Teknologi Pengolahan Sampah

by Michael Hutagalung on 30/12/07 at 11:59 pm | 58 Comments | Print article | Email article

Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat dibicarakan di Kota Bandung, sebuah kota besar di Indonesa yang beberapa waktu yang lalu pernah heboh karena keberadaan sampah yang merayap bahkan hingga badan jalan-jalan utamanya. Jangankan jalan utama, saat Anda memasuki Bandung menuju flyover Pasupati, Anda pasti akan disambut dengan segunduk besar sampah yang hampir menutupi setengah badan jalan. Itu dulu. Sekarang, Kota Bandung sudah kembali menjadi sedia kala dan solusi PLTSa-lah yang sedang diperdebatkan.

Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi. Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang kemudian dibarak untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas yang dapat digunakan untuk membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

Proses Konversi Thermal

Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi, pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna, kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Beberapa contoh insinerator ialah open burning, single chamber, open pit, multiple chamber, starved air unit, rotary kiln, dan fluidized bed incinerator.

Incinerator
Incinerator. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam sebuah incinerator.

Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen. Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa tar, larutan asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.

Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas. Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). Seperti halnya pirolisa, proses gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000 kJ/Nm3.

Proses Konversi Biologis

Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik (biogas) atau tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa (sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

Modern Landfill
Modern Landfill. Konsep landfill seperti di atas ialah sebuah konsep landfill modern yang di dalamnya terdapat suatu sistem pengolahan produk buangan yang baik.

Landfill ialah pengelolaan sampah dengan cara menimbunnya di dalam tanah. Di dalam lahan landfill, limbah organik akan didekomposisi oleh mikroba dalam tanah menjadi senyawa-senyawa gas dan cair. Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi (leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari tanah dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill harus mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam landfill menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal – proses aerobik) dan menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill tersebut mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasil biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

Pemilihan Teknologi

Tujuan suatu sitem pemanfaatan sampah ialah dengan mengkonversi sampah tersebut menjadi bahan yang berguna secara efisien dan ekonomis dengan dampak lingkungan yang minimal. Untuk melakukan pemilihan alur konversi sampah diperlukan adanya informasi tentang karakter sampah, karakter teknis teknologi konversi yang ada, karakter pasar dari produk pengolahan, implikasi lingkungan dan sistem, persyaratan lingkungan, dan yang pasti: keekonomian.

Kembali ke Bandung. Kira-kira teknologi mana yang tepat sebagai solusi pengolahan sampah menjadi bahan berguna? Apakah PLTSa sudah merupakan teknologi yang tepat??

Referensi: Pengelolaan Limbah Industri – Prof. Tjandra Setiadi

58 Comments

soe

Dec 31st, 2007

klo menurut lo sendiri solusi mana yang bagus bel?
IMO, actually, both process was interesting.
sistem thermal –> butuh energi lebih besar dan kayaknya perlu nyortir jenis sampahnya dulu (perlu gak, gw juga gak yakin)
sistem biologis –> waktunya mungkin jadi lebih lama dan kita perlu bikin sistem yang oke biar nggak sampe leakage. butuh maintenance yang lebih OK juga..
actually i prefer the biological ones …

Dinda Elefani

Dec 31st, 2007

btw2,, lo ndiri setuju dibangun PLTSa di Bandung ga bel?

Daniar

Jan 3rd, 2008

Saya ucapkan terima kasih atas disampaikannya pemaparan Teknologi Pengolahan Sampah.
Bukan masalah pemilihan teknologi saja yg terjadi di Bandung, itu sih sudah pasti para ahlilah yg lebih tau / pintar. Tapi dampak dari PLTSa itu yg masih diragukan. Bagaimana jika PLTSa itu GAGAL ?!. Apa kontribusinya buat warga sekitar yg secara langsung dirugikan. Yaa.. jangan sampai menyesal, khan kalau gagal yg rugi kita semua.

michaeljubel

Jan 3rd, 2008

Hmm.. Menurut saya, pada dasarnya sampah itu HARUS diolah. Mengapa? Simple saja: “Karena manusia akan seterusnya dan selamanya memproduksi sampah. Sama halnya industri seterusnya memproduksi limbah.”

Bagaimana agar limbah tidak ada? Ya hentikan saja industrinya.
Bagaimana agar sampah tidak ada? Ya hentikan saja aktivitas manusianya.

Apa itu mungkin??
Jelas tidak.

Maka dari itu, mau tidak mau sampah harus diolah. Itulah pemikiran awal yang harus kita miliki sebagai masyarakat intelektual. Berangkat dari pemikiran itulah, kita harus berpikir lebih lanjut bagaimana sampah tersebut harus diolah dan bukan hanya sekedar mengemukakan efek buruk pengolahan sampah tanpa memberikan solusi yang konkrit. Contoh simplenya ya kita liat saja pabrik kimia. Apa pabrik kimia tidak mengeluarkan limbah berbahaya?? Jelas-jelas pabrik kimia mengeluarkan limbah dan bahkan keberadaan pabrik itu sendiri bisa saja meresahkan masyarakat. Teman-teman pernah mendengar tragedi pabrik kimia di dunia? Bhopal? Flixborough? RIBUAN NYAWA hilang karena adanya tragedi itu. Lalu apakah gara-gara itu pabrik kimia SEDUNIA harus ditutup?? Jelas tidak. Jadi kita harus memandang masalah tersebut secara holistik dan tidak secara parsial.

Pabrik kimia menyebabkan pencemaran dan memiliki resiko dan bahaya terhadap lingkungan dan begitu juga pengolahan sampah. Pada PLTSA, kita bisa melihat adanya masalah pada polusinya gasnya, air limbah kaya B3 nya, kebutuhan air pendinginnya, masalah lahan dan sebagainya. Tapi itu wajar. Pabrik kimia juga memiliki masalah yang sama. Limbah, limbah, dan limbah. Dan di sanalah peran kita sebagai engineer dituntut untuk menyelesaikan semua masalah tersebut. Dan dalam memilih teknologi yang tepat, dampak lingkungan PASTI masuk menjadi satu dari sekian banyak faktor pertimbangan pemilihannya.

Bagaimana apabila PLTSa tersebut gagal? Ya jangan sampai gagal. Apa gunanya ada ilmu engineering di dunia ini kalau tidak bisa memprediksi kelakuan sebuah proses? Apa gunanya ada ilmu lingkungan kalau tidak bisa memprediksi dampak lingkungan? Apa gunanya ada ilmu sosial kemasyarakatan kalau tidak bisa memprediksi perubahan sosial yang terjadi di masyarakat? Apa gunanya ilmu ekonomi kalau tidak bisa memprediksi kelayakan ekonomi suatu proyek? Para ahli dan ilmuwan di Indonesia memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk melakukan rancangan dan desain teknik, analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL), analisa sosial kemasyarakatan, dan bahkan analisa keekonomian. Apabila semua analisa tersebut telah dilakukan dan kesimpulan dari analisa tersebut menyatakan bahwa PLSTa ialah solusi pengolahan sampah yang layak, mengapa tidak??

