Integrated Coal Gasification Combined Cycle

by on 16/12/07 at 2:05 pm | 36 Comments | |

Sumber energi di Indonesia ditandai dengan keterbatasan cadangan minyak bumi, cadangan gas alam yang mencukupi serta cadangan batubara yang melimpah. Sumber daya energi batubara diperkirakan sebesar 36.5 milyar ton, dengan sekitar 5.1 milyar ton dikategorikan sebagai cadangan terukur. Sumber daya ini sebagian besar berada di Kalimantan yaitu sebesar 61 %, di Sumatera sebesar 38 % dan sisanya tersebar di wilayah lain. Menurut jenisnya dapat dibagi menjadi lignite sebesar 58.6 %, sub-bituminous sebesar 26.6 %, bituminous sebesar 14.4 % dan sisanya sebesar 0.4 % adalah anthracite. Produksi batubara pada tahun 1995 mencapai sebesar 44 juta ton. Sekitar 33 juta ton dieksport dan sisanya sebesar 11 juta ton untuk konsumsi dalam negeri. Dari jumlah 11 juta ton tersebut 60 % atau sekitar 6.5 juta ton digunakan untuk pembangkit listrik, 30 % untuk industri semen dan sisanya digunakan untuk rumah tangga dan industri kecil.

Selama sepuluh tahun terakhir ini penggunaan batubara dalam negeri terus mengalami pertumbuhan sejalan dengan pertumbuhan perekonomian dan industrialisasi. Sektor tenaga listrik merupakan sektor yang mengkonsumsi batubara paling besar. Saat ini sekitar 30 % dari total
pembangkitan menggunaan bahan bakar batubara. Diperkirakan konsumsi batubara untuk pembangkit listrik akan mencapai dua kali lipat pada awal abat 21.

Permasalahan utama dalam pemanfaatan batubara adalah wujud batubara yang berupa zat padat sehingga kurang luwes dalam transportasinya. Disamping itu batubara mengandung sulfur, nitrogen dan abu dalam jumlah besar sehingga gas buang hasil pembakaran menghasilkan polutan seperti SO2 dan NO2 serta abu terbang. Pembakaran batubara juga menghasilkan CO2 yang berperan dalam proses pemanasan global. Permasalahan tersebut terus dicari pemecahannya melalui riset-riset yang telah dan sedang dikembangkan saat ini.

Aktivitas riset dalam PLTU batubara saat ini telah melahirkan konsep baru yang menjanjikan dapat menaikkan efisiensi, mengurangi emisi polutan dari gas buang serta menghasilkan limbah yang minimum. Konsep baru tersebut adalah teknologi pembakaran fluidized bed dan teknologi gasifikasi batubara.

Integrated Coal Gasification Combined Cycle

Teknologi IGCC merupakan merupakan salah satu teknologi batubara bersih yang sekarang dalam tahap pengembangan. Istilah IGCC ini merupakan istilah yang paling banyak digunakan untuk menyatakan daur kombinasi gasifikasi batubara terintegrasi. Meskipun demikian masih ada beberapa istilah yang digunakan yaitu ICGCC (Integrated Coal Gasification Combined Cycle) dan CGCC (Coal Gasification Combined Cycle) yang sama artinya.

Komponen utama dalam riset IGCC adalah pengembangan teknik gasifikasi batubara. Gasifikasi batubara pada prinsipnya adalah suatu proses perubahan batubara menjadi gas yang mudah terbakar. Proses ini melalui beberapa proses kimia dalam reaktor gasifikasi (gasifier). Mula-mula batubara yang sudah diproses secara fisis diumpankan ke dalam reaktor dan akan mengalami proses pemanasan sampai temperatur reaksi serta mengalami proses pirolisa (menjadi bara api). Kecuali bahan pengotor, batubara bersama-sama dengan oksigen dikonversikan menjadi hidrogen, karbon monoksida dan methana. Proses gasifikasi batubara berdasarkan sistem reaksinya dapat dibagi menjadi empat macam yaitu : fixed bed, fluidized bed, entrained flow dan molten iron bath.

