Safety in The Process

by on 21/04/08 at 8:29 pm | 23 Comments | |

Safety atau keselamatan kerja merupakan salah satu faktor utama yang sering didengung-dengungkan oleh industri-industri beberapa tahun terakhir ini. Kesadaran akan pentingnya safety ini didasari oleh keadaan di mana suatu investasi yang telah dilakukan, yang umumnya bernilai besar pada suatu pabrik/plant, dapat hilang atau rusak akibat adanya kelalaian dalam pengoperasian atau kelalaian terhadap safety procedure yang ada yang juga dapat membahayakan para pekerja.

Safety dapat ditinjau dari dua sisi: 1) sisi teknikal dan 2) sisi manajemen. Dari sisi teknikal, topik bahasan tentunya akan menjadi sangat beragam. Sebagai contoh, sudut pandang safety dari sisi Teknik Kimia tentu saja akan berbeda jika diihat dari sudut pandang Teknik Industri. Teknik Kimia yang lebih banyak bergelut dengan industri proses tentu saja akan lebih banyak bersinggungan dengan faktor safety dari alat-alat (pressured vessel, flare stack, dan lain sebagainya). Dalam hal ini tentunya akan ada parameter-parameter standar yang harus dipatuhi seperti (GPSA, API, ASME, ASTM, dan lain-lain) serta mungkin teman-teman akan sering mendengar istilah MAWP (Maximum Allowable Working Pressure), Mach number (relativitas kecepatan linier fluida terhadap kecepatan suara) dan istilah-istilah lainnya. Sedangkan dari sisi Teknik Industri yang lebih banyak berhubungan dengan industri manufaktur, tentunya istilah dan acuan yang digunakan akan berbeda. Walaupun demikian, akan terdapat beberapa kesamaan prosedur apabila dilihat sisi manajemen. Hal ini didasari akan tujuan safety tiap industri yang tidak terlalu jauh berbeda. Berikut akan dibahas tentang safety procedure dari sisi manajemen.

Safe from the start

“Safe from the start” ialah suatu jargon yang diharapkan terjadi pada tiap proyek yang dilakukan mulai dari tahapan definition, planning, preliminary design, detailed design, construction, commissioning , dan hingga ke tahap production operation. Banyak parameter yang digunakan dalam menyatakan seberapa patuh dan aware sebuah perusahaan terhadap perihal keselamatan kerja. Salah satu parameter yang digunakan di Amerika Serikat adalah Total Case Incident Rate (TCIR) dimana nilai TCIR ini harus lebih kecil dari 1.0, parameter TCIR ini dikeluarkan oleh US. Occupational Safety and Health Admininstration dan dinyatakan sebagai standar pada tahun 2002.

TCIR sendiri dihitung berdasarkan kasus injury/illness yang terjadi selama 200,000 man-hour period (1 man-hour dapat didefinisikan sebagai 1 orang dikalikan dengan 1 jam). Pada konteks 200,000 man-hour period ini dianggap ada 100 orang pekerja dengan waktu kerja 50 minggu pertahunnya dan 40 jam perminggunya. TCIR juga dipakai oleh U.S. Bereau of Labor Statistics (semacam Biro Pusat Statistik untuk buruh) sebagai suatu sumber data untuk kasus kecelakaan kerja yang terjadi.

Untuk mencapai angka kecelakaan kerja yang kecil, sebagaimana dinyatakan dalam syarat TCIR diperlukan suatu safety procedure yang baik. Adapun tujuan dari prosedur safety ini antara lain:

  • Menghindari kecelakaan, luka, atau penyakit akibat kelalaian dalam bekerja
  • Menghindari adanya dampak buruk terhadap lingkungan
  • Menghindari adanya pelanggaran terhadap undang – undang keselamatan kerja yang berlaku
  • Menghindari adanya kehilangan aset, produk atau sistem bisnis perusahaan