Muliawan

Jan 23rd, 2008

Kekhawatiran PLTSa GAGAL ya menurut saya pasti ada penyebabnya. Diantaranya banyak pula para ahli yang mengkhawatirkan PLTSa ini dibangun dekat dengan PEMUKIMAN, apa lagi PLTSa ini baru ada di Indonesia.

Memang untuk merasakan RASA khawatir PLTSa ini tidak bisa dengan membaca dari media massa atau mendengar saja. Mungkin salah satunya jika PLTSa dibangun disebelah rumah Anda yang semula daerah itu tidak ada rencana pembangunan proyek teknologi sampah.

Cahyo

Feb 27th, 2008

PLTSA yang akan diterapkan oleh tim teknis dari ITB akan menggunakan teknologi incenerator dalam artian bahwa sampah yang masuk akan dibakar. Kondisi sampah yang tidak homogen tentunya akan mempersulit proses pembakaran. Temperatur pembakaran yang diperlukan dalam incenerator PLTSA di atas 800 C agar dapat dihasilkan uap panas sebagai fluida kerja pembangkit daya (listrik). Pembakaran yang tidak sempurna pada berbagai materi (dalam hal ini sampah yang tidak homogen) malah akan menimbulkan racun dalam ukuran nano yang bisa beterbangan di udara.
Dengan sampah yang bercampur begitu rupa, apakah pembakaran sempurna ini bisa dipenuhi? Padahal menurut diskusi para ahli (yang sempat saya ikuti di LPM Unpad – dihadiri beberapa dosen juga dari ITB sebagai pembicara – termasuk dosen Tekim ITB) dikatakan bahwa untuk melakukan pembaakran ini dibutuhkan burner yang disuplai terus menerus dengan bahan bakar solar. Kalau menurut pendapatku, hal ini semakin meragukan efisiensi sistem itu sendiri sebagai pembangkit daya. Sedangkan teknologi kita di Indonesia belum bisa menerapkan teknologi pembakaran dengan teknik gasifikasi batubara dengan baik. Buktinya Indonesia Power sebagai salah satu BUMN pembangkit daya belum menerapkan teknologi gasifikasi (pembakaran pada temperatur dan tekanan tinggi untuk menghasilkan gas sintesis yang bisa dibakar).
Belum lagi kondisi geografis Bandung yang seperti berada dalam mangkok. Dataran Bandung dikelilingi oleh pegunungan, satu2nya pintu masuk aliran udara adalah dari arah
Majalaya (dan melewati Gedebage yang bakal calon PLTSA). Kalau ada sumber gas polutan yang ada di daerah ini maka akan dengan cepat tersebar ke seluruh daerah Bandung, kecuali kalau kita bisa membuat cerobong yang sanagat tinggi. Tapi setinggi apa?
Ada lagi permasalahan soal sumber daya air yang diperlukan sebagai pendingin sistem (dalam sistem pembangkit daya seperti ini diperlukan kondensator). Kondisi perairan di daerah selatan tidaklah cukup baik, industri yang ada di daerah selatan (kebanyakan tekstil yang memerlukan banyak air) harus membuat sumur artesis (mengambil air tanah) untuk memenuhi kebutuhannya.
Kalau sekedar mau mengelola sampah, cara pengkomposan akan lebih efektif karena sebagian besar sampah rumah tangga adalah organik. Atau bisa juga dengan teknologi landfill seperti artikel di atas yang memanfaatkan proses anaerob untuk menghasilkan metana. Cara ini sesuai dengan program MDG’s dan bisa diikutsertakan dalam proyek carbon trading. Saya kira akan lebih menguntungkan dan lebih menjawab keadaan saat ini. Kementerian Negara Lingkungan Hidup juga sudah mengeluarkan peraturan bahwa minimal dalam 5 tahun ini semua daerah harus melakukan pengkomposan untuk mengelola sampahnya (aku baca berita ini di tagline MetroTV).

Wassalam

Eirlangga

Apr 26th, 2008

assalamualaikum..

saya tertaik dengan tulisan ini,, saya mau tanya apakan rancangan alat ini bisa di terapkan untuk membuat bio gas Bio gas yang bahan utama nya di ambil dari kotoran ternak.

trimakasih.

wassalam.

oh iya maaf saya mau minta izin klo situs ini sudah saya LINK ke webbloq saya. trimaksih buat administrator nya.
dan salam kenal.

Pandzee

May 1st, 2008

Artikelnya menarik… Tapi komentar authornya… SALUT!!
Semoga banyak engineer-engineer Indonesia yang bisa seprogresif ini..

Satu hal yang saya tidak setuju dengan PLTSa Bandung adalah kita mengimpor teknologi dari luar negeri… Tapi ya bagaimana lagi ya, mungkin karena WAKTU dan ketersediaannya seperti itu… Banyak contoh (lokal) yang awalnya berlandaskan niat baik dengan mendatangkan teknologi luar, lalu berharap teknologi tersebut dapat diserap dan dikembangkan, sayangnya… akhirnya bangsa kita cuma jadi operator saja, kalaupun modifikasi ya modifikasi trial and error saja…

Satu hal yang pasti, setiap orang ‘normal’ yang tahu rumahnya bakal bersebelahan dengan “tempat sampah” pasti menolak, apapun rencananya. Sama pastinya seperti pajak dan kematian hehehe… Masalahnya Bandung tidak punya lahan yang cukup luas dan jauh dari pemukiman, padahal dengan TPA yang jauh seperti sekarang masalah tidak selesai. Pasti sampahnya lama diangkut (karena truknya sedikit, tua, iuran sampah ngga bayar, kalaupun bayar kita ngga yakin betul2 dipakai atau dikutip entah oleh siapa), jadi bau, air lindi berceceran, boros solar, pokoke ngga efektif deh.

Mau sanitary landfill? Siapa yang mau jamin betul2 dilapis tanah? (Leuwigajah itu dokumen resminya juga sanitary landfill :P )

Mau komposting? Siapa yang mau jamin betul2 dikerjakan dan mampu mengolah sedemikian banyak sampah tanpa menimbulkan bau (belum masalah nanti bakal dijual kemana)?

Mau konversi biologis? Siapa yang mau jamin betul2 ditutup tanah liat dan air lindinya tidak bocor? (gas metan baru dapat diambil setelah sampah ‘matang’, sebelum itu investor cuma melongo aja numpuk2 sampah… Mau invest??)

Apalagi mau PLTSa??? Siapa yang mau jamin pabriknya ngga bakal rusak, lalu meledak dan menghasilkan dioksin berjuta-juta ppm ke perumahan di dekatnya?

