.americanchemistry.com/s_plastics/bin.asp?CID=1102&amp;DID=4645&amp;DOC=FILE.PDF</a></p>
<p><em>Gambar:</em><br />
Flickr &#8211; <a href="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/02/7280217_119ca49ad71.jpg" target="_blank">http://farm1.static.flickr.com/5/7280217_119ca49ad7.jpg</a></p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1188&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/simbol-daur-ulang-pada-botol-dan-kemasan-plastik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>30</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Solar LA: USA&#8217;s Largest Solar Energy Plan</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/02/solar-la-usas-largest-solar-energy-plan/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/02/solar-la-usas-largest-solar-energy-plan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Feb 2009 15:46:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hot News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1109</guid>
		<description><![CDATA[California is taking environment and energy issue to the next level with a project that Los Angeles Mayor Antonio Villaraigosa, City Council President Eric Garcetti, Councilmember Jan Perry and the Los Angeles Department of Water and Power (LADWP) are sponsoring called Solar LA.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft size-medium wp-image-1112" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/01/495877412_ebc182db2b-300x180.jpg" alt="495877412_ebc182db2b" width="300" height="180" />California is taking environment and energy issue to the next level with a project that Los Angeles Mayor Antonio Villaraigosa, City Council President Eric Garcetti, Councilmember Jan Perry and the Los Angeles Department of Water and Power (LADWP) are sponsoring called <strong>Solar LA</strong>. It’s an ambitious long-range plan for turning the 276 days of sunshine in Los Angeles by installing a 1.3 gigawatts solar network of residential, commercial and municipally-owned solar energy systems. The plan would create the largest solar base of any city in the world.</p>
<p>“It is time that we use our most abundant natural resource to create the electricity and the jobs we need for our future,” Mayor Villaraigosa said. “Today, we are turning up the heat and taking the next step to become a shining example of green growth worldwide.”</p>
<p>The Solar LA plan consists of three primary components: first one is the programs to boost residential and commercial customer solar systems; second one will be the LADWP-owned solar projects in Los Angeles; and the third one will be the large-scale solar projects owned by the LADWP outside of the LA basin.</p>
<p>By 2020, LA will generate a tenth of Los Angeles’ power through solar energy.  The sprawling city would purchase 1,280 megawatts of solar power. About 500 megawatts would come from private generating plants in the Mojave Desert, a further 380 megawatts would come from Expand Residential Program, using to $313 million in State funds for solar projects that offer rebates programs to encourage residents to install solar panels on their roofs. Plus, there will be low interest loans while low income communities will be provide with free systems. While another 400 megawatts would come from panels on city-owned buildings.</p>
<p><img class="aligncenter size-full wp-image-1110" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2009/01/solarla_targets.jpg" alt="solarla_targets" width="538" height="328" /></p>
<p>The plan also calls for a new feed-in-tariff (FiT) that would allow solar developers in the City to sell power directly to LAWDP through a long-term contract.</p>
<p>“Solar LA serves as more than a blueprint to a greener LADWP,” Mayor Villaraigosa said. “By sparking a broad movement to solar energy across a city of 4 million residents, we are priming the pump for Los Angeles to become a world leader in the solar industry and delivering on the vision of re-making Los Angeles into the cleanest, greenest big city in America.”</p>
<p>The mayor also believes that Solar LA will bring economic opportunity to the city. The plan includes research and development, manufacturing and warehouse operations. It’s a sure thing that new jobs will be created in the field of green-tech.</p>
<p>If everything goes well, this will set a green-trend for other cities to follow. If you think about it, having solar power in a city like LA, solves the energy and public health problems facing cities throughout the country. All walks of life will benefit from LA’s solar power plan, and that includes Villaraigosa’s. It’s a smart political move and the mayor knows it.</p>