Klasifikasi Gasifikasi Batubara

Dalam fixed bed, serbuk batubara yang berukuran antara 3 – 30 mm diumpankan dari atas reaktor dan akan menumpuk karena gaya beratnya. Uap dan udara (O2) dihembuskan dari bawah berlawanan dengan masukan serbuk batubara akan bereaksi membentuk gas. Reaktor tipe ini dalam prakteknya mempunyai beberapa modifikasi diantaranya adalah proses Lurgi, British Gas dan KILnGas. Sedangkan proses yang menggunakan prinsip fluidized bed adalah High-Temperature Winkler, Kellog Rust Westinghouse, dan U-gas. Dalam fluidized bed gaya dorong dari uap dan O2 akan setimbang dengan gaya gravitasi sehingga serbuk batubara dalam keadaan mengambang pada saat terjadi proses gasifikasi. Serbuk batubara yang digunakan lebih halus dan berukuran antara 1 – 5 mm. Dalam entrained flow serbuk batubara yang berukuran 0.1 mm dicampur dengan uap dan O2 sebelum diumpankan ke dalam reaktor. Proses ini telah digunakan untuk memproduksi gas sintetis dengan nama proses Koppers-Totzek. Proses yang sejenis kemudian muncul seperti proses PRENFLO, Shell, Texaco , dan DOW. Proses molten iron bath merupakan pengembangan dalam proses industri baja. Serbuk batubara diumpankan ke dalam reaktor bersama-sama dengan kapur dan O2. Kecuali proses molten iron bath semua proses telah digunakan untuk keperluan pembangkit listrik.

Saat ini teknologi IGCC sedang dikembangkan di seluruh dunia, seperti : Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Spanyol. Di samping proses gasifikasi yang terus mengalami perbaikan, gas turbin jenis baru juga terus dikembangkan. Temperatur masukan gas turbin yang tinggi akan dapat menaikkan efisiensi dan ini dapat dicapai dengan penggunaan material baru dan perbaikan sistem pendinginnya.

Integrated Coal Gasification Combined Cycle

Prinsip kerja dari IGCC ditunjukkan pada gambar di atas. IGCC merupakan perpaduan teknologi gasifikasi batubara dan proses pembangkitan uap. Gas hasil gasifikasi batubara mengalami proses pembersihan sulfur dan nitrogen. Sulfur yang masih dalam bentuk H2S dan nitrogen dalam bentuk NH3 lebih mudah dibersihkan sebelum dibakar dari pada sudah dalam bentuk oksida dalam gas buang. Sedangkan abu dibersihkan dalam reaktor gasifikasi. Gas yang sudah bersih ini dibakar di ruang bakar dan kemudian gas hasil pembakaran disalurkan ke dalam turbin gas untuk menggerakkan generator. Gas buang dari turbin gas dimanfaatkan dengan menggunakan HRSG (Heat Recovery Steam Generator) untuk membangkitkan uap. Uap dari HRSG (setelah turbin gas) digabungkan dengan uap dari HRSG (setelah reaktor gasifikasi) digunakan untuk menggerakkan turbin uap yang akan menggerakkan generator.

Kelebihan-kelebihan IGCC

Penggunaan teknologi PLTU batubara konvensional saat ini mempunyai kekurangan yaitu efisiensinya rendah yang berkisar antara 33 – 36 %. Efisiensi ini dapat ditingkatkan dengan membangun unit pembangkit yang lebih besar atau dengan menaikkan suhu dan tekanan dalam siklus panasnya. Cara ini mempunyai keterbatasan dan menambah tingkat kerumitan dalam pemilihan materialnya. Disamping itu tuntutan dalam memelihara lingkungan hidup (seperti telah disebutkan di atas) akan menambah biaya pembangkitan karena adanya penambahan peralatan seperti : de-SOX (desulfurisasi), de-NOX (denitrifikasi) dan penyaring debu (electrostatic precipitator). Pemasangan peralatan ini juga akan mengurangi efisiensi total pembangkit listrik.

