Flexible Mechanisms to Lower Emission

by Dave Mangindaan on 03/12/07 at 10:18 pm | 22 Comments | Print article | Email article

Flexible Mechanisms, also sometimes knows as Flexibility Mechanisms or Kyoto Mechanisms, are 3 (three) instruments which allow governments in industrialized countries to achieve parts of their emission reduction commitments under the Kyoto Protocol through projects abroad rather than through action or policy changes at home. Based on United Nation Framework Convention on Climate Change (UNFCCC), the three mechanisms are Emission Trading (ET), Joint Implementation (JI), and Clean Development Mechanisms (CDM).

Emission Trading (ET)

The emission trading system will allow industrialized countries to buy and sell emission credits. Countries that keep emissions below their agreed target will be able to sell the excess emissions to countries that find it more difficult or more expensive to meet their own targets. One of the main concerns is that the Kyoto targets of some countries are so low that they can be met with minimal effort. These countries could then sell large quantities of emission credits (known as ‘hot air’), thus taking off the pressure from those governments for whom buying credits is more convenient than putting in place policies and measures that lead to true and lasting emission cuts. The true cost of such foregone emission cuts will be borne by the atmosphere and future generations faced with the full impacts of climate change.

Joint Implementation (JI)

This mechanism will allow industrialized countries to gain credits for financing emission reduction projects in other industrialized countries with Kyoto targets. Carbon sink projects are also eligible for crediting under the Joint Implementation scheme and the definitions for such carbon sink projects make no distinction between forests and tree plantations thus providing no safeguards that carbon sink projects will contribute to restoring natural forest ecosystems.

Clean Development Mechanism (CDM)

This mechanism will allow industrialised countries to gain credits for financing emission reduction projects in countries without Kyoto targets. The CDM was added at a late stage of the negotiations that culminated in the Kyoto Protocol. The CDM goes back to a Brazilian proposal to create a “Clean Development Fund” as part of the Kyoto Protocol. This proposal, supported by G-77/China, was based upon penalizing those industrialised countries not complying with the emission targets set in the Kyoto Protocol. The resources of the fund were to be made available to non-industrialised countries for use in climate change mitigation projects (90%) and projects to help countries fight the consequences of climate change such as floods, droughts – the so-called adaptation projects. Industrialized countries opposed the idea and the Clean Development Mechanism was created as a compromise. Unlike the fund, the mechanism is not linked to industrialised countries’ compliance with their emission targets; rather, it aims to achieve climate change mitigation through a market-based approach: industrialised countries receive emission rights in exchange for financing emission abatement project in the developing countries.

CDM for Developing Countries

CDM is a new form of investment in developing countries with the purposes of encouraging industrial (developed) countries of reducing GHGs in developing countries in order to achieve the target of GHGs reduction and to assist developing countries to achieve the goal of sustainable development. It is the only mechanism provided under Kyoto Protocol, which allows developing countries to take part in joint greenhouse gas mitigation projects. Of the three mechanism, the CDM is of greatest concern because for every tonne of carbon captured through a CDM project, an additional tonne of carbon from fossil fuel burning can be released in industrialised countries.

The purposes of CDM is (1) to assist non-Annex I countries, which is developing countries, in achieving sustainable development and (2) to assist Annex I countries in achieving their reduction commitments. The project that evidenced reduced emissions will be certified and the CER (certified emission reduction) will be credited to the investing country. Then the CER will be counted against their national reduction targets.

CDM projects benefits:

  1. Annex I country achieve its GHG reduction obligation (usually at costs lower than in their own countries)
  2. Gains of the developing country host parties are in the form of finance, technology, and sustainable development benefits.

Bottomline, CDM is the most feasible mechanism which can be implemented in Indonesia. Beside gaining sustainable development and cleaner environment, a certain amount of funding will be granted by industrialised countries.

Minimize CO2 emissions to gain funds, anyone?

Reference(s): Wikipedia, Lecture Notes Dr. Retno Gumilang Dewi – ITB

22 Comments

dave

Dec 3rd, 2007

oya mau menekankan di awal:
yang namanya gas rumahkaca greenhouse gases ialah bukan cuma CO2, tapi CH4, SOx, NOx, SF6, CFC.
CH4 memiliki Global Warming Potential 20x CO2. SF6 ratusan, CFC kl ga slh ribuan.
so….. jangan bilang bahwa pemanasan global hanya diakibatkan CO2!

jadi kalo indo membuat suatu proyek penurunan gas rumah kaca, maka jumlah reduksinya harus dihitung, dan harus predictable selama jangka waktu tertentu dan harus terkendali/ga fluktuatif, soalnya ini berurusan dg jual beli emisi gas rumah kaca.. kalau reduksi emisi bisa diprediksi jumlahnya, ntar bisa dikonversi ke satuan ton-CO2-equivalent, nanti dihargai +/- 5-10 US$ per ton-CO2-equiv.