<address><span style="color: #888888;">Reference: <a title="The Los Angeles Solar Energy Plan" href="http://mayor.lacity.org/stellent/groups/electedofficials/@myr_ch_contributor/documents/contributor_web_content/lacity_004982.pdf" target="_blank">The Los Angeles Solar Energy Plan (lacity_004982.pdf)</a></span></address>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1109&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/02/solar-la-usas-largest-solar-energy-plan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Corrosion in Material of Construction</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2009/01/corrosion-in-material-of-construction/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2009/01/corrosion-in-material-of-construction/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 12:46:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=1016</guid>
		<description><![CDATA[Metallic corrosion is sometimes classified into six forms: uniform, galvanic, pitting, intergranular, erosion–corrosion, and stress corrosion. Hydrogen embrittlement is, in a strict sense, a type of failure rather than a form of corrosion; however, it is often produced by hydrogen that is generated from corrosion reactions.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Many factors have to be considered when selecting engineering materials, but for chemical process plant the overriding consideration is usually the ability to resist corrosion. The condition that cause corrosion can arise in a variety of ways. It is convenient to classify corrosion according to the manner in which it is manifest. Metallic corrosion is sometimes classified into six forms: uniform, galvanic, pitting, intergranular, erosion–corrosion, and stress corrosion. Hydrogen embrittlement is, in a strict sense, a type of failure rather than a form of corrosion; however, it is often produced by hydrogen that is generated from corrosion reactions.</p>
<h3>Uniform Corrosion</h3>
<div id="attachment_1018" class="wp-caption alignleft" style="width: 179px"><img class="size-full wp-image-1018" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/corrosion_uniform.jpg" alt="General or uniform type of corrosion" width="169" height="167" /><p class="wp-caption-text">General or uniform type of corrosion</p></div>
<p>This term describes the more or less  uniform wastage of material by corrosion, with no pitting or other forms of local attack. If the corrosion of a material can be considered to be uniform the life of the material in service can be predicted from experimentally determined corrosion rates.<br />
The corrosion rates will be dependent on the temperature and concentration of the corrosive fluid. An increase in temperature usually results in an increased rate of corrosion, though not always. The effect of concentration can also be complex. For example, the corrosion of mild steel in sulphuric acid, where the rate is unacceptably  high in dilute acid and at concentrations above 70 per cent, but is acceptable at intermediate concentration.</p>
<h3>Galvanic Corrosion</h3>
<p>If dissimilar metals are placed in contact, in an electrolyte, the corrosion rate of the anodic metal will be increased, as the metal lower in the electrochemical series will readily act as a cathode. If metals which are widely separated in the galvanic series have to be used together, they should be insulated from each other, breaking the conducting circuit. Alternatively, if sacrificial loss of the anodic material can be accepted, the thickness of this material can be increased to allow for the increased rate of corrosion. The corrosion rate will depend on the relative areas of the anodic and cathodic metals. A high cathode to anode area should be avoided.</p>
<h3>Pitting</h3>
<div id="attachment_1017" class="wp-caption alignleft" style="width: 172px"><img class="size-full wp-image-1017" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/errosion_pitting.jpg" alt="Pitting corrosion on external pipe surface  " width="162" height="106" /><p class="wp-caption-text">Pitting corrosion on external pipe surface  </p></div>