Teknologi IGCC ini mempunyai kelebihan yaitu dalam hal bahan bakar : tidak ada pembatas untuk tipe, ukuran dan kandungan abu dari batubara yang digunakan. Dalam hal lingkungan : emisi SO2, NOX, CO2 serta debu dapat dikurangi tanpa penambahan peralatan tambahan seperti de-SOX dan de-NOX dan juga limbah cair serta luas tanah yang dibutuhkan juga berkurang. Disamping itu pembangkit listrik IGCC mempunyai produk sampingan yang merupakan komoditi yang mempunyai nilai jual seperti : sulfur, asam sulfat dan gypsum.

Efisiensi pembangkit listrik ICGG berkisar antara 38 – 45 % yang lebih tinggi 5 – 10 % dibandingkan PLTU batubara konvensional. Hal ini dimungkinkan dengan adanya proses gasifikasi sehingga energi yang terkandung dalam batubara dapat digunakan secara efektif dan digunakannya HRSG untuk membentuk suatu daur kombinasi antara turbin gas dan turbin uap.

Alat Pembriketan Batubara
(700 MW; 73 % C; 1.2 % S; 10 % ash; Hu = 25000 kJ/kg; IGCC : 98 % desulphurization; conventional power plant : 200 mg/m3 SO2 in flue gas; dry).

Dalam sistem IGCC, sekitar 95 – 99 % dari kandungan sulfur dalam batubara dapat dihilangkan sebelum pembakaran. NOX dapat dikurangi sebesar 70 – 93 % dan CO2 dapat dikurangi sebesar 20 – 35 % (emisinya berkisar antara 0.75 – 0.85 kg CO2/kWh) dibandingkan dengan PLTU batubara konvensional. Dengan tingkat emisi yang rendah maka dapat untuk mencegah terjadi hujan asam karena emisi polutan SO2 dan NOX serta mencegah terjadinya pemanasan global karena emisi CO2.

Salah satu hal yang menarik dalam sistem IGCC adalah pembangunannya dapat dilakukan secara bertahap yaitu:
- tahap pertama : pembangunan turbin gas dan perlengkapan pembangkit listrik
- tahap kedua : pembangunan sistem daur kombinasi, dan
- tahap ketiga : pembangunan unit gasifikasi.

Pembangunan dua tahap yang pertama memerlukan biaya investasi yang relatif kecil dan sudah dapat menghasilkan tenaga listrik. Investasi yang besar hanya dibutuhkan pada saat pembangunan tahap ketiga dan dilaksanakan bila sudah dinilai ekonomis untuk mengganti bahan bakar dari gas alam dengan batubara. Disamping itu sistem IGCC didesain secara modular sehingga mudah untuk dikembangkan menjadi unit yang lebih besar kapasitasnya pada saat kebutuhan tenaga listrik sudah meningkat.

Kesimpulan

Pemakaian tenaga listrik di Indonesia selama 20 tahun terakhir ini mengalami peningkatan yang cukup pesat yaitu 14.5 % per tahun dan dalam 25 tahun mendatang diperkirakan akan terus mengalami peningkatan dengan pertumbuhan sebesar 7.8 % per tahun. Pada tahun 1996 kebutuhan tenaga listrik diperkirakan sebesar 140.7 TWh dan pada tahun 2021 kebutuhan mencapai 617.9 TWh. Sedangkan pangsa penggunaan batubara untuk pembangkit listrik terus meningkat pesat dari 21 % pada tahun 1996 menjadi 78 % pada tahun 2021. Pemakaian batubara dalam jumlah besar ini harus menerapkan teknologi batubara bersih, salah satunya yaitu IGCC, supaya dampak lingkungannya minimum. IGCC saat ini sedang dalam taraf pengembangan dan diharapkan sudah beroperasi secara komersial dalam waktu dekat ini. Pembangkit listrik IGCC mempunyai keunggulan bila dibandingkan dengan PLTU konvensional dengan tambahan de-SOX dan de-NOX dalam hal dampak lingkungan. Bagi Indonesia pembangkit listrik IGCC merupakan teknologi alternatif yang patut dipertimbangkan untuk menggantikan PLTU batubara konvensional yang sudah habis masa gunanya dan untuk pembangunan pembangkit listrik yang baru.

Artikel di atas ialah rangkuman sebuah makalah yang ditulis oleh Agus Sugiyono, seorang peneliti di BPP Teknologi.

