Aplikasi Membran Kontaktor untuk Pemisahan CO2
by Prayudi Noverri on 22/12/07 at 12:36 pm | 31 Comments | |
Pemanasan global (global warming) merupakan permasalahan lingkungan yang telah banyak mendapat perhatian serius saat ini. Konsekuensi yang timbul akibat pemanasan global antara lain meningkatnya temperatur rata-rata bumi dan tinggi permukaan air laut, kemarau yang berkepanjangan, meluasnya gurun, adanya gelombang panas, terpecah belahnya ekosistem, dan berkurangnya aktivitas agrikultural. Gas CO2 memiliki kontribusi yang paling besar dalam efek rumah kaca, Berdasarkan observasi yang dilakukan laboratorium Mauna Loa, Hawaii, jumlah karbon dioksida di udara meningkat dengan cepat, dari 310 ppmv pada tahun 1958 sampai 370 ppmv di tahun 2001. Peningkatan jumlah karbon dioksida ini terutama disebabkan oleh penggunaan bahan bakar fosil yang memproduksi sekitar 24 milyar ton CO2 per tahun dan hanya setengahnya yang dapat diabsorb oleh proses alam.
CO2 dibutuhkan dalam jumlah kecil untuk siklus karbon di alam, seperti yang kita ketahui tumbuhan membutuhkan CO2 untuk proses fotosintesis. Tapi, CO2 dalam jumlah besar juga dimanfaatkan di dalam industri kimia. Beberapa aplikasi gas CO2 antara lain :
- Minuman berkarbonasi
- Proses pembuatan urea
- Produksi etanol
- Fire extinguisher
- Dry ice
- Supercritical carbon dioxide
Gas CO2 dalam jumlah besar dapat ditemukan pada gas buang yang dihasilkan dari peralatan industri seperti steam generator, furnace, blast furnace pada industri besi dan baja, rotary kiln pada industri semen, dan lain sebagainya. Secara prinsip, berbagai cara dapat digunakan untuk pemisahan CO2. Pemilihan metoda yang cocok tergantung pada beberapa parameter, seperti konsentrasi CO2 di aliran umpan, sifat alami komponen umpan, tekanan dan temperatur. Pemilihan proses pemisahan CO2 dapat dilihat pada gambar dibawah.

Berdasarkan diagram tersebut, proses yang paling banyak digunakan untuk pemisahan CO2 adalah absorpsi cairan. Absorben yang digunakan harus mempunyai kapasitas yang besar terhadap CO2 dan harus bisa diregenerasi.
Membran Kontaktor untuk Pemisahan CO2
Membran Kontaktor versus Kontaktor Gas/Cair
Secara umum proses absorpsi dilakukan menggunakan kontaktor gas-cair. Perpindahan massa kontaktor gas-cair diperoleh dengan kontak langsung dan dispersi satu fasa ke fasa yang lainnya. Kontaktor industri diklasifikasikan ke dalam tiga kategori tergantung pada fasa terdispersinya.
- Kontaktor dimana cairan mengalir sebagai film tipis (contoh: packed column, disc contactors, dll).
- Kontaktor dimana gas didispersikan ke dalam fasa cairan (contoh: plate column, bubble column, mechanically agitated contactors, dll).
- Kontaktor dimana cairan didispersikan ke dalam fasa gas (contoh: spray column, venturi scrubbers, dll).
Sayangnya kontaktor konvensional ini memiliki beberapa kekurangan, antara lain: konsumsi energi yang besar, susah dioperasikan karena seringnya muncul masalah seperti flooding, foaming, channeling, dan entrainment. Keterbatasan teknologi ini menyebabkan proses menjadi kurang efisien dan biaya yang mahal.
Teknologi alternatif yang tepat untuk menggantikan proses kontaktor konvensional adalah membran kontaktor hollow fiber. Sekarang pertanyaannya ialah, mengapa demikian? Untuk menjawab hal tersebut, marilah kita meninjau beberapa keuntungan membran kontaktor dibandingkan dengan kontaktor konvensional, antara lain:
- Kontak bersifat non-dispersif sehingga tidak mungkin terjadi flooding dan entrainment
- Laju alir gas dan cairan lebih rendah dari kontaktor konvensional dan dapat bervariasi secara bebas
- Luas permukaan kontak yang sangat besar, yaitu 500-1500 m2/m3. Luas ini jauh lebih besar dari pada luas permukaan kontaktor konvensional yaitu 100-250 m2/m3
- Hold up pelarutnya rendah, sangat atraktif untuk pelarut yang mahal
- Scale-up dapat dilakukan dengan mudah
Keuntungan yang diberikan oleh membran kontaktor menyebabkan ukuran kontaktor menjadi jauh lebih kecil daripada kontaktor konvesional.