lho koq…kita nurunin polusi di negeri sendiri, trus dibayar pula…dobel untung???
yup… tapi jumlah kredit alias ton CO2 equiv tsb diklaim oleh pembeli (negara2 maju) sebagai bukti mereka udah menurunkan emisi.

proyek CDM di indo (seinget dan setau gw ;P
pembuatan semen portland alternatif dari slag/limbah logam oleh Semen Gresik (lupa nama produsennya :p)

lho?? koq bisa? bikin semen dicampur logam nurunin gas rumahkaca? dari mananya???
gini… bhn baku semen dari kapur (CaCO3 ya kalo ga slh?). pas diolah, CaCO3 melepas CO2 (ini dia gas rumahkacanya..), membentuk CaO.
nah… Semen Gresik merekayasa semen baru dicampur2 limbah slag, dgn tujuan menghasilnya semen baru ini sekuat (kalo bisa sih lebih kuat) dari semen lama..tapi dengan bahan baku CaCO3 yang lebih dikit–> otomatis nurunin CO2.
dgn volume produksi yang bisa diprediksi per tahunnya, maka jumlah reduksi CO2 ini bisa dihitung, dibakukan, dikonversi ke t-CO2-e, klaim ke UNFCCC, dilelang ke negara2, lalu jadi US$…

michaeljubel

Dec 4th, 2007

mo nambahin tentang CDM.. hehehe.. jadi reduksi juga gak harus dari emisi CO2 langsung.. jadi bisa aja dari senyawa laen yang diekivalenkan dengan CO2.. contohnya tuh produksi metan pada TPA buat sampah.. jadi TPA (landfill) itu kan mengemisikan CH4 (metan) dalam jumlah yang banyak kan.. nah jumlah reduksi metan ini kemudian dikalikan dengan oxidation factor untuk mendapatkan perhitungan reduksi CO2.. jadi dapat dikatakan reduksi metan secara tidak langsung akan mengurangi reduksi CO2..

contohnya: (diambil dari slide kuliah Limbah.. hehehe.. ini perhitungan POTENSI aja tapi.. blum terealisasi..)
annual CH4 emission = 917 ton CH4/year
annual CO2 equivalent = 19264 ton CO2/year
total CER (certified emission reduction) = 19264 ton CO2/year
crediting period = 6 years
price of CER/ton CER = US$ 5.0
total CDM revenue = $ 577928.74

Sangat menarik.. Hehehehe.. berarti banyak banget emisi yang bisa direduksi dan kemudian diekivalenkan dengan reduksi emisi CO2.. hehe.. bisa tajir nih negara berkembang hehehe.. kalo manajemen nya bener tapi.. hehe.. tertarik kawan2? hehe..

oiya.. mo nanya dave.. tuh pabrik pembuatan semen portland itu udah pernah nyoba nge-klaim? duitnya ada beneran kan? hehehehe..

jaclyn

Dec 4th, 2007

mo nanya dong
TPA kan menghasilkan CH4. trus kenapa bs mereduksi CO2?
biasanya kan CH4nya dibakar, hasilnya CO2 juga…

trus bukannya CH4 itu gas rumah kaca jg?

kok gw ga ngerti ya?
temen2 ada yg bisa bantu?

michaeljubel

Dec 4th, 2007

jaclyn, “biasanya kan CH4nya dibakar, hasilnya CO2 juga…”

justru itu.. nahh kalo CH4 nya direduksi, CO2 nya juga bakal tereduksi kan? hehehe.. jadi secara gak langsung, reduksi emisi CH4 bakal mengurangi reduksi emisi CO2 ke atmosfir.. gt.. correct me if i’m wrong, dave.. hehehe.. elu kan thesis nya tentang CDM.. hehehe..

iya CH4 itu juga gas rumah kaca juga.. tapi perhitungan di comment gua sebelumnya itu berdasarkan ton-CO2-ekivalen.. gt.. btw dave, ada gak perhitungan berdasarkan ton-CH4-ekivalen? ato cuman bisa pake ton-CO2-ekivalen?

dave

Dec 5th, 2007

@jaclyn
Iya betul bahwa TPA mengemisi CH4 (i.e gas rumahkaca).
Reduksi CO2nya itu dihitung saat emisi CH4 (yang nantinya diekivalenkan ke emisi CO2) “DITANGKAP”/captured dari atmosfer.
Jjika LAJU reduksi emisi CH4 per tahunnya bisa diprediksi, maka kuantitas CH4 yang ditangkap bisa diklaim.