The Safest Company Year 2003

Salah satu perusahaan yang mempunyai record TCIR yang baik adalah Honeywell Process Solution (HPS). Perusahaan ini dilaporkan memiliki nilai TCIR sebesar 0.29 dan 0.05 untuk Project Operation Group (bagian dari perusahaan tersebut yang khusus menangani proyek) pada tahun 2003. Berikut beberapa tahapan penerapan safety yang disadur dari Honeywell Process Solution (HPS):

  1. Project Safety Assessment (PSA)
    Pada tahapan ini, perusahaan akan membentuk suatu tim khusus untuk meninjau dan mengevaluasi setiap faktor atau kejadian yang mungkin terjadi dan menyebabkan terjadinya hazard. Pada tahapan ini biasanya akan menghasilkan beberapa checklist yang akan ditinjau lebih lanjut oleh pihak-pihak terkait dalam proyek.
  2. Data Gathering and Scope
    Checklist yang telah dihasilkan dari tahapan pertama selanjutnya akan diberikan kepada pihak terkait dalam proyek (construction manager) sebagai langkah awal dalam pengumpulan data. Pada tahap ini biasanya akan ada interview dari tim PSA untuk memastikan efek dan cakupan dari bahaya (hazard) yang mungkin terjadi pada tiap tahapan proses.
  3. Defining The Action Plan
    Setelah semua data terkumpul tim PSA akan membandingkan hazard yang mungkin terjadi dengan regulasi dan standar operasi yang telah ada untuk mengembangkan safety action plan yang bersifat spesifik terhadap tiap bahaya. Dalam tahapan ini ada 4 langkah yang harus dilakukan :

    • Executive overview and project description
    • Administrative issues
    • Policies and procedures
    • forms
  4. Management Sign-Off
    Rencana yang telah ditetapkan tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan dari pihak manajemen. Untuk itu perlu adanya komitmen dari pihak manajeman, kontraktor, dan pelanggan (customer) dalam mengimplementasikan safety didalam proyek tersebut. Salah satu cara adalah dengan membuat semacam nota kesepakatan yang ditandatangani oleh setiap stakeholder perusahaan yang menyatakan akan selalu mengikuti, menjalankan, dan mengutamakan safety dalam tiap tahapan proyek.
  5. Safety Program Kickoff and Training
    Salah satu bentuk nyata dari komitmen perusahaan adalah dengan mengirimkan para pekerjanya ke dalam suatu bentuk safety training. Para pekerja diwajibkan untuk mengikuti pelatihan tersebut dan harus lulus dengan nilai memuaskan untuk memastikan bahwa safety knowledge telah diterima dengan baik oleh para pekerja tersebut. Daftar pihak – pihak yang terkait dalam pelatihan beserta jenis pelatihan dapat dilihat pada Figure 1.
  6. Project Execution
    Tibalah saatnya untuk menjalankan proyek yang disepakati. Pada tahapan ini akan dilakukan pengontrolan terhadap proyek yang telah berjalan untuk memastikan apakah safety procedure yang telah ditetapkan dipatuhi atau tidak. Berikut salah satu formulir administratif yang harus diisi (contoh dari Honeywell Process Solution).
  7. Reward and Recognition
    Tujuan dari tahapan ini adalah untuk memberikan ‘contoh’ kepada pekerja lain. Dimana pada tahapan ini akan dicari pekerja/tim yang ‘paling’ mematuhi safety procedure yang telah ditetapkan. Penghargaan akan diberikan untuk memicu prestasi dari tim/pekerja lain. Dalam tahapan ini reward juga dapat diberikan oleh project owner kepada contractor.
  8. Project Review and Close
    Setelah proyek selesai akan ada evaluasi oleh tim PSA dengan pihak terkait dalam (konstruksi dan perancangan) proyek. Dalam evaluasi akan dibahas faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kegagalan atau keberhasilan dalam menjalankan safety procedure atau lebih dikenal dengan istilah learned lessons dari suatu proyek.

