Pembakaran Batubara dengan O2/CO2
by Wahyu Hidayat on 15/06/08 at 7:57 pm | 10 Comments | Print article | Email article
Saat ini, konsumsi energi dunia, terutama dari bahan bakar fosil (minyak bumi, gas alam, dan batubara), meningkat secara besar-besaran dan tak terhindarkan. Teknologi pemanfaatan dan eksplorasi bahan bakar fosil yang sudah mapan menyebabkan energi dapat dihasilkan dengan proses yang terjamin dengan harga yang relatif murah. Hal inilah yang menyebabkan bahan bakar fosil banyak disukai walaupun dewasa ini penelitian mengenai bahan bakar terbarukan terus digalakkan dan pemanfaatannya mulai mendapatkan perhatian publik. Bahan bakar fosil tetap dipercaya sebagai sumber energi dunia setidaknya untuk 50 tahun ke depan. Untuk itu, peningkatan efisiensi utilisasi bahan bakar fosil harus terus dilakukan dengan terus memperhatikan faktor lingkungan.
Salah satu jenis bahan bakar fosil ialah batubara. Dibandingkan bahan bakar fosil lainnya, batubara mempunyai beberapa keunggulan, di antaranya:
- Batubara yang siap diekploitasi secara ekonomis terdapat dalam jumlah banyak.
- Batubara terdistribusi secara merata di seluruh dunia.
- Jumlah yang melimpah membuat batubara menjadi bahan bakar fosil yang paling lama dapat menyokong kebutuhan energi dunia.
Namun, batubara juga memiliki kelemahan yaitu:
- Identik sebagai bahan bakar yang kotor dan tidak ramah lingkungan karena komposisinya yang terdiri dari C, H, O, N, S, dan abu.
- Kandungan C per mol batubara jauh lebih besar dibandingkan bahan bakar fosil lainnya sehingga pengeluaran CO2 dari batubara jauh lebih banyak. Selain itu, kandungan S dan N batubara bisa terlepas sebagai SOx dan NOx dan menyebabkan terjadinya hujan asam.
Oleh karena itu, perlu dikembangkan metode baru dalam pemanfaatan batubara agar dapat meredam isu-isu lingkungan yang mungkin terjadi.
Salah satu metode yang dapat menjadi alternatif ialah pembakaran batubara menggunakan campuran O2/CO2. Keunggulan utama dari metode ini yaitu adanya daur ulang aliran gas keluaran sehingga kandungan CO2 pada aliran tersebut sangat tinggi, mencapai 95%. Dengan kandungan CO2 yang tinggi, proses pemisahan karbondioksida menjadi lebih mudah dan ekonomis dibandingkan pada pembakaran batubara konvensional (menggunakan udara) yang hanya menghasilkan CO2 sekitar 13% pada gas keluaran. Gas keluaran dengan kandungan CO2 sampai 95% bahkan dapat langsung digunakan untuk proses oil enhanced recovery (EOR) [2]. Pembakaran batubara menggunakan campuran O2/CO2 ditampilkan pada gambar di bawah ini.
Batubara (fuel) dibakar dalam sebuah combustion chamber dengan menggunakan campuran gas oksigen dan karbondioksida. Oksigen didapatkan dari proses pemisahan nitrogen dan oksigen dari udara dalam sebuah Air Separation Unit. Karbondioksida sendiri merupakan gas hasil pembakaran batubara yang kembali dialirkan ke dalam combustion chamber. Aliran recycle karbondioksida ini menyebabkan peningkatan konsentrasi gas karbondioksida yang sangat signifikan di aliran keluaran sehingga memudahkan proses pemisahan karbondioksida itu sendiri. Pemisahan karbondioksida dapat diselenggarakan menggunakan metode konvensional seperti menggunakan CO2 absorber maupun metoda terkini seperti pemisahan dengan membran. Tingginya konsentrasi CO2 di aliran umpan absorber atau membran akan memudahkan proses pemisahan sehingga spesifikasi alat pemisah tidak terlalu memakan biaya besar.
Selain kandungan CO2 gas keluaran yang tinggi, metode ini juga mempunyai efisiensi pembakaran karbon yang tinggi. Hasil penelitian Liu (2005) menunjukkan bahwa pembakaran batubara menggunakan media O2/CO2 menghasilkan efisiensi pembakaran karbon yang lebih tinggi dibandingkan pembakaran batubara konvensional. Hal itu dibuktikan dari kandungan karbon baik pada fly ash maupun bottom ash yang jauh lebih sedikit.
Sumber:
[1] www.europeanenergyforum.eu
[2] Liu, Hao, et all, Comparison of pulverized coal combustion in air and in mixture of O2/CO2, Fuel 84 (2005) 833 – 840.


10 Comments
adams
Jun 16th, 2008
kita memang perlu energi alternatif
michaeljubel
Jun 16th, 2008
@adams: yup, kita emang perlu banget. tapi keliatannya batubara memang masih memegang peranan penting untuk pemenuhan kebutuhan energi dunia, termasuk di Indonesia.
anyway, konsepnya menarik juga ya. CO2 diperbanyak akan pemisahannya menjadi semakin mudah. Hehehe.. ngomong2, penalti CO2 berapa ya per ton nya? Mahal kah?
Wawan
Jun 17th, 2008
Gimana proses detail air separation nitrogen dari udara?
Saya baru denger proses pemisahan udara tersebtu
michaeljubel
Jun 17th, 2008
wawan – pemisahan nitrogen dan oksigen dari udara (ASU) dapat diselenggarakan melalui beberapa cara. ada yang kriogenik dan ada yang non-kriogenik.
untuk proses yang kriogenik, udara pertama-tama dikompresi dan kemudian didinginkan hingga berubah fasa menjadi cair. setelah itu, udara cair didistilasi menjadi oksigen, nitrogen, dan juga argon (optionally). oksigen yang diperoleh kemurniannya hingga 99%.
untuk proses yang non-kriogenik, pemisahan oksigen dan nitrogen di udara dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti adsorpsi, reaksi kimia, membran polimer, dan membran ion transport.
begitu kira-kira. mungkin bisa dicari literatur lebih lanjutnya apabila ingin mengetahui ASU secara lebih detail.
Dhanu
Aug 6th, 2008
mau nanya,, bagaimana sih Pak, cara teknik pencucian batubara untuk menghilangkan sulfur pirit?
bsutejo
Sep 12th, 2008
Untuk deskripsi proses pemisahan udara (ASU) secara cryogenic dapat didownload di : http://www.che.cemr.wvu.edu/publications/projects/large_proj/air.PDF
bagaimana efisiensinya, jika pembakaran menggunakan oxygen murni sebagai oksidatornya?
dee
Nov 4th, 2008
Truz CO2 yang dihasilkan bs donk drecycle jd bhn bkr lg?
Can U explain about the process??
Thank U.
rahma
Nov 4th, 2008
Bs ga’ CO2 yg dhslkan ddaur ulang jd bhn bkr lg?
Gmn prosesnya?
Makati Wandansari
May 29th, 2009
Terima kasih atas tulisannya. Sangat membantu dalam menyelesaikan tugas saya. ^^
Leave a Comment