  • http://- Piter
  • http://asthary.wordpress.com Ratih Wulandari

    Mm, bener2.. harusnya sih pada saat gasifikasi berlangsung gas N2 yang ada dalam udara pembakar itu ngga akan bereaksi dan hanya berlaku sebagai inert (karena alasan ini juga gasifikasi dengan O2 murni lebih disukai, penanganan gas N2 yang jumlahnya besar akan memakan biaya yang besar juga..).. Tapi ada yang memberi opini bahwa reaksi antara gas N2 dengan O2 tidak berlangsung karena panas hasil pembakaran karbon tidak cukup memenuhi kebutuhan panas reaksi N2+O2..

    kira-kira logika ini bisa diterima ngga ya?

  • Pingback: Laporan Khusus: Puslitbang tekMIRA (Bagian 1) - Majari Magazine

  • Rudy

    Ada yang pernah tau gasifikasi batubara sudah terpasang dimana? Di Indonesia siapa yang sudah membuatnya secara komersial?
    Terimakasih.

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    yup, buat term “pirolisis” itu emang agak membingungkan.. term “pirolisis” dipakai karena konsep gasifikasi itu kan melepas volatile matters dari batubara, yang ujung2nya direduksi jadi CO dan H2. tapi masalahnya pirolisis itu artinya tanpa keberadaan oksigen sedangkan pada gasifikasi itu ada oksigen walaupun tidak sampai terbakar. jadi cuman dipinjem arti “pelepasan volatile matters” nya saja.. bingung jg sih apa term yang paling tepat. ya pokonya gt lah ya.. bukan terbakar.. volatile matter lepas.. tapi ada oksigen.. hehehe..

  • Pandzee

    Menarik sekali diskusinya. Jadi pengen ikut2an nih :D Setahu saya gasifikasi adalah teknologi kuno, sudah sejak abad 18-19 Eropa (Inggris?) menggunakan gasifikasi batubara untuk menghasilkan ‘town gas’ sebagai bahan bakar penerangan kota dan masak. Proses ini berhenti dan digantikan gas alam (metana) karena hasil gasifikasi (utamanya CO) adalah gas beracun, mengingat standar keamanan yang rendah saat itu mungkin banyak kasus kecelakaan terjadi sehingga dihentikan penggunaannya.

    Mau menambahkan sedikit dari tulisan utama, paragraf 3, “…Disamping itu batubara mengandung sulfur, nitrogen dan abu dalam jumlah besar sehingga gas buang hasil pembakaran menghasilkan polutan seperti SO2 dan NO2 serta abu terbang…” setahu saya kandungan nitrogen di dalam batubara tidak besar, paling2 di bawah 5%, tidak cukup signifikan untuk memproduksi NOx. Kelihatannya NOx dihasilkan dari reaksi N2 yang berasal udara pembakaran dan O2 di temperatur tinggi (mungkin itu sebabnya N2 dipisahkan dari udara sebelum gasifikasi). Mungkin itu juga sebabnya fluidized bed gasification lebih disukai karena berlangsung dalam temperatur yang cukup rendah (800-1000′C) sehingga mencegah pembentukan NOx.

    Masih berkaitan, dari diagram IGCC di atas gas N2 juga dipisahkan sebelum proses gasifikasi karena N2 idealnya bersifat inert (bukan bahan bakar) jadi tidak menguntungkan jika dicampur dengan gas2 hasil gasifikasi (CO dan H2). Yang menarik ternyata di bagian diffusion burner sebelum gas turbine malahan dimasukkan N2 ya?

    Saya kira perlu ditambahkan juga kelemahan gasifikasi, tidak hanya keuntungannya. Dilihat dari jumlah komponen penghasil uapnya, ongkos kapital IGCC jauh lebih mahal daripada pembangkit batubara biasa (itu sebabnya biasanya diusulkan pembangunan IGCC secara bertahap — hebatnya hal ini malah bisa jadi kelebihan untuk IGCC hehehe)

    Terakhir tapi tidak paling sedikit, gasifikasi dan pirolisis dibedakan dari gas pereaksinya. Pirolisis adalah proses ‘pemanasan’ tanpa oksigen (apalagi udara), sedangkan gasifikasi adalah proses ‘pemanasan’ dengan oksigen. Proses gasifikasi sendiri terdiri dari dua bagian besar, yang menggunakan oksigen ‘murni’ dan yang menggunakan udara. Sedangkan gasifikasi yang menggunakan uap (‘steam gasification’) kelihatannya lebih tepat, secara harfiah, disebut pirolisis. Please CMIIW.