Nah, bagaimanakah safety di perusahaan tempat teman-teman bekerja? Atau mungkin, perusahaan tempat teman-teman akan bekerja?

Artikel ini disadur dari Chemical Engineering Magazine (edisi April 2005) dan beberapa sumber terkait dengan beberapa perubahan.

  • Pingback: Safety in The Process » Artikel Arunals

  • sugeng

    @ efrat sadeli
    salam kenal…
    saya lulusan Teknik Lingkungan thn 2002 dan memiliki setifikat safety OHSAS/SMK3, saya ingin melamar sbg safety officer tapi saya belum berpengalaman…mgkn sodara bisa bantu saya kemana saya hrs melamar, thx atas informasinya

  • janualry_skanel

    ini bahan yang bagus untk diskusi saya…

  • rudy

    saya ingin skali bs bkerja d prusahaan asing(migas/mining)sbgai safety officer..knp??
    krna slma 6 thn ini sy hny bkrja d prsahaan lokal sj yg terbilang pelit ilmu,.dan minim salary
    bgmana sy bs brkmbang kl hny di lokal sj….
    tlg rekan2 smua yg msh pny rs simpatik utk sdkit pduli dg ksdihan sy…

  • Antonius

    kalo anak TL bisa masuk posisi ini? Kalo engga..anak TL bs masuk bagian mana aja c di industri?

  • Deddy

    Health & Safety memang masalah penting bagi employee & employeer, meskipun saya care dengan H & S tapi saya masih kurang tertarik untuk melamar pekerjaan sbg H & S Officer. Hhmmm………bagaimana ya? mungkin ada masukan agar saya tertarik melamar H & S, soalnya menurut saya kurang tantangan, dan saya lebih suka dengan pekerjaan yang berhubungan dengan numerical, apa H & S ada numerical activity-nya?
    thanx alot

  • NISA

    ada informasi nih akan ada seminar mengenai safety yang ada diadakan oleh PT. Prosofe Mitratoyo Indonesia kegiatannya adakan dilaksanakan pada tgl 26 Februari 2009, informasih lebih lanjut hub 91823467. ok

  • echa

    dear all..
    aq mo gabung nih, bleh ikutan kan? mo nanya lebih jauh tentang pembuatan SOP HSE, SOP apa ja ya yg paling penting untuk perusahaan tambang n bisnis di bidang makanan spt catering githu…btw SOP n Work Intruction apa perbedaan n persamaannya???
    bagi-bagi ilmu donk, secara semuanya pada dah pengalaman n senior cz aq msh junior nih … n sangat tidak berpengalaman..
    T-q all…

  • http://waktuygfana.wordpress.com berisik.banget

    @ nophe

    bnr lah,klo di Oil & Gas Company itu umumnya kayak gt sich,tapi ada beberapa yg lum konsen ke arah situ…

    apalgi skrg rata2 MIGAS lagi membuat SNI untuk Mandatory didalamnya,jadi……ya..mereka lebih konsen ke arah HSEnya..

    dan juga mereka kan di dalam Company Rulenya juga langsung dari induknya sono..

    Wah,,sukses ya buat ngerjain SOPnya,q juga skrg lg di Compliance nih,permasalahan dengan CR (Company Rule) & GS (Guidlines Standardnya) & SNI Mandatory gt,hehehe…..

    jadi agak njelimet sich,tapi asik juga tuh,,klo diselami

  • nophe

    hmm… yoa gw juga ngerasain ni safety penting banget!!
    Apalagi sekarang lagi kapeh di SHE dept di salah satu oil n gas company..
    Wuidih eDuuunnn lah..
    setelah sebulan ngelakuin penelitian di lapangan gw diperbantukan buat ngerjain prosedur well control.. Wakwaw… isinyaa tentang drilling semuaaaaa hahahahaaa….
    alhasiil gw jadi belajar tentang drilling juga padahal basic gw bukan dari teknik…

    hmmm emang safety bukna milik teknik kimia doaang tau… tapi semua pihak bisa berkecimpung disana…
    kan SHE itu satu kesatuan…
    hahaha

    btw thx infonyaaa

  • Efrat

    @ BrZk_BnGt_Sch

    wah terima kasih atas masukannya mas, saya kira memang Safety itu bukan milik Teknik Kimia saja
    tapi semua pihak yang terlibat di dalam proses….

