Organic and EcoFashion

by Dinda Elefani on 24/11/07 at 7:00 pm | 4 Comments | |

Scarf
Lagi trend. Scarf umumnya terbuat dari nylon, polyester, atau campuran keduanya. Keduanya terbuat dari petrokimia yang rentan menyebabkan global warming. Nah lo.. Apa teman-teman menyadarinya?

Teman-teman merasa tidak peduli fashion? Terlepas dari Anda merasa jadi orang yang peduli trend mode atau tidak, mau tak mau Anda harus menggunakan produk sandang yang memang adalah hasil dari indutri tekstil dunia. Nylon, polyester, katun, wool, pewarna kain, kapas, bahkan sutra. Semuanya ialah hasil industri tekstil: industri yang berkontribusi besar membuat bumi ini semakin penuh dengan polusi.

Sebagian besar dari kita mungkin belum pernah mendengar atau tahu tentang organic fashion dan eco–fashion. Bahkan umumnya masyarakat awam tidak terlalu peduli apa arti terminologi “eco” dan “organic”. Untuk menambah wawasan teman-teman semua, kita patut tahu bahwa organic dan eco-fashion telah menjadi sesuatu yang sangat besar dan merupakan statement terdepan dari komunitas fashion di negara-negara maju.

Fashion dan Pencemaran Lingkungan

Isu mengenai pemanasan global yang belakangan ini ramai diusung ke permukaan mendorong kesadaran berbagai pihak untuk mulai bersahabat dengan lingkungan, termasuk juga para desainer kelas dunia.

Memang, tidak dapat dibantah bahwa fungsi dan dampak dari fashion dalam kehidupan masyarakat kini sangatlah besar. Misalnya, bahan nilon dan polyester. Keduanya terbuat dari petrokimia yang rentan menyebabkan global warming. Kedua produk itu juga sulit didaur ulang. Untuk memproduksi nylon, nitro oksida “diproduksi” sebagai bagian dari prosesnya. Nitro oksida merupakan salah satu gas yang berbahaya dalam greenhouse effect yang kekuatannya 310 kali lebih kuat daripada karbon dioksida dalam menyebabkan global warming. Wuihhh…

Bahkan, kain katun yang terlihat paling natural sekalipun, sebenarnya, justru lebih tidak ramah lingkungan dibandingkan dengan kain sintetis lainnya. Kapas merupakan salah satu tumbuhan di dunia yang paling tidak ramah lingkungan. Tahukah kalian bahwa kapas secara rutin disemprot dengan campuran pestisida dan bahan kimia lainnya yang jauh lebih berat dan berbahaya daripada yang digunakan untuk tumbuhan pangan?

Bahan-bahan kimia yang digunakan selama proses pembuatan bahan-bahan dan pakaian ini, akan terus ada dan akan terus memberikan dampak pada penggunannya. Oleh karena itu, dengan banyaknya dampak buruk yang ditimbulkan, maka sudah sewajarnya industri yang berdampak besar bagi kehidupan manusia itu mulai memikirkan dan mengambil langkah untuk lebih ”menghijaukan” industrinya.

Berbekal harapan untuk kehidupan bersama yang lebih baik, lingkungan yang lebih nyaman, dunia tanpa kemiskinan, serta trade fair bagi semua, sebagian dari komunitas fashion dunia mulai berusaha mengubah dunia melalui organic and eco-fashion.

Organic and Eco-Fashion

Eco-Fashion
Organic dan eco-fashion telah menjadi sesuatu yang sangat besar dan merupakan statement terdepan dari komunitas fashion di negara-negara maju.

Organic fashion berarti pakaian yang di produksi dengan meminimalkan penggunaan bahan kimia dan meminimalkan pula dampak kerusakan pada lingkungan. Ini termasuk minimalisasi bahan kimia yang digunakan pada setiap langkah pemrosesan, mulai dari proses penanaman dan pemeliharaan bahan baku, pengupasan, pemintalan, sampai hingga ke finishing menjadi produk jadi berupa pakaian, tas, dan lainnya.

Green Shoes
Green shoes anyone? (*hehehe..)

Eco-fashion ditujukan untuk pakaian dan produk fashion yang telah di produksi menggunakan produk – produk ramah lingkungan. Produk eco-fashion dapat menggunakan bahan-bahan pakaian lama yang di recycle atau bahkan menggunakan material recycle lainnya yang diproduksi dari botol plastik, kaleng soda, dan lainnya. Eco-fashion tidak selalu harus dibuat menggunakan serat organik.

Sebelumnya hanya segelintir desainer saja yang tertarik untuk membuat busana yang ramah lingkungan, baik dari segi bahan yang digunakan hingga proses pengerjaannya. Namun kini desainer kelas dunia beramai-ramai menciptakan busana berkonsep eco-fashion tersebut, antara lain Stella McCartnye, Versace, dan Diesel.

Fashion yang paling ramah lingkungan adalah produk-produk recycle dan pakaian vintage. Karena dengan menggunakan kembali, kita menggali fungsi dan menambahkan nilai secara keseluruhan. Sekarang ini di negara-negara maju, terutama Amerika, sudah banyak t-shirt architect ataupun green designer yang menggunakan produk-produk daur ulang dan bahan-bahan second hand untuk menghasilkan karya-karya mereka. Baik karya haute couture maupun ready to wear.

Banyak label fashion dunia yang telah menggunakan kain-kain vintage, mengubah tekstil-tekstil lama menjadi funky dan orisinil. Hasilnya adalah penampilan yang Anda inginkan tanpa menyengsarakan planet ini, style yang baik tanpa kerusakan alam.