Membran Kontaktor Hollow fiber
Aplikasi membran ini menggunakan modul hollow fiber. Apakah hollow fiber itu sebenarnya? Hollow fiber dapat diartikan sebagai membran kapiler yang terdiri dari bagian tube dan shell, persis seperti heat exchanger. Pada membran kontaktor, absorben mengalir didalam tube sedangkan aliran gas akan mengalir di bagian shell atau bisa juga sebaliknya. Jenis membran yang digunakan bisa berupa membran porous maupun membran non-porous. Pada membran non-porous, membran berfungsi sebagai batas antara fasa gas dan fasa liquid. Sedangkan pada membran porous, terjadi proses selektif dan perpindahan partikel yang terkontrol dari fasa gas ke fasa cairan. Akan tetapi, membran porous menyebabkan transfer perpindahan massa dari gas ke cairan menjadi kecil akibat tahanan dari membran. Sehingga,membran porous lebih disukai pada aplikasi membran kontaktor.
Seperti yang dijelakan di atas, pada membran kontaktor terjadi kontak non-dispersif, yang artinya tidak terjadi kontak secara langsung antara absorben dan gas. Permukaan (interface) fluida/fluida terbentuk pada mulut pori membran, dan perpindahan massa akan terjadi melalui difusi pada permukaan fluida di dalam pori membran. Berbeda dengan jenis membran reverse osmosis ataupun nanofiltrasi yang menggunakan tekanan sebagai gaya dorong karena pada membran kontaktor gaya dorong yang digunakan adalah perbedaan konsentrasi. CO2 akan berpindah dari gas yang memiliki konsentrasi CO2 tinggi menuju cairan absorben yang memiliki konsentrasi CO2 rendah.
Perpindahan Massa dan Modelling pada Membran Kontaktor Gas/Cair
Perpindahan massa suatu komponen dari fasa gas ke dalam cairan yang mengalir di dalam membran hollow fiber terdiri dari tiga tahap, yaitu difusi solute dari fasa bulk gas ke permukaan membran, difusi melalui pori membran ke permukaan cairan, dan difusi dari permukaan cairan ke fasa bulk cairan. Koefisien perpindahan massa overall tergantung pada resisten perpindahan massa individual, untuk fasa gas (1/kg), membran (1/km), fasa cairan (1/mkLE) dengan persamaan sebagai berikut [Kreulen et al]:

E adalah enhancement factor yang menunjukkan peningkatan laju absorpsi karena reaksi kimia dan m adalah kelarutan fisik komponen gas di dalam cairan absorben. Sedangkan g ialah koefisien perpindahan massa berhubungan dengan hidrodinamik.
Target dalam proses membran kontaktor adalah terjadinya perpindahan massa yang besar dari aliran gas menuju cairan absorben. Permasalahan utama yang muncul pada membran absorber adalah wetting.
Peristiwa wetting disebabkan karena masuknya cairan absorben ke dalam pori membran yang menyebabkan terjadi peningkatan hambatan pada peristiwa perpindahan CO2 menuju cairan absorben sehingga terjadi penurunan koefisien perpindahan massa secara siginifikan. Untuk membran berpori, tekanan minimum dibutuhkan oleh cairan untuk melakukan penetrasi ke dalam pori. Tekanan ini disebut tekanan breakthrough dan untuk menghidari wetting, tekanan cairan harus berada di bawah tekanan breakthrough. Selain itu, ada faktor lain yang harus diperhatikan seperti ukuran pori membran, dan sifat material dari membran.
Aplikasi Komersial Membran Kontaktor
Beberapa perusahaan yang telah menggunakan membran kontaktor gas/cair untuk pemisahan CO2 secara komersial:
- Kvaerner Oil & Gas and W.L. Gore & Associates GmbH mengembangkan membran gas absorpsi untuk pemisahan gas asam dari gas alam dan gas buang dari turbin gas offshore. Pada proses ini, membran hollow fiber PTFE digunakan dengan pelarut fisik (Morphysorb) dan kimia (alkanolamine)
- TNO Environment Energy and Process Innovation (Belanda) telah mengembangkan proses MGA untuk pemisahan CO2 dari gas buang menggunakan membran PP hollow fiber. Pelarut yang digunakan disebut CORAL yang merupakan campuran garam dan asam amino.