    maaf kalo membalasnya agak lama, saya baru selesai kompre ini

    :)

  • Efrat

    @ BrZk_BnGt_Sch

    wah terima kasih atas masukannya mas, saya kira memang Safety itu bukan milik Teknik Kimia saja
    tapi semua pihak yang terlibat di dalam proses….

    maaf kalo membalasnya agak lama, saya baru selesai kompre ini :)

  • BrZk_BnGt_Sch

    Numpang nimbrung nih……..

    Sebenarnya sich klo berbicara Process Safety sendiri sangat komplek’s hampir semuanya tersentuh olehnya,tapi kadangkala di Indonesia sendiri masalah ini belum membooming,apalagi masalah Process Safety baru di dengungkan di UK stlh terjadinya Piper Alpa tapi skrg sudah berubah ke Loss Prevention ,tul kan?

    Apalagi skrg banyak bermunculan oraganisasi2 yg mengarah ke hal itu misalanya CCPS,Mary O’ Cornor Process Safety,Texas A & M (Saya rasa disana jg ada alumni Teknik Kimia ITB,angkatan saya kurang tau,klo gak salah namanya Jaffe Suardin,pernah jg nulis di salah satu jurnal Ilmiah Internasional di ScienceDirect masalah Integrasi DOW F&EI di plant yg sedang berjalan),itu klo melihat ke arah US klo di Eropa banyak lah,yg gak bisa disebutkan satu/satu :D

    Saya rasa elemen2 dalam Process Safety Management jg banyak yg pertama kali dikenalkan oleh OSHA melalui 29 CFR 1910.119,kemudian EPA jg menelorkan hal yg serupa,berikutnya API ,CCPS jg mengeluarkan hal yg sama,ya walaupun ada beberapa elemen saja yg berbeda toh,itu tujuannya sama lah

    Apalagi dia jg mengeluarkan “Guidlines for Risk Based Process Safety”;”Guidlines for Implementing Process Safety Management Systems”

    Tapi di Indonesia jg ada kan Organisasi mirip kayak itu yg di Motori Om Garonk (Darmawan Ahmad Mukharror dan kawan2) yaitu IIPS (Indonesia Institute of Process Safety)

    Semoga masalah process safety ini lebih membooming lagi di dunia Indonesia

    Sorry Bung,klo replaynya terlalu panjang & lebar,ya……rambut boleh hitam,tapi isi kepala boleh beda kan
    :D,apalagi bakcground saya jg bukan dari Chemical Engineering tapi dari Safety Engineering,tapi toh ilmu itu milik semuanya kan,gak harus qt memilah2 ini milih jurusan itu,ini milik si ini,toh nanti akan mengerut pada satu titik :)

    BR & Wasallam

    BrZk_BnGt_Sch

    waktuygfana.wordpress.com

  • Efrat

    iya dunk termasuk safety pangan bel hehehehe :p

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    completely agree with razz, “Problems will recur less often if we publicize, discuss and record the actions taken in the past.” itu gunanya kuliah safety kali ya. hehehe..

  • http://majarimagazine.com/ Majari Administrator

    efrat, that article is still pending for review. pasti di-publish kok. itu yang artikel kompor udah dipublish kann. hehe.. ditunggu terus artikelnya.