Atau mau PLTN????? Sudah difatwa haram lho… hehehe OOT nih…

Sebelum makin ngelantur, pertanyaannya bang Michael mau tak komentarin aja ah. Teknologi yang bagus?? Kriterianya menurut saya adalah:
1. Harus ada kegiatan awal Reduce, Reuse dan Recycle. Pertama masyarakat dipaksa mengurangi sampahnya. Caranya? Iuran sampah ditiadakan, tapi kantong sampahnya harus beli dari PD Kebersihan. Dengan begini pendanaan pengolahan sampah bisa terjamin, dan jumlah sampah berkurang (minimal volumenya) karena mau bayar seminimal mungkin (kalau perlu tidak bayar). Kalau perlu hypermarket dan supermarket dipaksa untuk membekali konsumennya dengan kantong sampah ini, dan bukannya kantong plastik toko. Bayarannya supermarket itu akan mendapatkan diskon pembayaran sampah deh. Botol plastik, gelas dan logam sebaliknya tidak perlu masuk ke kantong sampah ini, malahan bisa dituker dengan kantong sampah (toh nanti bisa dikilo kan) hehehe

2. Tidak perlu ruangan yang besar, kalau perlu pengolahan sampahnya di TPS saja, jadi tidak ada cerita truk2 sampah seliweran di kota. Produk pengolahan juga harus seringkas mungkin… dan tidak bau tentunya.

3. Cepat mengolah limbah.

4. Bisa menampung tenaga kerja (dengan asumsi nomor 1 bisa dilaksanakan, akan banyak pemulung yang nganggur :P )

Waduh jadi banyak banget nulisnya ini.. Maaf ya.

vivi

May 5th, 2008

ada sedikit masukan tentang penanganan sampah padat terutama anorganik spt sampah plastik (bungkus mie instan, bungkus kecap isi ulang, pelembut baju dll yg berbahan plastik) tiap rumah mengumpulkan disetor ke PKK setempat, bila mendapat sedikit sentuhan bisa menjadi kerajinan yg mempunyai nilai jual seperti tikar dari bungkus mie instan, tas, dompet, taplak dll sudah terbukti di daerah saya hampir semua kecamatan diberi tugas untuk membuat ini. lumayan bisa mengurangi sampah dan hasilnya cantik.Recycle dikit tanpa biaya malah dapat hasil… perlu ketlatenan dan seni dikit sih… udah bisa mengurangi “pegunungan sampah” yang ada dimana-mana…..

michaeljubel

May 6th, 2008

thanks, Pandzee. gile komentarnya panjang bgt. mana pake ada sanjungannya. hahaha.. ditunggu terus ya kunjungan rutinnya. hehe.. yah masalah sampah ini emang banyak pro-kontranya.. di daftar komentar aja udah keliatan seperti itu. ya intinya semoga bumi lebih baik aja. jangan skeptis dan tetep berpikiran terbuka. semoga para peneliti-peneliti itu memang punya tanggung jawab yang baik untuk menyelesaikan masalah ini dan menemukan solusi yang terbaik. gua percaya mereka bisa. hehe..

Basuki

Jul 10th, 2008

Manuver yang bagus! Semoga berkelanjutan

Cahyo

Jul 14th, 2008

Kalau teknologi biogas dari kotoran ternak, kami sudah biasa melakukan instalasi biodigester. Saudara Eirlangga dapat menghubungi saya melalui jalur pribadi di enusaorg@gmail.com

Salam
-Cahyo-

maz-e

Jul 17th, 2008

salam..,
kalo gw setuju sm konsep pengolahan limbah sampah kota jd energy listrik itu. kebetulan gw sendiri jg pny konsep serupa. skrg br digodog. n mgkn gw pny kelebihan dr konsep yg sdh ada itu.

jadi biogas diolah secr biologis, ( difermentasi ) kemudian lgsg dialirkan ke generator. untuk bisa stabil, gw n team bisa bikin alat yg membuat kerja generator itu jd stabil…:)

info selanjutnya tunggu hasilnya aja y…
doain aja semoga alat yg udah dicoba sm team gw ini bisa sukses.
btw…, team udah nyoba kok..n udah bisa gerakin generator 2 pk dgn stabil…

tengkiu…gw tunggu doanya..toh keberhasilan ini nantinya buat kita jg..

maz-e

Jul 17th, 2008

tambahan dikit…jangan takut gagal ato pesimis..
asal sdh perhitungkan n direncana dgn baek, semoga bisa baek akhirnya. tentunya dengan niat yg baek jg bro.. jd dukung aja yang baek2 itu. dengan masukan2 positif..tengkiu..

lita

Jul 20th, 2008

@maz-e

OK,OK mantab juga sarannya…
semoga usaha biogasnya sukses yach…amin,,
ditunggu nie kabar gembiranya ma kami semua…

tks.

Cahyo

Jul 21st, 2008

Maz-e, generator listrik yang 2 HP itu laju konsumsi biogas (sebagai bahan bakar) berapa liter biogas pada tekanan atmosfir? atau Anda kompress dulu?
Ada langkah pemurnian metana gak? atau langsung pakai aja? Harganya berapa (franco mana)? Genset-nya produk mana? Modifikasi atau emang engine untuk biogas?

Salam
-Cahyo-

nophe

Jul 21st, 2008

eh gw mau nanya dong..
fungsi masing2 komponen/tempat di ilustrasi incenarator n landfillnya apa si??

Thx a lot…
ASAP YAh.. penting ni…

ib_Noey

Jul 31st, 2008

assLkum..eh ada yg mw bntu gw gak..gw btuh cpet nih..ada yg tau analisa perhitungan konveksi paksa gk?? gw bkin tugas akhir mesin pemisah sampah sistem pengeringan..tp agk bingung analisa perhitungan efisiensi nya..gw pke heater suhu statis 80 derajat tuh sampah dihembuskan udara panas suhu 80 drajat sampe sampah jadi kering…mksh klo ad yg mw bntu gw…thnk’s

Hmmmm >.

Aug 26th, 2008

Hueeee..!! Keyeeeen b(>.<)d
Aqu yg anak sma dg nilai pas pasan inie g ngarti
Huahahaha
Tp… Klu bs dijadiin tnaga listrik bgs jg yap
Tp soal mesin’a menggunakan solar pa g bs dipkirin lg
Brubung kt’a minyak bumi da mw abis
Mungkin blue energi (yg ternyata g bs dipake itu) bs dikembangin lg x ya
Ealah sok tau bgt w
Hahahaha

IIK

Aug 27th, 2008

Artikelnya keyen cehh……
tp ap smuax bisa menerima itu????????
kn gak smua orang menerima dgn senang hati,
nach trus….gmna ngadepinya?

makacih…..

dodisuki

Sep 3rd, 2008

Wah.. wah… keren neh artikel… plus comment2 dari temen2 yg wuiddiiiihhh, Manthab….

btw saya selalu tertarik dengan konsep pengolahan sampah, kebetulan saya tinggal dibandung dan sekarang saya lagi nyari teknik pengolahan sampah yg efektif dan efisien, tp setelah baca2 komentar temen2 dsini, kayanya masih serba sulit yah… ato otak saya yg sulit mencerna… trus kenapa pemerintah ga turun dan menyelesaikan ini semua, saya melhat banyak ahli disini, hehehe

Btw ada yag tau cara pengolahan sampah yg bisa dijadikan komoditi (ekspor misalnya) dan nilai ekonomis lain yg bagus??
Saya melihat ada peluang itu, tp ga tau apa yah….