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    iya.. dalam gasifikasi itu emang gak terjadi pembakaran.. yang terjadi itu pirolisis.. pirolisis dalam gasifikasi bisa diartikan pelepasan volatile matter dari batubara tanpa keberadaan oksigen.. huehehe.. hasil kuliah batubara.. hehe..

  • Dniz

    Saya ingin menambahkan saja apa yg telah didiskusikan..
    Saya skr bekerja di sebuah perusahaan swasta di bagian coal gasifikasi.. Menarik memang bekerja di bagian ini..
    Umpan yg digunakan di gasifier adalah batubara dan blast air.. Blast air terdiri dari udara, air dan steam.. Perbandingannya tergantung dari operasional operasi.. Pemilihan batubara harus bagus karena jika tdk akan membatu/slagging di gasifier.. Selain itu ukuran batubara yg diumpankan juga harus sesuai..
    Dalam Gasifikasi batubara tdk terjadi pembakaran di dlm gasifier, Melainkan hanya membara saja batubaranya di dlm gasifier, tidak terjadi nyala api..
    Zona2 yg terbentuk di gasifier:
    1. Ash
    2. Oksidasi
    3. Reduksi
    4. Drying
    Mungkin itu aja dulu.. Klo mo nanyain or sharing email aja ya..

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    wah, fauziii, kalo liquefaksi mah namanya dah keluar topik dong. tapi berhubungan dikit sihh.. hehehe.. hmm, gua coba bantu aja kali ya.. dikit.. hehe..

    likuefaksi itu intinya proses pencairan batubara menjadi bahan bakar cair.. ntar produk akhirnya jadi bahan bakar yang mirip dengan hasil akhir minyak bumi. caranya itu ada dua, dengan cara langsung atau tidak langsung.

    1. kalau cara langsung itu dengan proses hidrogenasi dan langunsung menghasilkan bahan bakar cair.

    2. kalo cara tidak langsung itu melalui gasifikasi. jadi batubara nya digasifikasi menghasilkan syngas, lalu syngasnya mengalami reaksi fischer-tropsch dan terbentuklah bahan bakar cair. selain itu, ada juga jalur di mana syngas melewati proses sintesis methanol terlebih dahulu dan kemudian terbentuklah bahan bakar cair. atau methanol yang terbentuk dapat melewati proses methanol-to-gasoline dan akhirnya terbentuk juga bahan bakar cair.

    produk bahan bakar cair yang diinginkan itu bisa bermacam-macam sebenarnya: mulai dari hidrokarbon cair, alkohol, LPG, wax, diesel oil, dan sebagainya.

  • fauziii

    saya pengen tau nih tentAng proses liquefaksi/pencairan batu bara.. gimana yah prosesnya?

    atau dimana ya saya bisa dapatkan bahan kuliah tentang teknologi batubara??

    terima kasih sebelumnya…

  • rizky

    assalamualaikum
    salam kenal ane rizky…..ane mau nanya yang sebenernya terjadi didalam reaktor :
    1.batu bara dibakar sampai membara mengeluarkan gas, dimana gas ini kita reaksikan dengan uap air dan udara menjadi sintetis gas
    atau
    2.batu bara kita bakar sampai membara, kemudian kita spray oleh water steam langsung ke batu bara tersebut lalu menjadi syngas…..
    mohon dibantu yah,

    Rizky

  • hugy_

    AAslkm

    ana pengen tanya kalau kita mau nge design reaktor fluidized bed reaktor gimana yah? faktor apa aja yang harus diperhatikan?
    and ana masih kurang paham sama basic principle reaktor tersebut,, kalau prinsipnya melawan gaya gravitasi terus terjadi reaksi nya gimana dong? gimana kalau aplikasinya bukan buat batu bara,,,

    syukran atas bantuannya….