The Eco-Fashion
Are you going to mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?

Beberapa designer dan brand dunia seperti Giorgio Armani dan Adidas juga telah menggunakan bahan organik seperti rami dan bamboo untuk produk-produk terbaik mereka. Ini bukan sekadar trend, tetapi sudah kebutuhan yang mutlak.

Karena menggunakan bahan yang ramah lingkungan, soal kualitas juga dijamin oleh para desainer. Pasalnya, pakaian tersebut memiliki pori sehingga bisa “bernapas” dan anti alergi. Selain itu, karena berasal dari bahan-bahan alami, pembuatan kainnya tidak akan memakai bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara), seperti halnya pada pembuatan kain nylon atau polyester.

Dari kalangan selebriti Hollywood, beberapa nama layak jadi panutan. Ada Angelina Jolie, Natalie Portman, Sienna Miller, dan Alicia Silverstone. Mereka termasuk yang konsisten mengenakan produk-produk eco-fashion dan produk ramah lingkungan lainnya.

Ingin mengikuti jejak para pesohor itu dengan memakai produk fashion ramah lingkungan? Tentunya.. Perubahan lebih baik dimulai dari diri sendiri. Mungkin Anda akan menjadi orang pertama, tetapi saat orang lain mengikuti jejak Anda, Anda pasti akan merasa puas. Satu langkah maju telah Anda tempuh. Yakinlah, pelan tapi pasti, eco-fashion akan menjadi pilihan yang tepat.

Di Indonesia sendiri, sebenarnya, banyak jenis bahan alami untuk produk fashion, seperti kulit kerang, tulang, bambu untuk kancing, serta aksesori lainnya. Daun pisang, rotan, hingga eceng gondok juga bisa dimanfaatkan untuk produk tas dan sepatu.

“The fashion industry tends to attract people with serious personality defects. They just want to be rich and famous. But at some point you have to decide: Are you going to mindlessly go the easy way or are you going to go the ethical way?”

So, which one do you prefer?

Sumber : BBC

4 Comments

michaeljubel

Nov 25th, 2007

jadi gimana dong mbak dinda? kan misalnya gua ke mall nih.. lalu semua baju yang ada di mall itu terbuat dari polyester, katun, nylon, dan segala bahan lainnya yang gua jamin berasal dari pabrik tekstil yang 99,9% menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan dan dapat memperparah global warming.. lalu gua harus ngapain? apakah gua gak membeli semua baju itukah? kan susah juga.. hehehe..

tapi at least ada benernya juga.. karena pada hakikatnya produk-produk tekstil itu juga hasil kerjaannya anak Teknik Kimia.. mungkin temen-temen yang nanti bakal kerja di pabrik tekstil harus lebih aware ama pengolahan limbahnya kali ya.. hehe.. biar gak semakin merusak lingkungan.. soalnya gua gak kebayang kalo kita ngegunain bener2 bahan natural (kerang, rotan, dll) untuk dibuat sebagai pakaian.. hehehe.. penduduk dunia kan ada 6 milyar.. bisa2 ntar tumbuhan dan hewan abis deh buat dibikin baju.. ntar ujung-ujungnya kita berantem juga deh kita ama WWF dan Greenpeace.. hehehe.. gimana tuh mbak dinda? hehehe..

wahyu hidayat

Nov 28th, 2007

hahahaha… gak segitunya juga kali, masa beli baju aja mesti mikir global warming??? hehehe… sebenernya kalo gak mau pusing-pusing mikirn limbah, kayanya mending pakaian diproduksi dari bahan daur ulang aja, jadi baju2 bekas jgn dibuang, tapi “diolah” lg jadi pakaian baru, dan gak keliatan bekas jg tentunya…
atau… kita manfaatin aja bahan-bahan alam kaya kulit kerang, daun pisang, rotan, buat jadi baju, yahhh… back to nature lah kya manusia prasejarah…hehehe

Dinda Elefani

Nov 28th, 2007

yaa emg ga segitunya juga..tar klo bajunya ga dibeli bangkrut jg dunk pabrik tekstilnya..makanya yg harus lebih berperan disini ya pabrik tekstilnya itu sendiri..bahan baku nya ya sbaiknya diganti ama yg ramah lingkungan gt..
yaa intinya ‘back to nature’ kyk yg dibilang wahyu..tapi ga smuanya bhn alam dibikin baju dunk..dipilih2 juga..yaa masa iya,,klo ada pohon lg tumbuh bagus2nya maen kita tebang aja..ga bs gt jg kan..apalagi pohon2 yg dilingungin bwt pelestarian gt..yaa nego2 aja sama WWF dan Greenpeace bel..hohoho..
oya,,baju2 daur ulang kyk vintage gt2 bagus jg loh..dh lumayan byk kan skg di pasaran..lucu2 lg modelnya..hehe

Imelda Rosaline

Sep 13th, 2008

mbak, aku bnr2 excited bgt baca info dr mbak. begini aku n tmn2 emang udah rencana mo bikin tshirt yang ramah lingkungan, tapi kita2 kurang informasi nih mengenai bahannya, pengolahannya n all about this. ehmm.. maunya sih kalo mbah punya saran ato info lbh detail ttg itu aku dikasih dong!! boleh ya!? udah pokoknya aku n temen2 dukung bgt untuk cinta lingkungan.. aye!! GBU

Leave a Comment

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>