mei

Sep 22nd, 2008

Artikelnya menarik.
Sampah memang masalah yang harus secara serius untuk ditangani. Mengapa?
Karena manusia akan terus dan terus membuang sampah, jika tidak ditanggulangi dan dicarikan jalan keluar, maka dampak yang ditimbulkan dari sampah akan berbahaya bagi manusia sendiri.
Ada banyak peluang yang menguntungkan tentang sampah, tapi saya sendiri masih bingung harus berbuat apa.
Sy ingin membeda-bedakan jenis sampah ketika membuangnya, akan tetapi tidak ada fasilitas.
Mari qta saling bekerjasama untuk memecahkan masalah sampah.
Mulai dari diri sendiri dan saat ini juga, buanglah sampah pada tempatnya. Semangat!

rifki

Oct 9th, 2008

ada 2 hal yang menjadi kunci dalam penanggulangan sampah1. faktor manusia 2. sistem penanggulangan sampah..

bsutejo

Oct 10th, 2008

artikelnya siipppppppppppppppp………..
ada ide bagaimana kalo gas methane yang dihasilkan diolah/dikemas dan selanjutnya dapat didistribusikan ke industri2 sebagai bahan bakar.
tapi bagaimana mengolah gas methane hasil proses biologis menjadi gas methane murni?

abe

Oct 13th, 2008

assalamualaikum…..

menurut saya yang nggak ngerti teknologi ….talk more do less so do it man..

SUPRIATNA (NANA)

Oct 15th, 2008

assalamu’alaikum Wr.Wb.

Aku bangga banyak anak bangsa Indonesia yang terus menerus meneliti dan mengembangkan hal2 yang sudah dianggap menjadi masalah untuk segera diatasi sehingga tidak menjadi bertambah besar.
memang kita tidak perlu khawatir akan terjadi kegagalan dalam suatu percobaan apapun intu percobaannya, sebab mustahil sesuatu akan ada dan terjadi tanpa suatu awal dan proses. jadi tidak ada yang lansung jadi dan sempurna. gagal itu sudah bagian dari proses. lanjut……….. dan teruskan saya do’akan semoga berhasil…………………… Amin

berdasarkam pengalaman yang sudah saya lakukan antara lain.
1. Waktu saya membuat sebuah INVENSI/penemuan alat potong multifungsi untuk merapihkan rumput,teh-tehan,pohon banbu pagar,tanaman rambat,pohon beringin,cemara dan tanaman lainya hanya cukup dengan satu alat. tidak pakai bahan bakar (pakai tenaga BATERY) sehingga tidak menambah masalah polusi udara. alat tersebut proses penelitian dan pengembangannya makan waktu lebih dari 4 tahun, dan biaya yang cukup besar. disaat jadi ternyata alat ini belum benyak yang ingin menggunakan ; dari hasil survey. di Indonesia masih banyak menggunakan sistem kerja padat karya, service dan bbm masih dijadikan penghasilan tambahan bagi para user yang menggunakan alat ber bahan bakar minyak, mereka masih banyak yang merasa bangga menggunakan product import. ingin melihat hasil sementara saat ini. kunjungi di http://www.alatan21.com
2. Membuat design alat penangkap samapah pada saluran yang memanfaatkan energi gerak nya murni dari air yang mengalir pada saluran itu sendiri, bekerja non stop 24 jam. alhamdulillah diminati oleh PLN untuk mengatasi sampah pada saluran air sebelum masuk ke turbin . design sudah selesai, rencana dibangun fisiknya pada tahun 2009. Insya Allah.
3. Membuat alat penghancur sampah yang ramah linkungan,……saat ini masih dalam uji coba dan pengembangan. (target untuk dipakai disetiap rumah tangga,kantor,pabrik,rs,pasar dll) sehingga tidak diperlukan lagi adanya TPA dan truk sampah
4. membuat bahan bakar yang diolah dari sampah………..saat ini masih dalam uji coba dan pengembangan.
5. membuat alat untuk mengurangi polusi udara dari kendaraan bermotor…….sat ini dalam tahap design.
6. Membuat alat transportasi ….melayang ……………..untuk mengurangi rmacet ria dijalan

jabal

Oct 21st, 2008

Boleh tau ngga soal alat penghancur sampah?

Irfan Ramdhany

Oct 23rd, 2008

Artikel ni sgt membnt msyrkt dlm menangani masalah smph trutama bg warga negara INDÖNESIA.

Viet

Oct 30th, 2008

Salam Kenal dari Viet….
Viet masih sekolah di SMA kls 2….. Minta izin tuk gabung…..

Viet setuju dengan Om Pandzee…. masih aware ama para pemulung… Salut…!
Harus diakui pula, bahwa keperiadaan TPA selain menimbulkan dampak negatif terhadap kehidupan sosial, juga memberi lapangan kerja dan sumber matapencarian bagi banyak orang, yakni para pemulung (waste pickers), pengumpul/pemilik lapak (waste collectors), dan para pemodalnya (financer).

Notulensi diskusi antara Viet dengan Papa seperti pada paragraf selanjutnya di bawah, nah PR dari Papa adalah bagaimana solusi teknologi, sistem, dan aplikasinya. Mohon masukannya dari Om dan Tante dong….

SAMPAH, khususnya sampah padat di kawasan perkotaan (municipal solid waste), akhir-akhir ini banyak menimbulkan masalah serta gejolak sosial dan lingkungan, khususnya di DKI Jakarta dan di kota-kota besar lainnya. Penanganan sampah perkotaan di berbagai Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah tidak dilaksanakan secara konsisten seperti yang direncanakan.

Metode pengolahan sampah sanitary landfill (sampah ditimbun, diratakan, dan dipa-datkan, kemudian ditutup tanah secara berlapis-lapis) ternyata dilaksanakan setengah-setengah; yang tidak lain hanyalah sekedar open dumping (ditimbun dan ditumpuk begitu saja). Bahkan, sebagian besar penanganan sampah di TPA berbagai daerah hanya dirancang menggunakan metode open dumping, termasuk di TPA Cilincing, Jakarta, yang sempat menimbulkan pencemaran air tambak oleh air lindi (leachate) dan di TPA Leuwigajah, Bandung, yang longsor dan menelan puluhan korban jiwa.

Kondisi pengelolaan limbah domestik (sampah padat dan limbah cair) di kota-kota besar di Indonesia pada umumnya sangat memprihatinkan dan perlu mendapatkan perhatian khusus. Volume buangan limbah domestik meningkat sejalan dengan pening-katan jumlah penduduk dan peningkatan intensitas kegiatannya sehari-hari. Namun, hingga kini belum ada perbaikan yang berarti dalam penanganan masalah sanitasi dan pencemaran lingkungan (air, tanah, dan udara) yang timbul akibat buruknya pengelolaan limbah domestik.

Mengenai limbah padat domestik (sampah), di samping jumlahnya yang terus meningkat, sejalan dengan kemajuan teknologi – terutama dalam sistem pengemasan produk dan perubahan gaya hidup masyarakat yang cenderung lebih memilih yang serba cepat dan praktis, jenis sampah yang dibuang pun menjadi lebih beragam.