OK, gw tau konsepnya emang agak sulit utk CH4. dulu juga dibantai pak tjan juga :D
Jadi gini, CH4 dari sampah organik TPA kalau dibiarkan begitu saja maka akan teremisi menjadi gas rumahkaca.
CH4 organik tsb ditangkap lalu dibakar menjadi CO2, gas rumahkaca juga.
jadi? apa bedanya dong? :D
Bedanya, CO2 hasil pembakaran organik tidak dihitung mencemari.
masih bingung?
Sederhananya ialah saat manusia bernafas, CO2 yang dihasilkan pernafasan tidak dihitung sebagai pencemaran.
parah aja kalo dihitung pencemaran, huehehehe..
Berbeda saat CO2 dihasilkan dari pembakaran CH4 inorganik, hasil pertambangan, nah itu baru dihitung pencemaran akibat gas rumahkaca.

baru beres ujian Limbah yah? huehehehe…
udah gabung forum majari belum jaclyn?
salam untuk anak(-anak) TP 2004 :p

@michaeljubel
yang semen portland duh lupa euy nama produsennya. tapi waktu itu gw nonton presentasi dari perwakilan pabrik semen tsb. harusnya sih udah jadi uang..
ttg ton equivalent, wah udah lupa lagi euy :D
maaf :D ampir 2 tahun lalu itu :D

michaeljubel

Dec 6th, 2007

dave, kok gua malah jadi bingung ya ama penjelasan CH4 elu.. hehehe.. emisi dari organik gak diitung kan? maksudnya kalo karbon nya berasal dari siklus karbon berarti gak diitung kan? berarti CO2 biodiesel gak diitung kan? CO2 bioetanol juga gak diitung kan? bener gak? nahh CH4 dari sampah kan organik juga (seperti yang elu bilang), jadi harusnya CH4 gak bisa dianggep CDM dong? tp kok kata dosen bisa yah.. jd yang bener gimana nih? jd bingung gua..

dave

Dec 6th, 2007

metana yang berasal dari organik maupun inorganik, kalo dilepas ke atmosfer begitu aja dalam bentuk CH4 akan merusak lingkungan (jadi metana sampah rumah tangga vs metana LNG sama aja berbahayanya)

iya dari siklus karbon dink maksudnya :D

tapi jika metana dari sampah rumah tangga diolah, maka seolah2 metana tsb dikembalikan ke siklus karbon (carbon LIFEcycle)… liFe..oh liFe..
tapi CH4 dari LNG ga akan bisa diklaim ke siklus karbon

kalo biodiesel, karena berasal dari tumbuhan, maka CO2 yang dihasilkan dihitung sebagai emisi CO2 organik, seperti CO2 yg dikeluarkan manusia.

ada lagi?

retno

Dec 7th, 2007

hmm.. CDM lagi hangat banget nih diperbincangkan.. baru baca KOMPAS hari ini dan nampaknya Indonesia ialah pihak yang amat diuntungkan dengan keberadaan mekanisme CDM ini.. katanya baru tandatangan kontrak senilai 500 juta US dollar ya kalo gak salah? Hehe..

Tapi kepikiran nih.. bingung aja.. sebenarnya CDM itu solusi yang tepat gak ya? masalahnya gini lho.. kan CDM itu bisa dibilang mekanisme yang membiarkan negara maju untuk tetap mengemisikan CO2 tapi dia harus membiayai pengurangan emisi CO2 di negara berkembang kan.. jadi kasarnya jumlah CO2 secara global nya “dijaga konstan”.. hehe.. nah mau sampe kapan kaya gt? anggaplah semua negara berkembang mereka bayarin, tp toh tetep aja sumber emisi yang paling besar itu di negara-negara maju.. kalo gak mereka yang ikut mengurangi sih gak bakal beres-beres tuh yang namanya global warming.. knp mrk gak nyoba untuk sadar ya.. kalo dunia ancur kan yang ancur semuanya.. bingung..

kan sama aja boong kalo kita (Indonesia) mendadak tajir karena proyek CDM tapi 100 tahun lagi buminya musnah.. makan aja tu duit.. hehehe..

william

Dec 7th, 2007

waduh.. masih gak mudheng! mas, dave! bisa jelasin dengan bahasa anak TK tingkat 1 yo? gak ngerti nih! aku dah baca 3 kali tapi masih blum ngerti! makasih yo sbelumne..

dave

Dec 7th, 2007

@william
huahahaha will will..
baca wiki dulu dech..
ini juga gw ngertinya perlu 1 tahun :D
itu tulisan di atas sebenarnya dicompile oleh admin,
coba kamu register ke Forum Majari, http://forum.majarimagazine.com/
lalu masuk ke thread Another ChE Talk, ntar dijelaskan ttg CDM dalam bhs gaooll lu-gue-gitu-dech huehehehe
yg di atas kan supaya terlihat resmi :p