Saat ini, teknologi membran kontaktor bergerak ke arah pemakaian dual hollow fiber membrane untuk proses absorsi dan desorpsi secara simultan. Saat ini, pemakaian membran kontaktor hanya digunakan pada proses absorpsi, sedangkan proses regenerasi dilakukan dengan menggunakan temperatur tinggi untuk melepaskan gas CO2 dari cairan absorben. Dari sisi energi, hal ini sangat tidak efisien. Oleh karena itu,dikembangkan proses desorpsi yang juga dilakukan melalui membran.
Demikian ialah salah satu dari sekian banyak fungsi membran yang berguna untuk melengkapi dan meningkatkan perfomansi teknologi pemisahan CO2 yang sudah ada. Anda tertarik??
Referensi: The membrane contactors: environmental applications and possibilities, State of the art and recent progress in membrane contactors


31 Comments
Dipa
Dec 24th, 2007
artikelnya keren nih! paling demen saya ama artikel tentang membran.. hehehe.. btw saya mau nanya nih.. membran itu bentuk nya seperti apa sih? saya gak pernah liat.. nyari di web pun agak2 bingung.. katanya bentuknya kaya benang panjang? di ilustrasi di atas juga sepertinya kaya gitu.. tapi tetep gak bisa ngebayangin.. kalo tube2 di heat exchanger kan keras tuh, nah kalo membran tuh lembek2 apa gimana?
dan di atas kan ada gambar mikroskopik membran tuh, nah.. kira-kira setelah majunya nanotech, perkembangan teknologi membran bakal seperti apa ya?
YanYan
Dec 25th, 2007
nyoba ngejawab pertanyaaanya dipa,
membran itu bentuknya bisa sangat bermacam, lembaran, kapiler, hollow fiber,
nah, cuma untuk aplikasi membran kontaktor, terutama kontaktor gas, hampir pasti pake hollow fiber
kaya gimana sih hollow fiber? benang panjang? betul banget, bayangin deh benang tipis halus warna putih transparan, berbahan mirip plastik gitu. keras atau lembek? yah, bayangin aja benang plastik. kaya gitu tuh.
kalo mo liat langsung, silakan lho dateng ke lab kita. (labnya yudi juga) di Lab Proses Hilir PAU ITB. hehehe.
setelah nanotech membran gimana? wow, sekarang perkembangan membran bisa dibilang nggilani lho. mungkin kalo dari segi pengembangan bener-bener membrannya, state of the artnya itu membran cair.
cuma, kalo secara umum, membran untuk aplikasi yang butuh pemisahan kecil kecil itu dense membrane, pemisahannya ga berdasarkan ukuran pori lagi tapi lebih ke arah mekanisme pelarutan di membrannya sendiri gitu.
dan setau saya sih, sekarang kebanyakan pengembangan membran lebih ke arah takeover aplikasi alat yang umumnya ga pake membran, jadi membran sekarang ga cuma untuk pemisahan aja.
catalytic membrane reactor misalnya, atau juga membrane cooling tower. kebayang ga, kalo cooling tower yang existing sekarang dengan gede segede semar bangkong gaban gitu, bisa disulap jadi berukuran satu meja aja dengan aplikasi membran? bahkan operasinya zero blowdown dan zero chemicals, dan sebagai tambahan juga, uap yang keluar bahkan bisa direcover sebagai air proses.
how’s that sounds? keren kan?
Efrat
Dec 27th, 2007
Gila artikel lo bagus bener yud..
ntar gw juga buat ahh!
artikel Membran buat teknologi pangan.
btw ini kan ‘lahannya’ si ripper ma agung.
punya lo yang LPRO gak lo tampilin?
Prayudi Noverri
Dec 28th, 2007
@yanyan
betul banget,sekarang itu lagi gencarnya intensifikasi proses kimia,gimana bikin suatu pabrik kimia yang segede gaban bisa jadi lebih kecil dan efisien, kemaren STKSR, p’mubiar tu yang presentasi tentang intensifikasi proses teknik kimia,yang ide idealnya semua proses bakal dilakukin dalam pipa,gw juga blum ngerti gimana sebenernya konsepnya,tapi pemakaian membran untuk cooling tower dan reaktor yang bisa bikin ukuran alat-nya tambah kecil plus zero blowdown dan zero chemial untuk hollow fiber colling tower,beneran harus diaplikasiin,jangan cuma sebatas penelitian doang..