  • razzz

    Sebuah Process Safety yang sempurna kyknya susah bgt utk dicapai di suatu industri.
    Karena ga lepas dari human factor.
    Mulai dari kasus piper alpha, bhopal, hingga yang terbaru seperti texas city refinery rata2 disebabkan oleh human error.
    Paling penting tentunya culture safety yang harus ada pada setiap orang yang bekerja di lapangan.
    Orang2 operation harus aware sm hazard facilities yang mereka hadapi.
    Ga gampang loooh kasih awareness ke mereka. Secara background mereka berbeda2.

    Dukungan dari manajemen suatu perusahaan juga berpengaruh sm penerapan process safety.
    Terkadang kan harus trade off tuh antara produksi sm biaya yg harus dikeluarkan utk assurance safety di suatu facilities.
    Apalagi aging facilities yang produksinya udah turun bgt sementara eqipmentnya corroded dimana2.hehehee…
    Management of change yang terdokumentasi dengan baik tentu salah satu faktor penting dalam Process Safety.
    Dan tentunya belajar dari accident2 terdahulu.

    Mengutip kata2 om Kletz:
    “Problems of all sorts, not just accidents, will recur less often if we publicise, discuss and record the actions taken in the past, remind people of them from time to time, do not make changes unless we know why the procedure or equipment was introduced…”

  • Efrat

    wah thanks bgt buat tambahan info dari jubel…….

    btw artikel food engineering gw koq belom naek cetak ya :p

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    hmm.. setau saya kasus Bhopal itu terjadi karena human-error.. nah makanya kesadaran safety tuh penting bgt di pabrik kimia.. kalo mesin rusak alamiah ato bencana alam kan gak bisa kita kontrol.. nah kalo human error kan seharusnya bisa kita hindari.. hehe..

    tapi walaupun begitu, hal tersebut gak semudah itu di lapangan.. pastinya.. hehe..

  • Efrat

    wah pengetahuannya bagus juga tahu kasus Bhopal..

    itu kasus di India gara2 ada kabut metil isosianat, korbannya 20000 orang, kalo akibat jelasnya sih saya gak taw cuma itu akibat ada tangki yang bocor terus meledak (correct me if i’m wrong coz ini sumbernya dari RCI Indonesia).

    Nah berkaitan dengan masalah safety diatas, saya kira penting untuk adanya safety system seperti artikel diatas. Kalo dipikir2 alat2 yang rusak itu kan ada 2 sebabnya (saya ambil contoh kasus Bhopal ya) misal tangki bisa rusak karena waktu (umurnya udah tua) ataw karena kita gak hati2 makenya (tidak sesuai prosedur), mungkin nanti kalo kamu kerja praktek (kalu belum) bakal lebih taw kalo untuk mengecek alat, memasukan bahan mentah ke tangki, dan masih banyak macemnya yang banyak kalo disebutin. itu ada tahapannya (jangan contoh karyawan yang seenaknya. soalnya memang pada prakteknya disini suka diabaikan)

    kembali ke Bhopal.. pada dua kasus diatas ada satu kesamaan yaitu awareness dimana si tangki kan ga langsung aja tiba2 rusak seharusnya ada semacam ‘tanda2′ si tangki itu bakal rusak dan memang harusnya ada. misal kalo pada reaktor jika katalisnya udah maw rusak pasti ada gejala2 pressure drop nya naik. Nah hal2 semacam itu yang kurang diperhatikan di kasus Bhopal ini. Makanya taw2 kejadiannya udah kecelakaan aja.

    Kalo mereka maw tanggap dengan mempunyai safety management system terstruktur dan terorganisir misalnya ada maintenance seminggu sekali, terus ada laporan harian mengenai kondisi peralatan dari pekerja yang saat itu bertugas. Saya kira gejala2 kecelakaan tadi dapat dideteksi dan si tangki bisa diganti tanpa menunggu keburu meledak dulu.
    (masih banyak contoh kasus yang laen loh..)

    nah kalo buat pertanyaan kedua saya sarankan kamu coba kunjungan industrinya jangan ke pabrik Kimia, coba sekali-kali ke Pabrik Mobil, motor, mebel, pokoknya yang gak melibatkan proses kimia. (Hahaha lumayan buat nambah wawasan) nanti juga taw deh.. (sulit untuk menjelaskan di dalam ruang yang terbatas ini :p).