    A Syarif

  • Come ‘d

    Menanggapi semua yang bicara tentang gasifikasi (sejauh yang saya tahu)

    1.Buat Habib AGAZ : Gasifikasi batubara memerlukan katalis, karena gasifikasi beda jauh dengan pembakaran biasa. Gasifikasi batubara adalah metode pengolahan batubara menjadi gas sintetis (syn gas) yaitu H2, CO, CO2 (dikit), methane (mungkin). Sebenarnya sintesis gas lebih mudah diperoleh dari pengolahan gas alam (methane) tp krn cadangan gas semakin menipis, maka digunakanlah batubara.

    2. Buat michaeljubel : Air yang diumpankan bersama batubara ke gasifier bukan utk mengatur suhu tp emang bereaksi sama batubara membentuk syn gas.

    Kira2 begitu. Maaf juga kalo’ ada yang salah. Semoga berguna dan bisa jadi ajang bagi pengetahuan kita masing2.

    Salam

  • estii

    Saya mau tanya mengenai gasifikasi batubara. Apa yang dimaksud dengan slagging?bagaimana pengaruhnya dengan performansi gasifier?klo tugas akhir tentang ini dimana ambil datanya ya?Didalam gasifier sendiri tekanan dan temperatur dijaga pada nilai tertentu, yang saya tanyakan darimana energi tersebut dari reaksi atau tambahan dari luar?Untuk posisi pengumpanan O2, steam dan coal apakah ini mempengaruhi performansi?sebelumnya makasih banyak…

  • Rudi

    Ada yang tau teknologi konversi batubara atau cangkang sawit menjadi gas metah?
    salam,
    Rudi

  • Hendra

    Dengan hormat,
    Saya sangat tertarik dengan topik gasifikasi batubara (batubara yg diubah menjadi gas)
    Mohon bantuannya dimana alamat orang yang bisa membuat alat gasifikasi batubara tersebut.

    Hormat kami,
    Hendra Gunawan

  • Habib AGAZ

    Fur Diniyyah:
    Berdasarkan sumber yang saya baca, jawaban pertanyaanmu kira-kira seperti yang tertulis di bawah ini.
    1.Mekanisme proses gasifikasi batubara?
    Reaksi kimia yang terjadi selama proses gasifikasi karbon (dapat berupa batubara, kokas, atau arang) melibatkan karbon, karbon monoksida, karbon dioksida, hidrogen, air (atau kukus), dan mentan. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:
    Reaksi pembakaran (oksidasi parsial)
    C + ½ O2 -> CO ?H = -111 MJ/kmol
    CO + ½ O2 -> CO2 ?H = -283 MJ/kmol
    H2 + ½ O2 -> H2O ?H = -242 MJ/kmol
    Reaksi Boudouard
    C + CO2 ? 2CO ?H = +172 MJ/kmol
    Reaksi dengan uap air (water gas reaction)
    C + H2O ? CO + H2 ?H = +131 MJ/kmol
    Reaksi Pembentukan Metan (methanation reaction)
    C + 2H2 ? CH4 ?H = -75 MJ/kmol

    Untuk bahan bakar sesungguhnya (termasuk batubara), reaksi gasifikas secara keseluruhan dapat dituliskan sebagai berikut:
    CnHm + n/2 O2 -> n CO + m/2 H2
    Keterangan:
    Untuk bahan bakar gas, misalnya metan -> m = 4 dan n =1, perbangingan m/n = 4
    Untuk bahan bakar minyak -> m = 2 dan n =1, perbangingan m/n = 2
    Untuk bahan bakar batubara -> m = 1 dan n =1, perbangingan m/n = 1

    2.Proses awal yang terjadi pada gasifikasi?
    Proses awal yang terjadi pada gasifikasi adalah pirolisis. Pirolisis merupakan pendegradasian panas tanpa oksigen pada umpan untuk menghilangkan komponen volatile-nya,sehingga yang tertinggal adalah arang dari sisa-sisa material karbon. Pirolisis dilakukan pada temperatur 400 – 600 oC dan bertujuan untuk mengkonversi senyawa padat menjadi gas-gas, arang, tar, uap minyak, dan air. Hasil konversi tersebut kemudian dioksidasi secara parsial.