Prayudi Noverri
Dec 28th, 2007
@efrat
hmmm,gw udah minta izin kok,ama yang punya lahan,soalnya ni membran beneran menarik,hehehe.klo RO mungkin sebagian temen-temen kita udah pada ngerti ya,RO kan salah satu teknologi membran tertua,,untuk LPRO ntar gw usahain bikin juga frat,,
michaeljubel
Dec 28th, 2007
waduh kalian semua amat expert sekali tentang membran.. hahahaha.. dan berhubung ada yang berucap tentang “catalytic membrane reactor”, jadi gua mau bertanya sesuatu… pertanyaan mendasar, “membrannya memenuhi reaktor kah seperti layaknya kontaktor gas cair yang dipenuhi oleh packing?” atau “membran nya itu membatasi suatu region tertentu dalam reaktor?” atau “membran tersebut ialah tempat terjadinya reaksi?”
intinya, gimana tuh prosesnya? mungkin yang punya literatur bisa menyimpulkannya jadi artikel.. agak ribet gak sih penjelasannya..
btw masalah cooling tower “the gaban-bangkong” gimana tuh? ceritain lebih lanjut dong! hehehe..
nisa
Jan 3rd, 2008
wew, menarik sekali!
tapi jadi banyak pertanyaan mengusik, hehehe, nanya yah..
teknik ini apa cuma untuk misahin gas co2 aja, kalo untuk gas lainnya gimana?apa ada mekanisme yang beda..
Trus, jenis liquid yang dipake liquid seperti apa? tergantung dari jenis gas yang diserap ya..??
last, di indonesia sendiri dah sejauh mana perkembangan pemakaian hollow fibre membrane ini?
thanks b4 =)
Henry
Jan 7th, 2008
wah keren juga artikel ini…tp gw masi bingung mengenai adanya perpindahan massa…berarti massa CO2 berpindah ke cairan? yang berpindah itu komponen di dalamnya CO2 nya ya?
bisa dibantu?
michaeljubel
Jan 9th, 2008
Henry, maksudnya perpindahan massa ya perpindahan partikel.. ato bisa dibilang perpindahan molekul.. jadi molekul CO2 nya berpindah.. maksudnya komponen di dalamnya CO2 tu apa ya? CO2 kan senyawa sederhana jadi kalo pindah ya pindahnya bareng-bareng dan gak mungkin C nya doang ato O nya doang.. lain halnya kalo elektrolit ato senyawa yang dapat terdekomposisi.. maksudnya “dalemnya” tuh gimana?
Efrat
Jan 10th, 2008
@ Jubel
istilah catalytic membrane reactor itu sebenarnya berdasarkan pada prinsip
membrane mempunyaiLUAS BIDANG KONTAK YANG SANGAT BESAR
(sebagai contoh membrane sebesar lengan kita aja
bisa punya luas permukaan 0.5 m2 tergantung ukuran pori (makin kecil makin besar luas permukaan kontaknya)
biasanya membrane dibuat lebih dahulu baru kemudian diimpregnasi dengan katalis (biasanya sih coating)
nah setelah reaktan terkonversi menjadi produk. Membrane akan secara selektif memisahkan produk yang diinginkan dengan reaktan Jadi seperti kata lo “membrane sebagai tempat terjadinya reaksi”
nah prinsip kaya gini kalo sering disebut process integration dimana proses reaksi dan pemisahan dijadikan satu. dimana ini akan menghemat biaya tapi membuat perhitungan menjadi semakin rumit. Bukan membrane aja yang kaya gini dulu ada yang namanya reactive distillation (tahun 1960an kalo gak salah) jadi kita mendistilasi sambil mereaksikan.
Prinsip yang sama (luas kontak permukaan) juga digunakan untuk proses membrane kontaktor CO2 cuma bedanya disini CO2 dari gas alam dikontakkan dengan MEA/DEA ataw sejenisnya untuk mengabsorbsi si CO2 dari gas alam. Tidak ada reaksi apapun ini hanya absorpsi fisik biasa karena tidak terbentuk zat baru. (untuk mekanisme perpindahannya bisa dipelajari di Kapsel Proses Perpindahan) dan untuk teknisnya bisa dilihat pada mata kuliah Teknologi Pemrosesan Gas (konvensional).