<p>Pitting is the term given to very localized corrosion that forms pits in the metal surface. If a material is liable to pitting, penetration can occur in advance and corrosion rate data are not a reliable guide to the equipment life. Pitting can be caused by a variety of circumstances. Any situation that causes a localized increase in corrosion rate may result in the formation of a pit. A good surface finish will reduce this type of attack. Pitting can also occur if the composition of the metal is not uniform.</p>
<h3>Intergranular Corrosion</h3>
<div id="attachment_1020" class="wp-caption alignright" style="width: 162px"><img class="size-full wp-image-1020" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/sensitized_ss.jpg" alt="Intergranular corrosion in sensitized stainless steels" width="152" height="114" /><p class="wp-caption-text">Intergranular corrosion in sensitized stainless steels</p></div>
<p>Intergranular corrosion is the preferential corrosion of material at the grain (crystal) boundaries. Though the loss material will be small, intergranular corrosion can cause the catastrophic failure of equipment. Intergranular corrosion is a common form of attack on alloys but occurs rarely with pure metals. The attack is usually caused by a differential couple being set up between impurities existing at the grain boundary. The classic example of intergranular corrosion in chemical plant is the weld decay of unstabilised stainless steel.</p>
<h3>Erosion-corrosion</h3>
<div id="attachment_1021" class="wp-caption alignright" style="width: 178px"><img class="size-full wp-image-1021" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/erosion_corrosion.jpg" alt="Errosion corrosion at a 90º change in direction" width="168" height="126" /><p class="wp-caption-text">Errosion corrosion at a 90º change in direction</p></div>
<p>The term erosion-corrosion is used to describe the increased rate of attack caused by a combination of erosion and corrosion. If a fluid stream contains suspended particles, or where there is high velocity or turbulence, erosion will tend to remove the products of corrosion and any protective film, and the rate of the attack will be markedly increased. If erosion is likely to occur, more resistant materials must be specified, or the material surface protected in some way. For example, plastics inserts are used to prevent erosion-corrosion at the inlet to heat-exchanger tubes.</p>
<h3>Stress Corrosion</h3>
<p>Corrosion rate and the form of attack can be changed if the material is under stress. Generally, the rate attack will not change significantly within normal design stress values. However, for some combinations of metal, corrosive media and temperature, the phenomenon called stress cracking can occur. This is the general name given to a form of attack in which cracks are produced that grow rapidly, and can cause early, brittle failure, of the metal. Stress corrosion can be avoided by selecting materials that are not susceptible in the specific corrosion environment; or, less certainly, by stress relieving by annealing after fabrication and welding.</p>
<h3>Hydrogen Embrittlement</h3>
<p>Hydrogen embrittlement is the name given to the loss of ductility caused by the absorption (and reaction) of hydrogen in a metal. It is of particular importance when specifying steels for use in hydrogen reforming plant. Alloy steels have a greater resistance to hydrogen embrittlement than the plain carbon steels.</p>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=1016&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2009/01/corrosion-in-material-of-construction/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pembangkitan Listrik Biomassa dengan Mesin Kalor</title>
		<link>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/</link>
		<comments>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Dec 2008 07:53:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Anita Pravitasari</dc:creator>
				<category><![CDATA[Teknologi]]></category>
		<category><![CDATA[biomass]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[process design]]></category>
		<category><![CDATA[waste treatment]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://majarimagazine.com/?p=859</guid>
		<description><![CDATA[Sampah perkotaan dan limbah pertanian dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_860" class="wp-caption alignleft" style="width: 260px"><img class="size-full wp-image-860" title="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/listrikthumb.jpg" alt="Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia" width="250" height="188" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit listrik biomassa: salah satu solusi distribusi listrik di Indonesia</p></div>
