Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (1)
by Saepul Rohman on 11/02/09 at 11:19 pm | 2 Comments | |

Aseptic Pack
Anda pernah membeli susu, minuman rasa teh, atau jus buah yang dikemas dalam kemasan aseptik? Lalu setelah minuman di dalam kemasan tersebut anda habiskan, apa yang anda lakukan dengan sampah kemasan aseptik tersebut?
Kemasan aseptik adalah kemasan yang didesain khusus agar produk makanan atau minuman yang dikemas di dalamnya terhindar dari berbagai kontaminan seperti bakteri. Oleh sebab itu, biasanya kemasan aseptik dibuat kedap udara. Kemasan aseptik dibuat berlapis-lapis, terdiri dari polietilen (15 %) , kertas / karton (80%), dan Alumunium (5%). Sistem pelapisan kertas karton dengan komponen plastik dan alumunium pada sampah kemasan aseptik bertujuan untuk menyempurnakan tingkat kekedapan udara dalam kemasan tersebut. Aluminium dipilih karena harganya lebih murah dibandingkan logam atau bahan kedap udara lainnya, selain karena aluminium ini ringan dan tidak mudah untuk terkorosi.

Aseptic Pack Waste
Dampak Penggunaan Kemasan aseptik dalam Jumlah Besar
Di Indonesia, saat ini kemasan aseptik sudah banyak digunakan oleh industri-industri makanan ternama. Di sisi lain penggunaan dalam skala besar menimbulkan permasalahan di bidang lingkungan karena kemasan aseptik sendiri tidak ikut terkonsumsi atau dengan kata lain menjadi sampah. Di Bandung, contohnya, Berdasarkan hasil survei yang dilakukan kelompok penelitian mahasiswa Teknik Kimia ITB, di beberapa franchise? Indomaret, Yomart, Alfamart, Circle K? di kota Bandung, jumlah kemasan aseptik yang dikonsumsi per hari mencapai angka sekitar 30.000 kemasan. Dapat dibayangkan jumlah kemasan aseptik yang dikonsumsi dalam kurun waktu 1 tahun akan menimbulkan suatu permasalahan sampah yang serius.
Sampai saat ini penanganan sampah kemasan aseptik masih dilakukan dengan metode yang kurang tepat, setidaknya dalam skala rumah tangga. Biasanya sampah kemasan aseptik dibakar bersama dengan sampah organik lainnya. Ketika dibakar, kertas karton dan polietilen akan habis terbakar, namun logam Al tidak ikut terbakar dan dikubur dalam tanah. Logam aluminium dalam tanah dapat mengakibatkan pencemaran tanah. Lalu hasil dari pembakaran kertas karton dan polietilen pun akan berdampak pada pencemaran udara karena pembakaran tersebut menghasilkan senyawa polutan yang dapat membahayakan lingkungan. Kemungkinan lainnya adalah adanya pelarut yang dapat melarutkan logam aluminium sisa pembakaran tadi dan membawa sisa logam tersebut ke perairan dan menyebabkan pencemaran air. Jikalau pun dibakar di kolom insinerasi dengan suhu yang tinggi, aluminiumnya hanya akan meleleh untuk sementara waktu. Lelehan aluminium ini akan kembali menjadi padatan dan membentuk kerak pada insinerator saat terjadi penurunan suhu.
Selain dibakar, penanganan sampah kemasan aseptik yang dianggap kurang tepat adalah dengan cara dikubur di dalam tanah. Penanganan ini akan berakibat buruk pada kondisi tanah karena hanya lapisan karton yang dapat terdegradasi di dalam tanah. Penguraian karton pun hanya dapat terjadi jika kemasan kemasan aseptik telah rusak secara fisik dan kehilangan lapisan pelindung polietilennya. Di lain pihak, lapisan polietilen tidak dapat diuraikan dan akan mengganggu keadaan fisik tanah. Sedangkan lapisan aluminium akan membentuk oksidanya dan mengganggu keseimbangan unsur-unsur dalam tanah.
Jadi bila anda membuang sampah kemasan aseptik sembarangan maka anda turut bertanggung jawab atas terjadinya kerusakan lingkungan. Selain isu kerusakan lingkungan, alasan untuk mengolah sampah kemasan aseptik juga dapat ditinjau dari sudut pandang energi. Sebagai mana kita ketahui bahwa untuk memperoleh alumunium murni dibutuhkan energi yang besar dalam proses pemurniannya. Oleh sebab itu, bila sampah kemasan aseptik yang mengandung alumunium murni tersebut tidak kita olah, maka telah terjadi energy loss yang cukup besar dan mubadzir.

Tetrapack Waste Recycling
Lantas bagaimana seharusnya penanganan sampah kemasan aseptik tersebut?
Pada intinya, yang harus dilakukan pertama kali adalah memisahkan sampah kemasan aseptik tersebut dari lapisan kertasnya. Kemudian setelah lapisan kertas dapat dipisahkan, maka dapat dilakukan beberapa metode pemanfaatannya. Untuk sampah kertas dapat diolah menjadi kertas daur ulang.
Beberapa metode yang bisa dilakukan untuk pemanfaatan sampah ini, diantaranya:
- Metode Hot – Pressing. Metode ini bertujuan memanfaatkan lapisan AL-PE. Lapisan AL-PE ini dipanaskan pada suhu tertentu hingga polietilen mencair. Setelah itu kemudian dimasukkan ke dalam cetakan untuk ditekan dengan tekanan tinggi. Produk akhir dari metode ini adalah komposit AL-PE. Komposit ini dapat digunakan sebagai material pengganti kayu, dll. Komposit yang telah berhasil dibuat memiliki kekuatan yang cukup kuat yakni sekitar 3 ton pada uji tekan komposit di lab teknik material ITB.
- Metode Pelarutan Menggunakan Pelarut Organik. Metode ini bertujuan untuk memperoleh alumunium murni dengan melarutkan polietilen yang melekat pada alumunium tersebut. Setelah diperoleh alumunium murni, selanjutnya AL-murni tersebut dapat dikonversi menjadi tawas ataupun sodium aluminat.
Bersambung ke Menguak Keajaiban di Balik Sampah Kemasan Aseptik (2) »
Pustaka
1. Zuben, F. dan Neves, F.L. (2004), Recycling Of Aluminum And Polyethylene Present In Tetra Pak Packages.
2. http://www.wikipedia.com
3. http://www.freepatentsonline.com
4. http://www.tetrapak.com


2 Comments
sanjaya
Feb 12th, 2009
segala sesuatu memang bersumber dari hal-hal yang kecil, sama halnya artikel ttg sampah aseptik di atas.Alam yang kita huni ini sdah banyak sekali tercemar oleh bebagai macam sumber hal, oleh krn itu dgn sedikit tmbahan wawasan dan dicoba untuk di applikasikan diharapkan kita dapat sedikit menyelamatkan alam kita,…hidup Sehat YEESSSSS
Leave a Comment