@ Henry
didalam gas alam terkandung CO2 dan komponen lain macem CH4, C2H6 kebanyakan sih komponen C1 (antara 70 – 90%) normalnya walaupun pada beberapa field (seperti di Natuna) kandungan CO2 nya bisa mencapai 40%
nah si gas alam tadi dikontakkan (atau dipertemukan) dengan absorben (MEA/DEA). Sifat dari MEA/DEA adalah mengikat CO2. Dengan kata lain saat terjadi kontak CO2 DARI GAS ALAM BERPINDAH KE LARUTAN ABSORBEN (MEA/DEA) nah inilah yang dimaksud dengan perpindahan massa CO2 dari gas alam ke larutan absorben.
mengenai mekanisme absorpsi konvensional bisa dibaca di buku Perry CHE HandBook, Buku2 Unit Operations macam (Geankoplis, McCabe) untuk yang tertarik untuk mekanismenya secara molekular bisa dibaca di buku (Cussler lupa judulnya kalo gak salah Diffusion……)
ok
abdul rizal habibi
Jan 14th, 2008
gas alam yang ada di indonesia masuh belum murni 100% dan dengan demikian perlu penanggulangan yang lebih sebelum dimanfaatkan. gas alam yang telah di exploitasi jangan sampai tidak dimanfaatkan. pemisahan senyawa yang tercampur di gas alam harus bisa dimanfaatkan kembali. jangan sampai terbuang sia-sia bersama dengan limbah.
pemisahan dapat dilakukan dengan pemisahan senyawa dengan membran polimer. pemisahan ini sangat efektif karena tidak memerlukan cost yang besar yang mubazir. saya sangat tertarik dengan penelitian ini. membran yang saya teliti adalah membran berbahan dasar polisulfon. pembuatannya cukup mudah yaitu dengan inversi fasa yang tidak rumit. nilai selektivitas yang saat ini mencapai kurang lebih 30. membran cukup kuat dan lebih pekat dibandingkan membran dari selulosa asetat. penelitian ini masih teralu awal perlu penelitian lebih lanjut. coba hub aku di 021-99012474.
prayudi noverri
Jan 23rd, 2008
mas abdul rizal,makasih ya atas infonya,karena yang melakukan penelitian tentang membran kontaktor ini temen saya,ntar saya nanya dulu gimana perkembangan penelitian mereka sekarang,oh iya mau nanya klo di penelitian mas abdul mekanisme pemisahannya gimana???makasih.
abdul rizal habibi
Jan 29th, 2008
mas nover, kawanmu neliti na pake sample apa? gas alam apa gas yang ada di udara bebas? zaman sekarang emang lagi ngetren yang membran2 ya?
gini mas. ttg mekanisme na. krn sample yang sy pake co2 untuk gas alam. gas itu cukup dialirkan menuju atau melewati memnbran.membran yang dipake yang asimetrik ya. biar lebih manteb pas nyerep co2 na. (kita kan mo misahin co2 dari sample). ketika sample nympe dilapisan membran co2 akan di absorpsi melewati membran dan konsentrasi co2 di sample akan berkurangkan.kalo ga salah di memmbran kontaktor pake liquid ya? kalo disni ga pake liquid cuma pakecarrier yang ada di membran. tpi inti na gmn cara membran itu bisa nangkep si co2? pake senyawa yang bisa mengabsorbsi si co2 itu lalu campurin di adonan ketika membuat membranna.
eia mas aku boleh minta referansi ttg teknology membran ga? kalo ada si yang tentang klsifikasi membran? saya baru ada buku baker n milder doang masih kurang nie? satu lagi kok tau perusahaan komersil yang pake membran dapet dimana?
oia, kawanmu itu kalo boleh tau nilai selektivitasnya berapa n satuannya apaan?