Keragaman jenis sampah diikuti pula dengan penggunaan material yang tidak mudah terurai secara biologis (non-biodegradable). Di pihak lain, penanganan sampah selama ini masih menggunakan pola ‘kumpul-angkut-buang’ (collect-transport-dispose) tanpa mempertimbangkan keseimbangan siklus ekologi.

Pola ‘kumpul-angkut-buang’ telah terbukti tidak mampu menyelesaikan permasa-lahan sampah perkotaan, melainkan hanya ‘memindahkan masalah’ dari kawasan perkotaan ke kawasan pembuangan sampah (yang lazimnya di luar kawasan perkotaan). Jadi, pola penanganan sampah di seluruh perkotaan di Indonesia selama ini telah menimbulkan ‘diseconomic externalities’ (‘manfaat’-nya dinikmati oleh kelompok masyarakat perkotaan, sedangkan ‘mudharat’-nya menyengsarakan kelompok masyarakat pinggiran kawasan perkotaan).

Ketika TPA Bantargebang di wilayah Kota Bekasi – yang merupakan TPA terbesar bagi Kota Jakarta (luas 108 hektar) – sempat ditutup, untuk sementara waktu sampah dari Kota Jakarta dibuang ke rawa-rawa Cilincing. Gejolak sosial pun merebak, karena tambak-tambak di sekitarnya tercemar oleh rembesan air lindi (leachate) dari busukan sampah yang dibuang begitu saja.

Gejolak sosial pun terjadi di sekitar TPA Cipayung (luas 7 hektar), Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok, karena penduduk di sekitar TPA ini merasa terganggu oleh bau busuk dari buangan sampah. Hal yang sama juga terjadi di TPA Burangkeng, tidak jauh dari TPA Bantargebang, yang merupakan tempat pembuangan sampah bagi Kabupaten Bekasi.

Keberatan masyarakat di sekitar lokasi TPST Bojong nampaknya dipicu oleh ketidak-sesuaian lokasi, yang menurut Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bogor ditetapkan sebagai kawasan pengembangan permukiman dan pariwisata. Selain itu, sosialisasi mengenai kehandalan teknologi pengolahan sampah di TPST Bojong – yang lebih baik daripada sistem sanitary landfill ataupun open dumping yang diterapkan pada TPA-TPA yang telah ada – nampaknya tidak dilakukan secara intensif.

Teknologi pengolahan sampah di TPST Bojong tergolong lebih maju daripada tek-nologi yang diterapkan di TPA-TPA yang telah ada selama ini, yakni bala press system, walaupun sudah cukup ketinggalan zaman dibandingkan dengan teknologi pengolahan sampah di negara-negara maju.

Dalam bala press system ini, sampah dikempa dan dikemas dengan bahan kedap-air dan kedap-udara, kemudian ditumpuk dan ditimbun di tempat yang telah disediakan. Walaupun proses pembusukan berlangsung secara anaerobik (oleh mikro-organisme yang tidak memerlukan oksigen), namun proses pembusukan anaerobik ‘terbatas’ ini tidak mengeluarkan bau busuk ke udara sekitarnya.

Pengalaman di beberapa kota besar Amerika Serikat yang menerapkan bala press system menunjukkan, bahwa sisa-sisa sayuran (lettuce, wortel, dsb.) yang dikempa dan dikemas dengan bahan kedap-air dan kedap-udara ternyata ‘masih tetap utuh’ (tidak hancur-membusuk) selama 30 tahun. Artinya, penerapan bala press system tidak mampu mengurangi volume buangan sampah padat secara signifikan. Suatu saat kelak, apabila lokasi penimbunan sudah penuh, perlu dicari lagi lokasi lain untuk penimbunan sampah serupa. Masalah yang sama tetap akan bergulir, tanpa ada habisnya.

Di sinilah kelemahan utama apabila kita ’mengimpor’ teknologi pengolahan sampah (atau teknologi apa pun) dari luar negeri. Yang diberikan kepada kita adalah ’teknologi aus’ (out-of-date technology), yang di negara asalnya sudah tidak digunakan lagi. Di pihak lain, pihak asing – melalui investor lokal yang berhasil ‘digarap’-nya – menjual ‘tek-nologi aus’ itu dengan harga yang sangat mahal, namun efektivitas hasilnya sangat rendah. Nampaknya, selain menjadi ‘tempat pembuangan limbah B3 (bahan berbahaya & beracun),’ Indonesia juga menjadi sasaran bagi pihak asing untuk ‘tempat penjualan teknologi aus.’

Inilah satu lagi contoh, bagaimana pihak asing ‘menjual teknologi aus’ untuk pena-nganan sampah melalui badan-badan bantuan internasional. Di halaman belakang Kantor Dinas Kebersihan Kota Bogor – yang dahulu adalah halaman parkir – sekarang terdapat instalasi pembakaran (incinerator) sampah. Untuk mengoperasikan incinerator dengan kapasitas bakar 15 ton sampah per jam ini diperlukan catudaya listrik sebesar 35 kilowatt-jam. Jumlah biaya operasi tahunan incinerator (khusus untuk biaya catu-daya listrik saja) – yang setiap harinya hanya mampu memusnahkan tidak lebih dari 7% dari total volume sampah Kota Bogor – ternyata melampaui total anggaran tahunan (APBD) untuk Dinas Kebersihan. Akhirnya, instalasi incinerator ini ‘nongkrong’ saja menjadi ‘besi tua.’

Nampaknya semua pola dan metode penanganan sampah padat perkotaan yang ada saat ini selalu menimbulkan masalah, baik berupa dampak bio-fisik (pencemaran lingkungan) maupun dampak sosial (gejolak sosial). Selain itu, pola dan metode yang diterapkan hingga saat ini pasti masih ‘meninggalkan’ sisa timbunan sampah, yang suatu saat kelak TPA akan penuh dan perlu pindah-tempat.

Selain itu, sampah padat perkotaan ternyata telah memberi nafkah banyak orang dan perusahaan, mulai dari pemulung barang bekas, pengumpul barang bekas, hingga pemodal dan penampung, serta pengusaha kompos yang mengolah sampah organik menjadi ‘kompos biasa’ dan ‘pupuk organik.’

Minimisasi limbah domestik, khususnya sampah perkotaan, merupakan cara pencegahan untuk mengatasi ragam dan jumlah limbah yang dihasilkan dari aktivitas manusia, mengingat jumlah limbah tidak mungkin berkurang dan ragamnya pun cenderung bertambah. Pengelolaan limbah secara terintegrasi diharapkan dapat memberikan hasil yang optimal bagi kegiatan minimisasi limbah.

Prinsip 6-R (Rethinking-Reducing-Recovering-Reusing-Recycling-Responding) nampaknya dapat membantu upaya minimisasi limbah domestik, dan oleh karena itu perlu disosialisasikan secara luas.