@retno (kamu bukan Retno G.D kan? semoga….tapi kynya bukan deh.. ;D)
kaget gw baca ada Retno kasi komen :D
hmmm perspektif yang menarik ^^ kamu kritis juga…gooodd!!
tapi proyek CDM (+Joint Implementation + Emission Trading) ini berlaku hingga 2012 (sesuai deadline dari Kyoto Protocol).
nah yang gw jg blm tau, what’s next after 2012?
we’ll see -_-

@jaclyn..
udah disampein blum? :p

-dave-

jaclyn

Dec 12th, 2007

disampein ke siapa dave? =p
yg pake kacamata & rambutnya panjang?
hehe….

dave

Dec 21st, 2007

iya jac,
yang ulang tahun hari ini
tgl 21 bulan 12 umur 21
posting jam 12.. :p

michaeljubel

Dec 21st, 2007

eh dave, liat feli gak? dia jarang keliatan nih di forum.. dia kemana ya.. huh..

dave

Dec 21st, 2007

ya sebagai tmn angkatan, dan selaku admin :p lu lah yang suruh dia posting -_- :p
apalah daya gw terbentang ribuan km dr indo..
saya juga pengen liat dia, ga cm di forum :siul:

alter-ego

Dec 28th, 2007

hmm.. balik lg ke global warming.. sebenernya 3 tantangan utama yang dianggap menjadi penyebab global warming tuh ada 3 kan..
1. pesatnya lajut pertumbuhan penduduk (bakal jadi 8 milyar di tahun 2020).
2. bumi yang terbelah jadi 2 dimana bumi utara isinya penduduk yang sedikit tapi konsumsi energinya gila-gilaan ampe 40x lebih banyak dari yang tinggal di selatan. sedangkan bumi selatan isinya penduduk yang super banyakkkk dan miskin pula.
3. iptek berkembang dengan eksploitatif, tinggi limbah, dan gak hemat energi.

nah 3 alasan itulah yang akhirnya menjadi biang kerok global warming..

nah menurut gua, perkembangan iptek itu (nomer 3) pada dasarnya disebabkan karena tingginya kebutuhan penduduk.. jadi kebutuhan penduduk menyebabakan perkembangan iptek.. (nomer 3 dihapus).. nah sekarang tinggal yang nomer 1 dan 2.. kalo yang nomer 2a (yang bumi utara) tuh udah gak bisa diapa2in lagi.. pertumbuhan penduduk dah rendah tapi karena iptek maju ya mereka jadi konsumtif..

bottomline, bisa gak gua bilang kalo solusinya adalah:
Keluarga Berencana di belahan bumi selatan

logis kan??

mangga_iris

Dec 28th, 2007

@ alter-ego: masalahnya ga sesederhana itu deh,.. perkembangan iptek terjadi krn ada yg melakukan riset dan penelitian, klo hnya dari sekedar jumlah konsumsi, negara kita yang pnduduk super banyak (konsumsi gede) jg ipteknya msi kalah dgn negara-negara lain. yg lbih tepat sbg penyebab global warming adalah: maruk. segala cara dilakukan demi memperoleh duit lebih, termasuk: membuang limbah drpd mngolah, mnguras sumber daya seenaknya, dsb.

@ retno: CDM merupakan salah satu solusi (walaupun efektifitasnya masih dipertanyakan), tapi bukan satu-satunya solusi yg ditawarkan. CDM terjadi karena industri-industri yang sudah dibangun tidak bisa ditutup begitu saja, karena melibatkan rantai ekonomi yg panjang, sebagai contoh (hanya contoh saja): pabrik pupuk > menghasilkan pupuk yg dibutuhkan petani > petani menanam padi > padi menjadi beras > beras dijual di desa & kota. melalui contoh sederhana ini dpt dilihat bahwa hanya krn pabriknya mengeluarkan emisi tidak dapat ditutup bgitu saja, krn bisa berdampak lebih jauh ke masyarakat.

dan untuk sebuah pabrik berskala besar meng-upgrade pun kadang tidak ekonomis, krn jika terlalu bnyak yg perlu diubah prosesnya, mnding bikin pabrik baru aja.

nah, dgn adanya CDM diharapkan negara yg sedang berkembang (yg mendapat duit) tidak mngikuti jejak negara-negara yang boros dan mengembangkan teknologi baru yg lebih ramah lingkungan. meski negara-negara maju menerapkan CDM bukan berarti mereka cuek bebek dan ga peduli thd lingkungan, krn industri yg baru dan akan didirikan pasti mempertimbangkan aspek lingkungan ini, krn pengalaman membuktikan bahwa bahwa efisiensi = profit!!

nah seiring dengan berdirinya industri baru yg ramah lingkungan dan efisien, industri lama akan perlahan-lahan dimatikan (phase-out) tapi ini membutuhkan waktu juga dan tidak bs instan. begitu kira-kira, peace!

Dika Arya

Sep 29th, 2008

Pabrik pembuatn metana tu dmNa aj ya ? ? ?

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>