I Hanatus Zahra
Jan 31st, 2008
saya mahasiswa teknik kimia polinema malang. di tempat saya kan tidak diajari tentang desain peralatan, makanya saya ga bisa hanya dikit banget baca perry’s dan buku yang lain tapi masih bengong klo desain secara gede,,,,bisa bantu ngajari? meskipun saya ga bisa tapi jangan takut saya akan bekerja keras untuk tahu itu,,
saya kan sekarang tugas akhir lha disitu saya merancan ultrafiltrasi dengan kapasistas permeate 30-50 ton/jam, membran yang dipakai dari polimer, itu diharapkan produk yang dihasilkan bisa sebagai source untuk inlet reverse osmosis. tahapan awal merancang itu bagaimana? bisa memberikan gambaran tentang membran yang dipakai itu apa bisa memberikan referensinya
semua tentang referensinya yah,,,
Akhsanur
Feb 12th, 2008
Buat Hanatus Zahra…
Wah kayaknya ngebet banget ni perlunya. saya ada artikel dari Dow Chemical tentang system component, system desain option, system performance projection. mau?
nayla
Mar 2nd, 2008
teman2x..ada yang punya info tentang rancangan alat/modul membran untuk pemisahan gas ini (skala lab)? tertarik untuk melakukan penelitian ini di kampus saya, tapi kita ada kendala di alatnya. bagi yg punya info ttg perancangan alat atau yg jual secara komersil, mohon bantuannya. bisa hubungi saya ke alamat email : ully_kheren@yahoo.com. thanks
tika
Apr 11th, 2008
gimana sih mekanisme proses membran pada limbah tekstil? thanks
Limbong
Apr 25th, 2008
@ Efrat
dari reference yang pernah gw baca, bahwa antara komponen yang akan dipisahkan yakni CO2 dengan pelarut yang digunakan dalam hal ini MEA/DEA, TERJADI reaksi, jadi nggak hanya sebatas absorpsi fisik. dalam proses absorpsi dikenal 2 jenis pelarut, pelarut kimia dan pelarut fisik. contoh pelarut kimia adalah amine, potasium karbonat, KOH, NaOH, K2CO3 dll. sedangkan contoh pelarut fisik adalah air, propilen karbonat. Pelarut kimia utk tekanan parsial CO2 yang rendah dan pelarut fisik untuk tekanan parsial CO2 yang tinggi. jadi reaksi tetap terjadi dan produk reaksi adalah berupa karbamat.
gw sempat mencoba aplikasi teknologi ini di lab dan berhasil. meskipun menghadapi berbagai kesulitan terutama terkait dengan delta P sepanjang aliran di dalam kontaktor sendiri. delta P cairan tinggi sedangkan gas rendah, sehingga dapat terjadi fenomena wetting dan bubling sekaligus. Modifikasi modul membran akan sangat menentukan dalam keberhasilan teknologi ini.
@abdul
yang kamu ceritakan itu adalah membran permeasi jadi semua gas dilewatkan begitu saja dan perbedaan permeabilitas masing2 komponen menyebabkan sebagian aja yang bisa lewat membran. kalau membran kontaktor ini melewatkan gas pada satu sisi dan cairan pada sisi lainnya. kontak terjadi di pori. karena liquid yg digunakan bersifat basa, maka gas2 asam akan diserap (dalam hal ini H2S dan CO2).
@tika
pengolahan limbah tekstil bisa memanfaatkan teknologi membran bioreaktor yang sekarang juga giat dikembangkan di lab membran di ITB. bisa tanya yudi, efrat untuk perkembangan terkini nya.
Ivandeta
Apr 25th, 2008
Sumpah ni Artikel keren bgt! ngebantu gw bgt bwt nyusun research tuk skripsi gw! Btw Bisa bantuin gw gk? bikin artikel yg ngebahas potensi “hollow fiber membran” untuk absorpsi CO2 dengan pelarut DEA trus dibandingin ama kolom konvensional tuk absorpsi CO2 pada gas alam dgn pelarut yg sama(DEA). Thx bgt bwt author klo direspon, moga2x kebaikannya dibalas sama Yang Maha Kuasa
MURDA
Aug 1st, 2008
mau nanya dunk…
penerima co2 nya itu apa ya?? kalau pake membran laminer bisa ga?misal PTFE gto..??kan klo holoow fiber mahal..
kirA KIRA EFEKTIF GA? kritera penangkap CO2 apa sih??
apa harus terjadi reaksi kimia antara CO2 dan penangkapnya?