Pembangunan dan pengoperasian ‘Industri Terpadu Pengolahan Sampah Padat Perkotaan’ dilandasi oleh prinsip dasar dan keharusan adanya pergeseran paradigma pengelolaan sampah, yang pada hakikatnya sudah dikenal oleh para pakar dan birokrat, namun belum pernah diimplementasikan. Adapun pergeseran paradigma tersebut adalah:

(1) Ramah Lingkungan – Pengolahan sampah padat perkotaan di berbagai TPA yang selama menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan bio-fisik (pencemaran lingkungan) dan lingkungan sosial (gejolak sosial) harus diubah men-jadi ‘pengolahan sampah yang ramah lingkungan’ (environmental-friendly waste treatment)

(2) Tanpa Menyisakan Limbah – Pengolahan sampah akhir yang selama ini dilakukan di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) ternyata masih ‘menyisakan limbah’ berupa timbunan busukan sampah, yang suatu saat akan memenuhi semua ruang ada di TPA, sehingga perlu dicarikan lokasi baru pengganti TPA yang sudah penuh. Industri terpadu pengolahan sampah ‘tidak mengenal lagi istilah pembuangan sampah’ (karena tidak akan ada sampah yang terbuang dan tertimbun membusuk di TPA), melainkan ‘pemanfaatan-ulang sampah’ hingga ‘tidak lagi menyisakan limbah.’

(3) Recovery Nilai Ekonomis – Pengolahan sampah pada industri terpadu merupakan upaya ’recovery nilai ekonomis’ dari seluruh komponen sampah (bahan anorganik dan bahan organik) yang selama ini dianggap tidak memiliki nilai eko-nomis, kecuali beberapa benda dari komponen anorganik yang dipulung oleh para pemulung.

Kira-kira gemana ya cara pengelolaannya…..?
Om and Tante bisa kirimkan opini dan masukan buat Viet ke viet@asia.com, thank’s B4…..

Teten

Nov 1st, 2008

ass, wr, wb
Salam buat pak Prof Tjandra,
artikel yang bagus sekali dan insyaallah saya coba,……. untuk proses konversi biologis ….
saat ini memang kami sedang memproduksi kompos
pada tahun 2007 saja, pabrik Industri Daur Ulang Sampah (INDUS) kota Sukabumi sudah memanfaatkan sampah kota dan sampah TPA , kurang lebih 350 TON
dan sekarang kami sedang riset mengenai limbah susu yang nantinya bisa bermanfaat, semoga ….
ditunggu inovasinya …

akbar

Nov 2nd, 2008

sampah di rumah banyak… siapa yag mau membuangnya

Cahyo

Nov 17th, 2008

Saran buat Viet yang masih 2 SMA …

Sebagian besar sampah rumah tangga adalah sampah organik. Sebaiknya samapah rumah tangga tidak diangkut oleh PD Kebersihan. PEMDA mewajibkan setiap rumah tangga untuk mengolah sampahya. Kalau setiap rumah tangga tidak sempat mengelola sampahnya, mereka bisa mengadakan pengelolaan swadaya bersama, dan ini bisa memberi lapangan perkerjaan baru. PD Kebersihan memfasilitasi terbentuknya organisasi2 pengelola sampah organik ini.
Dengan cara begini sampah non organik menjadi lebih mudah terpisah dan mudah bagi pemulung untuk mengambilnya (memungut yang memang bisa dijual). Sisanya baru diurus PD Kebersihan. Saya yakin dengan cara ini volume sampah yang harus diangkut PD Kebersihan menjadi jauh berkurang.

Oh ya, ada masukan lagi. Untuk melakukan komposting sampah organik rumah tangga, bisa juga dilakukan dengan cara dibuatkan keranjang takakura. Keranjang takakura mampu mengkomposkan sampah rumah tangga kita dengan praktis. Saya pakai keranjang ini dan sangat membantu. Rumah kami terdiri dari 4 orang dewasa yang makan di rumah, di hari2 tertentu masak. Sampah organik yang dihasilkan lumayan menimbulkan bau kalau dibiarkan beberapa hari. Padahal di komplek kami, sampah tidak diambil setiap hari. Jadinya dengan keranjang takakura, saya tinggal memasukkan sampah organik ke keranjang takakura dan mengaduk2nya, udah, gitu aja. Dan selama 1 tahun 2 bulan ini, saya cuman ngosongin sekali untuk mupuk tanaman lombok di depan rumah. bagus lomboknya kok, lumayan. Udah 5 bulan lebih tanaman lombok itu, dan untuk kebutuhan masak kami aja kami pake lombok dari situ (lumayan, ngirit). Selain pake kompos dari takakura emang pernah sih saya tambahkan pupuk dari output biogas dan hasilnya lebih bagus. Tapi saya gak sempat terus2an angkut pupuk biogas meskipun hampir setiap minghu saya ke Lembang ngerjain biogas.

Keranjang takakura mampu menguraikan sampah organik kita menjadi partikel2 yang lebih kecil. Sehingga tambah lama keranjang takakura kita tambah berat tetapi penambahan volumenya gak berarti. So, praktis kan? Gak bau lagi. Malah ada cerita Ibu2 dari Gedebage meletakkan keranjang takakura di bawah meja makan, “biar mudah buang sisa makanan” katanya. Kalau kami sendiri meletakkan keranjang takakura di dapur, dekat kompor dan tempat cuci piring, sehingga mudah membuang sampah dapur ke situ.
Kalau teman2 tertarik untuk bikin keranjang takakura, bisa melihat di alamat ini http://ypbb.terranet.or.id
Nah, tinggal PD kebersihan memfasilitasi masyarakat untuk melakukan pengkomposan sendiri di rumah atau di komplek misalnya dengan mengadakan pelatihan2 pengkomposan, pelatihan membuat keranjang takakura atau yang lainnya. Jadi memang harus mengubah strategi penanganan sampah yang selama ini dilakukan.

Salam
yonobbc@gmail.com

tien

Dec 12th, 2008

kakak-kakakku, aku mau minta tolong dikasih masukan.. gini, ceritanya kelompok karya ilmiah remaja di sekolahku mau bikin program pengelolaan termasuk pengolahan sampah. rencananya sampah organik dibikin kompos, dan sampah non organik dijual. tapi kami masih bingung beberapa hal:

- gimana caranya biar proses biokimia perubahan sampah organik menjadi humus itu bisa lebih cepet (3 hari saja)? apa harus ditambahkan EM4 atau semacamnya?

- alat seperti apa yang cocok untuk mencacah dedaunan kering dalam jumlah yang cukup besar? masalahnya di sekolah kami (SMA N 3 Temanggung) setiap harinya bisa dikumpulkan sampai 5 tong sampah/tong air besar.

- apakah ada yang mau membeli sampah plastik kresek? kalau gak ada apa alternatifnya? kami sudah cari kemana-mana tapi belum dapat..