    Kalo kamu tertarik buat cari perusahaan yang safety nya bagus coba cek ke website perusahaannya, terus liat berapa jumlah kecelakaan kerjanya. Di Indonesia setaw saya (kecuali untuk industri kimia dan Oil & Gas) belum ada wadah yang menaungi hal tsb. Kalo di America ataw di Eropa udah ada semacam Safety Institute (kaya badan yang mewadahai keselamatan di industrinya gitu)..

    ok c u.

  • hizkia

    wahh.. hehe.. mungkin lain kali efrat bisa mengulas contoh kasusnya kali ya.. kan kemaren sempet heboh tuh pertamina ada yang meledak segala macem.. ato mungkin kasus bhopal jaman dulu.. efrat bisa mengulas lebih lanjut? hehe..

    oiya, masih gak ngerti. kalo safety di mana anak teknik industri itu seperti apa ya? dan contoh perusahaan Indonesia yang terbaik safety nya apa ya?

  • Efrat Sadeli

    @ Hizkia

    Penerapan safety di industri kimia di indonesia (menurut saya) cukup baik terutama untuk industri petrokimia skala besar dan di industri oil dan gas karena pada kedua industri ini dibutuhkan tingkat keamanan kerja yang baik mengingat kondisi operasinya (P dan T) yang tinggi dan nilai investasi yang tinggi sehingga kalau tidak hati2 nilai investasi jutaan atau miliaran dollar bisa hilang.

    Sayangnya memang hal ini tidak diikuti oleh industri kimia lainnya (yang skala kecil) misalnya.

    Terkait masalah operasional perlu diketahui kalo standard safety tiap industri beda2 tergantung bahaya dan risiko dari tiap jenis industri kimia itu sendiri. Misalnya standard safety di industri oil dan gas akan berbeda dengan standard safety di industri kertas. Kesamaan ?? tentu saja ada seperti memakai helm pengaman, sepatu bot, dsbnya yang sering kita liat atau kita pakai saat berkunjung ke plant.

    Dan masalah (operasional) safety itu bukan cuma tentang memakai peralatan standar saja.

    Peralatan standar yang dipakai itu adalah bagian dari safety. tapi tentunya tidak hanya itu. Intinya safety (di dalam sisi manajemen) adalah prosedur yang harus ditaati oleh semua pihak yang terkait dan terlibat dengan perusahaan (owner, designer plant, contractor, engineer, operator, buruh, sampai pengunjung pabrik) untuk keberlangsungan dari kehidupan proyek/perusahaan/produksi hingga mencapai tujuan yang diharapkan (misal proyek yang minim kecelakaan kerja , umur pabrik kimia yang lebih panjang karena pemakaian yang sesuai peruntukannya)

    Karena berkaitan dengan prosedur tentunya ada kelengkapan2 adminstrasi seperti formulir yang harus diisi tiap bertugas, pengecekan peralatan rutin, inspeksi rutin untuk melihat kualitas kerja (karena kalau kualitas kerja menurun bisa berbahaya buat pabrik, contoh pekerja yang ngantuk saat bekerja dapat merusak peralatan atau pekerja yang memakai alat dengan seenaknya sehingga umur alat berkurang / alat cepat rusak )

    semoga menjelaskan

    The Author :)

  • hizkia

    kalo di Indonesia sendiri, penerapan safety di industri kimia nya gimana ya? kita tuh udah ngikutin standar-standar ato belum sih? emang sih di plant gt pekerjanya diwajibkan memakai peralatan-peralatan safety.. tapi kalo dilihat dari masalah operasional lainnya, apakah itu sudah cukup baik?

pestilence439
lovelock506 voltigeur296 fiance206 pecunious261 hyperphysical624 printer549 earnestness679