MURDA
Aug 1st, 2008
nambah pertannyaam:
DEA itu apa ya?? udah browsing tp kok nemunya yang aneh…????tolong dijawab secepatnya…cz gi mumet cari bantuan niy…..ok..tq
eryk
Nov 1st, 2008
artikel bagus, Yud.
saya setuju sama semua pndpt teman2. membran kontaktor sangat menjanjikan
@ untuk membran reaktor, membran sangat berguna terutama untuk reaksi2 yang dibatasi oleh kesetimbangan reaksi. Dengan mengelurkan produk secara selektif sesegera mungkin anda dapat menjaga reaksi tetap bergerak kearah pembentukan produk.
@ ttg proses integrasi benar kata efrat
@ tentang nanotech, membran’s still promising karena bisa bekerja dari level bulk molekul, makromolekul sampai level molekular itu sendiri. Beberapa peneliti bahkan membuat mikro atau nanocapsule dengan membrane difuser atau kontaktor. anda bisa mengalirkan cairan pembungkus disatu sisi dan cairan berisi partikel yg akan dibungkus di sisi lain membran. begitu salah satunya berpermeasi melewati membran mikro atau nano, kontak antar kedua larutan akan menghasilkan kapsul mikro atau nano. ukuran kapsulnya mungkin akan jauh lebih homogen dibanding teknologi enkapsulasi lainnya. tertarik ?
@kalo ttg pelarut MEA/DEA memang pelarut fisik tapi pada konsentrasi tinggi akan menjadi pelarut kimia begitupun juga pada konsentrasi CO2 tinggi biarpun konsentrasi MEAnya rendah. Anda bisa baca buku levenspiel atau materi kuliah kapita selekta pemisahan Dr. Mubiar P.
@ Oh ya ada pertanyaan dari mahasiswa UI ttg pemurnian biogas skala RT. effisienkah membran kontaktor dalam hal ini ? tertarik ?
correct, if i’m wrong
Robert Kuncoro
Nov 3rd, 2008
@Murda
menurut saya, penerima CO2 itu bukan membran, tapi tetep absorbent. Membran kontaktor itu hanya berfungsi sebagai perantara saja, yang memindahkan CO2 dari gas ke absorbent yang cair.
Kriteria penangkap CO2 itu sederhana aja, dia punya kapasitas penyerapan terhadap CO2, bagus2 klo bisa selektif sekalian terhadap CO2 saja. Makin besar kapasitas penyerapan (gas loading) dan makin selektif terhadap CO2, berarti absorbent itu makin bagus, dan mestinya makin mahal.
DEA itu kependekan dari Dietanolamine (C4H11NO2). salah satu dari sekian banyak senyawa amina yang biasanya dipake untuk liquid kontaktor. senyawa amina ini punya kemampuan loading untuk H2S dan CO2.
klo mau googling, coba ganti keywordnya pake “diethanolamine”.. insya Allah ketemu..
selamat berjuang=)
oh iya, salam kenal buat semua..
yeli
Nov 3rd, 2008
bisa minta tolong ga buat jelaskan lebih detail mengenai jenis polimer apa yang dipakai untuk memisahkan gas CO2? jika terjadi wetting maka treatmentnya bagaimana? metode preparasi membrannya bagaimana? terima kasih
Efrat
Nov 3rd, 2008
@ Limbong
Wah2 terima kasih atas koreksinya mas Limbong.
memang kalau udah pakar yang ngomong rasanya beda ya =D
Adhe
Nov 24th, 2008
gue beruntung bisa baca artikel ini n komen2nya…
thanks ya buat semua, smoga ini bisa jadi amal yang terus mengalir… amiin..
mw tanya, bagaimana aplikasi penggunaan membran hollow fiber untuk pemisahan CO2 yang pada cerobong asap (pembuangan) industri?
trimakasih
prass
Nov 26th, 2008
boy thanx info nya wlpn cm dkt..
btw gw lg penelitian ini neh bwt skripsi…
Absorpsi Gas CO2 Melalui Kontaktor Membran Serat Berlubang Menggunakan Pelarut Dietanolamin (DEA)
png tanya2 lg boy sbnrnya gw..
tp berhubung da mendesak tnggl 12 hr lg sidang..
minta doanya az..
melly
Jun 5th, 2009
koq mirip banget artikel di http://jukungkami.blogspot.com/2008/06/aplikasi-membran-kontaktor-untuk.html yahhh..
Majari
Jun 7th, 2009
ya karena blog tersebut menyadur dari majari. tertulis jelas kan di bagian akhir artikel di blog tersebut? hehe..
Leave a Comment