- kami bisa dapat tambahan dana dari mana ya kira-kira.. karena untuk saat ini kami masih membutuhkan dana yang cukup besar..

mohon bantuannya.. karena akhir-akhir ini sekolah kami semakin sering saja membakar sampah.. kami prihatin sekali.. selain merasa dikasih makan racun tiap hari, pembakaran sampah kan juga menjadi investor besar bagi perubahan iklim.. sekarang saja di Temanggung yang biasanya dingin sudah jadi sepanas di semarang tahun 2003.. kalo malam rasanya seperti di daerah Dieng.. cuaca jadi makin ekstrim!

aku gak habis pikir, bagaimana bisa masyarakat masih belum benar-benar sadar dengan keadaan ini!!!???

maxpell

Dec 24th, 2008

ada kok incinerator buatan orang bandung yang tidak memakai bahan bakar dan terbukti ramah lingkungan. incinerator maxpell sudah pernah di implementasikan di beberapa kota di indonesia

neni triana

Jan 24th, 2009

saya setuju ada PLTSa

Primadia

Feb 1st, 2009

Bor BIOPORI, Pencacah Sampah Mini (s.d. besar), keranjang TAKAKURA, Komposter tersedia di CV.EPRISTARI Jakarta, silahkan mengunjungi :
http://cv-epristari.blogspot.com/
Telp: 021-9382 9785 / 0816 160 7263
email : epristari@gmail.com
Ada beberapa produk yang dapat digunakan untuk mengelola / mengolah sampah.

Cara mengolah sampah sangat beragam salah satu upaya mengolah sampah skala rumah tangga yaitu dengan menggunakan Lubarng Resapan BIOPORI. Mengolah sampah organik menjadi kompos sekaligus menabung air.

choliq

Feb 10th, 2009

halow jeh
semua komentar yang diberikan sangat bagus
gini
menurutku dalam pengolahan sampah sebelum di buang lebih baik terjadi pembagian jenis jenis sampab yang bisa di daur ulang seperti plastik dan yang mudah membusuk,
hal ini untuk mempermudah kinerja suatu alat

ES. Prihantoro.

Feb 14th, 2009

saya senang sekali apabila sampah bisa dimanfaatkan seperti pembangkit listrik. dampak yang ditimbulkan akan lebih banyak bila sampah hanya didiamkan begitu saja.
sampah bukan masalah akan tetapai sampah adalah barokah.

sampah adalah barokah…..!

BAM

Feb 16th, 2009

artikelnya bagus.
dapet darimana?

Khibran

Feb 26th, 2009

Mas… Arikelnya sangat bagus… Boleh ndak kalau artikel ini saya jadikan referensi tuk tugas kuliah saya??..

Wahyu

Mar 4th, 2009

assalamualaiku
artikelny keyen n good.
saya mau tanya?? pemilihan teknologi untuk mengolah sampah organik n anorganik ada berapa cara??
dan juga lindi itu berbahaya tidak??

jack

Mar 4th, 2009

maaf ya!!
artikel ini saya link ke blog says

Edu

Apr 8th, 2009

Buat Tien, tentang pengganti EM4. Ada yang namanya MOL Mikro Organisme Lokal terbuat dari sisa makanan antara lain: Nasi Basi, tape, nenas, sampah dapur dll. Caramembuatnyapun gampang.

Caranya sbb:

MOL nasi basi: dibuat dari nasi yang tidak termakan. Nasi dikepal-kepal sebesar bola pingpong. Letakkan bola-bola nasi tersebut di doos bekas wadah air kemasan, lalu tutupi dengan dedaunan yang membusuk. Dalam tempo 3 hari akan tumbuh jamur2 berwarna kuning, jingga, merah. Ambil bola-bola nasi yang telah ditumbuhi jamur, masukkan dalam wadah plastik, lalu dicampur dengan air gula pasir secukupnya. Biarkan sampai 1 minggu, maka cairan berbau seperti tapai (peuyeum), dan bisa dipakai sebagai starter untuk membuat kompos.

Untuk memperbanyaknya bila sudah jadi bisa diambil setengahnya, kemudian yang setengahnya lagi ditambahkan kembali air kelapa/air gula hingga penuh. Didiamkan selama 5 hari sampai 1 minggu dalam keadaan terbuka/tanpa tutup.
Dalam pemakaiannya, MOL yang sudah jadi tersebut bisa dilarutkan kedalam 15 bagian air dan siap untuk digunakan.

Untuk jelasnya silahkan kunjungi: http://clearwaste.blogspot.com/
Semoga bermanfaat

Hadi Winarso

Apr 18th, 2009

assalamualaikum, nama gw Hadi aku Mahasiswa UNSOED Purwokerto JUrusan Kesehatan lingkungan,.,,,,,
Di Dalam kuliahku Konsep sampah ada 8 sks, memang saya sendiri menyadari bahwa permasalahan sampah memang susah untuk diatasi, tapi baukan berarti ngak ada cara untuk mengatasi semua itu sepanjang manusia sadar tentang pengelolaan sampah, sampah ngak akan jadi masalah, pemilahan memang sangat perlu sekali dilakukan sejak mulai dari sumber, sampai pada tahap pembuangan, contoh dimulai dari rumah tangga jika sudah dilakukan pemilaha antara organik dan anorganik
sampah organik dapat dibuat kompos,,
saya waktu praktik, cukupo sederhana ternyata dalam tahap pembuatan kompos, sampah organik yang sudah terpisah dimasukan di dalamkarung goni yang dilakukan di setiap rumah.. ibu2 pun diajari cara membuat cairan fermentasi untuk menguraio sampah organik yang dihasilkan hanya dengan menggunakan telus ayam yang dicampur dengan gula merah,, setelah satu minggu campuran tersebut dapat langsung digunakan untuk pembuatan kompos, ukuran satu sendok makan dapat dicampur 1 liter air kemudian di siramakan ke kompos yangakan dibuat tadi,,dan dalam waktu 2 minggu kompos dapat digunakan untuk memupuk tanaman. walhasil tanaman pun jadi subur ijo royo-royo..
anda tertarik???
sampah plastik dapat di kumpulkan untuk dijual namun harus bersih ketika mau mengumpulakan sampah sekaligus dikumpulkan sesuai warna dan jenisnya.. untuk diolah menjadi bijih bersih..
dalam konsep sampah kita kenal 3R (Reduce, Reuse dan recycle)
saya pun setuju dipilih teknologi PLTSa, namun perlu dikaji secara mendalam dengan AMDAL nya sesai apa ga…
karena saya orang lingkungan maka akan mengkajinya dari faktor lingkungan,, harus dilkukan jauh dari tempat pemukiman masyarakat, crobong asapun diperlukan untuk menjadikan gas yang dikeluarkan bersih dan tidak mencemari lingkungan, kemudian harus dilakukan dengan sumber air tanah Aqifer, yang tentu berakibat air tanah akan tercemari akibat leachet sampah, , yeng tentu akan menganggu derajat kesehatan manusia,, HL Blum menulis dalam bukunya hal 23 klo gak slh
Derajat keehatan manusia dipengaruhi 4 faktor LIngkungan, perilaku, layanan kesehatam dan Behaviour (tingkah laku) sampah merupakan faktor lingkungan yang menyebabkan pengaruh kesehtan pada mausia
jadi kesimpulannya“ untuk mengurangi pengaruh sampah terhadap kesehatan dapat dilakukan mulai dari masyarakat keluarga yaklni membuata kompos, dan terkir adalahpengolahan sampah dengan pembakaran seperti yang digunakan dalam PLTSa,
pengolahan sampah kita kenal Faktor pendukung yaitu
1. reinforcing (perilaku yang melekat pada diri manusia)
2. enambling (dengan upah dan penghargaan)
3. Predisposisi (kerjasama lintas sekotoral)