    3.Konversi dan selektivitas reaksinya bagaimana?

    Konversi dan selektivitas hasil gasifikasi dipengaruhi oleh jenis gasifikasi dan kondisi operasi yang digunakan. Konversi karbon dengan menggunakan proses fluid-bed dapat mencapai 97%, sedangkan pada gasifikasi yang menggunakan proses moving-bed dan entrained-bed , konversi karbon dapat mencapai 99%.

    Konversi karbon
    % C = [1-(C residu/C umpan)] x 100%

    4.Rumus struktur batubara?
    Sama halnya dengan minyak bumi, rumus struktur batubara yang sebenarnya tidak diketahui secara pasti. Hal ini dikarenakan batubara memiliki jenis yang bermacam-macam. Masing-masing jenis batubara memiliki komposisi komponen (C, H, O, N, dan S) yang berbeda-beda. Oleh sebab itu, untuk mengetahui rumus struktur batubara, komposisi komponen penyusun batubara perlu diketahui. Untuk mengetahui komposisi komponen batubara dapat dilakukan analisis ultimat dan proksimat terhadap batubara.

    Sumber
    Higman, C. and Maarten V.D.B. 2003. Gasification. USA: Elsevier.

  • Habib AGAZ

    For Jubel:
    Yup, kira2 proses singkatnya gtu Bel, tapi ga semua gasifikasi pke steam! cuma gasifikasi tertentu aja yang melibatkan steam, itu pun harus dicampur dengan udara. Truz gas yang dihasilkan selanjutnya dibakar sebagai bahan bakar. Bahan bakar tsb dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler untuk menghasilkan steam dan menggerakkan turbin gas. Jadi bukan gas bakarnya yang digunakan untuk menggerakkan turbin gas Bel…

    For Putra Azhar:
    Slugging dapat diatasi dengan menggunakan gasifikasi jenis fluidisasi karena gasifikasi jenis fluidisasi dapat menangani bahan bakar dengan kualitas rendah. Truz masalah batubara Indonesia yang bervariasi dapat diatasi dengan menentukan dan menetapkan jenis batubara yang akan digunakan sebagai umpan, kemudian dilakukan analisis ultimat dan proksimat terhadap batubara tersebut. Dengan analisis ultimat dan proksimat tersebut, kandungan batubara yang digunakan dapat diketahui sehingga perbandingan kebutuhan pasokan udara terhadap batubara dapat ditentukan.

    For Diniyyah:
    Kabar baik, saya sudah dapet bahan yang kamu butuhkan, tapi belum saya cerna… Ntar klo sy sudah dpt informasi yang kamu butuhkan, saya informasikan…
    Oke,gtu dulu yo… ;D

  • diN

    ngmg2 ttg gasifikasi,, kebetulan tugas akhirku ttg pra desain pabrik amonia dari gasifikasi batubara..

    yg msh bikin bingung,, proses reksinya urutannya gmn?? maksudnya mekanismenya gtu..
    selain itu, konversi reaksinya dan selektivitasnya gmn?? coz reaksinya banyak gt dan reversibel..

    yg sempet aq baca kmrn, ada 3 proses:
    - devolatilization/pyrolisis
    - combustion
    - char gasification/combustion

    yg msh aq g tau itu, proses awal itu pembakaran coal atau pyrolisis dulu?? klo pmbakaran coa dulu, stoikiometri reaksinya gmn? coz rumus struktur batubara aja g tw.. (kasian bgt yah??)
    klo pyrolisis dulu, bgmn tjadinya? smentara pyrolisis tjadi pada suhu min 350 C. apa mmg sblm masuk gasifier dipanaskan dulu? pdhl d gasifier g pke heater kan?

    buat tmn2 yang bs bantu (terutama Habib AGAZ, kayaknya ngerti deh) tolongin ya.. coz TA ku dikumpul tgl 12.. smentara ini untuk neraca massa aq pke data dr jurnal yg menunjukkan perbandingan CO2, CO, CH4, H2S, S, dkk yang dihasilkan per mol C dengan asumsi smua C yang ada d coal jadi char, pdhl kan g gt jg.. (hasil pyrolisis:CO2, CO, CH4, tar, oil, char, dll)…
    makasih bgt ya…

    -diniyyah, teknik kimia ITS 2004-

  • Putra azhar

    Salam kenal,

    Pada kenyataannya praktek di lapangan terdapat beberapa kendala, antara lain :

    1. Gasifikasi sangat sulit dilakukan pada temperatur operasi 1000 oC, karena pada umumnya batu bara indonesia (terutama dari Kalimantan) akan slagging (mengeras seperti batu) sebelum gasifikasi berlangsung sempurna. Tentu saja ini mengganggu operasi pada proses kontinyu.