<p>Indonesia memiliki beribu-ribu pulau yang tersebar dari Sabang hingga Merauke dan terpisah oleh lautan luas. Karena bentuk kepulauan ini, sulit menemukan cara yang ekonomis untuk mentrasmisikan dan mendistribusikan listrik dari satu pulau ke pulau yang lain. Hingga saat ini <em>national interconnection</em> hanya mungkin diterapkan di pulau-pulau besar dan sejumlah pulau-pulau relatif kecil di dekatnya. Sejumlah besar pulau harus bisa menghasilkan dan memenuhi kebutuhan listriknya sendiri (<em>self-sufficient</em>).</p>
<p>Walaupun demikian, bentuk kepuluan ini juga memberikan biodiversitas yang sangat dahsyat dan memastikan tersedianya sumber biomassa di Indonesia. Karena itu sudah sewajarnya pembangkitan listrik dari biomassa dijadikan salah satu alternatif untuk pemenuhan kebutuhan listrik di Indonesia. Selain itu, produksi bahan bakar dan listrik biomassa akan mengeksploitasi sumber daya lokal sehingga meningkatkan pendapatan penduduk setempat. Produk-produk limbah dari perkebunan sawit, padi, tebu, kayu, dan kelapa dapat menghasilkan energi biomassa. Selain limbah pertanian, sampah perkotaan juga dapat diolah menjadi penghasil energi biomassa yang besar.</p>
<p>Pembangkit listrik yang menggunakan sumber energi berbasis biomassa salah satunya adalah pembangkitan listrik berprinsip mesin kalor (<em>heat engine</em>). Mesin kalor siklus Stirling menggunakan pembakaran eksternal, sedangkan mesin pembakaran internal menggunakan siklus Otto dan siklus Diesel. Khusus untuk turbin gas yang menggunakan siklus Brayton, pembakaran dapat dilakukan secara eksternal maupun internal.</p>
<h3>SIklus Stirling, Otto, dan Diesel</h3>
<p>Mesin bersiklus Stirling adalah jenis mesin yang memiliki sumber energi dari luar sistem mesin itu sendiri; atau kita biasa sebut dengan mesin bakar luar. Mesin besiklus Stirling banyak diteliti dan dianggap menjanjikan karena secara teori memiliki efisiensi yang tinggi, sampai efisiensi maksimal mesin Carnot. Akan tetapi, mesin siklus Stirling komersial yang ada masih memiliki daya rendah (0,5-150 kW) dan berefisiensi sedang, masih mahal, tetapi tak memerlukan banyak pemeliharaan, toleran terhadap kontaminan, dan beremisi polutan rendah.</p>
<p>Mesin siklus Stirling tidak terpatok pada satu macam bahan bakar atau sumber energi. Hal ini tidak berlaku untuk mesin diesel dan mesin Otto yang membutuhkan bahan bakar khusus dan kapasitasnya terbatas. Mesin Otto atau sering juga disebut mesin bensin. Tipe paling umum dari mesin ini adalah mesin pembakaran empat langkah yang membakar bensin. Berbeda dengan mesin Otto, pembakaran dilakukan dengan memberikan kompresi hingga tekanannya tinggi.</p>
<h3>Turbin Gas: Siklus Brayton</h3>
<div id="attachment_896" class="wp-caption aligncenter" style="width: 560px"><img class="size-full wp-image-896" title="Turbin Gas: Kukus" src="http://cdn.majarimagazine.com/wp-content/uploads/2008/12/turbingas-kukus1.jpg" alt="Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus" width="550" height="351" /><p class="wp-caption-text">Pembangkit tenaga listrik dengan siklus kombinasi turbin gas-kukus</p></div>
<p>Siklus ini merupakan siklus daya termodinamika ideal untuk turbin gas, sehingga saat ini siklus ini yang sangat populer digunakan oleh pembuat mesin turbin (<em>manufacturer</em>) dalam analisa <em>performance upgrading</em>. Siklus ini memproduksi tenaga listrik dengan mengekspansikan gas panas melalui turbin. Efisiensinya dapat mencapai 30%. Turbin gas cocok untuk bahan bakar cair maupun gas yang relatif bebas dari kontaminan dan tidak cocok untuk gas hasil bakar biomassa tanpa pembersihan. Karena itu sebelum biogas akan dijadikan bahan bakar, H<sub>2</sub>S yang terkandung di dalamnya harus disingkirkan terlebih dahulu.</p>
<blockquote><p><strong>Referensi:</strong><br />
Teknologi Kemurgi &#8211; Dr. Ir. Tatang H. Soerawidjaja</p></blockquote>
<img src="http://majarimagazine.com/?ak_action=api_record_view&id=859&type=feed" alt="" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://majarimagazine.com/2008/12/pembangkit-listrik-biomassa-dengan-mesin-kalor/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

<!-- Performance optimized by W3 Total Cache. Learn more: http://www.w3-edge.com/wordpress-plugins/

Minified using disk: basic (Feed is rejected)
Page Caching using disk: enhanced
Database Caching 2/45 queries in 0.106 seconds using disk: basic
Object Caching 683/769 objects using disk: basic
Content Delivery Network via cdn.majarimagazine.com

Served from: majarimagazine.com @ 2012-05-22 23:24:46 -->