Wasalamualaikum WRWB

ovy krestandi

Apr 29th, 2009

ALHAMDULILLAH
SEMUA TAU KALO MENJAGA KEBERSIHAN ITU PENTING…
TERUTAMA DI LINGKUNGAN SEKITAR
“JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN”, TAPI ….
TIDAK SEMUA ORANG TAU, KEMANA SAMPAH HARUS DIBUANG ATAU DIOLAH ATAU BAGAIMANA SEHARUSNYA …. DAN APAKAH ORANG2 BISA MENDENGARKAN DAN MENYADARI… YANG PENTING DARI DIRI SENDIRI DULU, MUNGKIN YANG LAIN HANYA BISA MENGIKUTI. MUDAH2AN KOMENTAR INI BUKAN HANYA DIBACA SAJA.
APA SOLUSINYA?

suyono

May 2nd, 2009

sejak awal th 2008 kami tim peneliti dari polman negeri bandung mengembangkan sistem pembangkit listrik tenaga… [salah satunya "SAMPAH"]. tanpa menggunakan bbm. dan ramah lingkungan. sistem tsb dapat juga menggunakan panas bumi. namun klo menggunakan sampah, memang sampah tsb harus dikemas standar dan kering, hal ini dapat dilakukan secara manual atau sedikit menggunakan energi lain. insyaAllah pekan depan kami melakukan pengujian yang ke3. bagi yang tertarik boleh melihat [kecuali wartawan, karena belum tuntas. jika sudah tuntas , wartawan harus datang].
jika ada yang tertarik, info japri ke: suyono_uc@yahoo.com
SALAM

vera

May 8th, 2009

saya setuju dengan komentar Eirlangga mengenai pembakaran dengan teknologi incenerator. saya khawatir banyak efek yang akan ditimbulkan karena sampah masyarakat yang beranekan ragam dari bhan organik,plastik maupun kimia yang beracun akan mengalami perubahan menjadi senyawa yang membahayakan melalui proses pembakaran ini. yang paling ditakutkan adalah jika kontak dengan makhluk hidup akan mengalami mutasi menjadi penyakit yang baru bagi kita semua…

saya lebih menyarankan proses konversi biologis.kembali ke alam akan lebih memenuhi siklus biologis yakni sampah dibusukkan dalam tanah dengan bantuan mikroba dan menghasilkan methane dan slurry.methane bisa digunakan untuk pembangkit energi dan slurry untuk kompos yang dikonsumsi oleh tumbuhan untuk hidup.
hal yang paling sederhana yang harus kita lakukan bersama SEKARANG adalah memilah-milah produk yang boleh dan tidak boleh kita gunakan.

janganlah memperbanyak barang2 yang tidak bisa didaur ulang seperti plastik pada waktu berbelanja.plastik menghambat peresapan air di tanah dan baru dapat terurai dalam waktu 500 hingga 1000 tahun.

berikut daftar barang yang bisa didaur ulang dan tidak:
Apa yang bisa didaur ulang?
- kardus
- koran, majalah, buku telepon, kertas-kertas bekas pekerjaan kantor dan sekolah, brosur-brosur iklan.
- Karton bekas susu dan jus
- Botol kaca dan toples
- Wadah plastik dengan kode PETE (1), HDPE (2) dan V (3). Kode lain dianggap kurang berkualitas dan harus ditaruh di tempat sampah biasa.
- Kaleng aerosol, aluminium foil yang bersih.

Tips Untuk Sampah Daur Ulang
- bersihkan toples dan kaleng dari sisa makanan yang menempel
- penyokkan botol plastik dan kaleng untuk menghemat tempat
- gunting boks kardus yang besar sehingga dapat keluar dari tempat sampah dengan mudah
- pisahkan tutup botol plastik dan tutup botol kaca, keduanya harus masuk ke tempat sampah biasa

Apa yang tidak bisa didaur ulang?
- kantong plastik –jangan membungkus sampah daur ulang dengan kantong plastik
- pecahan kaca jendela, gelas, atau peralatan makan lainnya
- kardus mengandung lapisan lilin
- kardus atau karton bekas pizza atau makanan lainnya yang menempel
- polystyrene (wadah foam putih)
- wadah bekas minyak untuk mesin atau bahan kimia
- sampah hijau (dari pohon)
- wadah plastik yang tidak bisa didaur ulang seperti wadah es krim, margarin dan pot tanaman.

melalui comment ini saya meminta tolong setiap pembaca agar mulai sekarang bisa memilah milah sampah minimal di tempat tinggal kita masing2.
sampah yang bisa didaur ulang bisa kita berikan ke pemulung atau yayasan tzu chi atau lainnya untuk didaur ulang dan sampah yang tidak bisa didaur ulang seperti sisa makanan bisa kita timbun dan jadikan pupuk di halaman rumah kita masing2, sehingga subur untuk kita tanam pohon atau bunga yang indah bukan.
kita akan merasa bahagia jika bisa mulai dari diri kita sendiri dan kemudian mengajak orang lain untk bersama2 menuntaskan masalah sampah ini.
terima kasih.
vera

adikurnia

May 9th, 2009

masalah klasik

Ade Dharma Rivai,SE

May 23rd, 2009

Salam kestari,
Teknologi bagus,tingal kita mendorong semua pihak apalagi pemda di daerah2 sangat kurang aktif dalam penanganan dan anggaran untuk lingkungan khususnya sampah.
|Mohon informasi bilamana ada program pelatihan sampah

sunting

May 28th, 2009

Memilih teknologi pengolahan sampah memang harus dilakukan sangat hati-hati.Pemerintah harus melibatkan masyarakat dalam mengambil keputusan. Kalau tidak maksud hati mengatasi masalah sampah, malah menjadi bumerang bagi masyarakat maupun pemerintah. Ini terjadi dilingkungan tempat saya tinggal. Pemerintah kota ditempat saya tinggal, membuat Program UPS(unit Pengolahan sampah) untuk mengatasi masalah sampah. Tapi sayangnya pemkot tidak melibatkan masyarakat. UPS terletak hanya beberapa meter didepan rumah warga . Jelas ini sangat merugikan masyarakat.
Sekarang saya dan beberapa teman melakukan pengomposan skala RW . Kami sedang berusaha agar kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari warga. Saya berharap ada diantara teman-teman yang bisa memberikan masukan , bagaimana meningkatkan kesadaran masyarakat agar proyak pengomposan kami berhasil. Terimakasih.

aNGELITA

May 29th, 2009

Waduh……………bagus bgt teknologinya.Memang seharusnya warga Indonesia mulai mencontoh lewat blog ini.Supaya negara menjadi bersih.

budi

Jun 2nd, 2009

bagus…

Iksan

Jun 4th, 2009

iya betul saya juga setuju….

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>