    2. Bagaimana mengukur nisbah steam/O2/batu bara untuk keberlangsungan proses gasifikasi sementara varian (compound content) batu bara yang Indonesia miliki sangat bervariasi?

    Terima kasih.

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    bib, jadi intinya tu batubara/biomassa di bakar dengan O2 kan? ditambahin steam supaya temperaturnya sesuai dengan temperatur yang diharapkan bukan?

    batubara/biomassa + O2 -> gas

    gas nya itu ada CO, CO2, CH4, H2, dll.. iya kan?

    lalu gas-gas panas itulah yang kemudian dibakar lagi supaya akhirnya bisa memutar turbin gas.. dan selanjutnya ke turbin uap (seperti ilustrasi di atas).. benar tak bib?

  • Habib AGAZ

    Hua… perlu diluruskan nih..berhubung penelitian gw tentang gasifikasi, jadi gw mau berbagi ilmu tentang gasifikasi. Gasifikasi adalah proses konversi bahan bakar padat (umumnya) menjadi bahan bakar gas dengan cara pembakaran. Proses pembakaran yang dilangsungkan pada proses gasifikasi adalah pembakaran tidak sempurna, sehingga gas yang dihasilkan (CO, H2, CH4) masih memiliki nilai bakar. Jadi pada prinsipnya, setiap bahan bakar yang diolah dengan cara gasifikasi pasti sama, yaitu sama-sama dibakar. Kalo jenis gasifiernya, tergantung bahan bakar apa yang digunakan dan sistem apa yang dipake.

    Menjawab pertanyaan diaz: teknologi gasifikasi biomassa dan gasifikasi batubara bisa sama, bisa juga beda, tergantung karakteristik biomassa atau batubaranya. Tapi, yang pasti beda adalah kondisi operasinya. Kalo biomassa temperatur operasinya 1000 C.

    Meluruskan pernyataan Aqi: Gasifikasi kan proses pembakaran, jadi tidak perlu katalis (apalagi mikroba) untuk melangsungkannya. Katalis diperlukan ketika gas produser (CO, H2, CH4) akan diproses ke tahap yang lebih lanjut untuk dijadikan bahan baku produk lain.

    Segitu aja yah penjelasannya. Untuk info yang lebih jelas, silahkan baca dileteratur atau hubungi ahlinya…hehehe ;)

  • aqi

    @diaz n @michael: pada prinsipnya sama yaitu mengumpankan material (batubara) atau substrate untuk dikonversi menjadi produk baru dalam hal ini gas (baik untuk gasifikasi batubara maupun gasifikasi biomass).
    yang membedakan adalah treatment serta proses yang berlangsung yang berbeda.

    pada gasifikasi batubara disini membuat batubara yang solid menjadi gas dengan katalis dan atau bantuan dari steam 02
    sedangkan pada gasifikasi biomass, mengonversi material/substrate menjadi gas dengan katalis berupa bakteri/mikroba serta parameter yang mendukung pertumbuhannya.

    mungkin begitu kira2…

    maaf kalau ada kekeliruan

  • http://www.michaeljubel.com michaeljubel

    hahaha.. mirip dengan pertanyaannya diaz.. hehehe.. reaktor gasifikasi biomassa ama gasifikasi batubara sama gak sih? teknologinya mirip apa gimana? plz someone says something.. hehe…

  • diaz

    mo nanya. hehe.. kalo gasifikasi biomassa sama gak tekonologi nya ama gasifikasi batubara?
    maap kalo pertanyaannya dangkal. hehe.

    thx.

pestilence439
lovelock506 voltigeur296 fiance206 pecunious261 hyperphysical624 printer549 earnestness679